Hola Minna. Ini fic request yang saya buat. Masih gaje sih.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M (For Save)
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.
.
Attention : Fic ini adalah request dari Oda Kurosaki(nama yang saya tahu nih...) Fic ini adalah fiksi belaka. apabila ada kesamaan atau kemiripan di dalam fic atau cerita lain dalam bentuk apapun itu adalah tidak disengaja sama sekali .
.
.
.
Beberapa bawahan yang menemani Ichigo mengawas lokasi proyek tadi sibuk mondar mandir di depan kamar instasi gawat darurat itu. Beberapa lagi sibuk dengan telepon yang berbunyi berkali-kali. Lainnya menunggu dengan panik pasca kejadian yang tidak disangka itu. Setelah tertimpa beberapa kayu yang menghantam sang Direktur tampan itu, pria berambut orange itu langsung tak sadarkan diri dengan masih memeluk gadis yang ditolongnya hingga mengorbankan dirinya itu. Padahal rambut orange-nya langsung tercampur dengan darah yang keluar dari kepalanya akibat hantaman kayu itu.
Rukia―sang gadis yang diselamatkan itu―menunggu di dekat kursi tunggu di koridor IGD itu. Tubuhnya masih bergetar karena terlalu syok dengan kejadian itu. Dia tak menyangka kecelakaan ini akan terjadi karena dirinya. Air mata tak berhenti turun membayangkan situasi apa yang akan terjadi pada Direktur-nya itu. Ada rasa menyesal dalam benak Rukia. Kenapa pula dia berlari ke arah Direktur itu? Kenapa dia tidak sadar dengan peringatan pekerja di sana soal kayu sialan yang jatuh itu? Kenapa dia membiarkan Direktur-nya melemparkan diri untuk menolongnya?
Mengingat serangkaian kata bersalah itu membuat Rukia jadi tidak tenang dan ketakutan.
Padahal, dia belum melihat keadaan supervisor-nya yang babak belur kemarin. Kini dia harus melihat Direktur-nya yang terbaring tanpa tahu keadaan pastinya.
Rukia sendirian di sana. Menunggu dengan cemas dan khawatir selama dua jam lebih. Hatinya tak tenang. Bahkan mau bergerak selangkah saja Rukia tak sanggup. Tubuhnya masih gemetar dan terasa lemas memikirkan keadaan orang itu.
"Rukia?"
Rukia mengangkat kepalanya. Hatinya terasa sedikit lega melihat siapa yang datang menghampirinya. Setidaknya, ada seseorang yang Rukia bisa percayai untuk mendengarkan perasaannya saat ini.
"Nii-sama?"
"Kau baik-baik saja?"
Rukia tak percaya kakaknya yang selama ini jarang menanyakan keadaanya, kini bertanya dengan wajah yang―walau tak kentara―cemasnya. Meski Byakuya memasang wajah datar, Rukia tetap tahu kakaknya mengkhawatirkannya.
"Iya. Aku... baik-baik saja," jawab Rukia gugup. Bibirnya masih bergetar.
"Bagaimana Direktur-mu?"
Seiring dengan kata-kata itu, seorang dokter berambut biru gelap keluar dari ruang IGD itu setelah melepas maskernya. Beberapa orang berbondong menanyakan keadaan si pasien itu. Tapi setelah beberapa kata, beberapa orang yang ikut datang ke rumah sakit ini mendesah lega lalu mulai bubar satu persatu. Sepertinya mengurus masalah lain.
Dengan langkah tertatih, dan untungnya ditolong oleh Byakuya yang menyadari keadaan Rukia itu, Rukia melangkah mendekat ke arah dokter muda itu.
"Oh, kau Kuchiki-san. Tenang saja. Kurosaki baik-baik saja. Hanya dijahit di kepalanya. Setelah itu dia akan kembali seperti semula. Kurosaki bukanlah orang yang harus kau khawatirkan. Dia itu punya sembilan nyawa. Dan tertimpa kayu seperti itu bukanlah luka berat untuk pria keras kepala seperti dirinya," jelas Ishida, dokter berambut biru gelap itu, panjang. Tentu saja Rukia langsung mendesah lega. Rukia tahu, Ishida menjelaskan panjang lebar begitu agar Rukia tidak berpikir banyak dan macam-macam. Setidaknya, Rukia tahu bahwa orang itu baik-baik saja.
"Jadi, tidak ada luka serius?" tanya Byakuya pula.
"Tentu saja. Beberapa hari juga akan baik-baik saja. Oh... aku baru pertama kali melihat Anda," akhirnya Ishida sadar juga setelah melihat Byakuya.
"Aku kakaknya," Byakuya menunjuk Rukia yang berdiri di sisinya.
"Ahh~ rupanya Anda. Salam kenal. Aku Ishida Uryuu. Teman Kurosaki," Ishida memperkenalkan dirinya secara sopan pada Byakuya. Dan pria dingin itu menanggapinya biasa.
"Baiklah Rukia. Sepertinya aku harus mengurus beberapa masalah karena ini. Kau mau pulang atau―"
"Biarkan aku di sini Nii-sama."
Byakuya diam setelah mendengar permintaan adiknya itu. Setelah mendengar cerita dari bawahannya, Byakuya mengerti apa yang dirasakan oleh Rukia. Pasti rasa bersalah tengah menghinggapinya saat ini. dan tidak dipungkiri bahwa Rukia begitu menunjukkan rasa bersalahnya itu dari wajahnya.
Byakuya meninggalkan Rukia yang mulai berjalan pelan menuju ruang rawat Direktur orange itu. Sepertinya... ada sesuatu di antara mereka yang Byakuya tak akan suka.
.
.
*KIN*
.
.
Sudah hampir tiga jam Rukia hanya duduk di sebelah kasur Ichigo tanpa melakukan apapun. Dia hanya duduk dan memperhatikan Direkturnya itu. Tapi kemudian, matanya terasa berat sekali. Rukia tak sanggup menahan kelopak matanya yang memaksa ingin menutup sekarang. Mungkin efek kelelahannya masih terasa hingga hari ini. Tapi Rukia ingin sekali menjaga orang ini. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena sudah melakukan hal-hal bodoh. Kalau Rukia diam di rumah sakit, tentu saja kejadian ini tak akan terjadi. Tentu saja tidak akan ada lagi yang terbaring di rumah sakit seperti ini.
Melihat kepala orange-nya yang diperban itu membuat Rukia merasa bersalah. Pasti sakit sekali kalau sudah kena kepala seperti itu. Apalagi sampai dijahit.
Rukia sudah tak kuat lagi.
Sebaiknya dia menutup matanya sejenak demi memuaskan kelopak matanya yang sudah membandel tak mau menurutinya ini. Entah sejak kapan kelopak matanya begitu sulit ditahan seperti ini. Begitu... sulit...
.
.
*KIN*
.
.
"Apa? Kau jangan bercanda! Aku tahu tidak boleh memakai ponsel di rumah sakit, jadi dimana kau sekarang supaya aku bisa menghajar wajahmu itu!"
Rukia menggeliat sebentar. Rasanya ada suara berisik yang mengganggu tidurnya. Tidur?
"Kau tidak bersunggung-sungguh menelpon keluargaku kan? Apalagi Ayahku yang berlebihan itu! Kau mau aku dirawat karena melihatnya? Segera kemari brengsek!"
Jelas ini suara Direkturnya. Kasar dan selalu marah-marah. Apa dia tidak bisa lembut?
Tapi gerakan tangan di kepala Rukia terasa lembut sekali. Naik dan turun mengusap rambutnya pelan. Gerakan ini begitu nyaman. Sangat menenangkan. Sudah lama Rukia tak merasakan gerakan ini. Waktu Rukia masih berumur enam tahun hingga sepuluh tahun, kakaknya selalu melakukan gerakan seperti ini di kepalanya agar Rukia tertidur. Itu biasanya kakaknya lakukan kalau Rukia tidak bisa tidur siang, dan mimpi buruk. Juga tak bisa tidur di malam hari. Dan setelah kakaknya mulai sibuk dan beranjak besar, kakaknya tak pernah lakukan ini lagi. Byakuya terlalu sibuk mengurus perusahaan dan melupakan Rukia. Rasanya jadi rindu saat-saat seperti itu. Rukia ingin gerakan di kepalanya ini bertahan lama hingga dia bisa tertidur kembali.
"Baiklah. Aku mengerti. Sekarang aku tidak bisa bergerak. Nanti kalau keadaannya memungkinkan. Ya, Rukia ada padaku sekarang. Aku tidak akan berbuat aneh-aneh! Ini rumah sakit tahu!"
Ahh~ kenapa suara Direktur-nya ini berisik sekali? Rukia jadi tidak bisa tidur lagi. Dan ditambah lagi gerakan di atas kepalanya perlahan-lahan menghilang.
Tunggu dulu! Sejak kapan Rukia tidur? Bukankah dia masih duduk di atas kursi tadi? Dan sekarang Rukia merasa dia tengah berbaring di atas...
"Direktur?" pekik Rukia tertahan.
"Yo!"
Mata ungu kelabu Rukia membulat lebar. Saat ini, Rukia tengah terbaring tertelungkup seperti tengah memeluk tubuh Direkturnya. Rukia tertidur di atas dada sang Direktur yang merangkul tubuhnya. Wajah mereka begitu dekat. Tentu saja! Apalagi posisi yang berbahaya seperti ini! bagaimana bisa mereka berakhir di atas satu ranjang begini?
Ichigo mematikan ponselnya, mengabaikan keterkejutan Rukia kemudian memperbaiki posisi mereka hingga Rukia sepenuhnya ada di atas Ichigo. Tanpa malu-malu, pria berambut orange ini melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rukia. Dan Rukia masih terlalu kaku untuk menyadari apa yang terjadi. Rasanya Rukia sekarang seperti patung batu yang tak bisa bergerak karena sihir.
"Tidurmu nyenyak? Kuharap begitu... karena tadi wajahmu sangat lelah. Aku sudah bilang untuk istirahat kan? Kenapa kau malah datang ke lokasi dengan keadaan begitu?" kata Ichigo lembut sambil mengusap kepala Rukia lagi dengan lembut.
"Di-Direktur..." gumam Rukia. Matanya kembali basah.
"Hmm? Tenang saja. Aku tidak marah. Melihatmu baik-baik saja sudah cukup untukku. Kau tidak terluka bukan?" masih kata-kata Ichigo begitu lembut untuknya.
"Di-Direktur... ma-maafkan a-aku. A-aku―"
Ichigo segera membenamkan wajah Rukia di dadanya. Mendekap gadis yang berada dalam pelukannya ini begitu erat. Menciumi puncak kepalanya begitu lama. Merasakan sensasi lavender, wangi khas gadis ini. Jujur saja, Ichigo ingin menyerang gadis ini lagi. Tapi sayang... keadaan tidak memungkinkan. Yah... paling tidak dia masih punya beberapa kesempatan lain kali.
"Sst... minta maaf apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kuharap kau tidak lupa kalau kau sangat berharga untukku Rukia. Aku akan melakukan apa saja agar kau baik-baik saja. Tidak peduli jika aku harus kehilangan nyawaku."
"Di-Direktur... ke-kenapa kau... sampai sejauh ini?" lirih Rukia.
"Karena aku mencintaimu. Apa itu belum cukup? Aku sangat mencintaimu. Makanya... aku tidak akan membiarkan apapun menimpamu. Aku lebih suka mengorbankan diriku agar kau baik-baik saja. Kau mengerti itu? Dan aku tidak meminta balasan darimu. Aku tulus..."
Rukia semakin terisak di dada bidang Ichigo. Ichigo begitu mencintainya dengan tulus. Tapi apa yang bisa Rukia lakukan? Dia tak mampu memberikan cinta yang sama dengan yang Ichigo berikan untuknya. Bahkan Rukia sendiri tak sanggup mencintai pria ini. Apa yang bisa Rukia lakukan sekarang?
"Tidurlah. Kau pasti lelah sekali. Aku akan menjagamu di sini," bisik Ichigo lagi.
Begitu lembut...
.
.
*KIN*
.
.
Seberkas cahaya menerobos masuk ke sela kelopak mata Rukia. Apa itu tadi?
Kenapa rasanya dia sudah berbaring di kasur empuknya?
Buru-buru Rukia membuka matanya. Dan benar. Dia memang berada di atas kasurnya sendiri. Ini sudah di rumahnya. Bukan lagi di rumah sakit. Wangi lavender dan hiasan serba ungu ini memang kamarnya. Sejak kapan dia ada di sini?
Bukankah dia masih ada di rumah sakit? Dan apa-apaan ini? Hari sudah hampir menjelang siang! Berapa lama dia tertidur?
Panik, Rukia berlarian keluar dari kamarnya. Tapi mendadak kepalanya pusing karena bangun mendadak ini. Bagaimana bisa Rukia ada di sini?
"Kau sudah bangun lagi? Ini baru jam sembilan Rukia..."
Rukia baru sadar kalau Byakuya sudah menangkap tubuh mungilnya yang ternyata terhuyung ke sana sini karena kepalanya pusing.
"Kenapa aku di sini Nii-sama? Di-Direktur?"
"Katanya semalam kau tertidur di sana. Jadi semalam aku membawamu pulang karena tertidur di kasur Direktur-mu. Dia sudah lebih baik semalam. Dan memintaku membawamu pulang agar bisa beristirahat. Pagi ini saja dia sudah masuk kantor. Sekarang tinggal kau yang harus istirahat. Apalagi kemarin kau belum makan seharian. Makan dulu baru istirahat lagi. Nanti biar―"
"Tidak... aku... aku mau ke kantor!"
"Rukia!"
"Direktur saja sudah ada di kantor! Aku mana boleh bolos Nii-sama. Aku... aku akan makan sebelum pergi. Aku mandi dulu..."
Rukia melepaskan pegangan Byakuya dan masuk ke dalam kamarnya lagi untuk bersiap.
Dia tak peduli kalau dia tidak makan kemarin seharian. Ichigo saja dengan luka begitu bisa masuk ke kantor. Kenapa dia malah bermalasan seperti ini?
Setelah bersiap, dan Rukia juga makan sedikit sarapannya, karena mendadak dia ingin cepat-cepat ke kantor hingga kehilangan nafsu makannya.
Kenapa Ichigo sudah ada di kantor? Apa yang dia pikirkan? Bukankah Ishida bilang dia butuh istirahat juga karena kepalanya itu?
Rukia tahu, cinta Ichigo memang tulus untuknya. Tapi bagaimana kalau dia belum bisa mencintai orang itu? Hatinya belum begitu siap menerima pemuda itu untuk dicintai olehnya. Karena selama ini yang dia lihat hanyalah sosok Shiba Kaien. Pria idaman yang dia inginkan. Sedangkan Kurosaki Ichigo sangat bertolak belakang dengan Shiba Kaien, walau akhri-akhir ini Rukia menemukan sosok lain dalam diri Ichigo. Di saat tertentu, utamanya di saat intim mereka berdua, Ichigo akan bersikap begitu lembut pada Rukia. Membuat Rukia lupa betapa brengsek pria itu. Tapi di saat lainnya, Rukia masih trauma dengan apa yang sudah dilakukan oleh orang itu. Merampas harta berharganya. Memperlakukannya begitu kasar―dulu―dan mengancamnya soal kakak dan perusahaannya. Bagaimana mungkin Rukia bisa menerima orang itu?
Rukia sudah tiba di kantornya. Dia bersiap menuju ruangannya dan―
BRUUK!
Rukia meringis sakit ketika dia berjalan agak cepat di koridor kantornya, kakinya terselip sesuatu hingga Rukia tersungkur mencium lantai.
"Kenapa kau selalu ada di dekat Direktur hah! Karena kau Direktur terluka tahu!"
Rukia tertegun dan menoleh ke belakang walau sekarang Rukia belum bangkit dari jatuhnya. Di depannya berdiri tiga wanita penggosip yang biasa menyindirnya itu. Karena hal ini beberapa pegawai mulai menontoni mereka pula.
"Dasar tidak tahu malu. Masih juga berani menampakkan diri setelah mencelakai Direktur begitu! Kau benar-benar pembawa sial!" seru wanita lainnya.
Rukia berdiri dengan angkuh dan kesal. Apa katanya?
"Sebenarnya cara licik seperti apa yang kau gunakan untuk mendapatkan Direktur hah? Pasti cara kotor yang menjijikan bukan?" sindir wanita terakhir.
Suasana makin ramai dan panas. Semua orang mulai memperhatikan Rukia. Tampaknya berita ini memang menyebar di luar dugaannya. Dengan wajah kesal menahan marah, Rukia hendak melontarkan kata-kata kejam juga, sampai...
Tubuhnya diputar paksa ke belakang. Satu tangan besar mendorong dagunya agar mendongak dan satu tangan lain memeluk pinggangnya erat. Mata besar dan bulatnya terbelalak lebar ketika sensasi basah dan lembut menekan bibirnya.
Kontan saja semua orang yang berada di koridor itu menahan nafas dan beberapa pintu terbuka menyaksikan adegan ini.
Rukia masih terlalu kaget dan merasa kaku. Kakinya terasa melayang ketika pinggangnya begitu erat didekap. Nafasnya terasa habis saat bibir lembut itu menekan dan melumatnya sedemikian hati-hati. Lidahnya menggoda masuk ke dalam ruang lembab Rukia. Menggeliat liar tapi sangat lembut. Sensasi ini sungguh berbeda dari semua sensasi yang pernah Rukia rasakan. Tangan Rukia terkulai lemah di sisi tubuhnya. Pasrah dengan apa yang dilakukannya pada Rukia. Bahkan kepala Rukia masih berkabut untuk mencerna semua ini. Hanya desahan pelan dan nafasnya yang terasa terputus yang Rukia rasakan saat ini.
Setelah beberapa lama, mata kecokelatan itu terbuka juga akhirnya. Menjauhkan wajahnya dari wajah mungil Rukia setelah kegiatan panas di depan umum itu. Wajah Rukia juga merona merah. Terlalu merah bahkan. Si pemilik mata cokelat indah itu menatapnya lembut. Bahkan mereka lupa jika banyak orang yang menyaksikan kegiatan mereka tadi.
"Direktur..." gumam Rukia.
Ichigo kemudian menatap dingin pada tiga wanita yang tadinya tengah menjahili Rukia. Kontan saja ketiga wanita itu terdiam melihat tatapan angkuh, dingin dan menusuk dari Direktur tampan ini.
"Apapun yang kalian pikirkan soal gadis ini, itu bukan urusan kalian. Itu urusanku. Karena aku yang menginginkan gadis ini. Kalian tidak punya hak untuk melontarkan kata-kata kasar seperti itu. Jika sekali lagi, sekali lagi aku mendengar satu orang saja di kantor ini yang mengatakan hal buruk tentang gadis ini... tunggu saja. Aku akan membuat hidup kalian menderita. Apa yang kalian lakukan pada gadis ini, berarti kalian melakukan hal yang sama padaku. Peringatan ini tidak terkecuali siapa saja! Dan aku... tidak pernah main-main. Kuharap kalian camkan itu baik-baik."
Kata-kata Ichigo begitu dalam, tegas dan menusuk. Bahkan pandangannya begitu dingin dan menakutkan. Sekali lagi Rukia merasa Ichigo begini menakutkan dan mengerikan. Bahkan, semua pegawai yang menyaksikan semua ini jadi diam dan menunduk. Sebagian lainnya bahkan pura-pura tak tahu dan kembali melakukan aktivitas lainnya. Tampaknya mereka benar-benar mendengarkan kata-kata Ichigo. Apakah... Ichigo akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Kaien waktu itu?
Ketiga wanita penggosip itu bahkan langsung pergi setelah memandang jengkel pada Rukia. Tapi kemudian menunduk diam setelah Ichigo memelototinya.
Ichigo berlutut melihat kaki Rukia. Tidak ada yang luka. Sepertinya hanya lecet karena tergores lantai. Setelah memastikan tidak ada yang salah, Ichigo langsung berdiri dan menyelipkan tangannya di bawah lutut Rukia dan punggungnya. Kontan saja Rukia berteriak tertahan. Tapi Ichigo tidak menghiraukannya. Dia tetap membawa Rukia pergi.
Ke ruangannya.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo mendudukkan dirinya di atas kursinya kemudian memangku Rukia. Gadis itu nampak memberontak ingin turun tapi ditahan oleh Ichigo.
"Direktur! Apa yang sudah Direktur katakan tadi! Semua orang pasti akan salah paham!" maki Rukia kesal.
"Rukia..."
"Apa yang kau lakukan tadi? Kenapa kau selalu melakukan hal ini? Kenapa kau berkorban begitu banyak untukku? Sebenarnya apa aku ini? Kau menyelamatkanku. Menolong kakakku dan perusahaan. Kau juga membelaku. Kenapa kau lakukan ini?" isak Rukia.
"Apa kata-kataku tadi belum jelas?"
"Apa?"
"Apa... kata-kataku tadi belum jelas bagimu?" ulang Ichigo.
Rukia berhenti memberontak dan memandang ragu pada mata cokelat yang nampak teduh itu. Memandang Ichigo yang memandangnya dengan lembut.
"Kau pikir... itu hanya gertakan saja? Kau pikir, apa yang kulakukan pada pria Shiba itu iseng saja? Kau pikir... selama ini aku hanya main-main? Apa kau pikir aku tidak serius, Kuchiki Rukia?"
Rukia sekali lagi harus terdiam mendengar kata-kata Direkturnya ini. yang begitu pemaksa.
"Tapi aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan Direktur. Aku... belum bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku. Aku... tidak pantas untukmu. Kau―"
Rukia menghentikan kata-katanya setelah Ichigo menangkupkan kedua tangannya di wajah mungilnya. Menatap intens mata ungu kelabu Rukia.
"Belum mencintai... bukan berarti tidak mau mencintai Rukia. Kau adalah satu-satunya gadis yang aku cintai. Sudah kubilang kau tidak perlu lakukan apapun. Kau tidak perlu membalas apa yang sudah kulakukan. Yang perlu kau lakukan hanyalah menerimaku dan ada di sampingku. Hanya itu saja. Aku tidak minta lebih."
Ichigo memeluk tubuh mungil itu begitu intens. Merasakan wangi khas sang Kuchiki cantik ini.
"Aku janji tidak akan membuatmu menderita Rukia. Aku janji akan mencintaimu seorang. Aku janji akan ada selalu untukmu. Aku janji. Aku bahkan berani bersumpah apapun yang kau mau untuk membuktikannya. Hanya... berada di sampingku saja. Di sisiku."
Rukia tak tahu apa dia bisa membalasnya atau tidak. tapi mendengar ketulusan pria ini, Rukia mulai goyah. Belum pernah Rukia menemukan seorang pria yang begini menginginkannya. Begitu ingin memilikinya. Dan begitu tulus... padanya.
.
.
*KIN*
.
.
"Maaf Presdir, Direktur melarang semua orang untuk―"
Byakuya langsung menerobos masuk ke dalam ruangan sang Direktur orange itu tanpa peduli kata-kata Kira yang mati-matian melarangnya masuk. Tapi tentu saja, jabatan siapa sekarang yang paling tinggi? Mana mungkin Kira sanggup melarang seorang Predir untuk masuk ke ruang Direktur yang dia inginkan.
Tapi begitu Byakuya masuk, matanya langsung menyipit tajam menyadari pemandangan apa yang dia lihat. Kira bahkan sampai ikut tertegun di belakang tubuh angkuh sang Kuchiki Byakuya ini.
"Kejutan kau datang kemari," kata Ichigo santai. Tidak mengubah posisinya sedikitpun. Malah semakin menyamankan dirinya di kursi itu.
"Di-Direktur...?" kini Kira ikut tergagap menyaksikan langsung pemandangan ini. Aura mengerikan terasa kental sekali di sini. Apalagi berada di dekat sang Kuchiki ini.
"Kau boleh keluar Kira. Tinggalkan kami," sekali lagi kata-kata Ichigo malah terdengar santai dan biasa saja.
Kira mengangguk mengerti kemudian meninggalkan dua―atau lebih?―orang itu di ruangan sang Direktur.
Setelah menunduk dalam dan hormat, Kira segera meninggalkan ruangan dengan tekanan aura yang begitu dalam. Bahkan Kira sangat yakin ada aura membunuh dari sang Presdir itu menyaksikan pemandangan ini. ternyata... Direkturnya itu benar-benar orang yang berani ya?
Byakuya berjalan angkuh dan datar, tapi aura dingin membunuh itu tak bisa dia tutupi, menuju meja sang Direktur itu.
Ichigo tak gentar menghadapi sang Kuchiki sulung ini. baginya ini adalah pemandangan biasa. Melihat ekspresi mengerikan Kuchiki Byakuya.
"Lepaskan Rukia sekarang!" kata Byakuya dingin, menusuk dan sangat tajam.
Ichigo terkekeh geli, tapi tetap mempertahankan posisinya sekarang. Ichigo berusaha membuat gadis di pangkuannya ini tidak terbangun dan tetap terlelap seperti biasa. Untunglah Byakuya bukan tipe orang yang suka berteriak, kalau tidak, gadis mungil ini pasti sudah bangun karena teriakan Byakuya. Tapi suara dingin dan rendah seperti itu tak akan mungkin membangunkan gadis cantik yang tengah terlelap saat ini.
Ichigo mengusap puncak kepala gadis yang dicintainya ini pelan. Bahkan sesekali menutup telinganya agar tidak mendengar apapun. Gadis mungil ini masih tampak begitu tenang bersandar pada dada Ichigo. Duduk menyamping. Dan tangan mungilnya tampak menggenggam kerah jas Ichigo tanpa sadar. Setelah pembicaraan mereka tadi, Ichigo sedikit melakukan kegiatan nakal, hingga gadis ini kelelahan lagi. Yah, namanya juga kesempatan bukan? Lagipula... sekarang gadis cantik ini tidak begitu banyak melawan. Bahkan tidak melawan sama sekali.
"Apa aku sedang memaksa adikmu? Dia bahkan tidak menolak tidur di sini," tunjuk Ichigo pada Rukia. Ichigo tetap menjaga Rukia agar dia tak terbangun sama sekali.
"Berita apa yang kau sebarkan ke seluruh kantor hari ini? Kau membuat malu adikku!"
"Aku tidak membuatnya malu. Apa yang kukatakan hari ini di kantor adalah benar. Dan mungkin seharusnya kau juga tahu itu. Karena aku... tidak pernah main-main."
"Apa menurutmu Rukia juga menginginkan hal yang sama?" entah sadar atau tidak, suara Byakuya juga ikut memelan ketika bicara dengan Ichigo yang nada suaranya juga pelan. Tidak ingin menimbulkan suara gaduh yang mengganggu tidur Rukia.
"Ya. Sudah pasti," jawab Ichigo mantap.
"Kau pikir dia mencintaimu?"
"Akan belajar mencintaiku."
"Kau mana boleh memaksanya! Dia punya kehidupan sendiri. Kau tidak berhak memaksanya seperti itu."
"Kalau aku memaksanya, sudah pasti dia akan menolak ada di sini bukan? Dan dia tidak menolak sama sekali. Jadi itu bukan termasuk paksaan. Sudahlah Byakuya. Terima saja. Adikmu... juga mencintaiku sama seperti aku mencintai."
"Itu tidak akan mungkin sebelum Rukia sendiri yang mengatakan itu."
"Baiklah. Silahkan kau tunggu saja. Jadi... maukah kau pergi? Kurasa semua yang ingin kau katakan sudah selesai bukan? Pembicaraan ini bisa membuat Rukia bangun. Dan kau tentu tahu kalau Rukia masih lelah bukan? Dia butuh istirahat."
"Tapi tidak untuk tidur di dekatmu!"
"Terserah. Tapi dia sekarang tidur di dekatku."
"Aku... tidak akan menyerahkan adikku semudah itu kau tahu? Aku akan datang kemari lagi jika dia sudah bangun!"
Byakuya melangkah angkuh keluar dari ruangan Ichigo. Sedangkan Direktur orange itu hanya terkekeh geli saja. Ternyata benar. Kakaknya juga sama. Begitu protektif pada gadis manis ini.
Ichigo menghembuskan nafas pelan, kemudian menciumi pelan puncak kepala gadis ini.
"Tampaknya akan sulit meyakinkan Byakuya ya... kalau aku tulus mencintaimu," bisiknya pelan. Tidak bermaksud membangunkan.
.
.
*KIN*
.
.
Rasanya Rukia yakin tadi mendengar suara kakaknya. Tapi mana mungkin kakaknya ada di sini bukan? Suaranya terdengar walau pelan. Rasanya ada suara Direktur orange ini juga ikut terdengar. Apa yang terjadi? Apa yang mereka katakan? Rukia tak bisa mendengarnya dengan baik karena suaranya begitu pelan. Apalagi kantuk masih menyerangnya setelah kegiatan... ugh! Dasar Direktur brengsek! Dia masih suka mencari kesempatan untuk berbuat nakal begitu!
Dan akhirnya setelah permainan kecil itu, Rukia jadi mengantuk dan tanpa sengaja tertidur setelah Ichigo mengusap kepalanya. Dan hal itu sekarang menjadi favorit untuk Rukia. Satu-satunya hal yang Rukia sukai dari Ichigo ketika duduk berdekatan seperti ini. Seakan itu adalah mantra ajaib yang bisa meninabobokan Rukia dalam sekejap.
"Nghh..." erang Rukia setelah akhirnya kelopak matanya bisa dipaksa bangun juga.
Setelah bergerak sedikit, Rukia bisa membuka matanya. Dan begitu bangun ternyata Rukia masih terduduk di atas pangkuan Direktur-nya ini. Berapa lama dia tidur? Suasana kantor juga beranjak senja di jendela ruangan Ichigo. Warnanya sama seperti kepala orangenya yang masih diperban itu.
Begitu menoleh, Rukia mendapati Ichigo yang juga sudah terlelap dengan memiringkan sedikit kepala. Rukia juga baru sadar, ternyata sebelah tangannya yang menggenggam kerah jas Ichigo, digenggam juga oleh Ichigo. Sebelah tangan Ichigo lainnya juga merangkul pinggangnya. Seperti menjaga Rukia agar tidak terjatuh. Tanpa bukti manapun lagi, Ichigo sudah membuktikan kalau dia benar-benar tulus mencintai Rukia. Dan hanya Rukia. Tapi kenapa Rukia belum berani mencintai orang ini? apakah karena sikap kasar dan pemaksanya ketika Rukia mengenalnya pertama kali? Tapi sekarang Direktur-nya ini sama sekali tidak bersikap begitu lagi. Ichigo sudah jauh lebih lembut seperti janjinya. Sangat lembut. Bahkan... pria ini membelanya di hadapan banyak orang. Terang-terangan tanpa malu Ichigo menyatakan dia mencintai Rukia. Lalu apa yang membuat Rukia masih berpikir? Benarkah... Rukia bisa mencintai orang ini?
Tangan Ichigo yang menggenggam tangan Rukia rupanya terlepas begitu saja. Mungkin Ichigo tak sadar melepasnya. Tapi tangan satu lagi yang merangkul pinggangnya masih bertahan di sana.
Pelan, Rukia mengangkat tangannya dan menyentuh perban Direktur ini.
Apakah sakit?
"Tidak sakit jika kau di sampingku."
Rukia terkesiap pelan. Rupanya Ichigo sudah bangun. Matanya terbuka pelan dan sayu. Memandangi wajah Rukia yang masih berubah kaget itu. Tangan Rukia segera digenggam lagi oleh Ichigo. Kemudian mengecup pergelangan tangannya dengan lembut.
"Di-Direktur... kau..."
"Kau sudah bangun?" tanya Ichigo setelah mengecup tangan Rukia.
Gadis itu hanya mengangguk pelan. Ichigo menyapukan tangannya lagi ke wajah cantik gadis itu. Ahh~ sungguh cantik wajah ini. Bagaimana bisa Ichigo tahan tak melihatnya sehari? Ichigo bisa mati.
"Kau sudah tidak lelah lagi kan? Kurasa tidurmu sudah cukup banyak sekarang."
"Direktur... aku―"
"Ichigo."
Rukia diam. Maksudnya...
"Panggil aku Ichigo Rukia, jangan Direktur lagi. Aku tidak suka gadis yang kucintai memanggilku begitu. Panggil aku Ichigo."
"Itu... aku..."
Ichigo mendekatkan wajahnya dengan niat jahil. Kemudian mengecup pipi Rukia hingga gadis itu bergerak tak nyaman. Wajahnya kembali bersemu merah. Bertambah cantik gadis mungil ini kalau sudah bersemu seperti itu. Ichigo jadi begitu bersemangat menggodanya.
"Di-Direktur... hentikan..." pinta Rukia ketika tangan-tangan Ichigo bergerak nakal menelusup masuk dari belakang kemeja Rukia. Membelai punggungnya pelan. Bibir Ichigo juga tak tinggal diam. Bergerak untuk mengecup semua area yang menurutnya menarik.
Pipi, lehernya, bibirnya, keningnya, apa saja yang sanggup diraih Ichigo.
"Direktur... tolong... nghh..."
"Aku akan berhenti ketika kau memanggilku Ichigo."
Rukia merasa tak punya pilihan lain. Ini pertama kalinya dia memanggil nama kecil si Direktur orange ini. Rasanya sangat gugup. Entah kenapa sedikit berbeda ketika memanggil nama supervisor-nya itu.
"I-Ichi... go..." ujar Rukia pelan. Sangat pelan.
"Lebih tegas sayang..." bisik Ichigo jahil. Masih menggerakan tangannya dibalik kemeja Rukia. Punggung gadis itu diusapnya naik turun hingga Rukia merasa geli.
"Ichi... go..." desah Rukia ketika Ichigo kembali mengecup, dan sangat lama mengecup sudut lehernya. Meninggalkan tanda kemerahan di sana.
"Bagus. Aku mencintaimu..."
Sekali lagi kegiatan nakal itu berlangsung. Ichigo membuka kancing-kancing kemeja Rukia. Memperlihatkan lekukan indah yang selalu membuat Ichigo menelan ludahnya dengan susah payah. Bahkan bekas sebelum mereka tidur tadi masih ada di sana. Menciptakan tanda yang begitu indah di lekuk cantik gadis-nya. Dan mulai sekarang, dan selamanya, Ichigo akan mempertahankan Rukia untuknya.
Tak sabar, Ichigo menjilat lagi daerah kenyal di depan tubuh Rukia. Rasanya masih menakjubkan seperti biasa dan tak pernah membuat Ichigo bosan. Astaga... bagaimana mungkin Ichigo bosan? Tidak pernah Ichigo merasa bosan dengan tubuh ini.
"Kau mencintaiku?" tanya Ichigo di sela-sela kegiatan mereka. Nafas Rukia bahkan tak begitu beraturan. Bagaimana dia bisa menjawabnya?
"Hhh... ngghhh..." hanya desahan yang Rukia lontarkan ketika tangan Ichigo malah meremas dada sekal itu di balik bra-nya. Membuatnya bertambah gila dan melayang begitu tinggi akibat rangsangan gila ini.
"Kau... mencintaiku?" bisik Ichigo lagi. Sifat pemaksa yang selalu muncul. Harusnya Rukia tak heran lagi dengan sifat ini.
"Aku... aku... hhh... mencintai... mu..."
Keputusan gila! Rukia yakin dia memang gila!
Begitu cepat Rukia mengubah perasaannya pada Ichigo dengan sentuhan ini. Tidak. Rukia sadar kalau dia mengatakan hal itu. Buktinya, ketika mengatakan hal itu, Rukia melingkarkan tangannya di leher Ichigo. Menatap intens cokelat madu itu. Meneliti kesungguhan yang ditawarkan Ichigo pada Rukia. Tak ada kebohongan di mata ungu kelabunya ketika mengatakan hal itu di depan Ichigo. Ya... tak ada alasan bagi Rukia menolaknya. Kalaupun Rukia menolak, Ichigo tak akan membiarkan pergi semudah itu. Ichigo tak akan pernah melepaskannya. Jadi... bagaimana Rukia bisa menolak ini?
Ichigo meraih sebelah tangan Rukia yang memeluk lehernya itu. Kemudian mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Terima kasih. Terima kasih Rukia. Aku tidak akan membuatmu menangis dan menderita lagi. Aku hanyalah milikmu seorang. Dan kau... hanyalah milikku seorang."
Ichigo mencium bibir mungil Rukia begitu intens dan dalam. Meraup semua kemanisan bibir yang menggoda itu. Melumatnya lembut seolah memberikan Rukia keyakinan penuh atas janjinya sekarang. Tak ada keraguan sedikitpun terlintas untuk Ichigo. Tidak ada.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah kegiatan menggila itu, Ichigo mengajak Rukia pergi ke tempat aneh. Katanya Ichigo mau mengajaknya ke suatu lokasi. Entah lokasi apa. Rukia awalnya menolak dan meminta Ichigo untuk pergi besok saja. Tapi Ichigo tak mau dengar. Bahkan Ichigo hanya mengabari Byakuya melalui pesan singkat kemudian mematikan ponsel Rukia dan miliknya supaya Presdir aneh itu tidak mengacaukan rencananya. Ichigo hanya mengabari Byakuya kalau dia meminjam Rukia satu malam. Tentu saja Ichigo yakin Byakuya akan kalap setengah mati. Tadi saja dia sudah memberikan peringatan. Tapi Ichigo tak ambil pusing. Asal Rukia mau, dia tak akan memikirkan apapun lagi.
Perjalanan tiga jam berhasil mereka tempuh.
Rukia semakin bingung. Rasanya lokasi proyek mereka tidak sejauh ini. dan lagi kenapa mau mengunjungi lokasi proyek begitu malam?
Tapi mereka bukan tiba di lokasi proyek manapun. Tapi di sebuah rumah sederhana yang memiliki klinik di depannya. Mereka memang tiba di malam hari, makanya suasana masih terasa sepi. Dan asing untuk Rukia.
"Dimana ini?" tanya Rukia bingung. Dia merasa ada di sebuah tempat yang tidak dia kenali sama sekali. Yah, Rukia memang tak pernah sekalipun keluar dari Tokyo. Dan menurutnya, daerah sejauh tiga jam dari Tokyo ini, bukan lagi kota besar yang memiliki menara merah tinggi itu.
"Ayo masuk," ajak Ichigo sambil menggandeng tangan Rukia.
Sepertinya Ichigo mengenal baik rumah ini. Dia bahkan masuk begitu saja melewati pagar depan. Ichigo bahkan tak mengetuk pintunya lagi. Dia langsung masuk ke dalam. Rukia semakin bingung dengan sikap orang ini. setahunya, rumah Ichigo adalah apartemen mewah tempatnya pertama kali... ugh! Rukia benci mengatakan hal itu. Tapi jujur pertama kali Ichigo memang keterlaluan. Tapi sialnya, Rukia malah menerima pria ini sekarang.
"Apa ada orang?" teriak Ichigo pelan di dalam rumah itu. Memang tampak sepi.
"Sedang makan! Siapa ya?" suara seorang gadis ikut memekik menyahuti Ichigo.
Suara derap kaki yang begitu berisik datang dari belakang menghampiri mereka berdua. Ichigo sudah memasang sinyal dan menghindarkan Rukia dengan membawanya ke belakang punggungnya.
"III~CHIII~GOOOOOOOOOOO~!"
BUAAGGH!
Rukia kaget setengah mati ketika pria berambut orange ini malah menendang seorang pria tak dikenal yang bergerak cepat untuk bersiap memeluk Ichigo. Hah?
"Dasar bodoh! Kenapa masih saja melakukan itu! Aku sudah besar Oyaji!" kata Ichigo kesal.
"Reflek yang bagus... My Son!" pria tua dengan rambut hitam dan jambang tipis itu terkapar di lantai koridor rumah ini sambil mengacungkan jempolnya.
Oyaji... My son...
"Tou-chan! Jangan buat gaduh! Cepat makan malam dan―Oniichan?"
Seorang gadis yang kurang lebih seumur dengan Rukia, atau mungkin lebih muda beberapa tahun dari Rukia, keluar dari salah satu pintu di koridor itu. Gadis cantik berambut pirang yang diikat dua itu. Sekilas gadis itu mirip dengan Ichigo.
Dan... Oniichan?
"Yo Yuzu! Bagaimana kabarmu?" tanya Ichigo dengan senyum lebar.
"Oniichan tidak bilang mau pulang? Mendadak sekali..." ujar gadis itu bingung. Tapi senyum lebar gadis itu membuat Ichigo ikut tersenyum lebar juga. Dia terlihat ramah sekali.
"Ichi-Nii... gadis mana yang kau bawa itu?" seorang gadis lagi, yang wajahnya sama persis dengan gadis berambut pirang ini, tapi gadis itu terkesan dingin, berambut hitam yang dikuncir satu tinggi bersandar di pintu masuk ruangan itu.
"WOOAAAAAAA! APA DIA PUTRI KETIGA UNTUKKU?" pria tua yang nyaris terkapar itu bangkit kembali untuk bergerak cepat memeluk Rukia yang berdiri di belakang Ichigo.
"Jangan memeluknya begitu Oyaji! Dia bukan putri ketigamu!" pekik Ichigo kesal sambil melayangkan tendangannya lagi ke wajah pria tua itu.
Dan kesimpulan yang Rukia dapat...
Ini adalah keluarga Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
"Makanlah. Kau pasti lapar," ujar Ichigo setelah keributan itu dan membawa Rukia ikut duduk makan malam bersama orang-orang baru itu.
"Onii-chan mengagetkanku. Tidak pernah pulang, sekalinya pulang membawa seorang gadis. Siapa dia?" tanya Yuzu―gadis berambut pirang itu―dengan senyum cerah sambil membawa lauk lebih. Rukia masih menunduk malu dengan sikap tiba-tiba Ichigo ini. apa yang dipikirkannya membawa Rukia kemari?
"Namanya Kuchiki Rukia. Rukia, kenalkan, itu adikku Yuzu dan di sebelahnya Karin. Dan Oyaji bodohku ini!" Ichigo mengenalkan satu persatu anggota yang ada di meja makan itu. Rukia menunduk hormat sambil memperhatikan satu persatu anggota keluarga itu. Yuzu memang terlihat lebih ramah, berbeda dengan Karin yang terlihat cuek itu. Dan ayahnya yang selalu bertingkah lucu dan menggemaskan.
"Ehh? Kuchiki? Kau adiknya Byakuya, sayang?" seru Isshin dan itu adalah ayahnya Ichigo. Saking antusiasnya, Isshin bahkan menumpahkan beberapa nasi.
"Anda... mengenal kakakku?" tanya Rukia bingung.
"Ternyata benar! Kau cantik sekali sekarang! Padahal dulu kau masih cengeng dan begitu kecil. Dulu Ichigo paling malas berkunjung ke rumah Kuchiki! Sudah kubilang adiknya Byakuya sangat cantik dia malah menolak! Dan sekarang kau membawanya kemari? Dasar!" gerutu Isshin sambil menyindir Ichigo.
"Aku kan tidak tahu. Waktu itu aku masih kecil!" sangkal Ichigo sambil tetap melanjutkan makannya. Ichigo bahkan terlihat tidak begitu peduli dengan ekspresi bertanya dari Rukia.
"Jadi... Anda..." Rukia bingung harus mengatakan apa.
"Tentu saja! Aku teman baik Ayahmu Rukia-chan! Maaf kalau selama ini aku tak pernah lagi mengunjungi kalian seperti janjiku pada mendiang Sojun. Karena Byakuya sudah terlalu sibuk bukan? Tapi aku senang kalian baik-baik saja sampai sekarang. Byakuya pasti menjagamu dengan baik kan?"
Mata ungu kelabu Rukia sedikit basah. Tak menyangka ayahnya punya teman sebaik ini. Rukia memang ingat kalau pria ini pernah muncul dalam ingatan masa kecilnya. Tapi karena sudah terlalu lama, Rukia jadi lupa. Beruntung sekali ayahnya punya teman yang sampai sekarang masih ingat siapa ayahnya. Rukia menunduk menyembunyikan wajah basahnya itu.
"Ck! Apa yang kau lakukan Oyaji?" kata Ichigo kesal menyadari Rukia yang berubah mood begini.
"Apa? apa yang kulakukan? Ohh~~ maafkan aku Rukia-chan! Aku tidak bermaksud membuatmu sedih! Maafkan aku! Aku akan menebus kesalahanku! Tinggal katakan kau mau―"
"Ti-tidak. bukan itu Oji-san. Aku... aku terharu karena sudah lama tidak mendengar soal Ayahku selama ini. Maaf kalau aku yang... membuat suasana jadi tidak enak."
"Sudah. Makanlah dulu... kau belum makan dari siang tadi. Jangan banyak berpikir lagi," kata Ichigo sambil menyodorkan mangkuk nasi itu ke arah Rukia.
"Cih! Perhatian sekali putraku ini! padahal waktu itu dia bilang tidak tertarik menolong perusahaan ini dan ingin cepat-cepat dipindahkan ke Eropa ya! Sekarang apa yang terjadi?" sekali lagi Isshin menyindir putranya ini.
"Diamlah Oyaji!"
"Kalau bukan karena aku, kau pasti tidak akan bertemu dengan Rukia-chan yang cantik ini kan? Mengaku saja My Son~~~" lagi sindir Isshin.
Sekali lagi mereka berdua bertengkar tanpa malu di depan Rukia. Sepertinya, Ichigo punya banyak teman bertengkar ya?
"Jadi... kenapa Onii-chan membawa Rukia-nee kemari?" sela Yuzu.
"Yuzu... sudah pasti Ichi-Nii mau menikah dengannya," celetuk Karin.
"Eeehh? Ichigo! Kau menikah dengan Rukia-chan?"
"Kalau iya kenapa? Ada yang aneh? Dasar kakek mesum!"
Menikah?
MENIKAH?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan malam yang super heboh itu, dan jujur sudah lama Rukia tak merasakan makan malam yang begitu ramai ini, Ichigo menyuruh Rukia istirahat. Tapi karena merasa ada di tempat lain, Rukia belum bisa tidur. Rukia juga sempat bertanya pada Ichigo soal kata-kata menikah itu. Tapi Ichigo belum memberikan jawaban pasti. Dan Rukia tak mengerti kenapa itu.
"Rukia-nee..."
Rukia menoleh dan mendapati Karin, tengah membawa dua gelas susu hangat. Satunya dia sodorkan pada Rukia dan satunya lagi dia minum. Bukankah, gadis ini terlihat cuek tadi?
"Ambil saja. Ini gratis kok," keluh Karin yang menyadari Rukia tak bergerak untuk mengambil susu hangat itu.
"Oh... terima kasih."
Karin duduk di samping Rukia agak jauh. Sambil memandang lurus ke depan.
"Ini pertama kalinya Ichi-Nii membawa pulang seorang wanita."
Rukia menoleh lagi setelah menggenggam gelas susu hangat itu.
"Kupikir... Ichi-Nii tidak akan menikah secepat ini karena dia sudah bosan dengan wanita. Sejak kematian Kaa-chan, sikap Ichi-Nii berubah total. Dia jadi jarang bergaul dengan wanita. Dan terkesan menjauhkan diri dari wanita. Ini kabar mengejutkan kalau Ichi-Nii benar-benar mau menikah. Pasti kau wanita yang benar-benar berarti untuknya."
Rukia tak tahu apa maksud Karin mengatakan ini padanya.
"Ichi-Nii memang kadang suka kasar. Tapi dia tidak pernah membuat orang yang dia sayangi menderita bersamanya. Dia selalu berusaha melindungi apa yang berarti baginya. Kau juga ada dalam posisi itu."
Karin selesai meminum susu hangatnya. Lalu perhatiannya beralih ke poster besar yang ada di belakang meja makan itu. Tapi kenapa Rukia tidak melihat poster sebesar itu tadi?
Poster seorang... wanita?
Cantik... sekali...
"Itu Kaa-chan. Sudah lama meninggalkan kami. Sejak kematiannya banyak perubahan terjadi. Dan sangat mempengaruhi keluarga ini. Kaa-chan meninggal karena menyelamatkan Ichi-Nii kecil ketika hampir tertabrak mobil. Pertama kali Ichi-Nii melihat Kaa-chan berkorban begitu besar untuk Ichi-Nii. Makanya sejak dulu Ichi-Nii mencari sosok wanita yang bisa seperti Kaa-chan. Tapi sayang, tidak ada yang seperti itu. Wanita yang mengejar Ichi-Nii hanya mengejar harta dan ketampanannya. Tidak ada yang benar-benar tulus. Makanya agak kaget Ichi-Nii bisa menyukaimu.
"Selama ini Ichi-Nii cukup kesepian. Dia menyetujui untuk menangani perusahaan Oyaji karena tidak mau memikirkan Kaa-chan yang sudah lama meninggal. Ichi-Nii memang tertutup. Makanya dia tak pernah punya banyak orang yang bisa dia percaya."
Jadi itukah sebabnya... Ichigo selalu sendirian? Makanya teman yang dia percayai hanyalah dokter Ishida itu saja?
Makanya... Ishida juga... banyak mengatakan soal Ichigo saat Rukia bertemu dengannya pertama kali? Apa benar... Ichigo itu...
"Kenapa... kau mengatakan ini?" akhirnya Rukia tak sabar juga bertanya.
"Untuk meyakinkanmu. Apa kau siap menerima Ichi-Nii yang seperti itu? Ichi-Nii tak pernah main-main. Kalau dia sampai membawamu kemari jauh-jauh dari Tokyo, sudah pasti dia serius ingin menikah denganmu."
"Karin... tidurlah."
Ichigo menyela masuk ke ruangan ini. Karin memandang malas pada kakaknya dan membawa gelasnya yang sudah kosong itu. Walaupun Karin tampak cuek pada keadaannya, tapi diam-diam dia juga peduli pada sekitarnya. Dan Karin tampak begitu sayang pada Ichigo. Itu sudah terlihat jelas.
Karin sudah menghilang. Sepertinya dia sudah masuk ke kamarnya. Ichigo berjalan pelan mendekati Rukia. Dia sudah berganti pakaian. Kaus putih dan celana panjang. Sebenarnya Rukia juga sudah berganti pakaian dengan terusan tidur milik Yuzu.
Ichigo meletakkan gelas susu Rukia yang masih dipegangnya itu. Kemudian menggendong Rukia di lengannya.
"Ichigo! Turunkan aku!" pekik Rukia kaget.
"Bagus. Kau sudah memanggilku Ichigo sekarang," kata Ichigo penuh senyum.
Seketika itu pula wajah Rukia memerah.
"Kita mau kemana?" Rukia berusaha mengalihkan perasaan gugupnya. Ichigo yang sekarang tak terlihat seperti Ichigo yang biasa. Dia tampak lebih... hangat.
"Ke kamarku."
"Apa? Yuzu bilang aku tidur di kamarnya," sangkal Rukia. Tapi mau bagaimana juga mereka sudah menaiki tangga. Sepertinya ke kamar Ichigo.
"Aku mengajakmu kemari bukan untuk tidur di kamar Yuzu tahu!"
Ichigo mendorong pintu yang berhiasan angka 15 itu. Lalu menutupnya dengan sebelah kaki. Jadi... ini kamar Ichigo. Wangi kamar ini seluruhnya didominasi oleh wangi Ichigo. Seperti kamar anak laki-laki kebanyakan. Sederhana.
Ichigo menghempaskan Rukia pelan dan merangkak naik ke atas tubuh mungil itu.
"Ichigo..."
"Hmm sepertinya setelah memanggilku begitu, kau lebih sering memanggilku ya?" goda Ichigo. Rukia tak menanggapinya.
"Apa yang Karin katakan itu... benar?" tanya Rukia sambil menahan dada Ichigo di atasnya.
"Ya. Itu benar."
"Lalu..."
"Ayo kita menikah."
"Ichigo..."
"Kita menikah saja. Kau dan aku. Kita menikah. Aku akan mengatakannya pada Byakuya. Ayahku juga sudah setuju. Yuzu dan Karin juga menyukaimu. Kita menikah saja. Supaya kau tidak perlu mendengarkan kata-kata orang di kantor lagi."
Rukia diam.
"Kenapa... kau mau menikah dengan gadis sepertiku? Aku ini―"
"Karena aku mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku bosan mengatakan ini Rukia. Sepertinya kau tak paham apa yang selama ini kucoba yakinkan padamu. Jadi... menikahlah denganku. Dan aku janji akan ada di perusahaanmu selamanya untuk membantu Kuchiki. Apa kau mau?"
Talenta Ichigo tak bisa dibohongi. Dia memang pria berbakat yang sangat pintar. Perusahaan mana saja pasti bersaing mendapatkan pria ini. Ichigo bahkan tak begitu memikirkan alasan Rukia mau menerimanya. Sekali lagi... Ichigo tulus.
"Menikahlah... denganku. Kuchiki Rukia."
Memang tidak ada lamaran romantis. Tidak ada cincin yang disodorkan. Lilin yang menemani makan malam. Langit hitam penuh kembang api. Musik romantis. Bunga mawar yang menemani malam indah. Semua itu tidak ada.
Yang Rukia dapatkan adalah kesungguhan pria yang sanggup memberikan nyawa untuknya. Yang berhasil meluluhkan hatinya. Mengubah benci jadi cinta. Mengubah perasaan yang selama ini tak pernah Rukia rasakan. Memberikan seluruh hidup Ichigo hanya untuk Kuchiki Rukia seorang. Jadi... bagaimana bisa Rukia menolak?
"Ya..."
Dan satu kata sederhana itu sudah cukup untuk Ichigo mendapatkan seluruh bagian Kuchiki Rukia.
Entahlah. Rukia memang sudah gila atau apa. Tapi Rukia tak bisa membohongi hatinya yang sudah dipenuhi oleh sosok pria tampan ini.
Perjuangan Ichigo memang tidak mudah meyakinkan Kuchiki cantik ini. tapi di akhir semuanya memang sebanding dengan perjuangannya.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hahahaha Hola Minna...
apa Ruki kecepatan cinta ma Ichi? hehhehehe
yah sesuai janji, walau lewat sehari, maafkan saya odachan... kan saya bilang tergantung sitkon. hehehhe jangan ngambek lagi yaa... wkwkwkwk
saya masih dilema apa perlu chapter flashback lagi untuk chap depan atau langsung masuk ke adegan selanjutnya setelah pertunangan itu?
kalo chapter flashback lagi berarti masih nyeritain detil soal Ichi yang mau minta restu sama Byakuya hehehheeh kalo langsung berarti kalian ketemu si Grimm deh... hohohoho...
saya gak tahu chapter kali ini kepanjangan atau nggak, ngebosenin apa nggak, hancur apa nggak, saya juga merasa begitu soalnya. yah berhubungan minggu depan saya gak tahu kapan lagi bisa update sih. hehehehe
ok deh balas review dulu...
oda : heheheh kemarin sengaja pendek biar kamu penasaran... wkwkkwk
Naruzhea AiChi : makasih udah review eva... hehehe apa ini udah update express ya?
OYO LECHLIEZ : makasih udah review senpai... apa ini udah panjang? semoga gak pegel bacanya yaa... hehehe
meyrin kyuchan : makasih udah review senpai... Kaien kayaknya diem aja sih, mau ngapain juga ntar dia kena hajar lagi sama Ichi. wkwkwkwkw hehehe apa jawabannya udah ketemu di chap ini? wkwkwkw
Nyia : makasih udah review senpai... apa ini udah kilat beneran? Last Rose udah saya update heheheh
Haruka Ndo : makasih udah review Haruka... hehehe aduh kok segitunya sih? hmmm jadi konflik saya ngebosenin ya? kayaknya sih iya... ehheeh yang jaga lagi ke toilet, makanya Kaien ngintip aja. wkwkwkwk
inai chan : makasih udah review senpai... hehehe iya ntar diusahain tergantung yang punya fic sih hehehehe
d3rin : makasih udah review Rin... heheh gak segitunya juga kali deh, hehehe wah saya difavoritin? gak nyesel tuh? wwkwkwk makasih ya, makasih banyak loh...
Voidy : makasih udah review senpai... yayaya chap ini mereka bahkan mau nikah tuh... wkwkwkwk oh ya neechan, saya lagi in progress jadi tungguin ya. hehehe
Aii Sakuraii : makasih udah review Aii... heheheh ini sih yang minta Kaien digituin bukan saya, tapi yang rikues, malah sebelumnya diminta mati aja tuh orang, tapi saya gak tega sumpah! hehehe oh ya, mana fic kamu? kok lum update? saya gak sabar liat adegan rape-nya... *plakplakplak*
Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... kabarnya baek kok, cuma mungkin patah beberapa tulang aja wkwkwk ehmm berhubung si tukang rikues gak suka chara cewek yang buat Ruki makan ati, yaa kayaknya sih gak ada... heheh konfliknya aja udah gini banyak, kasian Ruki-nya sih hehehe apa ini udah panjang? semoga gak pegel yaa... hehehe
Mey Hanazaki : makasih udah review Mey... hehehe apa ini udah update kilat? hehehe iya, chap flashback emang panjang, intinya sih emang nyeritain gimana perjuangan Ichi sama Ruki hehehehe
RK-Hime : makasih udah review Rika... kayaknya ini udah dijawab ya di chap ini? hehehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hehehe Ruki sampe gitu jelas aja si Ruki syok, Ichi mah keterlaluan gitu ya? hehehe iya ini beneran titik balik perasaan Ruki. ehehhe
Suzuhara Minami : makasih udah review Zuha... hehehe iya, maunya juga gitu, tapi kalo langsung ntar pada penasaran lagi sama perjuangan Ichi... makanya masih dilema juga sih enaknya gimana hehehehe Last Rose emang udah saya update tuh... hehehe
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... ya ini trauma Ruki 1,5 tahun yang lalu. dia masih takut banget sama Ichi yang suka marah dan kasar sama Ruki, makanya Ruki gak suka kalau Ichi mulai kasar sama dia lagi, hehehe Last Rose udah saya update...
Mikyo : makasih udah review senpai... hehehe iya, semakin banyak review mudah-mudahan semakin cepet ya updatenya hehehehe
D suji : makasih udah review senpai... makasih ini udah lanjut kok hehehehe
Cherry kuchiki : makasih udah review senpai... ahahah iya nih si Ruki udah kesengsem kayaknya sama Ichi hehehehe
Luna Haruno : makasih udah review senpai... heheh gak kok, ini udah update kilat. pada dasarnya saya suka update teratur, tapi kadang kalo gak memungkinkan saya emang gak bisa update bukan karena sengaja sih. ehehhe nih udah update kok, OOP gak akan saya update lagi. karena udah saya discontinue... heheheh
Seo Shin Young : makasih udah review Seo... hehehe kayak nama Korea... suka deh hehehe... hahah Kaien sih emang babak belur, mungkin patah tulang kali... ehhehe iya sih, namanya aja perjuangan buat dapetin Ruki hehehehe
Moekokurodo : makasih udah review senpai... hehehe beneran tepar tuh? wah.. gimana ya? ehhehe apa yang ini tambah tepar? wkwkwk
D-N-D Mozaik : makasih udah review senpai... heh? iya ya kurang menarik? hmmm saya sih tergantung jalannya cerita, emang kurang menarik ya? maaf jadi ngecewain, hehhe apa ini juga rada aneh? kepanjangan sih hehehe
Soffie : makasih udah review senpai... wah kalo sampe ilang ingetan flashbacknya tambah panjang loh... heheheh hmm kayaknya bikin fic lain aja deh Ichi ilang ingetannya hehehe
Wi3nter : makasih udah review senpai... hehehe jadi ngerusak image-nya Ichi ya? hehehe apa boleh buat sih tergantung skenario hehhehe
Piyocco : makasih udah review senpai... Byaku udah pasang alarm sih, cuma karena belum denger dari Ruki, makanya Byakuya masih bertahan. heheheeh soalnya gak mau asal nuduh gitu heheheh
ffiesy : makasih udah review senpai... ntar... abis flashback Grimm muncul kok heheheh
Firnie : makasih udah review senpai... heheh iya nih udah update kok...
Ellen : makasih udah review senpai... nih udah update... hehehe
wah makasih ya senpai... udah berpartisipasi sama fic ini...
jadi kalo mau update,,, ya review yaa... biar saya tahu apa fic ini layak lanjut apa nggak. heheheh
Jaa Nee!
