Chapter 7
POV: Itachi
Benar-benar mengerikan. Esok paginya, saat aku dan Karin akhirnya memutuskan pulang, ibuku malah memberiku tiga berita yang mengejutkan. Pertama, Shikamaru dan Temari akan bertunangan. Padahal seingatku, empat tahun lalu Temari mengatakan ia masih suka padaku. Lalu kenapa sekarang, ia malah bertunangan dengan anak yang lebih muda darinya, yang bahkan adalah salah satu muridku?
Dan berita kedua, Sasuke juga ditunangkan dengan Hinata. Ini memang mudah diduga, mengingat dulu Sasuke pernah menunjukkan kekaguman pada Hinata dan kami semua menyadarinya, serta saat ini Hinata juga sangat menyukai Sasuke. Tapi tak kusangka Neji mau begitu saja jika adiknya (yang sangat ia cintai) bertunangan dengan teman sekelasnya.
Dan berita ketiga, seolah tak cukup meriah, para orangtua juga menunangkan Gaara dengan Karin yang, ehm, sudah resmi jadi kekasihku. Dan meski Gaara dan aku sudah menolak mati-matian, mereka tetap menolak merubah keputusan dengan alasan semuanya sudah setuju. Kekuatan para orangtua memang mengerikan.
Jadi, karena berita terakhir ini lah, aku bermuram durja di balkon kamarku, alih-alih berlibur ke taman bersama Karin untuk menghabiskan hari ini. Sementara Karin memutuskan mengobrol dengan orangtuaku dan orangtua Gaara, serta orangtua Hinata yang baru datang.
"Boleh aku masuk?" kudengar suara Sasuke menyentak lamunanku. Aku mempererat peganganku pada pagar balkon. "Silahkan!" kataku.
Anak itu bersandar pada pagar balkon, dan menghirup udara pagi. "Maafkan aku, Nii-san.." katanya dengan suara pelan. "Aku bukan salah satu pembela hubunganmu dan Karin."
Aku menghela nafas. "Aku sudah tahu," bisikku. "Aku juga tahu kau yang memberi ide ini pada orangtuanya dan orangtua Gaara. Sasuke.. kau menyukai Karin, kan?"
Sasuke menatapku dengan wajah ternganga. "Bagaimana kau ta—"
"Hanya karena Karin tak menyadarinya, bukan berarti aku juga," potongku. "Sasuke.. setelah apa yang kami lakukan kemarin, akhirnya aku sadar bahwa rasa sukanya padaku tidak sepenting itu. Karena ternyata, rasa sayangnya padamu lebih besar dan lebih penting. Membuatmu begitu berharga baginya. Aku jadi iri, pada persahabatan yang sudah kau bentuk dengan mengorbankan perasaanmu itu."
Aku menghela nafas lagi, sementara adikku itu hanya diam saja. "Tapi ada satu hal yang membuatku heran," akhirnya aku mengaku. "Kenapa bukan kau yang ditunangkan dengan Karin?"
"Karena," suaranya terdengar serak saat kembali berbicara. "Aku sudah menyentuh Hinata. Dan aku tak mungkin meninggalkannya, Nii-san."
Aku tersenyum tipis. "Uhm, pilihanmu sudah benar."
.
.
.
POV: Karin
"Karin, bisa bicara sebentar?" Tiba-tiba saja Gaara memegang tanganku saat aku sedang asyik mendengar para orangtua bicara tentang kedekatan ayahku dengan ayahnya Gaara. Dari yang kudengar, ayahku dan ayah Gaara menyetujui pertunangan ini lewat telepon. Parah sekali.
"Tunggu sebentar, ya, Baba," bisikku pada ibu Sasuke, sebelum mengikuti Gaara. Sebelum aku meninggalkan ruang tamu, kudengar mereka terkikik-kikik, tentang betapa serasinya kami. Padahal dulu mereka berkata aku paling cocok dengan Uchiha.
"Kita mau kemana?" tanyaku, melirik sekilas ke arah pergelangan tanganku yang sedang Gaara pegang.
"Ke kamarku," katanya jujur, membawa kami ke sebuah kamar tamu.
"Memangnya kau mau ngapain?" tanyaku heran.
"Ada yang mau kukatakan."
"Oh, begitu," kataku sebelum ia membuka pintu kamar dan mendorongku masuk ke dalam kamar yang kemarin ditempati Hinata. "Hei, kalau mau bicara, baik-baik dong!"
Gaara melirikku tajam. "Maaf, aku benar-benar tidak sengaja," katanya dengan nada tulus. "Habisnya aku panik."
Aku memutar bola mataku. "Jadi mau bicara apa?" tanyaku seraya duduk di atas ranjangnya.
Ia mengigit bibir. "Aku sudah bertekad menyembunyikan ini dari semua orang, tapi karena kau akan menjadi tunanganku—mungkin istriku, aku akan mengatakannya." Gaara menarik nafas dan menghebuskannya perlahan. Ia melangkah mendekatiku. "Aku tidak tertarik pada perempuan."
Aku mengerjap kaget. "Hah? Maksudnya?"
Gaara menatapku dengan pandangan memohon. "Tapi aku masih ragu," katanya kemudian. Ia mulai menumpukan salah satu lututnya di atas ranjang, tepat di samping pahaku. "Jadi aku ingin membuktikannya."
Cup! Tiba-tiba saja ia mengecup bibirku dengan canggung. Sekejap kemudian kami langsung menjauhkan diri. Sambil mengusap-usap bibirku, aku berkata, "Yah, mau kau gay atau tidak, aku tak masalah," kataku. "Bagiku pertunangan ini hanya untuk memberi kebahagiaan pada orangtuaku."
Gaara tersenyum tipis. "Yah, mari buat kesepakatan," katanya. Ia masih belum menjauhkan wajahnya dari wajahku. "Kau boleh berpacaran diam-diam dengan Itachi atau siapa pun yang kau suka, tapi jangan katakan siapa-siapa tentang kelainanku ini. Dan jika seandainya aku menemukan pria yang cocok untukku, kuharap kau tidak mengadukannya pada siapa pun."
"Tunggu dulu, ada satu syarat lagi," potongku. "Kau tetap harus memprilakukan aku seperti pasanganmu. Aku ingin dihargai, dihormati, dan dilindungi. Aku benci orang luar berpikir kita ini pasangan palsu hanya karena kau tak mengacuhkanku."
"Itu sudah pasti kok, tunanganku yang paling berharga," katanya yakin.
Aku tergelak. "Aku jadi merasa sudah mengeksploitasimu," kataku. "Kuharap, kau bukan benar-benar gay. Meski fakta bahwa kau gay membuatku lebih tenang."
"Yah, apa pun deh," katanya cuek. Ia terlihat lebih santai, seperti Gaara yang sudah kukenal sejak kecil. "Omong-omong, ternyata ciuman rasanya enak. Kau pernah mencobanya, tidak?"
Aku menunduk memandang lututnya yang menempel pada sebelah pahaku, kemudian mengangguk. "Tapi saat ini aku sedang ingin melupakannya," kataku. "Bisa dikatakan, aku menyesal."
Gaara mengerjap bingung. "Apakah ini tentang hubunganmu dengan Itachi?" tanyanya. "Sepertinya Sasuke kurang menyukainya, ya."
Aku mendesah sebal. "Yah, pokoknya aku tak ingin mengingatnya lagi."
"Kalau begitu izinkan aku menciummu lagi, Karin," bisiknya. "Agar kau bisa melupakan ciumanmu dengan Itachi, dan aku bisa sekalian praktek untuk ciuman pertamaku dengan orang yang akan kusuka nanti."
"Hentikan. Dari tadi ucapanmu seperti orang cabul saja," kataku, pura-pura sebal. Aku membiarkan dia mendekatkan bibirnya lagi pada bibirku. Lagi pula, kalau aku menolaknya, rasanya terlalu munafik. Mengingat kami akan jadi tunangan juga.
Kenapa ya, aku jadi seperti ini. Padahal beberapa hari yang lalu aku adalah Karin yang ceria dan tanpa beban. Semua masalah yang menimpaku saat ini pasti karena rasa sukaku pada Itachi, yang berujung pada terbentuknya hubungan kami yang kemudian ditentang oleh Sasuke. Dan.. jadilah seperti ini.
Aku.. sudah tak bisa mengenali diriku sendiri lagi.
"Karin.." Tiba-tiba Gaara menghentikan ciumannya. Dengan terengah-engah, dia berbisik, "maaf sudah meninggalkanmu selama beberapa tahun ini. Aku berjanji akan membuatmu lebih bahagia daripada saat kau bersama Sasuke. Dia jelas bukan sahabat yang baik untukmu."
Tanpa aba-aba, airmataku langsung jatuh. "Terserah kau saja, Gaara," balasku, kemudian mencium lagi bibirnya. Selamat datang kembali di hidupku, sahabat masa kecilku.
To be continued
a/n: Gaara belum tentu gay, kok! Gaara berpikir begitu karena selama ini dia tidak tertarik untuk berpacaran. Yang ia pikirkan kan cuma perasaan teman-temannya, terutama Karin yang pernah jadi sahabatnya waktu kecil.
Mata ne.
