A/N : Masih galau sama presentasi eksternal syalalala yang super kepoooohhh! Super kepo 2011, aaaaahhh! Satu-satunya pelipur lara dan teman saya di kala begadang sampe pagi sambil motong-motong birmet cuma seorang Ewan McGregor yang unyu. KENAPA EWAN GAK IKUTAN MAIN DI HARPOT, GRAAAAAHHH! DX #kembaligalau
Disclaimer : Terakhir saya cek, masih kepunyaan seorang ibu bernama JK Rowling. Kalo ini beneran punya saya, gak bakal saya repot-repot bikin maket 1:100. Saya suruh aja tukang maket paling cihuy seluruh jagat raya. Dan saya juga gak bakal repot-repot ber-sekecup-ria atau meng-GRAOK si v-ray yang SUMPAH DEMI APAPUN INI GIMANA CARANYA BIAR SINARNYA TERANG, ASTAGOOONNNNGG! DX #galaueksternal
Kira-kira ada, gak, ya, mantra yang bisa bikin maket dan bisa ngerender? Dibutuhkan segera.
Warning : Maaf kalo seandainya ada typo. Dan ini kenapa v-ray not responding terus, siiiihhh... #headbang Oiya. Sama slash/gay/terserah-mau-pake-yang-mana. Sedikit nyerempet ke lemon di awal-awal chapter, tapi bukan lemon... berarti lime, yah? #plak ngomong-ngomong lime sama lemon, kayaknya saya perlu, deh, biar melek. No, mataa! Yu no tutup-tutup! Aim not selesai meng-cutter-cutter birmet-nyaaa! DX LAMA2 INI MAKET GUE LIGHTSABER JUGA, GRAAAAHH!
Sepasang mata cokelat membuka perlahan-lahan, mengerjap dan melirik ke sekeliling ruangan. Melihat tatanan kamar serta warna dinding dan lantai yang tak familiar, sang pemilik mata cokelat itu mengerang pelan. Tangan kanannya yang tak tertutupi bed cover hijau—yang terlalu tebal sampai-sampai dinginnya hembusan pendingin ruangan tak terasa—mengacak-acak rambutnya yang kecokelatan. Sebetulnya, ia masih belum begitu mengerti kenapa dia bisa ada di kamar itu.
Yang ada di depan matanya sekarang adalah sebuah kamar sederhana dengan satu tempat tidur queen size dengan bed cover berwarna hijau tua serta seprei putih menjadi pembungkus kasur empuk. Dua buah night table kayu berdiri mengapit tempat tidur dengan lampu duduk masing-masing berada di atas keduanya. Sebuah lemari dengan televisi sederhana ditempatkan di sisi berlawanan dari tempat tidur. Salah saatu sisi dari tempat tidur terdapat sebuah lemari pakaian yang kosong, tak pernah dibuka sama sekali. Satu pintu terlihat di samping televisi, sepertinya menuju kamar mandi. Tebaran pakaian yang teronggok di atas karpet berwarna hijau itulah yang menyadarkan pria berambut cokelat itu mengenai apa kejadian apa yang telah terjadi di ruangan tersebut.
Mata cokelat melirik ragu ke belakangnya, mencoba memastikan bahwa ingatannya benar. Kalau iya, berarti sosok yang sekarang tidur tepat di balik punggungnya, yang tangannya memeluk erat dengan sangat posesif, adalah pria itu. Ia ingin memastikan jemari siapa yang menggelitik kulitnya.
Tak heran saat ia mendapati seorang pria berambut hitam pekat sehitam langit malam. Kulitnya lebih pucat dibandingkan dengan kulitnya yang sedikit kecokelatan terbakar matahari.
Tapi, sepasang mata berwarna abu-abu terang yang menatap lurus ke mata cokelat miliknya cukup mengagetkan.
Apalagi saat satu senyuman kecil tersungging di bibir pria berambut hitam itu.
John Lupin mendesah dan memutar bola matanya. "Kalau kau sudah bangun dari tadi, seharusnya kau langsung menyingkirkan tanganmu dariku." desisnya seraya mendorong pelan tubuh pasangannya dengan pundak. Tangan kirinya—yang ternyata terkurung dalam pelukan erat—berusaha ia bebaskan. Kembali desah napas panjang keluar dari mulutnya saat ia gagal membebaskan tangan kirinya. "Singkirkan tanganmu dariku, Orion."
Senyum yang tersungging di bibir Orion Black menjadi semakin lebar. Bukannya menyingkirkan tangannya, sesuai dengan yang diminta John, ia malah mendekap pria berambut cokelat itu semakin erat. "Kau yakin? Beberapa menit yang lalu, kau tak ingin lepas dari sentuhanku." bisik sang bos mafia lembut. Desah napasnya menerpa tengkuk sang direktur bank, sebelum kecupan-kecupan kecil ia darat di sepanjang tengkuk hingga pundak pasangannya itu.
"Apa yang terjadi tadi adalah kesalahan." gumam John pelan sambil mendudukkan tubuhnya perlahan-lahan.
"Kesalahan?" Mendengar perkataan John, kening Orion berkerenyit. Tangan yang semula memeluk posesif pasangannya itu perlahan menyingkir, membiarkan John untuk akhirnya berdiri dan menjejakkan kaki ke karpet. "Apa maksudmu dengan kesalahan?"
Entah sudah berapa kali John menghembuskan napas panjang yang lelah. Jarinya memijit-mijit keningnya yang masih pening—kemungkinan besar pusing karena memikirkan situasi yang sedang ia hadapi atau terlalu banyak minum minuman keras sebelum ke mari. "Ini semua salah." bisiknya pelan dengan suara yang tercekat. "Kita tidak seharusnya berada di hotel ini dan... berhubungan intim. Aku punya keluarga, kau punya keluarga. Kita semua sama-sama dua orang dengan anak serta istri—"
"Istrimu sudah tiada."
"Tapi, istrimu masih ada, Orion." bentak John. Kepalanya sedikit berpaling, melirik sosok Orion Black yang masih berbaring di atas tempat tidur melalui sela-sela rambut cokelatnya. Ekspresi yang ditunjukkan mata John tampak penuh dengan kesedihan, kekecewaan, serta penyesalan yang bercampur aduk. "Bagaimana dengan Walburga? Dan anak-anak kita? Aku tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Remus seandainya ia tahu tentang... tentang... tentang ini..."
"Kalau begitu, jangan sampai ia tahu." Orion bergerak mendekat. Kembali kedua tangan kekarnya merengkuh pinggul ramping pasangannya sementara bibirnya sibuk mendaratkan kecupan demi kecupan di sekujur pundak pasangannya tersebut. Ia baru berhenti saat John menghentakkan pundaknya, risih dengan perhatian yang diberikan oleh Orion.
"Kita sudah setuju untuk mengakhiri ini semua, Orion." gumam John. Sirat kesedihan terdengar dari suaranya. "Kita sudah sepakat untuk berteman saja—partner bisnis—setelah pertunanganmu dengan Walburga. Kau sudah setuju itu, Orion..."
Terdengar dengus napas kesal dari Orion. Sang pria berambut hitam legam itu memutar kedua bola matanya. "Kau lupa, ya, kalau kau sendiri yang secara sepihak pergi begitu saja dariku? Kau yang pergi dariku, menjauh dariku."
John Lupin hanya terdiam dengan kepala tertunduk.
Melihat tak ada tanggapan dari John, Orion kembali melanjutkan pembicaraannya. "Kalau kau lupa, biar kuingatkan kembali. Kau langsung menghilang begitu saja dari hadapanku ketika aku mengabarkan tentang pertunanganku dengan Walburga. Asal kau tahu, itu bukan keinginanku. Aku tak mau menjalin hubungan—apalagi menikah dengannya. Dan tanpa mendengarkan penjelasan dariku, kau menghilang. Satu-satunya kabar yang kuterima darimu adalah berita pernikahanmu dengan seorang arsitek Prancis yang aku lupa namanya—"
"Michelle. Namanya Michelle..."
"Siapa pun namanya, aku tak peduli." geram Orion sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku tahu kau masih menyimpan rasa denganku. Semuanya itu terjawab tadi, saat di kantormu!"
"Yang tadi itu kau duluan yang maju." gumam John pelan. Ia mulai beranjak dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai kemudian memakainya satu demi satu. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak beradu pandang dengan Orion yang duduk di atas kasur. "Kalau kau tidak maju duluan, pasti—"
Kalimatnya terhenti di tengah jalan saat sepasang tangan mencengkeram kedua lengan atasnya. Dengan genggaman erat, kedua tangan itu mendorong tubuh John ke dinding lalu menghimpitnya. Sepasang bibir langsung mendarat di kedua bibirnya sebelum pria berambut cokelat itu bisa protes, menangkap sepasang bibir ranum tersebut dalam satu ciuman panas yang liar.
Orion baru menjauhkan tubuhnya beberapa saat kemudian. Napasnya menderu, saling susul menyusul dengan napas tersengal-sengal John. "Kalau kau memang tak menyukaiku lagi, kenapa kau tidak mendorongku? Akuilah, John. Kau masih menginginkan hubungan ini."
Sang direktur bank hanya bisa terdiam sambil menunduk. Kedua mata cokelatnya bergerak kemana-mana, menghindari tajamnya dua bola mata abu-abu tersebut. "Aku..."
Sayang, Orion tak sempat mendengar balasan yang keluar dari mulut John karena teleponnya berdering. Suaranya terdengar sayup-sayup dari balik pakaian yang menumpuk di atas karpet, terlupakan. Sambil mendesah panjang, kesal, Orion berjalan dan mengambil telepon genggamnya. Dengan sangar, ditekannya satu tombol untuk menjawab panggilan. "Apa!" bentaknya.
John Lupin menghela napas lega saat Orion akhirnya menjauh. Ia sendiri mulai melanjutkan aktivitas sebelumnya, yaitu kembali mengenakan pakaiannya. Ia harus segera pulang sebelum Remus mulai khawatir karena ia belum juga pulang selarut ini.
Tubuhnya menegang, kaku, saat mendengar nama Remus disebut oleh Orion. Sesuatu tentang Remus yang berada di Royal Opera House bersama kekasihnya. Lalu, yang terakhir sukses membuat jantung John mencelos.
"Lampu gantungnya jatuh?" ucap Orion, bingung sekaligus terkejut. "Apa maksudmu lampu gantung di gedung operanya jatuh? Apa? Remus ada di bawah lampu gantungnya? ... Oh. Kukira terjadi sesuatu padanya... Eh? Cygnus? Kau bilang, kau melihat Cygnus duduk di area lampu terjatuh?"
"... Remus..."
Orion langsung mengalihkan perhatiannya dari telepon genggamnya. Di sana, di sudut ruangan yang lainnya, berdiri John Lupin. Wajahnya pucat pasi dan raut kepanikan tampak jelas terukir di wajahnya. Orion segera mematikan telepon genggamnya saat melihat pasangannya shock berat seperti itu.
"... Remus kenapa...?" tannya John. Suaranya begitu kecil dan bergetar. "Tadi... Tadi itu siapa?"
"Barusan yang menelponku adalah soldier-ku yang kutugaskan untuk mengawal Remus. Sepertinya, terjadi sesuatu di gedung opera tempat Remus dan Tom menonton opera. Lampu gantungnya... jatuh." sahut Orion. Nada suaranya ia buat selembut mungkin. Ia tak ingin membuat pria di depannya ini lebih panik lagi. "John, kau tidak usah khawatir. Anak buahku siap menolong Remus kapanpun—"
"Aku harus pergi." potong John. Ia lalu bergegas membereskan barang-barangnya dan mengambil mantelnya. "Aku harus memastikan sendiri kalau Remus tidak apa-apa." Dan sebelum Orion sempat menahannya, John sudah melesat keluar dari kamar hotel, berlari tergesa menuju elevator dan bergerak menuju Royal Opera House untuk melihat keadaan Remus.
Kembali sang bos mafia menghela napas panjang. Dia mengacak-acak rambut hitam legamnya karena stres sambil menggerutu kesal. Ia kemudian memutuskan untuk menyusul ke gedung opera, memastikan kalau tidak akan terjadi sesuatu yang berbahaya pada John maupun Remus. Dengan panik dan terburu-buru, ia memakai semua pakaiannya secara asal. Ia bahkan tak peduli saat meninggalkan kamar hotel tak tertutup. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana ia bisa sampai ke gedung opera secepat mungkin.
Sebelum pembunuh—ya. Anak buahnya menyebutkan bahwa ini sepertinya bukan kecelakaan biasa, melainkan pembunuhan—itu memutuskan untuk membunuh orang yang paling ia cintai.
.
.
.
"Harry Potter" by JK Rowling
"La Cosa Nostra" by are. key. take. tour
.
.
.
Remus menatap horor ke sampingnya, dimana seorang pria menjerit histeris kesakitan. Tangan kanannya terkena serpihan kristal tajam dari lampu gantung yang jatuh. Sekarang, tangan itu berlumuran darah dan berada pada posisi yang mengerikan. Sepertinya patah. Remus semakin yakin kalau tangan orang itu patah ketika melihat putihnya tulang menyembul keluar dari kain tuksedo si pria tersebut. Remus tak berani membayangkan bagaimana orang-orang yang berada di bawah sana, tertimpa langsung oleh lampu gantung besar dengan kristal tajam. Yang ia lihat hanyalah lantai berwarna merah marun dimana ia berpijak sekarang sudah berubah warna menjadi lebih pekat dan gelap. Bau anyir darah juga tercium jelas.
"Remus! Remus, kau tidak apa-apa?" tanya Riddle, panik. Ia menggamit lengan Remus dan mengguncang-guncangkan kekasihnya yang sepertinya masih syok. "Ayo, kita harus segera keluar dari tempat ini. Aku tak suka berada dekat dengan mayat..." Ia lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya sambil menarik Remus yang masih kebingungan. Mungkin, dengan membawanya keluar ke udara segar, pikirannya bisa kembali tenang.
Sayangnya, mereka berdua tak kunjung sampai ke pintu keluar.
Keluar dari deretan kursi-kursi penonton saja sulit setengah mati mengingat semua orang menjadi panik karena peristiwa jatuhnya lampu gantung tersebut. Sekarang, yang ada di kepala tiap orang adalah keluar secepatnya dari ruang pertunjukan. Hal itu membuat orang-orang menjadi rebutan untuk keluar dari ruang pertunjukkan. Mereka saling dorong untuk bisa menyelamatkan diri mereka.
Yang lebih parah lagi yaitu seorang laki-laki menyebalkan yang memblokir pintu keluar, mengatakan kalau semuanya tidak boleh keluar dari dalam ruang pertunjukkan sebelum polisi datang.
"Kau gila, ya!" bentak seorang pria paruh baya, kesal karena tidak diperbolehkan keluar. "Aku tidak mau berada satu ruangan dengan mayat! Hidungku tak suka mencium bau menjijikan seperti ini! Aku mau keluar sekarang!" Ucapannya kemudian disambut antusias oleh penonton lainnya.
"Maaf, Sir. Tapi, kami tidak mungkin membiarkan kalian keluar dari gedung ini sebelum poisi datang." kata seorang pria berambut hitam berantakan dengan begitu tenang. "Kalaupun polisi nanti sudah datang, diharapkan kesediaan Anda sekalian untuk menjalani interogasi."
"Interogasi apanya? Kami bukan kriminal!"
"Lampu barusan jatuh karena dimakan umur! Rantainya saja sudah berkarat! Kau mau kita mati karena tertimpa lampu-lampu lainnya, hah!"
Riddle menggeram kesal saat jalur keluarnya diblokir dengan semena-mena oleh si pria berkaca mata ini. Dengan raut muka tak senang, ia berjalan menghampiri pria tersebut dan berkata dengan suara terdinginnya, "Memangnya kau pikir kau ini siapa? Sembarangan saja menutup pintu keluar!"
Si pria berkaca mata itu mengangkat sedikit kedua alis matanya, sedikit kesal dengan nada suara merendahkan Riddle. Ia lalu merogoh ke dalam saku jasnya, menarik sebuah lencana dan menunjukkannya tepat di depan wajah Riddle seraya berkata, "Namaku James Potter. Detektif Metropolitan Police Service. Kau masih mau protes?"
Riddle menggeram kesal. Ia lalu membalikkan tubuhnya, meninggalkan si detektif itu. Kalau sudah begini caranya, ia tak mungkin kemana-mana lagi. Melanggar aturan Met, itu sama saja dengan melanggar hukum. Bisa-bisa dia dituntut denda atau penjara. Mana mau ia mencoreng reputasinya yang bersih hanya karena masalah sepele semacam ini. Ia kemudian menggamit lengan Remus, tak menyadari kalau pemuda berambut cokelat itu sedikit mengerenyit kesakitan. "Ayo, kita cari pintu keluar lainnya. Detektif bodoh itu pasti tidak menjaga pintu keluar lainnya."
Remus berusaha mati-matian mengikuti langkah Riddle yang panjang dan begitu cepat. Berkali-kali kakinya tersandung meja atau tubuhnya menabrak orang lain. Ingin rasanya ia melontarkan protes kepada kekasihnya yang main tarik sana tarik sini, tapi entah kenapa otaknya tak sanggup memerintahkan apa-apa ke mulut dan lidahnya. Seluruh badannya terasa masih lemas sejak lampu gantung berukuran besar itu jatuh dengan suksesnya di samping sang pianis. Telinganya bahkan tak sanggup mendengar jelas, seperti selaput tebal menutupi telinganya, membuat semua suara terdengar sayup-sayup. Matanya masih menatap panik ke segala arah, entah mencari apa. Ia bahkan tidak yakin kalau ia mengerti betul gambaran apa saja yang dikirimkan oleh matanya ke otak. Semuanya terasa seolah-olah otaknya berhenti bekerja dan ia hanyalah tubuh tak bernyawa.
Sepertinya Remus shock berat.
Bagaimana tidak? Dari sekian banyak kejadian bahaya yang membuatnya jantungan, tak ada yang sedekat ini. Bahkan dari sekian banyak penculikan yang telah ia alami dengan berbagai senjata tajam terlibat di dalamnya, ia tak pernah mengalami ketakutan seperti saat ini. Tentu tidak, karena ia tahu betul para penculiknya tidak akan berani macam-macam seperti melukai, apalagi membunuhnya. Tapi, untuk kasus kali ini, semuanya berbeda.
Remus nyaris tertimpa lampu kristal besar tersebut.
Ia bisa menjadi pria yang sekarang menjerit kesakitan dengan tangan patah berlumuran darah. Pecahan kristal tampak menusuk dalam ke balik tuksedonya. Atau ia bisa menjadi wanita berpakaian merah yang terduduk tak bernyawa di atas tempat duduknya. Kepalanya patah dan terkulai dalam posisi yang mengerikan dengan pecahan kristal besar menancap di kepalanya, menembus otak. Atau ia bisa menjadi laki-laki yang itu, yang tubuhnya remuk tertimpa lampu kristal besar dengan berat puluhan kilogram. Darah berceceran di seluruh tubuhnya dan... Remus sungguh tidak mau membayangkan seperti apa tubuh pria itu di balik desakan lampu gantung besar itu...
"Remus? Kau tak apa-apa?"
Remus menghentikan langkahnya dan mendongak, menatap dalam dua lautan biru yang penuh kekhawatiran. Tangan lembut mengusap kulit pipinya. Rupanya Riddle menyadari kekasihnya yang masih shock, memutuskan untuk menepi sejenak, mencari area yang cukup sepi untuk menenangkan kekasihnya. "Kau tidak apa-apa, kan?" Kembali ia melontarkan pertanyaan yang sama.
Remus sendiri masih terlalu kaget untuk bisa menjawab. Kejadiannya terlalu cepat, sampai-sampai otaknya tak sempat memproses informasi apapun dari kejadian tersebut.
Sang pianis muda itu tersentak saat tangan lembut Riddle mengusap pelan pipi kanan Remus dan meraih saku jasnya, mengeluarkan sebuah plester luka. "Kau terluka sedikit, Remus." bisiknya dengan penuh kasih sayang. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Riddle menempelkan plester tersebut di pipi Remus dan meratakannya sambil tersenyum lembut.
... Entah kenapa tindakan ini mengingatkan Remus pada seorang polisi tampan dengan rambut hitam pekat dan mata abu-abu yang misterius...
Remus merasakan sebuah tangan mendongakkan dagunya sebelum bibirnya ditangkap dalam satu kecupan singkat. Kembali dia beradu pandang dengan mata biru cemerlang yang memancarkan kekhawatiran. "Maafkan aku yang sudah mengajakmu ke sini..." bisik Riddle penuh penyesalan. Ia meraih pundak Remus lembut dan memeluk pemuda tersebut, mendekapnya erat. "Seandainya aku tidak memaksamu untuk datang ke gedung opera ini, kau pasti tidak harus mengalami kejadian mengerikan seperti ini..."
Remus terdiam. Kepalanya ia sandarkan ke atas pundak lebar dan kokoh seorang Tom Riddle sambil menghela napas panjang. Kedua tangannya kemudian terangkat, meraih material jas yang membungkus tubuh atletis kekasihnya itu dan memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya pada malam itu, ia merasa aman dan terlidungi. Ia merasa sangat beruntung datang kemari bersama dengan Riddle.
Ketenangan yang dirasakan oleh Remus sirna saat orang-orang mulai kembali berebut keluar dari ruang pertunjukkan. Sepertinya pintu keluar yang sempat diblokir oleh James sudah dibuka, menandakan bahwa polisi sudah datang.
Sialnya, harapan para elit dan aristokrat itu untuk pulang, aman di balik tembok tinggi rumah mewah mereka malam ini, tak akan bisa didapat dengan cepat.
Salahkan polisi yang dengan seenaknya mengurung mereka di gedung opera ini, memaksa mereka semua untuk menjalani interogasi.
Interogasi panjang yang entah akan selesai kapan...
"Jadi," James Potter menetap-netapkan kakinya ke lantai karpet. Kedua tangannya terlipat angkuh di depan dada, sementara mata cokelatnya menatap tajam dari balik kaca mata bulatnya. "Apa yang kau lakukan di gedung opera ini bersama pengkhianat nomor satu seluruh jagat raya?"
Lily Evans memutar bola matanya jengah sementara Severus Snape mendengus sebal. Ketiganya—ditambah dengan Sirius—berada di dalam kantor pengurus gedung Royal Opera House, menanti untuk memanggilkan lagi para pengunjung untuk diinterogasi di dalam kantor direktur.
"Apa maksudmu dengan ucapan itu, James? Aku dan Severus hanya kemari untuk nonton opera, kok! Kenapa kau curigaan begitu, sih?" bentak Lily ketus. Ia paling tidak suka kalau tunangannya itu mempermasalahkan dengan siapa sang perempuan manis berambut merah itu jalan keluar bersama dengan laki-laki lain. "Dan apa maksudmu dengan pengkhianat? Mentang-mentang karir Severus sebagai agen ganda, kau menuduh dia berkhianat begitu saja? Jangan sembarangan, James!"
"Lho? Wajar kalau aku curiga, kan? Dia sudah jarang datang ke kantor pusat untuk melaporkan kegiatan mata-matanya. Dia pasti terlalu sibuk mengejar karir di dunia mafia!" tuduh James sambil menuding Severus yang masih berdiri agak menjauh dari dua sejoli yang seru beradu mulut.
Severus mendengus pelan saat mendengar tuduhan sepihak dari James. "Memangnya aku harus melapor padamu setiap kali aku datang ke markas? Memangnya kau siapa? Atasanku? Pacarku?"
"Amit-amit aku punya pacar sepertimu!" seru James. Tubuhnya bergidik geli memikirkan ia dan Severus menjalin hubungan khusus, kencan berdua sambil pegangan tangan. Jangan lupa ciuman mesra di depan pintu rumah saat menghantarkan sang kekasih pulang. "Aku hanya tak suka kau terlalu akrab dengan Lily! Dan aku tak suka kenyataan bahwa kau yang terpilih menjadi mata-mata!"
"Menjadikan orang dengan emosi meledak-ledak sepertimu mata-mata kepolisian itu sama saja dengan bunuh diri." ucap Severus tenang. "Aku berani jamin dalam kurun waktu 24 jam saja kau pasti akan ketahuan oleh para mafia itu bahwa kau mata-mata. Belajarlah untuk mengendalikan emosimu yang meledak-ledak itu, barulah kau sesumbar akan kualitasmu sebagai agen ganda, Potter."
James menggeram kesal. Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. "Aku tidak perlu tips darimu. Kau, pria tanpa perasaan, dingin, angkuh, dan sombong."
"Kau seharus mengaca pada dirimu sendiri, Potter." cibir Severus. "Semua yang kau ucapkan barusan adalah penggambaran yang sangat sempurna tentangmu. Sombong, angkuh, arogan, tak berperasaan—Oh. Aku mau menambahkan satu hal yang luput kau sebutkan. Tidak berbakat. Kacangan. Slebor."
James berjalan dengan cepat menyeberangi ruangan menuju tempat Severus berdiri. Wajahnya memerah menahan amarah sementara tangan kanannya mulai terangkat, siap untuk menghantam wajah menyebalkan musuh nomor satunya itu. "Tarik kembali kata-katamu, brengsek!" seru James kesal.
Baru saja Sirius bergerak untuk mencegah adu hantam antar dua orang polisi itu, namun pintu kantor terbuka. Di ambang pintu, tampak seorang pemuda dengan kemeja putih. Dasi berwarna merah marun yang semula tersimpul rapi melingkari lehernya sekarang tampak melonggar dan beberapa kancing teratasnya dibuka. Jas berwarna hitam pekat ia sampirkan di lengan kanannya sementara tangan kirinya mengetuk pelan pintu kantor.
"Remus?" gumam Sirius bingung saat melihat pemuda manis berambut cokelat itu berdiri mematung di ambang pintu. Kedua alis matanya bertautan penuh tanda tanya. Misi awalnnya untuk menahan James memukul telak Severus terlupakan. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya seraya berjalan mendekati pemuda berambut cokelat tersebut.
Remus menatap terkejut empat orang yang berada di ruangan itu. Keempatnya—kecuali Severus. Ia menatap Remus dengan tatapan dingin dan bosan—menatap Remus dengan penuh keheranan. Pertanyaan serupa berenang-renang di kepala masing-masing mengenai keberadaan sang pianis muda itu di gedung opera. "... Aku... Disuruh oleh seorang polisi di depan yang bernama Pettigrew untuk masuk dan diinterogasi..."
"Interogasi?" ulang Sirius tak percaya. "Kenapa kau harus diinterogasi? Dan kenapa kau ada di gedung opera ini? Dan..." ia mengelus lembut plester luka yang menempel di pipi Remus dengan ibu jarinya. "Kau terluka! Lukamu parah? Kau harus segera dibawa ke rumah sakit—"
Remus tersenyum kecil dan menggenggam tangan Sirius. "Aku tidak apa-apa, kok. Hanya tergores sedikit karena pecahan rantai lampu gantung."
"Tapi, bisa jadi itu berbahaya. Bagaimana kalau pecahannya itu karatan? Kalau nanti kau kena tetanus bagaimana?"
"Aku sudah pakai plester luka, kok. Pasti tidak apa-apa."
"Bagaimanapun juga, aku tidak mau ambil resiko kau terinfeksi. Setelah interogasi, langsung ke rumah sakit, ya? Atau aku akan minta tolong Dumbledore dan Kingsley untuk tidak menginterogasimu."
"Kau terlalu berlebihan, Sirius. Aku tidak apa-apa."
"Tapi—"
"Tolong jangan pacaran di depanku." geram James kesal. Mata cokelat menatap jengah dan penuh cemburu ke arah dua sejoli yang sedang asik pegangan tangan di depan pintu, mengumbar kemesraan yang membuat semua orang bergidik geli. "Aura mesra dari kalian berdua membuatku yang sedang krisis cinta ini merasa jadi manusia paling merana seluruh jagat raya..."
Wajah Sirius dan Remus langsung memerah saat mendengar ucapan James. Keduanya langsung melepaskan tangan masing-masing dan menjauh, menjaga jarak. Wajah mereka semakin memerah saat mendengar Lily terkikik geli melihat tingkah mereka dan Severus—si orang asing bagi Remus—mendengus pelan sambil berjengit jijik.
"Remus, syukurlah kau tidak apa-apa." tanya Lily ramah dan memeluk sang pianis. Perempuan berambut merah itu tersenyum simpul sambil menepuk-nepuk pundak Remus.
"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di gedung opera ini, Remus? Dan kenapa kau bisa luka seperti itu?" tanya James, penasaran. Perseteruan sengit antara dirinya dan Severus beberapa menit—detik—sebelumnya telah ia lupakan.
"Tom Riddle mengajakku untuk menyaksikan Phantom of the Opera yang tampil di gedung ini." jawab Remus diiringi senyuman kecil. "Dan aku hanya sedikit sial kedapatan tempat duduk tak terlalu jauh dari titik dimana lampu gantung itu jatuh. Makanya aku tergores sedikit begini."
"Tom Riddle katamu?"
Pertanyaan tersebut keluar bukan dari mulut James, Lily, ataupun Sirius, melainkan dari mulut seorang Severus Snape. Untuk pertama kalinya sejak Remus datang ke ruangan itu, sang mata-mata tampak tertarik dengan ucapan yang dikeluarkan sang pianis.
"Ya." sahut Remus lambat-lambat, sedikit canggung karena orang asing yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya itu menanyakan tentang kekasihnya. "Aku kemari bersama Tom Riddle. Ia ada di luar, menanti giliran untuk interogasi."
Severus tak merespon apa-apa dan segera berputar, berjalan menuju kantor direktur dimana interogasi berlangsung. Tanpa mengetuk atau basa-basi, sang mata-mata berambut hitam itu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, menghiraukan tatapan bingung dari empat orang lainnya.
"... Kenapa dia?" gumam Lily, kebingunan. "Sejak datang ke tempat ini, ia tampak sangat waspada dan hati-hati..."
"Huh! Bukannya dia dari dulu memang begitu? Sikapnya curigaan terus. Pantas cocok menyusup ke sarang mafia." dengus James kesal. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. "Oh, iya. Sebetulnya interogasi di dalam itu belum selesai. Agak aneh juga kenapa Peter menyuruhmu masuk sekarang, padahal interogasi yang ini saja belum selesai."
"Sudahlah, tak apa-apa. Daripada aku berdiri di luar." ucap Remus santai. Ia tersenyum saat Sirius menarik sebuah kursi dan mempersilakannya duduk. "Memangnya, siapa yang diinterogasi di dalam sana?" tanya Remus, penasaran.
"Entahlah." gumam James pelan. Kepalanya perlahan berpaling, menoleh ke belakang dimana pintu berwarna cokelat tua tampak di balik punggungnya. Plat emas bertuliskan 'director' terpasang gagah di tengah-tengah daun pintu. "Orang-orang lainnya yang diinterogasi rasanya hanya bertahan lima belas menit. Entah kenapa yang ini hampir memakan waktu setengah jam."
Remus hanya mengangguk-angguk mengerti sebelum kembali melontarkan pertanyaan berikutnya. "Tapi, kulihat ada beberapa orang yang bisa pulang tanpa interogasi. Kenapa kalian mau menginterogasiku?"
"Karena kau duduknya bersebelahan dengan posisi lampu gantung itu jatuh." jawab Lily. "Dan... kau satu-satunya orang yang berada sedekat itu dengan posisi jatuhnya lampu yang masih bisa bicara..."
Bulu kuduk Remus meremang saat mendengar penuturan Lily. "Maksudmu, semuanya yang ada di dekat lampu itu..."
"Tewas, atau terlalu shock untuk bisa bicara." Kali ini giliran James yang membuka mulut. Sang detektif berkaca mata itu menggeleng pelan sambil mendesah. "Sinting... Tadinya aku dan Sirius datang ke sini untuk memaksa si Snivellus itu menjauh dari tunanganku, tapi malah bertemu kasus begini."
"Kau sendiri sepertinya sering terlibat kasus, ya, Remus?" Suara bariton seorang Sirius terdengar dari balik punggung Remus, membuat pemuda berambut cokelat itu harus memutar sedikit tubuhnya sebelum bertatapan langsung dengan lawan bicaranya. Seulas senyum kecil tersungging di bibir sang polisi lalu lintas. "Beruntung sepanjang kasus itu kau hanya luka ringan."
Remus tersenyum menanggapi perkataan Sirius dan membalasnya. "Ya, dan entah kenapa semua kasus yang nyaris membuatku luka parah terjadi tepat setelah aku bertemu denganmu?"
"... Berapa kali kubilang pada kalian berdua untuk tidak mengumbar kemesraan di depan mataku?" desis James tak senang melihat dua orang itu mulai bercakap-cakap berdua, melontarkan kalimat menggoda satu dengan yang lainnya. "Ingat, Remus. Kekasihmu menunggu di luar."
Masalah kekasihnya yang disinggung-singgung membuat Remus sontak membalikkan tubuhnya dan menunduk malu. Ia merutuk pelan dalam dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan barusan. Entah kenapa, ia seolah-olah lepas kendali setiap kali berada di dekat Sirius. Baginya, Sirius dan Riddle adalah dua kutub yang berbeda. Yang satu adalah kutub yang begitu dingin, kaku, dan membuat Remus tak bebas menjadi dirinya. Itulah kutub bernama Tom Riddle. Sedangkan kutub satunya adalah kutub yang begitu hangat, ramah, dan membuat Remus lepas kendali. Kutub menyenangkan bernama Sirius.
Tidak, tidak. Remus tidak boleh berpaling pada laki-laki lain. Kurang baik apa Riddle padanya? Ia selalu memberinya hadiah mewah, mengantarnya kemana-mana, mengajaknya ke tempat-tempat seni yang menarik. Ia selalu sopan, romantis, dan berkarisma. Orang bodoh yang dengan sadar selingkuh di belakang punggung orang sesempurna itu.
... Tunggu. Kenapa selingkuh? Remus belum tentu selingkuh dengan Sirius, kan?
Memutuskan kalau perang batin mengenai selingkuh-diselingkuhi-menyelingkuhi yang tidak kunjung ketemu ujungnya, Remus memutuskan untuk mengalihkan pikirannya dengan bertanya mengenai kasus. Apalagi tentang orang misterius yang diinterogasi di balik pintu itu. "Dia masih belum selesai?" tanya Remus penasaran dengan dahi berkerenyit. "Ini sudah lewat sepuluh menit sejak aku masuk ke ruangan ini, lho."
"Ah, kau benar juga..." gumam James pelan. Ia, Lily, dan juga Sirius memalingkan wajah ke pintu kayu di balik punggung James, bingung. "Dari empat orang yang sudah kita interogasi, dia ini yang paling lama. Apa karena posisi duduknya, ya?"
"Apa maksudmu dengan posisi duduk?" tanya Remus penasaran.
"Begini," Lily berjalan menuju meja kerja besar dimana denah gedung pertunjukkan terhampar. Ia memberi isyarat kepada Remus untuk menghampirinya dan melihat sendiri denah ruang pertunjukkan dimana lampu gantung itu terjatuh. "Seperti yang kau lihat, posisi lampu gantung itu terletak tepat di area sini." Sang polisi wanita menunjuk lingkaran berwarna merah besar, menandakan posisi lampu gantung yang jatuh. Beberapa kursi tampak masuk dalam lingkaran tersebut, beberapa hanya menyerempet sedikit batas lingkaran merah seperti kursi yang duduki oleh Remus. Tergantung di ketinggian lebih dari sepuluh meter, lampu gantung ini mustahil untuk ditembak dari jarak dekat. Tak mungkin orang bisa tahu titik yang tepat untuk ia tembak kalau dari jarak dekat. Makanya, area sekitar sini," Sekarang sebuah lingkaran berwarna kuning ia tunjuk. "Kami eliminasi dari kemungkinan sebagai penanggung jawab atas jatuhnya lampu gantung."
"Kemungkinan yang paling besar adalah yang duduk dan berada di balkon pada saat lampu gantung jatuh." Giliran James yang menambahkan. Sang detektif mengambil penanya sendiri dan mengetuk beberapa boks balkon yang terletak mengelilingi ruang pertunjukkan. "Semua balkon mempunyai kemungkinan untuk bisa menjatuhkan lampu gantung tersebut."
"Sebentar, sebentar. Dari tadi kalian berbicara seolah-olah lampu gantung yang jatuh ini adalah tindakan kriminal seseorang dan bukannya kecelakaan. Memangnya kalian punya bukti apa kalau ini adalah pembunuhan? Bagaimana kalau ini adalah kecelakaan belaka karena rantainya sudah usang?" tanya Remus, sedikit panik saat mendengar dari para polisi ini bahwa kemungkinan pembunuh berdarah dingin berada di antara pengunjung gedung opera.
"Karena kami menemukan peluru yang bersarang di langit-langit ruangan." kata Sirius santai. Ia lalu mengeluarkan beberapa bungkus plastik transparan dimana dua buah peluru berada di dalamnya. "Selain itu, dari foto rantai lampu yang lepas juga kami tahu bahwa rantai itu putus bukan karena usang, melainkan karena bidikan peluru seseorang."
"Nah, dari sudut tembakan peluru yang kami selidiki dari rantai yang patah, kami bisa membayangkan sedikit dari sisi sebelah mana peluru itu dilepaskan." sambung James antusias. "Pertanyaannya tinggal satu: dengan apa si pelaku bisa melihat jelas dalam ruangan yang redup seperti itu? Jelas sekali bahwa jarak antara balkon dengan lampu gantung sangatlah jauh. Dia butuh scope, kecuali dia adalah seorang penembak jitu..."
"Jadi, orang yang sekarang sedang mengalami interogasi panjang di dalam sana..."
"Salah satu orang yang duduk di balkon paling strategis untuk menembak." sahut James. "Dan alasan kami memanggilmu untuk interogasi hanya ingin mengetahui apakah ada sesuatu yang janggal saat peristiwa itu terjadi. Apapun, kau bisa berbagi dengan kami."
Remus tampak terdiam sejenak, masih sedikit kaget mendengar kenyataan bahwa selama ini, tersembunyi di balik para penonton berkedok pakaian rapi dengan gaya bak bangsawan, ternyata ada seorang pembunuh yang tega membunuh orang banyak seperti itu. DI tempat umum pula. "... Sebenarnya, luka pada pipiku ini bukan luka karena goresan kristal sewaktu lampunya jatuh, tapi tergores oleh sesuatu benda tajam."
"Benda tajam?" ulang James. Matanya menyipit tajam. "Benda tajam apa itu, Remus? Kau tahu?"
"Entahlah. Aku tak tahu. Kebetulan, aku masih menyimpannya di saku jas. Ini." Sang pianis mengeluarkan serpihan kecil berwarna keperakkan yang langsung dikerubuti oleh James, Lily, dan Sirius. Kening ketiganya tampak berkerenyit, berpikir keras mengenai benda asing tersebut. "Aku sengaja menyimpannya, menunggu sampai waktu intermezzo dan keluar untuk membuangnya. Aku tidak terbiasa membuang sampah sembarangan, meskipun itu bukan sampahku."
"Itu bukannya pecahan rantai yang menggantungkan lampu besar itu?" tebak Lily. Mata hijau cemerlangnya mengamati dengan seksama pecahan yang ditunjukkan Remus. "James, bagaimana menurutmu?"
Sang detektif Metropolitan hanya mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan mengambil sarung tangan karet dari atas meja. Dengan sedikit tergesa-gesa, ia mengenakan kedua sarung tangan karet tersebut dan mengambil pecahan tersebut dari telapak tangan Remus untuk kemudian mendekatkannya ke wajah, mengamatinya lebih detail. "Sepertinya begitu." gumamnya, menjawab pertanyaan tunangannya. "Lihat ini. Rantainya bengkok di ujung seperti dihantam benda tumpul." Sang detektif menujuk bengkokan kecil pada lekuk rantai pada dua rekannya. "Bengkokan seperti ini juga tadi ditemukan Peter sewaktu mengolah TKP pada rantai lampu yang roboh. Lekuknya sama persis seperti ini."
"Berarti, dua tembakan itu mengenai rantai yang ini dan rantai yang satunya lagi, ya." gumam Lily pelan. "Ada kemungkinan dua peluru yang ditembakkan oleh si pelaku terjadi karena peluru yang pertama—yang aku curiga mengenai rantai yang ini—gagal menjatuhkan lampu tersebut. Makanya ia melepaskan tembakan kedua."
Sirius mengalihkan perhatiannya dari pecahan rantai tersebut dan menatap Remus yang masih duduk terdiam di sebelahnya. "Berapa lama kira-kira lampu itu jatuh sejak pecahan itu sampai ke tempatmu?" tanyanya.
"Hmm..." Remus termenenung sejenak, berusaha mengingat-ingat berapa lama selang waktu yang terjadi. "... Rasanya tidak terlalu lama. Mungkin sekitar tiga sampai lima detik."
"Tiga sampai lima detik... Cepat juga pemulihannya."
"Tapi, pembunuh ini agak aneh." ucap Remus. Ia menatap ketiga polisi yang berdiri di dekatnya. "Kalau memang orang ini bisa menembak lampu gantung dalam jarak sejauh itu, kenapa dia tidak menggunakan kemampuan itu untuk langsung menembak targetnya saja? Menjatuhkan lampu gantung seperti itu kan, bukan hal mudah! Apalagi harus mengenai rantai yang sangat sulit dilihat dalam ruangan remang-remang seperti itu."
"Bagaimana kalau ternyata targetnya tidak hanya satu, tapi lebih dari satu?" gumam James pelan.
"Eh?"
"Bagaimana kalau ternyata sasaran yang harus ia bunuh lebih dari satu orang dan semuanya duduk berderetan?" Sekarang giliran Lily yang bersuara.
"Tu... Tunggu. Apa maksud kalian? Targetnya ada lebih dari satu?" Kembali Remus bertanya, kebingungan dengan jawaban yang ia terima. Bukan hanya jawaban dari James dan Lily yang membuat Remus bingung, tapi juga ekspresi keduanya. Mereka tampak kaku dan pandangan mata mereka yang semula penuh percaya diri, lurus ke depan, mendadak teralihkan ke mana saja asal tidak menatap lurus ke arah Remus.
Atau mungkin tepatnya Sirius.
Setelah mengamati lebih lama, Remus baru menyadari kalau dari tadi Lily melemparkan pandangan tak enak ke arah Sirius. James sendiri berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan sahabatnya itu dan malah memandang berkeliling ruangan tak menentu arah.
Situasi seperti ini malah membuat Remus semakin penasaran.
"Memangnya siapa yang tertimpa lampu itu? Siapa yang tewas di bawahnya?"
Lagi, James dan Lily menatap Sirius aneh. "... Semuanya adalah anggota keluarga Black." sahut James pelan. Mata cokelatnya masih menatap tak enak ke arah Sirius. "Yang paling parah kondisinya adalah Cygnus Black dan istrinya, Druella Black. Keduanya duduk tepat di bawah lampu. Keduanya tewas seketika. Beberapa anggota keluarga lainnya juga tertimpa lampu mengalami luka serius dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Beberapa tewas di perjalanan karena pendarahan dan beberapa masih koma."
Black. Entah kenapa nama itu terdengar sedikit familiar di telinga Remus.
"Lalu? Kenapa kalian berdua terlihat seperti ragu untuk menceritakan padaku mengenai korbannya?" tanya Remus. "Apa memberitahu orang lain mengenai korban pembunuhan seperti ini melanggar peraturan polisi?"
"Tentu tidak." Kali ini jawaban bukan keluar dari mulut James ataupun Lily, melainkan dari mulut Sirius. Sang polisi lalu lintas yang sejak tadi berdiam diri di samping Remus akhirnya memutuskan untuk bersuara. "Tidak ada peraturan yang melarang polisi untuk memberitahu orang lain mengenai identitas korban, apalagi orang itu juga berada di TKP. Toh, kejadian seperti ini pasti akan langsung masuk koran pada halaman utama."
"Lalu kenapa—"
"Karena Black itu keluargaku." ucap Sirius tenang, memotong pembicaraan Remus yang masih menggantung. Seulas senyum hambar tersungging di bibirnya. "Yang tewas pada malam ini adalah paman dan bibiku, serta beberapa anggota keluarga lainnya.
"Aku, adalah Black."
Orion Black segera keluar dari Cadillac hitam yang ia naiki dan berlari ke arah John Lupin yang sedang berbantahan dengan polisi. Sepertinya polisi itu melarang John masuk ke dalam gedung opera karena alasan kasus dan sang direktur bukanlah anggota kepolisian sehingga tidak diizinkan untuk melewati garis polisi berwarna kuning tersebut.
"Putraku ada di dalam sana!" jerit John kesal. Ia menunjuk-nunjuk dengan penuh emosi ke arah gedung opera yang dikelilingi oleh polisi berseragam hitam. Beberapa tim forensik tampak sibuk mondar-mandir bersama dengan medis yang mengangkut dua kantung mayat berwarna kuning. "Kau tidak tahu perasaanku saat mendengar kabar bahwa putraku nyaris tertindih lampu kristal yang jatuh! Aku mau masuk sekarang!"
"John, hentikan ini semua. Tak enak dilihat orang lain." desis Orion sambil terengah-engah. Mata abu-abunya melirik ke jalanan di sekitar mereka. Memang beberapa polisi dan medis tampak tertarik dengan adu debat yang terjadi di garis batas. Pria berambut hitam itu kemudian menggamit lengan John dan menariknya menjauh dari garis polisi. "Ayo, kita pergi saja. Kau butuh istirahat. Biar anak buahku yang mengawasi Remus di dalam sana. Toh, aku yakin ia tidak apa-apa."
"Lepaskan aku, Orion!" bentak John dan mengibaskan tangan Orion darinya. Mata cokelatnya memandang penuh kesal ke arah Orion. "Aku tidak butuh bantuanmu! Aku mau bertemu dengan Remus, sekarang!"
Diiringi desah napas pelan, Orion menarik paksa John pergi dari lingkar polisi dan menyeret sang direktur bank ke dalam Cadillac hitam yang menantinya di pinggir jalan. Tanpa basa-basi, sang bos mafia langsung membuka pintu dan mendorong rekannya itu ke dalam mobil sebelum menyusul masuk ke dalam. Ia segera memerintahkan supir mobilnya untuk bergerak.
"Kau mau apa, sih?" bentak John kesal. "Seenaknya saja menyeretku ke dalam mobil! Kau ini bukan siapa-siapaku, tahu!"
Orion hanya menghela napas panjang sambil memijit-mijit keningnya, pusing. Segala bentakan dan tindak penolakan yang dilakukan oleh John rupanya mulai berdampak padanya. "Percuma juga kau berdiri, beradu mulut dengan polisi seperti itu. Kau tak akan bisa mendapatkan akses masuk ke dalam sana."
"Lalu? Dengan cara ini kau bisa membawaku masuk ke dalam gedung dan bertemu Remus?" Mata cokelatnya menatap bosan—sedikit kesal—keluar jendela. Bangunan-bangunan terlewati, menandakan mereka bergerak dengan cukup cepat menjauhi gedung opera. "Rasanya tidak. Karena kita bergerak menjauh dari—"
Belum sempat John menyelesaikan kalimatnya, sepasang tangan meraih pundaknya dan menghempaskan tubuhnya itu ke atas jok kulit mobil. Ia tak sempat protes karena detik berikutnya bibirnya telah bertautan dengan sepasang bibir lainnya yang menciuminya dengan penuh gelora. Salah satu tangan yang semula mencengkeram erat pundak John mulai bergerak ke arah selatan, meraba dengan begitu sensualnya. Erangan pelan terdengar saat tangan tersebut akhirnya mendarat pada area selangkangan.
"He... Hentikan..." desis John terengah-engah. Ia berusaha keras mendorong tubuh besar Orion menjauh darinya. "Kau ini mau apa, sih?" bentaknya pelan sebelum keluar erangan panjang dari mulutnya ketika tangan lihai Orion berhasil menurunkan celana dan kembali menginvasi daerah terintim pasangannya. "I... Ini bukan saat yang tepat..."
"Aku hanya ingin mengalihkan pikiranmu dari Remus. Salah?" Gumaman pelan terdengar dari lekuk leher sang direktur, tempat dimana Orion sedang sibuk menjilati dan menyecap tiap senti kulit yang terekspos. Ia berhenti sejenak untuk menatap pria yang terbaring di bawahnya. Napas keduanya tersengal-sengal dan wajah memerah. Orion menyingkirkan beberapa helai rambut kecokelatan yang menghalangi dua manik berwarna cokelat dan tersenyum lembut. "Aku hanya tak ingin melihatmu cemas terus seperti ini." Satu kecupan lembut ia daratkan ke ujung hidung pasangannya.
"Tapi, Remus..."
"Remus akan baik-baik saja." ucap Orion tegas. "Anak buahku yang akan melindunginya dan kau tidak perlu khawatir. Ia pasti baik-baik saja."
John Lupin hanya terdiam, tak yakin.
Orion menghela napas panjang sebelum menunduk dan mencium lembut pipi pasangannya. "Ada baiknya kalau kau istirahat dulu. Kuantar pulang, ya?" Tanpa menunggu balasan, Orion langsung memerintahkan supirnya untuk mengantar mereka ke Knightsbridge. Ia mencuri satu kecupan singkat dari bibir John. Ciuman-ciuman kecil yang ia daratkan lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang liar. Tangannya mulai bergerak aktif menggerayangi lekuk tubuh dan melepaskan jaket serta pakaian yang membalut tubuh sang pasangan.
"Tu—Tunggu!" desis John panik saat jemari Orion mulai menyelinap ke balik celananya. "Bisa tidak, kau berhenti barang semenit saja untuk tidak menyentuhku!"
"Biarkan aku menyentuhmu malam ini saja." bisik Orion. Ada sedikit ekspresi sedih di matanya. "Karena aku juga butuh pengalih perhatian..."
Alihkan perhatianku darinya.
Dari dia, putra sulungku yang berada di dalam sana.
"... Sirius..."
Sirius tak sanggup berada di ruangan itu lebih lama lagi. Melihat tatapan penuh pertanyaan dari Remus, tatapan mencela Lily dan juga James. Semua orang di ruangan itu membuatnya merasa sangat bersalah pada Remus karena sudah menyembunyikan nama belakangnya. Sirius tak butuh nama keluarganya. Toh, keluarganya sendiri yang membuangnya, menganggapnya tak pernah ada.
Sirius menarik napas panjang sebelum berjalan. Ia tak peduli kemana kakinya membawa. Yang ia inginkan hanyalah waktu untuk menenangkan pikirannya. Sialnya, jalan seorang diri tanpa teman bicara malah membuat pikiran Sirius terus teringat situasi di dalam ruangan itu tadi.
"Sial..." gerutu Sirius pelan sambil mengacak-acak rambutnya. "Kenapa hari ini semuanya jadi serba menyebalkan..."
Sang polisi membelok di sudut, menghindari kerumunan orang yang menanti giliran untuk diinterogasi. Beberapa protes mengenai mereka yang tidak bersalah, beberapa malah menunggu giliran dengan sabar. Apapun itu, Sirius tidak mau mengarah ke sana. Ia tidak mau mengambil resiko berjalan melewati orang-orang itu dan menemukan salah satu anggota keluarganya. Satu-satunya hal yang ingin ia hindari adalah bertemu dengan mereka. Tidak. Sirius sudah tidak mau berurusan dengan mereka lagi.
"Ternyata benar kau ada di sini juga, Sirius."
Sepasang bola mata abu-abu membelalak lebar saat mendengar suara itu. Perlahan, Sirius membalikkan tubuhnya untuk menemui sang pemilik suara. Hanya satu nama yang meluncur dari mulut Sirius saat melihat sosok misterius itu.
Satu nama milk seseorang yang sangat dekat bagi Sirius.
"Regulus."
To Be Continued
A/N : Dikerjakan tengah malam, waktu sibuk bergosip sama dani, panda, dan marsha. Haduh, kita tante sekali menggosipi orang imbisil! XD Dan maaf banget bales review gak bisa sekarang. Harus mengejar ketinggalan tugas geometri. Haduuuhh... presentasi belom siap apa2...
Terima kasih banget buat yang udah mau review chapter sebelumnya dan selamat menikmati chapter ini. Maaf kalo lime-nya super abal 2011... #headbang
Mari, yang mau review. Tokonya udah dibuka #heh
