俺と君の契約/Ore to kimi no keiyaku/Kontrak antara aku dan kamu.
Crossovers: NARUTO,.Highschool DxD.
Genre:Romance,.Drama,.Hurts/Comfort,.School.
Charakter: [Uzumaki Naruto,. Sona Sitri]
Episode: 07 Cita cita Naruto

Setelah berangkat bersama menuju sekolah akhirnya mereka menuju ke kelas masing masing, Naruto hanya diam di kelas tanpa memikirkan apapun.

Naruto juga hanya diam dalam berbagai mata pelajaran yang disampaikan oleh para guru, meski Naruto sudah menjadi pendiam tidak agresif seperti dulu, masih banyak orang orang dikelas Naruto yang takut dengan Naruto.

Yah jangankan bicara, menatap saja terasa sangat enggan, bahkan para guru juga tak ada yang berani macam macam dengan Naruto.

Naruto pun mengerjakan soal soal yang diberikan dan menjawab pertanyaan dari guru dengan cepat dan tepat, layaknya seorang genius, jawaban Naruto selalu benar tak ada yang salah dalam jawaban yang ia berikan, seolah ia memang sudah belajar dengan giat.

Waktu istirahat kemudian.

Pada waktu istirahat sekolah ini, Naruto pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan hanya untuk sekedar membaca dan mencoba untuk menghindari masalah dengan semua orang yang ada di lingkungan sekolah termasuk para guru dan murid teladan lainnya.

Sesampainya di Perpustakaan kemudian.

Naruto pun akhirnya masuk kedalam Perpustakaan, dan saat masuk kedalam perpustakaan sesuatu yang tak terduga terjadi, yah Naruto malah bertemu dengan Sona di dalam Perpustakaan, mereka berdua saling menatap satu sama lain, tak ada yang mengalihkan pandangan kedua nya saling terpaku.

"Na, Naruto-kun" panggil Sona merasa gugup dengan kehadiran Naruto yang tiba tiba berada di hadapannya.

"A, em, Sona-san, apa kabar?" balas sapa Naruto pada Sona, suasana mereka berdua terasa canggung, namun Sona dengan cepat mencoba mencairkan suasana, yah meski gadis ini dikenal dengan hati dan sifat yang dingin bermuka tembok, namun Sona, berusaha mencoba menjadi wanita yang sangat imut dan kawai di hadapan Naruto dan ia melakukannya atas petunjuk dari sang kakak, Serafall.

"Baik, bagaimana denganmu, Naruto-kun?" jawab Sona dan setelah menjawab Sona langsung menanyakan kabar Naruto.

"Aku juga baik baik saja, tidak ada kabar buruk hari ini" jawab Naruto dengan santai lalu akhirnya memasuki ruangan perpustakaan, Sona yang melihat itu dengan cepat mengikuti Naruto.

"Syukurlah, em, Naruto-kun, apa ada sesuatu yang kau inginkan hingga kau datang ke Perpustakaan" tanya Sona dengan lembut pada Naruto.

Naruto yang mendengar pertanyaan Sona jadi merasa aneh sendiri seperti merasa ada yang aneh dari diri, Sona seperti ia sedang mencoba menjadi lebih perhatian atau memaksakan diri menjadi orang lain untuk membuatnya senang.

Naruto tau hubungan mereka hanya sebatas kontrak, tapi melihat semua perhatian yang diberikan Sona dan semua tingkah lakunya, terlewat perhatian seolah mereka benar benar pacaran, membuat Naruto, yakin kalau Sona memang benar benar ingin menjadi pacarnya, namun kenapa membuat perjanjian itu hanya dalam 3 tahun, hal itu membuat sebuah kecurigaan tercetak di hati Naruto, namun Naruto tak bisa menanyakannya begitu saja.

"Aku hanya ingin membaca buku, oh iya, bukannya kau punya tugas sebagai ketua OSIS, kenapa kau bisa ada di perpustakaan?" jawab dan tanya Naruto pada Sona.

Sona yang mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Naruto langsung menjawab pertanyaan itu dengan santainya.

"Eeeem, ada saatnya untukku beristirahat dari tugasku, jadi bisa dikatakan sekarang Tsubaki sedang menggantikan aku dalam menjalankan tugas" ungkap Sona sambil tersenyum.

"Oh begitu yah, kalau begitu bisakah kau menemaniku untuk mencari buku yang sejak dulu ingin aku baca?" ucap Naruto pada Sona

"Buku yang sangat ingin kau baca, kalau boleh tau apa judul sampulnya?" tanya Sona ia penasaran dengan apa yang Naruto ingin baca.

"Sebenarnya cukup memalukan tapi apa boleh buat ini adalah buku yang pernah aku baca sewaktu masih anak anak, judulnya kalau tidak salah Densetsu no Yankee" jawab Naruto sambil tersenyum.

"Eh, buku cerita! Aku kira kau sedang ingin membaca buku pelajaran" kaget Sona yang tak menyangka selera Naruto terhadap buku ada pada buku cerita bukan buku pelajaran.

Naruto sedikit tersenyum dan mulai menceritakan kenapa ia berakhir sebagai Yankee, kenapa ia lebih memilih menjadi preman sekolah dibandingkan siswa baik baik yang biasa saja.

Sona mendengarkan cerita Naruto dengan baik, sampai saat Naruto menceritakan hubungannya dengan seorang gadis bernama Hinata, mendengar Naruto sempat mempunyai pacar selain dirinya membuat Sona kaget.

"Heeeh, ternyata ada juga orang yang mau menjadi pacarmu" ucap Sona sambil nyengir tak jelas.

"Heeeeh, kau meremehkanku yah, gini gini, aku adalah bintang di sekolahku yang dulu, asal kamu tau ada banyak wanita yang menyatakan cinta padaku loh" ungkap Naruto sambil menampakan sedikit senyuman dan juga mengelus rambut pirangnya sendiri dengan santai.

"Oh begitu" ucap Sona sambil membenarkan kacamatanya dan membantu Naruto mencari buku yang ingin Naruto baca.

Mereka berdua pun sibuk mencari buku yang dimaksud, buku di perpustakaan sangatlah banyak sehingga mencari buku yang dicari oleh Naruto sangatlah sulit untuk di dapatkan, Sona dengan sangat teliti mencari buku yang sangat ingin Naruto baca di bagian rak buku khusus untuk kumpulan dongeng dan cerita fiktif.

Namun Sona tak menyadari ternyata Naruto mencari di daerah yang berbeda dan mengambil sesuatu di sebuah tempat yang mungkin hanya Naruto yang tau yah ia duduk di sebuah meja baca di perpustakaan.

"Naruto, kenapa kau duduk disana apa kau sudah menemukan bukunya?" tanya Sona pada Naruto.

"Em, karena selama ini buku itu selalu aku letakan disini" ucap Naruto sambil memasukan tangannya kedalam laci meja baca tersebut dan menariknya keluar terlihat sebuah buku yang sudah usang sampulnya dan memiliki judul yang sama dengan yang Naruto katakan.

Sedangkan Sona hanya menatap datar buku usang tersebut, ia merasa aneh dengan kata kata pertama Naruto soal buku itu, karena Naruto mengatakan kalau ia ingin membaca buku yang ingin ia baca selama ini , tapi dilihat dari sampulnya yang usang dan kata kata Naruto yang mucapkan kalau ia selalu meletakan buku itu di laci, maka sudah pasti ia sudah sering membaca buku itu dan aneh rasanya kalau ia menggunakan kata selama ini ingin membaca buku tersebut.

"Anu kenapa sampul buku itu terlihat begitu tua?" tanya Sona pada Naruto.

"Itu karena buku ini merupakan buku perpustakaan yang aku curi dan aku sembunyikan di perpustakaan sekolah, apa ada yang salah" jawab Naruto pada pertanyaan Sona, pacar bohongannya.

"O oh begitu, em, aku tidak akan menanyakan perihal bukumu itu lagi, tapi jujur aku sedikit penasaran dengan kenapa kau bisa digilai banyak perempuan di sekolahmu sementara disini kau di jauhi?" ucap tanya Sona penasaran akan hal hal yang berkaitan dengan pacar kontraknya tersebut.

Kisah hidup Naruto sebelum ke Kouh akademy

"Oh, soal itu, baik di Konoha High School atau pun Ishiyama, para wanita hampir tidak ada yang memandang lelaki dengan ketampanannya, wanita disana cendrung mencari lelaki kuat jantan dan berkuasa, karena percuma wajah tampan dan hati yang baik bagai malaikat kalau dia lemah dan tak bisa melindungi pacarnya, itulah pikiran mereka."

"Kebetulan di kedua sekolah itu hanya ada satu orang yang sebanding denganku, makanya banyak yang tergila gila denganku, di Konoha disana ada Sasuke, seorang Playboy jantan yang memiliki banyak harem dan prilakunya sungguh seperti seorang Yakuza sejati, karena memang ia berasal dari keluarga Yakuza, sedangkan aku hanyalah lelaki biasa yang kebetulan memiliki kemampuan bela diri tangguh, berbeda dengan Sasuke aku tetap setia dengan pasanganku Hinata, sampai pada suatu ketika penyakitnya kambuh dan membuat ia meninggal dunia, aku tidak tau kalau ia memiliki penyakit jantung, waktu itu hubunganku dan dia baik baik saja." ungkap Naruto sambil mengingat masa lalu dan menghela nafasnya kembali, Naruto terlihat begitu sedih waktu itu.

"Setelah kematiannya aku tak bisa mencintai wanita lain, meski banyak yang merayuku, aku tidak tergoda aku bahkan menghajar mereka karena menggangguku karena itulah aku di keluarkan, lalu aku pindah ke Ishiyama"

"Disana aku banyak bertarung dengan para senior dan di akui sebagai Yankee terkuat sampai suatu ketika aku bertarung dengan orang aneh yang selalu membawa bayi telanjang di bahunya, namanya Oga Tatsumi, ia adalah satu satunya orang yang bisa menandingi kekuatanku dalam perkelahian, sebenarnya masih ada namanya kalau tidak salah siapa yah aku lupa, tapi ia cukup kuat dan badannya sangat besar."

"Singkat cerita kami bertiga menjadi teman dekat dan team yang hebat disana banyak perempuan mengagung agungkan nama kami, namun kami bertiga sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita , tentu dengan alasan masing masing."

Mendengar ucapan Naruto tentang ia tidak ingin menjalin hubungan dengan perempuan jadi merasa bersalah karena memojokan Naruto untuk berpacaran dengannya, apalagi kondisi ia dan Hinata tak beda jauh dimana mereka berdua sama sama merahasiakan penyakitnya dari Naruto, yang ia pikirkan apakah yang akan Naruto lakukan kalau sampai Naruto tau akan penyakitnya yang lebih parah dari pada penyakit yang di alami Hinata.

"Lalu kenapa kau sampai dikeluarkan dari sekolah itu dan dipindahkan kemari?" tanya Sona pada Naruto.

"Itu dikarenakan pada suatu hari aku telah melukai anak seorang guru di sekolah lain yang menyerang Ishiyama, mereka menuntut agar aku dikeluarkan atau dipindahkan ke sekolah yang baru dan hasilnya aku dipindahkan lagi, karena tidak ingin merepotkan orang tuaku, aku pindah ke sekolah yang cukup jauh dari tempat tinggalku yaitu Kouh" jawab Naruto sambil tersenyum sebisa mungkin, karena ia sedang menjaga imagenya sebagai pria jantan di depan pacarnya yah walau hanya pacar kontrak sih.

"Oh begitu, tapi sebelum itu aku minta maaf kepadamu karena telah memaksamu untuk menjadi pacarku" pinta Sona karena Sona tau kalau Naruto akan menderita lagi akibat kematiannya, maka karena itu ia berusaha agar Naruto bisa menjalankan perannya dengan baik, namun setelah mengetahui hal ini mengetahui kalau Naruto sudah mengalami penderitaan di tinggal gadis yang dicintainya, membuat Sona ragu untuk melanjutkan hubungan mereka karena hal itu sama saja dengan membuat luka yang sama menjadi lebih perih karena di taburi dengan garam setelah di toreh di tempat yang sama.

"Kau tidak perlu minta maaf, ini sudah terjadi kita hanya perlu menjalaninya, toh menurutku hal ini tidaklah buruk, aku bisa mengenang masa masa bahagia bersama dengan Hinata sewaktu dulu" ungkap Naruto sambil tersenyum.

"Tapi justru karena itulah hubungan kita, mungkin tidak akan sebagus harapanmu, aku tidak mau kau terluka lebih dalam" ucap Sona.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto pada Sona.

"Aku rasa akan lebih baik kalau kita hentikan saja hubungan pacar kontrak ini, karena, karena aku tidak mau kau tersakiti" ucap Sona pada saat itu terlihat Sona ingin pergi namun dengan cepat Naruto menahan tangan Sona {Tap}.

"Sesuatu yang sudah kau mulai tidak boleh kau hentikan di tengah jalan, aku tidak mau berhenti menjadi pacarmu sebelum 3 tahun" ucap tegas Naruto dan Naruto pun langsung menarik lalu memeluk erat Sona {grep}.

"Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, sehingga kamu bisa dengan mudah merubah keputusanmu Sona-san?" tanya lembut Naruto sambil mengelus rambut pendek dari Sona.

"Em, hanya saja aku tidak mau kau mengetahuinya, hal ini akan sangat menyakitkan, bagiku jika kau mengetahuinya" ungkap Sona.

"Mengetahui soal apa?" tanya Naruto ia tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Aku aku tidak bisa mengatakannya, ya yang pasti ka kau tidak akan bisa bahagia jika kau berharap aku bisa menjadi pengganti kekasihmu itu!" seru Sona yang berusaha lari dari pelukan Naruto.

Namun bukannya melepaskan Sona Naruto malah mendekap dan memeluk erat Sona, ia semakin tidak mengerti maksud dari perkataan Sona.

"Sona, aku tidak ingin hubungan kita penuh dengan rahasia, sebaiknya kau katakan saja apa yang membuatmu seperti ini, apa karena kau menganggap aku mau melakukan ini karena sebagai pelampiasan semata, atau karena kau mendengar tentang Hinata dariku kau menganggap aku sedang menganggap dirimu sebagai pelampiasan?!" tanya keras Naruto pada Sona, ia benar benar tidak mengerti, dan beruntung tidak ada siapa siapa di perpus selain mereka berdua, jadi tak ada yang dengar.

Tubuh Sona serasa bergetar di dalam pelukan Naruto, baju Naruto basah karena air mata dari Sona.

"Bukan, bukan bukan itu alasanku" lirih Sona dalam pelukan Naruto.

"Kalau begitu apa yang membuatmu berpikir seperti itu kenapa kau mengatakan dan memutuskan sesuatu secara sepihak tanpa merundingkannya dengan orang lain?" tanya Naruto dengan nada rendah namun Sona masih bisa mendengarnya.

"Kau selau saja begitu, bertindak sendiri, seolah kau sanggup menopang semuanya seorang diri, sudahlah buka matamu Sona, di dunia ini kau tidak sendirian, masih ada orang lain yang bisa membantumu salah satunya adalah aku" ucap Naruto dengan lembut, Sona pun menatap wajah Naruto terlihat Naruto tersenyum ke arahnya yang sedang memasang muka sembab dikarenakan air mata.

"Aku siap membantumu apapun yang terjadi, jadi jujurlah padaku aku bukan tipe orang yang ingkar janji" ucap Naruto yang terus mengelus lembut rambut dari Sona, Naruto mulai bingung dan mulai berprasangka macam macam akan hal apa yang ingin atau disembunyikan Sona darinya.

"Maaf aku tidak bisa mengatakannya, karena karena ini merupakan rahasia yang tidak bisa aku ucapkan, maaf" jawab Sona sambil memalingkan wajahnya dari Naruto.

Naruto merasa kalau ia di jauhi oleh Sona mulai tidak terima.

"Lalu kenapa kau menyewaku untuk menjadi pacarmu selama tiga tahun kalau sebelum waktunya selesai kau tiba tiba ingin berhenti, apakah kau tidak nyaman berpacaran dengan seorang berandalan?" tanya Naruto pada Sona.

"Bukan begitu, aku aku hanya-"

"Hanya apa, hanya tidak ingin aku menderita, kau selalu mengucapkan hal itu, sebenarnya apa yang membuatmu berpikir seperti itu Sona? Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Naruto pada Sona.

Sona sedikit tercekak mendengar pernyataan Naruto, namun apa boleh buat ia memang tidak sanggup mengatakannya, ia juga mencintai Naruto secara tiba tiba, hal ini tak dapat di hindari, ia memang ingin mati bahagia karena memiliki orang yang perhatian, padanya.

Namun di sisi lain Sona tidak ingin kematiannya menjadikan kesedihan Naruto bertambah berat.

"Baiklah aku sudah tidak peduli lagi dengan hal itu, tapi dengarlah satu hal ini Sona, aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, kau tetaplah pacarku sampai 3 tahun kedepan ingat itu" itulah kata kata Naruto yang berakhir dengan kepergiannya meninggalkan Sona yang terdiam disana, ia terlihat sedih lalu.

Sona pun pergi meninggalkan perpustakaan, namun saat ia sudah di depan pintu {Degdeg}.

'Semuanya menjadi gelap apa yang terjadi?' tanya batin Sona, katika penglihatannya memburuk dan tiba tiba tubuhnya melayang jatuh, namun sebelum jatuh ke lantai, Naruto menahan tubuh Sona lalu menggendongnya ala tuan putri menuju ke UKS.

'Sona dengan kondisimu yang mudah lelah seperti ini membuatku semakin penasaran akan kondisimu, tapi aku tak bisa menanyakan hal hal pribadi padamu, ya sudahlah, aku mengerti kenapa kau masih ingin merahasiakan sesuatu yang tak bisa kau katakan, tapi aku tidak mengerti kenapa kau ingin mengakhiri hubungan kita dengan cepat' ucap batin Naruto yang sedangan menggendong Sona menuju ruang kesehatan sekolah.

Sesampainya di ruang kesehatan sekolah.

Naruto pun membaringkan di kasur pasien yang sudah di sediakan.

"Sensei, aku serahkan semuanya padamu" pinta Naruto pada guru yang bertugas di ruang kesehatan tersebut, sang guru hanya mengangguk mendengar permintaan Naruto, lalu ia pun mulai merawat Sona dan setelah Naruto pergi dari ruang kesehatan ia pun mulai bicara.

"Sona kenapa kau tidak jujur saja padanya tentang kondisimu?" ucap sang guru menatap kasihan pada Sona.

Di atap sekolah kemudian.

Terlihat tokoh utama kita Uzumaki Naruto sedang menatap pemandangan sekolah dari atap gedung sekolah lalu mengambil ponselnya dan membuka daftar kontak miliknya dan ia memanggil seseorang dengan nama Serafall.

"Moshi moshi Naruto desu, anu Serafall-san bolehkah saya bertanya akan sesuatu yang menyangkut tentang Sona"

Singkat cerita.

Setelah cukup lama berbicara di ponsel Naruto pun mendapatkan sesuatu informasi yang tak bisa ia sangka, yah tentang kenyataan bahwa Sona mengidap penyakit misterius yang belum diketahui namanya dan sisa umur Sona adalah 3 tahun lagi.

Mendengar hal itu tubuh Naruto bergetar.

"Ja jadi, Sona-chan mengidap penyakit yang belum di ketahui?" tanya Naruto memastikan ulang, dan ia mendapatkan jawaban iya dari telphone nya.

*Jadi sekarang apa yang kau lakukan setelah mengetahui semuanya?, sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu tapi kau terus memaksa, jadi apa kau masih ingin bersama adikku?, aku tidak memaksamu untuk tetap setia pada adikku, tapi kalau bisa aku mohon kau tetap bersamanya hingga akhir hidupnya, karena selama ini ia selalu menanggungnya sendiri, tak ada yang tau tentang penyakitnya kecuali aku dan mantan pacarnya dulu* ungkap Serafal dari telphone.

Naruto tak kuat membendung air matanya, Naruto hanya diam dan tak menjawab, ia benar benar merasa hancur setelah mengetahui hal itu, ia tidak tau harus berbuat apa, Sona meminta ia untuk menjauhinya, namun Naruto benar benar tidak rela akan hal itu, karena baru kali ini ia merasa bahagia dan baru kali ini ada seseorang yang bisa mengisi hatinya selain Hinata.

Tapi kenapa kenapa harus selalu berakhir dengan kematian gadis yang ia cintai, sepertinya kisah cintanya memang benar benar dibuat singkat oleh tuhan.

"Serafall-san, jika Sona memiliki penyakit yang tak dikenal dan tak ada dokter yang sanggup menyembuhkannya, maka aku akan berjuang dalam kurung waktu 3 tahun untuk menjadi dokter hebat yang bisa menemukan obat atau cara untuk menyembuhkan Sona!" seru Naruto dari telphone, Serafall yang mendengar jawaban Naruto langsung tersenyum, ia tidak menyangka akan jawaban yang diberikan Naruto, jujur saja ia yakin kalau Naruto akan meninggalkan Sona karena penyakitnya namun ia salah ternyata Naruto masih mau bersama Sona bahkan bertekat untuk menemukan cara untuk menyembuhkannya.

"Arigato Naruto-kun, jagalah Sou-tan baik baik" ucap Serafall lalu ia menutup Telphonenya dan akhirnya Naruto langsung tersenyum akan hal itu.

Naruto menyimpan ponsel jadul di tangannya ke dalam saku celana lalu berbalik disana ia melihat ada seorang lelaki lelaki berambut pirang pucat lurus mengenakan seragam kouh gakuen bermata abu abu, ia menatap ke arah Naruto dengan pandangan datar.

"Genshirou Saji, satu satunya anggota OSIS laki laki, apa tujuanmu kemari?" tanya Naruto pada lelaki tersebut.

"Sebaiknya kau hentikan saja keinginanmu yang sia sia itu" ucap pelan remaja tersebut, yah lebih nyaman panggil saja ia dengan sebutan Saji.

"Apa? Apa yang barusan tadi kau katakan?" tanya Naruto dengan nada tidak suka ke arah Saji ia bahkan mencengkram krah baju Genshirou Saji tersebut.

"Ku bilang hentikan saja tindakan atau keinginan sia siamu, heh kau ingin jadi dokter hebat, heh, asal kau tau seorang ilmuan butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk menciptakan obat TBC yang nama penyakit dan penyebab nya sudah diketahui untuk pertama kali, jadi bagaimana kau bisa yakin bisa menemukan obat untuk gadis penyakitan itu dalam waktu kurang dari 2 atau satu tahun hah?" sungguh pertanyaan yang dilontarkan Saji membuat Naruto naik darah.

"Usakena Buaaaka! Tak ada satu pun yang tak bisa aku lakukan kalau aku serius, kau orang yang hanya berlindung dari uang orang tua dan juga mendapatkan banyak kasih sayang tidak akan tau bagaimana rasanya manisnya perjuangan yang tercapai dengan tangan sendiri!" seru Naruto menolak kenyataan yang dikatakan oleh Saji.

"Itu artinya kau belum pernah merasakan kegagalan yah Uzumaki Naruto, aku rasa hal ini akan menjadi kegagalan pertama dan yang terpahit untukmu" balas Saji sambil mengalihkan pandangan dari Naruto.

"Cih, justru karena aku pernah merasakan kegagalan aku, akan berjuang untuk tidak gagal lagi, aku akan mengambil tantangan ini dan berharap kalau tuhan memberikan keajaibannya untukku kali ini agar aku bisa menghilangkan kegagalan yang pernah aku dapatkan!" seru Naruto sambil melewati Saji.

Naruto pun turun dari atap gedung sekolah, sementara Saji menatap kepergian Naruto.

"Di dunia ini tak ada yang namanya ke ajaiban, Naruto meskipun kau seorang Genius dalam pertarungan, perjudian dan pelajaran kau tak akan bisa menentang takdir kematian, sadarilah, cinta butamu hanya akan menyakitimu" ucap Saji, Naruto sebenarnya masih berada di dekat pintu tangga turun, jadi ia masih mendengar ucapan dari Saji.

"Meski aku tidak bisa menyelamatkannya dari kematian setidaknya aku ingin membahagiakannya sebelum dia benar benar meninggalkan dunia" jawab Naruto lalu pergi dari sana.

Bersambung