The Blind Angel Chapter 7
ㅡ
Present and Copyright By tinkerbaekk
MAIN CAST :
ChanBaek x HunHan x KaiSoo
ㅡ
Warning : harsh words, boyxboy, YAOI, typo(s)
ㅡ
"Yah! Kau yang mengajak kencan kenapa aku harus membayar es krimku sendiri? Huft, menyebalkan!" Luhan menghentakkan kakinya sebentar lalu berjalan terburu-buru menjauhi Sehun.
"Yah! Luhan, jangan pergi!"
Seakan perintah Sehun seperti sihir, Luhan pun terpeleset dan hampir terjatuh. Namun seseorang menyangga tubuhnya dengan baik sehingga tak harus mendarat dengan buruk ke aspal. Namun, es krimnya itu jatuh sia-sia ke aspal tanpa sempat ia cicipi sedikitpun.
Luhan mendongak mendapati Sehun tengah menatapnya khawatir. "Bodoh! Berhati-hatilah!"
Luhan langsung menarik tubuhnya. Ia mendorong kasar tubuh Sehun hingga laki-laki itu mundur beberap centimeter.
"Lihat! Es krim ku yang malang jatuh sia-sia karenamu! Aku tahu kita berpura-pura kencan, Oh Sehun. Tapi bisakah kau memperlakukanku selayaknya seorang pacar?" Mata rusa Luhan berkaca-kaca.
"Kita berhenti. Aku muak denganmu!" bentak Luhan dan dengan itu ia hendak melangkah pergi namun dengan cepat Sehun mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan pernah mengatakan berhenti semaumu. Kau yang memulai, dan aku yang berhak memutuskan kapan permainanmu berhenti. Aku adalah aktor utama yang terlibat dalam permainanmu, ingat!"
Luhan menelan ludahnya ketika Sehun menatapnya sangar dengan jarak yang begitu dekat.
"Kau ingin kuperlakukan selayaknya seorang pacar? Baiklah."
Sehun mendaratkan bibirnya ke bibir Luhan dan melumatnya pelan. Namun Luhan langsung menarik diri dan mengusap bibirnya dengan gerakan kasar.
"Apa yang kau lakukan, brengsek!" Satu tamparan mendarat mulus pada pipi kiri Sehun membuat wajah Sehun berpaling ke kanan.
"Bukankah ini yang kau inginkan? Bersikap seolah-olah kita benar-benar berkencan. Dan ciuman, bukanlah suatu hal yang tabu dalam sebuah hubungan kencan." Sehun mengangkat wajahnya dan kembali menatap tajam Luhan. "Kau menamparku karena menciummu. Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan hah?"
Luhan menitikkan air matanya ketika Sehun membentaknya dan memojokannya. Ia tahu ia salah. Ia meminta semua drama murahan itu kepada Sehun dan sekarang Sehun yang harus menerima semua perlakuan labilnya. Luhan bahkan tak dapat mengerti dirinya sendiri. Tak dapat mengerti apa yang terjadi dengannya akhir-akhir ini. Semuanya tampak membingungkan sejak dirinya mengenal Sehun.
"Hyung! Hyung!"
Luhan terbuyarkan dari ingatannya semalam. Nafasnya bergerak memburu. Ia melihat Baekhyun di sisi ranjangnya tengah meneriakinya dengan wajah cemberut.
"Maaf Baekkie tadi hyung melamun."
"Hyung sudah berratus kali aku memanggilmu iss," rengeknya sambil memajukan bibir bawah.
"Iya iya hyung minta maaf. Ada apa hm?" salah satu tangan Luhan terjulur untuk mengusap puncak kepala Baekhyun.
"Hyung, bisakah hyung buatkan aku playlist tentang lagu yang bertema jatuh cinta?" ujar Baekhyun sambil ia menaiki kasur Luhan.
"Ap-apa?"
"Playlist lagu-lagu jatuh cinta, hyung. Tolong buatkan itu untukku."
Luhan mengerjapkan matanya berulang kali. Berharap apa yang ia dengarkan dari bibir Baekhyun itu hanya sebuah ilusi. Selama ini ia maupun Yixing tak pernah memberitahu Baekhyun apa itu jatuh cinta.
Kecuali satu orang yang membuat Luhan naik pitam sekarang.
"Apa itu Park Chanyeol?"
"Apa?"
"Apa seseorang yang merasukimu dengan istilah jatuh cinta itu Park Chanyeol?"
Baekhyun langsung menunduk. Pipinya merona merah. Luhan menghela nafas panjang sambil mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya semakin membuncah ketika Baekhyun menganggukkan kepalanya.
"Sialan kau, Park!" desisnya sambil meremas sprei kasur yang diduduki.
e)(o
Buk
Koridor fakultas sastra menjadi riuh dengan insiden Luhan yang melayangkan sebuah pukulan pada Chanyeol secara tiba-tiba. Chanyeol tersungkur di tanah sambil memegangi sudut bibirnya yang berkedut sakit.
"Sialan kau! Sudah ku bilang jangan dekati Baekhyun!" bentak Luhan sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol dengan jarinya.
Chanyeol bangkit dengan tertatih. Ia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Alisnya mengkerut dan mata bulat itu menatap tajam Luhan. "Apa maksudmu, Byun Luhan?"
Luhan mendengus sambil berpaling ke samping. "Kau tak perlu pura-pura bodoh. Kau tak seharusnya memberitahu apapun tentang omong kosong cinta kepada adikku yang polos, sialan!"
Chanyeol memincingkan matanya. Ia berjalan lebih dekat ke arah Luhan. Ia mencengkeram dagu Luhan dengan paksa agar dapat mendongak menatapnya.
"Kau yang salah, sialan!" Chanyeol melepaskan cengkeramannya secara kasar membuat wajah Luhan berpaling ke samping.
"Dia hampir dewasa dan Demi Tuhan kau masih membatasinya layaknya di sebuah penjara? Aku tahu kau khawatir, itu yang aku rasakan saat adik saudaraku yang buta bahkan diajak kencan oleh seorang pemuda. Aku bukan orang yang akan memanfaatkan Baekhyun asal kau tahu saja," tutur Chanyeol dengan satu nafas dan ia terengah-engah setelahnya.
Luhan melonggarkan kepalan tangannya. Nafasnya yang terengah-engah juga berangsur berkurang. Mata rusanya perlahan menyayu dan berkedip kecil.
"Aigoo." Chanyeol membekap mulut dan hidung Luhan membuat Luhan membelalak. Namun, belum sempat Luhan melontarkan seluruh umpatan kebun binatangnya, Chanyeol menarik tangannya dan memperlihatkan telapak tangannya di hadapan Luhan. Di telapak tangan Chanyeol, ada cairan pekat berwarna merah.
Tanpa mempedulikan kerumunan yang sedari tadi menyaksikan perdebatan riuhnya dengan Chanyeol, Luhan segera berlari menuju ke kamar mandi sambil menutup hidungnya dan menunduk.
Suara gemericik air yang mengalir dari kran di wastafel mengisi kesunyian kamar mandi pria yang berada di dekat kelas kedua Luhan. Setelah membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya, Luhan mendongak untuk menatap pantulan wajahnya yang pucat. Lalu matanya menyipit ketika ia melihat seseorang berdiri tepat di belakangnya. Luhan pun berbalik. Mendapati Sehun dengan alisnya yang mengkerut dalam dan tatapannya khawatir.
Sehun mendekat dan memojokkan Luhan hingga pinggul Luhan menabrak pinggiran wastafel. Sehun mencengkeram kedua lengan Luhan. Nafasnya memburu.
"Katakan padaku bahwa kau tidak baik-baik saja dengan mimisan dua kali selama seminggu!" desis Sehun.
"Le-lepas!" lirih Luhan ketika merasakan lengannya mulai sakit. Dan Sehun pun langsung menarik tangannya.
"Kau sakit apa hah?" tanya Sehun dengan nada yang sedikit tinggi membuat Luhan terlonjak kaget lalu menundukkan wajahnya. Hal itu membuat Sehun merasa tak nyaman, maka dari itu, diangkatnya dagu Luhan secara lembut untuk menatapnya tepat di mata.
"Kau pucat."
Dan semuanya terjadi. Ciuman lembut Sehun yang mendarat pada bibir Luhan yang sedikit memutih. Sehun memejamkan matanya sementara mata Luhan mulai memberat. Dan tepat saat Sehun melepas ciumannya, Luhan jatuh pingsan ke dalam dekapan Sehun.
e)(o
Sehun benar-benar ingin tahu kebenarannya. Ia tak membawa Luhan ke klinik kampus, tapi ke rumah sakit.
Dan sekarang ia duduk termenung di samping ranjang rumah sakit tempat Luhan berbaring. Matanya menatap Luhan yang sudah tak pucat lagi dalam tidurnya. Sehun perlahan menjulurkan salah satu tangannya untuk menggenggam telapak tangan kiri Luhan yang hangat.
"Pasien ini menderita leukimia hampir stadium 3."
Sehun menelan ludahnya ketika perkataan dokter yang memeriksa Luhan kembali terngiang. Tangannya bergerak mengusap lembut guna memberi kehangatan.
Ponsel Sehun berbunyi nyaring. Ia buru-buru keluar dari ruangan untuk mengangkat ponselnya agar tak mengganggu istirahat Luhan.
"Yeoboseyo?"
"Sehun! Kau dimana ha?" Suara Chanyeol melengking membuat Sehun sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Aku sedang ada urusan."
"Hah! Jangan kau pikir aku tak tahu bahwa kau sedang membawa Luhan ke rumah sakit."
Sehun mengulum bibir bawahnya gelisah. "Maaf. Memang ada perlu apa kau menelepon?"
"Tolong jaga dia. Tolong jangan kasari Luhan lagi, Sehun. Dia tak sekuat yang kita kira."
"Ya. Aku sadar bahwa kita bersalah padanya."
Terdengar suara helaan nafas dari seberang sana. "Kita bicara besok. Baiklah, hati-hati jika kau ingin pulang."
Sambungan terputus sepihak dari Chanyeol. Sehun langsung kembali masuk ke dalam ruangan. Namun kini Luhan sudah sadar. Laki-laki itu terduduk sambil memegangi kepalanya dan mengernyit seperti kesakitan.
"Luhan? Kau masih merasa sakit?" tanya Sehun.
Luhan menatapnya tajam. "Kita memang berpura-pura kencan. Tapi bukan berarti seenaknya saja kau mencampuri segala urusanku, Oh Sehun!" sentaknya. Luhan kembali meringis sakit sambil memijat pelan tengkuknya.
"Kau bicara apa sih? Aku tak mengerti."
Luhan menghela nafas panjang dan kembali menatap Sehun dengan amarah yang mengumpul di matanya. "Kau tahukan? Dokter itu mengatakan aku penyakitan. Kau tahukan?"
Lalu keheningan memenuhi atmosfir keduanya. Luhan menyingkap selimut dan memakai kaos kaki beserta sepatunya. Bersiap untuk pulang.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Sehun sambil ia membawakan ransel kuliah milik Luhan dan memapah tubuh Luhan untuk berjalan pelan-pelan.
e)(o
Mobil Sehun berhenti di depan kediaman Byun. Setelah mematikan mesin, ia melirik ke arah Luhan yang melepas seatbelt, bersiap keluar dari mobilnya. Karena tubuh Luhan kelihatannya masih sedikit lemas, Sehun pun berniat membantunya berjalan sampai ke dalam rumah dan baiknya Luhan tak menolak.
Namun apa yang didapatinya saat mengantar Luhan ke dalam benar-benar tak diduga oleh Sehun. Baik Sehun maupun Luhan, mematung di ambang pintu ketika melihat Chanyeol dan Baekhyun duduk di sofa ruang tamu bersama tanpa ada jarak. Chanyeol tengah bermain gitar dan Baekhyun bernyanyi. Keduanya nampak bahagia.
"Lu, kau menyembunyikan sesuatu dariku?" lirih Sehun tanpa mengalihkan pandangan dari kedua objek yang ditatapnya.
"Seperti yang kau lihat," ketus Luhan. "Cepat antarkan aku ke kamar! Aku butuh istirahat."
"Oh maaf maaf. Baiklah ayo."
Sehun dan Luhan berjalan masuk dan berhenti ketika Chanyeol menghentikan bermain gitar dan menatap keduanya dengan senyuman tipis.
"Seㅡ" belum sempat Chanyeol menyapa temannya dan kekasih pura-puranya itu, Sehun lebih dulu menaruh telunjuknya di bibir, bermaksud menyuruh Chanyeol diam. Chanyeol menurut dan membiarkan Sehun serta Luhan kembali berjalan.
"Cha-Chanyeol? Ada apa? Kenapa berhenti bermain gitarnya? Tadi kau ingin mengatakan apa?" tanya Baekhyun.
"Ah maksudku, sebentar Baek, aku haus. Aku ambil minum ya?" ujar Chanyeol seraya menaruh gitarnya di lantai.
"Ambilkan susu kotak stroberiku juga ya?" Baekhyun dengan tatapan puppynya memohon.
"Oke," balas Chanyeol sambil mengusak puncak rambut Baekhyun dan membuat si mungil merona.
Dan Chanyeol sepenuhnya berdusta. Ia tak mengambil minum melainkan pergi menemui Sehun dan Luhan.
e)(o
To Be Continuedㅡ
