"Untuk apa barang sebanyak itu?"
Baekhyun mengerutkan keningnya, untuk apa katanya?
"Tentu saja untuk keperluan ku!"
"Kau hanya akan pergi satu Minggu Baek, barang bawaan mu seperti barang-barang untuk bertahan hidup di hutan."
"Aish, kau melebih-lebihkan nya hyung. Sudahlah, tolong bukakan pintu ini~"
"Kau tahu, beruntung mempunyai kakak sepertiku, apa hal yang bisa kau lakukan tanpa ku?"
"Beruntung apanya, kau hanya terus-terusan menjahili ku."
•
•
•
"Bagaimana dengan sekolah mu?"
Baekhyun mengalihkan pandangannya dari jalanan didepannya. "Tidak ada yang spesial, sama setiap harinya. Dan itu sangatlah membosankan."
"Kau akan merindukannya saat kau sudah dewasa nati."
"Kufikir tidak, rasanya bahkan aku tidak akan ingin mengingatnya. Syukurlah tinggal beberapa Minggu lagi, dan aku akan bebas dari sekolah membosankan itu."
"Fikirkan juga ujiannya baekhyun-ah."
"Kau meremehkan ku hyung."
"Aku tidak, hanya mengingatkan."
"Percayakan padaku soal itu Hyung, kau hanya perlu menunggu hasilnya saja. Ah, hyung kembalikan boneka Pikachu ku!"
"Boneka apanya?"
"Jangan bercanda Hyung, aku serius."
Baekbom menaikkan sebelah alisnya menatap Baekhyun. "Kau fikir Hyung sempat datang ke asrama mu hanya untuk mengambil boneka Pikachu mu itu?"
"Mungkin saja. Aku melihat Hyung mengambilnya saat aku sedang mandi!"
"Untuk apa aku mengambil boneka mu?"
"Mana aku tau!"
Baekbom mengangkat pundaknya, mengabaikan ucapan Baekhyun. Kemudian memarkirkan mobilnya dan mematikan mesinnya.
"Apa?" Baekbom menatap Baekhyun yang menatapnya dengan wajah memerah.
"Hyunggg jangan bercanda, kembalikan boneka kuu!"
"Baiklah baiklah, aku akan mengembalikannya walaupun aku tidak mengambilnya." Ia berkata seraya membuka pintu lalu keluar dari mobil.
"Aish!" Baekhyun menghentakkan kakinya, lalu keluar dari mobil menyusul Baekbom.
•
•
"Baek, Hyung masih ada pekerjaan. Rapihkan lah barang-barang mu selagi Hyung pergi. Okay?"
"Huh, Pekerjaan lagi. Hyung pulang jam berapa?"
"Kau tidur duluan saja."
"Arasseo. Baekhyun mau mandi, bye Hyung." Baekhyun berjalan kearah kamar mandi di kamar tidurnya sambil bergumam dalam hati, sebenarnya apa pekerjaan Hyung nya itu? Dia selalu saja disibukkan oleh pekerjaannya.
-
-
"Kenapa hidupku sangat membosankan?" Baekhyun menatap pantulan dirinya pada cermin. "Karena aku jelek? Tidak! Aku tidak jelek." Ia menggelengkan kepalanya, kemudian membasuh wajahnya, dan kembali menatap cermin didepannya. "Apa benar karena aku jelek?" Ia memajukan bibirnya, merajuk pada dirinya sendiri.
"Tidak, aku tidak jelek. Ini semua karena sekolah membosankan itu." Baekhyun bergumam pada dirinya sendiri dan mulai mandi.
"Kira-kira apa yang sedang ahjussi gila Itu lakukan? Dia sangat kaya, tapi dia tinggal sendiri. Apa dia juga kebosanan seperti ku?"
"Tunggu, Kenapa juga aku peduli pada ahjussi itu."
•)(•
"Huu, ini sangat dingin." Baekhyun merapatkan Mantelnya, berjalan seperti pinguin karena tubuhnya terasa seperti akan membeku sebentar lagi. Kalau saja bukan karena susu strawberry, ia tidak akan pergi ke minimarket saat cuaca sedang dingin seperti sekarang. Rasanya sangat sia-sia ia berendam di air hangat tadi.
'Kau bisa melakukannya Baek! Demi susu strawberry!' Gumamnya dalam hati.
•
•
•
"Chanyeol, dimana Baekhyun?" Kyungsoo bertanya dengan tergesa-gesa. "Kau tidak membunuhnya bukan?" Lanjutnya.
Chanyeol hanya diam, tak bergeming.
"Chanyeol dengar, aku tau dia sangat berisik, tapi dia hanya anak kecil chan-"
"Aku sudah mengantarkannya." Luhan menyela.
"Kau mengantarkannya? Dengan selamat?" Kyungsoo menyipitkan matanya.
"Tentu saja."
"Syukurlah." Ia bernafas lega.
•)(•
Esoknya
"Hoaamh." Baekhyun meregangkan tubuhnya. Matanya melirik kearah jam, pukul 09:00.
Kringgg
"Byun Baek, kau masih hidup bukan? Aku ingin mengembalikan bonekamu."
"Mwo? Kau yang mengambil boneka ku?!" Ia berteriak.
"Bisakah kau tidak berteriak?! Telingaku sakit mendengarnya!"
"Yak Jongdae! Bagaimana aku tidak berteriak?! Kau mengambil boneka ku tanpa izin padaku!"
-
-
"Hahaha." Baekhyun tertawa nyaring karena ucapan sahabatnya itu.
"Mengapa kau tertawa?! Kau seharusnya mengasihani ku!" Jondae berteriak kesal.
"Untuk apa aku mengasihani kebodohanmu? Hahaha. Lalu, apa yang dia katakan?" Baekhyun bertanya, berusaha menghentikan tawanya.
"Dia bilang dia tidak ingin berkencan dengan seseorang yang membawa boneka ke dalama Club malam. Ini semua karena mu!" Jondae merenggut.
Flashback.
"Baek? Byun Baek?" Jongdae berteriak memanggil.
"Huh? Dia sedang Mandi? Pada jam sembilan malam?!" Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan terkejut. Orang gila mana yang mandi jam sembilan malam saat cuaca sedang sangat dingin?
"Haah." Ia menghela nafas, memilih menunggu di atas kasur kekanak-kanakan milik Baekhyun dan memainkan Handphonenya.
*Kringg
"H-huh?" Ia mengerjapkan matanya, kemudian beralih mengambil Handphonenya yang bergetar.
Yak! kepala kotak. Kau jadi ikut bersama kami atau tidak?!
Ia mendengus, mengapa mereka sangat tidak sabaran.
Sabarlah! aku sedang menunggu temanku.
*Kringg
Kami sudah bersabar menunggumu selama satu jam! Kau sedang menunggu temanmu atau sedang melakukan one night stand hah?! Jika kau tidak segera turun aku kami akan meninggalkanmu. Aku tidak bercanda.
Satu Jam? Dia melirik jam tangannya.
"Apa yang di lakukan tikus kecil itu selama satu jam di kamar mandi?! Apa dia mati didalam sana? Fikirnya.
Ia kemudian memilih meninggalkan Baekhyun dan melenggang pergi dengan masih memegangi boneka yang ia peluk saat tidur tadi.
Flashback end.
"Kenapa kau menyalahkanku?! Kau tahu, kau beruntung aku tidak memotong kepala mu karena mengambil boneka ku!"
"Lagipula kenapa kau sangat lama di dalam kamar mandi?! Kufikir kau mati saat itu."
"Itu adalah waktu yang wajar untuk seseorang membersihkan tubuhnya kau tau!" Baekhyun menjeda. "Gara-gara kau juga aku harus bertemu ahjussi gila itu lagi." Ia bergumam pelan.
"Ahjussi? Siapa?" Jondae bertanya penasaran.
•
•
•
"Tuan Park -ah tidak, Richard~"
Chanyeol melirik tajam wanita didepannya.
Menyadari tatapan tajam yang ditujukan padanya, wanita itu kembali berbicara. "Kenapa? Bukankah kita sudah cukup dekat untuk menghilangkan embel-embel Tuan itu?" Ucapnya dengan wajah menggoda Chanyeol.
"Dengar Lee Sunbin, aku tidak punya waktu untuk meladeni mu." Chanyeol menjawab singkat.
"Tapi aku disini untuk membicarakan saham perusahaan. Ayahku bilang ia baru saja menaruh saham sebanyak 4%. Apakah aku tidak boleh membicarakan itu?" Ia mengerucutkan bibirnya, mencoba mencari simpati dari pria dihadapannya.
Chanyeol mengerutkan keningnya, apa-apaan wanita ini? Ia yakin bahwa sebenarnya wanita tidak mengerti soal saham perusahaan dan semacamnya.
Kalau saja wanita itu bukan merupakan anak dari salah satu koleganya, ia tidak segan menyuruh petugas keamanan untuk menyeretnya keluar.
"Aku tau kau tidak mengerti tentang saham. Jadi pergilah-"
"Kalau begitu bagaimana kalau kita bermain?" Sunbin berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Chanyeol.
Chanyeol hanya melirik wanita itu malas, apalagi yang akan dia lakukan untuk menarik perhatiannya?
"Richard~" ia berbisik. "Aku tau kau menyukai hal yang kasar, benar bukan? Bagaimana jika kita bermain? Kau bisa menggunakan ku sebagai boneka mu~"
"Ahh, Lee Sunbin~ kau sangat pengertian." Chanyeol tersenyum.
Sunbin tersenyum sumringah, jika Chanyeol sudah tersenyum padanya seperti itu bukanlah itu berarti ia sudah menerimanya?
"Baiklah, mari kita bermain." Chanyeol mengintrupsi. "Bisakah kau tutup matamu? Jangan membukanya sebelum aku menyuruhmu membukanya, jangan melawan padaku, Dan, -jangan bersuara." Lanjutnya.
Sunbin mengangguk senang kemudian menutup matanya. Ahh~ sebentar lagi ia akan dibawa menuju surga. Fikirnya.
Chanyeol mendekati wanita itu dengan seringaiannya.
"Wah Lee Sunbin, kau sangat cantik." Ucapnya. Membuat sang pemilik nama tersenyum karena pujian tersebut.
"Ah, Tapi rambut ini menghalangiku untuk melihat wajahmu."
Sunbin menahan jeritannya saat Chanyeol menyentuh wajahnya untuk menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi wajahnya.
"Nah, seperti ini lebih baik. Jadi aku bisa melihat wajahmu dengan jelas." Ia menjeda.
"Saat aku menyakitimu."
Sunbin mengerutkan keningnya. Dan Saat itu juga, Chanyeol menarik rambutnya kasar dan menyeretnya menuju pintu.
"Akh! L-lepas!" Ia mencoba melepaskan cengkraman tangan Chanyeol pada rambutnya.
Chanyeol menghentikan langkahnya, kemudian menatap Sunbin dengan seringaiannya.
"Kau membuka matamu? Dan Kau juga bersuara? Bukankah kita sudah membuat perjanjian tadi?" Chanyeol mensejajarkan dirinya dan melepaskan cengkeramannya pada rambut Sunbin.
"K-kau! Apa yang kau lakukan?!" Sunbin berucap marah.
"Aku? Bukankah kita sedang bermain?" Chanyeol tersenyum, mempermainkan wanuta itu.
Sunbin menatap Chanyeol marah. "A-aku akan melaporkan mu pada ayahku!"
"Benarkah? Syukurlah. Beri tahu juga ayahmu untuk mencabut sahamnya. Banyak orang berlomba-lomba untuk menaruh sahan di perusahaan ku. Aku sudah muak dengan pak tua itu." Ia tersenyum, lalu kembali mencengkram rambutnya dan menyeretnya menuju pintu.
"Yak! Lepaskan aku -Akh." Sunbin berteriak, meronta agar cengkaman Chanyeol terlepas."
"Ssh, kau sangat berisik." Ujar Chanyeol.
"AKHH!" Sunbin berteriak keras saat Chanyeol melemparnya keluar ruangan.
Chanyeol menatap jijik rambut ditangannya, lalu mengambilnya dan membuangnya. Ia kemudian menghampiri Sunbin yang berusaha mendudukkan tubuhnya.
"Lee Sunbin. Inilah yang kau dapatkan karena mengganggu ku. Jadi jangan pernah muncul dihadapan ku lagi, selamanya." Ucap Chanyeol dengan tatapan tajamnya.
"Bawa jalang ini keluar dan jangan pernah biarkan dia memasuki gedung ini lagi." Chanyeol melirik pada petugas keamanan yang berdiri di depan ruangannya. Kemudian melenggang masuk kedalam ruangannya.
TBC
