Kagerou Project, Mekakucity Actors atau apapun itudeh masih punya Jin-san kok. _(:3_/
Based on a poem with the same title by Hirohata Taka.
Apapun yang nyungsep ke fic ini, baik karakter kartun atau lirik lagu, juga bukan punya saya. Tapi sih cover image-nya punya saya. :3
Warning: post-Summertime Record!AR. Big probabilities OOC. Gaje. Setting ngaco. AR terlalu Mary-Sue(?). Gaya bahasa nyampur. Interpretasi puisi yang maksa. Sudden genre and POV shift. Dan-begitulah.
I only own the story tho. Idea resemblances are just coincidence.
P.S.: [ As always, terima kasih sudah membaca! Kritik saran tetap ditunggu selalu! ; w ; ]
mereka yang berharap
[ 2 anak itu sudah menempuh jalannya masing-masing—dan ia masih saja menengok ke belakangnya. ]
.
.
—vii. our convos never feel the same again—
.
.
[ Setiap kali aku mencoba berbicara denganmu, aku berbicara pada benda mati. ]
Festival sekolah sudah berakhir sejak tadi sore, dan malam ini, kelas Momo memutuskan untuk membersihkan ruang kelas yang sudah agak berantakan karena ramainya pengunjung tadi.
(Ya, memang siapa sih yang tidak mau untuk datang ke sebuah idol café yang ada Kisaragi Momo-nya?)
Jadi di sinilah Momo sekarang, terpaku di pojokan kelas dengan ponsel di tangan kanan dan sapu di tangan kirinya. Matanya menerawang ke arah langit malam, berusaha memfokuskan pendengarannya pada ponsel yang sengaja ia tempel di telinganya—ah, bilang saja menelepon.
Tut, tut.
Tangan kirinya memainkan sapu, menggerak-gerakannya entah ke mana.
Tut, tut.
"Kisaragi-saan!" teman sekelasnya memanggil. "Itu kenapa kamu nyapunya kayak gitu?"
"Maaf!" tapi kepalanya tidak ia gerakkan ke arah temannya. "Aku hanya—"
"—nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area, silahkan menghubungi—"
"AAAARGH." Dan sapunya terlepas.
Sementara itu, temannya hanya memandang horor Momo. "Sedang menelepon rupanya—ah, maafkan aku, aku mengganggu yah sepertinya?"
"Nggak kok!" Momo akhirnya menggerakkan kepalanya lagi, tersenyum ke arah temannya. "Mungkin memang time zone orang yang kutelepon lagi beda atau jaringannya lagi bermasalah—nah, sekarang tugasku nyapu pojokan ini 'kan~?"
"Iya sih..." temannya hanya terpaku, "cuman masalahnya..."
"Ya?" Momo masih tersenyum awesome.
"...sekarang yang ada disini cuman kita doang—yang lainnya udah selesai dari tadi..."
"—He."
Dan senyum awesome Momo pun hilang seketika.
.
Bahkan dari sekolah sampai di persimpangan jalan tempat ia berpisah dengan temannya, bahkan sampai rumahnya, ponselnya masih saja menempel di telinganya. Ia sudah akan berteriak-teriak sepanjang jalan kalau saja ia tidak ingat ia sedang melewati wilayah perumahan di mana mereka para penghuni juga butuh istirahat.
Barulah di depan pagar rumahnya kakinya seketika melemas.
"—padahal 'kan di sana Sabtu pagi... kenapa Kakak nggak angkat-angkat teleponnya ya..."
Dengan lunglai kakinya melangkah masuk ke rumah, terus saja menuju kamarnya, dan selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi.
Satu hal yang ia sadari saat bangun esok paginya adalah—ia tidur dalam keadaan masih berseragam. Jam di sampingnya menunjukkan pukul 07.15 pagi.
Ah, syukurlah, begitu batin Momo selagi ia bangkit dari tempat tidurnya dan merenggangkan otot-ototnya. Sempat sekali terlintas dalam pikirannya untuk mandi terlebih dulu, namun ia mengesampingkan pikiran itu dan langsung membuka pintu kamarnya, menuju kamar kakaknya.
Kosong, tentu saja ia tahu. Shintarou rajin sekali di malam sebelum kelulusan saat itu, setelah merapikan barang-barang yang akan ia bawa ke Los Angeles, ia membersihkan kamarnya sendiri. Tidak ada tumpukan pakaian kotor yang biasa bersarang di setiap pojok kamar itu, semua bahkan tampak seperti kamar itu tidak ada penghuninya sejak awal.
"Kak, aku masuk ya." Pelan kaki Momo melangkah masuk ke dalamnya. Tidak ada jawaban, tentu saja—hanya pemandangan tidak biasa dalam ruangan kecil itu dan jendela besar di depannya yang menyapanya. Seringkali ia meremehkan kamar ini dibandingkan dengan kamarnya ("Ih, gedean kamarku loh! Udah gitu lebih modal pula, aku mah banyak posternya, terus tempat tidurnya lebih lucu dan lebih berwarna!"), kadang juga sering meneriaki sang pemilik ("Kak! Jangan ngerem mulu di kamar kenapa!") Tapi sekarang, ia justru lebih ingin melihat Shintarou duduk di depan komputer kecilnya seperti biasa.
Lagi-lagi, kakinya terasa bergerak sendiri, ia berjalan cepat menuju meja komputer yang biasa kakaknya tempati. Tono biasanya berada di satu tempat lain dekat sana, tapi sekarang ia sudah dipindahkan ke kamar Momo.
Dengan cepat ia duduk di sana, mem-boot komputer kakaknya (dan terpana melihat keyboard baru kakaknya sambil menunggu komputernya selesai booting), dan mengerucutkan bibirnya.
Tentu saja. Ene juga sudah berada di LA, dalam wujud Enomoto Takane pula. Tidak heran ia bukan hal yang pertama yang dilihat Momo saat layar komputer sudah berada di layar login. Sambil terus menggumamkan kata maaf dalam hatinya, ia ketikkan password pada layar login itu (yang sudah ia hafal sejak diberitahu Ene tanpa sepengetahuan kakaknya), dan layar beralih menuju layar utama desktop
yang entah kenapa adalah fotonya dan keluarga kecilnya setengah tahun yang lalu.
Itu dirinya, berseri-seri menyikut pundak kiri Shintarou yang hanya memasang senyum pasrah. Ibu mereka berada di sisi kanan Shintarou, menyeka wajahnya dengan selembar tisu. Seingat Momo, ini diambil setelah ujian kelulusan selesai, dan seperti biasa Shintarou kembali mendapat nilai tertinggi seangkatan.
Entahlah, tapi dalam pandangan Momo, senyum pasrah kakaknya itu dapat dikatakan sebagai salah satu senyum indah milik kakaknya yang jarang ia tunjukkan pada orang-orang.
Jemarinya lincah menggerakkan mouse, mengarahkannya pada folder gambar-gambar milik kakaknya—ah, koleksi gambar-gambar beloknya masih di sana. Setidaknya nanti Shintarou dapat melihat semua koleksi itu sepuasnya tanpa harus diganggu Ene.
Tapi apa itu? Ada folder baru di pojok bawah? Iris hitam Momo mengalihkan perhatiannya pada nama yang tertulis di sana.
Valuables
Alis Momo mengerut. Valuable bukannya barang berharga, jangan-jangan isinya lebih banyak gambar belok? Atau jangan-jangan literally barang berharga seperti perhiasan?
Sampai Momo mengklik folder itu, hal-hal itu masih berkecamuk dalam pikirannya. Dan di detik saat isi folder itu mulai bermunculan, jantung Momo seperti berhenti berdetak.
Foto, isinya foto semua. Tidak, tidak belok—Momo sangat bersyukur. Yang membuatnya kaget adalah wajah-wajah yang menghiasi foto-foto itu. Mulai dari anggota-anggota Mekakushi Dan, lalu ibunya dan dirinya, lalu—
—sekelompok orang berseragam sama seperti dirinya.
Momo nyaris menitikkan air matanya lagi saat ia menelusuri folder itu. Shintarou memang tidak muncul di setiap foto yang ada, namun setiap kali ia muncul, ia akan tampak tersenyum tulus disana.
"Kak. Coba Kakak tiap hari kayak gitu terus dari dulu, pasti banyak yang suka."
Suaranya menggema sendirian dalam kamar kecil itu.
.
.
[ Setiap kali dia mencoba berbicara dengan orang itu, dia seolah berbicara pada benda mati. ]
Di satu sore yang sejuk di bulan Oktober, Kisaragi Shintarou mengerutkan keningnya.
Tidak, ia tidak pangling dengan materi sekolah. Semua sudah ia serap dan pahami, berkat IQnya yang tinggi. Bahkan beberapa anak di kelasnya yang kerap bingung sudah ia ajari, sampai mengizinkan mereka memotret catatannya.
Tentu saja salah satunya Ayano. Khusus untuknya, Shintarou sekalian meminjamkan catatannya, toh mereka tinggal serumah. Dan biasanya akan disertai dengan senyum tampannya.
Walaupun begitu, sungguh bukan itu yang membuatnya mematung di depan rumahnya dan Ayano, sampai membiarkan dirinya dilewati hembusan angin sejuk musim gugur dan daun-daun yang berterbangan.
"Ini si Momo segitunya—"
"—apanya, Shintarou-kun?"
Suara Ayano yang mendadak mampir melewati telinganya sukses membuatnya hilang keseimbangan. Entah memang karena murni kaget atau terpesona mendengar suara lembut Ayano yang tetap ceria itu.
"Ih," ia merengut ke arah sahabat tercintanya, "nggak usah tiba-tiba nongol kenapa?"
Ayano hanya tertawa kecil. Ujung syal merah kesayangannya berkibar tertiup angin. "Maaf, maaf! Tahu sendirilah Momo-chan orangnya kayak gitu, dia memang adek yang baik ya. Rela miskol kakaknya sampai 50 kali."
Alis Shintarou berkedut lagi. "Lo ngintip ya."
Ayano, seperti biasa, mengangguk tulus. "Ehe~ Tapi itu bukannya malah pertanda dia kangen sama kamu? Kasian tuh, sampe miskol segitu banyaknya. Sebagai kakak yang baik, coba deh kamu telpon balik."
"Ayano. Plis. Di sana lagi malem." Shintarou facepalm.
Namun, bahkan saat malam sudah menjelang, Shintarou belum juga menyentuh ponselnya sejak sore tadi. Tumpukan tugas akhir pekan tergeletak di depan mejanya, merintih-rintih minta dikerjakan. Jangankan dia, Ayano saja sudah ketiduran duluan saat melihat tugasnya sebanyak itu. Sudah kemarin bertumpuk tugas sudah mereka selesaikan, sekarang ini lagi? Ah, kalau saja dua senpai mantan humanoid itu ada di sini juga.
Duh, padahal tadi Ayano sudah mau repot-repot menemaninya membeli kartu telepon di apotik terdekat.
Menyerah dengan tugasnya yang menumpuk tebal, ia bangkit dari tempatnya duduk, mengangkat pelan kepala Ayano yang sedari tadi bersandar di pundaknya dan merebahkannya di meja belajarnya, dan berjalan menuju jendela kamarnya, membukanya.
Kartu telepon, kartu telepon. Ah. Masih ada di sakunya.
Pelan ia menggosok bagian perak kartu itu, memencet tombol di ponsel sesuai dengan angka yang tertera di sana.
Tut, tut.
Dengan hati-hati ia ikuti instruksi dari mesin penjawab—masukkan kode negara dan nomor tujuan, dan ia memasukkan nomor ponsel Momo.
Tut, tut.
Lama sekali ia berdiri di situ, sesekali sambil menikmati langit malam yang dihiasi bulan sabit dan serabut-serabut keabuan gelap.
"Maaf, Kisaragi Momo sedang berhalangan menjawab panggilanmu!" tiba-tiba voice mail adiknya menyambut telinganya. "Tapi hei, kau bisa meninggalkan pesan untuknya!"
Shintarou berdecak kesal, dan ponselnya berbunyi bip sekali. Oh, tanda merekam voice mail sudah dimulai? Ia hanya menghela napas sebelum akhirnya berbicara dengan nadanya yang biasa.
"Iya ini Kakak. Maap ya baru sempet nelepon sekarang. Kebanyakan tugas ini. Teleponmu kok nggak diangkat sih, bukannya di sana siang? Kalo ini sampai ke kamu, tolong telepon balik ya. Plis. Kakak kangen sama kamu, sama kalian semua."
Sementara itu, Ayano yang setengah terbangun karena suara lantangnya hanya memandangnya dari meja dengan mata masih sayu.
Shintarou-kun walaupun tingkahnya gitu, ternyata hatinya baik banget ya. Ayano, sekali lagi, hanya tertawa kecil.
[ —tsuzuku. ]
