Disclaimer: this work of Harry Potter and it's characters belong to J.K Rowling. The plot is mine

Chapter 7

Grimauld Place No 13

Lily tidak pernah membersihkan Doxy sebelumnya biasanya Doxies dibersihkan oleh Mum, atau kadang James, (untuk hukumannya). Tapi kali ini mereka membersihkan doxy bersama-sama. Grandmum sebenarnya telah menyuruh Lily untuk tetap duduk saja dan menonton.

Tapi Lily ingin tahu apa yang ayah dan ibunya kerjakan, dan dia bertekad membantu jadi dia tidak ada yang bisa membuatnya berhenti.

Ayahnya, Uncle Fred, dan Uncle George bersembunyi di ujung ruangan, sementara Aunt Hermione, mum, dan Uncle Ron masih seru berkutat dengan Doxies. Lily yang penasaran menyelinap keluar dari pekerjaannya menuju ujung ruangan dimana Ayahnya bersama Fred dan George berkumpul.

"hey apa yang kalian lakukan?" tanya Lily dengan senyuman tidak bersalah.

"Lily kau tidak seharusnya disini" bisik Uncle George.

"Lily bagaimana kalau kau kembali kesana dan melupakan kalau kami ada?" bisik Uncle Fred yang menunjuk kearah Ron, Hermione, dan Ginny.

"tidak sampai kalian memberitahuku apa yang kalian lakukan" ujar Lily

"hey anak kecil tidak seharusnya ada disini" kata Fred

"sana-sana kembali" George berusaha mendorong Lily menjauh.

"tidakk..." Lily memberatkan dirinya membuat George harus mendorngnya dengan kekuatan 2 kali lipat.

"Lily bagaimana kalau kau bicara dengan Hermione? dia punya hal-hal seru untuk dibicarankan" kata Harry yang akhirnya berbicara dengan senyum lembut.

"OKE!" Seru Lily yang berlari kembali menuju tempatnya semula.

"kau memang pantas jadi Ayah, Harry" ujar Fred.

"hey aku belum setua itu!" kata Harry yang mulai kesal.

"ya... ya.. ya terus saja tak akui itu... tapi aku melihat kebalikannya..." timbrung George.

"lupakan hal tad!" kata Harry, mengancam si kembar. Tapi Fred baru teringat sesuatu,dia melihat ke arah adik perempuannya.

"jadi...Apa yang kau lihat dari Ginny?" ujar Fred "maksudku aku tahu dia adik kami, tapi.. apa yang membuat lelaki suka padanya?"

"oh aku tak tahu... aku belum suka padanya ingat?!" kata Harry, yang ikut melihat ke arah Ginny yang bermain bersama Lily. "well, dia cantik, dan dia mempunyai kulit yang indah" Harry mulai memperhatikan hal-hal yang telah berubah dari Ginny. Dan yang jelas Ginny bukan lagi gadis kecil cekikikan yang Harry kenal. Ginny yang sekarang sudah berbeda, dia terlihat dewasa dan manis... dan matanya... matanya yang coklat lembut...

"Harry... Harry... HARRY!" tanpa disangka Ron melambaikan tangannya di depan Harry sambil berteriak. Wajah Ron saking merahnya karena marah.

"tunggu.. tunggu apa aku mendengar kalau Harry Potter melirik adik kita Ron?" kata Fred dan George bersamaan, tawa keduanya mengelegar keujung kamar. Dan wajah Ginny memerah.

"tunggu...I said all that OUT LOUD!?" ujar Harry yang ikut-ikutan memerah.

"ya... kinda" kata Hermione yang cekikikan.

"apa yang terjadi?" Lily kecil baru nimbrung dengan wajah kebingungan.

"KEMBALI BERKERJA!" seru Mrs. Weasley, yang baru saja masuk ke ruang tamu untuk mengecek perkejaan sembari membantu anak-anak.

Mereka berekerja sepanjang siang karena betapa bannyaknya doxie-doxie yang bersembunyi di setiap ruangan.

"Harry" bisik Ron, sambil kembali mengerjakan pekerjaannya

"ya Ron?" balas Harry.

"Jangan coba-coba mendekati adikku camkan itu!" Ron memberi penekanan pada dua kata terakhirnya dengan sengaja.

Setelah mereka selesai mereka kembali ke ruang makan untuk makan siang. Lily senang sekali bisa berkumpul dengan keluarganya bersama orang-orang yang belum pernah ia temui. Dan antusiasmenya telah dilirik oleh Sirius yang akhirnya bertanya pada kesempatannnya.

"Oh ya Lily bagaimana denganku? Tentu saja aku masih menumpang di rumahmu, bersama Remus tentunya" tanya Sirius dengan penuh semangat.

"maaf sir, aku tidak mengenalmu" kata Lily dengan sedikit gugup.

"Ou..." Sirius hanya terdiam, mengerti apa maksudnya, kemungkinan dia tidak akan ada untuk menemani Harry.

"NO!" tanpa disadari Harry sudah duduk disana, berdiri dari meja seberang mereka.

"Harry yang sudah terjadi tidak bisa lagi diubah" Kata Sirius dengan pelan dan sabar.

"NO! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Wajah Harry merah karena marah. "Lily kapan Sirius meninggal?" suaranya sedikit bergemetar pada kalimat terkahir.

"aku tidak tahu, Daddy tidak pernah cerita tentang seseorang bernama Sirius" jawab Lily ketakutan. Harry sadar bahwa dia bersikap terlalu kasar pada Lily.

"Padfoot" kata Lupin. Yang duduk tepat di samping Sirius.

"Ya?" Sirius menenggok ke arah Remus. Mengira bahwa ia telah dipanggil oleh sahabat karibnya itu.

"Padfoot, Harry pasti pernah bercerita tentang Padfoot" kata Lupin dengan lembut kepada Lily, memandang anak perempuang itu dengan lekat.

"Padfoot!" mata cokelat Lily bersinar, tertampak rasa pengenalan dimatanya itu. "Aku pernah bertemu anak anjing bernama Padfoot! Aku ingin memberikan nama Toto, dari Wizard Of Oz tentunya..." Hermione sangat senang karena keponakannya ternyata membaca dongeng muggle.

"dan Al ingin menamainya Fluffy... dan James menyebut Padfoot, jadi namanya Padfoot..."

Sirius dan Remus tersenyum mereka tak peduli kalau Sirius akan mati dan sebagainya, yang terpenting Harry memeberitahu anak-anaknya tentang Marauders, dan kisah-kisah mereka.

"tapi kami harus memberikannya kepada penampungan hewan, karena ternyata Padfoot punya pemilik" wajah Lily sedih mengingat-ingat kejadian itu.

"Well... Kita tidak bisa mengubah masa depan Harry..." kata Remus.

Hogwarts 2017

James Sirius Potter dengan gagahnya berjalan di koridor penuh dengan anak-anak kelas satu bersama sepupu dan sahabatnya, Ethan Lee Weasley.

"Hi! Kalian melihat Albus?!" tanya Ethan pada Rose.

"ya, dia masih dikelas bersama Scorp" jawab Rose dengan tidak peduli.

"baiklah! Trims by the way" kata James sambil mengedip kearah Rose.

"Jangan mem-bullynya lagi James!" Seru Rose ketika James dan Ethan sudah mendekati pintu kelas Trasfigurasi.

"Albus!" James melebarkan tangannya bagaikan menyambut sahabat karib yang sudah lama tidak ditemuinya.

"get lost James" Albus menghindarinya sambil berjalan melewatinya ke arah pintu kelas.

"Beginikah sikapmu pada Kakakmu?" wajah James pura-pura di cemberutkan. "begini-begini aku tetap sayang padamu"

"seriously?" Albus berhenti sambil memandang kearah James, yang masih melebarkan tangannya.

"Itu nama tengahku!"

"James itu lelucon tua!" seru Albus, yang sekarang diterkam pelukan James.

"oh dan sebenarnya alasan kami menemuimu kami ingin memberitahumu sesuatu Al" kata Ethan, yang mengeluarkan peta Marauder.

"Dari mana kalian mendapatkan itu?" kata Albus "dan sebaiknya jawab setelah kita keluar kelas"

Proffesor Gustav memerhatikan keempat anak itu keluar kelasnya dengan curiga.

"Al.. kita tidak sebaiknya mengikuti James, dan kau diantara semua orang di dunia ini tahu tentang itu!" bisik Scorpius Malfoy, kecurigaannya semakin menjadi-jadi ketika mereka telah mendekati dinding kosong di koridor lantai 7.

"aah... " James maju kedepan diantara ketiga murid itu dan mulai berbolak-balik.

"okee... sekarang apa yang dia lakukan..." Scorpius mulai panik, memperhatikan James yang masih melakukan hal yang sama. "Al aku mulai berpikir kakakmu punya semacam kelainan..." bisiknya lagi.

"well James... aku harus pergi kalau begitu.." Albus mulai berbalik, untuk kembali ke ruang rekreasinya.

Tiba-tiba sebuah pintu gerbang muncul didepan mereka. Pintu mistis itu cukup besar untuk menyimpan ruangan besar didalamnya.

"nah ayo kita masuk!" seru James, dengan kepedeaan tingkat tingginya.

"aku berpikir kita tidak seharusnya melakukan ini" kata Al.

"Al... tiba-tiba aku penasaran" Scorp mengikuti Ethan masuk keruangan itu.

"Scorp!"

Didalam ruangan itu terdapat ruangan penuh tumpukan-tumpukan barang antik yang kemungkinan tidak terpakai lagi. terlihat dari umur benda-benda itu yang sudah cukup tua.

"tempat apa ini?" tanya Al pada Ethan.

"tidak tahu, yang jelas James dan aku menemukannya ketika kami melewati koridor 7 dari ruang rekreasi. Dan tempat ini tidak ada, dan tidak dijelaskan oleh Peta Marauder" Ethan menujukan peta itu. Nama mereka telah berada di tempat kosong yang ada di dekat koridor 7.

"siapa pun yang mencipatakan ini adalah orang genius!" seru James dari sisi tumpukan barang yang lain.

"James! Kau tahu kau tidak seharusnya menemukan peta itu, itu milik Dad!" Albus mengikuti James, sementar Scorp dan Ethan pergi entah kemana.

"hey.. hey tenang Dad tidak akan tahu. Lagi pula sepertinya dia tidak membutuhkannya lagi" James mengambil sebuah piala dari entah berantah. "hey piala ini dari tahun 1860!"

"James!" James melempar piala itu ke arah Albus tanpa peduli. "kita bisa kena masalah, dan kau tahu itu!"

"ya ya ya blah blah! Albus yang maha tinggi! Kau tahu kau tidak seharusnya memerintahkan kakakmu." James menggunakan jenggot putih palsu entah dari mana pula asalnya itu, dan menirukan suara kakek tua dengan sok bijak.

"JAMES!" James masih tidak peduli dan mulai merauk-rauk tumpukan yang lain.

"hey... aku menemukan pemutar waktu!" seru James, ia mulai memutar pemutar itu dengan tidak beraturan.

"kembalikan James! Taruh itu ketempatnya kau tidak seharusnya menyentuh benda-benda ini!"

"eit-eit-eit..." Pemutar waktu itu terjatuh ketika James meninggikan tangannya agar Albus tidak dapat meraih benda itu.

"ohhh... S**t" BLAST! Pasir pasir keluar dari pemutar itu dan James dan Albus tidak sempat melarikan diri ketika Scorp menemukan tumpukan pasir itu.

Author's Note: Maaf bangggeeeettt ya... lama. soalnya author males, dan bingung plotnya mau dibawa kemana. Akhirnya muncul juga ide gila dan akan sedikit mengubah plot asli author sebelumnya, nggak sedikit sih... BANYAK! Tapi seru dan lega akhirnya bisa update. Dan untuk yang penasaran.. AUTHOR LULUS SMP! Weee cihuy! Berjuang ya yang kelas 9/ SMP 3 berikutnya. ;) . dan tolong kirim saran apakah terlalu cepat ato malah gaje ato ada salah sedikit. author terima.

P.S: Author nunggu review yang nanya Ethan itu siapa... ayo dong review... :3 semoga review author bisa nyampe 100 review! :D dan ya... author keblock inet sehat lagi.. siapa yang ngk ke block? Juara deh! ;)

Edited by Rachell-Dark-Hokou. . thank you banget btw :D check karya temen author ini ya!