Rain
By: Azumaya Miyuki
A Hunter x Hunter Fan Fiction.
Disclaimer © Togashi Yoshihiro.
Chapter 7: Deep Forest
"Yah, sesuai dengan namanya… pulau ini benar-benar sunyi, ya."
Seorang anak lelaki berusia kurang lebih 12 tahun, bermata kelabu layaknya warna badai – yang tak lain tak bukan adalah Orion, menyeruak jalan setapak di Pulau Sunyi yang suram. Disibakkannya sebatang ranting tajam yang menganggu, hingga ranting itu patah dan melukai tangannya. Orion meringis. Merupakan sebuah 'batu loncatan' yang luar biasa bagi dirinya yang belum pernah sekalipun keluar dari kawasan pinggir pantai York Shin dan sekitarnya – untuk menginjakkan kaki di pulau terpencil nun jauh di seberang samudera yang sama sekali asing tersebut. Dengan berbekal tekad untuk membawa kembali adiknya tersayang, dan sejumput cinta dari sang ibu, Orion pun nekat pergi seorang diri menuju Pulau Sunyi – tempat yang diyakininya sebagai lokasi keberadaan dari Pandora yang telah lama hilang.
Orion menjilat lengannya yang terluka, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Kabut semakin menebal. Jarak pandangnya jadi benar-benar terbatas. Orion merentangkan kedua tangan ke depan – memperkirakan seberapa jauh dirinya dengan apapun benda atau mungkin manusia yang berada di hadapannya.
"Kabutnya tebal sekali, aku tidak bisa melihat apapun…"
Kabut yang menyelubunyinya benar-benar membuat Orion kehilangan arah. Ia bahkan tidak bisa lagi melihat jalan di depannya.
"Sial," Orion mengumpat. "Kalau tahu akan begini lebih baik aku bersikeras untuk ikut kakak berambut pirang itu, setidaknya aku tidak per—"
Orion merasa tanah yang ia pijak berubah melunak. Dalam satu hentakan, gravitasi seolah menariknya ke perut bumi. Ia terjatuh – bagaikan menuju lubang tanpa dasar. Jauh sekali rasanya sebelum ia menyentuh tanah lagi. Baju Orion langsung berubah lusuh. Ia terbatuk beberapa kali.
Baru saja ia mencoba untuk bangkit, sebuah suara merangsek masuk ke gendang telinganya.
"Siapa di sana?" Suara pendek itu bahkan menimbulkan gaung, mengindikasikan bahwa lubang yang memerangkap Orion adalah lubang yang sangat dalam.
"Aku Orion! Aku dari kota York Shin, datang ke tempat ini untuk mencari adikku yang dirawat oleh penyihir wanita yang hidup di sini – Serafita Kalina!" balas Orion, tak lupa memberi jarak antara satu kata yang diucapkannya dengan kata yang lain, agar tidak membingungkan pihak yang mendengarnya karena tertimpa gema.
Seorang wanita berambut panjang berdiri di pinggir lubang yang curam itu. Orion tidak bisa mengenali wajahnya dengan jelas karena wanita itu membelakangi cahaya. Di sampingnya, berdiri seorang anak laki-laki yang mengenakan baju kebesaran – mengerlingkan mata ke arahnya. Orion terkesiap.
"Pan… dora?!" Orion memekik gembira. Meskipun ia tak bisa melihat wajah bocah itu dengan sempurna, tapi entah mengapa ia sangat yakin bahwa itu adalah adiknya. Cepat-cepat Orion berdiri, membersihkan sisa tanah dan serpihan batu-batu kecil yang menempel di pakaiannya. "Pandora, ini aku, Orion!"
Lalu dengan tenaganya yang tersisa, Orion memanjat lubang tersebut – tak peduli betapa sia-sianya semua yang ia lakukan, ia tetap berusaha untuk memanjatnya. Dan akhirnya, dengan seluruh perjuangannya, ia berhasil mencapai puncak dan keluar dari lubang yang membungkam langkahnya barusan. Walaupun sudah bau bercampur keringat, Orion tampak puas – apalagi setelah melihat sosok mungil di depannya. Langsung saja kedua tangannya yang belepotan tanah mendekap Pandora.
"Pandora! Ternyata ini memang benar kau!" Tak kuasa Orion melepaskan rindu dengan memeluk adiknya itu. "Kau masih ingat aku, 'kan? Aku Orion, kakakmu! Kau tahu, tidak? Ibu sangat mengkhawatirkan keadaanmu! Ke mana saja kau selama ini? Kenapa kau malah tinggal di sini dan tidak kembali ke rumah? Apa kau tidak kangen denganku dan Ibu?"
Suara kecil Pandora membuat semangat Orion luntur. "Kau… siapa?"
Orion membelalakkan matanya, lalu perlahan melepaskan pelukannya. "Pandora, kau bicara apa? Masa' kau lupa padaku? Aku ini Orion, aku kakakmu!" Mata Orion beralih pada wanita berambut panjang yang berdiri di sebelah Pandora. "Hei, apa yang sudah kau lakukan pada adikku? Kau memantrai dia, ya?!"
"Pandora, apa kau mengenalnya?" tanya wanita itu pada Pandora, tanpa mengindahkan kata-kata Orion.
"Tidak," Pandora menjawab singkat.
"Kau dengar sendiri 'kan, anak kecil? Pandora tidak mengenalmu," ujar wanita berambut panjang itu dengan nada lembut. "Dan aku juga tidak mengenalmu. Maafkan aku jika harus bersikap tidak ramah, tapi aku tidak ingin siapapun – termasuk orang asing sepertimu – menyakiti Pandora yang telah kuanggap bagaikan anakku sendiri ini."
"Bajingan! Permainan macam apa ini?!" Orion berteriak berang. "Pandora itu adikku! Aku akan membawanya pulang ke York Shin, titik!"
"Sekali lagi maafkan aku, anak kecil…" bisik wanita itu menegaskan, "aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti ataupun mengganggu anakku yang berharga ini. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan 'penyambutan' yang ramah terhadap 'tamu' yang baru kali ini berkunjung seperti dirimu. Aku mohon diri dulu. Ayo, Pandora."
Wanita cantik itu menggamit lengan Pandora dan menggandengnya, beranjak menjauh dari Orion, dan menghilang seolah tertelan kabut. Sementara itu, di sekeliling Orion tiba-tiba muncul sekelompok sosok tak dikenal yang mengenakan pakaian tertutup seperti jubah panjang hitam yang menutupi sekujur tubuh – bahkan separuh wajah mereka terlindungi oleh cadar berwarna senada. Mereka berkumpul dan mendekati tubuh kurus Orion.
"Tu-tunggu! Mau apa kalian?!"
Orion terdesak. Dirinya yang sama sekali tak kuasa untuk menolehkan pandangan tak menyadari bahwa sosok-sosok berjubah hitam itu bermaksud menggiringnya kembali ke dalam lubang. Mereka menginginkan kematian yang abadi untuk sang pencuri kecil itu.
Dan Orion pun terjatuh, namun kali ini benar-benar menuju lubang tanpa dasar…
"…ruta…" Sayup-sayup Kurapika mendengar suara seseorang. "Kuruta…" Perlahan ia merasa tubuhnya diguncang lembut.
"Mmm?" Kurapika menjawab sambil mengucek matanya. Kantuk yang tak tertahankan membuatnya tertidur pulas tadi.
"Bangunlah, kita hampir sampai," ujar Kuroro Lucifer yang berdiri di sebelahnya.
Lekas Kurapika membetulkan posisi tubuhnya. Ia hampir sepenuhnya tertidur di sepanjang perjalanan mereka menuju kota Zaban. Ia sangat lelah. Badannya menjerit minta istirahat, jadi tanpa sadar Kurapika pun langsung jatuh tertidur. Riskan memang, dengan kondisi yang seolah 'tanpa perlawanan' seperti tadi itu, bisa saja Kuroro melakukan hal-hal bodoh – seperti mencoba melukainya dan Kurapika tak berdaya dalam menyikapinya. Sang pengguna rantai itu bergidik membayangkan semua itu. Untungnya dia baik-baik saja.
Kurapika memandang awan kelam diluar kaca buram pesawat sambil bertopang dagu. Langit sedikit mendung – beberapa petir tampak berkejar-kejaran. Tak satupun gemintang centil yang berani menampakkan diri. Lampu-lampu kota nun jauh di bawah sana yang biasanya terlihat bagaikan butiran pasir aneka warna ketika langit cerah seketika hilang ditelan cuaca buruk. Kurapika mendesah singkat. Perlahan ia membuka buku-buku jemarinya – mencoba menghitung sudah berapa pasang bola mata merah yang dikumpulkannya bersama Kuroro. Dua pasang didapat ketika pelelangan, satu pasang didapat dari William, dan satu pasang dari Orion – membuat semuanya berjumlah empat pasang. Kali ini Kurapika menghela napas panjang. Sungguh jumlah yang sedikit untuk segala huru-hara yang diperolehnya selama beberapa hari belakangan ini. Semuanya benar-benar melelahkan baginya.
Kurapika memanfaatkan pantulan di kaca jendela pesawat untuk mengamati rambut blonde -nya yang sudah mulai panjang. Ia menyelipkan beberapa helai untaian rambut di sebelah kiri ke belakang telinga. Anting peninggalan ibunya bergoyang pelan – membuat Kurapika lega. Entah mengapa sejak anting itu dicuri oleh Orion, dan akhirnya kembali padanya, Kurapika jadi merasa was-was kalau anting itu akan hilang lagi. Meskipun dulu Leorio pernah bilang padanya kalau anting itu sudah ketinggalan zaman (dan juga menambahkan kalau anak lelaki tidak cocok memakai anting), perhiasan mungil itu teramat berharga bagi Kurapika. Itu adalah satu-satunya peninggalan dari almarhumah ibunda tercinta. Karena itulah, sejak hari pembantaian suku Kuruta, Kurapika memutuskan untuk mengenakannya dan selalu menjaga anting tersebut sepanjang hidupnya – layaknya sebuah harta karun yang tak ternilai.
"Haus?"
Kurapika mendengar gemerincing es membentur gelas kaca tepat di telinga kanannya. Ia menoleh. Kuroro mengangsurkan segelas minuman. Kurapika mengernyit.
"Kau menawariku minum scotch? Apa kau bodoh?" Kurapika bertanya dengan nada sadis.
Pemimpin Gen'ei Ryodan itu memberikan seulas senyum simpul sembari duduk di depan Kurapika. "Hanya bercanda. Aku tahu kau tidak minum."
Kurapika mendengus. "Membuat orang lain kesal itu memang hobimu ya, Dancho?" ledeknya kemudian.
"Tidak juga," jawab Kuroro singkat, membuat Kurapika semakin geram.
Keheningan kembali memenjara Kuroro dan Kurapika, namun tanpa sadar mereka memandang ke arah yang sama – ke langit hitam kelam di luar jendela. Cuaca malam ini benar-benar buruk dan itu menghambat pesawat yang mereka naiki untuk tiba di bandar udara kota Zaban tepat waktu. Kurapika melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Kuroro meneguk minuman di tangannya perlahan.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan," ucap Kurapika tanpa diduga. "Ini soal tempat pembantaian yang dijalankan William. Kenapa kau bilang padaku bahwa pasokan terbesar manusia yang dibunuh di sana dan diambil organnya berasal dari Ryuuseigai? Aku tidak paham."
Kuroro menatap Kurapika dingin dengan ujung matanya, lalu kembali dibuangnya pandangannya ke luar jendela.
"Tidak ada yang perlu kujelaskan berdasarkan pertanyaan itu. Kau tidak perlu tahu terlalu jauh tentang Ryuuseigai."
"Bukankah lebih baik kau membekaliku dengan pengetahuan akan kampung halamanmu itu, Kuroro Lucifer? Suatu hari kita akan berkunjung ke sana. Apa kau lupa bahwa Serafita pernah menyebutkan tempat itu sebagai lokasi dari pencarian bola mata sukuku?" tanya Kurapika bertubi-tubi.
"Dan kau kira karena penyihir wanita itu menyebutkan Ryuuseigai sebagai salah satu tempat yang mungkin menjadi lokasi keberadaan bola mata merah, aku akan dengan senang hati menemanimu pergi ke sana? Tunggu dulu, Kuruta. Tidak secepat itu."
"Apa katamu?"
"Baiklah, kita buat kesepakatan. Aku akan menemanimu ke tempat manapun di dunia ini untuk mengambil kembali bola mata merah itu – pengecualian untuk Ryuuseigai. Kau desak dengan cara seperti apapun aku tidak mau. Dan kusarankan kita tak perlu sama sekali ke sana. Bola mata merah yang kau cari takkan ada di tempat itu," tandas Kuroro. Scotch -nya sudah habis tanpa bekas.
"Jadi, kau meremehkan Serafita yang sudah membantu kita dan tidak percaya dengan kata-katanya?" Kurapika mengerlingkan matanya, menatap Kuroro yang duduk tenang di hadapannya.
"Maaf mengecewakanmu, tapi aku memang tidak pernah mempercayai makhluk pendusta seperti manusia," balas Kuroro sinis. "Tidak juga dengan seorang Serafita Kalina."
Kurapika terdiam karena merasa kalah. Dia benar-benar menyebalkan, batinnya berang.
"Daripada meributkan hal-hal yang tidak penting, aku lebih tertarik untuk membahas soal eksistensi dan jumlah dari bola mata suku Kuruta itu sendiri," ucap Kuroro. "Aku masih ingat saat pertama kali kau menyebutkan jumlah dari bola mata yang hendak kau cari – ratusan hingga ribuan pasang, namun aku bisa melihat raut keterkejutan di wajahmu saat Orion dengan detailnya menjelaskan bahwa bola mata suku Kuruta yang ada di belahan bumi ini hanyalah 36 pasang. Kau tampak lebih kalut lagi saat mendengar mitos bahwa kandungan yang terdapat pada bola mata tersebut memiliki banyak keistimewaan, sehingga banyak pihak yang mengincarnya."
Air muka Kurapika berubah buruk. Ia tak menyangka Kuroro akan mengajaknya untuk bicara tentang hal yang sama sekali tidak ingin diungkitnya.
"Saat itu – dan sampai saat ini, aku jadi meragukan identitasmu sebagai keturunan terakhir dari suku Kuruta." Kuroro memainkan gelas kosong di tangannya. "Bagaimana mungkin bocah ingusan seperti Orion mampu mengetahui informasi seperti itu, sedangkan seorang lelaki berdarah Kuruta yang sejati – yang sedang duduk berhadapan denganku sekarang, sama sekali tidak memahaminya walau secuil pun?"
"Aku tahu semua informasi itu!" Kurapika berseru. "Dan bagaimana kau bisa meragukanku sebagai seorang Kuruta – apa sepasang bola mata merah yang kumiliki ini, dan segala luka masa lalu yang kau torehkan ketika membantai seluruh anggota sukuku tidak cukup untuk membuktikannya?!"
Kuroro tertawa kecil melihat Kurapika yang begitu mudahnya marah. "Rupanya kau memang belum banyak belajar."
"Apa maksudmu?" cecar Kurapika dengan napas memburu.
"Seorang pembohong akan dengan mudahnya mengetahui kebohongan dari pembohong lain," Kuroro berujar misterius, seolah tengah menerangkan suatu filsafat. "Kau pembohong rendahan. Levelmu masih jauh di bawahku, Kuruta."
Lagi-lagi Kurapika harus membungkam mulutnya. Sial, ia tahu aku berbohong, pikirnya kalut.
Kuroro mengubah letak duduknya – agak membungkuk dengan kedua tangan menyilang dan ujung siku diletakkan di lutut. "Jujur sajalah. Kau memang tidak tahu soal itu semua, benar 'kan?"
Lekas Kurapika membuang muka. "Kau kira aku mau menjawabnya, disaat kau mengindahkan pertanyaanku tentang Ryuuseigai? Tidak secepat itu, Kuroro Lucifer."
Kuroro tidak bisa menahan senyumnya ketika Kurapika mengulangi kata-kata yang digunakannya tadi untuk membalasnya. Pemuda berambut hitam itu kembali duduk bersandar di kursinya yang empuk.
"Kalau begitu, kata-katamu tadi kuanggap sebagai jawaban 'ya'," ucap Kuroro.
"Terserah kau sajalah." Kurapika yang sudah terlalu kesal merasa malas untuk berdebat. Walaupun ia mangkel setengah mati karena 'adu mulut' mereka barusan dimenangkan dengan telak oleh Kuroro, pemuda belia itu memilih untuk bungkam alih-alih kembali mengucapkan kata untuk mencecar pemimpin Gen'ei Ryodan tersebut. Jadi kesunyian pun membentengi mereka lagi.
Kurang lebih satu jam kemudian, pesawat yang mereka tumpangi tiba di bandara kota Zaban. Perjalanan York Shin – Zaban tidak memakan waktu lama, terutama karena mereka membeli tiket pesawat jet berkecepatan cukup tinggi untuk menghemat waktu. Kurapika mengandalkan lisensi Hunter-nya untuk memperoleh semua fasilitas mewah itu.
Mereka pun turun dari pesawat dan mengambil barang dari kabin (mereka sama sekali tidak membawa barang lain dalam perjalanan mereka kecuali tas milik Kurapika, jadi jatah bagasi sama sekali tidak diperlukan), Kurapika dan Kuroro pun keluar dari bandara. Meskipun dikenal sebagai kota yang ramai dengan aktivitas perdagangan yang signifikan, bandara kota Zaban berada cukup jauh dari pusat kota. Untuk sampai ke daerah perkotaan, mereka harus mengandalkan bus yang sesekali melintasi jalan atau menaiki taksi bandara yang tarif dasarnya membuat kantong jebol. Karena hari sudah benar-benar larut, mereka memutuskan untuk pergi ke kota dan mencari tempat menginap – namun semua rencana itu berubah saat Kurapika melihat perubahan terhadap rantai di jari telunjuk tangan kanannya. Batu biru jernih yang ada pada ujung rantai itu perlahan berubah warna menjadi merah pucat.
"Kuroro!" ia memekik nyaring, membuat Kuroro kontan terkejut. "Bola mata merah… bola mata merah ada di sekitar sini!"
"Kau yakin?" tanya Kuroro. "Apakah kau dapat memperkirakan letak keberadaan bola mata merah itu? Mungkin arahnya atau sesuatu yang lain yang bisa menjadi petunjuk."
"Aku tidak tahu pastinya…" Sejenak Kurapika kelihatan ragu. "Kau tahu 'kan satu-satunya petunjuk yang bisa diperlihatkan oleh rantai ini hanyalah deteksi keberadaan bola mata merah dalam radius 1 kilometer, dan tak lebih dari itu."
"Yah, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, rantai itu memang tidak berguna."
"Diamlah," balas Kurapika, sembari memutar-mutar pergelangan tangannya, melihat apakah yang dilakukannya itu bisa menimbulkan perbedaan terhadap intensitas warna merah pada batu di rantai tersebut.
"Kalau sudah begini, kau pasti bersikeras untuk mendapatkannya malam ini juga," Kuroro berkata penuh sesal.
"Tentu saja," Kurapika berucap tegas. Ia mengayunkan rantai pendek di jari telunjuknya itu, dan sekilas melihat perubahan kepekatan warna pada batu di ujungnya. Ia merasa senang. "Kurasa aku sudah menemukan sebuah petunjuk."
"Apa yang kau temukan?" tanya Kuroro.
"Lihat, ketika kuarahkan tanganku ke arah hutan yang ada di sana, bercak merah pucat pada batu yang tersemat di rantai ini langsung berubah menjadi warna merah pekat, pertanda ke sanalah kita harus mencari. Aku yakin, bola mata sukuku berada di suatu tempat di dalam hutan itu."
"Begitu, ya…"
Kuroro yang semakin mengenali sifat keras kepala Kurapika selama perjalanan mereka langsung paham bahwa hasrat menggebu-gebu Kurapika untuk segera menemukan bola mata suku Kuruta tersebut tidak bisa dibantah. Sang Dancho tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, kita akan menyusuri hutan itu dan mencarinya," Kuroro berkata, membuat raut wajah Kurapika langsung berubah. "Tapi… apa konsekuensinya jika ternyata firasatmu salah?"
Kurapika tampak menimbang-nimbang sejenak, lalu akhirnya bersuara, "Aku tidak akan menanyakan soal Ryuuseigai lagi padamu, dan aku tidak akan memaksamu untuk mencari bola mata merah ke tempat itu bersamaku."
"Bagus." Kuroro tampak terkejut sekaligus senang dengan konsekuensi pilihan Kurapika yang tak disangka-sangka olehnya tersebut. "Pilihan yang jitu. Ayo."
Kurapika dan Kuroro lantas menyusuri hamparan hutan di hadapan mereka. Sekilas, mencoba untuk memasuki wilayah hutan yang betul-betul gelap hanya dengan bermandikan sinar rembulan terkesan sangat konyol. Namun, jika hal itu dilakukan oleh seorang pemimpin dari Gen'ei Ryodan dan seorang Blacklist Hunter yang piawai dalam memainkan rantai Nen-nya, mendadak tidak mustahil juga kedengarannya. Mereka berdua sudah terbiasa dengan berbagai jenis medan pertempuran – di lain sisi, keduanya juga cerdas. Mengacak-acak seluruh isi hutan tanpa penerangan mungkin hanya secuil kasus bagi mereka. Kurapika juga sudah menjalani kejadian serupa di ujian Hunter tahap keempat, saat seluruh peserta ujian diminta untuk mengambil papan nomor peserta lain yang merupakan target mereka, dengan tentu saja mempertahankan papan nomor mereka sendiri untuk bisa lulus dalam ujian. Mereka bergumul dengan liarnya hutan Pulau Zebil yang dicekam oleh kegelapan malam – dan Kurapika berhasil melewati fase tersebut.
Mereka berdua telah memasuki setengah bagian dari hutan tersebut, hingga tiba-tiba terdengar suara gemerisik yang ricuh di sekeliling mereka. Kurapika segera mengeluarkan Dousing Chain miliknya, sementara Kuroro tetap tenang dan merasa yakin dengan tangan kosong, jadi ia sama sekali tidak mengeluarkan kekuatan Nen-nya.
Tiga butir peluru ditembakkan ke sisi kiri Kurapika – dan langsung ditangkis oleh pemuda berambut pirang itu dengan rantainya. Ia menghempaskan rantai tersebut, kemudian menghindar dari dua tembakan berikutnya yang tidak diketahui dari mana asalnya dengan menjejakkan kaki dan membuat lompatan tinggi. Kurapika berlari maju tatkala melihat bayangan dua orang bersenjatakan pisau di balik semak-semak. Ia melancarkan tendangan dan pukulannya yang bertubi-tubi kepada para cecunguk tak dikenal itu, lalu Kurapika mundur sejenak – melihat reaksi dari dua orang di hadapannya yang sedang mencoba memulihkan diri akibat serangan yang dilakukannya.
Sementara Kuroro Lucifer cukup disibukkan oleh tiga orang berbadan besar. Mereka bertiga menyerang Kuroro dengan brutal, sementara Kuroro terlihat cukup percaya diri dalam membalas mereka. Meskipun demikian, kelihatannya orang-orang tak dikenal tersebut sudah cukup terlatih. Mata pisau mereka yang berkilau tajam tidak henti-hentinya menyerang Kuroro dengan lincah. Gerakan mereka juga tangkas dan terorganisir. Sudah pasti orang-orang profesional. Salah satu dari mereka lantas melakukan tendangan memutar berkecepatan tinggi, yang langsung ditangkis Kuroro hanya menggunakan satu tangan. Kemudian yang seorang lagi melompat, hendak menendang wajah Kuroro. Kuroro segera membelokkan serangan itu dengan tangan yang satunya – hingga tanpa sengaja membentur wajah seseorang dari kawanan tersebut hingga ia terjerembab. Kelihatannya enteng sekali. Walau pertarungan mereka sudah sejauh itu namun Kuroro sama sekali tidak mengeluarkan kemampuan Nen-nya, dan tiga orang di hadapannya tersebut bisa diimbanginya dengan baik sekali.
"Lambat," Kuroro mendesis. "Kekuatan kalian tanggung. Banyak gerakan yang tidak perlu. Apa kalian ingin membuatku tertawa dengan kemampuan seperti itu?"
Tiga orang dari komplotan itu serta-merta berubah berang. "Diam kau, bajingan!"
Mereka bertiga menyerang Kuroro bersamaan dengan satu serangan cepat, namun setengah detik sebelum itu Kuroro sudah menghindari gerakan mereka dan melompat ke belakang, mendarat mulus di tanah dengan kedua kakinya – seolah sepasang sayap terentang dari punggungnya. Sang Dancho itu menyeringai. Dingin.
"Yang benar saja…" salah satu dari ketiga orang tersebut bersuara seakan tak percaya, "dia… terbang?"
Disaat mereka lengah Kuroro langsung menendang wajah dan menghadiahkan pukulan bertubi-tubi ke bagian dada serta perut mereka hingga ketiganya langsung ambruk. Ia tersenyum puas sembari menepuk-nepuk jasnya yang berdebu.
"Jangan melamun!" ucap Kuroro, melihat manusia-manusia yang babak belur di hadapannya, lalu memandang Kurapika yang masih sibuk. "Kau belum selesai, Kuruta? Lama sekali, ya."
"Berhenti mengejekku!" Kurapika berteriak. Pengguna rantai itu sebenarnya tidak kewalahan dalam menghadapi lawan-lawannya, hanya saja ia belum menemukan celah untuk memenangkan perkelahian. Dua orang di depannya itu benar-benar keras kepala.
Kurapika memproteksi dirinya sendiri dengan menggunakan rantai, lalu mulai menyerang lawannya dengan tendangan bertubi-tubi. Salah satu dari mereka melayangkan pukulan, yang langsung ditangkis Kurapika dengan siku kirinya – kemudian Kurapika menghindar dari tinju salah seorang lagi dengan cara memiringkan tubuhnya. Kurapika menjejakkan kakinya di tanah tanpa hambatan, lalu melancarkan serangannya kembali dengan melakukan tendangan tanpa henti. Beberapa tendangannya berhasil menghantam dagu dan perut dari kedua orang tersebut, hingga mereka memuntahkan darah. Kuroro yang mengamati dengan manis di pinggir tampak kagum.
"Lumayan," pujinya dengan nada meyakinkan. "Tapi lebih baik lagi kalau kau mengincar area ulu hati atau jantung. Pasti hasilnya lebih baik dari yang barusan."
"Berisik!" cecar Kurapika sembari menangkis serangan dari salah satu lawannya yang berhasil bangkit. Ia kesal karena Kuroro lebih memilih jadi penonton setia alih-alih membantunya, sebab ia yakin masih ada satu orang lagi dari komplotan ini yang bersembunyi – bersenjatakan pistol, menurut intuisi Kurapika. Ditambah lagi diantara lima orang yang bersama mereka saat ini, tidak ada yang menggunakan senjata jarak jauh itu. Mereka semua menggunakan pisau.
Pasti ada seekor lagi, batin Kurapika yakin pada dirinya sendiri. Kalau tidak, darimana asalnya rentetan peluru yang menyerangku saat pertama tadi?
Sebetulnya, lagi-lagi tanpa disadari oleh Kurapika, Kuroro telah mengetahui semua itu. Ia tahu bahwa ada seorang lagi di antara orang-orang tak dikenal itu yang belum menampakkan diri. Kuroro menduga orang yang menggunakan pistol tersebut pastilah sang pemimpin perkumpulan – kemungkinan terlatih sejak belia sehingga kemampuannya untuk menyembunyikan hawa keberadaan sangatlah hebat. Maka, selagi Kurapika bertarung, ia melihat-lihat keadaan sekitar, mencari pemimpin yang sepertinya beringas itu.
"Sulit juga menemukannya," ucap Kuroro, sembari mengedarkan pandangan berkeliling. Dengan kemampuan matanya yang sudah cukup terbiasa untuk dipakai melihat dalam keadaan gulita, Kuroro mampu menangkap bayangan hitam seseorang, lengkap dengan siluet pistol .44 Magnum yang tergenggam di tangannya. "Ah, ternyata tidak juga."
Kuroro melesat secepat angin hendak meringkus sosok bayangan tersebut – yang ketika semakin dekat semakin jelas bahwa itu adalah sosok seorang pria tinggi besar berpakaian serba hitam. Ia tampak luar biasa terkejut tatkala melihat seorang pemuda tampan hendak mengejarnya. Ia berpikir persembunyiannya sudah sempurna.
"Aku menemukanmu."
Suara desingan tembakan peluru terdengar jelas. Sang pemimpin komplotan yang panik tanpa pikir panjang langsung menembakkan .44 Magnum miliknya ke jantung Kuroro, namun Dancho itu langsung menghindar dan mematahkan leher pria tersebut. Kuroro tersenyum puas. Namun kemenangannya harus memakan korban.
Kurapika jatuh terduduk sembari memegangi pinggang kirinya yang bersimbah darah. Sebutir peluru yang ditembakkan barusan ternyata mengarah lurus kepada lelaki berambut pirang itu, namun Kurapika berhasil menyingkirkannya dengan menggunakan Dousing Chain. Fatal bagi Kurapika, konsentrasinya terpecah saat Dousing Chain tidak melindungi bagian tubuh sebelah kirinya karena digunakan untuk menangkap peluru – dan itu membuka peluang bagi salah satu dari lawannya untuk menghunjamkan pisaunya ke bagian pinggang Kurapika. Lukanya cukup dalam. Jika Kurapika tidak segera tersadar dan menangkis tangan lawannya itu, mungkin pinggang Kurapika betul-betul akan robek karena pisau itu ternyata betul-betul tajam. Darah tak henti-hentinya menetes, tetapi bukan Kurapika namanya jika ia menyerah sekarang.
Kurapika segera mengeluarkan sebuah rantainya yang lain – Holy Chain, untuk segera mengobati luka tubuhnya. Dengan sisa tenaganya, Kurapika mencoba terlibat dalam pertarungan lagi, tapi kali ini Kuroro segera menghentikannya dengan langsung mematahkan leher milik lawan-lawannya. Kurapika terperanjat melihat semua teknik itu.
"Sudah cukup," Kuroro berkata. "Pertarungan sebegini ringan saja bisa membuatmu terluka, jadi kusimpulkan kau memerlukan bantuanku. Tenang saja, aku tidak membunuh mereka. Mereka hanya akan… yah, mungkin tidur pulas untuk sementara waktu."
"Aku bisa menyelesaikannya sendiri! Aku tidak butuh bantuanmu!" sergah Kurapika kesal. Bola mata merahnya bersinar menembus kegelapan hutan. Untuk sejenak, sekali lagi Kuroro terpaku menatap keindahan sepasang mata milik keturunan terakhir dari suku Kuruta itu. Begitu menghanyutkan baginya.
"Aku menolongmu bukan karena aku mau, tapi karena kau membutuhkannya," ucap Kuroro. "Lebih baik kau pikirkan soal lukamu. Itu lebih penting."
Kurapika mengalihkan pandangannya ke pinggang kirinya yang terluka parah – berdenyut nyeri tanpa henti. Sepertinya Holy Chain milik Kurapika tidak bekerja dengan baik, luka itu baru sembuh sekitar 50%. Mungkin karena kekuatan aura Kurapika melemah. Kurapika merasa ada yang salah dengan dirinya, begitu pula halnya dengan Kuroro.
"Kuruta?" tanyanya sambil menatap Kurapika. "Wajahmu pucat. Kau baik-baik saja?"
Kurapika tidak menjawab. Ia menggenggam kuat ilalang di sekitarnya hingga tercabut. Tetesan darah terus menerus membasahi tanah.
"Ada apa?"
Kurapika merasakan sekujur tubuhnya lemas. Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Tepat sebelum Kurapika jatuh ke tanah, Kuroro menangkapnya. Nice catch.
"Yang benar saja…" Kuroro berujar dengan nada sedikit meledek. "Kau hemophobia, 'kan?"
Kurapika langsung melotot. "Mana mungkin aku seorang hemo–"
"Jangan menipuku." Kuroro mengenggam lengan Kurapika yang mengejang. "Darah ini… kau takut melihatnya, 'kan?"
"Lepaskan tanganku!" jerit Kurapika lantang sembari menarik tangannya sekuat tenaga hingga genggaman Kuroro terlepas. Ia kembali mencoba memfokusnya auranya pada Dousing Chain untuk menyembuhkan luka di pinggangnya. Berhasil. Meskipun belum sembuh total, tapi luka itu telah tertutup sekitar 90%.
"Kau tidak mau mengakuinya, tidak masalah bagiku. Tapi aku tahu kau memang takut. Aku bisa melihatnya dari gerak-gerik tubuhmu, apalagi matamu. Sudah kukatakan kau itu hanya pembohong rendahan, Kuruta."
Kuroro memungut senjata yang digunakan oleh pemimpin komplotan yang telah mereka habisi, lalu secara sengaja membidikkannya ke arah Kurapika. Kurapika menatap Kuroro tajam.
"Apa maumu?"
"Aku ingin melihat ekspresimu lagi saat melihat darah mengucur deras dari tubuhmu, lalu dengan susah payah menangkis anggapanku kalau kau adalah seorang hemophobia. Jadi, pinggang yang sebelah kanan, atau mungkin pinggang sebelah kiri, ya?" Kuroro tampak menimbang-nimbang. "Yah, walaupun mungkin tidak akan terjadi apa-apa karena bisa saja peluru di pistol bodoh ini sudah habis."
"Apa kau bercanda? Itu Desert Eagle kaliber .44 Magnum, amunisinya berjumlah delapan butir. Tiga sudah ditembakkan saat awal pertarungan, dan satu sempat hampir mengenai jantungku. Berarti masih tersisa empat buah peluru lagi. Sungguh bodoh menyiakan-nyiakan senjata sebagus itu hanya untuk membuat pelurunya menyerempet pinggangku," cecar Kurapika.
Mengagumkan, Kuroro terpana sejenak. Ia memang berpengetahuan luas. Tak kusangka bocah ini akan langsung mengenali pistol di tanganku ini hanya dengan sekali pandang. Apalagi sepertinya .44 Magnum ini dibuat dengan desain yang khusus. Benar-benar menarik.
"Daripada membicarakan soal fobia yang tak masuk akal itu, lebih baik kita segera kembali ke rencana awal," imbuh Kurapika, sembari memperhatian perubahan warna yang semakin menguat pada batu di ujung rantainya. "Sepertinya kita semakin dekat dengan bola mata merah. Ayo, lewat sini."
Sebelum mengikuti langkah Kurapika, Kuroro Lucifer membuang .44 Magnum di tangannya setelah mengosongkan pelurunya. Ia tipe orang yang enggan menggunakan pistol sebagai senjata andalan. Mereka kembali menyusuri hutan tersebut di bawah sinar bulan yang meredup tertutup awan, hanya dipandu oleh rantai dengan batu khusus pemberian Serafita Kalina yang akan menuntun mereka entah ke mana.
"Menurutmu siapa mereka itu?" tanya Kurapika, merujuk kepada komplotan bersenjata tadi.
"Pencuri. Zaban pun tak jauh berbeda dengan York Shin, kau tahu. Mereka yang memiliki tingkat ekonomi rendah di kota sebesar ini akan segera kehilangan akal sehat lalu menghalalkan segala cara," jelas Kuroro.
"Mereka pasti sudah punya jam terbang yang baik. Bisa kau lihat sendiri koordinasi gerak mereka cukup terlatih."
"Apa kau memuji mereka demikian karena salah satu dari mereka mampu melukaimu?" ledek Kuroro.
"Bukan itu," gerutu Kurapika pendek, membuat Kuroro tersenyum simpul.
"Aku sependapat denganmu. Mereka pasti senang karena bertemu dengan lawan tangguh sebelum akhirnya mati sadis."
Kurapika langsung menghentikan langkahnya. Tatapannya sepenuhnya mengarah sinis ke arah Kuroro.
"Tidak ada cara lain untuk menghentikan komplotan tadi selain dengan membunuh mereka, Kuruta," sahut Kuroro, spontan paham dengan apa yang dimaksud oleh Kurapika.
Kurapika membuang pandangannya, melanjutkan gerak kakinya dengan gontai. "Ya, aku tahu."
Semburat cahaya lampu tampak mulai menembus daun-daun pepohonan hutan yang rapat. Sebuah rumah mungil mereka berdua temukan di balik hutan ini. Semakin Kurapika mendekatkan rantai di jari telunjuknya, semakin pekat pula warna merah yang terlihat pada batu indah di ujungnya. Seperti gumpalan darah.
"Itu dia," Kurapika berujar. "Bola mata sukuku pasti tersembunyi di sana."
Tanpa ragu mereka berdua segera melangkahkan kaki menuju rumah tersebut. Kurapika langsung mengetuk pintu. Kurang lebih tiga menit kemudian, pintu itu terbuka dan tampaklah seorang gadis berpenampilan manis – berusia kira-kira sebaya Kurapika – berdiri di hadapan mereka. Suasana berubah canggung karena gadis itu sepertinya tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya menatap Kuroro dan Kurapika bergantian dengan penuh tanya.
"Selamat malam, Nona." Akhirnya Kurapika memberanikan diri untuk memecah keheningan. Lagipula dirinyalah yang tadi telah mengetuk pintu.
"Selamat malam," ucap gadis itu. "Maaf, saya rasa saya tidak mengenal kalian. Ada keperluan apa di waktu larut begini?"
"Begini, Nona. Apa bola mata mer—"
Namun Kurapika tak jadi menyelesaikan kalimatnya yang terlalu to the point itu karena Kuroro langsung menarik tangannya.
"Sebelumnya kami minta maaf karena kami berdua telah menganggu Nona. Kami baru saja tiba di kota Zaban dan sama sekali tidak mengenal daerah di sini. Tanpa sengaja kami tersasar ketika mencoba memasuki hutan. Semua uang kami habis dirampas komplotan pencuri. Yang tersisa tinggal pakaian yang kami bawa saja. Lalu kami menemukan rumah Nona di antara hutan belantara ini, kami merasa betul-betul terselamatkan. Kalau boleh, kami akan sangat berhutang budi jika Nona berkenan memperbolehkan kami untuk menginap di rumah Nona, untuk semalam saja. Setelah itu, kami akan segera hengkang dan mencari penginapan, tentunya setelah fajar datang. Apakah Nona bersedia menolong kami?" cecar Kuroro dengan kata-kata puitis yang membuat Kurapika langsung mual, lengkap dengan senyuman manis yang akan membuat hati wanita sekeras batu pun seketika luluh.
Betapa bodohnya. Memangnya dengan sandiwara seperti itu, gadis ini langsung percaya dan mengizinkan kita menginap? Mustahil, Kurapika membatin. Namun ketika melihat reaksi dari gadis tersebut, mau tak mau Kurapika harus menarik kembali semua kata-katanya.
"Tentu, tentu saja kalian boleh menginap! Pencuri di kota Zaban ini memang tidak berperikemanusiaan. Turis seperti Tuan-Tuan pun jadi kena getahnya. Silakan masuk! Rumah ini sedikit sempit, tapi kuharap kalian nyaman bermalam di sini. Tinggallah selama kalian mau!" seru gadis manis berkepang dua itu sembari membuka pintu lebar-lebar, seolah dengan bangga hendak memperlihatkan isi rumahnya. "Jangan malu-malu, anggaplah rumah sendiri!"
Kuroro dan Kurapika langsung berpandangan. Heran.
"Ternyata dia polos sekali," Kuroro berbisik.
Kurapika mengangguk. Sedikit mirip dengan Gon, pikirnya.
Mereka berdua lalu memasuki rumah mungil tersebut tanpa ada tatapan curiga sama sekali dari gadis tersebut. Seperti yang terlihat dari luar, rumah itu tampak sederhana dengan keseluruhan hampir terbuat dari kayu, tentunya sudah dipernis. Hanya tampak sebuah ruang makan, dapur, dua buah ruangan yang kelihatannya kamar, serta satu ruangan kecil berupa toilet. Kemudian ada tangga kayu tepat di samping salah satu kamar yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Setelah menutup pintu depan sembari tetap mempersilakan Kuroro dan Kurapika untuk jangan sungkan, gadis itu pun masuk ke salah satu kamar lalu keluar sembari membawa banyak kain, sepertinya setumpuk seprai dan selimut.
"Maaf, apakah kedatangan kami jadi merepotkan Nona? Biar kubantu," ujar Kurapika sopan, namun gadis itu langsung menggeleng keras.
"Tidak usah, kalian duduk saja. Pasti kalian lelah karena baru sampai di sini, tersesat dan menghadapi sekumpulan pencuri pula. Aku akan membereskan kamar untuk kalian sebentar," tolaknya seraya langsung menaiki tangga menuju lantai atas dengan bersemangat. Kurapika tertegun melihat sikap gadis itu.
"Benar-benar polos, ya." Kuroro tertawa kecil. "Kalau kita memang berniat jahat pasti dia sudah celaka."
"Aku heran kenapa ada seorang gadis tinggal di tengah hutan seperti ini. Kelihatannya ia hidup sendirian," balas Kurapika. Ia lantas memeriksa lukanya yang kini tinggal menyisakan bekas panjang seperti parut di pinggang kirinya. Kuroro diam-diam mengamati pemuda Kuruta itu.
"Lukamu bagaimana?"
"Sudah lebih baik," ucap Kurapika. Cepat-cepat ia merapikan robekan pakaiannya agar sedikit menutup bagian tubuhnya yang terluka. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. "Oh ya, Kuroro, kenapa kau melarangku untuk mengutarakan maksud kedatangan kita yang sebenarnya pada gadis itu? Bukankah lebih baik kalau urusan kita lebih cepat selesai?"
"Kau benar-benar aneh. Kita datang mengganggunya di waktu semalam ini dan langsung memburunya dengan pertanyaan semacam itu? Terlalu terburu-buru pun hanya akan menghasilkan nol, camkan itu," tandas Kuroro dingin.
Kurapika sontak membuang muka. Kesal.
"Jadi… apa memang betul-betul ada bola mata merah di rumah ini?" tanya Kuroro.
Belum sempat Kurapika memeriksa rantainya yang tadi ia sembunyikan, gadis itu sudah turun dengan senyuman lebar.
"Kamar kalian sudah siap. Ada di lantai atas. Oh ya, aku belum tahu siapa nama kalian," ujarnya, lalu ia menarik salah satu kursi di meja makan – mengisyaratkan Kuroro dan Kurapika untuk ikut duduk mengobrol di situ. "Aku Primrose Annamarie. Kalian?"
Kurapika melirik ke arah Kuroro, antara ingin menyebutkan nama aslinya atau tidak. Kuroro yang memahami arti pandangan Kurapika tersebut langsung mengambil alih pembicaraan. Dia lebih memilih menyebutkan nama asli karena kemungkinan gadis tersebut untuk mengenal mereka sangat kecil.
"Kuroro Lucifer," ujarnya canggung.
"Namaku Kurapika," Kurapika mengikuti, tak kalah canggung.
"Kalian sudah pernah ke kota Zaban sebelumnya?"
"Belum," kata Kurapika berbohong. Zaban adalah kota pertama dari ujian Hunter yang sudah tuntas dilaluinya.
"Begitu ya, jadi ini yang pertama kalinya buat kalian…" ujar gadis bernama Primrose itu. "Wajar saja kalian tidak tahu menahu tentang komplotan pencuri yang ada di sekitar hutan ini. Yah, tapi bisa dibilang, berkat kehadiran mereka, aku jadi aman tinggal di sini."
Alis Kurapika bertaut. Aman?
"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya lelaki 'cantik' berambut pirang itu.
"Tentu, silakan."
"Kenapa kau tinggal di dalam hutan seperti ini? Tidak cocok untuk seorang perempuan sepertimu – apalagi dengan banyaknya gerombolan pencuri. Melihat keadaan di rumah ini, bisa kusimpulkan kau juga tinggal seorang diri. Bagaimana semua itu bisa membuat situasimu menjadi aman, Nona Primrose?"
"Ah, tidak usah formal. Panggil aku Primrose saja," ujar gadis muda itu bersahabat. "Bagaimana ya… aku tidak tahu pastinya, tapi yang jelas mereka tidak pernah menggangguku. Aku tidak paham apakah karena aku sudah lama tinggal di sini ataukah mereka hanya mencoba mencuri dari orang-orang asing seperti kalian. Jadi, walaupun sekarang aku hidup sendirian di rumah ini, tidak menjadi masalah bagiku."
"'Sekarang'?" ulang Kuroro.
"Ya. Dulu aku hidup bersama ayah dan adikku, tapi mereka sudah meninggal karena sebuah kecelakaan tragis. Sedangkan ibuku sudah lama meninggal ketika melahirkan adikku." Primrose menyeka setitik air mata di pelupuk matanya.
"Aku turut berduka," ucap Kurapika pelan. Ia paham betul apa yang dirasakan oleh Primrose – bagaimana rasanya kehilangan.
"Ah, kenapa suasananya jadi sedih begini? Itu 'kan masa lalu, masa lalu! Kita harus bergembira untuk menyongsong masa depan!" Primrose bangkit dari kursinya, menuju dapur mungil yang berada di sisi kiri ruang makan. "Oh ya, apa kalian sudah makan? Mau kumasakkan sesuatu?"
"Tidak usah repot-repot," Kurapika cepat-cepat berkata.
"Tidak jadi soal. Aku sendiri juga belum makan malam. Bagaimana?" tawar Primrose.
Karena melihat mata Primrose yang begitu berbinar-binar, Kurapika jadi sungkan untuk menolaknya. "Baiklah. Maaf kami sudah menyusahkanmu."
Primrose hanya membalas kata-kata Kurapika dengan seulas senyum manis dan segera membuat sesuatu di dapur.
"Aku rasa sepantasnya aku mengganti pakaianku dulu," Kurapika berujar. Tanpa menunggu tanggapan dari Kuroro (ia tahu pasti Kuroro mendengar ucapannya), Kurapika langsung menaiki tangga. Ruangan di lantas atas ternyata jauh lebih sempit seperti loteng. Hanya ada satu ruangan di sana yakni sebuah kamar. Kurapika membuka pintunya, dan untuk sejenak ia menghela napas karena menyadari situasi di hadapannya akan segera membuatnya naik darah – hanya ada satu tempat tidur di situ.
Dengan kesal ia menghempaskan tasnya ke atas kasur. Itu berarti malam ini ia harus berbagi tempat tidur dengan Kuroro. Kurapika bergidik ngeri membayangkannya. Atau ia harus menyabotase tempat tidur itu untuk dirinya sendiri? Kurapika tambah kalut.
Pemuda Kuruta itu menyentuh bekas luka di pinggangnya. Ia menatapnya nanar.
"Benar-benar kebetulan yang jenius," gumam Kurapika pada dirinya sendiri dengan nada sinis. "Kenapa harus di tempat yang sama…"
Kasur yang lembut membuat Kurapika ingin berbaring. Ia menguap beberapa kali. Lelah dan mengantuk. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur – bagaikan seorang perenang handal yang mengambil napas panjang di tengah lomba, Kurapika berharap bisa sejenak beristirahat dari semua 'petualangan' sebelum nanti menukar pakaiannya.
"Kuruta, kau sudah selesai mengganti pakaianmu? Makan malam sudah siap." Kuroro mengetuk pintu kamar. Karena tak ada respon, ia pun perlahan masuk. "Kuruta?"
Mau tak mau Kuroro harus mengulum senyum ketika melihat Kurapika tertidur dengan posisi miring menghadap ke kanan – ke arah pintu. Lelaki berambut hitam legam itu menatap dalam-dalam tubuh mungil Kurapika. Bahkan ia belum menukar pakaiannya, pikir Kuroro. Kelelahan, ya?
Kuroro mengguncang lembut lengan kiri Kurapika, berusaha membangunkannya. Namun karena mungkin terlalu letih, Kurapika menjadi sulit untuk dibangunkan. Oh ayolah, batin Kuroro lagi. Pandangan matanya beralih dari wajah 'cantik' di depannya ke robekan pakaian di pinggang Kurapika. Sesaat, Kuroro Lucifer terperanjat melihatnya. Bahkan ia tak bisa menahan jemarinya untuk mengusik kulit halus sang pengguna rantai yang sekilas bisa dilihatnya diantara kain yang tercabik itu.
"Ini 'kan…" Kuroro langsung menatap paras Kurapika yang masih tertidur pulas. "Jangan-jangan dia…"
New original character, new place, new case, new adventure. Everything's turning to as complicated as horror, isn't it? *fainted*
Special thanks for bellissima-kirei, Sends,Kay Lusyifniyx, reiyana, Chaos Seth, govinda noia, ChainOfFire, RedMahlova, KuroPika X, Yellow dress, Vina, ginryuumaru, Kei Tsukiyomi, seiya aya, Miss blue, and Guest for reads, reviews, and even for the flames, arigatou... it means everything for me.
Thank you for everyone who always waiting for this fic, I'll do my best to continue it 'till the end!
And for this very-late-updated chapter, review please? :)
Enjoy your day, see ya on the next movement!
-Azumaya Miyuki-
