Title: Bitter Sweet Love

Author: failedssaeng & heeyeoreumi

Genre: Angst Romance

Pairing: Shim Changmin x Cho Kyuhyun~ ChangKyuisREAL! :p

Cast: Shim (Siwon, Heechul, Changmin) Cho (Yunho, Jaejoong, Kyuhyun) Lee (Yoochun, Junsu, Sungmin) and other cast

Rating: M / NC21

Warning: typo, OOC, GS, BoysLove / Yaoi, MPreg, creepy bahasa!

Chapter 6

[background music: 2AM – I wonder if you hurt like me]

#AuthorPOV

"hey Kyu, gwenchana?"

Kyuhyun hanya diam, jantungnya berdebar kencang. Mungkin bila tak ada Changmin ia sekarang sudah masuk rumah sakit karena pot bunga itu. Tapi tak butuh waktu lama wajah pucat Kyuhyun berubah menjadi merona merah, ia baru sadar bila ia masih ada di dalam pelukan Changmin.

Kyuhyun hanya mengangguk, mengisyaratkan Changmin bahwa ia baik baik saja.

"mau aku antar ke ruang kesehatan? atau mau aku antar pulang?" Tanya Changmin khawatir. Changmin jelas sadar kejadian tadi adalah bukan keisengan para siswa siswi Toho High School, kejadian tadi murni di sengaja, sengaja untuk melukai kekasihnya.

"eung, gwenchana hyung.. nan gwenchana.. aku mau kembali ke kelas saja.."

"arra" Changmin mendesah pelan, kecewa. Kenapa kekasihnya ini masih ingin belajar dengan kondisi yang seperti ini? Apakah dia takut tertinggal pelajaran? Untuk apa? toh kekasihnya ini sama genius nya denga dirinya. Buktinya Kyuhyun mampu mengikuti program akselerasi dan belajar dengan nuna nya, Sungmin.

Tanpa banyak bicara, Changmin mengambil beberapa buku Kyuhyun yang berserakan di lantai dan menarik pelan tangannya. Kyuhyun hanya tersipu malu, menunduk karena tindakan Changmin. Changmin mengantarkan Kyuhyun sampai ke kelasnya, ah bukan, lebih tepatnya tempat duduknya.

Changmin membungkukkan badannya, sehingga kini kepalanya kini berada di sebelah kepala Kyuhyun

"beritahu aku bila ada sesuatu, aku akan segera menemui mu. Ingat, aku menyayangimu.." bisik Changmin

"eung.." Kyuhyun kembali menundukkan kepalanya, sungguh hari ini banyak hal – hal yang membuat hati nya berdebar, sudah lama ia tak menerima perlakuan manis dari Changmin. Mungkin sebentar lagi dia akan diabetes karena terlalu senang menerima perlakuan Changmin.

Changmin tersenyum melihat Kyuhyun yang mati – matian menyembunyikan wajahnya nya karena malu. Changmin mengacak pelan surai lembut Kyuhyun lalu kembali memasang wajah stoic nya yang kaku nan dingin, tak aka nada yang berani mendekati seorang Shim Changmin ketika ia sedang mengeluarkan aura pembunuh seperti ini. Changmin mengedarkan matanya ke seluruh penjuru kelas, dan menemukan Sungmin yang tersenyum tulus padanya. Tak tau kenapa, Changmin ikut tersenyum melihat hal itu, tapi senyumannya lebih tampak seperti seringai seorang mafia di banding senyum tulus. ia pun berlalu keluar dari kelas Kyuhyun.

#ChangminPOV

Hilang sudah niatku untuk belajar, aku geram, marah, kesal! Kalau aku tetap berada di sini, bisa – bisa Toho High School rata dengan tanah! Kulangkahkan kakiku menuju kuda besiku dan langsung melaju menuju Shim Palace, Hotel ku yang berada di pusat kota Gangnam. Aku butuh Daiki sekarang.

Saking terburu - burunya, sampai – sampai aku menyerobot valey (tau valey kan? Valet parking) tamu hotel. Tamu hotel itu tampak akan memaki ku saat aku melemparkan kunci mobilku, tapi ia menghentikkan niat nya saat seluruh staff hotel kaget melihat kehadiranku dan langsung membungkukkan badan mereka, menunjukan rasa hormat mereka kepadaku.

"Hyung!" Minho? Apa yg ia lakukan disini?

"apa yang kau lakukan dsini? Bukankah kau seharusnya ada di Jepang?" aku hanya mengagguk membalas salam para staff hotel yang berpapasan denganku. Kulangkahkan kaki ku menuju lift khusus staff "ah sudahlah, kita akan bicara nanti okay? jangan menggangu ku untuk hari ini, bye!"

Aku menutup pintu lift, terlihat Minho ingin berkata sesuatu, tapi ia mengurungkan niatnya, mungkin karena melihatku keadaan ku yang tampak akan membunuh orang? Ah biarkan! Paling – paling bocah itu hanya berlibur di Seoul.

Aku berjalan seperti orang kesetanan, staff hotel pun hanya menunduk sambil membuka jalan untukku. Para tamu hotel pun secara otomatis mengikutinya. Tentu mereka tak kan mau berurusan dengan Shim Changmin bila mereka tak mau hilang bahkan mati secara mengenaskan.

Aku membanting pintu ruangan ku, sebenarnya ruanganku dan Daiki. Daiki yang terlihat sedang menerima telepon langsung mengalihkan pandangnnya terhadapku. "come in after one hour okay?" entah mengapa, setelah melihat wajah hyung ku yang satu ini, aku menjadi tenang. Ku langkahkan kakiku memasuki ruanganku. Kalian pasti bingung, bagaimana bentuk ruanganku. Simple, ruangan ku sama seperti layaknya apartment. Bedanya, apartment ini berukuran dua kali lipat lebih besar dari president suite yang ada di Hotel ini, ruang tamu nya pun sudah aku sulap menjadi ruang kerja ku, dan ketika kalian keluar dari ruangan ini, kalian tidak akan melihat koridor atau lorong, tapi kalian akan masuk kedalam kamar Daiki sebelum akhirnya bertemu dengan lift, dan lagi pula hanya aku dan Daiki yang mempunyai akses masuk ke lantai 88 ini, cukup besar bukan? Singkat cerita, di lantai 88 ini, hanya ada kamar ku dan kamar Daiki.

Ku lepas semua baju ku, dan kunyalakan keran bathtub. Kutenggelam kan diriku kedalam bathtub ku yang lebih terlihat seperti Jacuzzi ketimbang bathtub. Kejadian tadi masih terus terulalang dipikiranku. Aku tau banyak orang gila yang mengejar – ngejarku untuk menjadikan ku pacar mereka, namja maupun yeoja, mereka tak benar – benar menyukai ku, mereka hanya menyukai hartaku. Tapi aku tak habis pikir, siapa yang berani berbuat seperti itu? Dengan sengaja menjatuhkan pot bunga? Oh hell! Itu percobaan pembunuhan namanya!

#AuthorPOV

Merasa lebih baik, Changmin keluar dari bathtub dan mulai membersihkan dirinya. Ia mengambil t-shirt turtle neck hitam, celana jeans hitam, dan coat berwarna abu – abu. Kini Changmin tidak terlihat seperti siswa Toho High School lagi, namun tampak seperti eksekutif muda yang tentunya sangat tampan. Tak dipungkiri, bertahun – tahun appa nya menempanya menjadi businessman yang hadal membuat Changmin selalu memerhatikan penampilannya dimanapun ia berada.

Changmin membuka sebuah lemari yang berisi puluhan dasi, scraf, cincin, jam tangan dan aksesoris lainnya. Ia mengambil Patek Philippe Reference 1527 dan cincin baptis nya, lalu mengenakannya.

Saat Changmin hendak menutup lemarinya, tak sengaja ia melihat vas yang berisi bunga mawar merah yang terletak di sudut ruangan pakaiannya dan entah mengapa ia jadi mengingat perempuan yang melempar Kyunnie nya dengan pot bunga. Shit! Changmin membanting lemari tersebut dan memukul cermin yang tertempel di lemari tersebut, sehingga cermin tersebut pecah berantakkan. Penerus tunggal Shim Group ini memang tak pernah bisa mengedalikan emosinya bila ia menghadapi masalah yang berhubungan dengan kekasihnya.

"YAA BAKKA!" Changmin menoleh mendapati Daiki yang memasuki kamarnya dengan wajah panic melihat tangan Changmin berdarah. Changmin yang tadinya sudah siap melayangkan satu tinju lagi ke cermin tersebut, mengurungkan niatnya, dan hanya tersenyum lemah melihat hyung nya itu.

Daiki menarik Changmin dan mendudukannya di sofa yang terletak di ruang tamu. "wait a moment kay? I knew you are in a furious state but could you not break anything?! Geez~"

Changmin hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal dengan tangan kirinya, merasa bersalah eoh? Daiki mengambil beberapa handuk dari kamar mandi dan kotak P3K yang selalu ia simpan di laci meja nya.

Sekarang ruangan Changmin terlihat seperti tempat jagal, horror adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Lampu kamar yang redup, cermin yang pecah, darah berceceran dimana – mana, serta handuk yang penuh dengan darah segar. Cukup menyeramkan bukan?

Anehnya cincin baptis Changmin tak rusak sedikitpun, padahal tinju Changmin mampu merusakkan benda apapun. Sepertinya umma nya, Heechul, mengerti bahwa Changmin sering bertarung sama seperti appa nya, karena itulah Heechul selalu memberikan barang dengan kualitas terbaik. Dan karena cincin baptisnya jugalah, serpihan cermin itu tak terlalu masuk kedalam jari telunjuk Changmin.

"bakka! Why you hurt yourself like that?" omel Daiki saat mencabuti serpihan cermin yang menempel di tangan Changmin

"hyung, could you stop using English? bukankah dua bulan cukup bagimu untuk membiasakan diri berbahasa Korea? Berhenti menggunakan bahasa Inggris di hadapanku.."

"arra arra, but stop calling me hyung, I am your assistant!"

"hyung, tak ada appa disini, lagipula kau sudah ku anggap saudara sendiri, biarkan aku memanggil mu hyung.. okay? ouch! Pelan – pelan hyung!"

"stop calling me hyung Shim Changmin-sshi, or I'll not speak Korean"

"ne! arraseo Daiki-kun! Kau puas?"

"puas sekali" sahut Daiki sambil menunjukan senyum andalannya "aku tau kau benci di jahit, karena itu hentikanlah hobby mu yang barusan itu, ini kelima kali nya aku mengganti cermin atau kaca di kamar mu, apa kau mau menjadikan setiap barang di rumah mu ini sebagai samsak?"

"Daiki-kun.. ini bukan rumah ku, ini kantorku.." jawab Changmin yang sudah mulai kesal dengan kata – kata Daiki

"coba jelaskan padaku, kantor mana yang di dapurnya terdapat tiga kulkas?" sindir Daiki sambil menunjukan kulkas yang di maksud dengan dagu nya

"baik baik kau menang! Haaahh~ aku tak pernah bisa menang melawan mu!" desah Changmin sambil menyenderkan badannya di sofa hitam nya.

Daiki pergi memasuki ruangan pakaian Changmin dan kembali membawa kemeja berwarna baby blue dan sebuah blazer berwarna biru (inget blazer Minnie yg di pake pas duet just the way you are sama uri Kyunnie kan?) dan melemparkan pakaian tersebut ke arah Changmin

"ganti bajumu, aku tak tega melihat baju mu penuh darah seperti itu.."

"yaa! Kenapa malah mengasihani bajuku bukannya aku, kau ini!"

"salahkan tanganmu yang suka cari masalah~" sanggah Daiki santai "coba katakan padaku Max, kenapa kau jadi uring – uringan seperti ini?" ujar Daiki sambil menyerahkah nampan berisi air mineral, Americano dan morfin

"thanks.. hmm? Ini tentang Guixian, tadi pagi ada yeoja yang mau membunuhnya.." ujar Changmin dengan santainya

"mwo? Jinjja? Yaa! Siapa yang menyuruh mu menelan morfin dengan coffee? Telan itu dengan air mineral babo!" ujar Daiki sambil memukul sayang kepala Changmin

"aww, sakit! Arra arra, aku hanya lelah.."

"aku tau bukan tubuh mu kan yang lelah, tapi batin mu, pasti kau pusing memikirkan keselamatan kekasihmu kan? Sudahlah, kau harus menceritakan kejadiannya, kalau tidak bagaimana aku bisa melacak yeoja itu Max? pokoknya kau tak boleh tidur sebelum menceritakannya, dan kau tak boleh pulang sebelum mendatangani semua dokumen yang akan ku berikan padamu nanti" ucap Daiki sambil menunjukan seringai setannya

Damn! "haaahh~~ arra kau menang!"

#KyuhyunPOV

Aku tak henti – hentinya mendesah.. khawatir? Takut? Tak tau lah.. sejak kejadian tadi pagi, aku merasa seperti di hantui dan sepertinya semua orang melihat dan memperhatikan gerak – gerikku. Disinilah aku, di kantin bersama Sungmin nuna, sedari tadi ia berbicara tak henti – henti nya. aku mengerti dia ingin menghiburku, membantuku untuk melupakan peristiwa pot bunga itu, tapi tetap saja aku memikirkannya. Bila tak ada Changmin hyung, mungkin aku sekarang sudah ada di rumah sakit, atau yang lebih parahnya lagi, mungkin sekarang aku sudah terlelap dalam peti mati.

"Kyu-ah.. apa yang kau pikirkan hm? Kau masih takut? Atau kau merindukan Changmin oppa?"

"eoh?"

"ahahhaa aku bercanda Kyu~ atau kau benar – benar menyukai oppa hmm?" aku? Aku menyukai Changmin hyung? Mungkinkah?

"apa – apaan kau ini nuna! Sudahlah jangan bicara yang tidak – tidak.." ujarku tak enak padanya, aku tau Sungmin nuna menyukai ku, tapi entah mengapa aku hanya menyukai dia sebagai nuna, tak lebih. Sikapnya penyayangnya membuatku ingin melindungi nya.

"aku serius, aku tak mungkin mengalahkan apa yang sudah dilakukan oppa terhadapmu Kyu.." ujar Sungmin nuna sambil memberiku senyum terhangatnya

"maksud nuna?"

"kau sadar tidak, kenapa akhir – akhir ini hanya sedikit orang yang menjahili mu? Dan sadar tidak kenapa oppa selalu pulang dalam keadaan berantakkan, tangannya memar, seragamnya robek, bahkan tak jarang ada darah disana.." aku hanya mengangguk mendengarkan perkataan nuna "..itu bukan darah oppa"

"lalu?"

"jangan menyela aku saat aku berbicara Kyu.. itu bukan darah oppa, itu darah orang – orang yang menjahili mu. Oppa selalu melindungi mu Kyu-ah~ aku tak tahan mendengar kau selalu mengeluh jika Changmin oppa bersikap dingin padamu, mungkin itu karena ia lelah, lelah karena menghajar orang – orang yang menjahili mu Kyu.. ingat Zhoumi sunbae yang waktu itu menginjak kaca matamu kan? Changmin oppa menghajar nya sampai tulang rusuknya patah, dan sekarang dia masih dirawat di rumah sakit Kyu..

"mworago? Jinjja nuna?"

"ne.. aku tak bohong, aku cukup sering melihat oppa berkelahi di depan gedung lama sekolah ini.. jadi jika kau memang menyukai nya, aku rela Kyu.. karena dia pasti bisa menjagamu dengan baik. Kalau kau bahagia aku pasti bahagia, aku yakin itu.. kau menyukai nya kan?"

"mollayo nuna.." sungguh aku tak tau, aku malu untuk mengaku bila aku menyukai Changmin hyung, aku belum siap.

"arra, aku sudah tau, kau memang menyukainya.. kajja kita kembali ke kelas!" ujar Sungmin nuna dengan nada ceria sambil menarik tanganku menuju kelas.

Benarkah hyung seperti itu? Aku tau bahwa Changmin hyung menyukai ku, tapi aku tak berani membuka hatiku untuknya, aku takut dia pergi meninggalkan ku lagi seperti tujuh tahun lalu..

Bell berbunyi menadakan kegiatan belajar mengajar hari ini telah usai. Sungmin nuna berpamitan padaku, ia meminta maaf karena tidak bisa menemaniku menunggu Lee ahjussi karena ia harus membantu Junsu ahjumma menyiapkan pesta kejutan untuk Yoochun ahjussi.

Entah mengapa, hari ini Lee ahjussi lebih lama dari biasanya. Biasanya ia akan telat sekitar setengah jam, tapi ini sudah satu jam lewat aku berdiri di depan pagar sekolah. Sibuk dengan lamunan ku, aku tak menyadari ada sebuah van hitam berhenti di depanku.

#AuthorPOV

"Cho Kyuhyun-sshi?" eh? Siapa yang memanggil ku? Nampak seorang namja bertubuh tegap menghampiri ku

"ne, Kyuhyun imnida.. ada yang bisa saya bantu?" namja itu hanya menunjukan seringanya lalu tanpa aba – aba ia mengunci kedua tangan Kyuhyun dan menutup mulut Kyuhyun dengan sapu tangan. Kyuhyun yang sempat memberontak, akhinya terjatuh lemas karena efek obat bius.

"yaa Kangin! Ppalli! Bawa dia masuk kedalam van! Aku tak mau di ceramahi nyonya besar lagi!"

"diam kau Shindong! Sudah jalankan saja mobilnya!" ujar namja itu sambil menutup pintu van. Kemudian dia mengikat kaki dan tangan Kyuhyun. Setelah dirasa cukup ia mengeluarkan handphone nya dan menghubungi seseorang

"Nona, Kyuhyun-sshi sudah bersama kami.."

"…"

"baik Nona, kami akan menuju kesana.."

"…"

"arraseo.."

Pip!

"Shin, putar mobilnya, kita ke gudang penyimpanan" namja yang dipanggil Shindong pun hanya mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan oleh rekannya itu.

#SomeonePOV

Ddrrtttt

"…"

"ah baiklah, kerjamu cepat juga, bawa namja itu ke gudang.."

"…"

"okay, sampai bertemu disana dan usahakan kalian sampai duluan.."

"…"

Pip!

"kau akan mati Cho Kyuhyun, ku pastikan itu! Kau akan menerima balasan yang setimpal karena merebut Changmin oppa dariku! Siapkan dirimu! Ahahhahaaaa.." yeoja itu melajukan mobilnya sambil tertawa penuh kemenangan, memikirkan apa saja yang harus ia lakukan terhadap namja yang ia benci ini

#AuthorPOV

"ah Nona sudah datang?" ujar namja bernama Shidong

"bawakan tasku" dengan angkuhnya yeoja tersebut melemparkan tasnya kepada Shindong "dimana bocah itu?" Tanya nya lagi

"oh si Cho? Sedang di habisi oleh Kangin Nona.."

Tanpa aba – aba yeoja itu pergi meninggalkan namja gembul tersebut dan memasuki sebuah ruangan. Ia terus berjalan dan sesekali tersenyum mendengar suara namja yang ia benci berteriak kesakitan.

"berhenti Kangin-ah!"

"selamat datang Nona" ujar Kangin sambil membungkukkan badannya

"ne.. ne.." jawab yeoja dengan malas "sudah berapa lama kau menghajarnya?"

"kira – kira dari setengah jam yang lalu Nona"

"good, biarkan aku berbicara dengannya lalu kau boleh menyiksanya sepuas mu.. ahahhaa" yeoja itu berjalan menghampiri Kyuhyun sampai tepat berdiri di depannya "lama tak berjumpa Kyuhyun-sshi" ujar yeoja itu sambil mengangkat dagu Kyuhyun

Kyuhyun yang kesadarannya sudah menipis, tak tau bila ada orang lain selain namja yang memukuli nya tadi

"hey, bukankah tidak sopan bila tak memandang lawan bicara mu Kyuhyun-sshi? Ya kan?" Tanya yeoja tersebut dengan suara lembut, merasa tak dihiraukan yeoja tersebut kemudian mencengkram dagu Kyuhyun

"arrrghhh appo! Jinjja ap-appo!" Kyuhyun yang sedang terikat pada sebuah pilar kayu tak bisa melawan yeoja itu hanya mampu berteriak

"appo? LIHAT AKU CHO!" bentak yeoja itu "bukan kah sebulan yang lalu aku sudah memperingatkan mu untuk menjauhi Changmin oppa hmm? Kenapa kau keras kepala sekali sih?" ujar yeoja itu melepas cengkramannya di dagu Kyuhyun kemudian beralih menghapus darah segar yang mengalir di sudut kiri bibir Kyuhyun

"V-vic.. wae..? a-apahh salah hh-hahh k-ku..?" ujar Kyuhyun dengan nafas terengah – engah

"salahmu? Ahahhahhaaa banyak! Tapi yang paling membuat aku muak, kenapa Changmin oppa memilih mu yang notabene nya seorang namja kutu buku dibanding aku, yeoja popular di Toho High School!" Victoria melepaskan dagu Kyuhyun dengan kasar lalu berbisik kepada Kyuhyun "hidup dan mati mu berada di tangan Changmin oppa Kyu-ah~ bila dia benar – benar mencintaiku, ia akan menerima ku sebagai tunangannya.." Victoria tersenyum dan mengucapkan kata 'menangislah selama kau bisa' dengan mulutnya lalu mendorong hingga punggungnya membentur keras pilar kayu tersebut.

Victoria hanya mendengar rintihan pelan Kyuhun saat ia pergi meninggalkan ruangan tersebut, Ia puas, sangat puas dengan keadaan Kyuhyun sekarang. Tadi ia sempat mengambil foto Kyuhyun yang sedang di hajar habis – habisan oleh Kangin sebelum menghampiri Shindong dan menyuruhnya untuk menghajar Kyuhyun setidaknya sampai ia tak sadarkan diri. Kejam eoh?

Setelah mengambil tas jinjing nya dari Shindong, Victoria masuk kedalam Lamborgini nya lalu melaju pulang ke istana megahnya. Senyum tak henti – hentinya terulas di bibir merahnya, ia tak sabar untuk menjadi nyonya Shim.

Disisi lain Yunho dan Jaejoong sedang berangkat menuju Incheon airport. Di karenakan ada pertemuan mendadak, Yunho dan Jaejoong di haruskan sampai di Nagasaki, Jepang jam delapan malam, dan kebetulan lagi supir mereka pak Shin sedang mengambil cuti. Alhasil mau tak mau Yunho dan Jaejoong menyabotase supir Kyuhyun, pak Lee untuk mengantarkan mereka ke airport.

"tak usak terlalu khawatir Boo, kau tau kan anak itu bodoh.. mungkin batre handphone nya habis.. lagi pula kan ada Changmin, pasti dia bisa menjaganya, beritahu Changmin untuk menjemputnya saja" ucap Yunho yang menenangkan istri nya yang dari tadi sibuk sendiri dengan handphone nya

"tapi kedua nya tak bisa dihubungi bear~~ aku takut terjadi sesuatu pada Kyunnie.." rengek Jaejoong pada Yunnie nya

"mungkin Minnie sedang sibuk Boo~ dia kan juga harus mengurus hotelnya yang ada di Gangnam.. sudahlah, nanti kita coba hubungi mereka lagi setelah sampai di jepang oke?"

Bila sudah seperti ini Jaejoong tidak bisa berbuat apa – apa, ia hanya menuruti suami nya memasuki airport.

"yaa pemalas! Bangun! Sudah jam berapa ini? Kau sudah tidur tiga jam babo! Handphone mu berbunyi terus dari tadi, apakah kau tak mendengarnya?" omel Daiki sambil mengguncang – guncangkan badan Changmin

"duh you yah! Mengganggu saja! Aku tau kau baru lancar berbicara bahasa Korea, tapi bisakah kau berhenti mengatai ku? Apakah kau cuma tau kata babo eoh?" kata – kata Changmin hanya di balas ledekan oleh Daiki "haiss, arra! Lagi pula ini baru jam lima bakka! Apa salahnya aku tidur di tempat tidurku sendiri?"

"tidak ada yang salah dengan dirimu tidur di ruangan atau kamarmu ini Max, tapi masalahnya aku tak mau mendengarkan omelan mu bila kau melihat kamarmu masih berantakkan!" sanggah Daiki sambil mengacung – acungkan gulungan dokumen ke arah Changmin

"eh? Berantakan?"

"sepertinya tidur beberapa jam bisa membuat kau amnesia akut eoh? Lihat karpet mu! Darah kering dimana – mana, belum lagi serpihan cermin yang kau pecahkan~ "

"lalu kenapa kau tak membersihkanya selagi aku tidur?"

"kau lupa? Kau kan benci orang asing masuk ke kamar mu" ucap Daiki sambil menoyor (?) sayang kepala Changmin

"ahh.. gurae.. baiklah, aku mau mandi dulu. Tolong suruh seseorang membersihkan serpihan cermin yang ada di ruangan pakaian ku, aku mau ketika aku keluar dari kamar mandi, ruangan itu bebas dari pecahan kaca, untuk masalah karpet, bisa kan mereka menggantinya saat kita keluar untuk makan? Dan jangan lupa bawa dokumen – dokumen yang perlu aku tanda tangan.."

"arra Max.. arra.. aku sudah hafal kebiasaan mu, sudah sana mandi! Ku tunggu kau di ruanganku"

"ruanganmu?" pertanyaan itu hanya dibalas Daiki dengan lirikan ke aras tangan Changmin yang diperban "ah okay~ I get it, pai pai" dengan itu Changmin masuk ke bathroomnya, mengisi bathtub nya lalu menanggalkan pakaiannya. Ia masuk kedalam bathtub nya "aku butuh tidur sebentar lagi.." lalu ia menenggelamkan tubuhnya sampai air menyentuh dagu nya dan mulai terlelap.

Satu jam kemudian Changmin keluar dari bathroom nya menggunakan bathrobe, ia mengambil t-shirt merah marun, jeans berwarna biru dongker dan jaket kulit berwarna hitam lalu memakainya, ia melihat sekeliling ruangannya, sudah rapi dan bersih, yah kecuali cermin di pintu lemarinya, masih rusak.

Ia mengambil handphone nya yang terletak di atas King bednya dan keluar dari kamarnya, ia menemukan Daiki yang sedang berkutat dengan beberapa dokumen

"yow~~"

"owarimasuka? Kemari Max, aku akan mengganti perban mu" Changmin hanya menurut dan duduk di sofa seberang Daiki, Daiki mulai mengganti perban yang ada di tangan Changmin, dan Changmin pun sibuk dengan handphone nya

"aishh mati! Sudah selesai kan Daiki? Aku lapar.. dari siang tadi aku belum makan, kajja kita ke restaurant yang ada di bawah, dan bawa semua dokumen – dokumen itu, aku mau ke lobby menitipkan handphone ku ini, supaya mereka men-charge nya.. Oia, aku tak tau apa yang di lakukan Minho di Seoul, yang jelas usahakan agar anak itu tak mendekatiku, paling tidak untuk beberapa hari kedepan, oke? aku turun duluan yah~"

Tak lama setelah Changmin menaruh iPhone nya di lobby, Daiki datang menghampirinya lalu mereka pergi ke restaurant bersama – sama. Sebenarnya Daiki juga ingin makan malam, hanya saja melihat boss nya makan tanpa henti membuat nafsu makannya hilang. Hingga yang terlihat sekarang adalah Daiki hanya memakan sepotong Cheese Cake ditemani segelas Ice Capuccino. Siapa juga yang akan sanggup makan ketika di depanmu ada seseorang yang makan lima porsi bulgogi belum di tambah lagi dua porsi kimchi jigae dan seporsi nasi goreng, siapapun akan bergidik ketika melihatnya.

Selama di restaurant Daiki terus menjelaskan kepada Changmin apa yang terjadi di Hotelnya tersebut. Sesekali terlihat Changmin membaca sebuah dokumen atau menandatanganinya. Orang – orang yang melihatpun pasti akan kagum dengan Changmin. Bukan kagum karena keahlian atau ketampanan nya tapi kagum karena bagaimana bisa seseorang bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus? Bekerja sambil makan tanpa henti? Hanya Shim Changmin yang bisa melakukannya.

"bagaimana kalau kita berhenti sampai disini dulu, aku lelah Daiki-kun, lagi pula ini sudah jam Sembilan malam~"

"arraseo, mostly dokumen penting sudah selesai, sisanya aku bisa menyelesaikannya sendiri. Oh ya Max, apakah kau akan tidur di kamarmu atau pulang ke Cho Mansion?"

"kenapa hyung~? Kau kangen padaku eoh?" goda Changmin sambil menaik – turun kan alisnya

"haiss! This brat! Stop calling me hyung! Ani, aku hanya bertanya.. it's been a long time since we play games together.."

"hahhaha.. kau takkan menang dari ku Daiki~ mungkin besok aku akan kembali, tapi malam ini aku akan tidur di Mansion, aku ingin makan masakan Jaejoong ahjumma, entah mengapa aku merindukan masakannya.."

"arraseo, hati – hati di jalan ne? aku ke atas dulu.." Daiki pergi meninggalkan Changmin yang bersiap – siap untuk pulang, ia masih menunggu staff nya untuk mengambilkan handphone nya serta menyiapkan kuda besinya.

#ChangminPOV

Berapa lama yah handphone ini mati? Dua jam? Tiga jam? Entah lah.. tapi siapa juga yang mau menghubungiku, yang tau nomer ku hanya umma, appa, Kyunnie, Jae ahjumma, Yunho ahjussi, dan Daiki, tak ada lagi yang tau nomer handphone ku. Kunyalakan iPhone ku, dan betul kata Daiki, ada 10 miscall dan 3 pesan dari Jae ahjumma. Kubuka pesan itu satu – satu, ah.. ternyata Yunho ahjussi dan Jaejoong ahjumma sekarang berada di Jepang dan tadi mereka berangkat bersama driver Lee. Eoh? Aku di suruh menjemput Kyunnie? Tapi ini kan sudah jam Sembilan malam. sudahlah, pasti Kyunnie sudah pulang menggunakan taxi, lebih baik aku pulang saja. Tapi.. mengapa perasaan ku tak enak?

Perjalanan dari Gangnam menuju Mapo memang tak terlalu jauh, tapi tetap saja aku khawatir. Pasalnya aku tak bisa menghubungi handphone Kyunnie sama sekali. Sesampainya di daerah Mapo aku langsung mempercepat kuda besi ku, aku ingin cepat sampai ke Mansion, sekarang aku benar – benar takut, takut sesuatu menimpa Kyunnie ku.

Kuparkirkan asal Ferrari ku, lalu masuk kedalam Mansion. Kebiasaan Jaejoong ahjumma, ia selalu memanggil seluruh maid nya, ketika ia dan Yunho ahjussi sedang tidak berada di rumah. Ada sekitar dua belas maid yang menyambutku saat aku masuk kedalam Mansion.

"apa Kyu sudah pulang?"

"..maaf Changmin-sshi, tapi Kyuhyun-sshi belum pulang dari tadi sore.."

"satu pun dari kalian tak ada yang tau dimana dia?" suaraku mulai meninggi, menandakan aku marah, lebih tepatnya aku panic

"mi-mianhamnida Changmin-sshi, kami tidak tau.." ujar seorang ahjumma sambil menunduk, tak berani melihatku

"arraseo!" kulangkahkan kaki ku keluar Mansion, menuju kediaman keluarga Lee. Tak butuh waktu lama Junsu ahjumma membukakan pintu rumah nya

"eh? Changmin? Ada apa? tumben malam – malam berkunjung.. ayo masuk!" ujarnya sambil menyuruh aku masuk

"ah ne ahjumma, apakah Sungmin ada? Aku hanya sebentar, hanya ingin menanyakan sesuatu"

"Ming? Ada, dia ada di dapur, sebentar ne?" Junsu ahjumma pergi meninggalkan ku yang berdiri sendirian di ruang tamu. Lalu muncul lah Sungmin lengkap dengan pisau di tangan kananya

"sebesar itukah kebencian mu terhadapku sampai – sampai kau mau membunuhku Sungmin-ah?" tanyaku padanya sambil berpura – pura menunjukan wajah curigaku padanya

"a-aniyo oppa! Aku sedang mengupas apel untuk appa, salahkan dirimu sendiri yang tiba – tiba datang. Ada apa? tumben kau ingin bertemu dengan ku oppa.."

"apakah kau tau dimana Kyuhyun?"

"Kyu? Bukannya ia pulang dengan Lee ahjussi? Tadi aku tak menemaninya oppa, aku harus menyiapkan pesta kejutan untuk appa ku, jadinya aku pulang duluan.. memangnya ada apa? apa Kyu belum pulang?" raut muka Sungmin berubah menjadi cemas, berarti ia memang tak tau apa – apa, Sungmin memang dari dulu tak pandai berbohong, jadi aku tau ia benar – benar jujur atau tidak.

"gurae? Arraseo.. aku pamit ne.." ujarku pada Sungmin, ia nampak bingung "aku mengerti kau khawatir, aku pun begitu.. akan ku kabari lagi okay? mungkin dia sedang bermain bersama temannya" kata ku sambil tersenyum sebelum meninggalkan kediaman itu.

Bermain bersama teman? Mana mungkin! Kekasihku itu hanya punya Sungmin dan Hyukjae sebagai temannya, dan dia bukan tipe orang yang bermain sampai lupa waktu. Aku yakin pasti ada seseorang yang mencelakainya. Para maid kembali membuka pintu Mansion, tak ku hiraukan lagi salam mereka, yang kupikirkan sekarang hanyalah Kyuhyun! Cho Kyuhyun!

Aku berjalan setengah berlari menuju kamarku. Aku butuh Daiki, hanya dia yang bisa berfikir logic disaat – saat genting seperti ini. Kududukan diriku di ujung Kingbed ku lalu mengeluarkan iPhone. Kucari nama Daiki dan langsung menghubunginya..

"yeoboseyo? Daiki-kun? Hurry come to Mansion, now!" kataku hampir berteriak padanya, aku panic! Sangat panic

"…"

"Kyunnie belum pulang kerumah, aku juga tak bisa menghubung handphone nya, ppalli aku membutuhkan mu disini, entah mengapa aku yakin seseorang sedang berbuat jahat terhadap Kyunnie ku.."

"…"

"arraseo.."

Pip!

Kubuang sebarang iPhone ku ke atas tempat tidur lalu ku usap kasar wajah ku. Setelah tadi pagi percobaan pembunuhan, sekarang apa lagi yang akan menimpa Kyunnie ku?

a/n annyeeoonggg~~~ sudah dua bulan saya *tunjuk diri sendiri* absen dari ffn~ hiks maap yah readers.. dua bulan terakhir ini banyak yang terjadi! Saking sibuk nya kerja author sampe harus bolak balik hospitalized, dan akhirnya ff ini terbengkalai.. miaaaannn *guling guling di jalan tol* moga – moga ga mengecewakan yah, soalnya author kurang paham scene culik menculik, jadi kalo sedikit *atau banyak* ada kejanggalan mohon di maklumi. dan soal Changminnie pake cincin baptis, author sengaja, why? pernah ga kalian baca pasangan yaoi yg nikah di KUA? gada kan? rata - rata pada nikah di gereja smw~! =3= jd untuk mendukung kelancaran cerita, Minnie author bikin Catholic supaya bisa nikah sama Kyunnie *yah bocor deh* :p dan satu hal lagi, ini ga author beta-reader, jadi kalo typo beterbangan dimana mana, maafkanlah ;A;)/ Semoga pengorbanan author selam dua belas jam duduk di depan laptop, bisa memuaskan para readers.. well, selamat membaca~ 8D/

-?-

Owarimasuka: sudah selesai? (Japanese)

Morfin: disini author pake morfin dalam bentuk obat yah bukan narkoba. Morfin memang bysa dipake sebagai penahan rasa sakit, udah dpake dari jaman perang dunia ke dua dulu~

Cincin baptis: cincin yang bakal readers dapetin ketika readers sudah di baptis, biasanya di pakai di jari telunjuk tangan kanan (Catholic)

Patek Philippe Reference 1527: brand jam tangan yang harga nya kira kira $5,600,000 *kali-in sendiri dah tuh berapa rupiah nya 8D*

Bakka: Bodoh (Japanese)