Naruto : Masashi Kishimoto-san
SHARINGAN : Namikaze Asyifa
Pairing : SasufemNaru
Rating : T
Genre : Supranatural (maybe) and Hurt/comfort
Warning : berupa cerita gaje, alur kecepeten, typo(s),
OOC(maybe), fem!Naru, OC, etc…
Summary :
Naru pergi, akibat ulahnya yang bodoh. Dan Sasu tidak tahu bahwa wanitanya telah melahirkan anaknya. Disaat ia telah bertemu dengan wanitanya, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkannya kembali. Ia juga harus menyingkirkan teman Naruto, yang menaruh hati pada wanitanya. Tapi tenang, si kembar akan menjaga kaasannya sampai kembali ke pelukan tousannya. Lalu bagaimana dengan nasib Itachi?
A/N :
Uchiha Sasuke : 25 tahun
Uzumaki Naruto : 24 tahun
Uzumaki Izuna : 6 tahun
Uzumaki Yuki : 6 tahun
Sabaku no Gaara : 25 tahun
.
.
o/oDON'T LIKE, DON'T READo\o
.
.
.
Bulan telah merangkak naik di puncak tertingginya dengan taburan milyaran bintang sebagai temannya. Jam juga sudah berdentang sebanyak dua belas kali. Suasana malam ini pun terasa sangat sepi, hanya terdengar suara-suara serangga malam yang saling bersahut-sahutan dan gesekan dedaunan akibat tertiup angin malam.
Di sebuah rumah sederhana, di kamar yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang telah berhasil menyusup masuk melewati celah-celah yang sangat kecil, Uzumaki Izuna masih terjaga. Otaknya masih memproses informasi yang baru didapatnya dari Shizune-sensei. Ia tidak pernah menyangka jika ada seseorang yang menyerupai wajahnya atau justru wajahnya sendiri yang menyerupai orang itu.
Niat awalnya yang akan membicarakan masalah ini dengan Yuki, Izuna urungkan mengingat salah satu wajah anggota Uchiha itu memiliki paras yang hampir sama dengannya. Apa jadinya jika Yuki mengetahui hal tersebut? Bisa-bisa rencananya yang sudah tersusun secara maksimal bisa berantakan jika Yuki mengetahui hal itu. Tidak… tidak… tidak… Izuna tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia akan mencari tahu sendiri kebenarannya. Jika perlu ia akan ke Tokyo dan menanyakan langsung kepada Uchiha Sasuke apakah ia tousannya.
Izuna menghela nafas panjang. Ia baru menyadari jika hal ini pasti akan merepotkannya. Belum lagi saat makan malam tadi, Yuki terus memaksanya untuk ikut jalan-jalan ke taman hiburan. Yang benar saja Izuna membenci keramaian dan Yuki tahu hal itu, tapi mengapa Yuki terus memaksanya. Akhirnya dengan sangat sangat sangat terpaksa akhirnya Izuna menyetujuinya setelah mendapatkan puppy eyes no jutsu mematikan milik Yuki.
Dan yang lebih membuatnya kesal karena kaasannya juga mengajak pria yang tidak disukainya, Sabaku no Gaara. Tadinya Naruto juga akan mengajak Shion juga, namun Shion menolaknya dengan alasan ada beberapa hal penting yang harus di kerjakannya. Padahal alasan sebenarnya adalah biar hubungan Gaara dan Naruto lebih dekat, karena Shion tahu jika Gaara menaruh hati pada Naruto dan Izuna mengetahui hal tersebut hanya dengan memperhatikan raut wajah Shion saat mengatakan hal itu. Ohh… Shion apa kau tidak tahu jika Uzumaki Izuna membenci tindakanmu itu.
Masih ada waktu satu minggu untuk menyusun rencana membuat Gaara sedikit lebih menjauhi Naruto. Untuk masalah ini, Izuna akan mendiskusikannya dengan Yuki. Mungkin nanti akan ada sedikit peran yang akan di perankan oleh Yuki. Lihat saja nanti bagaimana si kembar akan menjalankan rencananya yang telah disusun.
Mengingat-ingat hal itu membuat Izuna sedikit mengantuk. Hatinya telah kembali tenang. Telah siap melakukan rencana besarnya. Karena Izuna memiliki banyak rencana untuk menemukan tousannya dan menjauhkan Gaara dari Naruto. Ia tidak pernah kehabisan akal. Tidak akan pernah.
.
..
Satu minggu kemudian, keluarga Uchiha telah bersiap dengan segala keperluannya. Mereka akan mengadakan liburan ke villa yang berada di Konoha. Mereka berangkat sekitar jam tujuh pagi dengan mengendarai mobil Ferrari milik Itachi dan Itachi sendiri yang mengemudikannya. Di kursi penumpang bagian depan diduduki oleh Sasuke. Dan dibelakang diduduki oleh Mikoto dengan Fugaku.
Rencana Sasuke, setelah sesampainya di Konoha, ia akan beristirahat sekitar satu jam dan kemudian langsung ke café milik sepupunya dan menemukan Naruto. Alih-alih seperti itu, Mikoto malah langsung membawa keluarganya ke taman hiburan. Yang benar saja, selama hampir 3 jam perjalanan ini Sasuke terus memikirkan jika ia akan segera bertemu Naruto. Tapi malah dirinya terjebak di tempat yang mengerikan dan berisik bernama taman hiburan.
"Astaga kaasan…. kenapa kita harus ke taman bermain?" protes Itachi setelah memarkirkan mobilnya yang paling mencolok diantara yang lainnya.
"Tentu saja untuk bersenang-senang, apa lagi?" tanya Mikoto tanpa merasa bersalah.
"Kaasan, kami bukan lagi anak kecil yang harus pergi ke taman bermain," Sasuke berujar.
"Justru karena dulu kalian jarang ke taman hiburan makanya kaasan mengajak kalian ke taman hiburan sebelum kembali ke villa."
"Kami benci keramaian."
"Dan kaasan tahu akan hal itu."
"Sudahlah nikmati saja liburan kalian ini," Mikoto telah keluar dari mobil meninggalkan ketiga pria bermuka datar.
"Kalau tahu begini, aku lebih memilih duduk dengan tumpukan dokumen di hadapanku," sesal Itachi.
"Hn," ambigu Sasuke tapi dapat diartikan sebagai persetujuan. Sasuke sendiri kalau bukan karena Naruto, tidak mungkin ia akan repot-repot pergi ke Konoha.
"Sebaiknya kalian turuti kemauan kaasan kalian. Wanita akan sangat merepotkan jika sedang marah," saran Fugaku yang kemudian keluar menyusul Mikoto yang telah menjauh.
Dengan sangat enggan akhirnya Itachi dan Sasuke keluar mobil menyusul orang tua mereka yang telah berjalan jauh setelah mengunci mobil.
.
..
"Izuna-nii, cepat turun sebentar lagi kita akan berangkat," teriak Yuki tak sabar karena menunggu Izuna yang belum keluar kamar sejak tadi.
Setelah satu menit kemudian yang ditunggu pun keluar dari sarangnya. Izuna hanya memakai pakaian santai seperti biasa tetapi tetap memancarkan aura yang menawan. Ia menolak untuk memakai pakaian yang terlalu mencolok baginya, ia tidak suka.
"Kau lama sekali Izuna," kata Naruto yang terlihat sangat cantik dengan dress berwarna biru langit yang sama seperti matanya, apalagi dengan rambut pirangnya yang tergerai sempurna.
"Aku harap ini yang terakhir kalinya aku pergi ke tempat menjijikkan seperti taman hiburan," ujar Izuna tanpa menanggapi perkataan Naruto.
Gaara yang melihatnya merasa aneh dengan sikap Izuna yang terlihat seperti membenci taman hiburan. "Naruto, kenapa Izuna terlihat tidak menyukai taman hiburan?"
"Itu karena Izuna sangat membenci keramaian. Ia lebih suka tempat yang sepi dan juga menenangkan," jelas Naruto.
"Aneh, biasanya setiap anak kecil akan senang jika diajak ke taman hiburan," Naruto tertawa mendengarnya. "Lalu kenapa tidak ditinggal saja? Di rumahkan masih ada Iruka-san Naruto."
Izuna yang mendengar hal tersebut langsung melempar tatapan tajam kepada Gaara. Izuna tahu maksud tersembunyi Gaara mengatakan hal itu. Gaara berniat menjauhkan Izuna dari kaasannya sendiri karena Gaara menganggap Izuna itu pengganggu hubungannya dengan Naruto. Dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Seharusnya Gaara tahu bahwa menyingkirkan Izuna bukanlah perkara yang mudah walaupun di baru berumur enam tahun.
Yuki sedikit menelan ludahnya, ia takut dengan aura pekat yang menguar dari tubuh Izuna. Karena itu menandakkan hal buruk yang akan terjadi. Sangat jarang Izuna mengeluarkan aura hitam seperti itu. Ia memang dingin, tapi tidak pernah mengeluarkan aura seperti itu jika menurut Izuna tidak begitu mengganggu. Dan sekarang waktunya bereaksi dengan merayu Naruto yang tampak sedang menimbang-nimbang saran Gaara.
"Ne kaasan, Izuna-nii jangan ditinggal yaa…. Nanti kalau niisan tidak ikut siapa yang mau jagain Yuki?" rayu Yuki sambil sedikit mengeluarkan jurus andalannya.
"Kan ada kaasan dan Gaara-jisan yang jagain Yuki," jawab Naruto lembut.
"Tapikan kalau kemana-mana niisan pasti bersama Yuki. Jadi sekarang niisan harus ikut," bagus, sekarang jurus Yuki sudah keluar semuanya dengan begini Naruto tidak akan menolak permintaannya.
"Baiklah, niisanmu tetap ikut."
Izuna menyeringai senang. Yuki memang bisa diandalkan jika masalah merayu.
'Kau akan tahu akibatnya Gaara-jisan kalau berniat menjauhkan kami dari kaasan.'
Akhirnya mereka berempat pun memutuskan untuk segera berangkat mengendarai mobil sedan milik Gaara dengan Naruto yang berada di depan dan si kembar yang berada di belakang. Awalnya Izuna sempat menolak dengan pembagian tempat duduk seperti ini karena ini terlihat seperti keluarga kecil dan Izuna tidak suka itu. Beruntung sekali Izuna memiliki rambut raven dan iris onyx bukan rambut merah bata dengan iris jade.
.
..
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berempat pun keluar dari mobil. Yuki langsung kegirangan begitu melihat banyak wahana, stand-stand makanan dan permainan, dan yang terakhir banyak orang.
"Wahhh…. ramainya," kata Yuki senang.
Berbeda dengan Yuki, Izuna justru menatap datar ratusan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Memang banyak sekali penjual mainan, makanan, aksesoris, dan wahana pun lumayan lahh…. tak kalah banyaknya. Jika disuruh memilih, Izuna lebih memilih membaca tumpukan buku dari pada berada di tempat yang seramai ini.
"Ck, lebih baik aku membaca buku yang tebalnya puluhan senti dari pada harus pergi ketempat yang sangat ramai," keluh Izuna.
Mendengar perkataan Izuna, Naruto menatap horror putra sulungnya. Dari dulu ia memang suka membaca, tapi tidak pernah membaca buku yang tebalnya puluhan senti. "Tidak baik menghabiskan masa kecilmu dengan membaca buku-buku yang tebal. Kau seharusnya bersenang-senang dengan temanmu," saran Naruto. Tidak mau masa kanak-kanak putra sulungnya dijajah oleh buku.
"Hn," hanya gumaman ambigu Izuna yang keluar untuk menanggapi nasihat Naruto.
'Astaga, anak ini kenapa keras kepala sekali sihh.'
"Jadi, kita mau naik wahana yang mana dulu?" tanya Gaara.
"Sebaiknya kita makan dulu Gaara, Izuna dan Yuki belum makan sejak tadi. Aku belum makan juga sihh..," timpal Naruto.
"Oke,.." Gaara menyetujuinya.
Gaara melangkahkan kakinya dengan Naruto yang berada di sampingnya sambil menggandeng tangan Yuki. Mereka tidak sadar kalau Izuna masih diam di tempat. Iris onyxnya sedang memicing tajam mencoba memperhatikan objek yang berjarak tiga ratus meter darinya. Perlahan-lahan iris onyxnya berubah menjadi merah dengan dua koma yang mengelilinginya. Ia mencoba mempertajam matanya dengan menggunakan mata merahnya dan memperhatikan lebih seksama, berharap penglihatannya tidak salah.
Tubuh mungil Izuna menegang begitu mengetahui penglihatannya tidak salah. Objek itu memang dia, berambut raven dengan model yang mencuat kebelakang melawan gravitasi. Dia tidak sendirian, ia juga melihat sesorang yang juga memiliki rambut raven panjang yang diikat rendah.
'Uchiha Sasuke,'
Namun sayang, lamunannya terhenti mendengar panggilan Naruto dan Izuna baru sadar jika Naruto dan Yuki telah menjauh. Dengan terburu-buru, ia berlari menghampiri ketiganya.
"Niisan sedang melihat apa?" tanya Yuki begitu Izuna telah sampai di tempatnya berada.
"Sesuatu yang menarik," jawab Izuna tidak peduli jika Yuki sedang memasang wajah cemberut.
"Bhu.. niisan memang tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar," gerutu Yuki.
Izuna mencubit pipi chubby Yuki tidak tahan dengan ekspresi adiknya yang lucu. Ia tersenyum tipis, senyuman yang sangat menawan.
"Sebaiknya kita cepat, waktu terus berjalan."
.
..
"Ck, dasar baka Aniki seharusnya tadi Aniki memperhatikan kemana tousan dan kaasan pergi," gerutu Sasuke pada Itachi.
"Seharusnya kau juga memperhatikannya otouto jadi kita tidak perlu tersesat."
Benar duo Uchiha tersebut terpisah dengan kedua orang tuanya. Dan mereka saling menyalahkan karena tidak memperhatikan kearah mana orang tua mereka melangkah. Ini sangat menggelikan bagaimana mungkin jika seorang Uchiha tersesat di taman hiburan dan terpisah dengan kedua orang tuanya. Kalau masih kecil itu bisa dimaklumi, lah ini sudah berumur 25 dan 30 tahun masa harus tersesat.
"Lalu, harus bagaimana?" tanya Sasuke pada Itachi.
"Aku lapar. Mungkin kita harus mencari makan dulu," ajak Itachi.
Kedua pemuda raven itupun bergegas mencari restoran yang kira-kira cocok.
.
..
"Izuna, kenapa kau tidak makan?" tanya Naruto lembut begitu melihat Izuna tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Aku tidak lapar kaasan," jawab Izuna. Raga Izuna memang berada di samping Naruto, tetapi pikirannya sedang melalang buana memikirkan seorang pemuda yang tadi dilihatnya. Uchiha Sasuke.
"Apa yang kau pikirkan Izuna? Jika ada masalah ceritakan?" Naruto membelai rambut Izuna lembut. Yuki dan Gaara juga sedang memperhatikan Izuna. "Jika kau tidak suka berada disini, kita bisa pulang sekarang," tawar Naruto.
"Tidak, kita tetap melaksanakan liburan ini," tolak Izuna.
"Baiklah.. tapi makan dulu makananmu."
Izuna pun mulai memakan makanannya. Pikirannya sudah merambah jauh mencoba menyusun rencana baru untuk mempertemukan Naruto dengan Sasuke. Ia harus menyusun secepatnya, berhubung Sasuke berada di desa ini. Yah.. ia harus cepat memikirkan rencana baru.
Berbeda dengan Naruto dan Yuki yang sudah melanjutkan makannya, Gaara masih memperhatikan raut wajah Izuna. 'Bocah ini sedang memikirkan sesuatu. Tapi apa? Izuna memang anak yang jenius tapi dia juga berbahaya. Dia bisa menjadi penghalang untukku dalam mendapatkan Naruto.'
'Mungkin aku harus mencari tousan. Yaa.. aku akan mencarinya begitu kaasan, Yuki, dan Gaara-jisan sedang menaiki salah satu wahana. Aku hanya menyuruh Yuki untuk meminta pada kaasan menaiki salah satu wahana. Aku harap aku bisa menemukan tousan secepatnya,' batin Izuna.
Mengapa Izuna memanggil Sasuke dengan sebutan tousan? Itu karena kemiripan fisiknya dengan Sasuke dan hati kecilnya yang mengatakan kalau Sasuke itu memang benar ayah kandungnya.
Selesai dengan makannya, mereka berempat keluar restoran siap untuk menghabiskan hari dengan bersenang-senang. Dan siap untuk menjalankan rencananya untuk Izuna. Hari yang terlalu cerah untuk peristiwa yang akan menggejutkan.
"Yuki," panggil Izuna pada Yuki dengan suara yang terlampau lirih.
"Ada apa niisan?" jawab Yuki tak kalah lirihnya.
"Kau ajak kaasan menaiki salah satu wahana. Niisan akan pergi menemui seseorang."
"Baiklah, Yuki akan mengajak kaasan menaiki bianglala. Yuki akan menjaga kaasan, niisan tak perlu khawatir."
"Hn," Izuna menyeringai kecil. Tahap pertama rencananya sudah berhasil yaitu meminta Yuki mengajak Naruto dan Gaara menaiki salah satu wahana.
"Kaasan," panggil Yuki memotong percakapan antara Naruto dengan Gaara.
"Ada apa Yuki?" tanya Naruto menatap lembut Yuki.
"Yuki pengin naik bianglala. Boleh yaa…" rajuk Yuki.
"Tentu saja, sayang. Tunggu disini kaasan akan membeli tiketnya."
"Aku tidak ikut," kata Izuna cepat sebelum Naruto pergi membeli tiket.
"Kenapa?" tanya Naruto.
"Aku ingin ke toilet," Izuna langsung pergi meninggalkan yang lainnya. Ia sudah tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Sasuke. Walau ia yakin pasti akan sangat sulit untuk mencari satu orang diantara ratusan orang.
'Jika Yuki mirip kaasan, berarti aku mirip tousan. Jika Yuki suka keramaian sama seperti kaasan, maka aku suka ketenangan seperti tousan. Ya,,.. tousan mungkin suka tempat yang tenang.'
Sekarang Izuna bingung harus mencari tempat yang tenang dimana ia bisa menemukan Sasuke.
'Hutan.'
Ahh…. Sekarang Izuna ingat di samping taman hiburan terdapat hutan dan tembok yang menjulang tinggi sebagai pembatasnya. Hanya hutan satu-satunya tempat yang tenang. Lagi pula tidak ada yang berani masuk hutan tersebut karena dianggap hutan yang angker. Tapi Izuna tidak peduli dengan hal itu. Ia ingin sesegera mungkin menemukan Sasuke dan menendang Gaara agar tidak mendekati Naruto.
Tepat di hadapan Izuna, berdiri tembok yang kokoh dengan tinggi tiga meter. Hanya tembok ini pembatas antara taman hiburan dengan hutan. Dan Izuna harus melompatinya jika ingin menemui Sasuke yang kemungkinan kecil berada di hutan tersebut.
Izuna merubah warna matanya. Dan dalam satu kali lompatan ia sudah meninggalkan area taman hiburan serta memasuki area hutan. Sepi, satu kata menggambarkan keadaan hutan yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Konoha sebagai hutan yang sangat menakutkan. Bahkan satu hewan pun, ia tidak mellihatnya.
Izuna mulai melangkahkan kakinya, menjelajah hutan. Menyusuri jalan yang sekiranya pantas untuk dilewati.
"Cih, aku benci tempat ramai," suara seseorang berhasil menyita perhatian Izuna. Ia mengendap-endap mencari sumber suara dan begitu mengetahuinya Izuna langsung bersembunyi di balik semak-semak.
Dua orang pemuda raven sedang duduk dengan posisi bersandar pada pohon sakura yang tumbuh liar. Izuna mengenali mereka. Dan salah satu dari merekalah yang ia cari. Ia harus bisa menarik perhatian kedua pemuda itu.
Sreek…sreek…sreek…
Sasuke dan Itachi yang tadinya sedang memejamkan mata sambil menikmati ketenangan yang sangat sulit dicari apalagi di tengah-tengah keramaian harus terganggu oleh suara gesekan daun. Tapi sepertinya ada yang aneh.
"Aniki sepertinya ada sesuatu di balik semak-semak itu. Coba aniki periksa," suruh Sasuke.
Itachi sebenarnya bisa saja menolak, tapi ia tidak mau memperpanjang masalah dengan Sasuke. Dengan terpaksa Itachi bangkit dan mendekati semak-semak yang dimaksudkan oleh Sasuke.
"Otouto, ada anak kecil disini. Tapi-" Itachi menghentikan pekataannya dan itu membuat Sasuke penasaran. "dia mirip sekali denganmu."
Dan berakhir seperti ini, bocah yang mirip Sasuke yang sebenarnya adalah Izuna sedang mendapatkan tatapan menyelidik dari Itachi dan Sasuke sendiri. Ia memang tidak takut, karena ia juga sering mengeluarkan tatapan seperti itu, apalagi kepada semua orang yang pernah mendekati Naruto dan Yuki. Dan bisa dipastikan ia pernah melempar tatapan seperti itu pada Gaara.
"Kau mirip sekali dengan otouto. Jika dilihat lebih teliti, kau juga memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Uchiha saja," kata Itachi masih dengan menatap anak kecil yang ditemukannya di semak-semak.
"Siapa namamu?" tanya Sasuke pada bocah yang sedang duduk di hadapannya.
"Izu-"
"Itachi, Sasuke," panggilan seorang wanita paruh baya telah memotong ucapan Izuna. Wanita itu tidak datang sendirian, ia bersama seorang pria paruh baya. Mereka sama-sama memiliki rambut raven. Dan Izuna mengenali mereka sebagai Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku. Heh! Sepertinya seluruh keluarga Uchiha sedang berada di Konoha yaa…
"Sudah kuduga, kalian pasti akan menghilang ke tempat yang sepi," kata Mikoto tak menyadari ada seorang bocah disana.
"Memangnya siapa yang meninggalkan kami," sindir Itachi.
Mikoto salah tingkah mendengar sindiran Itachi yang ditujukan untuknya sampai onyxnya bertubrukan dengan onyx lain. Dan sekarang ia baru menyadari adanya seorang bocah dengan paras yang hampir sama dengan putra bungsunya. Ia berlutut di hadapan bocah itu, matanya masih terpaku dengan iris onyx milik bocah tersebut.
"Itachi, siapa bocah ini? Kenapa wajahnya mirip dengan adikmu?" tanya Mikoto pada Itachi.
"Entahlah, aku menemukannya di balik semak-semak. Sepertinya bocah itu tersesat."
"Nah, anak manis, siapa namamu?" tanya Mikoto pada bocah dihadapannya.
Izuna tidak menjawab pertanyaan Mikoto. Ia malah menatap datar Mikoto. Bagaimanapun juga ia tampan tidak manis, ia tidak suka dipanggil manis.
"Kaasan, jangan menyebutnya manis. Dia itu pria," celetuk Sasuke.
Mikoto menatap Sasuke. "Tapi dia itu memang manis Sasuke dan juga imut."
Dahi Izuna berkernyit mendengar panggilan baru untuknya. "Jangan panggil aku manis apalagi imut. Aku tidak suka," kata Izuna dengan suara yang sangat tegas.
Sedangkan Fugaku, menatap Izuna dalam diam. 'Jika dilihat dari segi fisik bocah itu seperti keturunan Uchiha. Rambut raven, mata onyx tajam, dan juga kulit putih pucat. Dan jika dilihat dari sifat… tatapan matanya tajam, tegas, dan tak terbantahkan. Garis wajahnya menunjukkan ketidak pedulian, dan juga datar. Anak ini pasti bukan anak sembarangan,' batin Fugaku.
"Apa kau seorang Uchiha?" tanya Fugaku pada akhirnya.
Mikoto, Itachi, dan Sasuke terkejut mendengar pertanyaan Fugaku, mereka tidak menyangka jika Fugaku akan bertanya hal seperti itu.
"Fugaku, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Mikoto.
"Kalian perhatikan baik-baik. Ia memiliki semua ciri-ciri seorang Uchiha. Rambut raven, iris onyx, kulit putih pucat. Wajahnya menunjukkan ketidak pedulian, tak terbantahkan, ketegasan, dan yang terakhir kekuasaan," jelas Fugaku.
Mikoto sekarang menatap mata onyx Izuna. "Baiklah… jadi siapa namamu?" tanya Mikoto kepada Izuna untuk yang kedua kalinya.
"Izuna. Aku bukan seorang Uchiha, itu sekarang. Tapi nanti… " Izuna berhenti sejenak, ia menatap Sasuke sekilas. "Sekarang namaku adalah… Uzumaki Izuna."
Dan secara tiba-tiba Izuna telah pergi meninggalkan mereka berempat dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya.
.
..
"Astaga, kemana perginya Izuna. Kenapa sejak tadi tidak muncul-muncul. Apa memang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pergi ke toilet?" kata Naruto dengan nada cemas yang sangat ketara.
Setelah bosan menaiki binglala, mereka bertiga memutuskan untuk mencoba wahana yang lainnya. Tapi setelah mereka turun, mereka tidak menemukan Izuna dimanapun. Dan hampir 30 menit mereka menunggu, belum ada tanda-tanda Izuna akan muncul.
"Kaasan," panggil Izuna begitu menemukan Naruto.
Tanpa pikir panjang lagi, Naruto langsung memeluk Izuna. "Syukurlah kau tidak diculik. Kaasan sangat khawatir. Kemana saja kau, bocah nakal?" rasa khawatir Naruto langsung terobati begitu melihat Izuna yang datang dengan kondisi yang baik-baik saja.
Izuna memeluk balik Naruto. "Gomennasai, kaasan. Izuna hanya sedang mencari sesuatu yang menarik," jawab Izuna.
Naruto melepas pelukannya dan menatap Izuna garang. "Jangan pernah pergi kemana-mana seorang sendiri. Mengerti."
"Hn."
"Ayo, Naruto. Kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang sebelum matahari tenggelam," ajak Gaara.
'Semoga saja ini berhasil.'
.
..
Setelah kepergian Izuna, keempat Uchiha tersebut masih tercengang. Mereka tidak menyangka ada seorang anak yang bisa melompati satu pohon ke pohon lain. Bagi mereka, para Uchiha itu hal yang sangat mudah. Tapi jika bocah itu seorang Uzumaki… itu sangat mengejutkan.
"Otouto, apa kau yakin jika bocah itu seorang Uzumaki?"
"Tidak. Kebanyakan Uzumaki memiliki rambut berwarna merah dan iris violet. Bukan berambut raven dan beriris onyx," jawab Sasuke.
"Aku rasa anak itu keturunan Uchiha," duga Fugaku.
"Anak yang manis. Tapi saat dia menyeringai… sangat mengerikan," lanjut Mikoto. "Siapa tadi namanya? Uzumaki Izuna… ya namanya Uzumaki Izuna."
"Uzumaki Naruto. Anaknya bernama Uzumaki Izuna dan Uzumaki Yuki."
Laporan Obito beberapa hari yang lalu kembali diingatnya. 'Uzumaki Izuna…? jangan-jangan."
Itachi menyadari perubahaan ekspresi Sasuke yang menjadi lebih tegang. "Hey… otouto. Kau kenapa?" tanya Itachi.
Sasuke menggeleng-gelenggkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran-pikirannya yang menjurus pada wanitanya. "Aku… aku tidak apa-apa aniki," jawab Sasuke.
Namun sayang, Itachi terlalu pintar untuk dibohongi. Walau bagaimanapun juga Sasuke adalah adik satu-satunya. "Jangan berbohong. Katakan padaku apa yang menganggu pikiranmu otouto."
"Sepulang dari taman hiburan, aku ingin pergi ke suatu tempat," Sasuke mengalihkan pembicaraan. "Sendirian," katanya ketika Itachi akan menawarkan diri untuk menemaninya. Sekarang Sasuke sangat membutuhkan tempat yang benar-benar tenang, tidak ada Itachi dan yang lainnya. Ia ingin menjernihkan pikirannya.
.
..
Hari mulai beranjak sore, matahari juga sudah mulai membenamkan dirinya. Langit pun tak kalah dengan yang lainnya, yang kini telah berubah warna menjadi orange. Naruto dan Gaara memutuskan untuk pulang dan mengakhiri hari yang terasa menyenangkan. Yah… menyenangkan untuk Gaara, Naruto dan Yuki, tapi sangat membosankan untuk Izuna. Satu-satunya hal yang menyenangkan baginya adalah ketika ia bisa bertemu dengan Sasuke secara langsung.
Dan hal menyenangkan lainnya adalah ketika Izuna meminta pada Naruto untuk pergi ke toko buku dan Naruto menyetujuinya. Walaupun mereka berempat harus berjalan kaki.
"Niisan, kenapa harus jalan kaki sihh.. kita kan bisa menggunakan mobil milik Gaara-jisan," keluh Yuki untuk yang kesekiannya.
"Apa kau tidak lihat. Jalan ini terlalu sempit untuk dilewati mobil, Yuki," jelas Izuna.
"Tapi kenapa niisan harus membeli buku itu sekarang?" Yuki mengerucutkan bibirnya kesal.
"Karena niisan sangat membutuhkannya sekarang. Bukan besok," Yuki semakin mengerucutkan bibirnya. Izuna memang pandai membuat adiknya perempuannya kesal.
Melihat tingkah laku kedua anaknya, Naruto tersenyum tipis. Sangat jarang Izuna bisa menunjukkan ekspresinya. Dan Naruto sadar jika Izuna akan mengeluarkan ekspresinya hanya kepada orang yang sangat disayanginya.
Namun sayang, sebelum sampai di toko buku, sekawanan preman telah menghadang mereka. Mereka berjumlah lima orang yang memilliki tubuh berotot. Tubuh mereka penuh dengan tato-tato yang mengerikan. Dan masing-masing dari mereka membawa senjata tajam.
Merasa keadaan yang sangat berbahaya, Gaara maju kedepan Naruto yang tengah memeluk Izuna dan Yuki. Ia mencoba untuk melindungi Naruto dan kedua anaknya. Ia memandang tajam preman-preman tersebut dan dibalas dengan senyuman mengejek dari salah satu preman.
"Mau apa kalian?" tanya Gaara tajam.
Salah satu preman yang berdiri ditengah-tengah yang lainnya tertawa. "Hahaha… berikan harta kalian atau kalian akan mati disini saat ini juga," kata pria tersebut yang mengenakan piercing di telinga kirinya. Pria tersebut menatap Naruto dan kemudian menyeringai mesum. "Dan serahkan wanita itu pada kami. Sepertinya wanita itu sangat nikmat."
Mendengar hal tersebut, Gaara mengeram marah dan mengepalkan kedua tangannya. Begitupun dengan Izuna, di balik dekapan Naruto yang semakin mengerat Izuna telah merubah onyxnya menjadi merah menyala dengan dua koma yang salling melingkar.
BUGH…
Gaara meninju pria dengan piercing tersebut tepat di rahangnya sehingga salah satu sudut bibir preman tersebut mengeluarkan darah. Tapi tidak cukup untuk membuat pria berbadan besar itu jatuh, ia hanya mundur beberapa langkah. "Kurang ajar… serang dia," perintah preman tersebut pada yang lainnya.
Perkelahian tak dapat dihindari lagi. beberapa kali Gaara terkena pukulan dari preman-preman tersebut. Wajahnya dipenuhi lebam dan bercak-bercak darah entah milik siapa. Tenaganya juga sudah terkuras sangat banyak. Bayangkan saja Gaara yang seorang diri harus melawan lima orang berbadan besar dengan otot-otot yang sudah nampak.
Disaat Gaara tengah lengah, salah seorang pria menendang perutnya tepat dihulu hatinya membuat Gaara terlempar beberapa meter ke belakang. Ia sudah tak punya tenaga lagi sekarang. Gaara memang lemah dalam hal perkelahian.
Melihat Gaara yang sudah tak bisa lagi melawan, kelima preman tersebut tertawa. Pria dengan piercing di telinga kirinya mendekati Naruto yang tengah memeluk Izuna dan Yuki erat. Padahal tubuh Naruto sendiri bergetar karena takut.
"Hohoho… manis, mau bermain dengan kami?" goda pria dengan piercing di telinga kirinya.
"Pergilah… akan kuberikan semua hartaku. Asalkan kalian tidak menggangguku," kata Naruto takut-takut.
"Uggh…. N-naru-to… j-jang-an lak-ukan," kata Gaara terbata-bata.
"Diam kau, pria lemah," bentak salah satu preman dengan piercing di hidungnya.
"Sebaiknya temani kami saja malam ini."
Izuna tak tahan lagi dengan perlakuan para preman tersebut kepada Naruto. Gaara tak bisa diandalkan. Ia sudah lemah sekarang, tak bisa berbuat apa-apa termasuk melindungi Naruto, Yuki dan juga dirinya. Jangankan melindungi mereka, melindungi dirinya sendiripun ia tidak bisa.
'Dasar lemah.'
"Kaasan, Yuki takut," bisik Yuki, tetapi Izuna masih bisa menangkapnya dengan jelas bahkan sangat jelas.
'Sepertinya aku harus melakukannya sekarang.'
Izuna melepas pelukan Naruto padanya. Dengan mata terpejam, Izuna membalikkan badannya menghadap preman-preman tersebut. Naruto, Yuki, dan Gaara menatap Izuna khawatir. Jangan bilang kalau Izuna akan menghadapi preman-preman itu.
"Cih, ternyata hanya itu kemampuan kalian?" kata Izuna dingin dengan kepala tertunduk masih dengan mata yang terpejam.
"Jangan menghina kami bocah. Kau itu tidak bisa berbuat apapun untuk melawan kami," ejek preman dengan piercing di telinga kirinya dan disusul dengan gelak tawa para anak buahnya.
Dibalik menunguknya Izuna, diam-diam ia menyeringai. Mereka tidak tau kalau Izuna bukanlah bocah biasa. Detik berikutnya, Izuna mengadahkan kepalanya. Kelopak matanya terbuka menampilkan iris merah dengan dua koma aneh yang saling melingkar.
Sebuah kesalahan besar telah dilakukan oleh preman dengan piercing di telinga kirinya, Ia telah menatap mata merah Izuna secara langsung.
"Ap-apa yang kau lakukan pada tubuhku bocah?" teriak preman tersebut ketika menyadari tubuhnya tidak bisa digerakkan.
"Sedikit bersenang-senang," jawab Izuna tenang.
Reaksi Naruto? Naruto sendiri begitu terkejut melihat iris merah Izuna. Iris merah itu mirip dengan iris merah milik ayahnya. Dan Naruto tak menyangka jika Izuna mewarisi kekuatannya. Gaara sendiri begitu bergidik ngeri melihat pancaran membunuh dari mata merah aneh itu.
Perlahan-lahan tubuh preman yang tidak bisa di gerakkan tersebut mulai bergerak menyerang kawan-kawannya sendiri. Tubuh itu dikendalikan oleh Izuna. Dengan kemampuan matanya yang sekarang ia yakin bisa melumpuhkan mereka secepatnya.
Dan benar saja, dalam waktu lima menit, Izuna telah berhasil membuat dua orang preman pingsan ditempat. Tanpa Izuna bergeser sesenti pun. Melihat hal itu, ia hanya bisa menyeringai. Seringai yang sangat mengerikan.
"Ternyata benar, kau memang seorang Uchiha," kata seseorang yang telah berdiri tak jauh dari mereka dengan badan yang bersandar di tembok pembatas jalan.
Seseorang tersebut memiliki rambut raven dengan gaya seperti pantat ayam, beriris onyx yang kini tengah menatap iris merah milik Izuna. Naruto dan Izuna mengetahui siapa orang itu. Jika Izuna menatap pria tersebut dengan datar walaupun tersirat kegembiraan, Naruto menatap pria itu dengan raut wajah terkejut dan tidak percaya.
"Hn," jawab Izuna sambil berhenti mengendalikan preman tersebut.
Pria tersebut yang ternyata adalah Uchiha Sasuke berjalan mendekati Izuna dan melewati preman-preman tersebut. Dan kemudian berlutut tepat di hadapan Izuna. Ia menatap mata merah Izuna.
"Hebat juga kau, bocah. Diumurmu yang ke enam tahun sudah berhasil mengaktifkan sharingan," puji Sasuke.
"Tentu saja. Aku tidak akan kalah dengan kalian."
"Hn, senang bisa bertemu denganmu lagi, Izuna,"
"Senang juga bisa bertemu denganmu lagi..." Izuna menghentikan ucapannya. Mengalihkan pandangannya pada Naruto yang masih shock dengan kehadiran pria itu. Izuna kembali menatap Sasuke. "…tousan."
.
..
TBC
A/N
Okeyy… chap tujuh sudah up date. Disini Syifa nambahin lagi wordsnya. Dan maaf ceritanya tambah gaje. Syifa yakin banyak yang sudah bosan membaca fic gaje milik Syifa.
Syifa rasa itu saja cuap-cuapnya, Syifa bingung mau nulis apalagi. Toh Syifa juga lagi-lagi gak bisa bales review satu persatu. Intinya terimaksih sudah mau meluangkan waktu kalian untuk membaca fic ini.
RnR please…
