–PERFECT SHAPE–

Main Cast : Byun Baekhyun , Park Chanyeol

Other Cast : Jung Soojung / Krystal, Kim Jongin, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Lu Han and other EXO's members. [Genderswitch for all uke]

Note : Huruf bercetak miring menandakan Flashback.

Lilin dengan bentuk angka empat bertengger sempurna pada puncak sebuah kue tart cokelat. Bocah yang sekiranya berumur sembilan tahun itu tersenyum antusias. Mata elangnya menatap kue cokelat itu dengan tatapan memuja. "Oppa, kapan aku boleh meniup lilinnya?" tanya bocah lain dengan wajah tertekuk.

"Sampai Eomma dan Appa pulang, nanti kita bisa memakannya bersama-sama!" bocah yang lebih tua tersenyum seadanya. Keduanya duduk berhadapan di meja makan. "Oppa yakin sebentar lagi Eomma dan Appa akan pulang. Tunggu saja,"

"Ini sudah jam delapan, Oppa.. Baekkie sudah mengantuk!" tukas si bocah yang menyebut dirinya dengan Baekkie. Bocah itu merengek, berharap kedua orang tuanya akan datang dan berhambur memeluknya.

"Kalau Baekkie mengantuk tidur saja, nanti kalau Eomma dan Appa sudah pulang Yifan Oppa akan bangunkan Baekkie, bagaimana?" Yifan, si bocah berumur sembilan tahun, menunjuk sofa yang terletak tak jauh dari mereka.

Yifan lagi-lagi tersenyum ketika akhirnya sang adik mengangguk dan meringsut di atas sofa putih.

.

.

Jam telah menunjuk ke angka dua belas. Yifan tak akan tertidur hingga Eomma dan Appanya pulang dan memberikan ucapan selamat ulang tahun pada sang adik yang sebenarnya hampir terlambat. Api pada lilin kue ulang tahun Baekkie telah sepenuhnya mati, namun belum ada tanda-tanda datangnya sang Ibu dan Ayah.

Baekkie telah sepenuhnya tertidur, meninggalkan Yifan yang terjaga sendirian di meja makan. Bocah lelaki itu merenung, padahal Eomma-nya telah berjanji akan pulang cepat hari ini.

Yifan menguap lebar-lebar. Ketika jarum pendek jam telah menunjuk pukul enam, yang artinya setengah satu, Yifan tertidur. Bocah itu membaringkan kepalanya diatas meja makan, menghadap kue ulang tahun sang adik.

Paginya Yifan tersadar setelah beberapa isakkan terdengar dari arah utara. Yifan terkejut melihat adiknya menangis dengan kue ulang tahun yamg meleleh. "B-Baekkie? Ada apa?" tanyanya.

Baekkie menggeleng. "Eomma dan Appa belum datang,"

Atau mungkin tak akan datang, karena siangnya Heechul, sang nenek, datang ditemani oleh keluarga mereka yang lain dan mengatakan Tuan dan Nyonya Byun tewas karena kecelakaan lalu lintas jam delapan malam yang lalu.

Yifan yang telah duduk di kelas tiga Sekolah Dasar akhirnya sadar orang tuanya tak akan pernah kembali. Berbeda dengan Baekkie, bocah itu selalu menanyakan kapan orang tuanya akan datang dan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya.

Jawaban Yifan tetap sama setiap tahunnya, "Eomma dan Appa mungkin akan datang sebentar lagi."

Baekkie selalu menunggu Eomma dan Appanya,

walaupun saat yang ditunggu tak akan pernah datang.

Perfect Shape

Chanyeol mengetuk pintu berwarna kelam itu pelan. Rintik hujan yang sedari tadi telah muncul berhasil membasahi seragam sekolahnya yang terlihat tak beraturan. Chanyeol menghela nafas ketika tak ada balasan dari sang pemilik rumah. Lelaki itu berbalik memunggungi pintu hitam rumah itu dan berniatan pergi.

Namun detik berikutnya suara decitan pintu kayu itu berhasil membuat kepalanya menoleh, mendapatkan sang pemilik rumah berdiri di ambang pintu. "B-Baekhyun?"

Dia Baekhyun, tujuan terakhir Chanyeol malam ini.

Chanyeol dapat melihat jejak tangis Baekhyun di pipi sebelah kanan gadis itu. Chanyeol menahan nafasnya. "A-ada apa?"

Sama halnya dengan Chanyeol, Baekhyun menahan nafasnya atas keterkejutannya melihat lelaki di hadapannya. "Boleh aku masuk terlebih dahulu?" tanya Chanyeol lirih. Sadar akan semakin derasnya hujan di luar, Baekhyun mengangguk samar.

Chanyeol tersenyum sebelum akhirnya masuk ke rumah Baekhyun. "Tunggulah disitu, aku akan mencari obat untuk lukamu," Baekhyun beralih meninggalkan Chanyeol yang masih berada di depan pintu.

Katakanlah Chanyeol tak tahu malu, lelaki itu sendiri juga mengakuinya. Setelah dengan brengseknya menyuruh Baekhyun tidak mencampuri urusannya, sekarang ia tak dapat berbuat apapun saat Baekhyun beralih menolongnya dengan mengobati lebam-lebamnya.

Chanyeol mengamati sekitarnya, rumah Baekhyun tak banyak berubah walau belakangan ini ia tak mengunjungi rumah gadis itu. Semuanya masih dalam keadaan yang sama saat Chanyeol berkunjung waktu lalu.

"Kenapa hanya diam? Duduklah," setelah lima menit, Baekhyun datang membawa kotak putih yang Chanyeol yakin isinya adalah obat-obatan.

Chanyeol berdeham kecil. "Baju dan celanaku basah, Baek. Kalau aku duduk nanti sofamu ikut basah." Chanyeol tersenyum kikuk.

Baekhyun berdecak. "Tunggulah disitu, aku akan ambil pakaianmu yang tertinggal waktu itu." Baekhyun meletakkan kotak putih berisi obat itu di atas meja, lalu beranjak ke kamar yang berada di samping kanan dapur.

Ada tiga kamar kosong di rumahnya. Salah satunya adalah kamar yang selalu ditempati Chanyeol saat lelaki itu berkunjung. Sisanya adalah kamar Kris dan kamar kedua orang tuanya.

Baekhyun memutar gagang pintu kamar itu perlahan. Terdapat lemari putih di pojok kanan kamar itu, Baekhyun yakin semua pakaian Chanyeol tertinggal di sana. Perlahan namun pasti, perempuan itu membuka pintu lemari dengan helaan nafas.

Baekhyun cukup terkejut melihat betapa banyaknya pakaian Chanyeol yang tertinggal di rumahnya sampai saat ini. Lagi-lagi dengan menghela nafasnya ia mengambil kaus putih tanpa motif dan celana selutut milik Chanyeol.

Tubuh Chanyeol menjadi sedikit kikuk saat Baekhyun menghampirinya, mengulurkan tangannya dan memberinya pakaian dengan wajah datar. "Terima kasih, Baekhyun-ah." Baekhyun mengangguk samar.

Lima belas menit setelahnya Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun dengan satu kantung plastik yang berisi seragamnya di tangan kiri lelaki itu. "Duduklah, aku akan mengobati lukamu," Baekhyun menepuk sofa cokelat yang ia duduki di sebelahnya.

Chanyeol tak mengangguk, namun tetap duduk di samping Baekhyun.

Perempuan itu menyapu wajah Chanyeol dengan balutan kapas tipis yang telah dibaluri obat. Mulai dari mata, hidung, hingga dagu. Tangan Baekhyun terus berputar mengitari wajah Chanyeol, hingga tangan kokoh Chanyeol menahan pergelangan tangannya.

Baekhyun sedikit terkejut, gerakannya terhenti. Jantungnya berpacu cepat dan matanya mengarah pada iris hitam Chanyeol yang juga menatapnya dalam. "Baekhyun," lirih lelaki itu.

Baekhyun memutuskan kontak mata mereka. Melihat ke sekelilingnya melalui ekor matanya, hingga suara Chanyeol lagi-lagi menyapa telinganya. "Aku.. –" Chanyeol menunduk, melepaskan tangan Baekhyun dari cengkraman tangannya. "Maafkan aku Baek," lanjut lelaki itu.

"Yang tadi pagi itu.. –"

"Tidak apa-apa, Chanyeol." Pada akhirnya hanya itulah yang dapat Baekhyun utarakan, walau sebenarnya masih banyak seribu kata hujatan untuk sikap brengsek Chanyeol tadi pagi. "Lupakan saja, anggap saja hal seperti tadi tak pernah terjadi,"

Chanyeol tersenyum. Lalu mengusak helai demi helai rambut Baekhyun yang lemas. "Aku menyesal Baekhyun, maafkan aku. Kumohon." Pintanya sekali lagi.

"Jika kau memintanya sekali lagi, aku tak akan memaafkanmu, giant." Bahkan rasanya sangat sakit untuk sekedar tertawa ringan.

Chanyeol lagi-lagi tersenyum, lebam di wajahnya tak lagi terasa sakit, sungguh.

"Apa yang telah menjadi urusanmu, itu akan menjadi urusanku juga. Begitupun sebaliknya," lanjut Chanyeol, memutar balik apa yang telah ia katakan pagi tadi. "Bukankah itu gunanya sahabat?"

Baekhyun menganggukan kepalanya yang kini terasa berat. "Kau benar," Chanyeol sangat benar hingga rasanya begitu sakit untuk sekedar tersenyum bagi Baekhyun.

"Ingin dengar cerita?" seperti kembali ke waktu dimana Chanyeol menanyakan hal serupa kepadanya saat lelaki itu telah resmi menjadi kekasih Krystal beberapa minggu yang lalu. Chanyeol ingin berbagi cerita. Jadi Baekhyun putuskan untuk mengangguk.

"Ini tentang perkelahian aku dan Kim keparat itu tadi pagi."

Mendengar hal itu Baekhyun mendongak, menatap mata Chanyeol dengan dahi yang mengernyit. "Kau tahu Kim Jongin bukan orang yang baik kan?" tanya Chanyeol penuh penekanan. Baekhyun mengangguk beberapa kali. Melanggar semua peraturan sekolah, memacari hampir semua gadis di sekolah bukan termasuk orang yang baik, kan?

"Si bajingan itu mengajak Krystal berkencan."

Tangan Baekhyun yang semula terulur ke permukaan wajah Chanyeol kini jatuh begitu saja ke atas pahanya. Jadi alasan Chanyeol bertengkar dengan Jongin adalah Krystal. Chanyeol membela Krystal setengah mati dan mengusirnya diwaktu yang sama?

"Baek, kau dengar aku?" tanya Chanyeol setelah melihat tak ada pergerakan dari Baekhyun. Chanyeol menghela nafas, "Sore itu aku mendengar semuanya, mulai dari Jongin yang mengajak Krystal kembali berkencan hingga Krystal yang menerima ajakan Jongin." wajah Chanyeol menjadi sedikit muram. "Jadi pagi harinya aku datang ke sekolah dalam keadaan tersulut, dan.. – semua itu terjadi begitu saja ketika Jongin lagi-lagi sengaja menyulut emosiku."

Baekhyun menghela nafas panjang. Lalu tangannya kembali mengobati bekas pukulan Jongin pada wajah Chanyeol. "Pasti pukulan Jongin sangat sakit," Baekhyun meringis. Sedangkan Chanyeol hanya tersenyum mendapati ringisan sang sahabat. "Tahan sedikit ya,"

"Jauh menyakitkan lagi mendengar Krystal menerima ajakan kencannya, Baek. Demi Tuhan itu jauh lebih sakit."

Tangan Baekhyun lagi-lagi jatuh pada kedua sisi pahanya. Obrolan ini, perkataan Chanyeol, semuanya terlalu menyakitkan bagi Baekhyun. Semua tentang Krystal yang diucapkan Chanyeol selalu berhasil menohok hatinya.

"Krystal sangat penting untukmu.." lirih Baekhyun. Chanyeol tak menjawab, ia tahu itu bukanlah pertanyaan, namun sebuah pernyataan. "Tadi pagi ia menangis, Chanyeol-ah.." tambah Baekhyun, matanya masih setia menatap meja yang berada tepat di hadapannya. "Kau harus memohon maaf pada Krystal, aku tahu ia sangat terluka.."

Chanyeol tersenyum tipis. Sangat tipis sehingga Baekhyun tak mungkin melihat senyumannya.

"Aku sudah banyak membuat orang terluka hari ini," Chanyeol terkekeh, membiarkan bahu tegapnya turun naik. "Termasuk kau."

Baekhyun tersenyum. "Semua pasti punya alasan, Chanyeol.. dan aku yakin Krystal menerima ajakan kencan Jongin karena ia memiliki alasan lain," Baekhyun menghela nafas. Ia tahu tak seharusnya ia menjadi penasihat cinta Chanyeol seperti ini, karena itu mungkin saja akan membunuhnya di detik tertentu. "Ini sudah larut malam."

"Kau mengusirku?" Chanyeol tertawa.

"Bukan begitu. Kau bisa tidur di kamar sana kalau ingin tinggal." Baekhyun menunjuk kamar tempat ia mengambil baju Chanyeol beberapa menit yang lalu. "Jadi apa alasanmu menginap kali ini?"

Chanyeol tertawa garing. "Appa tak akan tinggal diam jika ia mengetahui aku pulang selaurut ini dan dalam keadaan seburuk ini."

"Kau benar, tidurlah ini sudah malam."

Baekhyun tersenyum, lalu meninggalkan Chanyeol menuju kamarnya.

Chanyeol menghela nafas. Rasanya dirinyalah orang ternaif sedunia. Urusan Baekhyun akan tetap menjadi urusannya. Termasuk Kim Jongin.

TBC