"I don't remember the last time we spoke
Words build up, to misunderstandings, to regret, to pain—
And suddenly we are separated, there is a distance between which can't be crossed
because we stand at the other side of a completely different spectrum,
never touching, never together."
- Cho Kyuhyun -
.
.
.
Kyuhyun merapatkan genggamannya, sepuluh jari jenjang saling beradu antara satu dan yang lain. Dadanya terasa sesak; matanya panas; pipinya basah. Jutaan perasaan bergejolak dalam hatinya, bercampur antara satu dan yang lain hingga ia tidak dapat memisahkan antara satu dan yang lain. Kyuhyun tidak pernah menyangka bahwa pemuda di hadapannya ini telah melalui begitu banyak penderitaan; begitu banyak luka.
(Sekarang ia paham mengapa Donghae mencoba untuk melenyapkan dirinya tiga tahun lalu.)
Saat ini Kyuhyun benar-benar ingin memeluknya erat dan berkata padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Namun lebih dari siapapun ia tahu bahwa Donghae tidak membutuhkan itu sekarang. Dibalik punggung bergetar dan semua air mata itu, dibalik kerapuhan yang tersemat pada sosok itu, Kyuhyun yakin Donghae jauh lebih tangguh—bahkan sepuluh kali lipat lebih tangguh darinya.
Tapi di sisi lain, pada lapang hatinya yang kian kosong, sedikit rasa takut timbul begitu saja manakala satu demi satu kepingan mulai saling melengkapi; membentuk sebuah kebenaran yang mungkin – mungkin – tidak sesuai dengan ekspetasinya.
Dan jujur saja, itu sedikit membuatnya takut.
(Takut jika apa yang ingin ia dengar akan berbeda dari apa yang akan didengarnya. Takut jika apa yang akan diketahuinya nanti hanya akan menyakitinya. Takut jika semua hal yang telah terjadi di masa lalu akan terulang kembali. Takut jika semuanya tak lebih dari sebuah kebohongan.)
Demi Tuhan, Kyuhyun sangat takut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terkadang ada kebahagiaan saat kau membentang jarak
Ada kelegaan saat kau melepas seseorang pergi
Ada keringanan saat kau mendorong mereka menjauh
.
.
.
Namun di akhir cerita,
Akan selalu ada penyesalan yang tinggal dalam hati
.
.
「i-r-i-d-e-s-c-e-n-t」
chapter six
please have some mercy, little boy
.
.
.
.
.
"Bagianku berakhir di sini, Kyuhyun-ah."
Mendengar kalimat itu membuat Kyuhyun bungkam, bibirnya mengatup rapat seperti takut jika satu kata saja lolos dari mulutnya. "….wae?" bisiknya pelan. "Wae guraeyo?"
"Karena yang aku sembunyikan darimu memang hanya itu." katanya mantap sambil menatap Kyuhyun dengan emosi yang tidak bisa didefinisikannya. "Selebihnya… adalah tugas Jungsoo-hyung."
Pemuda itu terdiam beberapa detik sebelum sebuah tawa miris keluar dari baris bibirnya. "Ige mwoya? Apa kau sedang bercanda sekarang? Ya, Donghae-hyung, apa kau sedang mempermainkanku?"
"Kau tahu kalau aku serius." balasnya pelan.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku!" jerit Kyuhun tidak habis pikir. "Kenapa kau tidak bisa jujur—"
"Sekarang giliranku untuk bertanya." potong Donghae cepat. "Kenapa kau mencarinya?"
Kyuhyun terdiam, matanya membulat terkejut. "A-Aku—"
"Kenapa kau mencari keberadaan Jungsoo-hyung, Kyuhyun-ah?" ulangnya lagi, namun kali ini dengan lebih lembut. "Bukankah kau membencinya?"
Pemuda itu tidak menjawab—atau lebih tepatnya ia tidak bisa menjawab. Untuk apa ia mencari orang itu? Untuk apa ia mencari orang yang sudah membuangnya kalau yang ia dapat akhirnya hanyalah rasa sakit? Kyuhyun… membenci orang itu, kan?
Jadi untuk apa ia mencarinya?
"Kyuhyun-ah, apa kau ingat?" Donghae kembali bersuara. "Aku tidak tahu kenapa kau menangis, tapi kau boleh datang ke sini kapanpun kau mau. Tidak perlu menanggung semuanya sendirian, arra?"
"…apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"
Donghae menatap Kyuhyun sejenak, sorot matanya berubah pilu. Pemuda itu lalu mengangkat tangannya dan menempelkannya pada pipi Kyuhyun. "Tiga tahun lalu, aku tidak pernah memberitahumu apapun. Bahkan setelah malam itu, aku tidak mengatakan apa-apa walaupun ingin rasanya aku—" Donghae menggeleng. "Tidak peduli kau membenciku atau tidak—aku benar-benar ingin memberitahumu. Tapi ini bukanlah bagianku, Kyuhyun-ah. Bukanlah tugasku untuk menyampaikannya."
Pemuda itu terdiam sejenak, bisa dirasakannya cairan bening mengumpul di sudut-sudut matanya. "Katakan padaku," mulai Kyuhyun dengan suara bergetar. "Apa yang terlintas di kepalamu saat melihatku? Apa aku terlihat begitu menyedihkan sampai-sampai kau tidak bisa mengatakan yang sebenarnya? Huh?"
"Kyuhyun-ah…"
"Aku…." Pemuda itu menutup matanya rapat-rapat sebelum membukanya kembali; gurat kelelahan jelas terlihat di wajah pucatnya. "Jujur saja aku lelah dibohongi terus."
"Aku mengerti, sungguh." Donghae tersenyum miring. "Tapi kami melakukan ini semua untukmu."
"Untukku… huh?" Kyuhyun bergumam, padangannya kosong. Sedetik kemudian, pemuda itu menarik matanya menjauh, ke arah telapak tangannya. Kyuhyun tidak tahu apa yang dicarinya di sana sementara hanya gelap yang dapat ditemukannya, tapi ia terus mencari. "Ini... cerita yang sangat lucu sekaligus memuakkan, tidakkah kau berpikir begitu?"
"Kyuhyun-ah…."
"Aku lelah, hyung." tekannya kembali. "Terlalu banyak kebohongan di sini. Apa sampai aku matipun kalian akan tetap merahasiakan semuanya dariku?"
"Kyuhyun-ah…. Aku—kami… kami berdua melakukan ini untuk—"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat. "Hentikan. Jangan katakan apapun lagi."
Dan pemuda itu menuruti permintaannya. Mengatupkan bibir rapat-rapat, walau Kyuhyun tahu banyak yang ingin disampaikannya. Tapi pada detik ini, rasanya ia sudah muak—semua emosi yang bergejolak ini membuatnya muak. Sangat sulit untuk menentukan kapan atau di mana ia bisa memulai, atau bahkan mengapa ia merasakan semua ini, terlebih setelah ia berjanji untuk tidak mengharapkan apapun dan memilih untuk hidup sendiri di mana tidak seorangpun bisa menyakitinya.
Karena ketika Kyuhyun sadar, semuanya – entah apa itu – telah berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Pada waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda, mungkin hal ini tidak akan berarti banyak. Tapi Kyuhyun yakin bahwa ini adalah tanda bahwa dunianya mulai berubah; bertabrakan dan saling mengejar hingga hampir mustahil baginya untuk tidak peduli.
Di atas ranjang rumah sakit ini, di depan sosok yang dulu pernah pergi tapi kembali, dengan air mata yang membasahi pipinya, Kyuhyun menyadari bahwa pada akhirnya kenyataan memang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Dan lebih dari apapun, hatinya benar-benar sakit. Sakit sekali.
"Aku… lebih dari sepuluh tahun…. aku tidak punya sosok yang bisa ku panggil keluarga." bisiknya parau. "Walaupun mereka masih ada di dunia, aku bahkan tidak dapat memanggil mereka dengan bebas…... Kata seperti appa dan eomma—kata seperti hyung….. sudah sangat lama sekali keluar dari mulutku. Bagiku, kata-kata itu seperti tersendat di tenggorokan, tidak bisa ku keluarkan dengan bebas. Kadang aku iri pada mereka di luar sana yang bisa memanggil keluarga mereka lebih dari sepuluh kali dalam sehari. Dan aku? Aku tidak bisa apa-apa. Yang aku miliki sekarang hanyalah memori tanpa wajah. Semua yang kumiliki sebatas suara dan rasa, hanya itu hartaku yang berharga."
"Kyuhyun-ah…"
"Hanya itu…. dan kalian masih ingin merampas kebenaran dariku juga?" tanyanya serak. "Apa ini tidak terlalu kejam?"
Donghae hanya dapat memandang Kyuhyun dalam diam, sorot matanya pekat akan rasa bersalah dan penyesalan.
"Aku… aku hanya ingin semuanya berakhir." Kyuhyun berbisik dengan suara bergetar menahan tangis. "Ini tidak mudah bagiku, sangat sulit untuk mempercayai orang lagi. Aku ingin percaya, sungguh—tapi kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau menyembunyikan kebenaran dariku? Tidakkah kau tahu kalau ini menyakitiku? Menyakiti kita?"
"Kyuhyun-ah…. aku—"
"Aku lelah, Donghae-ssi." potong Kyuhyun kosong. "Tolong tinggalkan aku sendiri."
Donghae terpekur, sebelum setitik air mata jatuh dari iris coklatnya ketika ia menyadari bahwa Kyuhyun telah menutup hatinya kembali.
Tuhan, kenapa semuanya jadi begini?
.
.
.
.
.
Salju pertama turun hari ini. Seoul tertutup oleh langit kelabu dan bentangan salju putih tak berujung; taman kota yang dipenuhi bunga hydragea, gedung-gedung pencakar langit, rumah-rumah sederhana, dan orang-orang yang berangsek di aspal yang membeku turut tertutupi oleh butir-butir kondensasi itu. Suara berisik khas kota metropolitan bercampur dengan aliran pejalan kaki, sebelum menghilang di antara kerumunan yang kian menggunung.
Donghae menyenderkan dirinya pada balkon besi itu—masih balkon yang sama, kamar yang sama. Namun rasanya berbeda, karena kamar itu kosong sekarang, sudah lama tidak ditempati. Kyuhyun sudah dipindahkan ke kamar lain yang terletak di lantai dasar sejak kejadian tiga tahun lalu. Donghae tidak heran. Ia paham bahwa pihak rumah sakit hanya ingin menghindari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Pemuda itu kemudian memejamkan matanya sejenak dan membiarkan angin menerpa tubuhnya. Menghirup aroma musim dingin membuatnya merasa sedikit terbebas setelah berjam-jam terus berdebat dengan dirinya sendiri. Ia tidak bisa ingat kapan terakhir kali ia membiarkan dirinya berhenti sejenak untuk menikmati hal-hal sederhana seperti ini.
Appa... aku merindukanmu.
Sepi kemudian datang lalu membawanya kedalam senyap yang berkepanjangan. Donghae membuang nafas yang ia tahan sedari tadi sebelum ia membenamkan wajahnya kepada lipatan kedua tangannya. Ingatan dari tiga tahun lalu terus berputar dalam otaknya seperti kaset rusak.
"Donghae-ah…. Mungkin ini terdengar mustahil tapi Kyuhyun…."
"….Jungsoo-hyung?"
"Kyuhyun… adalah dongsaengku."
Asap putih mengepul dari bibirnya yang bergetar. Pemuda itu merapatkan jas putihnya erat, mencoba mengusir hawa dingin yang kian mengusik. Donghae selalu membenci musim dingin seperti ia membenci hujan. Hujan dan salju selalu mengingatkannya pada kenangan buruk; kenangan yang ingin dilupakannya namun tak bisa.
"Y-Ya, Hyung. Kau—Kau bercanda kan? I-Ini tidak benar 'kan?"
Donghae menunduk dalam-dalam, menyembunyikan manik coklatnya yang mulai berair di balik sapuan rambutnya. Bahu pemuda itu sedikit bergetar saat Jungsoo memilih untuk diam, remasannya pada sebuah catatan medis kian merapat, membuat buku-buku tangannya memutih.
"Berhenti bercanda hyung." katanya sambil tertawa; tawa yang lemah; tawa yang memaksa. "I-Ini bohong 'kan?"
"Donghae-ya…" Jungsoo menatapnya dengan—dengan entahlah. Donghae tidak mampu menggambarkannya dengan jelas, karena ia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya ingin Jungsoo sampaikan, namun kepedihan yang bercampur dengan kehangatan dalam sepasang manik karamel itu membuat dadanya kembali sesak.
"J-Jadi yang dimaksud appa itu—" Donghae berhenti sejenak. "Namja yang harus kutemui—"
"Adalah Kyuhyun." lanjutnya lemah. "Cho Kyuhyun, dongsaeng kandungku."
Saat itu juga hujan, ia ingat. Saat Jungsoo membuka rahasia yang berhasil menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangunnya atas pemuda itu. Jujur saja saat itu Donghae tak tahu harus melakukan apa. Bahkan sekarangpun, pemuda itu masih saja terjebak pada dilema yang sama.
Ia marah, tentu saja. Jika kata-kata umpatan yang meluncur dari mulutnya tidak termasuk dalam bentuk kemarahan, ia tak tahu apa lagi yang bisa. Tapi lebih dari marah, lebih dari kecewa, Donghae merasa dimanfaatkan. Ia merasa seperti lakon dalam sebuah drama terkenal yang tidak memiliki pilihan apapun selain mengikuti script yang telah ditulis terlepas ia menyukainya atau tidak.
"Jadi kau memanfaatkan appa? Memanfaatkanku? Huh?" tanya pemuda itu kasar. "Jadi alasanmu mau susah payah mencariku hingga ke amerika karena kau ingin aku memperbaiki semua kesalahanmu?"
"Donghae—"
"Aku tidak tahu kalau kau sepicik ini hyung." katanya sambil tertawa. "Benar-benar membuatku muak. Apa sekarang kau puas? Apa kau tidak menyesal sedikitpun sudah mempermainkanku seperti ini?"
"Hae-ya… tolong mengertilah." mohon Jungsoo. "Aku tidak bermaksud—"
"Lalu ini apa hyung?!" hardiknya keras. "Jika ini bukan seperti yang aku pikirkan—sebenarnya apa yang kau mau?!"
Dan mungkin saat itu ia benar. Tapi mungkin ia juga salah. Donghae tidak tahu harus berkata apa. Sesakit apapun hatinya, betapa kecewanya ia, pemuda itu tahu kalau Jungsoo hanya ingin melakukan apa yang terbaik untuk Kyuhyun. Untuk dongsaeng kandungnya.
Tapi apa semuanya memang hanya kepalsuan? Apa ikatan di antara mereka memang serapuh itu? Hanya sebatas fabrikasi yang bahkan tidak mereka ketahui awal mulanya?
"Aku mohon, Donghae-ya." Jungsoo berbisik. "Lakukan ini untukku. Aku… sudah kehilangan hak itu lima tahun lalu. Kembalilah ke amerika dan lanjutkan studimu. A-Aku sudah mengurus semuanya—sisanya tergantung padamu."
"….kenapa aku?" lirihnya lemah. "Ada jutaan dokter handal di luar sana, lalu kenapa aku?"
Jungsoo tersenyum. "Karena jika bukan kau, tidak ada lagi yang bisa."
Donghae tahu bahwa mereka berdua tak lebih dari bidak-bidak catur yang dimainkan, tapi ia juga ingin percaya bahwa semua ini adalah takdir. Mungkin empat tahun lalu pemuda itu membawanya kembali ke seoul tidak murni hanya karena appanya sekarat, tapi setidaknya yang menemukan Kyuhyun di kamar itu adalah dirinya. Bukan Lee Donghae, tapi orang asing yang bahkan tidak Kyuhyun ketahui namanya sampai detik-detik terakhir.
Hanya saja Donghae masih belum bisa menerima semuanya; menerima kenyataan.
"Kau tahu apa yang paling sulit untuk ditaklukkan?" katanya.
"…..apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
Jungsoo meletakkan tangannya tepat di dada Donghae.
"Hati, Donghae-ah." bisiknya. "Kau sudah membangun tempat di hatinya, dan untukmu, aku yakin dia akan berjuang."
.
.
.
.
.
Kyuhyun menyusuri trotoar yang sepi dengan langkah terseok. Waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam, hanya sedikit pejalan kaki yang masih berkeliaran di sekitar jalanan kota Seoul yang lenggang. Ditemani dengan cardigan yang kebesaran, syal biru muda, dan sebilah tongkat besi pemuda itu nekat menyelundup dari pengawasan pihak rumah sakit. Kyuhyun sudah tidak tahan lagi—berada di kamar persegi itu membuatnya sesak. Yang ia butuhkan saat ini adalah kebebasan, bukan sesaknya ruang inap serba putih itu.
Kyuhyun harap tidak ada yang menyadari kalau ia menghilang. Ia hanya ingin menghirup udara segar untuk beberapa menit, atau mungkin jam, lalu kembali ke kamarnya dan berpura-pura bahwa ia sedang tertidur pulas. Kyuhyun membutuhkan ini, sungguh. Terlebih mengigat pertengkaran – apa mereka bertengkar? – yang terjadi sore ini.
Kyuhyun menghela nafas.
Aku benar-benar membutuhkan udara segar.
Oh ayolah, dua belas tahun sudah ia habiskan di balik dinding rumah sakit dengan percuma, setidaknya ia pantas untuk terbebas dari kekang besi itu untuk beberapa saat sebelum mereka menemukannya dan menyeretnya kembali.
Tap
Pemuda itu mengedip ketika titik dingin mengenai hidungnya. Ia berhenti lalu mendongak, telapak tangannya mengadah ke atas. "Salju?" gumamnya kecil saat titik lain kembali menghujam kulitnya pelan.
Bicara tentang salju, entah mengapa ia jadi ingat saat-saat keluarganya masih lengkap dulu. Jung—orang itu selalu membawanya bermain keluar ketika salju pertama turun; atau mengajaknya bermain perang salju, juga membuat orang-orangan salju. Saat ditanya mengapa dia sangat menyukai salju, orang itu selalu berkata—
"Karena kau lahir saat musim dingin, Kyuhyunnie!"
Sebuah senyum miris tersemat pada bibirnya yang pucat. Kyuhyun sangat membenci musim dingin.
Kau juga meninggalkanku saat musim dingin, hyung.
Kyuhyun tersentak ketika ia sadar bahwa ia sudah berdiri di sana cukup lama. Dirampasnya tongkat besi yang sedari tadi terbengkalai di sisinya lalu melanjutkan perjalanannya kembali, namun entah mengapa tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan saat ia sadar kalau ia sudah kehilangan hitungannya.
Ini di mana? Hitunganku tadi sampai berapa?
Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dalam cemas. Kyuhyun lupa sudah berapa langkah ia lalui dan sekarang ia bingung harus melangkah kemana. Kyuhyun hanya bisa mengingat jalan yang ia lalui dengan hitungan langkahnya, dan sekarang itu hilang, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Aku harus pergi ke mana?
Kyuhyun berjengit ketika sebuah tepukan ringan mengenai pundaknya. "Anak muda, apa kau tidak apa-apa?"
Pemuda itu terdiam, bibirnya terasa kelu. Pikirannya berkecamuk, Kyuhun takut. Ia merasa takut sekali sampai-sampai tubuhnya tidak mau bergerak.
"Anak muda? Apa kau mendengarku?"
Rasa takut itu tumbuh semakin besar dan mulai menggerogoti tiap jengkal dari pikirannya. Bagaimana jika dia orang jahat? Bagaimana kalau dia ingin menculikku? Apa yang harus kulakukan sekarang?
Menelan teriakan yang hampir menembus deretan gigi-giginya, Kyuhyun mundur selangkah sebelum ia mulai berlari, tongkat besi yang setia menemaninya ia lemparkan begitu saja ke sembarangan arah. Ia menyesal sudah bersikap keras kepala. Jujur saja Kyuhyun tidak pernah merasa setakut ini, tapi ini adalah pertama kalinya ia keluar saat malam hari—tengah malam pula. Pemuda itu tidak tahu harus pergi kemana, namun satu hal yang bisa ia pikirkan saat ini adalah lari.
Dan Kyuhyun berlari.
BRUK
"YAH! Apa yang kau lakukan?!"
Belum lima langkah ia menapak, Kyuhyun sudah menabrak seseorang di depannya hingga tersungkur. Ia meringis saat kasarnya aspal menyentuh siku dan lenganya, menggores kulitnya hingga bau amis darah menyeruak, menusuk-nusuk indra penciumannya.
"O-Oi, kau tidak apa-apa?" Kyuhyun tetap bungkam sambil sesekali meringis pelan saat keping salju jatuh pada lukanya dan meleleh. Pemuda itu mengulang pertanyaannya, tapi Kyuhyun hampir tidak mendengarkan dan kata demi kata mulai menghilang begitu saja, teredam oleh lenguhan kesakitan yang keluar dari bibirnya.
"Yah bocah! Apa kau tidak punya mulut?" Meringis sekali lagi, Kyuhyun mencoba untuk berdiri. Pemuda asing yang ia tabrak tadi memegang tanganya, mungkin bermaksud untuk membantunya berdiri, namun Kyuhyun malah mendorongnya menjauh. "Aish, bocah ini benar-benar—" dia menggelengkan kepalanya kesal. "Ikut aku!"
Kedua bulatan kelabu Kyuhyun melebar saat pemuda itu tanpa aba-aba menariknya pergi dari tempat itu. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa, badannya serasa kaku; mati rasa. Jangankan melarikan diri—melepaskan tangannya saja Kyuhyun tidak sanggup.
"Jangan coba-coba kabur, arra?" Pemuda itu memperingatkan seakan-akan dia bisa membaca pikiran Kyuhyun. "Diam dan ikuti aku."
Tidak menunggu lama, Kyuhyun segera mengatupkan mulutnya rapat sesuai perintah. Nada pemuda asing itu benar-benar membuat bulu kuduknya meremang. Demi Tuhan dia terdengar seperti pemimpin komplotan yakuza yang sedang mengancam bawahannya—
Kyuhyun meneguk ludahnya.
—atau mangsanya.
Ya Tuhan tolong selamatkan aku.
Dalam hati Kyuhyun terus berdoa agar hidupnya tidak akan berakhir tragis seperti cerita-cerita opera sabun yang sering didengarnya belakangan ini.
.
.
.
.
.
"Bagaimana? Apa masih terasa sakit?"
Pemuda itu mendongak ketika sebuah tepukan mengenai pundaknya. Bulatan matanya membuka sejenak, melirik untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali mengalihkan pandangannya. Kyuhyun tidak menjawab, tentu saja. Ia terlalu sibuk meraba-raba plaster yang tersemat pada kedua siku dan lengannya. Ia tersenyum simpul. Rasa perih yang semula mendera sarafnya kini sudah pudar, hanya tinggal denyut-denyut nyeri yang tertinggal di sana.
"Ya, bocah." Pemuda asing itu menjepit hidung Kyuhyun gemas, membuatnya memerah. "Kau ini tidak punya mulut atau apa? Setidaknya anggukkan kepalamu!"
Menepis tangan asing yang menghalangi sirkulasi udaranya, Kyuhyun mengenakan eskpresi melotot yang lucu. "Sudah tidak sakit lagi. Terima kasih."
"Hmph. Ternyata kau punya mulut." katanya puas saat Kyuhyun menjawab pertanyaannya, meskipun dengan nada ketus yang terdengar tidak sopan. "Sama-sama bocah. Lagipula kenapa kau belari seperti orang kesetanan?"
"Aku hanya ingin sedikit berolahraga." jawabnya singkat. Dengan wajah datar dan suara rendahnya, Kyuhyun sama sekali tidak terlihat seperti sedang berbohong. Namun sepertinya semua itu tidak cukup ketika pemuda itu bisa membaca kebohongannya dengan jelas.
"Berolahraga?" dengusnya mengejek. "Tengah malam begini? Saat hujan salju pula? Otakmu pasti bermasalah."
Kyuhyun mendelik tajam. "Terserahku. Bukan urusanmu juga."
"Yah! Dasar tidak sopan! Memang aku temanmu! Bicara yang benar!"
Mengerlingkan matanya bosan, Kyuhyun memaksakan dirinya untuk tersenyum manis; namun hal itu malah membuatnya seperti sedang meringis kesakitan. "Mianhae, ahjussi."
"A-Ahjussi—" pemuda itu megap-megap. "YA! Jangan panggil aku ahjussi! Aku ini masih muda!"
"Lalu aku harus memanggilmu apa, ajusshi?" balasnya sambil tersenyum menyebalkan. "Ahjumma?"
"Aish jinjja." Senyum Kyuhyun makin lebar saat ia mendengar pemuda itu merutuk keras-keras. Penat yang semula menekan otaknya kini menguap entah kemana, digantikan dengan suatu perasaan yang tidak ia ketahui namanya. Perasaan yang nyaman; ringan. Ada seberkas kehangatan yang timbul di hatinya. Rasa-rasanya Kyuhyun seperti mengenal sosok ini entah di mana. Ada sesuatu yang familiar dari caranya berbicara, dari caranya bertindak. Dan suaranya; suaranya mengingatkan Kyuhyun pada seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai.
Kenapa aku jadi teringat orang itu?
"Panggil aku hyung!" Kyuhyun kembali tersentak saat pemuda itu mengancamnya sambil mencubit kedua pipi Kyuhyun gemas. "Kau dengar? Hyung! Bukan ahjussi atau ahjumma!"
"Kau tidak cocok dipanggil hyung." ejek Kyuhyun lagi sambil tersenyum meremehkan. Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa aku seperti mengenalnya? "Bagaimana kalau noona? Suaramu teralu nyaring untuk ukuran namja. Kau lebih mirip ahjumma-ahjumma di pasar, jadi boleh aku memanggilmu noona?"
"N-Noona?" bisik pemuda itu syok. "K-Kau—bocah tengik—YA! Dasar tidak sopan!"
Tidak tahan mendengar nada terkejut yang terlalu didramatisir itu, Kyuhyun lantas membungkukkan kepalanya dalam-dalam untuk menahan tawa yang meluap naik dari perutnya. Namun ia tidak berhasil ketika bahunya mulai bergetar hebat, bibirnya membuka dan mengatup, dan tawanya pecah begitu saja, mengalun merdu di antara langit bersalju kota Seoul. Pemuda asing yang tadinya ingin menjitak kepala bocah kurang ajar itu hanya dapat terdiam sekarang, pandangannya melembut saat matanya menangkap raut kebahagiaan yang tercipta di wajah polos Kyuhyun.
"Bocah," ucapnya pelan. "Ternyata kau bisa juga tertawa seperti ini."
Mencoba menetralkan nafasnya yang satu-satu, Kyuhyun melepaskan beberapa tawa kecil sebelum senyum lebar terpeta pada wajahnya yang memerah. "M-Mian, aku tidak bermaksud untuk—."
"Arraso, arraso." Potong pemuda itu. "Kau masih bocah. Aku mengerti."
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. "Aku bukan bocah."
"Ya, ya, terserah apa katamu." katanya sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Ngomong-ngomong, kau belum memberitahukan namamu. Ilume moashieyo?"
Kyuhyun memiringkan kepalanya ke samping. "Kenapa aku harus memberitahu namaku padamu?"
Sudut-sudut persegi terbentuk pada kening pemuda itu. Kyuhyun kembali menyeringai puas saat ia mendengar rutukan pelan keluar dari mulutnya. "Tidak bisakah kau tidak balik bertanya sekali ini saja?"
"Tidak bisakah kau tidak menanyakan namaku?" balasnya usil. "Ne, ahjussi?"
"Jinjja…." Pemuda itu memijit keningnya. "Bocah ini benar-benar…."
Drrtt
"Changkamanyo." Pemuda itu merogoh saku celananya lalu menarik sebuah telfon genggam yang masih terus bergetar. Dia mengusap layar touchscreen itu sekilas, iris karamelnya memantulkan sebuah nama yang berkilat-kilat pada layar, sebelum mendekatkan benda persegi itu ke telinganya. "Yoboseyo—"
"—YA! KIM HEECHUL!"
Deg
Jantung Kyuhyun serasa berhenti berdetak detik itu juga. Heechul?
"Ya! Kenapa kau bert—!"
"—tidak mengangkat panggilanku! Kemana saja kau!? Cepat kembali ke rumah sakit sekarang!"
"O-Oi Tan Hangeng kau berani—!"
"TIDAK ADA WAKTU LAGI! Sesuatu terjadi pada Hanna-ssi!"
Kyuhyun memucat. Hanna-ssi?
"A-Apa yang—?"
"Jangan banyak bertanya! Cepat kembali! Kami menunggumu!"
Tut
"YA!" Heechul – pemuda itu – menatap layar hitam pada genggamannya dengan pandangan bercampur antara marah dan syok. "A-Apa yang… sialan!" Dia berbalik ke samping, ke arah Kyuhyun yang ganti memandangnya kosong. "Mianhae, aku harus pergi sekarang. Kau tidak apa-apa aku tinggal sendiri?"
Butuh waktu lima detik untuk Kyuhyun mejawab pertanyaan simpel itu. "N-Ne. Gwaenchana. Pergilah hyung."
Pemuda itu memandangnya sejenak; seperti sedang membaca raut wajahnya, menilainya, sebelum dia menarik tangan kurus Kyuhyun dan menuntunnya sama seperti awal pertemuan mereka beberapa jam lalu. Iris kelabu Kyuhyun melebar, rasa-rasanya bola matanya ingin meloncat keluar saat pemuda itu terus menariknya pergi dari tempat itu.
"Y-Ya! Hyung apa yang kau—!"
"Aku tidak mungkin membiarkan bocah sepertimu sendirian tengah malam begini." gumamnya pelan. "Kau ikut aku."
Wajah Kyuhyun makin memucat. Kulitnya kini sudah sewarna dengan butir-butir salju yang turun menghujani tubuhnya. Jika perkiraannya memang benar, pemuda yang dihadapannya ini adalah—
Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat.
Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Y-Yah! Aku tidak apa-apa sendiri! Tidak perlu mengkhawathirkanku!"
"Jangan membantah!" bentaknya tegas. "Tutup mulutmu dan ikuti aku."
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kuat.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
.
.
.
.
.
"—CARI DIA DI SELURUH BAGIAN RUMAH SAKIT! JANGAN LEWATKAN SATU RUANGANPUN!"
"N-Ne!"
Seorang suster menghampiri pemuda yang sedang sibuk berteriak itu dengan takut-takut. "U-Uisa Lee—"
"Apa kau menemukannya?!" tanya Donghae sambil mencengkram erat bahu wanita muda itu, membuatnya meringis kesakitan. "Apa kau menemukan Kyuhyun?!"
"A-Ani." Wanita itu menggeleng keras. "S-Saya hanya ingin menyampaikan k-kabar dari p-petugas yang turun ke jalan untuk dua puluh menit lalu, s-sampai sekarang mereka masih belum menemukan jejak a-apapun."
"Fuck!" Donghae mengumpat keras-keras. "Cari lagi! Aku tidak peduli! Cari dia sampai dapat!"
"N-Ne!" cicit wanita itu takut. Siapa yang tidak takut? Sosok Lee Donghae yang sekarang berbanding terbalik dengan sosok yang biasa dilihat oleh residen rumah sakit. Tidak ada lagi dokter muda tampan dengan senyuman lembutnya, namun seorang pemuda dengan api kemarahan di matanya yang indah. "S-Saya permisi!"
Lepas wanita itu menghilang dari pandangannya, Donghae melesat ke pintu keluar rumah sakit dengan langkah besar. Jantungnya terus berdegup kencang, kepalanya sakit seperti ditusuk-tusuk; namun tetap dipaksakkannya kaki untuk berjalan.
Kyuhyun-ah, kau pergi kemana?
Langkah Donghae terhenti ketika ia menangkap sosok familiar dalam jarak pandangnya. Sesuatu – entah apa itu namanya – bergejolak dalam dadanya, membuatnya sesak. Donghae mempercepat ayunan kakinya, dan setelah jarak mereka hanya sebatas uluran lengan, ia segera menarik kerah baju pemuda di hadapannya kasar lalu meraung;
"INI SEMUA SALAHMU JUNGSOO-HYUNG!"
"H-Hae-ya…" Jungsoo hanya memandangnya lelah, gurat kelelahan jelas tercetak pada wajahnya yang dibanjiri peluh. "Tolong jangan sekarang."
Donghae tidak menghiraukan permohonan pemuda itu dan memilih untuk mempererat cengkramannya. "Jika saja kau tidak membohongiku—membohonginya. Jika saja kau tidak membuatku berjanji untuk tutup mulut. Jika saja kau tidak melarikan diri—!" ia memejamkan matanya yang mulai terasa panas rapat-rapat. "Semuanya tidak akan jadi begini!"
"Hae-ya…."
"J-Jika Kyuhyun sampai tidak ditemukan—" Donghae menatap Jungsoo tajam. "Jangan pernah berharap aku akan memaafkanmu."
.
.
.
.
.
Jungsoo menyenderkan kepalanya pada sisi meja, matanya menerawang ke depan. Pikirannya melayang pada sosok yang kini menghilang entah kemana, membuat hatinya berdenyut sakit.
Kyuhyun-ah, wae geuraeyo?
Ia membiarkan air mata jatuh begitu saja dari kelopak matanya. Kata-kata Donghae masih saja menghantuinya; membuatnya merasa seperti mahluk paling menyedihkan yang ada di dunia. Pemuda itu tanpa sadar membawa jarinya mendekat, lalu menempatkannya pada sela bibirnya sebelum menggigit kukunya dalam diam.
Jungsoo berhenti sejenak saat sesuatu menetes dari tangannya. Pemuda itu mengedip, sebelum pandangannya jatuh ke bawah, ke arah titik merah yang melebar pada lantai marmer putih.
Ah, aku melakukannya lagi.
Dimulai dengan menggigit bibirnya sampai berdarah, kebiasaan buruk itu kini sudah menjadi bagian dari dirinya. Jungsoo tidak pernah meyadarinya, dan esok hari ketika ia bangun rasa amis sudah mengendap saja di lidahnya, membuatnya ingin muntah. Pada awalnya Jungsoo tidak mengambil pusing, setidaknya sampai kulit bibirnya mulai mengelupas dan berseru perih ketika ia menyesap kopi atau sekedar meneguk segelas air putih.
Bukannya membaik, kebiasaan ini makin memburuk ketika pemuda itu beralih untuk mengunyah kukunya. Ia akan mengunyah kukunya sampai ujung-ujungnya tidak terlihat lagi, sampai ia tidak bisa lagi merasakan apa-apa selain perih yang menyesap pada saraf sakitnya.
Seberkas tawa lemah lolos dari bibir pemuda itu. Darah sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Jungsoo adalah dokter; mau tidak mau ia sudah hafal bentuk, rasa, dan aroma dari cairan kental itu dengan baik. Baik pada tangan, tubuh, maupun jari-jarinya, warna merah yang tampak kontras dengan kulitnya itu sudah seperti essensi yang tidak dapat ia pisahkan dari hidupnya. Tapi tetap saja, pemuda itu tidak menyukainya, terlebih saat darah itu mengalir dari nadinya.
Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia tidak bisa berhenti. Tidak jika rasa sakit ini bisa menghilangkan beban pikirannya, walau hanya untuk sementara.
Sambil mengelap ujung-ujung jarinya yang terlihat berantakan dengan kuku bergerigi dan darah yang mulai mengering, Jungsoo perlahan bangkit dari posisinya di lantai. Pemuda itu menepuk-nepuk celananya, sebelum ia merogoh saku jasnya dan mendapati sebuah benda persegi di sana. Jungsoo mengusap layar hitam itu beberapa kali sebelum ia menempelkannya ke telinga.
Jika Kyuhyun memang pergi atas kemauan sendiri—Jungsoo tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan apa yang ia inginkan. Sudah cukup dua belas tahun ini ia mengekang pemuda itu di sini. Tapi setidaknya, setidaknya Jungsoo harus mengetahui keberadaan dongsaengnya itu.
"Kangin-ah." panggil pemuda itu saat panggilannya tersambung. "Aku butuh bantuanmu."
.
.
.
Author's notes:
And yep, this is chapter 06~ Well, makin panas aja nih ff hehe~ #DitabokMassal #SaatAuthorMulaiLelah. Gimana-gimana? Apa konfliknya terbaca? Aku harap nggak *peace* Btw menurut kalian apa yang bakal terjadi sama Kyu? Spekulasi aja yaa~ Kali aja imajinasi kalian ada yg sejalan denganku :)
Well, apa masih ada yg bilang Heechul tidak berperasaan di sini? #KetawaJahat. Dan tentang Hae yang bener" emosian, itu aku ambil dari karakternya loh. Hae kan emang orangnya emosional, wajah dan tingkah aja unyu, tapi kalo udah marah beda ceritanya #DigamparHae. Jungsoo… sebenernya ini diambil dari kisah nyata. Temenku yg waktu itu depresi berat cerita kalau dia suka gigit bibir/kukunya sampe berdarah…. Well, self-harm isn't the answer for misery so don't do it, okay?
Oh iyaa, satu lagi, maksud dari flashback di bagi dua itu (liat A/N kemarin), bukan jadi dua chapter, tapi jadi dua sisi biar ada jeda dikit hehe. Mian kalau kata-kataku ambigu, semoga nggak ada yg bingung lagi~ Gimana appa Lee bisa ketemu Jungsoo biarkan jadi rahasia dulu yaa ^^
Gomawo untuk readers yang sudah mereview, aku benar-benar senang saat membaca pesan-pesan dari kalian semua! Selamat datang bagi para readers baru! Mianhae aku nggak bisa jawab satu per satu seperti biasanya, soalnya aku lagi sibuk"nya renov rumah :) Aku juga kayaknya bakal stop nulis dulu abis chapter ini, mungkin sebulanan lah.
Kenapa? Karena aku mau ngelanjutin ff aku yg lain (iyaa yg inggris) dan bakalan sibuk bantu kating buat nyiapin ospek angkatan 16 (akhirnya terbebas dari status maba~ TwT). Yah, aku usahakan sih nggak lama" tapi lihat keadaan juga. Karena itu untuk A/N kali ini aku bakal jawab pertanyaan yg umum dari review chapter kemarin dan beberapa pertanyaan yg diulang" biar nggak ada yg bingung lagi :)
.
.
.
a). Apa ini bakalan happy ending/sad ending?
Ehhh, kalo aku kasih tau nanti spoiler dong ^^
b). Hubungan Jungsoo sama appanya Hae apaan sih? Trus pemuda yg appa Lee mau kenalin ke Hae itu Kyuhyun ya?
Hehehe, apa yaa? Coba baca/maknai chingu, aku udah kasih beberapa petunjuk kok~ Nggak seru dong kalao semuanya di kasi tau :)
c). Bisa buat Kyuhyun lebih menderita/kok Kyuhyun-nya kurang tersiksa/Banyakin Kyuhyun-nya dong?
Ehh, gimana yaa~ Sebenarnya tujuan aku buat ff ini bukan untuk buat Kyu keliatan kasian atau menderita sih, tapi lebih ke perjuangannya dapetin kebahagiaan. Kyu emang menderita (psikis dan mental), tapi lebih dari itu, aku mau nyeritain gimana masing" tokoh (terutama Kyu) bisa menghadapi ketakutan dan penyesalan masing" tanpa harus bikin mereka jadi pihak antagonis. Dan karena itu, masing" tokoh dapet jatah walaupun tentu Kyu yang jadi fokus karena, well, semua karakter di sini baik secara langsung atau nggak punya relasi sama Kyuhyun. Mian bagi yg nggak suka, tapi yah aku nulis apa yg aku ingin tulis :) Aku nggak bakal maksa kalian untuk tetep lanjut baca kok, everyone has their own prefrences after all ^^
d). Yang ingin tahu/bingung tentang pendidikan Hae
16 tahun – mulai kuliah (enam tahun lalu)
18 tahun – ketemu Jungsoo, keadaan appanya drop (empat tahun lalu)
19 tahun – lanjut kuliah pasca appanya meninggal/ketemu Kyu (tiga tahun lalu)
20 tahun – lulus + ambil profesi spesialis (dua tahun lalu)
22 tahun – lulus profesi spesialis (sekarang)
Hae skip beberapa grade, jadi dia kuliahnya diluan :) Untuk sistem kuliahnya di sana, aku ambil yg paling simpel dan umum yg aku dapet dari internet. Untuk Pre-Medical School, dibagi 4 tahun. M1 (First Year) dan M2 (Second Year) masih teori/pengenalan, dan di akhir M2 med-studs harus ngambil USMLE Step 1, yang mungkin bisa dibilang tes paling penting karena menentukan tipe profesi spesialis apa yang cocok. Ini setting-nya pas Jungsoo dateng ke Amerika.
M3 (Third Year) dan M4 (Fourth Year), med-studs akan menghabiskan beberapa minggu di rumah sakit atau klinik untuk belajar dari dokter di sana, mirip" ko-ass lah. Di sini aku buat Hae skip 1 tahun (M3 sama M4 diperpendek jadi satu tahun) dan di akhir M4 ada tes USMLE Step 2 untuk kelulusan. Abis itu dilanjutin sama residency (praktek/kerja di RS) satu tahun, terus ambil USMLE Step 3, terus lanjut residency lagi. Pengambilan spesialis berlangsung pas recidency dan range nya antara 2-5 tahun, tergantung sama sama kemampuan masing-masing. Aku ambil yg paling cepet aja 2 tahun, biar Hae nggak tua" banget. Mohon maaf kalau ada kesalahan, harap maklum yah ^^
e). Beneran nih masih 18 tahun? Nggak bohong kan?
Hehehe, emang aneh yaa? Kayaknya banyak banget yg nggak percaya :) Aku lahir akhir tahun 97 kok, jadi sekarang masih 18. Well, I'm turning 19 in a few months though ^^ Mian bagi eonni-eonni, dan hyung-hyung (aku geli panggil oppa ^^), kalau ada, yang kemarin aku panggil chingu hehe~
f). Apa ada arti khusus dari judul tiap chapter/dialogue?
Iyaa, memang aku rangkai sesuai dengan konteks tiap chapter :) Tinggal artiin aja, terus sambungin deh maknanya~
g). Kok kamu lancar banget Bahasa inggris/Bukan orang indo ya/Beneran ini pake google translate/Emang di rumah nggak pake Bahasa Indo ya/Kenapa kamu lebih suka nulis pake Bahasa Inggris/Kasih tips buat belajar inggris dong?
Ini adalah pertanyaan yg paling sering keluar :) Eum, sebenernya aku udah jelasin di chap 1 sih, tapi kayaknya masih banyak yg salah presepsi. Aku asli orang Indo kok, cuman hobi nulis inggris hehe~ Dan iyaa, di rumah pake B. Indo kok, tapi gimana ya ngomongnya… sulit buat aku pas nulis beberapa adegan langsung pake . Sebenernya B. Indo sama Inggris itu secara konteks itu mirip, tapi penerapannya beda.
Mungkin karena B. Inggris itu Bahasa internasional, jadi vocab dan aplikasi kalimatnya lebih bervariasi. Bisa dikatakan, pas aku nulis inggris, aku-nya lebih 'bebas' dalam merangkai kalimat. Contohnya gini, kalimat kayak "And hours 'bleed' into days—" udah biasa/umum digunakan oleh banyak author. Tapi coba deh di translate ke , "Dan waktu 'berdarah' menjadi hari-hari—" jadinya aneh banget kan?
Untuk B. Inggris, penggunaan kata ganti yang nggak wajar (dalam B. Indo) itu biasa loh, malah kesannya kalimat jadi lebih menarik/indah. Contohnya banyak; He 'worms' his way/Her breath 'catches'/ on the 'plane' of her tongue/ dan masih banyak lagi~ Selain itu kata tunjuk subjeknya juga jelas banget (he/she/it/they/etc). Mungkin karena itu juga aku lebih lancar pas nulis B. Inggris, karena variasi dan penggunaan katanya dinamis banget :) Banyak banget kata yg bisa 'dimainkan' tapi tentu masih memperhatikan penggunaan grammar/tense-nya juga.
Tips untuk belajar inggris ya… well, beberapa dari kalian pernah tanya ini, dan beberapa nanya lagi di chap kemarin, jawaban aku masih sama; banyak baca dan nonton film barat hehe. Aku dulunya juga liat B. Inggris kayak liat tulisan alien kok, tapi karena udah terbiasa ditambah motivasi/niat yg besar, jadi deh bisa nulis/ngomong/baca kayak sekarang… walaupun tentu, nggak perfect" banget #ketawa garing.
Oke sekian dariku! Jika masih ada yang bingung atau apa, tanyakan aja lagi :) Maaf jika ada kesalahan tulisan dan typos yang menjamur. Saran dan kritik kalian selalu welcome. RnR? ^^
