Title :
Love, Fight, Blood
Cast :
SEVENTEEN
Genre :
Romance, Action, Crime, Hurt/Comfort, Family
Length :
Chaptered
Rated :
M (for blood scene and some gore. Maybe some sex scene but not really)
Disclaimer :
Nothing
Warning :
Disini, member mempunyai karakter berbanding 180 derajat dengan aslinya. Jadi yang biasanya biasnya konyol, disini jadi kejam semua. Jangan protes, soalnya udah diperingatin. Gak tanggung kalo nantinya ada yang muntah atau gimana, soalnya ada adegan darah.
Sekali lagi, disini semuanya OOC.
.
.
MENJURUS M YAK CHAPTER INI!
.
Wonwoo memandang gedung bertuliskan Grand Royale itu. Dia mengenakan suit abu-abu dengan aksen garis warna hitam di kerahnya. Rambut hitam legamnya ia biarkan turun menutupi dahi. Dia tidak ingin menghadiri pernikahan atau semacamnya. Melainkan mendampingi Jisoo untuk menemui Taigaa.
Sesuai rencana, Seokmin akan parkir di basement gedung dan mendengarkan percakapan dari alat penyadap yang dipasang di jam tangan Wonwoo. Jisoo sendiri mengenakan suit biru tua dan celana hitam.
Keduanya masuk dan menuju meja resepsionis. Seorang pegawai wanita bernametag Minra menyambut mereka dengan senyuman.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Aku memesan satu kamar atas nama Jeon Wonwoo."
Wonwoo menoleh ke arah Jisoo. Namja itu hanya mengedipkan matanya. Wonwoo tahu, nama Jisoo harus selalu menjadi rahasia. Ia hanya akan memakai nama Joshua di luar. Untuk hal-hal semacam ini dia selalu memiliki nama lain.
Minra tersenyum, "Baiklah. Tunggu sebentar, Tuan."
Wanita itu mengecek di komputernya. Sementara Wonwoo mengedarkan pandangannya ke sekeliling hotel.
"Kamar VIP nomor 201 lantai 2 atas nama Jeon Wonwoo untuk pertemuan pukul 3 sudah siap. Silahkan ini keycard anda."
Jisoo menerima kartu seukuran kartu ATM itu lalu berjalan menuju lift diikuti Wonwoo di belakang. Keduanya segera menuju kamar yang dimaksud. Sesampainya disana, Jisoo menggesekkan kartunya dan masuk.
Kamar itu sangat luas untuk sekedar pertemuan kurang dari 6 orang seperti sekarang. Ranjang dan kasurnya sudah disingkirkan dan diganti dengan sofa melingkar dan meja kecil di tengahnya. Juga satu botol Wine dalam baskom berisi es batu dan dua gelas di atasnya.
Tak lama, pintu kamar itu diketuk. Wonwoo berjalan dan membuka pintu. Di hadapannya terdapat dua orang namja. Satu berambut biru dan satu lagi berambut hitam cepak. Keduanya memakai pakaian santai. Bahkan namja berambut biru yang Wonwoo yakini sebagai Hoshi itu hanya mengenakan sweatshirt hitam panjang, celana jeans hitam dan jaket kulit berwarna merah. Penampilannya sekarang lebih ke seorang idol.
'sangat stylish untuk seukuran leader yakuza'
Wonwoo menyingkirkan badannya memberi jalan untuk kedua namja itu masuk. Jisoo tersenyum, ia menjabat tangan namja berambut biru itu.
"Selamat datang, Hoshi-ssi."
Dan namja itu hanya tersenyum miring. Keduanya duduk berhadapan di sofa melingkar itu. Jisoo dengan Wonwoo di belakangnya begitu pula dengan Hoshi dan Dino.
"Aku tahu kita sudah mencari informasi tentang seorang yang ada di hadapan kita. Tapi, aku tetap akan memperkenalkan diri. Aku Joshua, leader dari Black Diamond dan ini Jeon Wonwoo, asistenku."
Wonwoo menundukkan kepalanya ke arah Hoshi yang hanya dibalas tatapan tajam.
"Dan aku Hoshi, ini adikku, Dino. Aku tidak suka basa-basi, sebaiknya ini segera diselesaikan."
Jisoo tersenyum, "Sabar Hoshi-ssi, baiklah aku akan mulai."
Jisoo berdehem sebentar saat akan memulai kalimatnya, "Seperti yang kita tahu sebelumnya, tujuan dari persekutuan ini adalah menghancurkan Golden Dragon. Aku sendiri telah membuat rencana untuk itu. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Apa yang kau inginkan saat Golden Dragon sudah hancur?"
"Tidak ada."
Jisoo terdiam sebentar, namun kemudian Hoshi melanjutkan kalimatnya, "Aku hanya ingin balas dendam. Lima tahun lalu, Goden Dragon mengancurkan bisnis ayahku dan membuatnya bunuh diri."
"Hanya itu? Lalu pertikaian dimarkasmu?'
Hoshi menghela nafas tidak suka. Si Joshua ini ternyata sudah melangkah lebih jauh dan mengetahui masalahnya beberapa hari lalu dengan Coups.
"Baiklah, aku memang tidak sengaja menculik adiknya. Namanya Lee Jihoon. Dan aku akan memilikinya saat Coups hancur. Sekarang bisakah aku juga mengajukan pertanyaan yang sama padamu, Joshua-ssi? Dendam masa lalu juga yang membuatmu mau menghancurkan Coups kan? saat seluruh keluargamu dibantai, hm?"
Jisoo tersenyum simpul, "Ya. Tapi ada suatu kebetulan yang membuatku mau menghancurkannya lebih cepat dari rencana."
Lalu mereka terdiam, "Yoon Jeonghan."
Hoshi menoleh ke arah Dino dan namja itu hanya mengernyit tidak mengerti.
"Secara kebetulan aku bertemu dengannya dan aku jatuh cinta padanya. Dan entah takdir atau apa, Yoon Jeonghan adalah kekasih Coups."
Hoshi tertawa sinis, Wonwoo sedikit emosi dan mengepalkan tangannya sedangkan Jisoo hanya tersenyum padanya menyarankan tidak apa-apa. Wonwoo merenggangkan kepalannya.
"Menghancurkan musuh karena cinta? Kasus klasik." Ucap Hoshi sarkastik.
"Menghancurkan musuh untuk balas dendam juga tidak kalah klasik kau tahu?" balas Jisoo.
Hoshi hanya tersenyum miring, Jisoo menyilangkan kedua kakinya, "Lagipula..."
"Biar kutebak kau juga tertarik dengan adik Coups yang kau culik tempo hari, apa aku benar?"
Hoshi menyeringai, "Bisa dibilang. Tapi aku tidak mencintai Jihoon. Aku hanya menyukai tubuhnya."
Jisoo hanya tersenyum sambil mengangkat bahu, "Well, anggap saja kita mempunyai tujuan yang sama untuk menghancurkan Coups. Setelah Golden Dragon musnah, kau bisa mengambil adiknya sebagai apalah yang kau mau, maid, peliharaan, sex slave, atau apapun. Dan aku akan mendapatkan Yoon Jeonghan."
Jisoo mengulurkan tangannya, Hoshi nampak tersenyum sebelum menjabat tangan namja bersuit biru tua di depannya.
"Deal."
"Sekarang rencananya adalah..."
LFB
Minghao menarik selimutnya lebih dalam, menyusupkan tubuhnya ke dalam helaian kain tebal nan hangat itu. Diliriknya jam digital berbentuk kotak di meja samping kasurnya.
"2 lebih 17? Aku terbangun tengah malam lagi." Ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Minghao menggeliat, namja keturunan china itu sedikit berjengit saat bagian bawahnya terasa sakit. Setelah sekian lama tidak bercinta dengan Jun membuatnya sakit juga.
Setelah berusaha menahan sakit, ia berhasil duduk bersandar di kepala ranjang. Kasur kamar Jun sudah kosong, namja itu pasti juga terbangun tengah malam. Minghao membalutkan selimut putih itu hingga sebatas leher. Ia memeriksa ponselnya sebentar sebelum beranjak.
Masih menahan sakit, namja yang beberapa hari lalu mengganti rambutnya menjadi coklat tua itu menghampiri balkon sambil masih berbalut selimut. Teringat kebiasaan kekasihnya jika bangun tengah malam, pria bermarga Jun itu pasti sedang merokok di balkon kamar. Yeah, Heavy Smoker.
Benar saja, Namja itu tengah berdiri menumpukkan kedua lengannya di gagang balkon, asap menyembul dari mulutnya ketika batang rokok itu terus menerus dihisap.
"Jun-hyung.."
Pria yang dipanggil itu berbalik, namja itu hanya mengenakan celana training hitam dengan tubuh bagian atas yang terekspos memperlihatkan bentuk yang sempurna karena latihan kung fu sejak kecil.
"Kau terbangun?"
Minghao mengangguk.
Ia menghampiri Jun, membuka balutan selimut dan memeluk Jun membuat keduanya sekarang di balik balutan kain yang sama. Menempelkan kepalanya pada dada bidang Jun yang hangat.
Jun mengecup puncak kepala Minghao, ia menaruh puntung rokoknya di asbak lalu menggendong namja berbalut selimut itu ala bridal dan kembali menaruhnya ke ranjangnya. Ia memposisikan lengannya sebagai bantal Minghao dan lengan satu lagi memeluk pinggang kecilnya.
"Kau mencintai gege kan?"(ge/gege=hyung)
Minghao mengernyit, Jun tidak pernah berganti ke bahasa Cina jika tidak sedang serius. Dan sekarang ia serius. Minghao bersumpah ia meliht suatu kilatan aneh di mata kekasihnya.
"Wei Shenme, ge?"(kenapa, ge?)
Jun hanya tersenyum, ia membelai surai Minghao lembut,
"Tidak apa." Ucap Jun kembali ke bahasa Korea.
Ini membuat Minghao bingung, tidak pernah Jun bertingkah seperti ini sebelumnya. Ada sesuatu yang disembunyikan.
"Kau bisa cerita padaku, gege. Ayolah~"
Jun hanya tersenyum, "Aku hanya ingin menanyakan cintamu padaku, tidak boleh?"
"Bukan begitu, hanya saja tidak biasa melihatmu seperti itu tadi."
"Sudahlah. Jja! Kembalilah tidur."
Jun mengeratkan pelukannya ke tubuh namja yang lebih muda. Ia terus menciumi puncak kepala Minghao sampai nafas halus dan teratus terdengar dari namja itu. Jun masih mengecupi dahi Minghao pelan. Suatu sentuhan kecil dengan cinta yang besar di dalamnya.
"Satu-satunya hal jujur dalam diriku adalah aku mencintaimu dengan tulus."
Dan Jun menyusul kekasih imutnya ke alam mimpi tanpa sadar bola mata coklat Minghao terbuka dan namja itu mendengar kalimat terakhirnya.
LFB
Mingyu sedang menikmati waktu santainya. Ditemani segelas Chaeteu Pireu tahun 1698 juga angin malam yang masuk dari balkon kamarnya. Namja tampan berambut kecoklatan itu hanya mengenakan training putih dan kaos lengan panjang yang juga berwarna putih berpotongan kerah lebar memperlihatkan collarbonenya yang terlihat seksi.
Kain gorden jendela kamarnya yang berwarna putih berkibar seiring angin malam yang masuk menerpa wajahnya. Mingyu meminum cairan berwarna merah keunguan itu sedikit, rasa panas mengaliri kerongkongannya.
Menikmati ketika angin malam menyapu wajahnya dan menerbangkan helaian rambut bagian depannya.
Tenang. Damai.
Mingyu itu angin.
Dia bisa menjadi damai dan menenangkan. Menghanyutkan dan memberi kenyamanan dengan hawa sejuk di dalamnya.
Tapi Mingyu juga angin.
Yang bisa membawa bencana dan membahayakan siapa yang mencampuri urusannya.
Masalahnya sekarang, Mingyu tidak tahu ia angin yang mana bagi Wonwoo.
Namja itu terus berputar di otaknya.
Mata tajamnya.
Hidung mancungnya.
Bibir tipis nan menggodanya.
Juga tubuh rampingnya.
Mingyu hanya tersenyum kecil, angin kembali menyapu wajahnya. Namja yang menarik perhatiaannya itu ternyata juga orang berbahaya di kelompok lain.
Jatuh cinta?
Tidak.
Lebih tepatnya Mingyu tidak tahu. Ia hanya mengagumi bagaimana Tuhan bisa menciptakan namja dengan berbagai keindahan di satu kesatuan tubuh.
Dan sangat sangat klasik saat ia dipertemukan dengan Wonwoo yang harusnya ia musuhi sekarang. Yang harusnya menjadi target utamanya dalam pengincaran grup Joshua Hong.
"Jeon Wonwoo." Mingyu tersenyum sinis. "Suatu hari kita akan bertemu. Lihat saja nanti."
Namja itu menghabiskan sisa winenya sekali teguk. Kemudian menuangkan kembali isi botol ke dalam gelasnya. Mungkin menghabiskan satu botol tidak buruk juga malam ini.
LFB
Jihoon terkesiap dan bangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya. Nakas. Jendela. Keyboard. Lemari. Kaca. Bahkan ransel mungil dan jaketnya masih tergantung rapi. Jihoon mengelap keringatnya. Rambutnya menempel basah di dahi.
"Aaarrgghhh!"
Jihoon mengelap rambutnya frustasi. Ia menarik selimut bercorak garis itu cepat untuk menutupi seluruh tubuh mungilnya di baliknya.
"Sadar, Lee Jihoon! Sadar! Kau baru saja bermimpi tentang namja itu?!"
Jihoon sepenuhnya ingat mimpinya tentang dia. Namja dengan rambut biru keabuan itu membuatnya gila. Apa yang membuatnya bisa memimpikan namja itu. Gila!
Jihoon itu tidak pernah pacaran, berkencan saja tidak. Bagaimana ia bisa kenal wanita atau pria jika hidupnya seperti itu. Pekerjaannya mambuat lagu juga tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan sosialnya.
"Mungkin aku terlalu shock? Aku kan tidak pernah melakukan itu? Yah! Aku memang shock, mungkin"
Ucapa Jihoon terdengar seperti ia menyakinkan dirinya sendiri. Tapi kenyataannya apa yang ia yakini justru berkebalikan dengan hatinya.
Namja mungil itu mengeluarkan kepalanya dari gundukan selimutnya dan mengambil ponselnya. Jam lima pagi. Masih terlalu pagi untuk Jihoon bangun yang notabene tukang tidur. Heran juga, kenpa ia bisa bangun sepagi ini padahal biasanya ia baru bangun jam 9 atau 10. Gara-gara mimpi sialan itu.
Jihoon akhirnya duduk bersandar di kepala ranjangnya. Selimutnya hanya sampai di paha. Jihoon hanya memainkan jari-jari mungilnya. Ingatannya kembali saat ia juga duduk bersandar di ranjang kamar Hoshi. Ketika namja itu menghimpitnya dan membuatnya memanggilnya 'Daddy'
"Arghhhh! Lee Jihoon, Sadar!"
Dan Jihoon kembali membuat rambut ungunya bergaya mohawk dengan jambakan-jambakan kecil.
...
...
Jihoon turun ke meja makan. Piyama biru mudanya acak-acakan juga sama seperti rambut ungunya yang sekarang mencuat tak beraturan seperti sarang burung. Beberapa pelayan hanya menahan tawa dengan mengatupkan bibir rapat melihat Jihoon yang seperti anak sekolah dasar yang dipaksa bangun di hari senin untuk sekolah itu berjalan ke ruang makan.
Dan akhirnya semua orang di ruang makan juga melihatnya aneh. Seungcheol, Mingyu dan Jeonghan hanya memperhatikan namja itu duduk dan menunggu roti dengan jelly dan kacangnya selesai dibuat maid sedangkan Vernon sudah membuka mulutnya lebar, melongo melihat hyung yang berbeda dua tahun itu terlihat berantakan.
Jihoon memotong rotinya kecil dan memasukkannya ke mulut, menguyahnya pelan. Ia terjaga dari pukul lima pagi hingga sekarang pukul 8 hanya berguling-guling di kasur sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran anehnya.
"Jihoonie, tidak apa-apa?" itu Jeonghan yang bertanya lembut.
"Tak apa." Tipikal Jihoon yang jutek menjawab sekenanya.
Dan ruang makan kembali terdiam. Hanya suara Vernon dan Mingyu yang bicara soal apalah itu. Jihoon tidak paham. Ia hanya ingin menghabiskan roti jelly kacangnya dan segelas susu vanilla di hadapannya dan segera kembali ke kamarnya.
Tapi setelah Jihoon menghabiskan makan dan minumnya. Jeonghan memanggilnya lembut,
"Jihoonie mau kemana?"
"Balik ke kamar hyung. Menyelesaikan pekerjaan."
"Nanti hyung akan menemuimu di kamar, bisa?"
Jihoon berdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk lucu. Jeonghan tersenyum, ia membiarkan adik kekasihnya itu berjalan ke tangga dan masuk kembali ke kamarnya.
"Sepertinya tidak perlu memanggil psikolog untuk Jihoon-hyung." Ucap Mingyu membuat Jeonghan mengernyit heran ke arahnya.
"Psikolog?"
"Kan ada hyung yang bisa membuatnya melupakan peristiwa yang dialaminya. Aku lupa kita punya psikolog pribadi di rumah."
Jeonghan hanya menghela nafas heran sementara Seungcheol sudah melihat Mingyu dengan tatapan datar. Namja cantik itu menghabiskan makanannya dan beranjak ke lantai dua. Sampai di depan pintu kamar Jihoon, Jeonghan mengetuk pintu bercat colat tersebut.
"Jihoone, Ini Jeonghan-hyung."
"Iya, hyung masuk saja. Tidak dikunci."
Jeonghan membuka gagang pintu kamar Jihoon. Dilihat namja itu tengah memakai kaos kuning lengan pendek bergambar bebek putih. Celana santai sudah melekat di kakinya. Rambut ungunya masih basah, Jeonghan tebak ia baru saja mandi.
"Mian hyung. Aku baru aja mandi."
Benar kan?
"Ani, gwenchana."
Jeonghan masuk dan duduk di tepi ranjang Jihoon. Sedangkan namja mungil itu meraih handuk kecilnya untuk mengeringkan rambut.
"Ada apa hyung? Ada sesuatu?"
Jeonghan menggeleng pelan, "Tidak. Hanya ingin bicara saja. Ini pertama kalinya kita bicara hanya berdua kan?"
Jihoon tersenyum simpul. Jika dipikir benar juga, ia selalu bicara dengan Jeonghan jika ada Mingyu atau Seungcheol disana. Tapi ini benar-benar berdua.
"Hyung bisa tanya sesuatu?"
Jeonghan terdiam sebentar sebelum mengangguk pelan. Jihoon duduk di sebelah Jeonghan, Namja itu masih mengeringkan rambutnya pelan dan berusaha menata kata-katanya.
"Eum.. begini. Kau tahu hyung? Itu... eummm.. aduh bagaimana ya?" Jihoon hanya menggaruk kepalanya pelan.
"Katakan saja, tak apa. Kau mau bercerita sesuatu?"
"Sebenarnya, aku hanya ingin tahu bagaimana menghilangkan bayangan suatu peristiwa?"
Jeonghan mengernyit, tapi sedetik kemudian ia mengerti.
"Kau mau menghilangkan pikiranmu tentang insiden itu ya?"
Jihoon hanya mengangguk kecil. Jeonghan meraih handuk di tangan Jihoon sepertinya namja itu tidak akan selesai mengeringkan rambutnya jika ia terus saja menggosok pelan. Jeonghan menyapukan kain itu ke seluruh permukaan kepala Jihoon, dan mengeringkan rambut Jihoon yang maih basah di sana sini.
"Sebenarnya apa sih yang kau alami sampai kau kepikiran begini?"
BLUSH
Sontak rona merah menjalar cepat sampai ke telinga Jihoon, tentu saja namja itu mendadak terbayangan peristiwa ketika—ehem—Hoshi—ah sudahlah!
Jeonghan yang melihat perubahan raut muka Jihoon terbelalak kaget tapi sedetik kemudian ia tersenyum.
"Sepertinya itu tidak untuk diceritakan ya?" ucap Jeonghan sambil tersenyum penuh arti.
Jihoon merengut lalu mengambil gulingnya dan melemparnya ke arah Jeonghan yang hanya dibalas tawa renyah namja cantik itu.
Untuk beberapa Jihoon terus memukulkan gulingnya ke Jeonghan dan namja itu hanya tertawa sambil berusaha menahan serangan Jihoon. Ia tidak marah justru senang. Karena Jihoon sudah membuka sedikit hatinya, setidaknya.
Setelah hampir lima menit, perang bantal dan guling, keduanya berhenti dan merebahkan diri di kasur Jihoon. Terengah-engah tentu saja. Jadi Jeonghan dan Jihoon hanya terdiam sampai nafas mereka teratur.
Lalu keduanya saling menoleh dan terkekeh bersama.
"Mau ikut aku nanti siang?"
Jihoon merubah posisinya menjadi tengkurap, "Kemana hyung?"
"Mau mengganti warna rambut. Cari suasana baru, ikut?"
Dan Jihoon hanya mengangguk kecil sambil tersenyum membuat mata sipitnya tenggelam.
LFB
Jisoo meminum kopinya sebentar, ia berada di sebuah cafe sekarang. Dengan kacamata bulat dan jas coklat panjang. Mengapa seorang gang leader disini sedang minum kopi dengan santainya tanpa pengawalan?
Jisoo mendongak ketika lonceng kafe berbunyi. Didapatinya namja itu datang dengan topi fedora hitam lebar. Namja itu menghampiri Jisoo di mejanya,
"Kau benar-benar memesan cafe seharian hanya untuk ini?"
Jisoo hanya tersenyum kecil, ia melipat koran pagi yang daritadi dibacanya. Namja itu duduk di hadapan Jisoo dan melepas topinya.
"Ganti warna rambut?"
"Tidak masalah kan?"
"Ya. Aku juga ingin memotong rambutku setelah ini, sudah mulai panjang. Oke abaikan itu. Ayo kita bicara sekarang."
"Sesuai rencana awal, kita hanya akan menggunakan anak buah Hoshi sebagai penyerangan. Dan membantai semuanya. Lalu setelahnya, kita bisa menghabisi Hoshi juga." Ucap namja itu menyeringai.
Jisoo tersenyum, "Seharusnya sudah dari dulu aku menyetujui rencanamu itu."
"Salahmu sendiri. Lagipula aku sudah bosan berada di Taigaa. Setelah ini aku akan mencari grup lain untuk kutinggali. Itu tidak sulit apalagi setelah Golden Dragon dan Taigaa nanti hancur."
Jisoo menyesap kopinya sebentar, "Kau masih tidak mau bergabung denganku, ya?"
Namja itu tersenyum remeh, "Kau tahu jawabanku selalu sama kan?"
"Iya. Aku tahu, kau tidak ingin terikat kan?"
Namja itu tersenyum, ia mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya.
"Ini semua informasi tentang Taigaa. Aku yakin kau tidak perlu bantuanku dalam membuat strategi. Ada Wonwoo dan Seokmin yang bisa membantu mu perihal hal ini."
Jisoo melirik sebentar map merah itu, lalu mengambilnya. Melihat beberapa arsip tentang Taigaa. Mulai dari riwayat Hoshi sampai kesalahan fatal yang menyebabkan mereka hampir hancur.
"Oh ya, ngomong-ngomong soal Wonwoo, bagaimana kabarnya? Masih kau gunakan untuk 'itu'?
Jisoo menyeringai sebentar lalu menaruh mapnya di meja, "Baru semalam kami melakukannya."
"Aku heran bagaimana Wonwoo masih bisa bertahan denganmu yang seperti itu. Kau memainkan perasaan dan tubuhnya."
"Dia tidak akan berpaling dariku, aku jamin. Karena akulah yang menolongnya beberapa tahun silam."
"Oh, cerita klasik. Saat kau menemukannya di gang itu?"
Jisoo mengangguk, ingatannya kembali sekitar tiga tahun lalu, saat masa-masa awal ia mendirikan grupnya.
Flashback
Pria itu mengeratkan mantelnya, musim dingin di Seoul tidak separah di LA, tapi tetap saja dingin, setidaknya ia tidak perlu menggunakan earmuff kemana-mana seperti orang bodoh. Namja itu menyusuri gangnam di malam hari. Ini sekitar pukul satu atau dua malam, entahlah.
Namja itu merasakan ketika saku celananya bergetar, ia mengambil ponselnya dan melihat nama pamannya tertera disana,
"..."
"Okay, okay, I will"
"..."
"No, I'm fine. I'm just got back from pub."
"..."
Jisoo masih mendengarkan suara omelan pamannya yang seperti berita politik Inggris, tidak ada hentinya. Telinganya menangkap suara lain saat ia menyusuri trotoar, ia menutup ponselnya sebentar tapi tidak memutus sambungan teleponnya.
"Hiks..."
Benar, itu suara tangisan. Jisoo mengernyit heran, siapa yang mau menangis dini hari di jalanan. Ini bukan film horror konyol dimana hantunya akan memancingmu dengan suara tangisan. Jadi Jisoo berjalan mendekati suara tangisan itu dan menemukan dirinya berdiri di ujung salah satu gang kecil.
"Ohh... dia sempit sekali, sungguh!—eunghh"
"Mulutnya juga fuckable—oughh—kita dapat tangkapan besar"
Jisoo berdiri di balik tembok ujung gang, ia tahu seseorang pasti sedang diperkosa di sudut sana. Tapi laki-laki?!
Ia yakin tangisan itu walaupun lirih tetap suara berat seorang laki-laki. Tapi Jisoo hanya diam dan menunggu hingga hampir satu jam. Dan selama satu jam itu, telinganya dipenuhi suara desahan, lenguhan, rintihan bahkan teriakan dan tangisan. Jisoo lelaki normal, tentu saja ia 'bangun' tapi ia bisa menahannya hingga ia melihat kedua preman itu keluar dari gang sambil membenahi celana mereka.
Mereka melihat Jisoo dengan tampang remeh, "Kau mau sisa kami? Ambillah! Selagi dia masih tidak sadar."
Dan Jisoo menunggu sampai keduanya pergi sebelum menghubungi seseorang,
"Yeoboseyo."
"Seokmin-ah. Aku di salah satu gang di daerah gangnam."
"Gangnam itu luas, Jisoo. Kau mau aku menghabiskan bensin mengitari gangnam?"
"Aku belum hafal jalanan Korea! Aku di salah satu gang dengan starbucks di seberang jalan dan aku berdiri di samping restoran samgyupsal bertuliskan 'Meokkajja' mengerti?"
"Iya-iya aku kesana. Nyalakan GPS ponselmu."
Jisoo menutup sambungan teleponnya, ia menyalakan GPS di ponselnya agar Seokmin bisa mencarinya dengan mudah. Jisoo melihat keadaan sekitar, sepi. Ia berinisiatif masuk ke dalam gang yang gelap itu.
Jisoo melihat seseorang disana, terbaring dibalut kaos putih yang sudah tidak terbentuk karena sobekan besar di sana-sini. Sebuah celana jeans hitam yang terbelah dua tergeletak disana, juga underwear hitam yang tak jauh.
Benar itu namja. Telanjang. Berkulit putih susu dengan noda merah di mana-mana. Bekas cengkraman, kissmark, gigitan, bahkan beberapa luka robek kecil, mungkin namja itu memberontak. Jisoo menelan ludahnya, laki-laki itu dalam kondisi mengenaskan, rambutnya acak-acakan, wajah yang penuh lebam dan sperma yang masih mengalir dari dalam mulutnya turun menuruni leher, luka di sekujur tubuhnya, juga sperma bercampur darah yang keluar dari analnya.
Miris. Tapi Jisoo tidak memungkiri ini membuatnya 'berdiri'
"Hei, apa yang—What the?!"
Itu Seokmin, Jisoo menoleh ke belakang mendapati wajah anak buahnya itu shock dengan mulut menganga memandang namja itu.
"Kau cepat sekali sampai."
"What the hell, Jisoo?! Kau apakan namja ini?!"
"Bukan aku. Nanti kuceritakan sekarang bawa dia pulang."
"Ke mansion?"
"Tanya sekali lagi, mati kau!"
Seokmin menggendong namja tak sadarkan diri itu dan membawanya ke mobil. Ia membaringkannya di bangku belakang sedangkan Jisoo duduk di bangku sebelah kemudi.
Seokmin melesat cepat di jalan malam Seoul menuju mansion Jisoo. Hanya butuh sekitar 20 menit sampai akhirnya rumah bercat putih itu terlihat.
Namja dengan cepat memarkirkan mobilnya ke garasi, berjejer dengan mobil Jisoo yang lain dan membawa namja itu ke kamar Jisoo, atas perintahnya tentu saja. Hal ini pasti memancing pandangan para maid dan butler yang tengah berjaga dini hari itu.
Setelah membaringkan tubuhnya, Seokmin keluar kamar. Jisoo berdiri di ambang pintu, bersama dua orang maid yang membawa baskom berisi air hangat dan perlengkapan lainnya.
Seokmin melihat kedua maid itu masuk dan menutup pintu. Ia hanya memandang Jisoo, namja itu akhirnya mengisyaratkan Seokmin untuk ke ruangannya. Sesampainya disana, Jisoo duduk di sofa melingkar.
"Jadi kau apakan namja itu?"
"Aku menemukannya sedang diperkosa dua orang preman."
"Tunggu! Tunggu! Kau menemukannya SEDANG diperkosa dua orang preman!? Kenapa kau malah menunggu peristiwa itu selesai bukannya menghentikkannya?"
"Aku tidak mau babak belur, bela diriku tidak sepertimu."
"Kau kan bawa pistol."
"Malas menimbulkan keributan."
Seokmin hanya memandang Jisoo takjub, sampai akhirnya seorang maid datang mengetuk pintu. Ia membungkuk pada Jisoo dan Seokmin, pelayan wanita dengan rambut hitam itu menyampaikan bahwa namja itu sudah sadar.
Jisoo dan Seokmin berdiri, tapi namja kelahiran LA itu menghentikan Seokmin yang hendak menyusulnya menemui namja itu.
"Aku saja. Kau istirahat sana, ini sudah jam 3 pagi."
Seokmin hanya menurut dan melenggang pergi ke kamarnya sendiri. Sedangkan Jisoo ke kamarnya yang kini dihuni namja itu.
Namja itu berbaring di kasurnya dengan selimut menutupi hingga ke lehernya. Jisoo sudah menyuruh para maidnya untuk mencarikan piyama yang pas untuknya. Juga membersihkan segala luka-lukanya.
"Annyeong." Sapa Jisoo ramah.
Namja itu terdiam dan menatap Jisoo lama sampai akhirnya bulir-bulir air mata jatuh ke samping wajahnya. Jisoo hanya terdiam membiarkan namja di kasurnya itu terisak. Jisoo duduk pinggir ranjang memandang namja itu terus menangis hingga hampir setengah jam.
"Puas?"
Namja itu diam, tapi ia memandang Jisoo sayu.
"Aku hanya akan tanya namamu. Bisa kau beritahu?"
Namja itu mengusap air matanya dan menetralkan nafasnya yang masih memburu.
"A-aku Jeon Wo-wonwoo."
Flashback end
Wonwoo terbangun dari tidurnya, keringat membasahi dahinya. Mimpi itu lagi. Ia melirik jam weker di kamarnya. Sudah siang, terlalu siang untuk bangun pagi bahkan. Wonwoo tidak tahu mengapa ia bisa bermimpi itu. Mimpi saat pertama kali ia bertemu dengan Jisoo.
Dia hanya mencari penginapan untuk singgah karena baru datang dari Changwon ke Seoul untuk mencari pekerjaan dan entah kenapa ia berakhir di gang dengan dua orang preman yang menggagahi tubuhnya.
Wonwoo menangis. Air matanya jatuh setiap ia mengingat peristiwa itu. Mengabaikan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya, namja itu berjalan terseok ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Keluar dari lubang buaya dan masuk ke kandang macan.
Mungkin ini yang dialami Wonwoo saat ini. Bersyukur telah diselamatkan Jisoo entah berapa tahun yang lalu. Tapi pada akhirnya Wonwoo tetap diperlakukan seperti ini.
Mengapa semua orang begitu menginginkan tubuhnya?
Tidak dua preman itu,
Tidak Jisoo,
Bahkan mungkin Seokmin, entahlah.
Wonwoo menyalakan keran air panasnya. Dilihatnya tubuhnya di pantulan cermin kamar mandi. Kulit susunya sudah dipenuhi bercak merah di sana sini bekas perbuatan Jisoo. Air matanya bahkan tidak bisa direda ketika ia memasuki shower.
Sakit.
Baik jiwa maupun raganya semuanya sakit.
Tapi Wonwoo hanya bisa terdiam menerima semua ini. Mungkin ia harus bersyukur daripada berakhir menjadi mayat yang sudah dikoyak anjing dan tikus jalanan.
Namja itu terus menangis di bawah sapuan air. Sebanyak apapun ia mandi, ia tidak akan bersih. Wonwoo tahu itu, setidaknya mandi membuatnya tenang.
Hampir satu jam Wonwoo habiskan untuk diam dan membalut dirinya dengan busa sabun dan shampoo. Entah berapa kali ia tuangkan cairan beraroma itu ke tubuhnya berusaha membuatnya bersih seperti dulu.
Wonwoo baru keluar dari bilik showernya saat melihat kerutan di jari-jari tangannya. Ia mengeringkan seluruh tubuhnya dan memakai pakaian santai. Hari ini tidak ada tugas. Mungkin hanya beberapa arsip-arsip yang hanya perlu didata. Wonwoo mengambil celana jeans hitam dan kaos hitam dengan aksen putih lalu berjalan keluar kamar menuju dapur.
Tidak ada Jisoo. Tidak ada Seokmin. Hanya Seungkwan disana.
"Kemana semuanya?"
"Aku tidak tahu, hyung. Yang pasti kata pegawai mereka berangkat pagi-pagi sekali. Dan aku harus berangkat kuliah naik busway."
Wonwoo duduk dan mengambil roti lalu menaruh bacon dan telur mata sapi di atasnya. Ia memotong kecil pinggiran roti dan memasukkannya ke mulut,
"Mau kuantar? Aku tidak ada pekerjaan." Tawar Wonwoo.
Seungkwan hanya mengangguk cepat. "Kalau begitu kita berangkat setengah jam lagi."
Wonwoo mengangguk, ia menyelesaikan sarapannya sedangkan Seungkwan pergi pamit untuk kekamarnya sebentar. Sampai setelah Wonwoo menyelesaikan sesapan terakhir jus jeruknya, Seungkwan datang menenteng tas ransel barunya.
"Sudah selesai? Ayo berangkat hyung!"
"Tunggu aku ambil jaket."
Namja itu kembali ke kamarnya dan keluar sudah mengenakan jaket putih dengan corak tengkorak merah di punggungnya.
Wonwoo meraih salah satu kunci mobil yang tergantung di sudut meja makan dan menuju garasi. Perjalanan ke kampus Seungkwan lebih cepat menggunakan mobil memang. Tidak sampai 15 menit mereka sudah sampai di depan gerbang.
"Turunkan disini saja, hyung."
"Okay. Mau dijemput jam berapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi nanti ada perayaan ulang tahun temanku jadi mungkin lebih malam. Nanti kuhubungi Jisoo-hyung saja. Gomawo, Wonwoo-hyung!"
Wonwoo tersenyum. Seungkwan melepas seatbletnya dan keluar. Setelahnya, Wonwoo kembali putar balik untuk pulang ke rumah Jisoo.
Tapi matanya menangkap mobil berwarna putih di belakangnya. Spion kanannya kemnunjukkan mobil itu terus dibelakangnya. Wonwoo yang curiga akhirnya membelokkan mobilnya ke kanan, mobil itu juga ikut ke kanan. Begitu juga ketika Wonwoo putar balik.
"Sial. Aku diikuti."
Wonwoo menekan pedal gasnya cepat, memang Seoul bukan jalanan yang tepat untuk balapan. Buktinya beberapa kali Wonwoo hampir menyerempet kios jalanan maupun pejalan kaki yang menyebrang.
Tapi sepertinya mobil itu juga memiliki pengemudi hebat. Bahkan ketika Wonwoo menukik tajam, ia masih bisa mengimbangi mobil Wonwoo. Namja emo itu terus memacu mobilnya. Ia hampir melewati perbatasan distrik saat akhirnya ia membanting setir ke kiri, membuatnya membelok tajam. Bekas rem di jalan terlihat jelas.
Wonwoo tersenyum senang saat ia melihat spion, mobil putih itu menghilang. Tapi detik kemudian ia mendecih kesal saat didengarnya suara decitan rem yang sama dan mobil itu sekarang berada di jalur bagian atas jembatan layang.
"Apa maunya?!"
Wonwoo mempercepat mobilnya. Ia hampir menuju ke bawah jembatan layang dan membentur pinggir sungai. Saat akhirnya ia mengerem mobilnya.
"Arghhh!"
Wonwoo memukul setirnya, ia membuka pintu mobilnya dan melihat mobil putih itu terparkir indah dibelakangnya tanpa cacat, sedangkan mobil hitam yang dibawanya sudah lecet disana-sini.
Wonwoo melipat tangannya di dada dan memandang tajam mobil itu. Sesudahnya, seorang namja yang lebih tinggi di hadapannya keluar. Mengenakan celana, kaos, dan jas yang panjangnya setengah paha semua oleh warna hitam.
"Kau?!"
"Kita bertemu lagi, Jeon Wonwoo."
...
...
...
TBC
...
...
...
LFB
Next Chapter
"Dia sadar jika diikuti. Bagus, berarti ini memang kau."
...
"Time for show, baby."
...
"Lalu bagaimana dengnmu, Kim Mingyu? Golden Dragon?"
...
"Hei, kau itu manis, cantik, menggoda. Bagaimana kalau jadi milikku?"
...
"Untuk sekarang kau ku lepaskan, Jeon. Tapi suatu hari nanti kau akan bertekuk lutut dihadapanku."
...
"Kau tidak perlu meragukanku, Hosh. Aku sudah lama di bidang ini."
...
"Seungkwan?! Jadi sepupumu itu Seungkwan?! Berarti dia hilang sekarang?"
...
"Itu sebabnya kita perlu kau, Joshua Hong. Untuk terjun langsung."
...
"Ini sudah jam 2.15. kurang lebih 45 menit lagi sebelum waktu yang dtentukan. Kita harus bergerak cepat Mingyu-ya."
...
Yo yo yo~~~~
Ini udah di apdet, yowh~
(1)Saya baca review kalian, kok banyak yang bilang White Shadow itu Jun sih, itu The8 baru ganti rambut jadi coklat loh, disebutin tuh diatas kalo White Shadow juga ganti rambut. Kenapa semuanya pada kompakan jawab Jun?
(2)Saya lagi kobam Jeongcheol gara gara fansign mereka yang urutan duduknya sesuai umur itu, aduh 95line love triangle memang tiada habisnya
(3)Saya gak tanggung jawab kalian baperin meania yang emang masih dikit yha, ini baperin wonwoo dulu aja wakakakakaakak #nyindirorang
(4)Makasih buat sahabatku yang juga author wonuemo(baca ff donut gak? Yha itu teman saya), yang sudah 'nuntut' buat apdet cepet, dan setelah dipikir emang lagi banyak urusan, jadi apdet aja, terus ditinggalin lama XD
Buat Kerajaan Wortel tersayangku Love you :*
