Tugas sekolah sialaaaannn!

Banyak bgt ampe ga bisa ngelanjutin fanficku! Kan aku pengen para readersku tersayang bisa baca karyaku iniiiiii! *para readers langsung muntah, untungnya ada yg bawa ember (?)

Hah! Okelah kalau begitu! Nggak pake basa-basi lagi!

Para reders udah ga sabar ya? Kalau begitu,

Selamat Membaca!

Chapter 7

L-O-V-E

Normal POV *tumben normal POV!

Natsu pun terbelalak melihat Lucy dan Gray yang posisinya…hmmm…kalian tahu kan. Lucy dan Gray pun langsung masuk ke dalam pikiran mereka masing-masing.

Huwaaaa! Natsu ada di situ? Gimana nihh? Batin Lucy dengan rasa panik dan malu yang menggerogoti tubuhnya.

Ga-gawat! Kenapa Natsu bisa ada di sana? Sial! Pikir Gray. Ia pun merasakan apa yang dirasakan oleh Lucy. Panik dan Malu. Yah, hanya itu.

"Ehmm…ano, apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Natsu dengan sebuah ukiran yang bentuknya melengkung di wajahnya, dan yang pastinya itu bibrnya yang membentuk senyum yang…menggoda disertai dengan mata yang disipitkan seperti layaknya orang Cina (?)

Aduuuh! Pasti Natsu akan berteriak sambil menyebutkan nama kami dan apa yang kami lakukan sekarang, sehingga Wendy, Happy, Carla, Fred-san, dan para tamu lainnya langsung datang beramai-ramai ke dapur untuk melihat kejadian ini! Pikir Gray lagi.

Kalau Lucy? Tentu saja pikirannya sama dengan Gray, tapi ia juga sambil berharap agar Gray segera menyingkir secepat mungkin supaya permasalahannya tidak semakin parah.

Tiba-tiba salah satu sisi dinding yang berada tepat di depan Gray dan Lucy yang tadinya utuh menjadi hancur karena sebuah ledakan entah apa itu, tak ada yang mengerti.

"Kyaaaaa!" Salah satu pecahan dinding tepat di atas kepala Lucy yang sudah menyingkir dari Gray dari tadi saat dinding itu meledak.

"Awas Lucyyy!" Gray langsung berlari menghampiri Lucy dengan sistem express, hmm kalau pembaca bisa melihat kejadian itu, mungkin Gray berlari lima kali lipat lebih cepat dari pada kereta express (?)

"Ice make Shield!" Teriak Gray dan keluarlah sebuah perisai es yang cukup besar untuk melindunginya dan Lucy. Kemudian perisai es milik Gray dan pecahan dinding tersebut saling berbenturan dan akhirnya pecahan dinding itu terlempar ke arah yang lain.

"Daijoubu, Lucy?"

"Hem. Arigatou, Gray."

"Douitamashite, Lucy."

"Hem…hem…restoran ini keren juga ya!" seru sebuah sosok yang muncul dari lubang besar bekas ledakan tadi.

"Siapa kau? Beraninya merusak restoran ini!" seru Natsu dengan emosi marahnya.

"Hoo…jadi kau tanya namaku ya? Kalau ingin tahu namaku, ciumlah kakiku dan memohonlah dengan lembut sambil berlutut di hadapanku. Huahahahahaha!" Laki-laki itu tertawa keras sehingga bagi siapa yang mendengarnya bisa tuli.

"Brengsek kauuuu!" Natsu langsung segera menonjok laki-laki itu dengan semburat merah api yang bertengger di kedua telapak tangannya. Sayangnya, laki-laki itu menangkisnya dan malah menonjok Natsu dengan gaya yang santai. Padahal, jika dilihat sekilas, tonjokan itu sangat lemah tapi nyatanya Natsu terpental sangat jauh sampai merusak setengah dari sebuah toko roti.

"Tonjokannya itu…mengerikan…" ucap Lucy sambil gemetaran karena takut akan mengalami kejadian yang sama dengan Natsu.

"Aku mencari gadis yang bernama Lucy Heartphilia. Dan kaulah gadis yang kucari itu." Ujar laki-laki itu sambil menunjuk ke arah Lucy. Lucy terlihat sangat takut dan berkeringat dingin. Tiba-tiba, Gray berdiri di depan Lucy.

"Tenang saja Lucy. Aku akan melindungimu dengan sekuat tenaga." Ujar Gray sambil membentuk senyuman yang bawaannya tenang. "G-Gray…"

"Hoi, kau! Apa urusanmu dengan Lucy, hah?" seru Gray.

"Hemm…kudengar dari rumor-rumor yang sedang trend saat ini, seorang gadis pirang anggota Fairy Tail mempunyai kekuatan tersembunyi yang sangat hebat dan kuat. Aku ingin sekali memiliki kekuatan itu, oleh karena itu berikan Lucy Heartphilia sekarang juga atau aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan oleh laki-laki berambut pink itu!" seru laki-laki itu dengan kasarnya.

Kekuatan tersembunyi? Memangnya kekuatan tersembunyi apa yang kupunya sehingga sudah banyak orang yang tahu tentang hal ini? Lucy berpikir dengan perasaan bingung.

"Pokoknya, Lucy tak akan kuserahkan padamu!"

"Ooh, ya? Ternyata sang putri punya pangeran kodok yang akan menghalangi tujuanku, ya? Kalau begitu, dengan senang hati saya akan melayanimu, brengsek!"

Laki-laki itu langsung menonjok Gray. Untungnya, Gray yang sangat peka itu langsung menghindar.

"Ice Make Lance!"

Yes! Serangan Gray langsung mengenai laki-laki itu.

"Huaaaaa! Ukh…Kau memang brengsek, ya! Aku sudah merasakannya dari tadi saat aku datang!"

"Hooo…terima kasih atas pujiannya, ojii-san! Ups, tanpa sadar aku memanggilmu ojii-san! Habis, kerutannya udah kelihatan banyak dari jauh sih!"

"Dasar brengseeeekkk!"

Laki-laki itu bergerak sangat cepat, hingga Gray tak bisa merasakan kehadirannya. Padahal, tadinya ia lamban. Laki-laki itu langsung menonjok Gray berkali-kali tanpa henti. Gray terlihat sangat kesakitan.

"Huaaaaaaakkhhh! Siaaaaal!"

"Karena aku sedang bad mood, aku ingin bermain lebih lama dengan bocah brengsek seperti kau! Ada apa? Kau tidak terlihat seperti tadi, tadinya kau kelihatan kuat, sekarang kau sangat lemah! Padahal permainannya baru dimulai sekarang! Apa kau sudah mulai menyerah? Hahahahahaha!"

"Ukh…sial…huaaaahh!"

"Mega Blaze Shooter!"

Laki-laki itu langsung megeluarkan serangan berwarna hitam pekat yang cukup besar dan mengenai Gray.

"GYAAAAAAAAAAA!"

"Gray! "

Lucy POV

"Graaay! Ah! Lukamu parah sekali! Gray…hiks…" Aku menangis karena Gray terluka sangat parah. Kepalanya terbaring di atas pahaku.

"L-Lucy…te-tenang saja…ukh…aku…aku masih kuat kok, ukh! Aku…a-akan me-melindungimu…ekh…" ucap Gray tergagap-gagap karena kesakitan.

"Gray…hiks…ini sudah terlalu jauh…ini sudah terlalu parah…hiks…"

"Tolong…ja-jangan menangis…Lucy…janganlah menangis untukku…te-tetapi…tersenyumlah untukku…"

"Biar aku yang maju!" teriak Wendy yang tiba-tiba muncul. Wendy langsung mengeluarkan raungan naga langit, tapi laki-laki itu menghindar dengan santainya.

"Apa kau sedang bercanda? Ini terlalu lucu! Masa lawanku hanya seorang gadis kecil yang lemah?" tanya laki-laki itu dengan muka menggoda.

"Satu lagi disini, bodoh!" Natsu langsung muncul dari atas karena Happy menggenggamnya saat terbang. Lalu Happy melepaskan genggamannya dan Natsu turun menimpa laki-laki itu.

"Ups, maaf ya! Nggak sengaja!" ucap Natsu sambil cekikikan menahan tawa.

"Lagi-lagi satu bocah sialan! Hiaaaahhh!" Lagi-lagi Natsu terlempar, untungnya tidak jauh seperti yang sebelumnya.

Natsu pun tetap bangun, lalu ia mengeluarkan jurus apinya. Wendy pun ikut membantu. Pertarungan itu berlangsung cukup lama. Hingga Wendy dan Natsu terbaring karena tak kuat lagi melawan laki-laki nggak jelas itu. Hanya aku yang tak terluka dan tak terbaring di situ.

"Bagaimana? Sudah menyerah? Atau masih mau bermain? Ayo, bangunlah! Aku belum mengantuk loh, sedangkan kalian semua sudah tidur-tiduran karena mengantuk! Huahahahaha…!"

Bahkan, Natsu, Gray, dan Wendy yang bisa dibilang lebih kuat dibanding aku (yaaah…di saat seperti ini aku harus jujur di depan para readers…-_-)sudah kalah dan terluka parah…berarti kalau kukeluarkan roh-roh selestial sama saja tak berguna…mereka semua terluka parah…sakit…sangat sakit melihat orang-orang yang kucintai terluka parah seperti ini…terutama Gray…tidak akan kumaafkan…tidak akan kumaafkan…

"TIDAK AKAN KUMAAFKAAAAN!" Aku pun langsung mengeluarkan semua kekuatanku dan kelurlah cahaya yang menyilaukan.

"Ten wo hakari ten wo hiraki… (Survey the Heaven, Open the Heaven…)
Amaneku subete no hoshiboshi… (All the stars, far and wide...)
So kagayaki wo motte… (Show me thy appearance... )
Ware ni sugata wo shimese. (With such shine.)
Tetorabiburosu yo… (O Tetrabiblos...)
Ware wa hoshiboshi no shihaisha… (I am the ruler of the stars...)
Asupekuto wa kanzen nari… (Aspect became complete...)
Araburu mon wo kaihou seyo. (Open thy malevolent gate.)
Zenten hachi-jyū hachi sei …(O 88 Stars of the heaven... )
Hikaru! (Shine!)
Urano Metoria! (Urano Metria!)

"I-itulah…itulah kekuatang yang kuinginkan…UUUUUAAAAAAAAKKKKKHHHH!"

Laki-laki itu langsung jatuh terbaring pingsan karena ia terkena seranganku.

"Lu-Lucy…?" Terdengar suara Gray yang lembut. Ia kelihatannya mulai bisa berdiri. Begitu juga dengan Natsu dan Wendy. "Sugoi, Lucy!" seru Natsu dengan riang sambil menghampiri Lucy. "Lucy-san benar-benar kuat dan hebat!" puji Wendy.

"Terima kasih."

"Lucy…tak kusangka, kau benar-benar kuat. Kau memang gadis yang hebat." Ucap Gray sambil mengelu-elus kepalaku…Hangat dan lembut…

"Terima kasih…"

Kepalaku langsung pusing dan mataku mulai buram. Badanku juga mulai terlalu lemas dan tak kuat lagi untuk berdiri. Kelihatannya ini pengaruh dari pemakaian kekuatan terlalu banyak. Aku pun langsung jatuh terbaring. Saat mataku perlahan-lahan tertutup, kulihat Natsu, Wendy, Happy, Carla, dan Gray memegangiku sambil meneriakkan namaku. Sayangnya aku tak bisa merespon mereka dan perlahan-lahan semuanya menghitam…

-To Be Continued-

Fuuuuhhh…akhirnya chapter 7 jadi juga…

Setelah banyak halangan seperti pr yang ukurannya segunung everest *sebenarnya nggak gitu2 juga sih…-_-"

Dan juga kompy-chan tersayangku yang sedang sakit parah dan lagi ditahan sama tukang komputer supaya menjalankan operasi…

Okelah kalau begitu!

Mau tahu isi chapter selanjutnya?

Tungguin aja yaaaa! ;)

Btw, jgn lupa reviewnya! :3 *heh?