standard disclaimer applied


Crybaby

.

Part VII

.

Disinilah Lu Han, tepatnya di ruang rapat organisasi mahasiswa. Dirinya tidak perlu bertanya bagaimana bisa Baekhyun dan kawan-kawannya bisa mengunakan ruang rapat ini dengan sangat mudah mengingat ada nama Junmyeon dalam kata 'kawan-kawan' tadi. Lu Han tidak terlalu menyukai ini, dimana kesembilan dongsaengnya memberikan tatapan tajam yang seakan-akan bisa mengulitinya hidup-hidup. Berlebihan dan hiperbola memang, tapi itulah yang dirasakan laki-laki yang lahir di Beijing itu.

"Jadi, mau kita mulai dari mana?" tanya Baekhyun pada kawan-kawannya yang masih sibuk memberikan tatapan menusuk pada Lu Han yang saat ini tengah duduk manis dihadapan mereka disebrang meja yang menjadi sekat diantara mereka.

"Ini jadi terlalu rumit," kata Jongdae yang terlihat bingung harus mulai dari mana. "Setelah melihatnya semuanya jadi rumit."

"Dan, for goodness! He is here! Tersangka utama kita akhirnya disini! Kita punya terlalu banyak pertanyaan!" Chanyeol tidak bisa menyembunyikan kepuasannya karena berhasil melihat Lu Han yang saat ini tengah duduk dihadapan mereka dan mereka bisa mengintrograsi hyung itu sepuasnya.

"Teh, hyung?" tawar Kyungsoo yang tadi pergi sebentar untuk membuatkan teh dan meletakan secangkir teh yang dibuatnya pada meja dihadapan Lu Han.

Sebenarnya sejak kapan ruang rapat organisasi mahasiswa mempunyai tempat untuk membuat teh yang selalu bisa Kyungsoo temukan?

"Ah, gumawo," kata Lu Han singkat, ia masih tidak suka situasi seperti ini.

"Apa maksud kalian membawanya kemari?" tanya Yifan yang menatap Baekhyun dan Junmyeon secara bergantian.

"Tentu saja mengintrograsinya, seperti kata Chanyeol kita punya banyak pertanyaan untuknya," jelas Junmyeon dengan lancar.

"Lalu apa yang mau kita tanyakan?" tanya Yifan lagi dan kedua matanya mendapati Lu Han yang malah asik menikmati teh buatan Kyungsoo.

"Tergantung. Ingin dengan cara basa-basi atau to the point?" kata Jongin yang menarik sebuah kursi dan duduk disamping Lu Han agar mendapatkan secangkir teh juga dari Kyungsoo.

"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Sehun-ie. Kalian tidak mengajaknya?" tanya Lu Han sambil memakan satu buah cookie yang dibawa oleh Yixing.

"Itu karena kemarin kami sudah menanyainya," jawab Yixing yang juga memakan cookienya.

"Oh, kalian sedang bermain permainan baru agar tidak terlalu stress saat menghadapi ujian minggu ini?" Lu Han malah asik memasukan beberapa cookie kedalam mulutnya dan memakannya.

"Ujian?" ulang Baekhyun sebelum ekspresi wajahnya menggelap. "BAGAIMANA AKU BISA LUPA?! ARGHHH!" teriaknya sambil berlarian didalam ruangan.

"Kenapa dia?" tanya Kyungsoo yang baru saja selesai menuangkan teh buatannya untuk gelas yang kesepuluh, dia memberikan tehnya untuk semua orang diruangan itu.

"Abaikan saja," sahut Jongin yang masa bodoh dan ikut memakan cookie.

"Hei-hei, kita disini ingin mengintrograsi. Bukan minum teh, apa-apaan kalian ini?" tegur Junmyeon saat menyadari orang-orang yang menemani Lu Han memakan cookie sambil meminum teh semakin bertambah.

"Baiklah. Kita ulang," kata Chanyeol lalu berdehem pelan. "Tersangka utama dari kasus yang telah kita selidiki, Tuan Lu Han sudah ada dihadapan kita. Jadi, silahkan para penyidik untuk bertanya kepada tersangka."

"Si—"

"Aku mohon to the point, tidak perlu banyak tanya hal tidak penting seperti nama, tempat lahir, nomor KTP, dan sebagainya. Kita bukan sedang main film." Yifan menyela Jongdae yang baru saja ingin bertanya.

"Luhan-hyung, apakah benar anda menjalin hubungan dengan saudara Kim Minseok?" tanya Zitao—yang diperintah Chanyeol—dengan nada pembawa acara berita gossip yang sering ada di televisi swasta.

"Ngomongnya biasa aja, Tao," tegur Jongin yang menyadari bahwa Chanyeol tengah menjedukkan kepalanya ke tembok karena cara Zitao bertanya yang mendadak alay.

"Iya, aku memang menjalin hubungan dengan Minseok-ah. Bukannya kalian semua sudah tahu, itu?" jawab Lu Han dengan tenang, lagian dia memang jujur.

"Memang benar kami tahu, tapi kami tidak tahu kapan hubungan kalian berakhir. Jadi bisa katakan bagaimana bisa hubungan kalian yang telah terjalin selama tiga tahun mendadak kandas ditengah jalan?" Zitao yang bertanya kembali—masih dengan nada yang sama. Kenapa mendadak laki-laki panda itu bisa bicara masuk akal? Terima kasih pada teks yang sudah disedikan Baekhyun sejak jauh-jauh hari yang berisikan list pertanyaan untuk Lu Han.

"Hah?" Lu Han melonggo, tidak paham dengan pertanyaan Zitao.

"Sudah kubilang mereka tidak putus," kata Yifan tenang.

"Putus?" Lu Han menatap Yifan heran. "Siapa yang putus? Dan lagi aku tidak paham dengan pertanyaan kalian tadi. Maksud kalian itu apa?"

BRAK!

"CUKUP!" teriak Baekhyun karena sepertinya memukul meja saja tidak cukup. "Cepat katakan bagaimana bisa kamu dan Minseok-hyung putus!?"

"Apa-apaan sih kamu, Byun? Aku dan Minseok-ah tidak pernah putus—tidak akan pernah. Kalau pun kami putus itu dipastikan karena kami sudah menikah dan secara sah menjadi suami-'istri'," jelas Lu Han dengan santai tanpa menyadari perubahan ekspresi dari Baekhyun dan Junmyeon—eh?

"KENAPA DIA BISA BERPIKIRAN SE-SO SWEET INI?!" teriak Baekhyun frustasi, karena sebagai seorang namja dia tidak pernah berpikiran se-gentle dan se-so sweet itu dalam menjalin hubungan.

"Ehem…, ini benar-benar diluar dugaan," kata Junmyeon yang tiba-tiba salah tingkah sendiri.

"Kalian berdua ini kenapa?" tanya Yifan yang tidak peka, dia memang selalu begitu.

"Kalian seperti ingin melamar seseorang dan menikah," sahut Yixing blak-blakan dan tidak lihat suasana, tidak mengejutkan. Yixing memang gitu orangnya.

"Aku rasa intrograsi ini tidak akan cepat selesai," kata Kyungsoo sambil meminum tehnya, melihat sahabat-sahabatnya yang berisik seperti ini ternyata juga membuatnya haus.

"Tapi, kenapa kalian beranggapan aku dan Minseok-ah putus?" tanya Lu Han heran, jangan bilang bahwa sahabat-sahabatnya ini mengharapkan itu terjadi.

"Itu karena Minseok-ah berpikir kalian putus," jawab Jongin dengan santai.

"Mwo? Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu?" Lu Han kembali pertanyaan, dia benar-benar heran.

"Karena itu, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Chanyeol penasaran. "Itu yang ingin kami tanyakan kepadamu, hyung. Apalagi seminggu ini kamu tiba-tiba menghilang dari universitas, sulit sekali untuk menemukanmu."

Lu Han mengedipkan kedua matanya beberapa kali lalu ia tersenyum tipis dan menghela nafas panjang. "Ah, itu karena aku sedang dalam masa KKN di Busan."

"KKN?!"

Lu Han mengangguk.

"Tapi kamu juga tidak bisa dihubungi, hyung!"

"Handphoneku hilang saat aku berada didalam subway—mungkin terjatuh, dan karena aku belajar mandiri aku tidak meminta uang pada orang tuaku. Jadi setelah pulang dari Busan aku baru membeli handphone baru dengan uang yang aku dapat part-time."

"Jadi selama ini kalian benar-benar tidak putus?!"

"Kami memang tidak putus," jawab Lu Han tenang lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu sebelum akhirnya menghela nafas panjang. "Tapi, sepertinya aku tahu kenapa Minseok-ah bisa sampai berpikiran kami putus."

.

.

.

Hari itu Minseok benar-benar senang, entah apa yang membuatnya senang. Tapi sekotak bekal yang ada diantara kedua telapak tangannya itu bisa jadi adalah alasan yang membuatnya terlihat begitu senang hari ini. Senyuman yang menerkah diwajah manisnya terus membuat orang-orang dikoridor yang dilaluinya memberikan tatapan heran serta penasaran, beberapa juga ikut tersenyum seakan-akan senyuman kebahagian Minseok menular ke mereka.

Dengan langkah yang cukup besar—mengingat kedua kaki Minseok tidaklah sepanjang Yifan atau Chanyeol, Minseok terus berjalan dari koridor hingga akhirnya keluar dari gedung universitas. Seperti biasanya, kedua kaki Minseok akan membawanya pada halaman samping universitas—tepatnya tempat dimana biasanya ia habiskan berdua hanya bersama dengan sang kekasih hati.

"Aku harus mengakhirinya."

Repleks, Minseok langsung menghentikan langkahnya lalu memilih bersembunyi sebelum dengan berani sedikit mengintip dari tempat persembunyiannya untuk tahu siapa gerangan seseorang yang bicara tadi. Dihadapannya terlihat sosok sang kekasih hati—Lu Han, dengan seseorang namja bertubuh tinggi yang tidak bisa Minseok tebak siapa karena berdiri membelakanginya.

"Wae? Aku rasa masih ada cara lain."

"Tidak bisa. Aku akan semakin sibuk, aku harus mengakhirinya atau aku akan melukai diriku sendiri atau bahkan dia juga nantinya. Aku tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab," jelas Lu Han yang semakin membuat Minseok tidak mengerti.

Mengakhiri apa?

"Ya sudahlah, terserah dirimu saja lah," Seseorang itu berkata seadanya.

"Aku akan bicara dengannya nanti, ah…, ini benar-benar melelahkan." Lu Han menghela napas lalu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi, bagaimana aku mengatakannya?"

"Hei, kamu itu pintar, Lu Han. Kamu akan menemukan caranya, lagian aku rasa hal itu cukup mudah untukmu."

"Yah, mudah untuk kukatakan jika tidak dihadapannya." Lu Han memberikan tatapan datar pada lawan bicaranya. "And, you know? Sepertinya ini takdir, bahwa aku harus meninggalkan Minseok-ah."

Minseok tersentak sambil menutup mulutnya—menahan pekikannya karena terlalu kaget, apa kata Lu Han tadi?

'Meninggalkan Minseok-ah?'

Meninggalkan dirinya? Jadi, itu maksud dari kata 'mengakhiri' tadi? Lu Han ingin mengakhiri hubungan yang sudah mereka jalin selama ini? Minseok bisa merasakan kedua matanya yang mulai terasa panas, bahkan kedua mata cantik itu sudah terlihat berkaca-kaca, mungkin dalam hitungan detik akan ada cairan bening yang keluar dengan mudah dari kedua mata itu. Minseok menunduk, menatap kotak bekal yang ada ditangannya—kotak bekal yang berisikan masakan buatannya. Padahal, hari ini ia berencana untuk makan siang bersama dengan Lu Han dan meminta kekasihnya itu mencicipi masakannya untuk pertama kalinya.

Tapi, sepertinya semuanya akan sia-sia jika Lu Han menginginkan hubungan mereka berakhir.

Minseok menghapus airmatanya yang sudah mengalir dipipinya dengan sedikit kasar dan memilih pergi dari sana secepat yang ia bisa.

"Hei, ada apa?" tanya lawan bicara Lu Han saat tiba-tiba laki-laki itu malah terlihat fokus dengan hal lain.

"Ah, tidak. Tadi aku berpikir melihat Minseok-ah, tapi sepertinya salah orang," jawab Lu Han dan kembali fokus pada lawan bicaranya.

"Ya ya ya, kamu dan obsesi anehmu terhadap, Minseok." Lawan bicaranya hanya bisa memutar bola matanya bosan.

"Maaf jika itu menganggumu."

"Jadi, kamu akan tetap mengakhirinya?"

"Tentu saja. Aku tidak bisa merepotkan kedua orang tuaku lebih dari ini. Sebentar lagi aku akan KKN lalu tak lama dari itu aku akan benar-benar berkerja, aku punya Minseok-ah sebagai tanggung jawab. Akan sangat memalukan jika aku masih belum lepas dari bayang-bayang mereka." Lu Han tersenyum miring.

"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah kamu mengakhirinya? Meski aku yakin, setelah kamu lulus posisi luar biasa pada perusahaan ayahmu sudah menantimu, Han."

"Aku akan mulai dari awal, bahkan jika ayahku benar-benar menawarkan hal itu aku akan tetap mulai dari awal. Jangan panggil aku Lu Han jika aku tidak bisa memulainya dari awal. Aku ingin membuat Minseok-ah terkesan. Aku ada kelas setelah ini, aku duluan."Lu Han menjawab dengan santai lalu melangkah pergi setelah menepuk pelan bahu lawan bicaranya itu.

"Dasar, kenapa dia suka sekali mengatakan suatu hal kecil dengan kalimat berbelit-belit yang sulit dimengerti, sih?" Lawan bicara Lu Han itu berbalik dan menatap sosok Lu Han yang sudah masuk kedalam gedung universitas sebelum secara tiba-tiba ia bersin dan memilih untuk melepas masker yang sejak tadi menempel diwajahnya. "Aish! Flu sialan, suaraku jadi terdengar lebih berat dan aneh."

"Yifan-hyung, sedang apa kamu berdiri disini seperti orang aneh?" sapa Sehun—yang juga bisa dibilang menghina secara tersirat—pada Yifan yang tengah mengusap hidungnya dengan tisu.

"Bukan urusanmu." Lawan bicara Lu Han tadi—yang ternyata adalah Yifan—memilih segera pergi dari pada menghadapi Sehun disaat moodnya benar-benar buruk.

"Yaaa! Yifan-hyung!"

.

.

.

"Kamu ada disana Yifan-hyung?" tanya Baekhyun tidak percaya setelah mendengar cerita dari sudut pandang Lu Han yang baru saja selesai.

Yifan terlihat kikuk. "Aku bahkan tidak ingat bahwa hari itu aku bicara dengan Lu Han, aku hanya ingat hari ini sepupu rusa jadi-jadian ini menyebutku 'orang aneh' secara tersirat," jelasnya membela diri.

"Sepertinya, seseorang yang Lu Han-hyung kira Minseok-hyung itu memang benar." Chanyeol mengomentari cerita Lu Han.

"Lagian menurutku memang cuma itu yang bisa menjadi penjelasan paling logis kenapa Minseok-ah mengira kami putus," kata Lu Han sambil menghela napas—dia harus bertemu dengan Minseok segera dan menjelaskan semuanya.

"Itu salahmu sendiri karena mengunakan bahasa yang berbelit-belit," sahut Yifan ketus.

"Diamlah, hyung! Padahal akan lebih mudah jika kamu saja yang menceritakannya sejak awal pada kami," jelas Jongdae dan memberikan tatapan tajam pada Yifan.

"Jadi kita tidak perlu menculik Lu Han-hyung seperti ini," sambung Baekhyun yang juga memberikan tatapan tajam pada Yifan.

"Yaaa! Itu bukan salahku jika aku melupakannya!" seru Yifan tidak terima.

"Tapi, kenapa Minseok-hyung tidak melakukan KKN?" tanya Yixing tiba-tiba.

"Minseok-hyung kan KKN di sekitar Seoul saja dan itu pun mulai dari sore hingga malam, jika kita tidak terlalu memperhatikannya dia memang terlihat seperti tidak melakukan KKN," jelas Junmyeon dengan sabar pada Yixing yang tidak peka dengan sekitar—padahal mereka semua disana kecuali Yixing sudah mengetahui hal itu dari jauh-jauh hari, mereka hanya tidak tahu-menahu tentang KKN milik Lu Han.

"Aku akan bicara dengan Minseok-ah, sudah seminggu aku tidak menghubunginya dan begitu rindu tapi sekarang dia malah menganggap kami berakhir. Aku rasa aku akan mati jika dia menjauhiku seperti ini," jelas Lu Han yang baru saja ingin berdiri dari duduknya tapi ditahan oleh Jongin.

"Melihatmu saja Minseok-hyung akan langsung berlinang air mata dan lari, hyung," sahut Jongin yang langsung disetujui oleh delapan orang disana yang merupakan anggota organisasi tidak jelas.

"Itu benar. Untuk saat ini biarkan kami saja yang menjelaskannya lebih dulu pada Minseok-hyung lalu saat semuanya sudah jelas barulah Lu Han-hyung bicara padanya," kata Junmyeon dengan bijak.

Lu Han menghela napas pasrah, membenarkan perkataan Jongin dan memilih setuju dengan usulan dari Junmyeon.

.

.

.

TBC!


Author's Note :

I know, gaya bahasaku berubah dan susunan kataku tiba-tiba menjadi sedikit rumit. Lalu, apakah ada yang menyadari bahwa pada part ini menyatakan secara tersirat bahwa fict selingan malah lebih panjang dari fict yang buat seriusan. Oh iya, masalah KKN aku cuma ngarang (?) karena tidak punya refensi dan aku juga belum kuliah jadi belum tahu-menahu tentang KKN secara lebih lanjut. Mohon maaf jika disini (penjelasan(?)) KKN-nya terasa keluar jalur (atau apapun itu namanya) dan jangan dianggap terlalu serius, ya?

xoxo,

hunshine delight