Kangin membanting pintu rumahnya, meletakkan barang bawaannya dan meneriakkan nama Donghae. Tak mendapat apa yang ia cari, Hyukjae pun jadi.
Kangin sedang mencari kedua sejoli itu sampai akhirnya ia mencapai ruang makan. Dibawah gelas ia mendapat lembaran kertas.
Aku menahan Donghae. Terima kasih hyung, selamat tinggal. :')
-Lee Hyukjae-
Aku mau berkenalan dengan temanmu Ryeowook. Titip Hyukjae ya. Jaga dia baik-baik. :')
-Lee Donghae-
Kangin-ah. Terima kasih telah menerimaku selama ini. Maaf karena telah merepotkanmu dan memaksamu. Dan maaf juga aku tak bisa menulis begitu banyak kata sebanyak hatiku mengucapkannya. Aku sedang terburu-buru. Intinya aku sangat berterima kasih dan mungkin kita akan berpisah sampai disini. Aku tak mau merepotkanmu lebih jauh lagi. Ada suatu rahasia yang seharusnya tidak kau ketahui. Jangan lupakan aku ya hehe :D Selamat tinggal :')
-Lee Donghae-
"Dari mana mereka tau rumah Wookie?" gumam Kangin, langsung berjalan keluar dan memanggil taksi. Ia yakin pasti, Donghae maupun Hyukjae tidak melalui jalan pintas.
"Aish, si bodoh itu mencoba bunuh diri. Bodoh. Benar-benar bodoh." rutuk Kangin sepanjang perjalanan. Kekhawatiran terus melandanya. Melalui cerita sang kakek, ia tau Donghae adalah makhluk yang hanya dianggap mitos. Dan ia ingat kalau Ryeowook pernah menyebut-nyebut sesosok orang tersayangnya yang dia anggap sebagai pahlawan yang telah gugur. Sosok kakeknya.
Kim Heechul.
.
.
.
Unexpected Life
Author:
CLA
Rated:
T
Genre:
Romance, Fantasy, Hurt/ Comfort, Angst, Friendship, etc
Disclaimer:
seluruh cast disini milik Tuhan dan mereka sendiri
cerita ini murni imajinasi CLA
Warning:
AU, OOC, BL, Death Chara, EYD, Lautan Typo, No Edit!, Impossible things, Alur dipercepat, etc
.
.
Cerita ini murni imajinasi CLA. Maaf kalau sangat membosankan
.
.
.
"Hah... Hah... Hah..."
Donghae masih setia berlari sepanjang jalan ditemani Hyukjae yang juga setia menemaninya. Ia terheran mengapa Hyukjae bersikeras mengikutinya yang pernah hampir membunuhnya, tapi tak ia pedulikan itu. Kepalanya terasa sakit, dadanya sesak. Ia harus mencapai tempat tujuannya bagaimana pun juga.
"Hae berhenti!"
Lagi teriakan sendu itu terdengar. Membuat langkah Donghae semakin terasa berat. Baik dirinya maupun Hyukjae tak peduli disangka gila karena berlarian dan teriak-teriak di tengah jalan. Mereka tak peduli. Mereka hanya sama-sama ingin menggapai tujuannya tanpa ada seorang pun yang mengalah.
"Pulang Hyuk, istirahatlah. Jangan ikuti aku!"
Hyukjae menggeleng walaupun tak dapat dilihat Donghae. Sudah berapa tikungan, jalan besar dan gang mereka lalui. Tak mungkin tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa tidak lelah.
BRUK
Dentuman keras terdengar dari arah belakang ketika mereka lagi-lagi melewati suatu gang sepi. Sesuatu terjatuh. Dan ialah Hyukjae, tumbang karena kakinya terasa lemas dan tak sanggup untuk mengejar lebih jauh.
Donghae menghentikkan larinya begitu mendengar suara dentuman keras, khawatir dan penasaran. Ia menoleh ke belakang dan begitu terkejut melihat seseorang yang sedari tadi mengejarnya kini ambruk dalam posisi terlungkup. Persetan dengan Aiden atau apapun itu, Hyukjae membutuhkannya sekarang.
"Hyukkie kau tidak apa-apa?"
Donghae membantu Hyukjae duduk dan memeluk namja yang tengah gemetar itu. Diusapnya punggung Hyukjae, barangkali dapat menenangkannya.
"Mana yang sakit?" ditengah perjuangannya melawan alter ego-nya sendiri Donghae bertanya. Hyukjae menepuk dadanya.
"Disini... Hiks... Disini sakit..." isaknya. Donghae sangat tau itu, namun bukan jawaban seperti itu yang dibutuhkan Donghae. Namja brunette itu mengecek keseluruhan tubuh Hyukjae. Ia cukup bersyukur tidak ada luka luar Hyukjae yang serius. Paling tidak ada beberapa memar karena terjatuh cukup keras dan lutut serta sikutnya berdarah. Tapi justru itulah yang berbahaya.
"J-jangan tinggalkan Hyukkie... Hiks... Jebal..."
Donghae menatap Hyukjae sendu. Seketika rasa sakit diseluruh tubuhnya semakin terasa begitu nyata. Dielusnya kepala Hyukjae dan mengusap air matanya. Dikecupnya kening dan bibir Hyukjae, menyalurkan berbagai macam perasaan yang begitu dalam sedalam samudra. Tak ia hiraukan ia yang juga tengah meneteskan air mata.
"Selamat tinggal..." ucapnya, meninggalkan Hyukjae sendirian. Hyukjae mencoba kembali bangkit, namun lagi-lagi ia terjatuh sedikit terseret. Membuat rantai kalung yang diberikan oleh Zhoumi dulu terlempar dan putus, tak dapat berfungsi lagi.
Untuk terakhir kalinya Donghae menoleh berkat dentuman yang kembali terdengar, lebih samar dibanding sebelumnya. Dan apa yang ia lihat semakin membuatnya tersiksa. Tersiksa baik fisik maupun batin. Melihat Hyukjae yang telah kembali ke wujud aslinya dan kembali terluka luar dalam. Beruntung gang kecil ini benar-benar sepi. Bahkan lebih terkesan seperti tidak ada makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.
"Hyuk... Mianhae..."
Tak berbalik, Donghae meninggalkan Hyukjae dan terus berlari. Tujuannya hampir sampai. Dan Donghae yakin akan ada yang menolong Hyukjae, atau mungkin ia akan kembali ke rumah Kangin.
Melihat Donghae yang tak kembali membuat luka hati Hyukjae menganga semakin lebar dan dalam. Tak menyerah, namja bertelinga dan ekor kucing itu kembali berdiri. Mengambil harta pemberian Zhoumi yang terlempar, tak peduli rasa sakit dan takut akan adanya orang awam yang melihat wujud dirinya. Dengan tertatih-tatih ia melangkah. Menggunakan kekuatannya sepenuhnya untuk berlari, hingga kembali keluar masuk jalan kecil yang berbeda.
Terus...
Lurus...
Tidak peduli...
Mata kucing tajam Hyukjae terus menerawang ke depan. Entah sudah berapa barang yang ia tabrak, namun Donghae semakin jauh dari dirinya dan kini menghilang dihadapannya. Mengandalkan penciuman dan perasaan, ia terus berlari hingga-
TIIIIINNNNN
CKIIIIIITTT
BRAK
Dirinya terjatuh begitu saja. Kalung yang sedari tadi ia pegang terlepas dari genggamannya. Detik-detik terakhirnya ia penuhi dengan harapan, Donghae, dan derai air mata. Hingga cairan berwarna merah mengalir dari bibirnya dan nafas terakhirnya terhembus. Semua berlalu begitu cepat.
Perlahan sosok itu menghilang. Menyisakan helaian bulu putih nan tipis beterbangan. Tak seharusnya ia disini. Sosok itu tak seharusnya berada di dunia ini. Ia berbeda. Dalam dunia ini ia tak nyata, sebagaimana orang-orang mulai menganggapnya. Ia bukanlah generasi terdahulu yang masih dianggap. Ia adalah Hyukjae, generasi sekarang yang hanya dianggap mitos oleh warga setempat.
2 orang manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan keluar dari kendaraannya dengan keadaan sang wanita panik. Si pria masih saja terlihat tenang seakan tak terjadi apa-apa walau hatinya sendiri berjerit tak kalah panik. Mereka mengecek setiap sudut jalanan sepi yang hanya dilalui mereka ini namun tak kunjung menemukan sosok yang mereka rasa mereka tabrak tadi.
"Taecyeon bagaimana ini?" si wanita terus berucap.
"Kau mungkin sedang mengantuk noona. Mana ada yang lewat? Kau membuatku panik!"
"Tapi aku benar-benar melihat ada yang lewat!" pekik yeoja itu frustasi.
"Kim Taeyeon! Berhentilah panik! Seperti yang kau lihat, tidak apa-apa disini! Kau pasti mengantuk. Kan sudah kubilang jangan ngebut kalau masih belum lancar nyetir mobil!" omel Taecyeon, si pria.
"Panggil aku noona! Aku noona-mu bodoh! Tapi aku tadi- ah sudahlah! Terserah apa katamu!" putus si wanita, Taeyeon.
Taecyeon menggeleng-gelengkan kepalanya, frustasi karena terbawa arus paniknya sang kakak. Ia masuk kembali ke mobilnya terlebih dahulu.
Taeyeon, kembali mengecek jalanan untuk terakhir kalinya. Tak sengaja matanya menangkap sesuatu di dekat bagian depan mobilnya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas apa itu.
"Kalung?"
Taeyeon berjongkok dan mengangkat kalung itu. Sedikit terheran mengapa banyak sekali bulu putih bertebaran di sekitarnya namun ia tak terlalu menghiraukannya.
"Kalung siapa ya? Sudah putus. Tapi unik." Taeyeon bergumam. Ingin membuang kalung itu sayang. Ingin dibawa tapi takut ada yang mencarinya.
"Noona cepat! Aku tidak mau dimarahi appa!"
"Iya!"
Taeyeon beranjak dan memasuki mobilnya. Ditaruhnya kalung itu disakunya. Menurutnya, kalung itu masih bisa diperbaiki. Walau sebenarnya ia tak tau kalau kalung itu memiliki fungsi lain, yang sudah tak mungkin berfungsi lagi.
~Unexpected Life~
Donghae terus-terusan menoleh kebelakang. Ia merasa gelisah menemukan tidak adanya orang yang mengejar dirinya. Sudah berkali-kali ia berpikiran positif seperti Hyukjae sudah kembali ke rumah atau menyerah, namun entah mengapa disisi lain ia merasa ada yang mengganjal.
Lagi, ia kembali memaksakan logika positifnya. Sebentar lagi. Sebentar lagi ia sampai. Waktunya masih cukup.
Memegang kepalanya yang seakan ditusuk ribuan paku, ia terus berlari. Semuanya terasa begitu berat saat Aiden yang terus membisikinya untuk menyerah dengan nada meremehkan. Namun Donghae tak menggubrisnya. Ia yakin dapat menghancurkan makhluk kejam itu walaupun akan mengorbankan dirinya juga. Akan ia buktikan kepada makhluk itu kalau ia akan berhasil membunuhnya tanpa halangan.
Ah itu dia.
Sudah di depan mata.
Donghae harap ia tidak salah alamat.
TING TONG TING TONG TING TONG
"Iya sabar!" teriak si pemilik rumah dari dalam. Tak lama ia keluar dan Donghae cukup bersyukur alamat yang ditujunya benar.
"Eoh? Sepertinya aku pernah melihatmu." gumamnya. "Ah entahlah. Ada yang bisa kubantu?"
"Cepat bunuh aku!"
Ryeowook terkejut mendengar permintaan Donghae yang begitu aneh. Setahunya, orang-orang minta untuk memperpanjang hidup, namun Donghae meminta sebaliknya.
"H-Hei. Kau tidak sedang bercanda kan?"
Donghae menggeleng. Lebih baik ia cepat mati daripada mempertahankan tubuhnya demi menahan makhluk keji yang hidup di dalamnya. Ia menelusuri wajahnya yang mulai terasa dingin dan jantungnya yang mulai berdetak lemah. Diremasnya kuat baju yang ia pakai, menahan rasa sakit yang seakan membunuhnya perlahan. Ryeowook semakin tidak mengerti apa yang terjadi, terlebih namja dihadapannya itu terus-terusan menunduk.
"Jebal... Aku sudah tidak tahan..."
Ryeowook semakin terkejut begitu Donghae mulai menengadahkan kepalanya, menatapnya penuh harap.
Bukan, kali ini bukan karena permintaan untuk matinya yang begitu memaksa, namun karena melihat perubahan wajah Donghae yang begitu ketara.
Manik matanya yang mulai terlihat semakin merah, kulitnya yang semakin memucat dan terasa dingin, wajahnya yang seperti menahan sakit, tak lupa dengan satu hal yang paling janggal. Gigi taring sebelah kirinya yang semakin memanjang dan taring kanannya yang mulai ikut berkembang.
"T-tidak mungkin. T-tapi."
DOR
Kembali Ryeowook tercengang, merasakan sesuatu yang bergerak cepat melesat melewati celah antara pinggang dan lengannya yang terbilang kecil. Apalagi tubuh Donghae yang tiba-tiba membusur, mata Donghae yang terbelalak, juga sudut bibir Donghae yang mengalirkan darah.
Mata yang kini merah menyala itu kembali meredup, berganti kewarna selayaknya manusia normal. Taring yang membesar dan meruncing itu pun menyusut. Tapi tidak dengan kulitnya yang semakin dingin dan memucat. Sebutir air mata mengalir dari mata Donghae dan kemudian ia tersenyum tulus, bergumam.
"Terima kasih..."
Ryeowook menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya kala tubuh Donghae semakin melemas juga matanya yang kini terpejam. Dalam dinginnya aspal, tubuh Donghae tergeletak begitu saja. Perlahan, tubuh itu semakin rapuh, dan berubah menjadi pasir-pasir halus. Sebagiannya tertiup oleh angin malam yang berhembus, tepat dengan jelasnya pemandang si raja malam yang tengah berdiri kokoh di langit sana, menyisahkan satu stela pakaian yang menutupi sebagian dari pasir halus itu.
"H-hyung, a-apa yang kau lakukan?"
Ryeowook tau, si pelaku penembakan pasti berada tak jauh di belakangnya. Terbukti dengan samar terdengarnya deru nafas sang kakak, tak jauh dari arah belakang.
"Aku tak melakukan apa-apa." jawabnya, "Hanya membunuhnya."
Ryeowook meraih butiran pasir itu dan mengangkatnya. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi tepat di hadapannya.
"Pasir itu membuktikan kalau dia yang kita cari sejak dulu. Menurut catatan harian kakek kita, sudah seharusnya ia mati berpuluh tahun yang lalu."
"Tapi dia masih sanggup hidup! Kenapa kau malah menembaknya Kibummie-hyung?"
Kibum sang kakak menghela nafas. Padahal apa yang ia lakukan adalah hal wajar, tapi adiknya seperti menganggap jikalau dirinya ialah seorang pembunuh.
"Dan membiarkannya sisi lainnya mengacaukan dunia? Kau tidak melihat seberapa tersiksa raut wajahnya saat hampir berubah tadi? Dia yang menginginkan untuk mati. Bersyukurlah karena aku menembaknya."
Ryeowook hanya bisa diam mencerna seluruh ucapan kakaknya. Ada kalanya semua itu memang benar, namun dirinya masih belum bisa menerima apa yang terjadi barusan. Terlalu kaget dan belum siaplah penyebabnya.
TAP
"Wookie! Apa tadi Donghae kesini?" tanya Kangin yang baru sampai di rumah itu panik. Ryeowook tidak menjawab.
"Loh hyung sudah pulang?" tanya Kangin begitu menyadari keberadaan Kibum. Setahunya Kibum sedang bekerja di Amerika sana.
"Baru sampai tadi siang. Dan kebetulan yang kucari muncul dengan sendirinya." jawabnya ambigu. "Donghae si manusia yang jadi vampir itu kan? Tebakan kakekku ternyata benar. Donghae yang kena sial."
Kangin ternganga. Bagaimana bisa Kibum tau hal itu? Dia saja baru tau tadi sore. Pandangan Kangin turun ke bawah, mengikuti arah yang Kibum tunjuk dengan dagunya.
Pasir?
"Sepertinya dia yang kau cari." ucapnya, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Kangin meneliti butiran pasir itu dan menatapnya heran. Masa iya Donghae itu pasir? Namun pertanyaan itu terjawab begitu melihat foto yang menyembul dari kantung baju yang katanya Kibum milik Donghae itu.
Foto kenangan dirinya, Donghae, dan Hyukjae di Lotte World. Hanya dicetak satu diseluruh dunia.
"Kangin-ah, mianhae... Dia pergi. Tepat di pelukanku..." gumam Ryeowook. Bagaimana pun juga pemuda bertubuh mungil itu merasa bersalah. Kangin yang awalnya tidak percaya merasakan matanya yang memanas. Ada benarnya ia harus mempercayai semuanya ini.
"Jadi... Dia memang sudah merencanakannya..." lirih Kangin. "L-lalu b-bagaimana dengan... Hyukjae...?"
"Hyuk-jae?" Ryeowook terdiam. "Tidak ada yang datang lagi kesini."
"T-tidak ada...?"
Kangin tak lagi sanggup menahan buliran air yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. Diraihnya pakaian berpasir itu, memeluknya. Tangannya menggenggam butiran pasir yang terus berjatuhan dari sela-sela jarinya.
"Hiks... Kenapa kalian tega meninggalkanku sendiri..." isaknya. Ryeowook sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Lidahnya terasa kelu. Bahkan untuk menenangkan Kangin saja ia tak sanggup. Ia heran bagaimana bisa kakaknya dapat melanjutkan aktifitas layaknya tak terjadi apa-apa.
"Hiks... Hyukjae... Kau kemana? Donghae... Hiks... Jangan tinggalkan aku sendirian lagi bodoh..."
"Kangin-ah..." Ryeowook bergumam lirih.
"Hiks... Donghae... DONGHAEEEEE!"
.
.
.
END
Buat yang mau sad ending ini sudah end maksudnya ._.
.
.
.
Mata Yesung terus menatap kearah satu objek yang sama. Sedari tadi ia menatap si makhluk yang sedang ditatap dengan penuh tanda tanya. Ingin bertanya takut mengganggu, tidak bertanya malah penasaran.
Bagaimana tidak? Sedari tadi, sosok berbalut pakaian serba putih itu masih dengan santainya duduk di singgasananya, kepala bersandarkan sepasang tangan yang tertopang di meja, dan menampilkan ekspresi-ekspresi tidak jelas. Contoh saja, ia berekspresi sendu, lalu sekarang sudut-sudut di bibirnya terangkat, makin lama makin melebar. Mungkin saja sebentar lagi struktur wajahnya akan bergelombang dipenuhi lesung pipit.
"Hyung..."
"..."
"Hyung..."
"..."
Yesung menghela nafas. Apa yang sedang asik dipikirkan Leeteuk sih sampai mengabaikannya begitu?
Kalau begini hanya ada satu cara.
"Wahai sang-"
"Cukup Sungie. Aku dengar."
Yesung tersenyum senang begitu mendengar respon Leeteuk. Leeteuk sendiri geleng-geleng kepala melihatnya, lalu kembali pada posisi semula dan tersenyum-senyum. Lalu sendu. Lalu kembali senyum.
"Ah! Mereka kembali."
Ucapan Leeteuk sukses membuat rasa penasaran Yesung bangkit hingga tingkat maksimal. Mereka siapa? Apaan? Tidak mengerti.
"Yesung! Jemput dia!"
Yesung semakin bingung. Tadi Leetuk mengatakan 'mereka'. Sekarang Leeteuk menyebutnya 'dia'.
"Aish, tidak usah pikir banyak-banyak. Jemput saja sana! Di barat ya!"
"Iya, iya." Yesung membalikkan tubuh hendak melangkah. "Eh tunggu. Barat?" tanyanya memastikan.
"Iya! Cepat jangan membuatnya menunggu terlalu lama!"
Yesung mengendikkan bahunya. Rasa penasaran yang teramat sangat melingkupi dirinya. Setahunya, tidak pernah ada yang dijemput melalui gerbang barat. Pernah sih satu, tapi ada suatu hal yang membuatnya di batalkan. Gerbang barat sendiri merupakan tempat dimana malaikat yang menjalani hukuman kembali.
Eh tunggu. Menjalani hukuman? Apa jangan-jangan...
"Donghae?" panggil Yesung, melihat adanya sosok yang disebut-sebut Leeteuk sedari tadi. Sosok itu menoleh, mengalihkan perhatiannya terhadap langit. Matanya yang sayu dan pipinya yang mulus terhiaskan jejak-jejak air. Dirinya seakan baru terlahir. Yesung sendiri tak bisa memungkiri jika sosok itu terlihat lebih bersinar dibanding terakhir kali ia menemuinya.
"Hae? Itu benar kau?" Yesung menghambur memeluknya. Ia tak kuasa menahan rasa gembira yang bergejolak dalam hatinya. Sosok yang sudah ia anggap adik sendiri akhirnya kembali.
Sosok itu, Donghae, membalas pelukannya. Mereka bertahan dalam posisi itu beberapa saat, melepas kerinduan mereka, lalu melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
"Aku merindukanmu hyung."
"Aku juga Hae. Aigoo kenapa sekarang menjadi cengeng? Tidak apa-apa. Aku tau kok, rasanya berat meninggalkan dunia fana itu."
Donghae mengangguk. Ia menghapus jejak-jejak air mata itu dan tersenyum, senyuman yang begitu tulus dan polos yang sangat disukai Yesung.
"Memang berat hyung. Lagipula aku juga merindukan tempat ini hehe." balasnya. "Ah, aku juga mau bertemu Teukkie-hyung."
"Aku baru mau membawamu kesana." Yesung menyahut. "Ayo pergi!"
.
.
.
.
.
"Selamat datang kembali Hae."
Kira-kira seperti itulah yang diucapkan Leeteuk. Merentangkan tangannya dengan senyum lebar cukup menyatakan jika ia benar-benat tulus menyambut Donghae.
"A-auw Hae... Terlalu erat..."
Donghae melepas pelukannya pada Leeteuk dan menggaruk tengkuk tak gatalnya.
"Jadi ada yang ingin kau ceritakan? Biasanya kau punya segudang cerita sampai aku tertidur." canda Leeteuk. Donghae menggembungkan pipinya kesal.
"Ish... Hyung jahat. Aku tidak jadi cerita."
"Yah... Hyung bercanda. Ayo cerita!"
"Tapi panjang."
"Ringkas saja. Yang terpenting gitu?"
"Hmm..." Donghae menggumam, memasang pose berpikir.
"Ah! Itu yang penting hyung! Aku bertemu dengan Hyukkie... Lagi..."
Leeteuk mengernyitkan kening melihat semangat Donghae yang cepat sekali menurun, terutama saat menyebut kata 'Hyukkie'. Seharusnya dia senang dong?
"Bagus sih, aku ketemu dia lagi. Tapi... Pada akhirnya kita berpisah mengenaskan begini..." lirih Donghae. Leeteuk mengangguk maklum.
Donghae baru hendak melanjutkan ceritanya ketika Leeteuk tiba-tiba berseru.
"Ah iya Hae. Ada yang harus kau temui." Tanpa menunggu sahutan Donghae, Leeteuk menariknya menuju tempat yang dimaksud, diikuti Yesung.
Donghae mengernyit mendengar alunan melodi yang begitu indah dan melihat adanya 3 sosok berstatuskan dewa tengah mengerumuni satu sosok yang entah siapa itu. Yang membuatnya lebih heran adalah, 3 dewa itu paling tenar selain Leeteuk.
Sebut saja Siwon, yang memantau urusan perbuatan setiap makhluk. Kyuhyun, si dalang di balik hukuman Donghae, dewa penderitaan. Dan terakhir, untuk apa ada Henry si pemberi kebahagiaan?
"Nah bagaimana, tidak sedih lagi kan?" tanya Henry, selesai menghibur sosok tersebut. Dari belakang, sosok itu terlihat mengangguk dan mengusap-ngusap wajah membuat 3 dewa disana tersenyum lega termasuk Kyuhyun.
"Kalau sudah tenang, kau boleh berdiri dan berbalik badan." ucap Siwon lembut. Sosok itu kembali mengangguk dan mengikuti apa yang Siwon ucap.
Donghae tercengang begitu melihat sosok itu berbalik badan. Sosok itu pun mengekspresikan hal yang sama. Sementara itu Siwon, Leeteuk, Henry, Kyuhyun, dan Yesung tersenyum puas.
"Donghae?"
"Hyukjae?"
Entah berapa lama mereka tercengang seperti idiot. Masih tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Kyuhyun geleng-geleng kepala.
"Bukan mimpi kok. Kalian memang sedang bertatap mata." jelas Kyuhyun, "Dengan ekspresi seperti idiot." lanjutnya frontal.
Mendengar penjelasan Kyuhyun cukup membuat Donghae dan Hyukjae tersadar. Mengabaikan apa perkataan Kyuhyun yang tidak di filter, mereka mencoba saling menyentuh satu sama lain. Bermula dari tangan, di akhiri dengan wajah. Baik Hyukjae dan Donghae saling mengusap pipi lawan masing-masing dengan senyum kelegaan hingga akhirnya mereka berpelukan, melepas rindu yang membebani hati. Betapa lega rasanya, jika mereka dapat mengetahui keberadaan pasangan yang diluar dugaan baik-baik saja.
"Ah, mengharukan seperti drama yang pernah kutonton beratus juta tahun lalu."
Mendengar gumaman Siwon, Kyuhyun terlihat menyeka air matanya. Henry menyikut Yesung. Sebagai dewa berjiwa termuda, rasanya tidak sopan menyinggung yang lebih tua, setidaknya itulah yang dipikirkan Henry.
"Berhenti berpura-pura Kyu." Yesung berucap frontal. Kyuhyun kembali menyeka air matanya.
"Kenapa? Ini biar terlihat dramatis saja kok." jujurnya.
Mengabaikan ucapan para senior, Donghae dan Hyukjae melepas pelukannya dan saling bertatapan tulus. Menyilaukan jika Kyuhyun sedang sok dramatis.
"Kenapa kau bisa disini, Hyuk?"
"Harusnya kau tau aku mati lebih cepat daripada kamu."
"Benarkah?"
"Dia tertabrak mobil Hae. Gara-gara mengejarmu." jelas Leeteuk, lebih terdengar seperti menyalahkan Donghae. Namun Donghae tak mau ambil pusing.
"Ah, tapi kenapa aku selalu bertemu denganmu?" Donghae penasaran. Bukan Hyukjae yang menjawab, melainkan Leeteuk yang menjelaskan, selaku si petinggi langit.
"Sudah lama sekali Hae. Dia adalah orang ketiga yang pernah menjabat sebagai salah satu dewa disini. Dan karena dia melakukan kesalahan fatal juga, dia dihukum ke dunia manusia. Namun karena adanya suatu hambatan, dia tidak bisa kembali kesini. Jadi dia seperti seorang malaikat yang baru sekarang." helas Leeteuk panjang lebar.
"Oh iya. Kalau kau ingat, beribu tahun yang lalu Hyukjae adalah anakmu yang terkena penyakit berat." sambungnya. Donghae dan Hyukjae menganga tak percaya.
"Sudahlah, jangan memasang wajah seperti itu." Leeteuk mengangkat kedua tangannya, mengeluarkan 2 cahaya dan memasukkannya ke tubuh Hyukjae dan Donghae. "Sebagai hadiah kembalinya kalian, aku membagi kedudukanku. Sekalian mengurangi beban sih, tugasku banyak sekali." Terlihat sebuah kalung terpasang di masing-masing leher kedua sosok itu. "Mulai sekarang, kalian adalah dewa cinta dan asmara."
Leeteuk membalik tubuhnya dan memandang Yesung dari atas sampai bawah, memasang pose berpikir. Ia mengerutkan keningnya, lalu kemudian menjentikkan jarinya.
"Ah! Kau kuangkat pangkatnya! Jadi penjaga gerbang oke?" seru Leeteuk. Entah mengapa perkataannya seperti hantaman keras di wajah Yesung.
"Aku hanya menjadi penjaga gerbang hyung? Tapi mereka langsung jadi dewa?" Yesung tak percaya. Ia menggembungkan pipinya. Leeteuk terkekeh. Apalagi Siwon dan Henry, terutama Kyuhyun. Sudah tertawa ngakak, menertawai nasib mengenaskan Yesung.
"Tenang saja. Kau akan menjadi orang pertama yang bertemu dengan Ryeowook saat dia kesini jua loh~" bujuk Leeteuk. "Kalau untukmu biar kupikir-pikir dulu ya. Atau kau mau kusuruh Kyuhyun langsung membawa jiwa Ryeowook kesini?" tawar Leeteuk. Yesung menggeleng cepat.
"Aniya, tidak usah repot-repot. Biarkan dia menjalani hidup dulu." Lagian enak, bisa memperhatikan Ryeowook diam-diam terus. Batinnya.
"Asal kau tidak mengulangi kesalahan Donghae, itu tidak apa-apa." ucap Leeteuk. "Ah, soal peraturan, ada yang sudah diubah!" Leeteuk teringat.
"Kalian boleh berpasangan, tapi tidak sampai melakukan hubungan yang terlalu jauh. Paling jauh..." Leeteuk menatap Donghae dan Hyukjae, mengetuk bibirnya sendiri. "Hanya disini." lanjutnya. Donghae dan Hyukjae mengangguk semangat, lalu mulai mendekatkan wajah mereka.
"Eh, tidak disini juga! Cari tempat yang lain!" potong Henry, saat bibir mereka nyaris menyatu. Donghae dan Hyukjae menggembungkan pipi.
"Ah iya! Bagaimana dengan Mimi, Junsu, dan Sungmin? Sudah berapa lama aku disini?" Hyukjae yang teringat tiba-tiba bertanya. Leeteuk tersenyum. Digerakkannya jari-jarinya hingga membentuk suatu genangan air. Yang lain hanya memperhatikan dalam diam, sampai Leeteuk menggerakkan tangannya hingga perlahan yang terlihat bukanlah pantulan dirinya, namun suatu kondisi di sebuah kota.
"Kau bisa melakukan hal seperti ini Hyuk. Kekuatannya juga ada padamu." jelas Leeteuk. "Sentuh genangan air ini dan pikirkan siapa yang ingin kau temukan." suruh Leeteuk. Hyukjae menurut.
"Ah iya. Soal berapa lama itu, menurut waktu disini atau di dunia manusia?"
"Eh?"
"Kalau disini, baru satu jam tapi di dunia manusia sana sudah 10 tahun."
"Mwo?!"
.
.
.
"Huwaaa! Eomma! Su-ie mau pegang baby!"
"Tidak! Minnie yang boleh pegang-pegang baby!"
"Tidak! Su-ie yang boleh tau!"
"Sudahlah semuanya. Biar ahjussi yang gendong baby. Kalian masih kecil."
Kedua bocah kecil yang lahir hampir berbarengan dari rahim yang sama itu merengut kesal. Anak kembar itu, Junsu dan Sungmin, menendang kaki sang ahjussi, Taecyeon, dengan tidak sopannya.
"YA! Kuadukan sama Kangin ahjussi baru tau!" ancam Taecyeon. Kedua bocah itu tak bisa dipungkiri merasa takut. Tapi
agar tak terlihat lemah, mereka malah memeletkan lidah pura-pura tidak takut, lalu berlari menghambur dalam rengkuhan hangat sang eomma yang baru bangun dari tidurnya.
"Taec-ah. Berikan aegya-nya padaku. Sekalian hubungi Kangin suruh jemput anak-anak pulang dulu. Sudah malam." pesannya. Anak-anak mengkeret takut sementara Taecyeon menyeringai.
"Baiklah noona. Dengan senang hati." serunya girang, dihadiahi tatapan kesal dua bocah itu.
"Su-ie/ Minnie laporkan Taec ahjussi pada appa!"
"O ya? Laporkan saja. Appa kalian kan baru berangkat ke Prancis." sahutnya santai, membuat kedua bocah itu merengut sebal.
"Mimi..." gumam Taeyeon.
"Eh?" 3 orang itu serentak menoleh.
"Sepertinya panggilan Mimi manis. Bagaimana kalau namanya Zhou mi? Zhou dari marga appa kalian, Mi dari mandarinnya mi tang, yang artinya madu kesukaan appa dan kalian. Manis kan?" usul Taeyeon. Kedua bocah itu terlihat semangat. Terbukti dari manik mata mereka yang begitu hidup dan mengekspresikan kesenangan yang membuncah.
"Uwaaaahhhh! Keren! Manis! Eomma jago memilih nama!" puji Sungmin. Taeyeon tersenyum dan menggumam 'terima kasih'.
CKLEK
Pintu rawat itu terbuka, menampilkan sosok yang sangat ditakuti oleh anak-anak yakni...
Kangin.
"Hallo anak-anak~"
Sungmin dan Junsu mundur. Kedua bocah berusia 5 tahun itu memojok di sudut ruangan. Terlihat mereka berbisik-bisik sambil melirik-lirik Kangin. Kentara sekali sedang membicarakan orang, namun Kangin tidak peduli.
"Hello baby..."
"Zhoumi."
"Hello baby Zhoumi~" sapa Kangin, menggendong bayi kecil itu dari Taeyeon. "Tampan sekali. Sama sekali tidak mirip dengan eommanya yang jelek." komentarnya, membuat 4 orang tersisa di ruangan itu merasa tersindir karena membagi gen yang sama.
Taeyeon hanya geleng-geleng kepala sementara Taecyeon merasakan urat-uratnya membentuk perempatan jalan. Kangin sendiri sibuk menelusuri wajah menggemaskan anak itu. Ia terpaku sebentar melihat kalung yang dilingkarkan di tangannya.
'Eh kalung ini... Seperti pernah lihat...'
.
.
"Hyukkie. Kalungmu bagus. Kau dapat darimana?""Hm? Mimi yang memberikannya untukku. Katanya cuma diproduksi satu di dunia.""Oh, Mimi itu si Zhoumi yang merawatmu selama ini kan?""Eum!"
.
.
"Zhoumi..." Kangin bergumam. Kenapa bisa namanya sangat kebetulan?
"Noona. Kau dapat kalung ini darimana?"
Taeyeon mengerutkan alisnya, lalu mencoba mengingat-ngingat.
"Kalau tidak salah... Ah iya! Aku menemukannya dijalan. Sayang kalau tidak diambil."
"Dijalan? Kapan?"
"Sekitar 10 tahun lalu. Waktu itu noona bilang dia seperti menabrak seseorang tapi setelah di cek tidak ada siapa-siapa. Katanya sih kalung itu ditemukan di sekitar bulu putih halus. Tapi tidak tau juga sih, mungkin noona mengarang." Taecyeon mengendikkan bahunya.
Kangin tersenyum. Sepertinya ia tau yang dimaksud Taecyeon. Dan apa yang dikatakan Taeyeon kemungkinan benar. Hanya ada satu orang yang memakainya. Itulah Hyukjae. Dan 10 tahun itu bertepatan dengan hilangnya Hyukjae. Setidaknya Kangin bersyukur sudah mengetahui keadaan Hyukjae sekarang, meskipun dadanya terasa agak sesak.
"Jai kau memang pemilik asli kalung ini? Jagalah baik-baik. Hyukjae selalu memantaumu dari atas sana." Kangin bergumam, menatap lembut si anak, mengecup pipinya.
"Eh, kau ngomong apa barusan?"
"Ani. Tidak apa-apa."
.
.
.
END
Buat yang mau happy end
Bonus:
"Hae-ya."
"Hm?"
"Kita kerja sama dengan Kyuhyun yuk."
"Untuk apa?"
"Membawa Ryeowookie kesini lebih cepat."
"Hyukjae, Donghae, jangan merencanakan yang macam-macam!"
"Ups. Ketahuan..."
.
.
.
Author's Territory:
Ini kenapa paragraph centernya error... /bantingkeyboard
Ah, ternyata udah end readersdeul. Akhirnya selesai juga~
Mian ya, CLA ga jago buat yang angst atau sedih-sedih gitu QAQ
Thanks buat ngedukung FF ini dari awal sampai akhir^^
Balasan review chap kemarin:
Arit291: tragiskah? Malahan CLA bilang feelnya kurang dapet loh ._. Gomawo reviewnya^^
myfishychovy: nggak kok. Kucing itu bayangan seunghyun doang. Hyun kira hae pelihara kucing gitu ._. Kan keluarga hyuk dibantai abis-abisan sama changmin^^ Udah apdet, mian ga kilat... Gomawo reviewnya^^
myhyukkiesmile: ah, gapapa kok. Asal ikhlas sih haha. Reviewnya makasih banget^^ Ini udah lanjut...
fitri. flames: sampe dikebut haha. Udah lanjut, thanks reviewnya^^
Chen Clouds: ini udah lanjut loh. Iya, emang chap ini tamat QvQ Thanks reviewnya^^
Yui the devil: iya nih. Tapi ga sepenuhnya salah hae kok. Ada kyu ikut berperan dalam penderitaan hae ._. /ditendangKyu/ Gomawo reviewnya^^
LonelyKim: iya, hae sama aiden itu baru menyatu(?). Kangin tak sempat menolong... Gomawo reviewnya^^
ressijewelll: ah tapi biarpun yang lain mati, tetep happy end sih haha. Thanks reviewnya^^
Arum Junnie: mending satu kota ikutan ngejar mereka rame-rame ._. Gomawo reviewnya^^
boo young: itu dijelasin loh, di chapter 1^^ Hae ataupun Aiden sama-sama dendam ke changmin. Hae dendam karena dia jadi vampir, aiden dendam karena... nggak dendam juga sih. Dia egois, jadi pengennya dia yang menguasai segalanya gitu ._. trus aiden samperin changmin, dan... *kembali ke chap 1* Gomawo reviewnya^^
lyndaariezz: bisa dong. It's magic /plak/ Udah lanjut, gomawo reviewnya^^
Sekali lagi, thanks buat semuanya! *tebar ikan Hae*
See U~
