GOT7's Fanfiction.

Cast :

1) TOP (SEME) GOT7's JB. GOT7's Jackson ;

2) BOTTOM (UKE) GOT7's Junior/ Jie / Jinyoung. GOT7's Mark.

3) Special appearance of EXO's members.

Caution : Yaoi. Shounen Ai. I set the boylove in this story as a normal life. I told you before you read this story. So, enjoy it or if you don't like, just leave it ^^

Extras : Typo. AU. OOC. Don't believe in my story, this is just fiction.

~RIDK~

Jackson berjalan lesu di koridor sekolah. Dia terus memikirkan Mark yang saat ini sudah berada di Hokkaido, Jepang, bersama dengan Jaebum. Dia terus-menerus merasa was-was jika terjadi sesuatu di antara Mark dan Jaebum saat mereka bersama.

Dia tidak ingin Mark jatuh semakin dalam pada pesona Jaebum.

Lebih tepatnya Jackson tak ingin Mark kembali menemukan alasan untuk melanjutkan hubungannya dengan Jaebum.

Pikiran Jackson kalut.

Jackson merasa bahwa Mark mulai membuka hati untuknya, tapi dia tak habis pikir mengapa Mark tetap pergi bersama Jaebum.

Sebenarnya, Jackson hanya tak bisa menerima bahwa ternyata Mark masih mempertahankan hubungannya dengan Jaebum, sementara saat ciuman itu Jackson melihat bagaimana perasaan Mark terhadapnya, jika Jackson boleh sedikit percaya diri.

Jackson hanya ingin menjadi satu-satunya orang yang disukai –dicintai- oleh Mark.

~RIDK~

Jinyoung menatap lurus ponsel yang ada di mejanya. Pandangannya kosong, dia masih mengingat dengan jelas kejadian tiga hari lalu yang mana benar-benar meruntuhkan harga dirinya dan melukai perasaannya.

Ya, dari awal Jinyoung memang sangat menyukai Jackson, tapi Jinyoung sangat yakin bahwa perasaannya pada Jackson hanya sebatas perasaan suka, bukan perasaan yang lebih dalam seperti cinta.

Tapi siapapun yang berada dalam posisi Jinyoung seperti saat ini pasti juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Jinyoung.

Perasaan malu, terluka, merasa dikhianati, dibuang, tak dianggap dan ditolak, semua perasaan itu menjadi satu dan rasanya ia seperti tercekik.

Jinyoung teringat kata-kata Jaebum malam itu bahwa Jaebum tak akan ada di Seoul selama lima hari karena akan pergi ke Hokkaido bersama Mark.

Dan Jaebum juga mengatakan bahwa tidak akan terjadi apapun selama mereka di Hokkaido. Dia mengatakan bahwa sebenarnya Mark mulai jatuh cinta pada Jackson, dan Mark adalah cinta pertama Jackson. Jaebum juga mengatakan pada Jinyoung bahwa ia akan menunggu Jinyoung datang kepadanya. Dan itu berhasil membuat Jinyoung sedikit merasa nyaman. Setidaknya masih ada orang yang bersedia menunggunya setelah ia dicampakkan oleh Jackson.

Dan kata-kata Jaebum itulah yang membuat Jinyoung yakin dengan keputusannya.

Jinyoung yakin ini adalah yang terbaik.

Memutuskan Jackson duluan lebih baik daripada ia diputuskan oleh Jackson. Karena bagaimanapun hanya itu kebanggaannya yang masih tersisa.

~RIDK~

Jaebum duduk di kursi santai yang terletak di teras cottage tempat ia menginap bersama Mark. Dia menikmati pemandangan danau yang dikelilingi oleh berbagai jenis pohon dan bunga cantik disertai angin semilir yang berhembus.

Sedangkan Mark masih di kamarnya.

Lebih tepatnya, sejak kedatangan mereka di Hokkaido, Mark lebih memilih menghabiskan waktunya di kamar.

Melihat itu, Jaebum hanya menggelengkan kepalanya. Baginya Mark benar-benar terlihat sakit seperti surat ijin yang ditulisnya kepada pihak sekolah.

Mark bilang ingin menyembuhkan patah hati dengan menyepi ke tempat tenang dan sejuk seperti cottage di Hokkaido ini, tapi yang terjadi malah ia terlihat seperti mayat hidup.

Fisiknya ada di Hokkaido, tetapi hati dan pikirannya ada di Seoul.

Dan sebenarnya hal itu juga terjadi pada Jaebum, sih.

Ia terlihat santai dengan liburannya bersama Mark, tapi saat ia sendiri seperti ini, ia memikirkan Jinyoung.

Apa Jinyoung akan baik-baik saja?

Apa Jinyoung sudah memutuskan hubungannya dengan Jackson?

Apa dia punya kesempatan untuk bersama dengan Jinyoung?

Apa Jackson bisa melepaskan Jinyoung?

Pikiran-pikiran seperti itulah yang membuat kepala Jaebum sedikit pening.

Baru kali ini ia merasakan kekhawatiran terhadap sesuatu.

Khawatir jika dia tak dianggap, tak disukai, maupun ditolak oleh Jinyoung.

Dan rasanya Jaebum hampir gila karena hal itu.

Tapi sebesar apapun rasa frustasi yang dirasakan Jaebum, dia akan tetap bersikap tenang dan dingin seperti biasanya.

Tapi perasaan itu terus mengganggunya, maka ia memutuskan untuk kembali ke Seoul hari itu juga dengan meninggalkan Mark sendirian di cottage. Mark masih ingin tinggal lebih lama, karena dia masih belum beradaptasi dengan keadaan yang sedang terjadi.

Mark lebih suka untuk lari sejenak dari masalah yang sedang dialaminya untuk menenangkan pikiran, kemudian dia akan menganggap masalah selesai saat pikirannya sudah tenang, terlepas masalah itu benar-benar selesai atau tidak.

Pola pikir Mark memang simpel, dan Jaebum sangat menyukai pola pikir Mark itu.

~RIDK~

Jaebum sudah sampai di Seoul. Dan dia buru-buru naik taksi ke rumah Jinyoung. Tepat saat dia sampai di depan rumah Jinyoung,dia bertemu dengan—

"Jackson?"

Jaebum terkejut, tapi dia berusaha bersikap santai. Jaebum itu orang yang dingin. Ingat itu.

"Oh, Jaebum. Kau sudah kembali? Lalu dimana Mark?"

Tanya Jackson antusias sambil melihat ke sekitar Jaebum. Sejenak dia lupa tujuannya datang ke rumah Jinyoung.

"Kau ada di depan rumah pacarmu, tapi kau justru bertanya tentang orang lain. Kau ini lucu sekali."

Jaebum tersenyum kecut. Dia membayangkan betapa menyedihkannya Jinyoung karena seseorang seperti Jackson –dan sebenarnya juga karena dirinya-.

"Kebetulan kau ada disini, mari kita bicara."

Jackson tak mempedulikan sindiran Jaebum, dia hanya berfokus pada masalah yang harus segera diselesaikannya.

Jaebum menyetujui ajakan Jackson, inilah yang dia inginkan. Berbicara dengan Jackson untuk menuntaskan segalanya.

Dan disinilah mereka sekarang.

Duduk berhadapan di toko ramyun tak jauh dari rumah Jinyoung.

~RIDK~

"Huh, makan di tempat seperti ini. Benar-benar bukan gayaku-."

Jaebum tersenyum meremehkan sambil melihat ramyun yang tersaji di depan matanya.

"—dan juga bukan gaya Mark." tambahnya

Kali ini Jaebum tersenyum licik kepada Jackson.

"Tempat seperti ini adalah tempat makan favorit Jinyoung."

Jackson berkata tak acuh.

'shit!'

Jaebum mendesis.

Skakmat!

Jackson berhasil membungkam Jaebum hanya dengan sekali pukul.

"Omong-omong, apa yang kau lakukan di depan rumah Jie?"

Tanya Jaebum penasaran dengan nada sesantai mungkin.

"Aku ingin bicara dengannya."

Jawab Jackson –masih- tak acuh.

"Sebaiknya cepat selesaikan. Mark bukanlah orang yang suka menunggu."

Kata Jaebum terkesan menggurui.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau ke rumah Jinyoung?" Tambahnya

Jackson balik bertanya. Rupanya dia juga penasaran dengan rencana Jaebum mendatangi rumah Jinyoung dengan masih membawa kopernya.

"Aku hanya err.. ingin bertemu."

Jawab Jaebum agak ragu. Dia malu karena tertangkap basah oleh Jackson.

"Kau pasti merindukannya."

Celetuk Jackson.

"Mungkin, setelah tiga hari hanya tinggal di cottage dan tak pergi kemanapun bersama pacarku, rasanya aku jadi merindukan pacar orang lain."

Kali ini jawaban Jaebum diiringi senyuman usil di bibirnya.

"Kalau kau melakukan sesuatu terhadap Mark, kau akan ku bunuh."

Ancam Jackson dengan mata melotot sambil mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.

"Why not? he's still mine."

Jawab Jaebum sambil mengendikkan bahu.

Sigh!

Kali ini Jaebum yang menghantam Jackson.

Dan Jaebum hanya nyengir kuda melihat ekspresi Jackson itu.

"Lalu, dimana Mark?"

Kali ini Jackson bertanya dengan serius.

"Dia masih di Hokkaido."

Jawab Jaebum ringan sambil memakan ramyunnya.

"Kenapa tak pulang bersamamu?"

Jackson mulai ikut-ikutan mulai memakan ramyunnya.

"Mau kuberi sedikit bocoran tentang Mark?"

"Ya, dan kau juga akan mendapat informasi tentang Jinyoung."

"Aniyo, aku bisa mencari tahu sendiri."

Jawab Jaebum sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang bebas ke arah Jackson.

Dan Jackson tahu kalau Jaebum hanya jual mahal.

Jaebum meletakkan sumpitnya sejenak.

"Mark itu tipikal orang yang tak suka membesar-besarkan masalah, jika ia memiliki masalah, dia lebih suka pergi berlibur sendirian untuk menenangkan diri. Dan saat dia kembali ke Seoul, dia akan menganggap semua masalahnya selesai meskipun masalah-masalah itu benar-benar selesai atau tidak. Itu semua karena Mark adalah orang yang tak suka bicara, dia berbicara sekedarnya, dan dia sangat malas untuk berdebat."

"Apa dia juga pergi berlibur saat bertengkar denganmu?"

Jackson menunda suapan ramen yang sebentar lagi akan memasuki mulutnya.

"Dia sangat sering pergi selama setahun ini."

Jaebum menggeleng-gelengkan kepalanya seolah dia sangat kecewa.

Dan Jackson berusaha keras menahan tawanya agar tidak pecah.

Lalu..

"Aku akan segera putus dengan Jinyoung, dan kuharap kau benar-benar bisa menjaga Jinyoung."

Sekarang Jackson juga meletakkan sumpitnya. Ia lebih tertarik dengan obrolannya bersama Jaebum.

"Kenapa kau menganggapku seolah-olah aku menginginkan Jinyoung, huh?"

Jaebum menatap Jackson dengan tatapan tak suka.

"Kau memang menginginkannya, tak usah berbohong."

Kata Jackson sok tahu.

"ck."

Jaebum hanya berdecak. Apa sejelas itu kelihatannya? Apa semua orang tahu bahwa dia benar-benar menginginkan Jinyoung?

"Lalu, kapan Mark pulang?"

Akhirnya mereka sampai pada inti obrolan.

"Jadwalnya lusa, jam 9 malam sampai di Bandara Gimpo."

"Bolehkah aku menjemputnya?"

"Kau sopan sekali~ meminta ijin terlebih dahulu pada pacar Mark."

Komentar Jaebum nyinyir.

"Aku hanya memastikan apakah Mark akan baik-baik saja jika aku yang menjemputnya!"

Jackson menjawab penuh emosi. Jackson pikir Jaebum adalah orang yang dingin dan to the point, tapi saat ini dia benar-benar bertele-tele dan sangat menyebalkan bagi Jackson.

Jaebum mencebik.

"Bukankah sudah kubilang kalau Mark kembali ke Seoul itu artinya dia sudah menganggap semua masalahnya selesai. Kenapa kau bertanya lagi? Dasar bodoh."

"Jadi dia akan menerimaku ah- ani, maksudku dia mau kujemput?"

"Kalau dia mau kau jemput berarti dia masih memberi kesempatan untukmu, tetapi jika dia menolak itu tandanya tak ada kesempatan lagi untukmu."

Jackson hanya mengangguk-angguk paham.

"Tapi sebaiknya perjelas dulu hubunganmu dengan Jie, untuk meyakinkan Mark."

Jaebum mengatakan itu sambil menyuapkan ramyun ke dalam mulutnya lagi.

"Itu sih, maumu saja."

Celetuk Jackson sambil menunjuk-nunjuk Jaebum dengan sumpit yang baru saja digunakannya menyuapkan ramyun ke dalam mulutnya.

Jaebum tak bereaksi.

Tiba-tiba..

"Jack—"

Jaebum menyebut nama Jackson dengan raut wajah serius.

"hm?"

"Aku sangat menyayangi Mark, dia sudah kuanggap seperti bagian diriku yang lain, jadi jangan pernah melukainya. Atau kau akan mati ditanganku."

"Kau juga jangan menyakiti Jinyoung, meskipun aku tak mencintainya, tapi aku sangat menyayanginya."

Ancam Jackson tak kalah serius dari Jaebum.

"Aku tahu."

"Jadi kita bertukar pasangan?

Tanya Jackson usil. Rupanya raut wajah serius mereka hanya bertahan selama beberapa detik saja.

"Terserah apa katamu."

~RIDK~

Jinyoung memegang ponselnya dengan ragu. Dari tadi dia mengetik-menghapus-mengetik-menghapus pesan yang akan dikirimkannya kepada Jackson.

Jinyoung frustasi. Ia menenggelamkan wajahnya di bantal sambil meyakinkan dirinya.

Ini harus berakhir. Harus.

Karena Jinyoung tak tahu harus mengirim pesan seperti apa, akhirnya dia hanya mengirim pesan kepada Jackson yang berbunyi—

.

Message to : Jackson

"Mari kita bicara. Di toko ramyun dekat rumahku. Kutunggu sekarang."

.

~RIDK~

Jackson tersedak minumannya saat membaca pesan dari Jinyoung. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke segala arah di area toko ramyun itu untuk memastikan apakah Jinyoung sudah ada disana dan apakah Jinyoung mendengar obrolannya dengan Jaebum.

Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Jinyoung.

Maka dia membalas pesan dari Jinyoung—

.

Message to : Jinyoung

Aku baru saja sampai. Kemarilah.

.

Jackson tak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa dia dari tadi sudah ada disitu hanya untuk menjaga perasaan Jinyoung. Dia tak ingin Jinyoung merasa malu karena Jackson sudah berencana memutuskannya terlebih dahulu. Lebih baik Jinyoung yang memutuskan sehingga Jinyoung bisa pergi dengan nyaman dari sisinya.

Jaebum yang melihat Jackson tersedak hanya memandang Jackson dengan tatapan aneh seperti—

'cara tersedakmu tidak cool sekali, man'

"Jinyoung akan segera datang kesini, sebaiknya kau pergi."

Jackson berkata sambil berbisik pada Jaebum. Untuk berjaga-jaga jika Jinyoung sudah datang.

"Baiklah aku mengerti."

Jaebum pergi dari toko itu setelah sebelumnya meletakkan beberapa lembar uang di meja tempatnya makan bersama Jackson.

Sedangkan Jackson yang panik langsung mengembalikan mangkuk-mangkuk sisa makanan mereka kepada pemilik toko sekaligus membayarnya. Dia tak ingin membuat keberadaannya yang sudah agak lama di toko itu diketahui oleh Jinyoung.

~RIDK~

"Jackson-"

Akhirnya Jinyoung datang. Kemudian dia duduk di hadapan Jackson. Persis di kursi yang tadi ditempati oleh Jaebum.

"Y-ya?"

Jackson agak gugup. Dia tidak ingin timbul masalah lagi di detik-detik terakhir perpisahannya dengan Jinyoung.

"Apa kau sudah lama ada disini?"

"Ah, tidak juga. Maksudku baru saja."

"Um, baguslah. Ku kira aku yang akan menunggu."

Jinyoung tersenyum canggung. Pun dengan Jackson.

"Jackson aku tak ingin bertele-tele, jadi mari kita putus."

"Huh?"

Jackson menatap Jinyoung dengan raut wajah merasa bersalah. Sedangkan Jinyoung tak mau menatap Jackson. Dia mengarahkan pandangannya ke sisi meja yang ditempati oleh Jackson.

"Kita sudah tak cocok lagi, dan aku tak mau kita sama-sama merasakan sakit karena hubungan yang dipaksakan seperti ini."

Kini Jinyoung menunduk untuk menahan perasaannya.

"Maafkan aku, Jinyoung."

Jackson semakin merasa bersalah.

"Tak perlu. Setelah ini aku pasti baik-baik saja. Ya, aku akan baik-baik saja. Jadi jalani hidupmu dengan benar. Aku lihat Mark menyukaimu. Cintamu tak bertepuk sebelah tangan."

Jinyoung tersenyum pahit. Dan Jackson hanya menunduk tak berani menatap Jinyoung. Ia yakin bahwa saat ini Jinyoung pasti terluka.

Hening sesaat.

Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Apa kita masih berteman?"

Jackson mulai memberanikan diri membuka percakapan kembali.

"Tidak sekarang. Saat ini aku tak bisa menerimamu sebagai teman. Aku belum memiliki keinginan untuk berteman denganmu, maaf."

Jinyoung menolak untuk berteman dengan Jackson yang sudah jelas-jelas menyakitinya, setidaknya untuk saat ini.

"Aku paham. Take your time."

Kata Jackson penuh empati dan rasa bersalah.

"hm. Tak usah mengkhawatirkanku. Aku pergi dulu."

Jinyoung tak betah lama-lama berhadapan dengan Jackson, ia takut jika pertahanannya runtuh. Ia benar-benar ingin semuanya berakhir dengan baik dan tanpa menimbulkan rasa bersalah di antara keduanya.

"Kuharap kau tidak benar-benar terluka, Jinyoung. Dan jika Jaebum menyakitimu, beritahu aku dan aku akan jadi orang pertama yang akan memukulinya sampai mati."

Jackson mengatakan itu saat Jinyoung berdiri dari posisi duduknya dan beranjak pergi. Sehingga mau tak mau Jinyoung harus menghentikan langkahnya untuk sekedar meyakinkan Jackson bahwa dia baik-baik saja.

"Kau tidak mempunyai kewajiban untuk itu, tapi akan kupertimbangkan."

Jinyoung berusaha tersenyum saat mengatakan itu.

Dan mau tak mau Jackson juga ikut tersenyum melihat senyum manis di wajah Jinyoung yang sudah menjadi mantan pacarnya sejak saat ini.

~RIDK~

Bandara Gimpo. Terminal kedatangan. Pukul 9 malam.

Jackson menunggu di depan terminal kedatangan untuk menjemput Mark yang pulang dari 'liburannya' di Hokkaido.

Dan dia sudah menyiapkan banner khusus untuk menyambut Mark.

Setelah beberapa saat, akhirnya Mark keluar dari pintu kedatangan dan hal itu membuat Jackson secara otomatis membentangkan banner yang sudah dipersiapkannya dari rumah.

Tapi Mark yang melihat Jackson beserta bannernya itu terus berjalan tanpa menghiraukan presensi Jackson.

Bukan apa-apa, Mark hanya merasa malu.

Bagaimana Mark tidak malu jika tulisan d banner itu berbunyi—

"Hi Mark, your first love is in here. Look at me! Just look at me!"

What the-

Mark benar-benar ingin mengubur dirinya dalam gundukan pasir pantai saat Jackson menghampirinya sambil terus mengangkat-angkat banner memalukan itu. Itu sungguh norak menurut Mark.

"Kenapa kau ada disini?"

Mark bertanya seperti itu dengan terus berjalan tanpa menatap wajah Jackson.

"Untuk menjemput cinta pertamaku."

Dan Jackson dengan senang hati menjawab pertanyaan Mark sambil terus berjalan mengikuti Mark.

"Aku tak suka naik motor."

Kata Mark malas.

"Hari ini aku membawa mobil Jaebum."

Jawab Jackson percaya diri.

"Aku tak suka dijemput olehmu."

Sekarang Mark berbicara dengan agak ketus.

"Mulai sekarang Jinyoung yang akan dijemput oleh Jaebum, jadi mau tak mau kau harus menerima tawaranku."

Jackson mulai sedikit memaksa Mark.

"Aku masih punya sopir, jadi terima kasih, tak usah repot-repot."

"Sopirmu sudah tua dan tak enak dipandang, kenapa kau betah sekali sih satu mobil dengannya?"

"ck. Kau ini."

Mark mencebik.

Dan Jackson tersenyum sambil mengedip-kedipkan matanya sekaligus kembali membentangkan banner noraknya itu.

"Aish. Kenapa itu tak kau buang saja, sih! Itu norak sekali dan memalukan."

Mark mengatakan itu dengan raut wajah dan nada sebal yang sangat kentara.

"Tapi tulisannya benar."

Dan Jackson berusaha membela diri.

"That 's. Really. Not. My. style."

Mark menegaskan setiap kata yang diucapkannya dan itu membuat Jackson frustasi.

"Aigoo.. Kemarin lusa Jaebum mengatakan bahwa makan ramyun bukanlah gayanya. Lalu sekarang kau mengatakan bahwa hal seperti ini bukanlah gayamu. Lalu seperti apa gaya kalian?! Aish yang benar saja! Kalian benar-benar membuatku frustasi!"

Jackson menjambak-jambak rambutnya dengan frustasi, dan mau tak mau Mark harus menahan tawanya.

Jackson dalam mode seperti itu benar-benar terlihat lucu dan menggemaskan.

~RIDK~

Malam ini Jaebum bertemu dengan Jinyoung di kafe Flight Log. Dia sengaja menunggu Jinyoung selesai tampil hanya untuk mengatakan sesuatu kepadanya.

"Jie.."

Jaebum menghampiri Jinyoung yang bersiap-siap untuk pulang.

"Ada apa, Hyung?"

Jaebum tersenyum. Dia senang bahwa Jinyoung benar-benar memanggilnya dengan panggilan Hyung. Berarti pendengarannya tak salah saat Jinyoung memanggilnya Hyung sewaktu Jinyoung menangis karena melihat Jackson dan Mark berciuman.

Jaebum teringat saat dia memutuskan untuk memberitahu Jinyoung tentang perasaan Jackson dan Mark yang sebenarnya, dan juga perasaannya. Dia benar-benar tak tahan melihat Jinyoung menangis seperti itu tanpa mengetahui cerita yang sebenarnya. Jaebum lelah saat Jinyoung terus-menerus menuduh bahwa Mark dan Jackson berselingkuh di belakang mereka. Maka Jaebum memutuskan memberitahu semuanya kepada Jinyoung, meski harus menceritakannya dengan sangat sabar karena Jinyoung terus menerus mengelak dan menolak penjelasannya.

"Hyung.. hei—"

Jinyoung menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Jaebum yang sedang melamun. Hingga akhirnya Jaebum kembali ke kesadarannya.

"Mark baru saja sampai di Seoul, Jie."

Kata Jaebum dengan sedikit nada ragu.

"Aku belum ingin menemui mereka."

Jawab Jinyoung –berusaha- acuh tak acuh.

"Aku tahu pasti sulit. Tapi kau harus selalu percaya bahwa aku akan ada untukmu. Aku akan melindungimu, lebih baik dari Jackson. Aku berjanji."

Jaebum mulai meyakinkan Jinyoung.

"Hyung, kau tak perlu-"

"Aku mencintaimu!"

"Hyung-"

"Aku sudah jatuh cinta kepadamu dan sekarang aku benar-benar mencintaimu!"

"Hyung aku-"

"Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Jadi tolong beri aku waktu, Jie."

"Aku-"

"Dan tolong jangan memintaku untuk menjauh darimu."

Sigh!

Jinyoung menarik napas kasar. Mengapa susah sekali memberitahukan bahwa dia akan memberi kesempatan pada Jaebum, sih?

"Aku akan melakukan apapun un-"

"Oke!"

Jaebum tersentak dan membulatkan kedua bola matanya. Tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. dan Jinyoung yang frustasi karena tak mendapat kesempatan untuk berbicara akhirnya hanya mengatakan satu kata itu. Sebenarnya sih dia mau mengatakan panjang lebar. Tapi mood-nya untuk bicara sudah hilang karena kecerewetan Jaebum.

Tunggu..

Sejak kapan Jaebum jadi cerewet dan tidak cool seperti itu?

Jinyoung tak mau ambil pusing. Sekarang dia hanya tersenyum geli melihat wajah Jaebum yang mengerjap lucu karena belum dapat mencerna satu kalimat simpel yang keluar dari mulutnya tadi.

Jaebum, sekarang kau juga terlihat bodoh.

~RIDK~

Di dalam mobil, Jackson dan Mark saling diam tanpa membuka percakapan.

Mereka masih merasa canggung satu sama lain.

Maka Jackson memilih untuk berkonsentrasi menyetir dan Mark sibuk mengecek ponselnya yang sudah di nonaktifkan selama dia berada di Hokkaido.

Tapi tak lama kemudian...

"Kau sedang melakukan apa, Mark?"

Jackson bertanya penasaran meskipun dengan nada yang santai dan tatapannya tetap lurus ke arah jalan.

"Mengecek ponselku, sudah lima hari aku mematikannya."

Jawab Mark santai sambil terus menerus menyentuh dan memindah navigasi layar ponselnya.

"Kenapa kau mematikan ponselmu selama itu?"

Tanya Jackson tetap santai namun ada nada penasaran di kalimat yang diucapkannya.

"Um.. aku hanya tak ingin liburanku terganggu."

Jawab Mark agak ragu.

"Selama Mark liburan sendiri, dia akan mematikan ponselnya, karena dia benar-benar menginginkan ketenangan dan tak ingin pikirannya bertambah kacau" –Jaebum-

Jackson tersenyum kecil mengingat kata-kata Jaebum mengenai Mark.

"Memangnya apa saja yang kau lakukan selama liburan, hm?"

"Aku berjalan-jalan dengan Jaebum ke berbagai tempat. Kami benar-benar menikmati liburan kami~."

Kali ini Mark berusaha menjawabnya dengan nada yang ceria.

"Saat Mark ingin memulihkan perasaannya, dia memilih berlibur ke tempat yang sepi, indah, dan hijau serta menginap di cottage. Lalu dia tak akan pergi kemanapun. Hanya berdiam diri di cottage sepanjang liburan. Atau sesekali dia akan berjalan berkeliling di sekitar cottage atau melakukan perawatan tubuh tradisional." –Jaebum-

Lagi-lagi Jackson tersenyum kecil.

"Apakah saat berlibur kemarin kau tak ingat sama sekali kepadaku, hm?"

"Ti-tidak."

Mark menjawab dengan sedikit gugup dan ada rona merah di wajahnya.

Tentu saja merona merah, karena saat mengatakan itu salah satu tangan Jackson memegang tangan Mark dan membawa tangan itu ke dadanya. Dan perilaku Jackson itu benar-benar membuat jantung Mark ingin meloncat saja.

"Mark, aku dan Jinyoung sudah berakhir."

Jackson berkata seperti sambil tangannya mengelus lembut tangan Mark yang ia tempelkan di dadanya.

"Itu bukan urusanku."

Kata Mark berusaha acuh. Dia menarik tangannya dari dada Jackson.

"Omo. anak nakal ini.. ini semua karena kau, Mark."

Kata Jackson solah-olah dia marah.

"Oh, jadi aku yang menyebabkan kalian putus? Baiklah, kuakui. Puas?"

Kata Mark angkuh. Dia tak terima jika dianggap sebagai perusak hubungan orang. Apalagi yang mengatakannya adalah pria yang disukainya. Itu sangat tidak benar, menurut Mark.

Jackson tiba-tiba menepikan mobil di pinggir jalan. Kemudian dia menatap Mark dalam.

"Bukan begitu, sayang. Aku masih mencintaimu. Dan kurasa aku tak bisa berhenti mencintaimu. Jadi tolong pertimbangkan aku."

Jackson mengatakan itu sambil memegang kedua tangan Mark.

"m-mwo?"

Mark mendadak menjadi blank.

"Jangan hanya sekedar menyukaiku atau jatuh cinta padaku, tapi cobalah untuk terus mencintaiku, hm?"

Jackson menatap Mark, sangat dalam.

"a-apa sih yang kau katakan?!"

Mark berusaha menghindari kontak mata mereka dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jackson.

Jackson melepaskan tangan Mark. Lalu memegang kedua pundak Mark.

"Sudah cukup kau bersenang-senang dengan Jaebum, mulai sekarang kau hanya boleh melihatku."

"kenapa kau percaya diri sekali sih?"

Mark masih berusaha untuk tidak luluh. Bagaimanapun dia ingin membuat ini tak mudah untuk Jackson.

"Karena aku mencintaimu."

Jackson berkata dengan sangat yakin.

"a-aish kau-"

Mark tak melanjutkan kalimatnya, karena dia menemukan keseriusan dan keyakinan di mata Jackson. Dan itu membuatnya terpaku menatap Jackson.

Lalu tanpa mereka sadari, wajah mereka berdua semakin mendekat satu sama lain. Bibir mereka menyatu. Mereka melakukan ciuman yang dalam dengan lembut dan penuh perasaan. Ciuman yang tanpa beban dan menandai bersatunya mereka sebagai pasangan.

Ternyata Mark tak bisa menyulitkan Jackson lebih lama lagi. Karena dia juga sangat menginginkan Jackson.

END


Akhir kata, terima kasih untuk yang udah review, fav, follow, and read.

Keep in touch!

Sincerely,

.

-Salvia Im-