CATCH ME. If You Wanna
Sherry Kim
Happy Reading...!
Dengan wajah bangga, petugas berseragam security itu membungkuk hormat kepada Mr. Jung junior. Putra dari penilik Mall dimana tempat ia bekerja.
Suatu kejutan yang menyenangkan bagi orang seperti dirinya bisa bertatap muka dan membantu pemimpin mereka yang terkenal yang biasanya hanya ia lihat di majalan atau televisi.
Yunho mengucapkan terima kasih dan memberi petugas itu tips karena menemukan barang berharaga yang sudah Jaejoong borong.
Kesalahan fatal!
Jaejoong mengomelinya tanpa henti lebih dari satu jam karena meninggalkan barang belanjaan pemuda itu entah dimana. Pemuda itu berhenti mengomel setelah petugas menemukan seluruh barang tanpa kurang satupun.
Tidak ada pilihan kecuali menyogok Jaejoong untuk memaafkan keteledoran -yang ia sendiri tidak sengaja- dengan makan malam di restoran dan memesan Es krim favorite pemuda manisnya itu.
Astaga. Ingatkan ia untuk tidak membuat masalah dengan pemuda itu, karena sungguh, telinga Yunho panas mendengar ceramah panjang dan suara melengking Jaejoong yang biasanya terdengar merdu itu.
Yunho menghela nafas memperhatikan pemuda yang tanpa sadar telah menguasai jiwa dan raganya itu meniknati makanan penutup mereka. Benar, Jaejoong sudah membuatnya gila dan Yunho tidak tahu bagaimana caranya menyatakan peradaanya kepada pemuda yang lebih muda dua belas tahun tarinya itu.
Astaga. Tidak heran Kelinci manisnya ini memanggilnya Ajushi.
Layaknya penggila Eskrim yang melewati batas, dengan gemas Jaejoong menyendokan Es krim rasa Vanilla sekuat tenaga -yang sesungguhnya di perlukan- dalam ukuran sesendok besar penuh untuk menyuapi dirinya sendiri.
Bibirnya komat kamit tidak jelas mengucapkan betapa ia menyukai Es krim vanilla dan juga rasa yang sungguh lembut melumer di lidahnya. Pemuda itu tersenyum lebar dan tak henti kembali menyuapinya lagi dan lagi. Ia telah lupa bahwa dirinya marah kepada Ajushi yang duduk di hadapanya karena menyeretnya pergi dari teman lama yang sudah hampir dua tahun tidak di jumpainya itu.
"Omo, omo rasanya enak sekali, berbeda dengan Es krim yang sering Nuna belikan untuk Jongie atau Es krim di kantin sekolah."
Yunho tersenyum senang karena dirinya mampu membuat pemuda yang di sukainya itu kembali tersenyum. "Tentu saja! Es krim disini kwalitas terbaik yang terkenal akan kelembutan Es krim mereka."
Kepala Jaejoong mengangguk anguk takjub. Meskipun ia tidak tahu menahu tentang Es krim dan cara mengolahnya sampai bisa se enak ini. Ia hanya tahu Es krim itu sangat memanjakan lidahnya.
Yang ada di benak pemuda itu saat ini ialah akan membuat sahabat baiknya cemburu karena tidak ikut menikmati Es krim ter enak di dunia. "Changmin pasti akan cemburu karena aku tidak mengajaknya kesini." Bibir plum mungil pemuda itu melengkung indah membayangkan sahabat baiknya itu marah marah besok ketika ia memberitahu tentang kejadian hari ini. "Dia pasti akan marah marah dan mengumpat tidak jelas karena melewatkan Es krim se enak ini. Omo omo... rasanya benar benar membuat Jongie melayang ke angkasa." ujar Jarjoong riang dan dramatis.
Seakan Jaejoong memiliki suatu magnet untuk menarik Yunho mendekat pria itu maju untuk membersihkan sisa Es krim di bibir Jaejoong. "Tunggu," Pekik Jaejoong. "akan sangat mubazhir kalau di sia siakan meskipun hanya sedikit." Lidah pemuda itu dengan cepat menjilat bibirnya sendiri. "Sudah bersih bukan? Tunggu... "
Musang Yunho memperhatikan pemuda yang ribut sendiri di seberang meja dengan mulut terbuka lebar. Jaejoong membuka tas untuk mengambil kaca dan dengan tingkah manis yang membuat Yunho gemas setengah mati, pemuda itu mebenarkan rambut berantakan serta mengamati wajahnya yang bernoda Es krim.
"Lagi lagi Hello kitty." Gumam Yunho. Melirik kaca bulan bergagang Jaejoong.
"Ajushi mengatakan sesuatu?"
"Kau sangat manis." jawab Yunho asal.
Bibir pemuda itu mencebil geram. "Jongie tampan! Tampan! Ingat itu!" ia memberenggut. Menghela nafas keras ia menambahkan. "Kenapa semua orang mengatakan Jongie manis. Jongie bukan gula gula dan kenapa Ajushi tertawa?"
Yunho berdeham untuk menghilangan tawanya sendiri. Begitu mudah Jaejoong membuat dirinya marah dan juga tertawa dengan tingkah konyol pemuda itu yang ia yakini tidak di sengaja. "Tidak!"
"Bagus. Karena jika Ajushi menertawakan Jongie, Jongie akan marah dan Nuna Nuna Jongie sangat takut kalau Jongie marah. Lalu mereka akan balas dendam untuk Jongie." Adunya.
Wajah Yunho kembali darat mendengar nama keluarga yang di sebut sebut Jaejoong. "Kau menyayangi mereka? Meskipun mereka bukan keluarga kandungmu?"
"Mereka... " Ia terdiam. Dengan sikap tenang yang sangat bertolak belakang dengan Jaejoong yang semenit lalu ribut tidak jelas di hadapannya. Jaejoong berkata. "mereka keluarga Jongie, atau itulah yang Jongie anggap dan mereka saudara Jongie karena kami tumbuh bersama sejak kecil."
"Aku mengerti." Akhirnya Yunho berkata. Ia tidak ingin membuat Jaejoong marah karena ia mengatakan sesuatu yang tidak bermaksud buruk.
Pemuda itu diam dan Yunho semakin sadar bahwa Jaejoong tidak ingin membahas atau melibatkan keluarga angkatnya dalam percakapan mereka. Ia memahami jika Jaejoong tidak menyukai seseorang membicarakan sesuatu yang buruk tentang keluarga angkatnya juga
"Kau mau lagi?"
Jemari lentik itu bermain dengan sendok sebelum menjawab dengan nada lirih. "Tidak."
"Aku minta maaf jika salah berkata. Aku tidak berniat..."
"Tidak apa apa, Jongie hanya merasa sudah cukup kenyang." Melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan, Jaejoong menatap Yunho dengan sorot mata yang membuat pria itu merasa melakukan kesalahan yang fatal. "Sudah malam, Jongie sudah harus pulang sebelum jam tujuh untuk memberi makan Anak anak Jongie."
"Anak anak?"
Menghela nafas, Jaejoong selalu melupakan panggilan manis untuk hewan piaraan mereka. "Anjing dan kucing kami. Dan Jongie akan membayar makan malam ini."
"Tidak perlu."
"Jongie sudah merepotkan Ajushi dengan semua ini." Astaga Jaejoong baru sadar bahwa dirinya telah membeli terlalu banyak barang. Atau tepatnya Yunho lah yang membelikan semua barang ini. "Terima kasih untuk semuanya, Jongie sangat senang tapi bolehkan Jongie membayar makan malam kita?"
Sorot mata lembut itu memaksa Yunho untuk menelan apapun yang akan ia ucapkan. Apa yang sudah ia perbuat sampai Jaejoong tiba tiba menghindar darinya. "Baiklah." ia tidak akan membantah jika itu membuat suasana pemuda yang ia kagumi itu semakin buruk dan memasang wajah muram. "Aku benar benar minta maaf."
Melambaikan kedua tangan Jaejoong tersenyum. "Maukah Ajushi membawakan barang barang Jongie sampai Jongie menemukan taxi? Jongie yang manis ini akan jadi sasaran paman paman jahat atau tante tante genit yang gemas dengan Jongie yang tampan ini." Sepertinya suasana hati pemuda itu kembali.
Yunho tersenyum. "Kau akan ikut dengan mobilku," melihat mulut mungil pemuda itu akan berkata, Yunho menambahkan. "aku tidak ingin di bantah!"
Keseriusan dalam wajah Yunho dapat Jaejoong lihat dan ia memang tidak ingin berdebat lebih lama. Meraih tas punggung miliknya ia menuju kasir untuk membayar makan malam mereka. Yunho mengikuti mereka dengan barang bawaan yang memenuhi kedua tangan.
Seulas senyum berpatri di bibir hatinya yang indah kala ia melihat punggung Jaejoong berubah tegak. Pemuda manis itu berputar kearahnya untuk melayangkan tatapan ngeri. Sepertinya ia tahu apa yang membuat Jaejoong horor.
"Ya Tuhan, ini namanya perampokan. Bagaimana mungkin makan malam yang tidak seberapa dengan Eskrim semangkuk... emm sedikit lebih besar memang... bisa semahal itu." pekiknya "Ya Tuhan, itu akan menghabiskan uang jajan Jongie selama berbulan bulan."
Sungguh. Wajah ngeri Jaejoong membuatnya gemas untuk mencubit pipi tembam dan bibir yang sibuk mengumpat itu. "Biarkan aku yang membayarnya kalau begitu." Jaejoong masih terlihat ragu sampai Yunho menambahkan. "Lain kali kau yang bayar. Kau melupakan janji makan malam yang sudah beberapa hari lalu kau janjikan."
Lain kali! Kata itu bagaikan irama indah untuk Jaejoong dengar. Itu petanda bahwa ia akan kembali menikmati Es krim terenak di seluruh dunia ini lagi. "Tapi lain kali itu hanya Eskrim bukan?" ia harus memastikan atau kantongnya akan kembang kempis hanya untuk membayar Es krim yang entah kenapa sisa Es krim dalam mulutnya terasa pahit sekarang.
"Deal."
"Dasar Ajushi perhitungan." gerutu Jaejoong. Tanpa menunggu Yunho ia berjalan kekuar dari restoran Mall yang super duper mahal untuk kantong seorang pelajar seperti dirinya.
.
.
.
*
Choi Ahra melambai kearah kedua sahabat mereka yang sudah masuk kedalam mobil masing masing. Senyum pada bibirnya tiba tiba lenyap ketika mobil terakhir menghilang dari pandangan.
Kedua sahabatnya benar benar menyebalkan. Mereka tidak mempercayai ia akan bertunangan dengan Jung Yunho saat memberitahukan berita bahagia itu. Bahkan mereka mengatakan dirinya bermimpi, sama seperti para wanita yang pernah dekat dengan wakil Direktur Jung Emperor yang sebelumnya pernah mengatakan hal yang sama di beberapa majalah dan tidak ada satupun dari ucapan mereka yang terbukti nyata.
Siapa yang tidak menginginkan pria tampan seperti Jung Yunho, calon CEO Jung Emperor yang menakjubkan itu.
Sialnya, Yunho tidak mengangkat telefon serta membalas pesan yang ia kirim dan itu menambah kadar kebodohanya di mata kedua sahabatnya itu.
Sial. Apakah pria itu sesibuk itu sampai mengabaikan dirinya yang akan menjadi istrinya beberapa bulan kedepan.
Dengan langkah menghentak kesal ia berjalan menuju mobil hitam miliknya. Langkahnya terhenti saat pandanganya melihat pria yang baru beberapa detik lalu ia pikirkan berjalan di hadapanya menuju mobil pria itu yang terparkir tidak jauh.
Senyum Ahra segera terbit laksana mentari pada musim dingin. Begitu hangat dan di nanti para pria yang menginginkan gadis itu. "Yunho." Ia memanggil. Kali ini ia tidak akan melepaskan kesempatan untuk masuk kedalam mobil pria itu.
Langkahnya terasa ringan seakan terbang melintasi dua baris parkiran mobil menuju ketempat pria yang sedang berpicara dengan seorang pemuda. "Yunho." Kedua laki laki itu menatap kearah Ahra dengan pandangan yang berbeda.
Gadis itu mencoba mengabaikan pandangan dingin Yunho untuk menyapa Kim Jaejoong. Sahabat dari adiknya.
"Hai Jaejoong, apa yang kau lakukan disini?" Dengan sikap percaya diri tinggi ia meraih lengan Yunho untuk bergelayut manja di antara kantong kantong belanja yang ia tidak tahu milik siapa. "Aku tidak menyangka akam melihatmu disini. Kau tidak mengangkat telefonku dan tidak membalas pesanku." ujarnya pada Yunho.
Keceriaan dalam suara Ahra lenyap ketika mendapatkan penolakan dari lengan Yunho untuk menangkis dirinya. Pria itu dengan sangat kentara mundur menghindar dan kembali kepada Jaejoong. "Kau akan ikut denganku Jongie." Bahkan Yunho membuka pintu mobil untuk Jaejoong setelah memasukan barang barang pemuda itu kedalam bagasi.
Yunho mendorong pemuda itu masuk di kursi depan, mengabaikan Ahra yang memperhatikan mereka dengan mata menyipit. "Pakai sabuk pengamanmu." Pintu di tutup.
Ahra mengerjap kaget saat Yunho berjalan mengitari mobil tanpa mengindahkan dirinya. Sebelum pria itu masuk, buru buru Ahra masuk untuk duduk di kursi belakang. "Aku akan ikut, kau berhutang penjelasan padaku."
"Aku tidak berhutang apapun padamu."
"Ya. Kita akan bertunangan kurang dari dua bulan lagi Yunho." Pri itu mengumpat kasar sebelum melajukan mobil tanpa memperotes.
Dalam diam Yunho melirik Jaejoong yang duduk dan sibuk dengan ponsel di tangan. Sepertinya pemuda itu tidak mendengar apa yang baru saja di katakan Ahra. Syukurlah.
"Kapan Nuna kembali ke Korea?" Mata Doe Jaejoong masih fokus pada benda layar datar di tangan saat bertanya.
"Beberapa bulan lalu, aku jarang melihatmu bersama Seunghyun akhir akhir ini."
"Jongie sibuk."
"Kalian bertengkar."
"Tidak!"
Ahra tertawa. Sebenarnya ia menyukai Jaejoong, pemuda itu manis dan sangat mudah untuk di sukai oleh siapapun. Hanya saja ia tidak menyukai cara Yunho memperlakukan dan menatap Jaejoong dengan sorot mata berbeda ketika pria itu menatapnya.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Ahra bertanya.
Yunho masih betah membisu. Cengkraman pada kemudi mengerat namun ia tidak berniat untuk menjawab. Dan Jaejoonglah yang menjawab. "Kami bertemu di Moldir."
"Ah, kerja sama Produk baru itu."
"Jongie tidak tahu."
"Dan kenapa kalian bisa bersama hari ini?" Ahra bertanya kepada Yunho. Tetapi pria itu masih mengabaikan pertanyaan itu, bahkan Yunho tidak meliriknya sama sekali.
Marah, tentu saja. Ahra lah yang akan menjadi istri Yunho dan pria itu mengabaikan dirinya seperti suatu benda yang kasat mata.
Mobil berhenti di depan Mansion Song tanpa metrka sadari dalam keheningan masing masing. "Sudah sampai Jongie." Keluar dari mobil, Yunho membuka pintu untuk Jaejoong dan mengeluarkan barang barang Jaejoong. "Perlukah aku masuk untuk menyapa Direktur Song."
"Tidak! Aku rada Paman sudah pergi ke Jepang bersama yang lain." Ia berkata.
Sepertinya Jaejoong masih marah atau entahlah. Mungkinkan pemuda itu tidak menyukai dirinya. Jika benar Yunho akan kesulitan untuk mendapatkan hati Jaejoong. "Jongie akan masuk sendiri dan terima kasih untuk semuanya."
Cahaya lampu mobil dari belakang menyirami tubuh mereka yang berdiri di belakang mobil Yunho..
Salah satu putri Mr. Song menghentikan mobil tepat di sebelah mobil Yunho. "Selamat malam Mr. Jung." Gadis itu membuka kaca mobil. "Bagaimana kau bisa mengantar Jaejoong kami?"
Jaejoong kami.
Kata itu terasa aneh untuk Yunho dengar dan ia tidak menyukai kata kepemilikan gadis itu untuk Jaejoong.
"Aku akan ikut mobil Nuna."
Tanpa menghiraukan sapaan 'selamat malam' yang di ucapkan Yunho, Jaejoong segera masuk kedalam mobil Yuri.
"Selamat malam Mr. Jung." Kata itu pengusiran halus yang di ucapkan.
Yunho tidak bodoh untuk tetap berdiri disana dan menunggu untuk entah apa itu. Ia masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil dengan sedikit marah.
Jaejoong tidak seharusnya mengabaikan dirinya. Sialan Ahra dan sialan siapapun putri Il Gook yang telah mengganggu waktu pribadi mereka.
Menyandarkan diri pada kursi, Yunho menghela nafas. Tidak masuk akal. Tidak seharusnya ia marah tanpa alasan kepada Ahra ataupun kakak angkat Jaejoong. Ia marah kepada Jaejoong yang tidak menyadari ketertarikanya atas pemuda itu. Ia marah pada diri sendiri karena dengan bodohnya tidak mengatakan ia menyukai pemuda itu.
Tidak.
Terlalu buru buru hanya akan membuat kucing nakal itu menjauh darinya. Ia harus menyusun rencana baru agar bisa sesering mungkin bertemu dengan Jaejoong. Dengan begitu pemuda itu bisa menyadari perasaanya.
Terlalu larut dalam pikiranya sendiri Yunho tidak menyadari Ahra duduk di depan sampai gadis itu berkata. "Dompet Jaejoong tertinggal."
Tentu Yunho terkejut. Sialan! Ia melupakan akan keberadaan gadis itu di dalam mobilnya. "Dompet?" Mungkin Jaejoong menjatuhkan benda itu barusan.
Menunjuk dompet hitam Jaejoong Ahra membalikan donpet itu dan membukanya. "Aku selalu penasaran apakah Jaejoong memiliki kekasih. Karena sungguh Jaejoong super duper manja sampai membuat Seunghyun gemas karena ulahnya." Wanita itu memerika dompet itu seperti dompet itu adalah miliknya.
"Berikan padaku." Jika saja tidak ada tikungan di depan, Yunho sudah menyambar dompet Jaejoong.
Musang Yunho melirik Ahra yang mengeluarkan selembar foto kecil dari salah satu bagian dompet. "Gadis yang manis."
Mobil berhenti mendadak. Jika saja Ahra tidak memasang sabuk pengaman, dapat di pastikan ia akan mencium dasbor mobil.
"Berikan padaku." Merebut dompet Jaejoong dari tangan Ahra, Yunho menyambar foto itu dengan lebih kasar sampai gadis itu mendelik horor. "Keluar!"
"Yunho... apa..."
"Aku bilang keluar Ahra, atau aku akan menyeretmu keluar dari mobil sekarang juga."
Jika tatapan Yunho adalah pedang, mata itu dapat di pastikan dapat membunuh Ahra saat ini juga. "Kau keterlaluan." Wanita muda itu keluar. Dirinya marah, tentu saja!
Bagaimana bisa Yunho memperlakukan dirinya dengan sangat hina seperti ini. "Aku akan membalas ini Yunho." Pintu tertutup. Mobil benar benar melaju detik berikutnya meninggalkan Ahra di sisi jalan raya yang ramai oleh pejalan kaki di sisi jalan.
.
.
.
*
"Apa itu?"
Merangkak di atas karpet Jaejoong mendekati Jessica dan ketiga kakaknya yang lain. Mereka berkumpul di sana seperti kebiasaan mereka setiap malamnya.
Jessica, Taeyeon dan Tiffany sibuk dengan Tablet dan Lapy mereka. Ketiga kakaknya itu berebahan santai di kamar kakak kedua Jaejoong yang memang lebih lebar dari yang lain mengingat sering kali Jessica membawa pekerjaanya kantornya sebagai disainer Moldir untuk di kerjakan di rumah.
"Kami sedang memilih foto fotomu Jongie. Nickhun telah memilih dan kami masih harus mengecek foto mana yang akan kami gunakan."
"Bukankah itu harus mendapat persetujuan dari yang lain?" Merebahkan diri tengkurap di sisi Jessica Jaejoong menatap layar komputer kakaknya yang memperlihatkan foto Jaejoong sendiri.
"Oh, tampanya diriku," Ia memuji dirinya sendiri dengan begitu percaya diri. "Bukan begitu Nuna?"
"Ya. Kau tampan." Taeyeon menjawab. Tidak ingin berdebat dengan adik mereka yang satu ini, "Kami harus memilih dan memperlihatkan foto mana yang akan kami tunjukan kepada yang lain pada rapat besok."
Jaejoong mengangguk. Setiap hari berkumpul dan mendiskusikan tentang cara kerja perusahaan membuatnya banyak tahu tentang perusahaan tanpa harus belajar secara khusus. Bahkan Jaejoong ikut andil dalam disain kaos Moldir tahun lalu.
"Aku butuh bantuan." Kakak keenam Jaejoong, Song Yoona masuk kedalam kamar dengan lapy dan buku di tangan. Lengkap sudah tujuh saudara Song di kamar sana.
"Kalian harus membantuku untuk merancang apa saja yang di butuhkan dalam upacara pernikahan dan pesta setelahnya," Yoona bergabung dengan yang lain di atas karpet yang terbentang lebar di tengah kamar. "ini tugas pertamaku tahun ini dan aku harus mendapat nilai bagus."
Sunny duduk di meja kerja Jessica fi sebelah lain ranjang memutar kursi untuk melihat saudaranya yang lain. Yuri berebahan malas di atas ranjang dengan boneka beruang putih dalam pelukan gadis itu. "Sepertinya harus ada yang mengambil jurusan lain tentang pekerjaan keluarga Song." gerutu Yuri.
Yang lain menatap gadis itu mengeryit. "Kenapa? Ada yang salah dengan pekerjaan sebagai disainer?"
"Tidak! Tentu saja tidak." Gadis itu duduk di atas ranjang. "Hanya saja empat putri Papa sebagai disainer. Hanya aku yang lebih memilih mendirikan cafe untuk aku kelola sendiri di tambah Yoona yang juga sepertinya lebih menyukai menjadi disainer."
"Aku ingin mendirikan butikku sendiri tanpa bantuan Papa, dan akan banyak gaun pengantin di dalamnya. Bukan Tas dan Sepatu atau apapun yang di ciptakan Moldir."
"Sama saja."
"Jongie ingin mendirikan kebun binatang." sahut Jaejoong.
Keenam kakak Jaejoong menatap si kecil Jaejoong. Meskipun Jaejoong sudah hampir delapan belas tahun, bagi mereka Jaejoong masihlah tetap adik kecil mereka.
"Akan sangat sibuk untuk jadi pawah gajah." Taeyeon menyahut asal. Hewan yang sangat di sukai adik kecilnya itu.
Wajah berbinar Jaejoong membuat mereka memutar bola mata jengah. Mereka semua tahu Taeyeon hanya bercanda namun tidak untuk Jaejoong. "Jongie akan jadi pawang yang baik." Imbuhnya antusias, mengubah posisinya menjadi duduk di atas karpet.
Yoona mengabaikan keinginan aneh adiknya dan membuka lapy miliknya untuk menunjukan jepada Jessica. "Aku butuh banyak masukan tentang persiapan persiapan menjelang pernikahan dan lainya."
"Itu sangat mudah." Jaejoong menyahut dengan kecepatan dan kepercayaan diri setebal tembok china.
"Apa saja kalau begitu Jongie?" Tiffany menyahut tanpa menatap adiknya. Ia sibuk memeriksa pekerjaannya sendiri sambil memilah foto mana yang akan ia ambil. Tapi pernyataan adiknya itu membuatnya sedikit penasaran.
"Pertama mempelai laki laki, kedua mempelai perembuan ketiga saksi dan jangan lupakan pendeta, atau pastor karena pernikahan tidak akan terjadi tanpa itu."
Kamar di salah satu mansion song yang luas itu tiba tiba berubah hening. Keenam mata gadis Song mengerjap ngerjap menatap Jaejoong dalam keheningan sebelum tawa Sunny menggema untuk pertama kali di susul tawa Yuri yang terjatuh kebelakang karena tawa kerasnya sebelum berguling guling kesana kemari di atas ranjang.
Taeyaon, Jessica Tiffany dan Yoona ikut tertawa setelahnya meninggalkan Jaejoong yang kembali tiduran tengkurap di atas karpet dengan menompa kepalanya dengan kedua tangan. "Ada yang salah?" alis Jaejoong menggeryit aneh.
Apakah keenam kakaknya itu kesurupan hantu mansion secara masal?
Jaejoong ngeri membayangkan. Ia duduk tegak dan menatap kakaknya yang masih tertawa.
"Tidak hanya itu Jongie." Akhirnya setelah beberapa saat tertawa Yoona menjawab. Gadis itu mengusap air mata dari ujung matanya sendiri. "Ya Tuhan, kau sangat cerdas." Kakaknya itu kembali tertawa keras.
"Lalu kenapa kalian tertawa jika jawaban Jongie benar?" bibir Jaejoong mencebil marah.
Setelah berhasil mengendalikan diri meskipun susah, Taeyeon kakak pertama Jaejoong menjelaskan dengan bijaksana. "Itu bagian utamanya, Jaejoong sayang. Masih ada banyak lagi yang harus di siapkan seperti gaun, katering, bunga, tempat pesta dan lain lain."
Jaejoong mengangguk angguk memahani. "Sepertinya Jongie kita memang lebih cocok mendirikan kebun binatang." tambah Taeyeon.
"Karena Jongie tidak akan sakit kepala ketika membuat gaun atau menyiapkan pesta pernikahan untuk hewan hewan Jongie saat mereka menikah." imbuh Jaejoong yang kembali membuat kamar itu dipenuhi tawa seluruh saudaranya yang lain.
Dari tempat Song Ji Hyo berdiri di balik pintu kamar Jessica, wanita itu menahan tawanya sekuat tenaga dengan kedua tanganya. Ia hanya ingin melihat pekerjaan mereka hari ini dan melihat foto Jaejoong. Karena suaminya mengatakan mereka menggunakan Jaejoong sebagai model tas Moldir.
Ia berhenti saat melihat Jaejoong juga disana. Ia tidak akan menghancurkan acara diskusi anak anaknya dengan kedatanganya yang hanya akan membuat Jaejoong pergi dari ruangan yang sama dimanapun ia berada.
Miris bukan? Apakah kesalahanya karena mengungkapkan fakta tentang Jaejoong masih tak termaafkan sampai putra yang ia besarkan itu masih betah mendiamkanya.
Ji Hyo menyayangi Jaejoong seperti anak kandungnya sendiri, dan ia sudah berjanji kepada Kim Ji Young untuk menjaga Jaejoong layaknya putranya sebelum wanita itu meninggal.
~TBC~
