Bales review dulu:
Chapter 5:
viiaRyeosom: heheheh, gomawo sarannya. Mian ya, yewook momentnya ga ada, tapi nanti pasti ada kok, dijamin #plak -,-
EternalClouds2421: wuah, iya nih Han gege ngajak berantem (?) #author dirajam Han gege -,-
: jangan sedih ya, tenang aja, author ga akan segitu teganya ma yewook couple. Mungkin sedikit membuat mereka menderita, hehehehe #evilaugh
KiKyuWook: pertanyaanmu dah kejawab ya di chap 6 =)
Yuzuki Chaeri: iya nih, gmana sih author (?) #bantai author rame2.
Annathan Kim: yewook momentnya...belum saatnya #plak =)
PhanieChoi: ok ^^v
Chapter 6:
Andhisa Joyers: geregetan jadinya geregetan (nyanyi bareng sherina) #plak
Yg pengen ditemui Yesung oppa kok ^^v
Junee Ryeosomnia: hehehehe, Wookie pasti bahagia kok, ayo doa bersama ^^v
: jiah, jangan nangis donk...author kan juga ikut sedih =(
Author hobinya emang nyiksa orang, jadi jangan ditiru ya ^^v
viiaRyeosom: wkwkwkwkw, author ketawa guling2 baca koment-mu. Tapi takut juga mau digethok, kabur...
sabar ya, semua pasti indah pada waktunya #apadehauthorini?
EternalClouds2421: author juga bingung kenapa makin pendek ya #hajar author
KiKyuWook: wuah, semua pertanyaanmu belum bisa kejawab, tunggu lanjutannya, ok?
Kim Sooyeon: mian ya, belum ada yewook moment. Nanti pasti ada kok #plak
Khusus buat kamu ntar author bikinan yewook full NC satu chap #hagagagaga
Guest: ada ga ya? Author ga janji deh #plak ^^v
Desty love dimple man: wuah...udah bisa ya akhirnya. Makasih banget nih dibantuin promosi ^^v #hug Desty
All: gomawo udah review ^^v
Seperti biasa balesan reviewnya ga jelas, coz authornya juga ga jelas =p
Buat chap ini masih pendek juga kaya biasa, author ga bisa panjang2 (?)
Happy reading ^^v
(PART 7)
Author: Hwang Min Gi
Bayangan itu tak berhenti menggangguku
Mengusik di tiap malamku
Bahkan mentari tak dibiarkannya bersinar di mataku
Tak bisakah kau mengampuniku (aku tak sedang bertanya)
-Yesung POV-
Apa yang harus aku lakukan? Aku benci diriku yang seperti ini. Pengecut!Ryeowook masih terisak di hadapku. Anehnya, setiap butir air matanya menjadi jarum yang kini menusuk-nusuk jantungku yang pernah berhenti beberapa saat setiap melihat senyumnya.
Apa saat ini kalian sedang memakiku yang bodoh ini? Tak perlu, karna aku sendiri telah mengutuki diriku yang hanya bisa diam melihatnya terluka. Aku selalu membanggakan cinta 12 tahunku pada kalian, tapi yang kulakukan saat ini mungkin membuat kalian ragu dengan semua ucapanku. Kumohon jangan ragukan cinta ini. Aku tak pernah bohong tentang perasaanku padanya. Saat ini aku hanya tidak tau, bukan...maksudku aku terlalu tau apa yang harusnya aku lakukan, tapi...aku tak bisa melakukannya.
Aku ingin menjadi seperti pria lain yang dengan gentle meminjamkan bahunya untuk sang terkasih bersandar ketika rapuh, mengulurkan tangannya ketika sang terkasih kehilangan arah, mengucapkan kata-kata menenangkan yang mampu menghentikan tangis sang terkasih, dan membuka tangan lebar-lebar agar sang terkasih dapat menjatuhkan diri di dalam pelukannya sambil melampiaskan segala kegundahan. Namun tubuhku hanya membatu, otakku membeku, tak mampu melakukan satu pun dari semua itu.
Menyakitkan. Aku bisa pastikan rasa sakit yang kurasa berlipat-lipat dari apa yang tengah Ryeowook derita. Bagaimana tidak, aku harus melihat seseorang yang kunanti senyumnya di setiap hariku, menjadi tak mampu lagi menyimpulkan bibirnya. Terlalu berat baginya, terlalu sakit bagiku. Aku tau apa yang bisa membuatnya untuk kembali lagi menemukan bahagia, namun tak bisa melakukannya karna sepotong janji pada seorang sahabat. Aku ingin mengatakan padanya, "Sandarkan kepalamu di dadaku, curahkan semua pedihmu, lampiaskan amarahmu, lakukan apa yang bisa menenangkanmu". Namun, lagi-lagi rangkaian kata itu menjadi tak berarti tatkala bibirku terbungkam dan rangkaian kata itu hanya terhenti di ujung lidahku. Sepertinya aku mulai menikmati setiap rasa sakit yang menjalar dalam nadiku. Membiarkannya hingga batas akhir kesabaranku.
###
-Author POV-
Langit mulai gelap karna mendung. Ryeowook dan Yesung berjalan beriringan menuju tempat parkir. Masih dalam diam. Sesaat kemudian Yesung merasakan bahwa tangan Ryeowook yang memang tak pernah bisa diam ketika berjalan, menyenggol tangannya. Tiba-tiba darahnya berdesir seketika itu juga. Dia tak bisa mengerti dengan dirinya sendiri. Sudah belasan tahun lamanya, namun dia tetap saja merasakan gugup di samping Ryeowook.
Diambilnya motor matic yang kini tengah sendirian di pojok tempat parkir karna motor lain sudah membawa pemiliknya pulang ke rumahnya masing-masing sejak beberapa jam yang lalu. Ryeowook naik di belakangnya tanpa diminta. Seperti biasa tangan Ryeowook mencengkeram tas ransel milik Yesung. Sejak dulu Yesung memang tak mengijinkannya untuk berpegangan pada pinggangnya dengan alasan akan mengganggu konsentrasinya dalam mengendarai motor. Tentu saja seperti itu. Jangankan memegang pinggangnya, tak sengaja bersentuhan saja, Yesung kalang kabut dengan debaran jantungnya. Bukankan sangat berbahaya mengendarai motor dengan keadaan seperti itu. Ryeowook yang tak mengerti, akhirnya hanya bisa menurut saja.
Selama perjalanan pun mereka masih saling diam. Yesung terus berpikir keras untuk bisa menemukan kata-kata yang tepat agar bisa dia katakan pada Ryeowook saat ini. Namun otaknya mampat. Akhirnya dia menyerah untuk yang kesekian kalinya.
Jalanan tak terlalu padat. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah Ryeowook. Ryeowook turun dari motor dan menatap Yesung yang sedang sibuk mematikan mesin motornya. Yesung sempat terkejut mendapati Ryeowook sedang memandanginya.
"Gomawo", ucap Ryeowook dengan lembut hingga Yesung hampir saja tak mendengarnya. Yesung sempat bingung, memang apa yang telah dia lakukan sehingga dia pantas untuk mendapatkan rasa terimakasih itu? Yesung hanya menunduk malu karna tau bahwa dia tak berbuat apa pun untuk Ryeowook.
Lalu Ryeowook meraih tangan kiri Yesung yang mungil, menggenggamnya dengan kedua tangannya. Yesung terbelalak tak percaya. Sebenarnya Yesung ingin menampar pipinya untuk mengetahui apakah ini nyata ataukah dia sedang bermimpi. Namun, hal itu hanya akan membuatnya terlihat lebih bodoh dari biasanya.
"Lain kali aku boleh kan memintamu untuk menggenggam tanganku ketika aku menangis? Itu akan membuatku tenang. Eomma selalu melakukan itu ketika mendapatiku sedang menangis. Teukkie, Minnie, dan tentunya Chullie, juga melakukan hal yang sama. Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan eomma, karna aku tak ingin membuatnya khawatir. Aku juga tak lagi punya banyak waktu dengan Teukkie dan Minnie. Dan Chullie, kau tau itu tak mungkin lagi. Jadi, boleh kan jika aku memintamu?" jelas Ryeowook panjang lebar.
Yesung tak bergeming. Dia masih betah dengan aksi diamnya. Sebenarnya dia takut dengan waktu saat ini. Dia berharap detik akan berhenti berdetak hingga dia tetap bisa merasakan tangan Ryeowook yang hangat. Dia tak lagi peduli dengan sesuatu yang berkecamuk di dadanya. Dia hanya tetap ingin seperti ini, seperti saat ini.
Ryeowook sadar ini sia-sia. "Gomawo. Diammu kuanggap sebagai tanda setuju", ucapnya sambil tersenyum sekilas. Yesung sedikit merasa lega saat tau senyum itu masih ada. Meski tak seperti biasanya, namun Yesung merasa itu menenangkan. Dia yakin suatu hari senyum indah Ryeowook akan kembali lagi, dan saat itu tiba dia akan melakukan apa pun agar tak seorang pun berani merampasnya lagi.
###
-Kyuhyun POV-
Aku duduk di ruang TV menunggu Yesung kembali dari sekolah. Sejak Yesung berangkat sekolah, aku merasakan kebosanan akut. Bibi sejak tadi sibuk membereskan rumah dan memasak. Sesekali bibi menemaniku mengobrol, namun tak lama karna setelah itu bibi kembali pada keasyikannya dalam menata rumah yang sebenarnya sudah tertata. Tadinya aku berniat ikut Yesung saja ke sekolah, namun apa yang bisa aku lakukan di sana. Tak satu pun kukenal selain Yesung, lagi pula apa boleh aku masuk sedang aku bukanlah murid di sekolah itu.
Selama sebulan, aku akan tinggal di Korea. Aku memang sedang menghabiskan masa libur sekolahku yang ternyata berbeda dengan hari libur di Korea. Eomma dan appa sudah menyewa sebuah apartemen untuk kami tinggali selama di Korea. Mulai sore ini kami akan memindahkan barang-barang dari hotel ke apartemen. Sebenarnya aku lebih suka tinggal di sini, bersama Yesung. Namun, eomma dan appa melarangku, karna khawatir jika sewaktu-waktu sakitku kambuh. Aku merasa mereka berlebihan, sebenarnya aku tak sakit, hanya saja aku memang bermasalah dengan tidur. Aku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak tanpa obat. Aku selalu mimpi buruk. Mimpi yang selama 2 tahun ini menghantuiku. Namun di sini, di dekat Yesung aku merasa nyaman. Buktinya semalam aku tidur tanpa obat dan tanpa mimpi buruk. Kurasa Yesunglah obatku, bukan pil-pil besar yang menyebalkan itu.
Kulihat di bawah meja ada sebuah album foto. Aku mengambilnya dan membalik-balik halamannya yang berdebu. Sepertinya Yesung dan bibi sudah lama tak membukanya. Di halaman awal terpampang foto Yesung kecil dan paman, kemudian di bawahnya ada foto bibi dan noona-nya Yesung yang juga masih kecil. Begitu imut. Tanpa sadar bibirku mengulas sebuah senyum simpul melihat gambar indah itu. Di halaman selanjutnya mereka berempat berfoto bersama. Kemudian aku membuka lembar berikutnya. Di sana terdapat foto Yesung ketika SMP yang dipeluk dari belakang oleh noona-nya. Ah...mereka membuatku iri. Aku tak punya kakak perempuan. Semua saudaraku laki-laki. Kedua kakakku Kangin dan Kibum, semuanya laki-laki. Kami memang akrab, namun tetap tak bisa seperti Yesung dan noona-nya. Itulah sebabnya, aku juga menganggap noona-nya Yesung sebagai noona-ku sendiri. Dia adalah noona yang ramah, baik hati, dan bersahabat. Aku sangat merindukannya, sayangnya saat ini dia sedang kuliah di luar kota.
Aku membalik halaman selanjutnya, dan kudapati foto seorang anak laki-laki. Dia begitu mirip dengan Yesung, namun badannya lebih kecil dan rambutnya sedikit lebih pendek. Senyumnya manis seperti senyum milik Yesung. Matanya indah tak berbeda dari mata milik Yesung. Hampir semua yang ada padanya mirip dengan Yesung.
Tiba-tiba tanganku bergetar hebat. Jantungku berdegup tak karuan. Keringat dingin mengucur di keningku. Mataku perih, dadaku sesak. Aku merasa sulit bernafas saat ini. Tubuhku terasa lemas. Album foto yang kupegang pun terjatuh di lantai. Aku mencengkeram dadaku yang kini sesak. Kepalaku pening dan berat. Tiba-tiba mataku berkunang-kunang, makin lama sekitarku terlihat semakin samar dan akhirnya...
Gelap!
###
-Author POV-
Yesung duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandang Kyuhyun yang masih tak sadarkan diri dengan cemas. Diambilnya kain kompres yang mulai mengering di dahi Kyu dan membasahinya lagi dengan air es. Kemudian terdengar suara pintu kamar Yesung dibuka secara kasar membuat Yesung terlonjat dari duduknya. Kemudian dilihatnya Eomma dan appa Kyu masuk dengan panik dan langsung menuju ke tempat Kyu. Disusul kemudian Kangin dan Kibum yang tak kalah panik. Eomma Kyu langsung saja menangis melihat keadaan anak bungsunya tersebut. Suaminya berdiri di sampingnya berusaha menenangkan meski dia tau itu sia-sia karna nyatanya dia sendiri tak mampu menutupi rasa khawatirnya.
Yesung menuju luar kamar disusul oleh Kangin. Mereka menuju balkon. Di sana Kangin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Molla. Aku juga terkejut ketika mendapati dia terbaring di lantai. Saat itu aku baru saja pulang sekolah dan eomma ada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Tapi, di sampingnya kutemukan album foto keluargaku. Kurasa dia melihatnya sebelum tak sadarkan diri.
"Album foto keluargamu?" tanya Kangin dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi pucat.
"Ne~ Wae gurae?" tanya Yesung heran. Apa yang salah dengan album foto keluarganya.
"Ehm...siapa saja yang ada di album foto itu?" tanya Kangin hati-hati.
"Ha? Ehm...tentu saja seluruh anggota keluargaku. Eomma, appa, noona, aku, dan..." tiba-tiba Yesung tak sanggup meneruskan kata-katanya. Matanya merah dan bibirnya bergetar. Bayangan masa lalu yang menyakitkan kembali mencekiknya. Tangannya menggenggam pagar besi pembatas balkonnya. Giginya bergemeletukan tanda dia merasa gelisah. Kangin yang melihat gelagat Yesung langsung meraih tubuhnya dan berusaha menenangkannya.
"Mianhae, aku tak bermaksud...", kini Kangin pun tak mampu meneruskan kata-katanya. Dia tau bahwa dia telah melakukan kesalahan besar, yaitu membuka pintu masa lalu yang dengan sekuat tenaga telah ditutup rapat oleh Yesung. Karna di balik pintu itu terdapat sebuah kenangan masa lalu yang pahit yang pernah merenggut kebahagiaan keluarga Yesung.
"Hyung! Kyu sudah sadar!" teriak Kibum memecahkan suasana di balkon. Langsung saja Kangin berlari ke arah kamar Yesung untuk memastikannya. Sedangkan Yesung masih terdiam. Tatapannya kosong entah menerawang ke mana. Munculah benih-benih pertanyaan kecil yang memaksanya agar memeras otak untuk menemukan jawab.
(Flashback)
"Henry-ah! Apa yang kau lakukan? Kenapa berenang masih menggunakan baju lengkap seperti itu?" Yesung berteriak pada adik bungsunya yang tengah berada di kolam renang masih menggunakan kaos dan celana jins panjang.
"Aku tidak berenang, Hyung. Aku mau mengambil koin keberuntunganku", jawab Henry tanpa melihat ke arah hyung-nya.
Henry adalah anak yang pendiam sama seperti Yesung. Dia tak terlalu memiliki teman. Dia banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan bermain PS. Sesekali dia keluar bersama Yesung, namun dia tak memiliki kondisi tubuh yang kuat layaknya Yesung dan noona-nya. Itulah yang membuat Henry jarang sekali keluar rumah, karna jika cuaca sedang tidak baik, maka Henry akan dengan mudah sakit.
Suatu hari, appa mereka sedang pulang dari luar kota tempat dia bekerja. Appa mereka membawakan oleh-oleh berupa baju dan mainan. Karna noona-nya suka sekali fashion maka appa-nya membelikan baju dan beberapa aksesoris. Lalu karna Yesung suka sekali membaca komik, maka appa-nya membelikan beberapa komik Jepang. Dan Henry yang suka bermain game akhirnya dibelikan PS. Ketika Henry melihat aksesoris noona-nya yang berupa kalung, Henry tertarik dan memintanya. Awalnya noona-nya tidak mau, namun karna Henry merengek, akhirnya noona-nya pun mengalah.
Kalung itu sebenarnya tak istimewa. Hanya kalung biasa dengan bandul sebuah koin yang dilubangi bagian tepinya untuk tempat memasang rantai kalung. Koin itu berwarna perak mengkilat dengan gambar segitiga di salah satu sisinya, dan gambar bintang di sisi lainnya. Sejak saat itu Henry selalu memakai kalung koin itu ke mana pun dia pergi, bahkan ke kamar mandi sekali pun. Dia memang melepaskannya sesekali ketika tidur. Dan sejak memakai kalung koin itu, dia merasa selalu diliputi keberuntungan. Maka itu dia menyebutnya koin keberuntungan.
"Mwo? Kenapa bisa ada di kolam?" tanya Yesung bingung. Dia tau sekali bahwa koin keberuntungan adiknya itu tak pernah jauh-jauh dari adiknya. Henry selalu menyimpannya dengan baik, meskipun dia sering sekali membawa koin itu ke mana-mana, tapi Yesung yakin Henry takkan berani main-main dengan koin itu. Apalagi sampai melemparnya ke dalam kolam renang seperti itu.
"Tadi, akh..." tiba-tiba suara Henry terputus. Dia seperti terpeleset di kolam.
"Henry-ah! Henry-ah! Wae gurae? Jangan bercanda! Henry-ah, cepat kembali!" pekik Yesung panik.
"Hyung...Hyublupbub..." jerit Henry tak jelas karna kepalanya masuk ke dalam air. Henry terlihat timbul tenggelam sambil melambaikan tangannya seakan minta tolong.
"Henry-ah! Jangan bercanda! Ini tidak lucu sama sekali!" teriak Yesung makin panik. Yesung tak tau harus berbuat apa. Tak ada orang lain di sana selain dia dan Henry. Dan sialnya Yesung tak bisa berenang.
"..." tak lagi terdengar suara Henry, bahkan dia tak lagi muncul dari dalam kolam. Yesung makin panik. Dia terus berteriak memanggil Henry namun tak ada jawaban. Akhirnya dia nekat melompat ke kolam renang.
Byur...
(Flashback end)
###
To Be Continue
