HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!

NOTE! MUST READ!: Di sini mungkin TaeJin moment-nya sedikit yah, Guys…. Di sini udah nyeritain flasbacknya insidennya TaeJinKook. Di chapter ini, pembahasan mengenai darah2an itu agak mendetail jadi tolong persiapkan dirinya sebelum baca chapter ini.

ATTENTION!: Contain rude and dirty talk, self harm, gore and physiologic!

Gak pake basa basi dan banyak cincong sampe tumveh-tumveh lagi, HAPPY READING!

.

.

.

Ruangan itu sangatlah besar bahkan cukup untuk menampung ratusan orang. Tempat itu terlihat layaknya gudang yang tak terurus dan ditinggalkan. Banyak debu dan pasir di setiap sudut tempat itu. Kawat besi membentuk atap di atas sana. Terdapat ventilasi yang setidaknya cukup untuk memberikan pasokan oksigen bagi makhluk di dalamnya. Tempat itu begitu gelap dan dingin ketika malam telah tiba.

Ketiga sosok namja itu masih terduduk di sana dengan ikatan tali yang melilit mereka dan melewati bagian abdomen mereka. Jangan lupakan ikatan-ikatan begitu erat yang terilit di pergelangan tangan dan pergelangan kaki mereka. Terdapat selembar kain yang menutup mata dua namja di antara tiga namja yang ada. Ketiga sosok namja itu terlihat begitu mengenaskan. Pakaian dan rambut yang jauh dari kata rapi bahkan ada beberapa bagian pakaian mereka yang robek. Terdapat bagian-bagian tubuh yang terluka dan memar.

Sosok namja kecil itu masih berusaha melepaskan tali yang terikat kuat di pergelangan tangannya, membuat beberapa luka lecet di pergelangan kecil nan rapuh itu.

"Jungkook ah, berhentilah terus berusaha melepas ikatan itu! Tanganmu akan terluka.", ucap sosok namja berwajah rupawan dengan bekas luka dan memar di sudut bibirnya. Kemeja putih yang dipakainya tak lagi benar-benar berwarna putih. Di samping itu, terdapat robekan-robekan di kemeja yang dikenakannya.

Sosok namja kecil itu terlihat berusaha mencari asal suara tersebut sekaligus menoleh pada sosok namja yang mengajaknya berbicara. Namun, ia tak mampu melihat apapun karena matanya yang tertutup, "Bagaimana hyung bisa melihatku? Hyung, kau ada di mana?", tanya sosok namja kecil bernama Jungkook itu.

Sosok namja berwajah rupawan itu tersenyum kecil seakan Jungkook dapat melihat senyumannya itu. Ia sedikit menahan rasa perih di sudut bibirnya, "Mataku tak tertutup. Aku menjaga kalian di sini. Aku ada di hadapanmu, menolehlah sedikit ke kanan lagi dan di situlah aku.", ucap Seok Jin pelan.

Seok Jin tak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi padanya dan orang-orang yang disayanginya. Ia tak yakin pasti apa penyebab terjadinya hal ini namun ia mengerti mengapa kedua orang tuanya selama ini tak pernah memberikannya waktu untuk pergi keluar rumah.

"Taehyung ah… Apa kau masih sadar?", tanya Seok Jin pada sosok namja yang terduduk tak jauh darinya.

Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sosok namja bersurai dirty brown itu terlihat begitu kelelahan. Mungkin selama 5 hari ini, ia tak pernah bener-benar tertidur. Waktu di mana tubuh sosok namja itu benar-benar beristirahat adalah ketika ia tak sadarkan diri.

"Aku masih bisa mendengarmu, Hyung…", sahut Taehyung pelan dengan suara bergetarnya.

"Syukurlah…."

"Apa kau tidak apa-apa, Hyung?", tanya Taehyung pelan dengan tetesan kristal air mata yang merembes pada kain yang menutupi matanya.

Seok Jin tersenyum bersamaan dengan setetes bening kristal air mata yang menitih ke pipinya, "Aku tak apa. Percayalah padaku."

Taehyung menundukkan kepalanya, membiarkan tetes demi tetes air mata merembes dan membasahi kain yang menutupi matanya itu, "Jika kau tak apa, untuk apa kau menangis?", tanya Taehyung dengan suara bergetarnya.

"Aku…hanya merasa gagal menjaga kalian. Aku bahkan belum dapat menjaga diriku sendiri ketika aku memutuskan untuk mulai menjaga kalian.", jelas Seok Jin pelan.

Tepat setelah Seok Jin menyelesaikan kalimat terakhirnya, suara dobrakan pintu terdengar, membuat terkejut ketiga namja itu. Beberapa namja berperawakan tinggi dan kekar memasuki ruangan tersebut. Masker hitam menutupi sebagian wajah mereka.

"Hyung…", lirih Jungkook ketakutan.

"Apa lagi yang kalian inginkan dariku?", tanya Seok Jin dingin. Jujur saja, ia telah mempersiapkan dirinya untuk menerima kekerasan berikutnya.

Beberapa namja berperawakan kekar itu tak menjawab apapun yang Seok Jin tanyakan. Mereka justru melepaskan semua ikatan dari ketiga sosok namja itu. Terbesit di pikiran Seok Jin bahwa namja-namja ini merupakan tangan kanan ayahnya.

"Apa…kalian tangan kanan ayahku?", tanya Seok Jin pelan.

"Sayangnya bukan, Jeon Seok Jin…", suara itu terdengar berdengung dan bergema di ruangan tersebut. Seorang namja tinggi berkulit tan memasuki ruangan tersebut dan menatap remeh pada Seok Jin. Sebagian wajahnya ditutupi oleh masker hitam hingga Seok Jin tak yakin siapa sosok namja itu.

"Apa yang kau inginkan dariku?", tanya Seok Jin dingin.

Terdengar sosok namja itu berdecih pada Seok Jin, "Aku…hanya ingin memiliki kekasihmu itu seutuhnya."

Emosi seketika memuncak hingga ke pucuk kepalanya, "Apa maksudmu, huh? Jangan pernah sentuh Taehyung sedikit pun!", bentak Seok Jin seraya memberontak hendak memberikan pukulan ke wajah sosok itu. Sayangnya, ia terlalu lemah untuk memberontak dari namja kekar yang mengunci pergerakannya itu.

Seok Jin menatap bagaimana beberapa namja kekar lainnya mengunci pergerakan Taehyung dan Jungkook. Ikatan kain telah dilepas dari mata kedua namja itu.

"Lepaskan kami!", ronta Taehyung sekuat tenaga bahkan Seok Jin dapat menyimpulkan seberapa kewalahan namja yang mengunci pergerakan Taehyung. Taehyung masih cukup kuat untuk membuat mereka kewalahan.

"Ini pertanyaan terakhirku padamu, Seok Jin. Apa kau akan menyerahkan Taehyung padaku atau tidak?", ucap namja berkulit tan itu seraya mengangkat dagu Seok Jin. Seok Jin dapat merasakan tatapan tajam dari namja berkulit tan itu.

"Jangan, hyung…", lirih Taehyung yang terdengar samar dari dalam sana.

Butuh banyak pertimbangan untuk menentukan keputusan atas pertanyaan namja itu. Sekarang ia tahu apa alasan mereka menculik dirinya, Taehyung dan Jungkook. Ini hanyalah masalah sepele namun justru berujung semengenaskan ini. Ia tak yakin jika Taehyung akan hidup baik-baik saja jika ia menyerahkan Taehyung begitu saja pada namja ini.

"Aku….menolak memberi Taehyung padamu. Dia milikku sekaligus adik angkatku. Jangan pernah coba untuk menyakitinya atau menyentuhnya sedikit pun!", ucap Seok Jin.

Seketika sebuah taamparan melayang pada pipi Seok Jin, menambah panjang daftar kekerasan yang diberikan padanya. Terdapat guratan memerah di sepanjang pipinya yang ditampar.

"Bawa namja ini keluar dari ini! Bunuh dia!", titah namja berkulit tan itu.

Seketika namja-namja berperawakan kekar itu menarik Seok Jin dari tempatnya menuju ke bagian luar gedung tersebut. Taehyung dan Jungkook terus meronta agar dapat melepaskan diri mereka.

"ANDWAE! HYUNG!", teriak Jungkook seraya meronta ingin dilepaskan.

"Lepaskan dia! Lepaskan Seok Jin!"

"Lepaskan aku! Lepaskan!", seru Seok Jin seraya memberontak dan menolak dibawa keluar dari bangunan tersebut.

Salah satu namja kekar tersebut mengambil sebilah pisau berkilat dari saku celananya. Taehyung yang menyadari apa yang akan terjadi menjadi semakin panik. Entah sejak kapan, sebilah pisau telah menancap di dada kiri Seok Jin. Taehyung tak yakin kapan namja itu menancapkannya di sana tapi ia tak dapat melakukan apapun sekarang. Ia tak mampu menopang tubuhnya dengan kedua kakinya lagi. Ia menatap pada Seok Jin yang telah berlumuran darah.

"Seok Jin…", lirih Taehyung.

Bau anyir seketika menguar di ruangan tersebut. Darah mengalir dari dada kiri Seok Jin bahkan hingga merubah warna kemejanya. Seok Jin tak mampu merasakan rasa sakit lagi, segalanya terasa mati rasa hingga ia tak mampu melakukan dan merasakan apapun. Matanya memburam. Ia dapat merasakan rasa amis darah yang ia muntahkan, itu membuatnya muak bahkan sangat muak namun ia terlalu lemah. Ia terbatuk-batuk bersamaan dengan darah yang ia muntahkan.

Mereka berhasil membawa Seok Jin keluar dari bangunan tersebut. Hanya tersisa Taehyung, Jungkook dan beberapa namja berperawakan kekar di sana. Mereka melepaskan Taehyung dan Jungkook. Taehyung tak mampu melakukan apapun, ia hanya bisa bersimpuh tak berdaya di sana. Sementara Jungkook berlari dari terus memukuli pintu bangunan itu dengan keras. Ia tak peduli sepatunya terkotori oleh darah kakaknya sendiri.

"Seok Jin hyung! Seok Jin hyung!", panggil Jungkook seraya memukuli pintu tersebut.

"Seok Jin!", teriak Taehyung seraya terisak dalam tangisannya. Ia menyesal, sangat menyesal tak mampu melakukan apapun demi orang yang dikasihinya tersebut.


Seok Jin masih terduduk pinggir kasurnya seraya menatap keluar jendela. Ia menatap bagaimana sang rembulan bersinar dengan terang walaupun sesekali tertutupi oleh awan tebal. Hembusan angin terlihat menggerakan ranting pepohonan di luar sana. Ini bukan kali pertama ia bersikap seakan tak ada hal yang bisa ia lakukan.

Sementara itu, Jungkook telah tertidur di kasur Seok Jin sejak beberapa jam yang lalu. Seok Jin tak mengerti mengapa akhir-akhir ini Jungkook lebih sering tidur di tempatnya dibandingkan tidur bersama Taehyung dan Chanwoo. Mungkin ia sering terbangun di tengah malam karena tangisan Chanwoo.

Entah mengapa, Seok Jin menyadari pergerakan tak nyaman dari Jungkook. Ia terlihat gelisah bersamaan dengan keringat yang bercucuran dari dahinya. Mungkin ia tengah bermimpi buruk, pikir Seok Jin. Seok Jin pun berniat membangunkan bocah bersurai hitam pekat itu.

"Seok Jin hyung… Seok Jin hyung…", lirih Jungkook dengan mata yang masih tertutup.

Seok Jin mengguncang tubuh kecil nan rapuh itu dengan pelan namun tampaknya Jungkook masih tak terbangun dari mimpi buruknya.

"Seok Jin hyung….", raung Jungkook tiba-tiba yang justru membuat Seok Jin semakin panik.

Kehabisan akal untuk membangunkan Jungkook, ia segera mendekap tubuh kecil itu. Jungkook terlihat semakin tenang dalam dekapan Seok Jin.

"Hyung….", lirih Jungkook pelan seraya membuka kedua matanya perlahan. Tetes bening kristal air mata menitih dari pelupuk matanya.

Seok Jin mengelus surai hitam itu dengan penuh rasa kasih sayang, "Tidak apa-apa, aku di sini, Jungkook ah… Tidurlah lagi…", ucap Seok Jin.

"Apa kau Jeon Seok Jin hyung?", tanya Jungkook pelan dalam dekapan Seok Jin.

"Eoh…"

"Kau tahu, aku sangat merindukanmu, Hyung."

Seok Jin tersenyum tipis, "Aku juga sama…"

Tak lama, Seok Jin dapat mendengar dengkuran halus bocah yang umurnya bahkan tak lebih dari 8 tahun itu. Ia melepas dekapannya perlahan, takut membangunkan bocah itu. Ia menatap bagaimana polosnya Jungkook ketika tertidur. Ia menyeka pelan air mata Jungkook yang masih tertinggal di pipi putihnya.

Harus ia akui bahwa ia merasa sangat bahagia telah kembali kepada keluarganya yang sebenarnya walaupun ia sendiri belum mampu menemukan serpihan-serpihan memorinya yang berserakannya dan tak mampu ia satukan kembali.


Ini merupakan hari ketiga setelah kematian Sehun diumumkan oleh surat kabar pagi. Hingga saat itu, berita kematian Sehun masih disiarkan oleh siaran-siaran TV Korea. Sesekali Seok Jin dapat melihat wajah Hoseok yang turut tersorot dalam liputan. Seok Jin tak mampu menahan rasa gelinya ketika melihat bagaimana Hoseok diwawancarai oleh wartawan.

Setelah selesai dengan sarapannya, Seok Jin memutuskan untuk pergi ke kantor polisi untuk menemui Hoseok. Terbesit di pikirannya bagaimana dengan pekerjaan Taehyung.

"Kau…tidak bekerja?", tanya Seok Jin pelan pada Taehyung yang tengah bermain-main dengan Chanwoo dan Jungkook. Mereka terlihat begitu gembira.

Taehyung menggeleng pelan. "Aku sudah jelaskan pada atasanku jika aku harus menjaga Chanwoo untuk sementara waktu. Mereka memberikanku perpanjangan cuti lagi selama 1 bulan. Kau tidak keberatan, kan?", jelas Taehyung.

Seok Jin tersenyum, "Untuk apa aku keberatan? Aku akan pergi ke tempat Hoseok. Aku akan menjemput kalian sekitar jam 3 dan kita akan pergi ke pantai dan makan malam bersama.", ucap Seok Jin.

"Pantai? Benarkah?", seru Jungkook antusias.

Seok Jin mengangguk pasti.

"YEAYYY!", seru Jungkook terlalu gembira.

"Bersiap-siaplah…"


Seok Jin menjejakkan kedua kakinya di ruangan tersebut entah untuk keberapa kalinya. Banyak orang yang menyapanya sehingga membuatnya tak lagi dapat berkonsentrasi untuk mencari Hoseok di dalam sana. Hingga ia telah menyusuri setiap sudut gedung, ia tetap tak menemukan Hoseok.

"Yoongi ssi, apa kau melihat Hoseok?", tanya Seok Jin ketika ia tak sengaja bertemu dengan Yoongi di lorong menuju ruangan pribadi Hoseok.

"Er… kurasa dia sedang ke kamar mandi. Jika kau ingin menemuinya, tunggulah di ruangan pribadinya. Ia sedang bekerja di sana sejak tadi malam dan hampir tak pernah keluar hingga siang ini. Jika keluar sekalipun, itu hanya untuk pergi ke kamar mandi dan mencari makanan.", jelas Yoongi. Ia terlihat sangat kelelahan. Mungkin ia diutus untuk menemani Hoseok selaman penuh.

"Baiklah kalau begitu, terima kasih….", ucap Seok Jin kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadi Hoseok.

Seok Jin tak pernah memasuki ruangan pribadi Hoseok sebelumnya. Hal pertama yang ia dapatkan ketika memasuki ruangan tersebut adalah gelap dan dingin. Hanya ada satu lampu kecil yang hidup di atas meja kerja Hoseok. Ruangan ini Nampak seperti tempat pembantaian bagi Seok Jin. Ia kemudian menghidupkan lampu ruangan tersebut dan kembali menemukan hal yang lebih mengejutkan lagi. Ia baru menyadari jika dinding ruangan tersebut telah ditutupi oleh ratusan bahkan ribuan foto dan kliping kasus kriminal.

Ia memberanikan dirinya memasuki ruangan tersebut. Ia menyusuri setiap sudut ruangan tersebut seraya menatap foto dan kliping yang tertempel di sana. Kasus pencurian, mutilasi, pembunuhan, korupsi, perampok, pemerkosaan, semuanya tertempel di dinding ruangan itu bahkan hingga foto-foto di tempat kejadian di mana menyuguhkan foto korban yang berlumuran darah bahkan anggota tubuh yang terpotong. Ia sungguh ingin mengeluarkan isi perutnya saat itu juga.

"Apa yang hyung lakukan di sini?"

Seok Jin sontak terkejut dan hampir menjatuhkan beberapa foto dan kliping dari dinding itu. Ia segera menatap sang sumber suara. "Aku mencarimu.."

Hoseok mendudukan dirinya di kursinya, "Untuk apa? Apa Chanwoo membuatmu terganggu?", tanya Hoseok seraya membuka sebuah berkas tebal.

Seok Jin menatap miris pada wajah lelah Hoseok, "Apa kau tidak tidur semalaman?"

Hoseok menatap lelah pada Seok Jin, "Jika hyung sudah tahu, cepatlah katakan, apa tujuanmu ke sini? Ngomong-ngomong, kenapa tanganmu diperban?"

"Hanya insiden kecil. Aku perlu data kematian Oh Sehun 3 hari yang lalu. Itu kejadian saat mobilnya terjun ke dalam waduk. Atau setidaknya kau harus terangkan padaku apa yang terjadi padanya.", pinta Seok Jin.

Hoseok mengehela nafasnya panjang, "Ketuaku mengatakan itu hanya insiden bunuh diri jadi ia hendak menutup kasus tersebut.", ucap Hoseok pelan. Namun Seok Jin yakin itu bukan akhir dari kalimat yang ingin Hoseok ucapkan jad ia tak mengatakan apapun untuk sementara.

"Tapi aku dan Yoongi hyung tak ingin kasus ini ditutup semudah ini. Kami berspekulasi bahwa ini bukan hanya sekedar kasus bunuh diri.", imbuh Hoseok.

Seok Jin membulatkan matanya, tak percaya dengan apa Hoseok ucapkan, "Bukan kasus bunuh diri? Apa maksudmu?", tanya Seok Jin seakan mendesak Hoseok untuk mengatakan segalanya sejelas-jelasnya.

Hoseok mengeluarkan dokumen tebal lainnya dari dalam lacinya. Ketika ia meletakkan di atas meja kerjanya, suara debaman terdengar dan itu menandakan betapa berat dokumen itu.

"Ini dokumen yang kau minta. Lihatlah bagian foto ini, bagian yang kulingkari.", ujar Hoseok seraya menunjuk bagian leher korban (Sehun).

Seok Jin menatap bagian leher pucat Sehun. Terdapat bekas guratan memerah di sana, terlihat seperti bentuk jari-jari. Sehun seperti melewati saat di mana tercekik secara sengaja.

"Apa…itu bekas tercekik?", tanya Seok Jin pelan.

"Kau benar, Hyung… Di samping itu, pintu penumpang depan justru patah ketika semestinya itu tak mungkin terjadi. Saat ditemukan, mayat korban masih terikat sabuk pengaman. Pintu akan patah jika saat mobil itu terjatuh, pintu itu tengah terbuka. Apa mungkin Sehun yang membukanya? Tentu saja tidak, kan?", jelas Hoseok.

"Apa dalam kata lain…kau berusaha mengatakan bahwa Sehun dibunuh?", tanya Seok Jin ragu-ragu.

Hoseok mengangguk pelan.

Seok Jin seketika membulatkan matanya. Siapa yang akan membunuh Sehun? Dan apa alasan orang tersebut membunuh Sehun?

"Hoseok, makanan pesananmu sudah datang.", seru Yoongi yang baru saja datang dengan beberapa bungkusan makanan di tangannya. Ia meletakkan makanan itu di atas meja kerja Hoseok.

"Terima kasih. Siapa yang mengantarkan ini? Apa Namjoon yang mengantarkannya?", tanya Hoseok seraya mengambil sebuah sticky note kuning yang tertempel di bungkus pesanannya.

"Iya, Namjoon sudah kembali bekerja kurasa. Seperti biasa, ia menempelkan sticky note itu…"

Seok Jin membelalakkan matanya ketika ia menyadari namja yang mereka sebut berulang kali sejak tadi, "Namjoon? Apa maksudmu Kim Namjoon?"

"Apa hyung mengenalnya?"

Seok Jin melirik bungkusan besar itu dan menyadari bahwa bungkusan itu berasal dari sebuah café terkenal di Incheon. Ia segera keluar dari ruangan Hoseok dan berlari menuju ke luar gedung tersebut. Ia tak mendapati seorang pun di luar sana. Hal yang sangat ia sesali adalah ia yakin bahwa dirinya hanya terlambat selangkah. Mungkin jika ia menyadari jika mereka mengucapkan nama Namjoon sejak tadi, ia akan bertemu dengan kakak kandung Taehyung itu.

"Sialan…", gerutu Seok Jin dengan nafasnya yang terengah.

Kekesalannya memudar beberapa saat kemudian ketika ia merasakan ponselnya bergetar, menandakan bahwa ada sambungan telepon yang menunggunya. Ia menatap nama yang tertera di sana.

"Taehyung? Tidak biasanya ia menelponku.", gumam Seok Jin seraya menggeser simbol hijau itu.

"Yeoboseyo, Taehyung ah…"

Tak ada sambutan apapun dari lawan bicaranya. Hanya terdengar suara isakan khas anak kecil yang ia yakini adalah Jungkook dan tangisan bayi yang ia yakini adalah tangisan Chanwoo.

"Taehyung?"

"Hyung…", suara lirihan itu terdengar di antara isakan Jungkook. Seketika Seok Jin merasakan hal buruk telah terjadi pada Taehyung, Jungkook dan Chanwoo.

"Jungkook, apa terjadi sesuatu? Katakan padaku!", tanya Seok Jin panik.

Tangisan Jungkook terdengar semakin menjadi-jadi, "Hyung, beberapa namja datang dan menghancurkan rumahmu. Taehyung hyung terluka parah, kumohon cepatlah kembali…."

"APA? Baiklah, aku akan segera pulang…."


Hal pertama yang ia dapati ketika ia memasuki ruangan adalah barang-barang yang pecah dan berserakan di mana-mana. Ia tak dapat meyakini apa yang telah terjadi pada rumahnya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya di sekitar rumahnya. Ia dapat mendengar suara tangisan Chanwoo yang meraung-raung dari dalam kamar Taehyung.

"Jungkook! Taehyung!", seru Seok Jin namun ia tak mendapatkan jawaban apa pun.

Ia segera memasuki kamar Taehyung. Keadaan di dalam sana jauh lebih berantakan dari pada keadaan di ruang tamu. Ia dapat melihat bagaimana Chanwoo tengah menangis meraung-raung di atas tempat tidur dengan luka goresan di dahinya.

"Hyung…"

"Jungkook…", ucap Seok Jin seraya memeluk tubuh Jungkook yang bergetar ketakutan. Terdapat sedikit memar dan luka di tangan dan pipi Jungkook.

"Di mana Taehyung hyung?"

"Di kamar mandi, Hyung… Mereka menguncinya di dalam sana dan mengatakan bahwa Taehyung hyung terluka parah dan akan mati dalam beberapa saat lagi. Aku takut, Hyung…", lirih Jungkook di antara isakannya.

Seok Jin segera berlari menuju kamar mandi yang terkunci itu. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mendobrak kamar mandi tersebut. Sesekali ia meneriakan nama Taehyung untuk memastikan bahwa Taehyung masih tersadar atau tidak namun ia tak pernah mendapatkan jawaban apapun dari dalam sana. Seok Jin terus berusaha mendobrak kamar mandi itu.

Ketika pintu kamar mandi tersebut terbuka, terdapat banyak darah yang berceceran di lantai kamar mandi. Itu sudah cukup untuk membuat Seok Jin shock dan tak mampu bernafas lagi. Ia menolehkan kepalanya pada bathtub kamar mandi tersebut dan ia menemukan sosok yang ia cari.

"Taehyung!"

Ia segera berlari menuju tubuh lemah Taehyung yang terendam dalam air di dalam bathtub itu. Warna air berubah menjadi merah, tercampur dengan darah Taehyung yang berasal dari luka robekan di kepalanya.

"T…Taehyung.. ", lirih Seok Jin seraya mengangkat tubuh Taehyung dari dalam air bathtub yang sangat dingin itu. Ia meletakkan Taehyung di atas pangkuannya. Celana dan tangannya seketika dikotori oleh darah Taehyung.

"Taehyung, apa kau mendengarku, Taehyung?", seru Seok Jin seraya mengguncang tubuh lemah Taehyung.

Tak ada rangsangan apapun dari Taehyung. Ia terlihat begitu pucat seakan tak ada lagi nyawa yang bersemayam di dalam dirinya.

Seok Jin segera menghubungi ambulance untuk datang ke rumahnya secepat mungkin. Suaranya bergetar, begitu juga dengan tubuhnya. Ini pertama kalinya ia menghadapi kondisi seperti ini tanpa bantuan siapapun.

Perlahan, Taehyung membuka matanya yang terasa sangat berat. Ia dapat melihat bagaimana Seok Jin tengah menghubungi ambulance dengan suara bergetar dan paniknya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan tangannya menuju pundak Seok Jin.

"Psikiater Kim…", lirih Taehyung pelan setelah tangannya tersampir di pundak Seok Jin.

"T…Taehyung, kau sudah sadar?"

"Di mana Jungkook dan Chanwoo?", tanya Taehyung pelan dengan nafas yang terengah.

"Mereka baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, Taehyung…"

"Kepalaku terasa pusing…", lirih Taehyung dengan kristal air mata yang menitih dari pelupuk matanya.

"Jangan banyak bergerak, Taehyung! Ini akan terasa semakin pusing hingga ambulance datang. Tetaplah tersadar, oke?", titah Seok Jin seraya memastikan Taehyung tetap tersadar.

Taehyung tersenyum tipis tatkala ia menarik tengkuk Seok Jin mendekat padanya. Seok Jin tak menolak apapun yang Taehyung akan lakukan padanya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wajah mereka semakin dekat setiap detiknya bahkan hingga mereka dapat merasakan deru nafas satu sama lainnya. Dan, bibir Seok Jin telah menyentuh bibir tipis Taehyung. Ia hanya menempelkan bibirnya begitu saja, ia tak ingin menghalangi pasokan oksigen bagi Taehyung.

Namun hal tersebut tak bertahan lama. Kepanikan kembali timbul dalam diri Seok Jin ketika tangan Taehyung yang tersampir di pundaknya terjatuh ke lantai yang dingin dan ia sadar kedua mata Taehyung kembali tertutup.

"T….Taehyung…."

.

.

.

TBC

HAAAAA! Chapter 7 akhirnya update, Guys! Haduh, maaf yah karena updatenya lama, guys! Aku kebetulan sibuk banget minggu lalu sampe2 ngaret updatenya sampe hari ini T^T. Maaf banget karena alurnya kecepetan T^T Gimana dengan chapter ini? Apakah membosankan? Apakah gaje? Apakah aneh? Maafkan aku Guys… Oh ya, aku lagi mood up banget gegara BTS comeback nih ^^. Okeh, last I need your review(s), Guys! Love youuuu!

LAST INFORMATION!: Dikarenakan banyaknya FF yang masih in progress, aku memutuskan untuk update FF ini 3 minggu sekali, bersamaan dengan FF 95 Graduation. Tapi bisa jadi lebih lama ato lebih cepet tapi normalnya 3 minggu sekali ^^. Maaf banget yah, Guys! THANK YOU *bow*.