.

.

.


HEART OF EMPEROR


Heart of Emperor


Heart of Emperor©Hachi Breeze

Character adapted©Naruto©Masashi Kishimoto

©SasuHina

©2013


.

.

.

Hinata masih terbaring di atas futon kuil Haruno. Gadis itu menyingkap selimut tebal yang menyelimutinya karena gerah. Rambut panjangnya sedikit kusut ketika ia mulai mendudukan diri sambil melemaskan jemari kedua tangannya. Sakura menggeser shoji hingga membuat Hinata mendongak. Keduanya tersenyum kecil ketika saling berpandangan, dan Sakura segera menunduk setelahnya. Miiko itu meletakan nampan berisi air di dalam gelas dengan perlahan. Hinata masih memerhatikan sebelum tangannya terjulur membantu gadis itu meraih gelas yang diberikan untuknya. Hinata mencium aroma yang terkuar dari dalamnya, ia merasa nyaman.

"Apa ini Sakura-san?"

"Ini dari Sai-san. Jiwa-jiwa yang sudah disucikan untuk membantu anda cepat pulih."

Hinata hampir saja menjatuhkan gelas berisi air itu ketika ia akan menyesapnya masuk melewati kerongkongan. Sakura mengelus perlahan punggung Hinata yang bergetar seakan memberi tahu gadis itu jika Hinata harus melakukannya.

"Anda harus meminumnya, Hinata-sama. Ini untuk kebaikan anda. Anda bukan satu-satunya orang yang pertama kali melakukan hal ini. Anda tidak akan berdosa hanya dengan meminum jiwa-jiwa ini,"

Hinata masih memandang tidak percaya apa yang di genggamnya.

"Coba bayangkan Hanabi-sama, maka anda akan berada di posisinya sekarang. Dia selalu saja sekarat jika tidak meminum hal seperti ini. Saya mohon, tolong minumlah untuk kebaikan anda."

Hinata meneguk ludahnya perlahan sebelum memantapkan dirinya sendiri. Jika saja Sakura tidak memberi tahunya tentang Hanabi, bagaimana saudaranya itu tersiksa jika selalu saja kekurangan kekuatan seperti dirinya sekarang. Jika Hanabi adalah Hinata, pasti gadis itu sudah menyelesaikannya sedari tadi, tapi ini Hinata, ini pertama kalinya untuk gadis itu.

Perlahan Hinata menyentuhkan gelas itu ke ujung bibirnya, mulai menyentuhkan air dengan permukaan bibirnya tapi gadis itu tak kunjung menyesap air itu. Sakura yang memerhatikan Hinata hanya diam. Menunggu putri itu membuka bibirnya lebih lebar lagi. Sakura tersenyum ketika kesempatannya, ketika Hinata membuka mulutnya kecil untuk menerima air itu … Sakura dengan sengaja menyenggol gelas yang dipegang Hinata hingga gadis itu mendelik saat semua air dari gelas mengalir melewati kerongkongannya.

.

.

.

Sasori melambaikan tangannya dengan tersenyum menyambut Sakura yang berjalan memapah tubuh Hinata memasuki ruangan. Sasuke hendak berdiri membantu, namun ia masih tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi di antaranya dengan Hinata hingga akhirnya membatalkan niatnya. Hinata duduk di samping Sakura dengan perlahan. Sai masih memerhatikan. Lima orang yang ada di ruangan itu nampak diam tak berniat mengeluarkan suara.

"Kudengar, kalian mendapat musibah setelah dari tempatku ya?"

Sasori mulai bersuara sambil memain-mainkan ujung kain kimono putihnya. Sasuke hanya mengangguk.

"Aku langsung datang kesini begitu mendengar Hinata-san tidak sadarkan diri sehingga penyucian mantra yang anda berikan langsung saya tinggal."

"Terima kasih Sasori-san, dan untuk Sai-san … terima kasih atas bantuanmu. Namaku Hyuuga Hinata, sungguh saya mengucapkan terima kasih."

"Tidak apa-apa."

Sasori berganti memandang Sai yang duduk bersebrangan dengannya. Pemuda berambut merah itu masih memandang dengan teliti, dan sejurus kemudian pemuda itu tersenyum.

"Apakah anda berasal dari negeri seberang? Kerajaan Sabaku?"

"Ya."

"Kabar burung yang tersebar, di kerajaan itu memiliki tiga kandidat raja, ya? Tapi kurasa, sepertinya sang pangeran … putra bungsu di kerajaan itu akan naik tahta menjadi seorang raja,"

"Apa?"

Sai masih menilik pandang ke arah Sasori. Sasori yang memandang Sai mulai mengerti. "Maafkan aku, namaku Akasuna Sasori. Seorang peramal."

"Sai. Namaku Sai. Pantas saja, karena yang kutahu kerajaan Sabaku belum menunjuk seorang raja."

"Hahaha, begitu ya?"

Sakura menepuk pelan pundak Sasori. Gadis itu sedikit menekan pundak laki-laki yang beberapa tahun lebih muda di sampingnya. Sasori sedikit kesakitan ketika Sakura tak berhenti menekan pundaknya meskipun ia meringis kesakitan.

"Kau bilang mereka dari kuilmu, kan? Kenapa kau tidak memberi tahu mereka jika akan ada bahaya, huh?"

Sasori hampir menitikan air matanya ketika Sakura tak berhenti menekan pundaknya. Raut wajah Sasori yang polos semakin membuat Sakura jengkel. Hinata sedikit tersenyum kecil.

"Perasaan aku sudah mengatakan kepada Sasuke-san jika aka nada sesuatu, bukan?"

Sasuke menoleh, "Oh, jadi yang kau maksud tentang sesuatu itu adalah tentang musibah barusan? Kupikir ini tentang pembicaraan kita yang lainnya."

Sakura dan Hinata menatap lurus ke arah Sasuke. Sai yang ada di sampingnya hanya melirik. "Pembicaraan apa?"

"Mengenai Sasuke-san yang menci-"

Sasuke dengan cepat menutup mulut Sasori sambil tersenyum kikuk. Oh crap, ia sudah salah bicara.

.

.

.

Neji duduk di dekat shoji menanti Hiashi yang masih menggulung gulungan kertas di tangannya. Pemuda itu menatap tatami dengan kaku ketika Hiashi mengikat gulungan dengan segel kerajaan Hyuuga. Neji berdiri dan menghampiri tempat Hiashi duduk, ia meraih gulungan yang di berikan Hiashi.

"Berikan kepada raja Sabaku, dan jika kau sempat tolong berikan ini kepada Sasuke untuk putriku."

Hiashi menyodorkan gulungan kertas lain kepada Neji. Kali ini gulungan lain yang tak bersegel kerajaan Hyuuga, hanya saja terikat dengan tali yang berwarna lembut. Neji mengangguk dan memasukan kedua gulungan itu di lempitan dalam kimononya. Neji membungkuk hormat sambil melangkah mundur ke belakang. Langkah yang pas hingga ia sampai di dekat shoji sebelum membalikan badannya untuk berputar keluar dari ruangan Hiashi.

Neji melangkah menyusuri roka bagian samping kerajaan Hyuuga. Pemuda itu memegang ujung pedang katananya dengan sebelah tangannya. Rambut panjang Neji masih rapi seperti biasanya. Beberapa helai mulai jatuh ke depan ketika pemuda itu membungkuk hormat menyapa Itachi yang berdiri beberapa langkah di depannya. Itachi tersenyum kecil sebelum membalas salam Neji dengan membungkuk kecil.

Neji mendekat ke arah Itachi yang masih berdiri di antara roka menuju ruangan tamu kerajaan Hyuuga. Pemuda Uchiha itu masih berbalut pakaian resmi kimononya. Hitam dan beberapa garis merah dan juga celana kimono putih. Terdapat lambang Uchiha di punggung dan lengan kanannya. Rambut hitam yang panjang terikat rapi dengan kain. Seorang pangeran yang sempurna.

"Ingin mengajak Hanabi-sama keluar lagi, Itachi-san?"

Itachi tersenyum lembut sambil melirik ke samping kiri, mencari obyek di antara halaman kosong Hyuuga. Shoji itu perlahan membuka dan menampilkan Hanabi yang mengenakan furisode berwarna merah. Mencerminkan kepribadian Hanabi. Sangat cantik, belum lagi ini pertama kalinya Neji melihat Hanabi memakai hiasan rambut di kepalanya. Hanabi menjepit sedikit bagian rambut depannya ke samping kanan dengan jepit, walau ada beberapa yang jatuh menutupi wajahnya. Seperti putri api.

"Neji … ?"

Neji membungkuk hormat yang disambut hangat oleh Hanabi.

"Kami akan pergi ke perbatasan. Berhubung Sasuke-san belum kembali, Itachi-san mengajakku untuk pergi ke acara desa dan upacara teh. Kau mau pergi?"

"Iya, ke kerajaan Sabaku."

"Lagi?"

Neji masih mengangguk sambil tersenyum lembut, "Anda cantik hari ini Hanabi-sama."

"Ngomong-ngomong, Itachi-san,"

Itachi dan Hanabi berhenti melangkah. Keduanya berbalik menatap Neji yang berdiri nampak bingung menyampaikan apa yang ingin ia tanyakan. Roka itu berderit pelan ketika Neji melangkah mendekati keduanya.

"Bagaimana kabar Yuuta-san?"

"Yuuta? Siapa itu? Tidak ada yang bernama Yuuta di kerajaan Uchiha."

Hanabi sedikit tertawa kecil sebelum Neji membuka kembali bibirnya untuk berbicara. Itachi masih bingung. Dan keheningan kemudian melanda ketikanya.

"Neji, kau seharusnya bisa mengenalinya dari mata dan wajahnya. Bukankah gadis itu sangat mirip denganku? Kau harusnya tidak boleh jatuh cinta kepadanya, karena … "

Hanabi menarik lengan Itachi menjauh sebelum pemuda Uchiha itu mengerti maksudnya. Neji masih berdiri sambil memandang punggung keduanya dari belakang. Oh jadi begitu rupanya, pantas saja Neji sangat mengenali Hinata ketika gadis itu berkunjung ke kerajaan Hyuuga. Bahkan Itachi juga menunjukan reaksi yang sama seperti Sasuke ketika menyangkut nama Yuuta. Ternyata benar. Neji tersenyum kecil merutuki kebodohannya, menertawakan dirinya sendiri. Hanabi benar, seharusnya Neji bisa mengenali gadis itu secara langsung. Tapi mau bagaimana lagi sekarang? Kini ia sudah terus menerus memikirkan gadis itu.

" … namanya bukan Yuuta, tapi Hyuuga Hinata. Kakak kembarku."

Dan Hinata sudah berubah menjadi gadis yang sangat cantik hingga dirinya tidak bisa mengenalinya.

.

.

.

Sabaku Gaara, seorang putra terakhir yang menetap di kerajaan Sabaku masih duduk dengan bosan menatap tumpukan baju yang di lempit oleh Temari, kakak perempuannya. Pemuda berambut merah itu melihat pintu gerbang yang terbuka. Disana ia bisa melihat para pengawal kerajaan menuntun Neji untuk memasuki areanya dengan wajah yang tak seperti biasanya. Temari menatap punggung Gaara yang berdiri dan berjalan menjauhi ruangan. Pemuda itu membuka shoji dengan lembut. Keluar tanpa mengeluarkan kata-kata dan penuh misteri.

Gaara melewati roka sambil melirik pengawal-pengawal yang membungkuk hormat kepadanya. Neji melirik pergerakan Gaara yang hanya melintas. Neji hanya membungkuk sekali tanpa membalas ataupun hanya menatap kedua matanya.

Neji tak pikir panjang dan mementingkan Gaara yang bukan siapa-siapanya. Pemuda itu kembali memasuki ruangan menuju ruangan raja, menyampaikan isi dari Hiashi untuk Sabaku. Pemuda satu-satunya Hyuuga yang berstatus sebagai perantara disana hanya diam ketika raja Sabaku duduk dengan tenang di singgasana. Neji maju beberapa langkah sebelum pada akhirnya ia membungkuk hormat. Pemuda itu menegakkan kembali tubuhnya setelah dikiranya cukup. Neji mengeluarkan gulungan yang Hiashi berikan kepadanya. Segel kerajaan Hyuuga masih terikat di gulungan itu. Ia melangkah mendekati raja Sabaku yang sudah terlihat tua namun masih sangat itu terbuka ketika segel telah terlepas. Sangat panjang ketika pria itu menariknya.

"Hyuuga-san, terima kasih."

Neji membungkuk hormat ketika pria tua itu mulai menuruni singgasana dengan mengangkat kimononya. Keduanya menoleh mendapati Temari masuk ruangan dengan kikuk. Gadis itu sedikit mengangkat kain kimono untuk membuatnya menjadi lebih muda melangkah. Neji masih menunduk tak memerhatikan putri Sabaku ini membisikan sesuatu kepada ayahnya. Ketika Neji melirik, ia tersenyum kecil membayangkan jika saja kedua putri kembar dari kerajaan Hyuuga terlihat seperti ini.

"Hyuuga-san, apakah kau ingin menginap? Sepertinya kau terlihat kelelahan."

Neji menggeleng pelan sambil memejamkan matanya. Sebelah tangan pemuda itu menyentuh benda yang terselip di antara lengan dan perutnya di dalam lempitan kimono. "Masih ada yang harus saya temui untuk menyampaikan pesan Hiashi-sama. Terima kasih atas tawaran anda, Sabaku-sama."

.

.

.

Neji menemukan Gaara sudah berdiri di depan kudanya. Pangeran itu menatapnya lurus. Ia masih memejamkan matanya ketika Neji membungkuk perlahan. Kimono yang dipakai Gaara kini sudah berganti menjadi kimono sederhana. Beberapa pengawal keluar dari dalam kerajaan dengan memakai kimono yang sama sederhananya seperti yang dipakai Gaara. Pemuda itu kemudian menatap lagi Neji yang berdiri bingung.

"Aku ingin pergi melihat kerajaan Hyuuga. Jadi kau bisa menjadi orang yang tepat untuk mengenalkan padaku."

"Sabaku-s-"

"Panggil Gaara. Gaara saja selama aku disana, tidak apa-apa."

Neji menghela napasnya dengan sangat perlahan.

.

.

.

Sasuke menunggang kuda yang dipinjam dari Sasori. Di depannya Hinata masih tersenyum kecil sambil bersandar di dada Sasuke. Gadis itu duduk menyamping ketika menunggang kuda. Ia sudah baikan sekarang. Mungkin Sakura memang benar, Hinata sangat membutuhkan hisapan energi untuk menyuplai dirinya yang melemah musim semi ini. Musim dimana Hanabi menjadi kuat. Kimono biru terang Hinata yang sediking rusak di bahu dan lengannya membuat Sasuke harus melepaskan lapisan kimono terluarnya untuk menutupi lubang baju gadis itu.

Keduanya masih mengobrol walaupun sesekali berhenti di bawah pohon sakura yang menghujani mereka dengan kelopak ringan berwarna merah jambu itu.

Ketika terdengar suara beberapa kuda yang mendekat, mereka menengok sambil tersenyum kecil. Neji menunduk hormat sebelum di ikuti oleh Gaara. Sasuke dan Hinata tidak mengenal pemuda berambut merah yang ada di belakang Neji dengan beberapa orang asing. Hinata mengatupkan bibirnya untuk bertanya ketika Neji sudah menghampiri mereka dengan kudanya yang mendekat.

"Uchiha-san, anda disini?"

Sasuke melirik Neji yang semakin mendekat kepadanya.

"Ya?"

"Tadi aku sempat bertemu dengan Itachi-san. Kurasa anda sudah meninggalkan kerajaan hingga sesore ini."

"Astaga!"

Sasuke lupa. Ia hendak memacu kuda yang ditungganginya sebelum Neji menghentikannya lagi. Gaara yang masih duduk di kuda sambil mengamati mereka kini hanya terdiam. Pangeran Sabaku itu hanya melihat.

"Tunggu Sasuke-san, ada yang ingin aku berikan kepada Yuuta-san,"

"Ya?"

Hinata masih memiringkan kepalanya memandang wajah Neji lebih jelas. Pemuda itu masih diam dan mulai meraba lempitan kimono dalamnya. Mengeluarkan gulungan yang Hiashi sampaikan untuknya. Sasuke masih memerhatikan tamat-tamat Neji yang tersenyum tipis. Pemuda itu seperti bukan Neji yang biasanya Sasuke lihat, dan kini pandangannya beralih di belakang Neji yang sudah ada beberapa rombongan yang di pimpin oleh pemuda berambut merah.

"Tolong berikan ini kepada Hyuuga Hinata-sama."

Hinata memeluk gulungan yang diterimanya dari Neji. Gadis itu tersenyum kecil sambil menurunkan pandangannya menatap tanah. Neji juga tersenyum kecil mencari obyek pandang yang lain.

"Terima kasih Hyuuga-san."

Kuda yang ditumpangi Gaara sudah berjalan mendekati Neji ketika pemuda Hyuuga yang ada di depannya ini selesai member salam perpisahan. Sasuke masih memerhatikan wajah Gaara ketika pemuda berambut merah itu melewatinya.

Ketika diliriknya Neji dan Gaara sudah menjauh, Sasuke menatap puncak kepala Hinata. Pandangan Gaara bukan seperti orang-orang biasanya yang Sasuke temui. Pemuda Uchiha itu menghela napasnya lagi ketika Hinata masih berusaha membuka tali yang mengikat gulungan, gadis itu menarik tali yang menggulung. Sasuke kembali memacu kuda milik Sasori untuk berjalan kembali dengan sangat perlahan.

"Ini, dari tou-san."

Sasuke mendengarkan sambil mengontrol tali yang mengikat kuda untuk tetap berjalan secara stabil.

.

.

.

Di kerajaan Sabaku, seorang dengan baju hitam memenuhi tubuhnya yang kurus itu melangkah masuk ke ruangan kerajaan. Laki-laki itu sedikit tersenyum ketika pengawal memersilahkannya masuk ke dalam. Temari masih memerhatikan gerak-gerik orang yang di undang ayahnya untuk menyembuhkan salah satu pangeran kerajaan yang jatuh sakit. Temari menuntun pria itu masuk menemui ayahnya yang masih duduk di singgasana sambil memijit pelipisnya.

"Ah, anda sudah datang."

Pria itu membungkuk hormat kepada sang raja sambil melepaskan penutup wajahnya yang berwarna hitam. Wajahnya penuh dengan riasan layaknya seorang geisha. Temari menahan raut wajahnya agar tak terlihat tidak sopan. Meskipun sejujurnya ia sangat merasa takut melihat wajah sang pria itu.

"Tolong sembuhkan putraku, Kankurou. Dia sakit berhari-hari, tidak ada tabib di sekitar sini."

"Sabaku-sama, saya bukan tabib. Saya ini pendeta."

"Tidak apa-apa, asalkan putraku sembuh."

"Maafkan kelancangan saya, nama saya Orochimaru. Saya akan berusaha."

Dan Temari yakin jika pria yang bernama Orochimaru itu tersenyum sangat aneh ketika memandang ayahnya.

.

.

.

Fugaku dan Mikoto masih duduk sambil meniup teh yang ada di gelas. Keduanya duduk disamping roka yang sepi. Musim semi ini banyak yang mereka pikirkan. Ini sudah hampir sepuluh tahun lebih mereka menerima Hinata masuk ke dalam kerajaan Uchiha. Mikoto menatap tatami yang ada di dekatnya sambil tersenyum kecil. Pintu kerajaan Uchiha terbuka dan menampakan Sasuke yang berjalan menuntun kuda, pemuda itu berjalan pelan. Hinata masih duduk di atas kuda dengan posisi menyamping.

Mikoto berdiri dari duduknya dan menuruni roka. Wanita itu menghampiri Sasuke dan Hinata. Hinata tersenyum kecil sebelum ia melompat ke dalam pelukan Sasuke yang ingin membantunya turun dari kuda.

"Kau terlihat lebih cerah, Hinata."

"Ah, itu … Haruno-san sudah membantuku merasa lebih baik, dibantu dengan beberapa orang."

Mikoto tersenyum tipis dan menuntun keduanya untuk masuk. Kimono Sasuke yang menggantung di tubuh Hinata kini semakin ia rapatkan. Tak ingin Mikoto melihat lubang yang menjadi saksi bisu jika dirinya sempat dalam bahaya. Derit langkah di roka terhenti ketika suara Fugaku memenuhi keheningan hari itu.

"Sasuke, itu kuda siapa yang kau bawa?"

"Ah, kuda siapa ya … ? Entahlah, banyak sekali kejadian yang terjadi hari ini."

Fugaku menutup matanya sambil meletakan gelas kosong. "Sasuke."

"Ya?"

"Besok akan ada pangeran dari kerajaan Uzumaki datang, dia dibesarkan di Inggris oleh ayahnya. Mungkin untuk sementara kau akan berbagi ruangan dengan Itachi."

Oh, sungguh apalagi ini?

.

.

.

Sementara itu, di kuil Haruno yang mulai sepi. Sasori masih duduk di tepi roka dengan bosan. Pemuda itu mengayun-ayunkan kakinya ketika Sakura menuruni roka. Sai membuntuti Sakura yang sudah membuka ruangan lain di tepi kuil. Ada ruangan yang cukup layak dihuni. Sakura memohon kepada Sai untuk menjadi gurunya setelah ayahnya pensiun menjadi seorang pendeta. Mantra dan jurus yang di ajarkan oleh Sai sangat membuat Sakura ingin belajar lebih. Ia ingin menjadi miiko yang sangat baik.

"Sasori, apa yang kau lakukan disitu?"

"Menunggu kuda ku kembali. Sasuke-san meminjamnya tadi."

Sasuke, ada sesuatu yang belum kau kembalikan.

.

.

.


T.B.C


[Kolom Review Balasan]:

Kaname : hahaha iya nih..lagi malam minggu. Mungkin kalo nanti saya begandang, saya akan update kilat lagi.

Aizy evilkyu : halah Aizy-san, masalah yang waktu itu gak papa. Justru Hachi yang minta maaf kalo bahasa Hachi waktu itu terkesan kasar dan menyinggung Aizy-san :) Hachi seneng kok kalo ada orang yang nanya atau mengingatkan kalo Hachi lagi error atau salah. Dan saking senengnya di ingetin sampe malu itu rasanya buat Hachi lupa bahasa berantakan Hachi. Itu Hachi anggap masukan dari Aizy-san, lagipula Hachi juga gak detail jelasinnya -_-. Gak papa kok Aizy-san, Hachi mengerti hehehe :D Hachi tidak pernah merasa tersinggung kok. Dulu Hachi pernah dapat 1 flamer dari orang dan kata-katanya masih Hachi inget. "Tulisan kayak gini lo publish?! Sampah banget lu bocah! Menyingkir dah! Apaan itu SasuHina?! Crack pair aja bangga!" dan karena review dari orang itu, akhirnya Hachi jadi termotivasi. Hyyaa maaf jadi curcol xD #ditabok. Tapi jujur Hachi seneng bisa ngeliat nama Aizy-san hadir lagi di kotak review :D terima kasih.

Cecil Hime : terima kasih Cecil-san, maaf jika chapter ini sedikit membuatmu kecewa.

Lovelychrysant : terima kasih Lovely-san, iya di dekat daerah Hachi gak ada yang jual sastra klasik buat refresnsi nih -_- Hachi search google pake hp juga lemot. Halah, Lovely-san ngeflame Hachi juga gak papa kok ;) gak masalah, lagipula Hachi emang banyak salahnya. Dan emang pengetahuan Hachi ini kurang jadi maafkan ya, lain kali Hachi bakalan memperbaiki kesalahan Hachi. :) terima kasih atas masukan dan catatan yang sudah Lovely-san berikan. Akan saya masukan ke catatan yang harus Hachi ingat xD

HiSa Pyon : hehe iya nih otak kemarin abis konslet. Kisah cinta SasuHina di chapter ini sebenarnya gak seberapa kelihatan. Soalnya disini lagi Hachi buat chapter tenang dimana nanti di chapter berikutnya akan muncul konflik lagi, kalo Hachi bisa begadang nanti … Mungkin aku bakalan update kilat ;) oke masalah Neji, hahaha sumpah saya menertawakan diri saya sendiri yang dengan nistanya membuat Neji ikutan menderita. Oke sedikit bocoran saja ya … untuk HiSa dan semua yang membaca review ini. Huft #tarik napas# pair yang Hachi gunakan disini adalah SasuHinaNeji dan ItaHanaGaa, untuk SaiSakuNaruIno [Naruto muncul chapter depan] belum kepikiran buat Hachi enaknya dibuat apa. Haha iya, sama-sama HiSa-san, Hachi juga makasih udah mau mampir dan ngereview. Iya sebisa mungkin saya usahakan.

Chibi beary : hehehe, iya Sasuke udah suka sama Hinata ini :) tapi maaf ya disini agak ambigu karena Hachi membuat chapter tenang (halah bilang aja kalo kehabisan ide) untuk chapter depan yang bakalan muncul konflik lagi :) biar kesannya konflik itu gak numpuk dan gimana gitu makanya ini Hachi buat begini. Maaf jika banyak yg tidak suka. Haha, Sasori lucu ya? Terima kasih sudah menyukai chapter ini. Masalah Hanabi dan Hinata yang di pisahkan ke luar negeri kayaknya gak bisa deh, beda kerajaan aja udah kangennya kayak gitu, apalagi luar negeri … kasian Itachi nya aku xD kasian kalo mau berkunjung harus melewati gunung turuni lembah #nyanyi lagu ninja hatori# #ditabok. Hinata dan Hanabi mulai baik disini sebagai saudara. Belum, Hanabi belum bisa menerima Hinata sebagai kakak yang baik walaupun dia pengen. Gimana ya … ? kesannya kayak belum bisa nerima dengan frontal aja. Masalah Hanabi dan Itachi, kita lihat kedepannya saja ya :) aduh masalah SasuHina kissu itu ah! xD

Nyanmaru desu : iya nih Nyanmaru-san, mungkin jika berhasil nanti Hachi usahain lagi. Iya semacam drama kolosal seperti itu. Nanti bakalan lebih banyak adegan seperti jika sempat. Terima kasih sudah menyukai ini, iya tidak apa-apa. Sudah mampir pun saya sungguh sangat senang. Iya terima kasih.

Riz riz 21 : hahaha situ aja doki doki pas baca apalagi aku yang ngetik Riz-san xD . iya lagi mau update kilat nih. Ini chapter tenang, masalah konflik bakalan muncul di belakangnya lagi setelah ini. Semacam ujian yang sehari sebelum hari H ada hari tenang, Hachi ngebuat ini sebagai chapter tenang karena sebisa mungkin chapter depan bakalan sedikit banyak konflik. Terima kasih atas pujiannya :') bahkan mampirpun kamu masih sudi, terima kasih. Maaf ya jika chapter tenang ini agak jelek. Terima kasih Riz-san, saya akan bersemangat lagi :)

Momiji : iya Hachi juga doki doki ngetiknya waktu itu.

VilettaOnyxLV : terima kasih atas pujiannya. Ah fiksi milik Yuko-san itu ya? Ah, Hachi jadi ngerasa gak enak dan bersalah nih sama Yuko-san :( maafkan. Iya Hachi sudah mengupdate ini. Akan saya usahakan untuk update.

Ore : Ore-san, j-jangan begitu #tepar. Ini ngetik kayak gitu aja sudah deg-degan. Apalagi kalo nambah … bisa-bisa ini lautan darah karena mimisan. Tapi terima kasih sudah mampir.

Kertas biru : terima kasih Kertas-san, maaf jika chapter tenang ini membuatmu kecewa :') kehabisan ide saya makanya saya sedikit buat chapter tenang seperti ini. Hachi dapet ide gini darimana ya? Hmm, jujur saya punya kebiasaan buruk untuk nyari ide. Biasanya saya cari ide di kamar mandi -_- #aib# ini beneran loh, Hachi gak bohong. Aku sering bolak balik ke kamar mandi yang dikiranya sakit perut, padahal cari ide. Dan idenya itu juga yang kurang ajar nyamperin Hachi. Kadang pernah pas mau mejemin mata, idenya baru muncul. Terima kasih sudah menyukai ide gila saya :') haha iya emang bagian mereka berempat pas kissu itu buat aku meledak.

Debu : iya Debu-san, semuanya juga doki-doki.

Yuka : iya Yuka-san, Sasuke cintanya sama Hinata :) daripada cintanya sama aku, ntar aku babak belur di hajar banyak orang xD #ditabok

J vickovie : iya nih J-san, Neji saya buat jomblo meskipun rancangan pair bakalan Hachi buat seperti di atas. Terima kasih sudah memendam rasa penasaran anda :)


[Author Note]:


Maaf ya ini sepertinya terlihat mengambang dan mulai tidak jelas. Saya akan perbaiki lagi chapter depan. Saya lagi merasa bosan nih soalnya lagi banyak tugas di sekolah, makanya ide gak muncul-muncul buat ngetik..

Hint protagonis nya udah muncul [baru] nih di chapter ini, mungkin sudah bisa di tebak jalan ceritanya bakalan kayak apa kali ya..? -_- oke saya mengerti hehehe :) entahlah bagaimana cerita ini bakalan berjalan kedepannya. Kita biarkan saja jemari ini menari menentukan nasibnya. #plak.

Tidak basa-basi lagi, maafkan jika ini kurang sempurna. Saya akan kembali di lain waktu dengan perbaikan, sampai jumpa di chapter depan :)