Hai nama saya mella, cukup panggil mella-chan #plak. Ini ff pertama saya yang kuharap bisa saya publish hahaha,pairing yang saya ambil ini dramione .
Hemm ini ceritanya tahun ketujuh sebelum perang harpot dkk di hogwarts, Dumbledore belum mati dan dramione jadi kepala murid. Setengah AU setengah canon (?)
Disclaimer : Harry Potter punya tante JK Rowling ,saya cuma pinjem karakter nya
Warning : cerita gaje,EYD ancur ,dont like dont read,ooc, summary gak mutu, kata-kata kasar, disini masih rate T XD
Summary : Hermione dan Draco menjadi ketua murid, bagaimana kehidupan mereka,apakah mereka bisa saling menghargai kehadiran masing-masing?
Sadness of love
Hampir selama dua minggu sejak kejadian 'itu' , pasangan ketua murid kita menjadi manusia tembus pandang, setiap harinya mereka tidak pernah berbicara. Mereka menganggap satu sama lain tidak ada, aneh memang tidak ada adu mantra, tidak ada lontaran kata, tidak ada perebutan kamar mandi ataupun , setidaknya itu yang dirasakan Hermione, awalnya ia merasa senang dengan keadaan ini, dia bisa tenang tanpa ganguan Draco, tapi nyata nya Hermione merasa sedikit kehilangan walaupun ia enggan untuk menarik nafas panjang, pelajaran tela'ah mugle sangat membosankan,bahkan Harry tampak menahan kantuknya sedangkan Ron sudah ke alam mimpi. Sebenarnya tanpa perlu dipelajari pun Hermione sudah mengetahuinya karena dia penyihir dari dunia mugle. Hermione melirik ke arah bangku kosong samping Blaise, biasanya Draco duduk disana sambil menyeringai mengejek ke arahnya, tapi tidak sekarang, hari ini Draco tidak hadir mungkin ini ketiga kalinya ia tidak mengikuti kelas pelajaran pun usai, Hermione segera melangkahkan kakinya keluar kelas bersama Harry dan Ron, hingga akhirnya sebuah suara menghentikan langkah mereka semua.
"Granger !"
"Zabini?"
Hermione mengerutkan kening heran mengetahui bahwa yang memanggilnya seorang slytherin, sementara itu Harry dan Ron sudah mengambil sikap waspada.
"Hei hei Potter, Weasley tenang aku tidak mengajak kalian ribut kan?"
Ucap Blaise sambil menyeringai, Hermione hanya mendengus melihatnya 'kenapa sih slytherin itu suka menyeringai' batinnya.
"Lalu kau mau apa?" tanya Ron tanpa mengurangi kewaspadaannya.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada Granger"
"Kalau begitu tanyakan saja sekarang"
Ucap Ron mulai tidak sabar, sepertinya dia tidak suka berlama-lama didekat slytherin.
"Tidak akan, jika kalian masih disini , aku hanya ingin bicara pada Granger"
Blaise mengatakannya dengan nada mengejek membuat, Harry dan Ron naik darah, Ron hampir merapalkan mantra untuk Blaise, tapi untungnya Hermione mencegahnya.
"Cukup Ron, jangan hiraukan dia, dan kau Zabini kau menang, guys kalian ke aula saja duluan, nanti aku menyusul"
"Ya ya baiklah".
"Baik kau mau bertanya apa padaku?" tanya Hermione setelah Harry dan Ron benar-benar menjauh.
"Kau tahu dimana Draco? sudah beberapa hari ini dia sering menghilang, padahal pertandingan quidditch kami sebentar lagi"
"Aku tidak tahu, lagipula dia kan temanmu seharusnya kau lebih tau dimana dia, dibanding aku"
"Dia memang temanku, tapi aku bukan pengasuhnya yang mengetahui dia ada dimana, lagipula kau kan teman sekamarnya"
Hermione bergidik mendengar ucapan Blaise yang benar saja teman sekamar, itu benar-benar kata berkonotasi buruk.
"Dengar Zabini aku tidak tahu dia dimana, bahkan kami saling tidak berbicara selama beberapa minggu ini, dan satu hal yang harus kau ingat jangan katakan kami teman sekamar, itu terdengar mengerikan"
Mendengar ucapan Hermione yang berbicara dalam satu tarikan nafas membuat Blaise melongo, 'ternyata benar yang dikatakan Draco' pikirnya.
"Baiklah sudah tidak ada hal penting lagi yang perlu kita bahas, aku pergi"
Hermione melangkahkan kakinya pergi tanpa meminta persetujuan Blaise, tapi baru beberapa langkah Blaise memanggilnya lagi, dan dibalas dengan tatapan apa-lagi?.
"Tadi aku lihat kau melirik kursi Draco, kurasa kau merindukannya hahaha"
Blaise tertawa senang melihat raut kesal Hermione yang langsung pergi sambil menggerutu setelah dia mengatakan itu, 'lumayan hiburan' batin Blaise. Hermione melangkahkan kakinya dengan kasar sambil mengerutu tidak jelas, 'bodoh, aku tidak sadar kalau Zabini melihatku' rutuk Hermione.
"Mione kau kenapa? kau diapakan oleh si Zabini?"
Harry langsung menyerbunya dengan pertanyaan saat Hermione duduk di kursi panjang.
"kalaumphh kau diapha-aphakan oleh ular itcuu ktakann saja puada kami"
Hermione berjenggit jijik melihat Ron yang berbicara saat mengunyah.
"Telan dulu Ron makanannmu, aku tidak diapa-apakan oleh Zabini, jadi kalian tenang saja"
Harry hanya mengangguk menanggapi pernyataan Hermione dan Ron langsung melanjutkan makannya. Sekali lagi Hermione melirik ke barisan slytherin, tidak ada Draco disana, perasaan penasaran muncul dihati Hermione tentang keberadaan Draco tapi langsung ia enyahkan dan memilih untuk mengisi perutnya yang sudah meraung minta diisi.
"Fokuskan pikiranmu Draco dan ucapkan mantra itu pada mangsamu!"
Suara dingin milik Lucius Malfoy bergema di Malfoy Manor membuat siapa saja mungkin ketakutan jika mendengarkan suaranya , begitu juga dengan berusaha keras menahan ketakutannya, keringat mengalir deras dari dahinya, tongkatnya ia julurkan kedepan, tapi mulutnya tetap diam tidak mengucapkan satu mantra pun. Melihat putra semata wayangnya diam saja membuat Lucius naik darah.
"CEPAT BUNUH DIA DRACO ATAU KU CRUCIO KAU!"
Draco tetap diam, tapi tubuhnya gemetar hebat , batinnya bergejolak , 'aku tidak mau membunuh, aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh, aku.. aku..' kata-kata itu berputar-putar diotaknya, haruskah dia membunuh untuk membuat ayahnya bangga, dia tatap sesosok peri rumah yang berada tak jauh dihadapannya. Peri rumah yang sudah lama melayani keluarga Malfoy, haruskah Draco mencabut nyawa peri rumah sebaik Draco menjadi tidak menentu, 'ayah-maria, ayah-maria, ayah-maria'.
Perlahan Draco menurunkan tongkatnya,
"aaayah maafkan aku, aku-aku tidak sanggup melakukannya"
Ucap Draco ketakutan, mendengar perkataan Draco tentu saja membuat Lucius murka.
"DASAR ANAK PENGECUT, AKU TIDAK MEMBESARKAN KAU UNTUK JADI PENGECUT, CRUCIO"
"ARRRRRGGGGGHHHH"
Draco menjerit kesakitan, dia langsung ambruk meringkuk merasakan sakit yang luar biasa. Kejadian itu begitu cepat, Draco belum sempat menghindar dari mantra kutukan yang ayahnya ucapkan, melihat putra kesayangannya menjerit kesakitan, Narcissa langsung berlari memeluk Draco sambil menangis.
"Cukup Lucius cukup hentikan, jangan sakiti Draco, dia tidak salah, apa salahnya dia memilih untuk tidak menjadi pembunuh"
Tangis Narcissa semakin menjadi saat Draco berteriak kencang menahan kesakitannya untuk yang kesekian kalinya.
"TIDAK CISSA, ANAK ITU HARUS DIBERI PELAJARAN AGAR TIDAK JADI PENGECUT YANG MEMUAKKAN"
"HENTIKAN LUCIUS HENTIKAN, DIA ANAK SEMATA WAYANG KITA, DIA ANAKMU LUCIUS, AKU MOHON HENTIKAN, JANGAN SAKITI ANAKKU"
Narcissa mengatakan hal itu dengan histeris, sambil tetap memeluk erat Draco, ibu mana yang tega melihat anaknya tersiksa, terlebih lagi itu karena perbuatan ayanya. Sedangkan Lucius hanya diam memandangi Draco yang masih kesakitan, matanya kini beralih pada Narcissa yang sedang menangis, akhirnya Lucius pun menghentikan kutukannya, dan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
Draco sudah berhenti menjerit, dia berusaha untuk duduk, dan rasa sakit kembali menyerang tubuhnya.
"Pelan-pelan Draco"
Ucap Narcissa lembut sambil membantu Draco duduk, "Tolong ambilkan obat untuk Draco, Maria"
"Ba-baik ma'am"
Maria segera pergi mengambilkan pesanan nyonya nya, sepertinya peri rumah itu masih ketakutan, terlihat sekali badannya masih gemetar, dan Draco hanya bisa menatap merasa bersalah.
Hening tidak ada pembicaraan antara Draco dan Narcissa setelah Maria datang membawakan obat, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Kau akan langsung kembali ke Hogwarts?"
"Yes mum, aku sudah bolos beberapa kali pelajaran hanya untuk kesini"
"Tapi badanmu masih lemah, dear"
Draco mengela nafas panjang, ia tahu ibunya sangat mengkhawatirkannya tapi disatu sisi ia harus kembali ke Hogwarts, besok pertandingan quidditch antara slytherin dan ravenclaw.
"Mum tenang saja, aku baik-baik saja"
Draco berusaha meyakinkan ibunya, dan Narcissa menangkap pesan tersirat itu dari Draco.
"Baiklah"
Narcissa menyerah, kekeras kepalaan Draco tidak bisa diganggu gugat. Saat Draco hendak menggunakan bubuk flo, Maria memanggilnya.
"Tn. Draco, terimakasih"
Draco hanya menoleh sebentar, "Tolong jaga ibu ku", setelah mengatakan itu Draco pun menghilang dari balik bubuk flo.
Hari sudah sore ketika Draco sampai di Hogwarts, tempat yang pertama ia tuju adalah ruang ganti slytherin, ia yakin teman-temannya sudah berkumpul untuk latihan, dan ternyata tebakan Draco benar.
"Ah akhirnya kau datang juga Draco"
Mendengar ucapan Shane, semuanya pun menoleh ke arah Draco, semuanya bernafas lega akhirnya kapten mereka datang juga setelah beberapa hari menghilang dari peradaban hogwarts.
"Well besok pertandingan kita dengan ravenclaw, aku harap kalian sudah bisa taktik penyerangan yang sudah kita buat, jangan remehkan ravenclaw, ayo ke lapangan"
Yang lain hanya mengangguk setuju mendengar khotbah dari kapten mereka, dan segera pergi ke lapangan.
"Drake"
Merasa nama nya dipanggil Draco pun menoleh dan melihat Theo yang menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?"
Tanya Theo to the point, wajar jika Theo bertanya seperti itu melihat penampilan Draco yang pucat, dan terdapat luka memar yang meskipun sudah ditutupi oleh mantra pemulihan tetap saja terlihat, dan terlebih Theo memiliki kemampuan dibidang kesehatan jadi percuma saja, mantra pemulihan itu tidak membantu banyak menipu Theo.
"Aku baik-baik saja"
"Aku harap begitu, besok kita tanding, jika kau sakit, mental tim kita akan down"
Ucap Theo sambil menepuk bahu Draco dan berjalan mendahuluinya.
Langit sudah gelap, tidak terasa tim slyterin sudah menghabiskan tiga jam hanya untuk latihan, mereka semua sudah tampak kelelahan, keringat mereka mengucur deras dan nafasnya tersenggal-senggal terlebih lagi mereka melewatkan makan malam.
"Hei Mate kurasa latihan cukup sampai disini, kita semua sudah kelelahan"
Draco mengedarkan pandangannya pada seluruh timnya, 'Blaise benar, mereka harus menyisakan tenaga untuk besok' batin Draco
"Baik, latihan cukup sampai disini, siapkan tenaga kalian untuk melibas ravenclaw besok"
Semangat tim pun kembali datang saat Draco mengatakan hal tadi, mereka semua pun kembali ke ruang ganti untuk membersikan diri mereka.
Hermione sedang asyik menulis essay aritmatchy nya di ruang rekreasi sambil mengemil beberapa kudapan. Hermione mendengus ketika teringat dia dan Draco harus merapalkan mantra hanya karena berebut kudapan, rasanya sudah lama sekali tidak bertengkar dengan Draco , dan seperti ada yang hilang di ruangan ini.
Ah dan jangan lupakan juga karena Ferret albino itu menghilang entah kemana Hermione harus bekerja ekstra mengurus rapat prefek, 'aku harus buat perhitungan' janji Hermione.
"Kecoa busuk"
Terdengar suara orang memanjat dinding asrama yang Hermione yakini sebagai Draco, 'panjang umur' batin Hermione.
Draco berjalan masuk dengan sedikit sempoyongan, keringat mengalir deras dari pelipis nya, padahal dia sudah berendam tadi di ruang ganti untuk menghilangkan gerahnya. Draco melihat Hermione menatapnya dengan garang, 'pasti dia mau meceramahiku' firasat Draco, ia pun mempercepat langkahnya untuk menghindari Hermione, dia terlalu lelah untuk mendengar ocehan Hermione hari ini.
"Aku ingin berbicara denganmu"
'oh shit' rutuk Draco, "Tapi aku tidak ingin bicara dengan mu Granger" Draco mendesis sinis.
" Kita harus bicara , kau tau Ferret..., ehm kau baik-baik saja?"
Tanya Hermione, dia melupakan segala keamarahannya setelah melihat kondisi Draco yang aneh, sedangkan yang ditanya hanya diam. Draco merasa kepalanya berat sekali, dan badannya terasa aneh, semakin lama pandangannya mengabur dan...
Brukkkk
Draco jatuh pingsan dipundak Hermione, membuatnya panik seketika.
"Hei Ferret bangun, hei" Hermione segera membopong tubuh Draco ke sofa, ia langsung berlari menuju hospital wings untuk meminta bantuan madam Pomprey, ia terus berlari kencang tidak perduli dengan pandangan aneh dari orang-orang yang melihatnya, persetan dengat itu semua sekarang yang ada diotaknya hanya Malfoy!.
"Bagaimana keadaannya madam?"
Tanya Hermione setelah Madam Pomfrey selesai memeriksa keaadan Draco
"Dia mengalami demam yang sangat tinggi, keletihan yang luar biasa dan terdapat beberapa memar ditubuhnya, dia harus istirahat yang cukup, dan minum obat yang kuberikan, tetapi berhubung dia masih belum sadar, jadi kuharap kau mau menjaganya,dan jangan lupa kau mengompresnya dengan cairan yang kuberikan , kau mengerti Mrs. Granger?"
Hermione hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan panjang dari Madam Pomfrey, Setelah mengantarkan Madam Pomfrey keluar dari asrama, Hermione pun menjalankan tugasnya untuk menjaga Draco.
"Kau menyusahkan aku saja dasar Ferret-Albino"
Ucap Hermione saat dia sedang mengompres Draco, Hermione menyingkarkan anak rambut di kening Draco dan mengusapnya perlahan.
"Apa yang sudah kau lakukan bodoh sampai tubuhmu dipenuhi memar seperti itu"
Sekali lagi Hermione mengajak Draco berbicara walaupun dia tahu bahwa lawan bicaranya tidak akan menanggapi satupun perkataannya. Hermione tidak tahu apa yang ada dipikirannya, melihat Draco terkulai lemas seperti membuat hatinya terasa sedih. Dia berusaha menyangkal rasa itu tapi sepertinya tidak berhasil, bahkan tangan tergerak sendiri tanpa dikomando olehnya untuk mengelus rambut halus Draco. Hermione melirik jam yang terpajang didinding kamar Draco, 'pantas saja aku mengantuk , sudah pukul sebelas malam rupanya'
Hermione beranjak dari sisi Draco untuk kembali ke kamarnya, dia menoleh sekali lagi sebelum benar- benar menutup pintu kamar Draco.
"Good night Malfoy"
Setelah mengatakan itu Hermione pun mennutup pintu kamar Draco dan membiarkan sang pangeran slytherin itu tertidur nyenyak di kamarnya.
NB : Chapter 7 update hohoho, sebelumnya saya mau protes sama ff, di chap 6 kemarin saya udah menjauhkan spasi ceritanya eh pas di update malah spasinya ilang T-T , mumpung ada ide jadi saya bikin chap ini disela-sela waktu persiapan UN . Ada beberapa tokoh disini yang saya karang namanya,contohnya Shane dan Maria, gomennn karena saya gak tau nama-nama peri rumah dan tim Slytherin, di chap ini romance memang belum ada, soalnya saya mau menggambarkan perasaan Hermione yang merasa sedikit kehilangan Draco hehehe. Semoga suka ya sama chap ini, Untuk membangkitkan semangat saya tolong Review ya . Oh iya satu lagi Selamat Ulang Tahun Haruno Sakura, semoga Sasuke cepet balik #salahfandom
Occhan Malfoy : Makasih doanya :* , udah gak lama kan update nya? Hahaha , iya disini Lucius lagi memaksa Draco buat jadi pelahap maut hehehe
Rise Star : Monggo di follow :D, iya benci kan sama cinta kan beda tipis hahaha
Diya 1013 : Iya dia ngebunuh tapi binatang doang, Draco gak tega bunuh peri rumah, hemm sebenernya saya juga belum tau mau dibuat sad atau happy ending
Shizyldrew : Ya mereka gitu deh masih mengingkari kalau mereka sebenarnya saling suka hehehe
Depok , 28 Maret 2013
