Saat perasaan berbicara, apakah masih bisa membohongi diri? Sedih, senang, sayang, cinta, pilu, semuanya - bisakah ditutupi topeng sedatar tembok? Ditutupi strata tinggi yang menuntut kesempurnaan. Lagi lagi kasta punya peran.

Mengingkari rasa hati hanya akan mempersulit diri sendiri. Tapi tidak untuk sosok yang terbiasa dengan kepura-puraan. Namun untuk berapa lama? Selamanya kah?

Pesona indah takkan mudah dilupakan, apalagi sulurnya sudah menjejak relung hati. Menawarkan rasa yang tak bisa dipungkiri membuat sikap tak biasa.

:

:

FOOLISH

Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi

Story by Mel

Warning :

Typo(s), AU, Yaoi, DLDR, cover not mine, it's only fictitious

Please enjoy

:

:

"Ni nii-san, tolong aku, tolong jemput aku…" ucapnya diantara isakan, suaranya terdengar parau pada gawai kakak sepupunya, yang saat itu juga membelalakan mata kelabu dari tidur yang belum pulas benar, entah kenapa perasaannya sangat buruk malam itu.

"Tetsuya! dimana sekarang?" Chihiro segera menyibakkan selimutnya, mencatat alamat yang diucapkan Tetsuya dalam ingatannya. Ia mengenakan baju seadanya, menyambar jaket tebal untuk membungkus tubuhnya, suhu diluar sana entah minus berapa derajat, ia tidak ingin mati membeku sebelum bertemu adik kesayangannya.

Tidak mempedulikan hawa yang sangat menusuk dan langit gelap dengan bulan besar yang samar tertutup awan, ia jalankan kendaraan seperti pembalap yang perpacu mencapai garis finish. Tidak peduli bila kamera pemantau di jalan akan mencatat nomor platnya, lalu surat tilang akan sampai di tangannya. Sungguh ia tidak peduli. Tetsuya-nya lebih penting dari apapun di dunia ini.

Alamat itu tidak sulit dicari, berlokasi di tepi jalan raya, rumah bergaya Victorian paling mentereng. Kediaman konglomerat nomor satu di Jepang, tadi GPS langsung memunculkan titik lokasi di peta begitu diketikkan alamat yang dimaksud.

Kendaraan bercat silver berhenti di samping tempat tinggal yang paling luas di area itu. Menunggu di luar, seperti permintaan Tetsuya, sebenarnya ia ingin berlari menemui langsung adiknya.

Saat sosok mungil itu muncul dari pintu pagar besi, ia tak bisa melepas tatapannya. Ia ingin sekali memeluknya, bertanya apa yang terjadi, siapa yang telah tega menyakitinya. Kepala Chihiro pening diliputi bermacam pertanyaan, seperti benang kusut membelit erat keningnya.

Namun saat mata beradu pandang, tak satu pun kata yang mampu keluar dari bibirnya. Wajah sedih Tetsuya sungguh membuat hatinya sakit. Surai biru itu berulang kali menolehkan wajahnya ke arah bangunan besar, seolah ada yang tertinggal di sana.

Mata bening itu menyayatnya, luka tampak pada irisnya. Sungguh saat ini ia ingin sekali mendekap tubuh si kesayangan. Entah mengapa ia merasa sangat tidak berguna, tidak dapat melindungi adik kecilnya. Ia mengemudi dengan tenang berusaha meredam hatinya yang sakit. Tapi tidak ada sepatah katapun yang hadir diantara mereka.

Chihiro tahu satu pertanyaan darinya bisa membuat boneka porselen cantik itu pecah, maka ia hanya mengunci bibirnya. Menunggu.

Ia tahu Tetsuya tengah menata isi kepalanya, mungkin mencerna kembali apa yang baru saja terjadi.

Ya, memang seperti itu. Saat Sakurai Ryou menggandengnya ke belakang, tiba-tiba saja Kiyoshi Teppei memanggilnya, kepalanya masih sakit karena benturan, tubuhnya masih nyeri dibeberapa bagian dan kakinya masih gemetar.

Tatapan menusuk dari seorang pria paruh baya itu begitu menyakitkan, mata tajamnya seolah menguliti, di sampingnya calon tunangan tuan mudanya berdiri dengan gigi berderit dan kedua tangannya terkepal, siap untuk dihantamkan.

Tetsuya hanya mampu pasrah, berlutut, seperti pencuri yang tertangkap tangan. Disebelah kanannya Kiyoshi ikut berlutut, memohon ampunan untuknya. Dan berakhir dengan pengusiran dirinya. Malam itu juga harus enyah dari rumah besar itu. Tidak diijinkan untuk sekedar pamit pada tuannya.

Ia hanya seorang pelayan, semua kesalahan ditimpakan padanya. Apa yang akan terjadi pada tuannya? Bukankah dosa ini terjadi karena desakannya, berpuluh kali Tetsuya menolak, menghindar, tapi tetap saja semua terjadi diluar kendalinya.

Tatapan sendu Kiyoshi tidak ia pedulikan, hatinya kebas. Pun saat membereskan barang-barangnya dibantu Ryou, ia tak mampu menahan air mata yang tiba-tiba meluncur begitu saja. Yang terbayang hanya wajah ayu sang bunda. Ia benar-benar perlu kehadirannya, tapi mana mungkin ia berani menghubunginya.

Untuk beberapa lama ia hanya bisa terdiam di tepi ranjang kecilnya. Mencoba menguapkan nyeri. Hampir dua jam ia hanya berdiam, mansion besar itu sepi.

Diantara isaknya hanya Chihiro yang melintas di pikiran Tetsuya, ia tak mungkin pergi di malam buta begini, sendirian, tanpa tujuan.

Ia juga tak mungkin bertahan di sini setelah Tuan besar pemilik rumah mengusirnya. Sedangkan Kise Ryouta sudah pergi begitu semua kesalahan ditimpakan pada pundak kecilnya. Alasannya hanya tidak ingin menganggu Oji-san dan Oba-san yang baru datang, ia juga minta agar kejadian ini dirahasiakan dari Seijuurou. Tentu saja pemintaan calon tunangan anaknya langsung disetujui.

.

.

Semusim berlalu...

Rute utama dan tercepat menuju perusahaan milik Akashi Corporation memang melewati almamaternya, yang juga kampus Tetsuya.

Perguruan tinggi swasta ternama yang hampir seluruh mahasiswanya dari kalangan atas dan tentunya berotak diatas rata-rata. Kecuali mereka yang menerima beasiswa dengan syarat superketat, prestasi akademik mumpuni sejak high school, juga IPK tinggi dan mempunyai etika serta sopan santun, itu pun sangat dibatasi hanya sepuluh persen per-angkatan.

Setiap kali melintas ia akan melajukan kendaraannya perlahan, berharap dapat melihat sosok mungil itu. Tapi selalu diakhiri dengan dengusan kesal.

Hampir setiap hari, setiap waktu ia mempertanyakan perasaannya sendiri.

"Argghh, tentu saja aku suka Ryouta, dia tunanganku!" Ia memukul gagang stir.

Seijuurou membelokkan kendaraan ke sebelah kiri, jalan yang biasa gunakan ketika kuliah, setahun yang lalu. Jajaran bangunan masih sama. Pertokoan, kedai makanan, kafe-kafe, sepertinya tidak ada yang berubah.

Pemuda itu melintasi sisi lain kampusnya, jalur sebelah selatan ia hanya mencari suasana baru, ia jenuh dengan jalur yang itu-itu saja ia lalui.

Matanya membulat ketika sosok mungil yang begitu ia kenal tampak disana. Tetsuya tengah menyapu, membersihkan halaman sebuah ruko yang tidak kotor sama sekali.

Ia ingin memanggilnya, tapi harga diri tinggi mencegah ia melakukan itu.

"Apa perlunya aku menyapa pelayan rendah seperti dia. Pelayan kafe kecil, masih mending di mansionku yang luas." batinnya.

Tapi entah mengapa setiap hari ia selalu mengambil jalur itu. Bahkan saat pulang bekerja, kepala merahnya selalu ditolehkan ke arah kafe mungil yang terlihat bersuasana hangat.

Ada sengatan-sengatan listrik bertegangan rendah di dadanya ketika ia melihat tangan pemuda lain tersampir di bahu mungil. Entah yang bersurai kelabu atau oranye, saat pagi menuju kampus.

Tetsuya sepertinya sangat disayangi kedua pemuda itu. Ia terkadang jengah ingin menarik tangan-tangan asing dari tubuh Tetsuya.

Semakin hari semakin tidak karuan. Ia kadang menepuk dahinya sendiri, apa yang terjadi dengan dirinya?

Ia kaya, mapan, tampan, bahkan akan bertunangan dengan seorang model internasional, apa karena hubungan jarak jauh? Bukan! ia bebas pergi ke NY kapan pun ia mau – walaupun belum pernah sekalipun, ia tidak merasa perlu. Begitu juga dengan kekasihnya yang hampir setiap waktu menghubunginya.

Ia tidak bisa melupakan wajah cantik, tubuh mulus serupa porselen, mungil dan sangat nyaman untuk dipeluk. Semua yang pernah dilakukannya pada Tetsuya, termasuk saat wajah cantik itu mengerang, berpeluh bersama.

Kembali ia menyangkal. Ia cuma pelayan yang bebas aku gunakan. Benar kan?

.

.

Seijuurou mendudukan dirinya di sudut kafe kecil itu, di meja panjang dengan kursi tinggi, ia berusaha untuk tidak mencolok dan berbaur dengan pengunjung yang lainnya.

Seorang waiter menghampirinya, mencatat pesanan sejenak, dan berlalu. Tempat ini penuh ketika sore hari.

Lampu-lampu gantung silinder berbahan aluminium menyorotkan sinar kekuningan yang melapisi seluruh isi kafe mungil itu. Memberi kesan hangat dan cozy, diiringi alunan musik lamat, instrumen yang familiar dengan telinga pengunjungnya.

Di luar, musim semi mulai meluruhkan salju, basah di mana-mana tetapi terasa sangat sejuk. kuncup sakura sudah siap membuka keindahannya. Begitu juga wajah-wajah dewasa muda hadir di tempat itu, memancarkan energi baru setelah musim dingin berlalu, sungguh pemandangan yang indah.

Sepasang mata dwi warna menelusur semua mahluk disana, bahkan para pelayan pun tak luput dari tatapannya. Termasuk seorang dibalik meja kasir, pemuda bersurai oranye, dengan wajah yang selalu mengumbar senyum, Seijuurou sebal melihatnya.

Lantas dimana pelayan mungil yang seringkali memenuhi isi kepalanya?

Coklat hangat dan sepotong roti bakar dengan parutan keju tengah dihidangkan ketika gemerincing pintu terdengar, sosok biru dan kelabu masuk, tangan mereka bergandengan. Melintas ruangan itu, Seijuurou melihat Tetsuya memberikan sesuatu pada si kasir, wajah ceria pemuda itu nyata memperlihatkan kegembiraan, tangannya mengacak pelan surai biru dengan sayang.

Lalu keduanya berbalik, mereka menyapa beberapa pelanggan yang tengah menikmati kudapan.

"Kuroko-chan, selalu saja manis!" suara seorang gadis terdengar, disusul suara tawa kecil diantara mereka. "Mayuzumi-san juga, sangat tampan!" suara yang lain.

'Interaksi macam apa itu? Apa mereka sepasang kekasih?' dahi Seijuurou berkerut. Belum lagi kasir itu, ia melihat keduanya menaiki tangga ke lantai atas, lalu disusul si kasir, setelah menyerahkan meja dengan komputer dan mesin hitungnya ke seorang pelayan lain.

'Apa yang mereka lakukan di atas?' Pikirannya kotor, tiga orang pemuda? Apa yang dilakukan mereka di atas sana? Tiba-tiba saja ia merasa muak.

"Siapa pemilik kafe ini?" tanya Seijuurou pada pemuda bersurai almond saat membayar, dengan hangat ia menyebutkan dua nama owner kafe itu.

.

.

Tanpa merasa canggung Chihiro menyampirkan lengannya pada bahu mungil. Hari ini, di bawah mekarnya sakura, dia senang sekali bisa pergi ke kampus dengan sang adik. Walaupun hal ini sudah berulang kali ia lakukan. Tak bisa dipungkiri hatinya berdesir.

'Aku ingin sekali egois, ingin memilikinya, sebelum Tetsuya dimiliki orang lain,' tapi bukankah dia sudah melakukan 'itu' dengan Shigehiro, kalau saja waktu bisa diulang. Aah, betapa bodoh dirinya.

Namun tidak dengan seorang pemuda yang berdiri di depan gedung perpustakaan, lengannya terlipat di dada. Menyorot tajam pada dua entitas yang mendekat. Tetsuya tak sempat menghindar.

"Tetsuya, aku ingin bicara!" suaranya terdengar tajam.

"Tidak bisa, ia ada kuliah dan harus segera masuk kelas." tukas sosok yang lebih tinggi, ketus.

"Aku tidak bicara padamu." Tatapan iris beda warna menusuk tepat pada mata kelabu.

"Aku tida-" belum selesai ucapannya tangan kecil itu ditarik paksa, lepas dari rangkulan sang kakak.

"Tetsuya harus masuk kelas!" nada marah dengan picingan mata ke arah sosok pendek bersurai merah.

Keduanya saling beradu tatap, seolah ada tumbukan laser dari dua pasang mata merah dan kelabu. Satu dingin membekukan satu lagi panas melelehkan. Berbenturan.

"Tidak apa nii-san, aku pergi sebentar." Yang jadi rebutan berusaha menengahi.

Tiga garis tercetak dibawah surai kelabu, tidak terima.

"Nii-san..." lengan kecil kembali ditarik, hampir saja terjerembab.

"Ikut aku Tetsuya!" langkah panjang-panjang membuat Tetsuya sulit mengimbangi. Seijuurou membawanya ke pelataran parkir. Raut penuh tanya melekat pada wajah para mahasiswa yang mengenali alumni terbaik itu.

"Masuk!" saat pintu mobil dibuka.

"Seijuurou-sama..." mata bulat indah itu menatap mantan tuan mudanya.

"Masuk aku bilang!" suaranya semakin meninggi. Tetsuya hanya bisa mengerjap lalu menuruti perintah.

Pemuda mungil itu tidak berani menatap pria disampingnya, aura marah tampak nyata.

Mata biru itu hanya ia arahkan pada lututnya, bibirnya bungkam.

"Mengapa kau lakukan ini padaku, Tetsuya?" Suaranya tanpa intonasi, bahkan tanpa menoleh.

Iris biru hanya melirik pada tangan yang mencengkeram tuas persneling. Ia gigit bibir bawah.

"Apa sekarang kau bisu?" Sinis sekali.

"Maaf Seijuurou-sama," ucapnya lirih.

Mobil itu masih tidak bergerak, malah mesinnya pun belum menyala.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, kau bukan pelayanku lagi!" nadanya masih saja tinggi.

Kepala merah menoleh ditatapnya wajah rupawan, yang masih saja menatap lutut.

"Katakan mengapa kau tiba-tiba pergi!" Seijuurou menuntut jawaban. Namun Tetsuya hanya menggeleng.

"Itu sudah lama sekali. Saat itu saya pikir sudah waktunya saya berhenti, saya harus lebih serius lagi belajar." Kening Seijuurou berkerut. "Aku tidak pernah menghalangimu untuk kuliah dan belajar!" seru Seijuurou.

"Saya hanya akan mengganggu kenyamanan Kise-san, apalagi Kise-san dan Seijuurou-sama akan bertunangan." Ucap Tetsuya datar. Mata berbeda warna membola. Ia tatap wajah yang tetap menunduk. Ia tahu Ryouta tidak suka padanya. Reaksi Ryouta terkadang berlebihan saat ia memberikan perhatian kecil pada Tetsuya.

"Kau tahu apa kesalahanmu, Tetsuya?" suara Seijuurou sangat dingin. Kepala bersurai biru itu mengangguk. "Maaf, saya tidak meminta ijin dan tidak pamit pada Seijuurou-sama." Suaranya lirih. Tapi Tetsuya tetap menolak menjawab ketika didesak untuk penyebab lain mengapa ia berhenti bekerja.

"Selamat untuk pertunangannya, semoga bahagia, saya undur diri, Tuan." Tetsuya keluar dari kendaraan yang saat lampau sering mengantarnya ke kampus.

.

.

Perayaan pertunangan antara Kise Ryouta dan Akashi Seijuurou dilangsungkan dalam pesta yang meriah. Sosok tinggi pirang itu sangat ingin mengikat pewaris tunggal keluarga Akashi, meresmikan hubungan dengan kekasihnya. Tanpa tahu apakah mereka benar-benar saling mencintai - apakah Seijuurou mencintai Ryouta?

Akashi muda melangkah keluar dari ruangan yang dipenuhi orang-orang yang merayakan kebahagiannya. Namun ia merasa ada sepi menyusupi hati, dari satu sudut ia seolah mengabsen pria-pria berbalut seragam hitam putih pelayan. Satu yang ia cari. Dia memang tidak ada lagi, keluhnya.

Logam yang melingkar di jari manisnya dipandangi. Ini bukan pilihannya sebenarnya, hanya saja dua keluarga sudah sepakat untuk menjalin ikatan.

Kalau saja Tetsuya bukan seorang pelayan pasti ia akan memperjuangkan. Bagaimana pun ia tidak mungkin mencoreng nama besar keluarganya dengan menjalin hubungan dengan yang bukan selevel dan derajat yang sama.

.

.

"Itu cuma tuntutan peran ssu, Akashicchi jangan percaya, lagian itu cuma settingan, kau harus percaya cuma Akashicchi kekasihku, ssu!" suatu saat ketika Ryouta menghubunginya. Seijuurou sebenarnya tidak peduli akan kabar yang berhembus di NY sana, dan sampai di telinga bundanya.

Kabar tentang kedekatan seorang model internasional dengan pemain basket profesional, keduanya berasal dari Jepang, Kise Ryouta dengan Aomine Daiki.

Akashi Shiori sempat meradang dengan kabar tersebut, ia bukanlah ibu-ibu bigos – biang gossip, yang mengurusi kehidupan pribadi para selebritis, tapi ini menyangkut nama keluarganya. Calon menantunya.

Seijuurou menenangkan bundanya, ia menyampaikan apa yang didengar dari tunangannya, namun sebagai salah seorang sosialita, Shiori punya jaringan yang luas. Ia memantau semua kegiatan calon menantunya.

Keluarga berkelas mereka menjodohkan keduanya, dan tanpa ambil pusing Seijuurou menyetujui, pilihan orang tua pasti pilihan yang tepat, begitu pikirnya. Walaupun ia tak yakin dengan perasaannya sendiri.

Bahkan meski mereka tidur bersama, Seijuurou tidak pernah mempunyai keinginan untuk menyentuh Ryouta, yang ada dirinya dipeluk seperti guling.

Terkadang ia pun risih saat dikecupbasahi si model.

Dulu, saat Tetsuya masih ada, seringkali ia ingin Ryouta segera pergi, agar bisa dengan leluasa memeluk pelayan mungil itu. Terkadang ia mencuri waktu untuk bisa mengecup wajah rupawan, melumat bibir ranum saat tertidur di atas tumpukan buku pada meja belajar di perpustakaan. Atau hanya sekedar menatapnya dari kejauhan.

Ia sempat ingin meremat coretan tangan Tetsuya. Ia marah, 'apa kau hendak pergi meninggalkanku, Tetsuya?' batinnya saat membaca deretan serupa daftar belanjaan mulai dari biaya sewa kamar apartemen, transport, dan semua keperluan yang harus dipenuhi mahasiswa yang akan nge-kost.

Seringkali ia melihat lelehan air bening di pipinya, membuatnya merasa sangat bersalah, rasa nyeri menjalari setiap sudut relung hatinya. Tetsuya, andai saja kondisi kita tidak seperti ini.

Sampai kapanpun ia tak yakin bisa melupakan Kuroko Tetsuya. Ia sangat menyukai saat pipi putih itu bersemu merah, mendengar gerutuan saat ia menggodanya. Ia bahagia saat melihat bibir itu mengerang penuh nikmat. Semua. Semuanya sangat ia sukai dari sosok kecil Tetsuya.

Hanya untuk menutupi luka hatinya ia selalu membacakan mantra bahwa Tetsuya hanya pelayan yang harus melayaninya.

Hanya pelayan!

.

.

tbc

.

.


Note :

Hello readers...

Terimakasih sudah berkenan membaca, mem-follow, favoritkan cerita ini C:

Terimakasih untuk yang sudah komen...maaf kalau tidak sesusai harapan... _/\_

Terimakasih juga kalau sudah ikutan galau bareng Mel...heuheu...

.

Tons of love

Mel~