Astagfirullooooohhhh~
Sepertinya saya sudah lama tak menyentuh fict satu ini? MAAPPPPPPP! xDD Ini saya update sekarang meski tetep gak panjang-panjang. Oh! Sok langsung dibaca saja ya, fict aneh ini. Nyaha~
[CHAPTER 7]
.
Donghae tetap menundukkan kepalanya, tepat di hadapan seorang penasihat terpercaya Leeteuk, yang baru saja menyodorkan beberapa kertas resmi padanya. Leeteukpun ada, duduk di sampingnya.
"Kau hanya tinggal tanda tangan disini," ucap Leeteuk pada Donghae. Sayang, matanya hanya tertuju pada lembaran di tangannya, bukan pada Donghae, yang sepertinya enggan mendengarnya. "Disini juga, Kyu.." ucapnya lagi, setelah beralih pada lembaran lain.
Ada banyak surat. Tentang pengukuhan Donghae, sebagai anggota keluarga Park, dengan nama Park Kyuhyun. Yang mana di mata Leeteuk, hanya marga saja yang ia rubah. Marga Cho, menjadi Park. Benakah? Nyatanya ia salah mengira, karena yang ia rubah adalah, nama Choi Donghae menjadi Park Kyuhyun. Benar-benar merubah, baik itu nama, ataupun orangnya.
Kali ini, Park Jungsoo benar-benar bodoh!
"Hyung.." sela Donghae setelahnya dalam nada gusar yang begitu kentara.
Leeteuk tersadar, dan akhirnya menatap Donghae, yang dimatanya adalah Kyuhyun. "Kenapa Kyu?" tanyanya. "Kau sudah terlalu mengarang banyak alasan. Kali ini harus di selesaikan! Kami harus mencantumkanmu pada nama keluarga dengan resmi, agar salah satu saham bisa kau pegang!" desak Leeteuk serius kali ini.
"Tapi," sergah Donghae.
"Tanda tangan, sekarang!" paksa Leeteuk. "Ini demi kebaikanmu, Kyuhyun! Kau tak tahu betapa sulitnya aku menanggung semua ini sendiri!" omel Leeteuk akhirnya.
"Bukan begitu, hyung! Ini, aku bahkan tak mengerti," ucap Donghae mengacungkan beberapa lembaran penentu masa depannya tersebut.
"Awas robek!" peringat Leeteuk.
"Aku tak merobeknya," bantah Donghae malas. Leeteuk terlalu berlebihan di matanya.
Leeteuk merebut kertas di tangan Donghae dengan hati-hati lantas menyimpannya di atas meja. "Kau akan mengerti nanti, Kyu! Tenanglah, aku ada di sampingmu," tutur Leeteuk.
Donghae menghela nafasnya dalam, serta menghembuskannya perlahan. Tak ada lagi yang mampu ia perbuat.
"Kau harus tanda tangan!"
Leeteuk kembali memaksanya, dengan sangat tegas bahkan telah memberinya sebuah pulpen. 'Tak bisa lagi, apa boleh buat,' pikir Donghae.
Di detik yang sama, datang salah seorang pembantu dengan nampan berisi beberapa orange juice lantas meletakannya di atas meja. Donghae tersenyum di buatnya. Maka dengan kemantapan hati, ia bergegas menggenggam pulpen yang diberikan Leeteuk. "Baiklah! Baiklah kutanda tangani sekarang, berikan padaku," ucap Donghae selanjutnya, lantas berdiri untuk mengambil kertas yang agak jauh darinya, Namun..
Brak.
"Ya, Kyuhyun!" pekik Leeteuk, saat melihat Donghae menyenggol gelas berisi cairan kuning tersebut, lantas mengotori seluruh kertas disana. "Ya ampun!" Pekik Leeteuk tertahan. Hancur sudah untuk hari tersebut..
...
"Aku hanya belum siap," ucap Donghae pelan, sambil mencoba memainkan ujung kain piyama yang tengah dikenakannya. Tak sekalipun ia mampu, atau sekedar mencoba menatap wajah seseorang yang kini ada di hadapannya.
"Ayolah, little Choi! Sejak kapan kau menjadi sebodoh ini, huh? Kesempatan sudah ada di depan matamu, tapi kau mengabaikannya!" rutuk seseorang di hadapan Donghae kini. Saudara tertuanya, Choi Siwon.
"Tapi ini terlalu cepat, hyung! Aku tak bisa.." elak Donghae kemudian.
"Apanya yang tak bisa, hn? Kau tinggal tanda tangan saja!" desak Siwon tak ingin kalah.
"Aku tak bisa memegang saham itu! Aku tak mengerti!" rengek Donghae. Namun,
"Alasan!" tukas Siwon dengan cepat. "Kau tahu persis, kita tak harus menjalankannya! Kita, hanya akan merebutnya lalu membuangnya begitu saja! Hanya membuat, sisa anggota Park terpuruk dalam kehancuran, Hae!"
Donghae diam. Tentu ia tak lupa akan hal tersebut. Tapi keadaan merubah segalanya. Niatnya, juga Hatinya. "Entahlah hyung. Biarkan aku berfikir dulu sebentar," ucap Donghae.
Namun Siwon enggan mendengar. Ia cengkram kuat lengan Donghae, membuat sang adik sedikit merasa tertekan akan hal tersebut. "Jangan buang-buang waktu lagi, Hae! Kebohongan tak akan bertahan lama!" desak Siwon.
"Tapi.."
"Saudaramu di dunia ini hanya aku!" potong Siwon cepat. "Buang rasa sayangmu pada Leeteuk! Pada Kyuhyun!" sentaknya dalam sebuah bisikan tajam.
"Hyung.."
"Aku tak ingin mendengar!" tukas Siwon, seolah menulikan dirinya dari semua keluh sang adik. "Selesaikan semua besok, Hae! Aku sudah membeli rumah di Jepang. Kita akan pindah setelah membuang semua milik mereka!"
"Huh?"
Siwon akhirnya tersenyum pada sang adik. Ia usap kepala Donghae. "Kita bahkan sudah berada dalam kebohongan ini bertahun lamanya. Tentu sudah kurencanakan semua halnya, Hae.."
Donghae tak mampu lagi berkomentar apapun. Entah apa yang tengah dalam fikirannya. Entah apa yang tengah di rasanya. Pancaran hangat terhadap saudara kandungnya tetap ada, meski hatinya tak senyaman yang ia pikirkan.
Apa karena Siwon yang begitu jahat? Tentu saja bukan karena itu. Ia bahkan merasa dirinya adalah yang terjahat disini.
Lalu apa?
Hanyalah perasaan sayang yang tumbuh pada seorang Leeteuk yang teramat menyayanginya, meski yang dimaksud adalah seorang Kyuhyun. Kyuhyun? Ya. Cho Kyuhyun yang ditipunya. Cho Kyuhyun yang ia ambil haknya.
"Tidurlah.."
Siwon kembali berucap. Membawa Donghae kembali, dari lamunan sesaatnya. Ditatapnya Siwon yang balik menatapnya dengan sebuah senyuman. Mungkin sudah lama Donghae tak melihatnya. Membuat hatinya sedikit lebih bersemangat, dan merasakan sedikit rasa bahagia. Maka, sebuah anggukan patuh ia berikan pada Siwon.
Sekali lagi, Siwon mengacak rambutnya sambil tersenyum. "Jangan pikirkan apapun. Hanya, siapkan dirimu untuk hari esok," tuturnya.
Donghae kembali mengangguk, meski untuk hal tersebut, ia tak begitu yakin. "Aku akan tidur, selamat malam hyung.." ucapnya sambil menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan.
Seketika itu, saat pintu kamarnya tertutup sempurna, menyisakan ia seorang diri. Ruangan kamar yang begitu luas, nyaman dan mewah langsung merasuk pada pandangannya. Begitu megah, ruangan dimana dirinya berada kini.
'Bahkan terlalu berlebihan, untukku yang bukan pemiliknya,' gumamnya dalam hati dengan wajah kecewa yang mendalam. Perlahan ia hampiri tempat tidurnya. Ia raba permukaan ranjang yang lembut, dan hangat itu. Seketika, sebuah bayangan menghampiri dirinya..
"Sempit! Kenapa kau menghabiskan tempatku, sih!"
Dapat Donghae ingat, kala Kyuhyun merutuk, karena mendapat bagian yang sempit untuk tidurnya. Salahkan tempat tidur yang begitu kecil, namun harus cukup dihuni untuk dua orang.
Donghae kembali mengingat, ia tak menghiraukan Kyuhyun saat itu. Ia rasa, tak perlu membalas umpatan Kyuhyun yang tak berguna itu. Karena, jika waktu menapaki tengah malam, hampir menyentuh dini hari, bersamaan dengan dingin yang semakin meraja di tiap malam itu, maka ia akan tersenyum dalam tidurnya.
Bagaimana tidak?
Kyuhyun, dengan posisi tak nyaman saat akan tidur itu, akan merapatkan tubuhnya pada Donghae. Ia kedinginan hingga harus meminta kehangatan pada Donghae. Hah! Kyuhyun akan terlihat manis di saat-saat seperti itu. Manis dalam sifat manja yang tak ia sadari.
Sekian menit Donghae lewati, hingga ia kini meringkuk di dalam selimut tebal miliknya. Ah! Sepertinya itupun milik Kyuhyun, sesuai dengan apa yang tengah Donghae pikirkan. Ia meringkuk nyaman, di bawah selimut tersebut. Hangat, namun tak membuatnya nyaman.
'Bukankah sangat menarik, saat seperti bersama Kyuhyun dulu?' pikir Donghae, sambil mulai merapatkan kedua mata yang nyatanya masih sulit terpejam.
"Aku merindukanmu, Kyu.." lirih Donghae akhirnya. Terdengar seperti gumaman, dari seseorang yang tengah menggigau.
Kembali menggapai tiap waktunya, Donghae lantas tak dapat pergi ke alam mimpinya. Ia terus bergulingan tak nyaman. Nyatanya, kemewahan itu tak lantas membuatnya bahagia seutuhnya. Kini itu yang ia rasa..
...
Bagaimana dengan Kyuhyun, yang bertemu Kibum pada kejadian terakhir itu?
Ia masih berkutat dengan rasa tidak percayanya. Padahal, Kibum sudah pergi meninggalkannya dengan sebuah pesan.
"Aku hanya menyampaikan. Terserahmu percaya padaku atau tidak. Jika kau tertarik dan merasa penasaran, datanglah ke Seoul, dan lihat sendiri. Semua tak sebaik seperti yang kau pikir. Ingatlah satu hal, saudaramu membutuhkanmu!"
Begitulah kata terakhir dari Kibum saat ia mengambil langkahnya, dan menghilang dari pandangannya.
Jelas, apa yang diucapkan Kibum membuatnya berfikir keras. Jika dilihat dari semua keanehan Siwon, meski ini tak berlaku pada Donghae, yang baik tanpa celah di matanya.
Kejahatan?
Kyuhyun seolah tak percaya, jika kata itu melekat pada diri seorang Donghae. Kawan yang menemaninya tiga tahun lamanya. Bagaimana mungkin, sebuah kebohongan akan bertahan selama itu.
"Aku merindukanmu, hyung.."
Ucap Kyuhyun tiba-tiba, sambil memandangi sebuah gitar yang nyatanya adalah milik Donghae. Ia merindukan kawannya tersebut. Sosok ceria yang begitu bersahabat.
Ia terbangun dari tidurnya, lantas meraih gitar milik Donghae. Dilihatnya dengan lekat alat musik tersebut. Beriringan dengan satu tarikan nafas lelah, dengan berat ia berkata, "semoga itu tidak benar," juga, "aku yakin itu tak benar!" bantahnya.
Namun perkataan Kibum, benar-benar mempengaruhinya. Mengorek rasa ingin tahu yang begitu dalam. Hingga selanjutnya, ia raih ponselnya, yang ternyata, Kibum yang memberinya. Ia hubungi seorang Kim Kibum dan berkata, "aku ikut ke Seoul besok."
...
Pukul lima pagi, adalah saat dimana Leeteuk terbangun dari tidurnya. Terlalu pagi, namun ini adalah kebiasaan baik baginya. Ia basuh wajahnya, lantas menyegarkan diri dengan segelas air putih, dan juga satu botol kecil yoghurt yang memasuki kerongkongannya.
Masih dalam balutan piyama, ia pergi menuju ruang perpustakaannya. Ia ambil salah satu buku. Buku tentang berbagai macam tumbuhan yang sangat digemarinya.
Ia baru saja akan kembali ke kamarnya bersama satu buku di tangannya. Namun, matanya melihat sesuatu terbaring di atas sofa di ruang tengah, berbalut selimut, yang mana ia tahu itu adalah selimut siapa. Bahkan baru ia sadari televisi yang masih menyala. Maka ia segera hampiri sosok itu, dan tak lupa ia matikan televisi yang nampaknya hidup semalaman tersebut.
"Kyu.."
Ia adalah sosok Kyuhyun baginya. Kyuhyun yang adalah Donghae. Donghae yang masih terlelap, meringkuk di atas sofa tersebut.
Lama tak mendapat sahutan, Leeteuk segera mengguncang tubuh sang adik. "Bangunlah, Kyu. Kenapa kau tidur disini? Lehermu bisa sakit nanti," ucapnya. Ia buka selimut itu, hingga nampaklah Donghae yang masih terlelap. Di usapnya helaian rambut Donghae dengan lembut. "Hey," ucapnya lagi.
Donghae merasa terganggu pada akhirnya. Ia membuka sedikit matanya, lantas bayangan Leeteuk hadir di matanya. "Oh, Hyung.." sahutnya sambil menggeliat di dalam sana. "Apa ini sudah pagi?" tanyanya pelan.
"Masih pukul lima pagi. Kenapa kau tidur disini, eoh?" tanya Leeteuk.
Donghae menggerakkan tubuhnya, menghadap ke arah Leeteuk meski matanya kembali terpejam. "Aku tak bisa tidur semalam," jawabnya dengan mata tertutup. Ia masih mengantuk sepertinya.
"Kyu, kau boleh tidur tapi kembaliah ke kamarmu," ucap Leeteuk.
"Aku tak mau, disana dingin.." balas Donghae perlahan membuka matanya, merasakan betapa itu adalah sebuah rasa yang menakutkan. Bukan dingin dalam artian sebenarnya. Namun ia terlalu kesepian berada di ruang yang luas itu seorang diri.
Leeteuk tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, tidur di kamarku saja, bagaimana?" tawar Leeteuk.
Donghaepun, menyunggingkan satu senyuman. "Bolehkah?" tanyanya.
"Kenapa tak boleh? Bangun, dan pindah sekarang!" titah Leeteuk, sambil menepuk-nepuk kening Donghae perlahan.
Donghae terbangun, bersamaan dengan tawa ringan dari bibirnya. Ia masih duduk di atas sofa, mencoba menggosok matanya yang terasa masih lengket, sedang Leeteuk merapihkan rambutnya yang sangat kusut.
Setelahnya Donghae berdiri, dengan selimut yang mengitari tubuhnya. Ia mengekori langkah Leeteuk dan akhirnya kembali terbaring di atas tempat tidur milik Leeteuk. "Oh, disini sangat nyaman!" komentarnya.
Leeteuk mengulum senyumnya. Iapun, naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Donghae dengan tubuh bersandar pada sisi tempat tidur. Ia buka helaian buku di tangannya, sedang Donghae sudah kembali dalam kantuknya.
Leeteuk mulai membaca, sedang tangan satunya mulai mengusap-ngusap kepala Donghae di sampingnya. "Tidurlah, Kyu.."
...
"Benarkah?!" pekik Leeteuk, sambil tak kuasa menahan raut bahagia di wajahnya. Ia bahkan menghentikan tangan yang sedang bergerak untuk menggapai gelas miliknya. Sedang Donghae di kursi lain hanya mengangguk ragu sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Benarkah kau ingin agar pengurusan namamu dilakukan hari ini? Akan kuhubungi pengacaraku!" ucap Leeteuk riang.
"Habiskan makanmu dulu, hyung.." tutur Siwon yang nyatanya berada di antara keduanya. Raut wajahnyapun, menyimpan sebuah kelegaan yang tersembunyi.
Leeteuk mengangguk semangat sambil tak henti mengulum senyumnya. Ia begitu bahagia mendengar sang adik, menginginkan pengakuan sebagai keluarga resminya. Sebelumnya memang sulit sekali membujuk anak tersebut meskipun Leeteuk tak tahu mengapa.
...
"Kau, adalah Park Kyuhyun sekarang!" pekik Leeteuk sambil memegang kedua bahu Donghae, dengan senyum bahagia di wajahnya. Itu ia lakukan setelah Donghae menandatangani sebuah surat, yang meresmikan namanya sebagai keluarga Park. Tanda tangan miliknya, telah menyatakan hal tersebut.
"Hm," balas Donghae agal sedikit tak bersemangat. Itu terlihat di mata Siwon, namun tidak di mata Leeteuk. Aura bahagia terlalu menutupinya.
"Oh! Aku benar-benar tak sendiri lagi sekarang!" ucap Leeteuk tiada henti. "Sekarang aku bisa menyerahkan satu tanggung jawab untukmu, Kyu!" goda Leeteuk. Ya. Donghae akan dibebani satu saham milik keluarga mereka. Sesuai dengan apa yang dikatakan Leeteuk.
Kini Donghae merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Bagian terpenting sudah berada di depan matanya. Sejenak ia lirik Siwon yang mengangguk yakin padanya. Namun, derap langkah mendekat, menghampiri mereka.
"Kibum-ah!" pekik Leeteuk menyambut kedatangan seseorang, yang ternyata adalah Kibum. Kibum, setelah sekian lama cuti dari kerjanya. "Ada kabar bagus!" ucap Leeteuk.
Kibum sudah dapat menebak apa itu. Maka ia tatap Donghae, meski tak berarti apapun. Namun Donghae dapat merasakannya dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Siwonpun demikian. Ia menatap pergerakan aneh pada Donghae, setelah kedatangan Kibum. 'Ada apa?' pikirnya.
"Park Kyuhyun ada disini sekarang!" cerita Leeteuk. Sesungguhnya, Kibumpun termasuk orang yang dekat dengan Leeteuk sehingga tak aneh bila Leeteuk menceritaan segalanya padanya.
"Benarkah?" tanya Kibum, lalu tak lupa memberi hormat pada sang tuan muda. "Selamat," ucapnya singkat. Ia memang tak banyak bicara, bukan?
Donghae menjadi kikuk, terkurung kebingungan yang begitu melekat ia rasa. Ia lihat Kibum mendekat padanya, lantas mengulurkan tangan padanya. "Kuucapkan selamat, tuan mud.."
"Jangan panggil aku seperti itu!" sergah Donghae dengan wajah mulai menahan marah. Ia selalu marah jika Kibum sudah berada di dekatnya dan pintar membuatnya menjadi serba salah.
"Sudah sepantasnya, tuan.." balas Siwon dari arah lain, membuat Kibum menyeringai. Siapa yang baru saja berbicara? Bahkan Siwon tak tahu, apa posisi Kibum disana. Hanya Donghae dan Kibum yang mengetahui jelasnya.
"Tapi aku tak suka!" cetus Donghae, melirik Leeteuk, mencoba meminta bantuan.
"Sudahlah, panggil dia seperti biasa saja, Kibumie.." tutur Leeteuk, membuat Kibum sedikit terkejut akan panggilan tersebut. Leeteukpun mengerti. "Bukankah Donghae memanggilmu begitu, Kibumie? Kupikir itu lucu. Dia mencoba lebih akrab bukan? Seharusnya kaupun begitu," terang Leeteuk, membuat Kibum kembali menatap Donghae tak percaya. "Berhubung ia lebih tua satu tahun darimu, panggil dia hyung saja," putus Leeteuk, yang tentu saja tak mampu di bantah siapapun, termasuk Siwon yang tengah mengerutkan keningnya.
Sedang Kibum semakin melebarkan senyumnya. "Kau kembali," bisiknya tak percaya. Kibumie, adalah panggilan Donghae untuknya sejak dulu, dengan Donghae yang dulu tentunya..
"Ish, hentikan!" rutuk Donghae. Ia sudah terlanjur sebal, dan lalu pergi dengan menghentakkan kakinya.
"Kau mau kemana, Kyu?" tanya Leeteuk heran, begitupun Siwon. Donghae terlihat terburu-buru. Sedang Kibum, tersenyum.
"Aku lelah. Aku ingin ke kamar saja!"
...
"Bagaimana dengan sedikit perayaan?" usul Kibum, kala mereka kembali tengah berkumpul di sebuah ruang untuk bersantai, atas titah Leeteuk.
"Tak perlu!" tolak Donghae dengan ketus.
"Kyu!" protes Leeteuk. "Kenapa kau menjadi sering terlihat marah semenjak Kibum datang sih?" godanya. Itu, memang benar adanya. "Apa karena Kibum pergi terlalu lama? Kau begitu menyukainya?"
"Hyung," rengek Donghae.
"Usulnya tak buruk kurasa, Kyu. Bagaimana jika malam ini kita makan di luar?" tawar Leeteuk.
Siwon yang duduk dengan rapih, tersenyum. "Ide yang bagus. Kita pergi, Kyu. Ini menggembirakan bukan? Kenapa kita tak merayakannya?" tanyanya menatap lurus ke arah Donghae, dengan penuh arti.
Hah.
Donghae tarik nafasnya dalam. Ia begitu tersiksa berada di antara orang-orang gila di sekitarnya tersebut. Leeteuk yang baik dan polos luar biasa! Siwon dengan ambisinya yang begitu menggebu! Sedang Kibum yang licik dan penuh rahasia! Oh! Jangan lupakan, karena mungkin saja Kim Kibum merencanakan sesuatu, pikir Donghae.
"Bagaimana?" tanya Leeteuk lagi, menyenggol lengan Donghae.
"Baiklah," jawab Donghae pasrah.
...
Tak ada yang istimewa. Mereka tengah menikmati makan malam di sebuah restoran mewah dengan banyak hidangan cantik yang kini sudah tersedia. Namun Donghae sama sekali tak berselera. Ia hanya memandang lampu di jalanan luar, juga kendaraan yang berlalu lalang. Dinding kaca yang bening itu, sedikit memantulkan bayangan dirinya. Ia rasa, ia terlihat buruk kala itu.
"Kau tak makan?" tanya Leeteuk, hingga matanya terhenti. Bukan karena Donghae yang menatapnya. Namun..
"Kenapa dia berdiri di sana?" ucapnya sambil menunjuk ke arah luar. Terdapat seseorang berdiri di luar sana, tepat menghadap ke arah mereka. Ia yang tengah berdiri, dengan wajah tertunduk dengan topi di kepalanya. Juga,
Donghae menegang seketika. Tubuhnya bergetar, melihat sebuah gitar dalam genggaman sosok tersebut. Ia sangat mengenal benda tersebut. Lalu, ia tatap Siwon yang sedikit tak mengerti. Sedikit banyak Donghae mengira, bahwa entahlah Siwon akan mengingat itu? Karena sosok tersebut belum juga mengangkat wajahnya.
Dan lalu, Donghae tatap Kibum. Kibum yang baru kembali dari Busan. Kibum yang dengan sengaja mengajak mereka keluar. Donghae pikir ia tahu apa yang terjadi. Kim Kibum yang mulai bergerak sepertinya.
"Kasihan sekali dia. Di luar pastilah dingin," ucap Leeteuk yang sama sekali tak dapat merasa ketegangan yang terjadi.
Bahkan Siwon, Kibum, terlebih Donghae mulai menatap sosok itu. Sosok yang mulai mengangat wajahnya. Wajah dengan kulit yang begitu putih, segera terpampang membuat Donghae semakin merasa tubuhnya menjadi dingin.
Trek.
Dan di kursi lain, Kibum masih tenang mengunyah daging dalam mulutnya, setelah ia potong daging itu, hingga membuat suara yang membuat Donghae semakin tak nyaman.
Sosok itu tersenyum, pada seorang Choi Donghae..
TBC
Ada satu pengakuan dari saya. Saya agak kurang percaya diri soal fict ini. Terlalu banyak typo! Kyu itu Cho bukan Choi saya salah tik. :( terus jalan ceritanya? Saya tak mengerti soal saham etc! Ya, ini hanya mengira-ngira. Mau bagaimana lagi. Ufufufu~
Terus, karena kemarin chapter 6 saya post di dua tempat? Saya bingung sendiri sama yang komen. NyaHaHaHa..
Tapi saya tetep baca dan, tetep wajib ucapkan terima kasih untuk kalian. TERIMA KASIH! Maaf sekali atas keterlambatan publishnya! *Tampol diri. xD
TERIMA KASIH
