Boku no Hero Academia by Horikoshi Kohei
The Love That Bind Us by bibiobio
.
.
.
.
.
Chapter 7 - Ten Years Later (END)
.
.
.
Seseorang yang dulu dianggap kasar bagai villain, kini menjadi pahlawan yang dapat diandalkan dan dipercaya.
Seseorang yang dulu dianggap lemah dan rapuh, kini menjadi pahlawan yang kuat dan kompeten.
Pasangan yang dulu dianggap tidak cocok, yang dianggap tidak akan bertahan lama dan yang selalu dihujat, kini menjadi pasangan terkuat, pasangan ideal yang selalu didambakan dan diidolakan oleh semua orang.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak festival olah raga UA pertama Bakugo dan Uraraka. Begitu kelulusan, mereka memulai karir sebagai pro-hero.
Pada awal karirnya, Bakugo sedikit sulit mendapat kepercayaan dari orang-orang karena sifatnya yang keras dan bermulut kasar. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu, Bakugo mulai menjadi seseorang yang dewasa, lebih bijak dan menghargai sekelilingnya. Sejak itulah, masyarakat mulai menghargai dan mengakuinya.
Uraraka sendiri aktif sebagai rescue hero. Pembawaannya yang ramah dan murah senyum membuatnya disukai banyak orang. Reputasinya makin meningkat ketika ia kembali bergabung dengan agensi Ryukyu dan berhasil membuktikan bahwa ia adalah seorang pahlawan yang kuat dan mampu melindungi orang-orang.
Sering kali dalam berbagai kesempatan, Bakugo dan Uraraka bekerja sama dan bergabung menjadi satu tim. Kombinasi mereka mempunyai keselarasan, keefektifan dan tingkat keberhasilan yang tinggi.
Lima tahun yang lalu, mereka membuka kantor agensi pahlawan mereka sendiri. Dalam waktu singkat, mereka berhasil mencuri perhatian dan dukungan publik. Menjadi kombinasi terhebat sepanjang sejarah.
.
.
.
.
"Maaf, mendadak tidak bisa hadir di acara keluarga nanti." Bakugo sedikit membungkuk dan meminta maaf pada orang tua Uraraka.
"Tak apa. Kami sudah sangat berterima kasih, kau mau menyempatkan diri mengantar kami ke stasiun." Ibu Uraraka berkata lembut sambil menepuk pelan lengan Bakugo.
Rencananya, hari itu Uraraka, keluarganya dan Bakugo akan pulang ke Mie untuk menghadiri acara keluarga besar Uraraka. Namun, karena ada pekerjaan mendadak, Bakugo tidak bisa menghadiri acara itu.
"Hai, terima kasih. Hati-hati di jalan."
"Kau juga, jaga dirimu." Kedua orang tua Uraraka beranjak menuju ke dalam peron kereta. Meninggalkan Bakugo dan Uraraka.
Wajah Uraraka tampak murung dan tidak bersemangat. Sebenarnya, ia enggan menghadiri acara keluarganya. Ia ingin tetap tinggal dan membantu misi Bakugo seperti biasanya. Namun, ia juga tidak bisa mengingkari janjinya kepada orang tuanya juga neneknya.
Bakugo yang menyadari kegelisahan pada wajah Uraraka, mengelus pipi gadis itu lembut.
"Jangan khawatir. Serahkan padaku, semuanya akan baik-baik saja."
"Mm... jaga dirimu baik-baik. Kalau butuh bantuanku, segera hubungi aku, ne." Uraraka menatap lekat Bakugo sebelum memeluknya dan mengecup bibirnya sekilas.
.
.
.
Uraraka bukannya tidak suka bertemu dengan keluarga besarnya. Ia menyayangi mereka. Berkumpul bersama mereka memberikan kebahagiaan tersendiri baginya.
Hanya saja, ia malas jika 'pertanyaan keramat' itu mulai ditujukan padanya.
'Kapan nikah?' pertanyaan itu pasti tidak akan absen untuk ditanyakan. Terlebih semua saudara sepupunya sudah menikah. Otomatis Uraraka ysang belum menikah akan menjadi sasaran empuk bagi semua anggota keluarganya.
Uraraka menghela napas pelan.
Tenang Ochako, kalau mereka menanyakan soal itu. Tinggal jawab saja dengan santai. ucapnya dalam hati sebelum melangkah masuk ke rumah neneknya.
"Nenek... apa kabar?" Uraraka memeluk neneknya begitu masuk ke ruang tamu.
"Araa... Ochako-chan. Kau sudah besar sekarang." Neneknya memeluk dan menciumi kedua pipinya. Neneknya memandangi Uraraka dengan tatapan sayang. "Kau sudah menjadi pro-hero yang hebat. Menjadi kebanggaan Nenek."
"Hehe... terima kasih." Uraraka memberikan senyum lebarnya.
"Ooh… Ochako! Pahlawan idola kita semua." Salah satu bibinya menyapa dan memeluknya. Beberapa kerabatnya yang lain mulai berdatangan dan memenuhi ruang tamu.
"Hai, Bi..."
"Ochako-chan, kau banyak berubah sekarang. Makin cantik dan makin hebat."
"Terima kasih."
"Oh iya, aku melihat beritanya minggu lalu. Kau dan Ground Zero menghadiri pernikahan Shoto dan Creati bersama. Kalian masih berhubungan sampai sekarang?" tanya salah satu sepupunya.
"Iya."
"Uwaah… kau beruntung sekali, Ochako-chan. Ground Zero sangat hebat dan kuat. Terlebih lagi, dia juga sangat tampan. Dia begitu populer sekarang." Sepupunya yang lain ikut menimpali.
Seketika, Uraraka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
"Ne, sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan?
"Sejak SMA."
"Ah! Aku ingat! Kalian resmi menjalin hubungan saat pesta dansa kelulusan kalian, kan? Video kalian saat itu benar-benar jadi viral." Sepupu-sepupunya mulai heboh membicarakannya.
"He… sudah selama itu kah?" ucap bibinya yang lain dengan takjub.
Seketika itu, Uraraka menegang di tempatnya. Ini dia, datang! Batinnya dalam hati.
"Jadi… kapan kalian akan menikah?" sambung bibinya.
Ini diaaa! Keluar juga pertanyaan keramat itu!
Uraraka mencoba tersenyum dan menjawabnya santai. "Kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jika sudah saatnya, kami pasti akan segera menikah."
"Ochako-chan, kalau hanya menuruti pekerjaan. Kalian pasti selalu sibuk. Kalian kan sudah cukup umur, sama-sama sudah mapan dan punya pekerjaan tetap, apalagi yang ditunggu?"
Uraraka diam ditempat, bingung harus menjawab apa. Semua yang dikatakan bibinya memang benar. Ia dan Bakugo sudah cukup umur, sudah lama menjalin hubungan. Dari segi finansial pun mereka sudah cukup. Sepupu dan teman-temannya pun sudah banyak yang menikah, bahkan sudah ada juga yang sudah mempunyai anak.
Namun demikian, bagi Uraraka, menikah adalah tentang kesiapan hati, bukan tentang umur. Pernikahan bukanlah suatu perlombaan. Bukan berarti jika saudara atau teman seumuran sudah menikah, maka kita juga harus segera menyusulnya.
Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Pernikahan bukan hanya mengikat dua individu saja, melainkan juga mengikat dua keluarga. Dengan menikah berarti kau harus siap dan menerima semua kondisi keluarga pasanganmu. Menerima segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan menikah juga berarti bahwa kau siap untuk memikul tanggung jawab dan kewajiban yang lebih besar. Menerima peran baru yang akan diemban setelah pernikahan.
Dan saat ini, Uraraka belum siap untuk menempuh jenjang pernikahan itu. Masih ada banyak hal yang dipikirkan dan dikhawatirkannya.
Usianya masih 25 tahun, usia yang masih muda. Masih muda untuk melakukan berbagai hal dan mencapai impian-impiannya. Di luar sana, masih banyak orang-orang seumurannya yang memiliki berbagai prestasi. Ia juga masih ingin berkarya, mengabdi pada masyarakat dan menorehkan prestasinya sendiri. Dan ia khawatir jika dengan menikah nanti, ia akan kesulitan dalam meraih semua itu.
Uraraka juga mengkhawatirkan tentang orang tuanya. Ia masih ingin memberikan banyak hal dan membahagiakan orang tuanya.
Di samping itu, Ia adalah anak tunggal, jika ia menikah nanti, siapa yang akan merewat mereka? Siapa yang akan menjaga mereka? Uraraka tau betul bahwa setelah menikah pun, ia masih bisa bertemu dengan orang tuanya. Tetapi waktu yang ia habiskan bersama orang tuanya setelah menikah tidak akan sebanyak ketika ia belum menikah. Setelah menikah, ia akan mempunyai tanggung jawab dan kewajiban terhadap suaminya, terhadap keluarga barunya, sehingga ia tidak bisa menghabiskan waktu untuk orang tuanya saja.
Dan yang paling merisaukannya adalah, apakah ia sudah cukup pantas untuk menjadi pendamping hidup Bakugo? Bagaimana jika dengan menikah, ia hanya akan menjadi penghambat bagi Bakugo dalam mewujudkan impiannya? Bagaimana jika ia hanya menjadi pengganggu saja? Bagaimana jika sebenarnya ia tidak pantas untuk Bakugo?
"Ochako-chan, dia serius dengan hubungan kalian, kan? Dia tidak sedang mempermainkanmu saja, kan?" tanya bibinya membuyarkan lamunan Uraraka.
"A-apa maksud bibi?"
"Habisnya, kalian sudah lama pacaran. Tapi sampai sekarang, dia belum melamarmu. Bukankah itu berarti dia tidak serius dengan hubungan kalian?"
"Tentu saja Katsuki serius dengan hubungan kami. Dia tidak pernah melakukan suatu hal dengan tidak serius, bi." Nada bicara uraraka mulai meninggi. Ia tidak suka jika seseorang menjelekkan bakugo
"Ochako benar. Mana mungkin Ground Zero tidak serius. Lihat saja tatapannya saat memandang Ochako. Itu tatapan penuh kasih sayang. Sekali lihat saja, semua orang juga tau kalau Ground Zero benar-benar mencintai Ochako." bela salah satu sepupunya.
"Tapi bisa saja itu hanya pura-pura kan? Apa kalian sudah lupa bagaimana kelakuannya saat di UA dulu. Dia sangat sombong dan kasar, bahkan hampir melukai Ochako saat festival olah raga dulu." lanjut bibinya
"Benar juga. Kudengar jika seseorang yang dulunya suka bertindak kasar, maka dia akan menjadi lebih berisiko untuk melakukan tindak kekerasan pada pasangannya. Ochako-chan, apa dia pernah menyiksamu?" timpal bibinya yang lain.
Sudah cukup! Uraraka sudah tidak tahan lagi mendengar semua ini.
"Maaf, bisakah kalian hetikan semua ini? Ini membuat telingaku sakit." ujar Uraraka tegas dan penuh penekanan.
"Aku belum menikah bukan karena Katsuki tidak serius dengan hubungan ini. Aku belum menikah karena itu adalah pilihanku sendiri, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Katsuki.
Dan bisakah kalian berhenti membicarakan dan menganggap seolah ia adalah seorang villain? Aku tau, dulu dia memang berlaku tidak baik. Tapi setiap orang bisa berubah. Katsuki sudah berubah. Dia bukanlah orang yang kasar dan sombong seperti dulu. Tak pernah sekalipun ia memperlakukanku dengan kasar atapun melakukan hal yang tidak kusukai. Dia sudah berubah menjadi orang yang lebih baik, menjadi seorang yang perhatian dan bijak. Tidak bisakah kalian lihat itu? Bisakah kalian menghargai usahanya untuk berubah?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Uraraka. Napasnya memburu. Dadanya sesak akan amarah yang coba ditahannya.
Neneknya mengelus pelan tangan Uraraka.
"Maa... maa... tenanglah semuanya. Kita di sini untuk bersenang-senang bukan untuk bertengkar. Ochako-chan, tenang kan dirimu. Dan kalian berdua." ucap nenek Uraraka sambil menunjuk ke arah kedua bibinya.
"Cobalah untuk lebih menghargai orang lain. Jika kalian bersikap seperti itu, bukankan kalian sama saja seperti Katsuki-kun yang dulu? Aku pernah bertemu dengannya. Dan dia adalah anak yang baik dan bertanggung jawab. Jadi hentikan pembicaraan ini dan nikmatilah acaranya." lanjut nenek Uraraka.
.
.
.
Uraraka merebahkan diri di kasur. Ia merasa sangat lelah hari ini. Dan makan malam tadi sungguh terasa canggung. Ia belum bisa meredam rasa marah dan kecewa terhadap bibinya, hingga menguras habis seluruh energinya.
Ia meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Bakugo.
[Katsuki, bagaimana misinya? Kau baik-baik saja?]
Uraraka menunggu beberapa saat, namun balasan dari Bakugo tak kunjung datang. Ia melihat jam di ponselnya.
Dia pasti belum pulang. Semoga dia baik-baik saja dan semuanya berjalan lancar.
Uraraka kembali mengirimkan pesan pada Bakugo.
[Hubungi aku kalau sudah pulang, ne.]
Uraraka meletakkan ponselnya di atas nakas. Mencoba memejamkan matanya. Ia lelah, ia ingin istirahat.
Uraraka mendudukkan dirinya kembali. Ia tidak bisa tidur.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya.
"Masuk." jawab ibunya setelah mendengar ketukan di pintu kamarnya
Uraraka membuka pintu dan hanya menemukan ibunya saja.
"Ochako? Ada apa sayang?"
"Otou-san dimana?"
"Otou-san mu sedang ngobrol dengan paman-paman mu di depan."
Uraraka mengangguk dan mengambil tempat di samping ibunya. Merebahkan diri di atas pangkuannya.
Ibunya cukup heran dengan perilaku anak semata wayangnya itu. Ibunya menduga, ini ada kaitannya dengan ketegangan antara putrinya dan bibinya yang kentara jelas ketika makan malam tadi. Namun, beliau hanya diam saja sambil mengelus rambut putrinya, menunggu Uraraka menyampaikan keluh kesahnya.
"Okaa-san, bagaimana pendapat okaa-san terhadap hubunganku dan katsuki? Apa okaa-san merestui kami?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, sayang? Tentu saja okaa-san merestui kalian, kalau tidak, okaa-san pasti sudah menentangnya sejak awal."
Uraraka terkekeh kecil mendengar jawaban ibunya.
"Awalnya, okaa-san dan otou-san sangat kaget. Katsuki-kun tiba-tiba saja datang ke rumah tepat setelah kelulusan kalian. Meminta restu atas hubungan kalian."
Uraraka kembali teringat momen itu. Ia sendiri juga kaget, Bakugo tiba-tiba datang ke rumahnya, tanpa memberi taunya terlebih dahulu. Namun, hal itu membuatnya menjadi salah satu momen tak terlupakan baginya.
"Ne, okaa-san. Apa dulu, okaa-san sempat ragu terhadap Katsuki?" tanya Uraraka pelan.
Ibu Uraraka menatap putrinya lembut dan mengelus rambutnya penuh sayang.
"Sebenarnya, dulu okaa-san sempat ragu, terutama otou-san mu. Dia masih belum rela melepaskan putri kesayangannya kepada orang lain. Terlebih orang itu adalah Bakugo Katsuki, yang terkenal dengan sikapnya yang kasar dan angkuh. Namun, ketika kami melihat bagaimana caranya menatapmu, caranya bertingkah di sekelilingmu serta keseriusan dan ketulusan yang terpancar dari matanya, mampu membuat kami yakin bahwa Katsuki-kun benar-benar menyayangi dan mencintaimu. Dia sudah berubah. Iya kan?"
Uraraka mengangguk. "Iya. Katsuki sudah berubah. Menjadi lebih baik." Uraraka menatap langit-langit kamar. Pandangannya menerawang, membayangkan sosok Bakugo. "Dia hanyalah orang bodoh yang bertindak semaunya sendiri. Namun kini, dia telah memiliki orang-orang yang membantunya menyadari bahwa orang lain membutuhkannya, sama seperti dia yang membutuhkan orang lain." Seulas senyum tercetak di wajahnya.
Namun, senyuman itu tak bertahan lama. Perkataan bibinya siang tadi kembali terlintas dalam benaknya.
"Okaa-san, apa okaa-san mempunyai target umur berapa aku harus menikah?"
"Tentu saja tidak. Ochako, menikah itu bukan masalah umur, melainkan kesiapan hati dan jiwa. Menikahlah ketika kau sudah siap, bukan karena umur dan omongan orang lain."
"Okaa-san, aku masih merasa takut untuk menikah, khawatir akan segala risiko setelah pernikahan nanti. Bagaimana caraku menghadapinya?"
"Kekhawatiran itu wajar, sayang. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Namun ketahuilah, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab itu semua. Jangan bersedih dan berkecil hati, jika dirimu menganggap bahwa bekal yang kau miliki sekarang masih sangat kurang. Selama masih ada keyakinan di dalam dada, segalanya akan menjadi mudah bagimu dan Katsuki-kun.
Bukankah dengan pernikahan ini, kalian bisa saling tolong-menolong? Bukankah dengan pernikahan ini, kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing? Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan melalui pernikahan ini. Jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan kalian awali kehidupan rumah tangga kalian nantinya dengan perasaan lemah!* Percaya dan yakinlah pada Katsuki-kun."
Uraraka merenungi nasihat ibunya. Setelah mendengar nasihat itu, perasaannya menjadi lebih ringan dan tenang. Kekhawatiran yang menyelimuti hati dan pikirannya mulai menghilang. Dan kini hanya ada satu hal yang ada di benaknya.
Aku ingin segera bertemu Katsuki.
.
.
.
Keesekokan harinya, acara keluarganya masih berlangsung. Namun, Uraraka memilih tetap berada di kamarnya. Enggan bergabung dengan yang lain. Ia masih merasa canggung bertemu dengan kedua bibinya.
Ponselnya berdering. Memperlihatkan nama Bakugo di layarnya.
"Katsuki..."
"Hei. Maaf, baru sempat menghubungimu sekarang."
"Tak apa? Sudah pulang?"
"Mm… baru sampai."
"Bagaimana misinya?"
"Sudah selesai. Semuanya berjalan lancar. Deku banyak membantu di misi kali ini." ujarnya agak kesal. Uraraka hanya tersenyum mendengarnya.
Sejak Bakugo melawan Deku setelah ujian lisensi pahlawan dulu, hubungan mereka sedikit demi sedikit mulai membaik. Kesalah pahaman di antara mereka mulai terselesaikan. Bahkan mereka kini sering melakukan kerja sama dan menjalankan misi bersama, seperti dalam misi kali ini.
"Kau sendiri? Bagaimana acara di sana?"
Uraraka terdiam, kembali mengingat kejadian kemarin. Air mata yang sejak kemarin mati-matian ditahannya, kini mengalir begitu saja.
"Katsukii..." ujar Uraraka lirih.
"Ochako, ada apa?" tanya Bakugo lembut.
Uraraka tak menjawab. Hanya senggukan lirih yang menjadi jawabannya.
"Hei, kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Bakugo terdengar mulai khawatir.
Uraraka tetap tak menjawab pertanyaannya. Tak lama, sambungan telepon itu terputus. Dan senggukan itu makin mengeras.
Aku ingin bertemu denganmu, Katsuki.
Uraraka ingin menyampaikan kalimat itu, namun tak sanggup. Kalimat itu tak bisa keluar dari mulutnya.
Uraraka terus menangis hingga membuatnya kelehahan dan tertidur
.
.
.
Uraraka terbangun ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Hari sudah sore, langit jingga itu menyebul dari balik gorden kamarnya.
Ketukan itu kembali terdengar.
"Ochako." Panggil suara dari balik pintu kamarnya. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang sangat ingin didengarnya saat ini
"Katsuki?" Suara Uraraka terdengar sangat serak. Masih merasa seolah suara Bakugo tadi hanyalah imajinasinya saja. Hanya ilusi belaka. Bakugo masih berada di Tokyo ketika meneleponnya tadi, tidak mungkin ia berada di sini sekarang.
Namun, sosok Bakugo benar-benar muncul ketika pintu kamarnya terbuka. Uraraka menatap tak percaya dengan mata sembabnya.
Bakugo berjalan mendekat. Merengkuh gadis itu. Dan tak lama, kemeja yang dipakainya terasa basah oleh air mata Uraraka.
Bakugo tak berkata apa pun. Ia hanya memeluk dan membelai punggungnya. Berharap hal itu mampu membuat gadis dalam pelukannya menjadi lebih tenang.
Belaian itu, mampu meredakan tangis Uraraka. Uraraka membenci dirinya sendiri karena sangat sensitif dan mudah menangis seperti ini. Ini hanya akan membuatnya terlihat lemah, da ia tidak menyukai itu. Namun, ia tak mampu lagi membendung air matanya begitu Bakugo berada di sisinya.
"Katsuki, aku ingin bertemu denganmu."
"Mm... aku di sini." Bakugo melepas pelukannya. Tangannya menghapus sisa-sisa air mata dari manik coklat Uraraka. "Ada apa?" lanjutnya lembut.
Uraraka hanya menggelengkan kepalanya.
Bakugo menghela napas pelan. Mengerti bahwa percuma memaksa Uraraka untuk mengatakan semuanya, jika Uraraka sendiri masih belum siap mengatakannya.
Bakugo mengecup kening Uraraka dan menatapnya lembut. "Ceritakan padaku kalau kau sudah siap."
Kali ini Uraraka memberi anggukan kecil dan kembali memeluk Bakugo.
"Terima kasih sudah datang ke sini."
Keberadaan Bakugo di sampingnya, merupakan obat terbaik untuk melupakan seluruh kegelisahan dan keresahannya. Keberadaannya mampu membuatnya merasa lebih baik, tenang dan aman.
.
.
.
Selama berada di rumah nenek Uraraka, Bakugo mampu berbaur dengan keluarga besarnya. Mereka tampak antusias dengan kehadirannya, terlebih keponakan-keponakan Uraraka. Mereka terlihat senang ketika Bakugo menceritakan pengalamannya mengalahkan musuh-musuhnya. Bahkan mereka menangis ketika Bakugo dan Uraraka berpamitan pulang.
"Ochako-chan." Panggil bibinya saat Uraraka berpamitan. "Maafkan perkataan kami sebelumnya. Kami sudah salah menilai Bakugo-kun."
Uraraka memberikan senyumannya. "Hai, tak apa, bi. Aku senang, bibi sudah mau merubah pikiran bibi terhadap Katsuki."
Di sisi lain, Bakugo tengah berbincang dengan nenek Uraraka.
"Terima kasih, sudah menjaga Ochako selama ini."
Bakugo terlihat sedikit terkejut mendengarnya.
"Saya lah yang seharusnya berterima kasih. Berkat Ochako, saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Ochako membuat saya menjadi lebih baik." jawab Bakugo tulus dan mengalihkan pandangannya ke arah Uraraka.
Nenek Uraraka hanya tersenyum ketika melihat arah pandang Bakugo. Pemuda itu menatap cucunya dengan tatapan lembut dan hangat.
"Kuharap kalian selalu bahagia."
"Hai, terima kasih."
.
.
.
.
"Ochako."
"Mmm." Uraraka hanya bergumam, tetap bertahan dalam posisinya. Berada dipangkuan Bakugo dan memeluknya. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pemuda itu.
Setelah pulang dari rumah Neneknya, Uraraka tidak pulang ke apartemennya, melainkan ke apartemen Bakugo. Uraraka tak ingin sendirian. Jika sendirian, ia akan memikirkan bebagai macam hal dan membuatnya kembali khawatir.
Memang, setelah mendengar nasihat ibunya, kekhawatirannya tentang pernikahan mulai menghilang. Ia juga yakin semuanya akan baik-baik saja jika bersama dengan Bakugo. Mereka akan mampu menghadapi dan mengatasi semuanya. Namun, jauh di dalam hatinya, rasa khawatir itu masih tetap ada dan menghantuinya.
"Belum mau mengatakannya padaku?" tanya Bakugo lagi.
Ya. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kekhawatirannya adalah membicarakannya dengan Bakugo.
Bakugo menghela napas pelan karena Uraraka tak kunjung memberinya jawaban. Sebenarnya Bakugo sudah bisa mengira-ngira hal apa yang mengganggu pikiran kekasihnya itu.
Bakugo menggendong Uraraka yang masih berada dalam pelukannya, menuju kamarnya.
"Wuaa! Katsuki, kenapa tiba-tiba?" tanya Uraraka terkejut.
Bakugo tak menjawab. Mendudukkan Uraraka di pinggir kasurnya dan berlutut di depannya.
"Ochako, dengarkan aku." ucap Bakugo sambil menatap lekat Uraraka.
"Ada yang ingin kukatakan padamu." Bakugo menggenggam tangan gadis itu, mengelus punggung tangannya. "Terima kasih, selalu berada di sisiku dan mendampingiku. Terima kasih, selalu mendukungku. Terima kasih, telah membuatku menjadi lebih baik. Aku tak akan bisa menjadi seperti sekarang tanpamu, Ochako."
Bakugo mencium tangan Uraraka yang masih berada dalam genggamannya. Ia tersenyum lembut menatap Uraraka yang sudah berkaca-kaca.
Bakugo membuka laci nakasnya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikannya pada Uraraka.
Uraraka membuka kotak kecil itu. Air matanya menetes ketika melihat isinya. Sebuah cincin tersemat cantik di dalamnya.
Bakugo mengusap mata Uraraka. Menghapus air mata yang membasahi wajah cantik itu dan kembali menggenggam tangannya.
"Sejak awal hubungan kita. Aku sudah berniat untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius, ke jenjang pernikahan. Aku tau, banyak hal yang kau khawatirkan dan kau cemaskan. Banyak hal yang masih ingin kau lakukan dan kau capai. Aku tidak akan melarangmu melakukannya. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan. Jika suatu saat nanti kau merasa kesulitan, aku ada disampingmu. Kita akan hadapi dan selesaikan bersama. Kita akan menjadi kuat bersama. Dan ingatlah hal ini Ochako, aku akan selalu mendukung dan menghormati segala keputusanmu. Tak perlu tergesa-gesa. Aku akan menunggu hingga kau siap."
Air mata Uraraka mengalir makin deras. Semua perasaannya membuncah keluar. Segala kekhawatiran dan kecemasannya menghilang. Ikut mengalir keluar bersama air matanya. Namun demikian, ada rasa sesal yang mengganjalnya. Rasa sesal karena telah meragukan Bakugo.
Bakugo menghapus air mata itu. Menyatukan kening keduanya. Memberikan rasa aman dan tenteram.
"Maafkan aku. Maaf sudah memikirkan diriku sendiri. Maaf karena sudah meragukanmu. Maaf sudah membuatmu menunggu." Ucapan Uraraka terdengar lirih dan pelan, tertutup oleh tangisnya.
Bakugo merengkuh Uraraka ke dalam pelukannya. Membelai dan mengecup kepala Uraraka.
"Tak apa, aku mengerti." ucapnya lembut dan menenangkan.
"Aku…" Uraraka memulai setelah tangisnya reda. "Aku tak akan membuatmu menunggu lagi, Katsuki."
Bakugo melepas pelukannya. Menatap lekat Uraraka.
"Kau, yakin?"
Uraraka mengangguk, "Iya. Aku yakin. Jika bersamamu, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kita akan menjadi kuat bersama."
Bakugo tersenyum lega dan kembali memeluk erat Uraraka.
"Terima kasih, Ochako."
Manik merah Bakugo kembali menangkap manik coklat Uraraka. Menatapnya lembut dan penuh kasih sayang.
Tangannya menangkup wajah Uraraka. Mencium keningnya. Mencium kedua kelopak matanya.
Uraraka meraih wajah Bakugo. Menatap dan membelainya lembut. Wajah tegas yang selalu disukai dan sangat disayanginya.
Bakugo mengikis jarak keduanya. Mencium hidung Uraraka. Mencium kedua pipinya. Mencium bibirnya.
Ciuman yang begitu lembut dan tidak menuntut. Ciuman yang penuh akan kasih sayang dan cinta. Ciuman yang mampu membuat keduanya merasa tenteram dan damai.
.
.
.
END
.
.
.
Author's Note:
*Referensi nasihat ibu Uraraka adalah dari artikel "Nasihat Perkawinan untuk Putriku" - rumahbelajaribnuabbas-wordpress-com
