Author : ChaNara

Cast : All EXO's members, Chen and Shoo(OC) as the main cast, etc

Genre : Fantasy (not sureXD), little romance, friendship, mystery, mixed genre detected :D

Length : Chaptered

Summary :

"Bahkan aku tak tahu harus menyebutmu apa. Kau bukan seekor hewan, tapi kau bisa berkomunikasi dengan Monggu. Kau bukan seorang manusia, tapi kau berhasil… membuatku tahu apa itu arti jatuh cinta, Shoo,"-Chen

A.N. : Annyeong! Finally aku balik lagi ke sini! #heboh

Sorry banget nih jadi gak bertanggung jawab, hiatus satu semester lebih, ceritanya ngegantung, ya salam #sigh

kirain udah gak bakal ada yang nemu ff ini, eh ternyata ada, jadi semangat lagi ngelanjutnya :D

tapi sekali lagi maap, soalnya kaya'nya chapter ini agak gaje karena aku emang ngefokusin ke kehidupan Kris di masa lalu, soalnya ini juga jadi background terbentuknya EXO. Akh, pokoknya happy reading lah! :D


So just let the story continuos

Ruangan putih ini lagi.

Ruangan penuh alat ini lagi.

Ruangan penuh tabung reaksi ini lagi.

Ya, ruangan yang sama dengan ruangan yang dahulu hanya berisi seorang jangkung yang menerima file tentang Kim Jongdeok.

Namun nampaknya kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ruangan ini tak lagi hanya berisi seseorang, melainkan ada tujuh pasang mata yang menambah suasana kehidupan di dalamnya.

Benar-benar suasana kehidupan, mengingat dulu ruangan ini lebih beraura mesin dan cairan-cairan kimia.

"Tujuan utamanya membunuh Kim Jongdeok, sampah yang sudah berani membunuh kakakku. Aku tak peduli kalian punya tujuan lain. Selama kalian menjamin manusia itu mati, kalian bebas melakukan apa saja," ucap pria yang dulu mendiami ruangan itu sendirian. Ia tersenyum licik.

"Jadi latihan bertahun-tahun ini hanya kau gunakan untuk membalaskan dendam? Demi Tuhan! Aku merasa semua yang telah kami lakukan sia-sia!" sahut seorang bermata paling sipit. Pria tadi masih tersenyum licik.

"Tak sia-sia, tak kan ada yang menjadi sia-sia andai kau mau sedikit berpikir. Bayangkan sejenak, kematian Kim Jongdeok akan membuat EXO berhenti –aku menjamin hal itu. Jika EXO berhenti, kalian bisa menggantikan mereka di mata pemerintah. See? Kalian akan sukses dengan sendirinya tanpa harus benar-benar bersaing dengan dua belas bocah ingusan itu,"

Semua terdiam, sejenak memikirkan hal yang baru saja keluar dari mulut si Pria. Salah satu dari mereka yang sedari tadi hanya memainkan kamera kecilnya mengangguk pelan.

"Lagipula mereka hanya menang nama. Kita jelas lebih baik dari segi apapun. Aku setuju," ujarnya datar, membuat seorang lagi yang duduk di sampingnya menjentikkan jari.

"Dan kita hanya kalah start. Kalau memang dengan membunuh orang yang kau minta tadi bisa membuat EXO 'mati', aku juga setuju,"

"Tapi bukankah EXO milik Proffesor Jung? Bukankah lebih cepat jika membunuh pemiliknya?" sergah seorang berbadan tinggi yang bersandar di dekat mesin fax, membuat sebagian dari mereka mengangguk kecil.

"Pengaruh professor jadi-jadian itu tak sekuat pengaruh Jongdeok terhadap EXO. Ada rahasia tentang itu. Ya, ada rahasia yang bahkan belum kuketahui sampai detik ini. Tapi mendengar usulanmu, kurasa membunuh Jung dulu juga bagus. Ya… setidaknya professor sampah itu tak kan lagi melindungi mereka,"

Mendengar penuturan si Pria membuat semuanya saling berpandangan. Mereka seperti sedang bertelepati, lalu mengangguk.

"Kapan kita mulai?" tanya seseorang berbadan kurus.

"Setelah Jung pulang ke Seoul, karena selama ia berada di sekitar EXO maka ia punya dua belas pelindung merepotkan. Mungkin minggu depan. Oh! Aku tak sadar sekarang sudah jam makan siang! Ayo!"

Tak lama kemudian satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan putih itu. Satu per satu, bergiliran tanpa memperhatikan dan menyadari kalau ada seseorang yang masih berada di dalam sana.

"Selama aku bisa membunuh Kris, aku ikuti semua permainanmu, 'D',"

Kemudian ia melangkahkan kakinya pelan, menyusul ketujuh orang tadi.

'Klik'

Seketika ruangan itu gelap.

-ChaNara's story-

"Argh! Suho!"

Kris tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Keringat benar-benar membasahi wajah tegasnya. Napasnya tertarik pendek.

Mimpi yang terlalu buruk untuk tak membuatnya bangun.

"Ada apa, Ge? Kau bermimpi buruk?"

Kris menoleh dan mendapati Lay tengah menatapnya khawatir. Lelaki berlesung pipit itu sepertinya masih terjaga saat Kris terlelap –dan mimpi buruk- tadi. Ia duduk di ranjang Suho yang ternyata tertidur pulas. Kris menarik napas lega lalu mengangguk menanggapi pertanyaan Lay tadi.

"Terlalu buruk untuk diceritakan. Sepertinya aku akan terjaga sampai pagi," ucap Kris sebelum Lay bertanya lagi.

"Butuh kopi? Aku buatkan," tawar Lay –masih terlihat khawatir. Kris berpikir sejenak.

"Boleh secangkir cappuccino?"

"Tunggu di ruang makan, aku ke dapur dulu,"

Kris mengangguk patuh sambil memperhatikan langkah Lay keluar kamar. Perlahan, ia pun bangkit dari ranjangnya dan segera mengikuti jejak Lay.

Sebelumnya ia sempat memastikan yang terlelap tadi adalah Suho yang keadaannya baik-baik saja.

Kris menunggu Lay sendirian di ruang makan. Sesekali ia mengusap wajahnya kasar –benar-benar kasar- dan memaki pelan. Entah kenapa ia terlihat sangat frustasi karena mimpi tadi. Kantuk yang biasanya menyerang tiba-tiba lenyap entah kemana.

Kriet…

"Astaga! Yunho-hyung?" pekik Kris saat menyadari sosok yang muncul dari balik pintu itu profesornya sendiri. Yang dipanggil justru tertawa kecil.

"Aku tak bisa tidur di rumah kanan. Mungkin di sini lebih tenang," jelas Yunho sambil mengambil kursi dan duduk di samping Kris, menemaninya.

"Kopi, Prof?" tanya Lay dari dapur. Yunho menggeleng.

"Boleh aku pesan susu panas? Aku membawa dua botol susu tadi siang, sepertinya Kai menaruhnya di dapur," sahut Yunho. Letak dapur yang menempel dengan ruang makan membuat Yunho bisa melihat Lay mengangguk –untuk memanaskan segelas susu untuknya.

Pandangan Yunho beralih ke arah Kris yang masih sibuk mengacak rambutnya. Keringat bocah itu memang tak lagi sebanyak tadi, tapi itu lebih dari cukup untuk meyakinkan Yunho kalau Kris sedang bermasalah.

"Apa yang terjadi? Kau tak biasanya terjaga tengah malam. Kau tidak bisa berbohong karena aku telah hidup bertahun-tahun dengan kalian,"

Kris menarik napas panjangnya lagi. Ia tahu ia memang tak bisa berkelit dari Yunho. Ia ingin menceritakan mimpinya, tapi keberadaan Lay membuatnya sedikit canggung. Bukan ia tak mempercayai Lay, hanya saja Kris merasa mimpi ini terlalu rumit untuk diketahui orang lain –selain Yunho.

"Ini minuman kalian, aku tidur dulu," tiba-tiba Lay datang dengan nampan berisi dua cangkir dengan uap mengepul. Yunho mengangguk bijak sementara Kris langsung meraih cangkir cappuccino miliknya.

Kriet…

Suara pintu tertutup membuat Yunho tersenyum tipis. Kris mengangguk pelan.

"Aku tak percaya kau masih secanggung ini," celetuk Yunho.

"Aku hanya… merasa jauh, Hyung. Selama ini, bertahun-tahun mereka semua mengira aku pemimpin mereka,"

"Kau punya karisma untuk itu, Kris,"

"Demi Tuhan, Hyung, satu-satunya bakat yang kumiliki hanya kemampuan berbahasa. Ingatanku tak sekuat Kai dan Sehun, aku tak punya kemampuan mengobati seperti Lay, aku buta elektronik, aku tak paham computer, bahkan geologi pun aku tak mengerti sama sekali. Hanya Bahasa, Hyung! Hanya itu dan semua mengira aku seorang pemimpin,"

Yunho menatap Kris prihatin. Secara tak langsung semua beban ini disebabkan olehnya. Andai Yunho tak membentuk EXO, Kris tak mungkin menanggung semuanya. Andai Yunho tak mengajak Kris bergabung, Kris pasti bisa menikmati hidup normalnya tanpa harus terbebani.

Beban. Semua tentang beban hidup yang tak seharusnya dipanggul Kris.

Di satu sisi Yunho sebenarnya tak tega, namun di sisi lain ia memang tak bisa mengungkap siapa pemimpin EXO –yang hanya diketahui Kris, Suho, Chen, dan ia sendiri. Ada perjanjian yang membuat Yunho bungkam untuk hal ini. Kris yang awalnya hanya didaulat untuk menjadi juru bicara perlahan menjadi sosok 'ketua' di mata semua member. Sungguh, Yunho tak pernah berpikir sejauh ini.

"Oh! Jongdeok akan datang kemari minggu depan bersama Baekbeom. Chen sudah memberitahumu?" tanya Yunho memecah keheningan yang sempat tercipta.

Kris mendongak kaget mendengar nama itu.

"Kim Jongdeok? Jongdeok?" Kris memastikan.

"Ya, Kim Jongdeok, kakak Chen,"

Kris memandang jendela dengan tatapan kosong. Ia sedikit… terkejut.

"Harusnya ia datang sejak awal," ucapnya sedikit sarkastik.

-ChaNara's story-

"Kris, apa kau sudah siap?"

Kris yang tengah mengancingkan kemeja putihnya pun menoleh. Tampak seorang wanita dengan gaun hitam sederhana tersenyum manis.

"Sudah, Imo. Suho sudah turun?" tanya Kris balik.

"Kau harusnya tahu kalau anak itu masih kebingungan mau memakai jas atau vest. Hm… apa mungkin ini 'Kris's effect'?" canda wanita itu sambil mendekati Kris lalu mendorong bahunya pelan.

Kris mengerti maksud dorongan itu. Ia pun segera bergegas menyusul Suho di kamarnya. Wanita yang memanggilnya tadi langsung turun ke lantai bawah, memilih untuk menunggu mereka berdua bersama sang suami yang duduk manis di ruang tamu.

"Aigo… vest dan jas ini sama-sama keren! Semuanya cocok untuk acara malam ini!" omel Suho sambil mengacak rambutnya frustasi. Kris yang baru muncul di depan pintu pun terkikik geli.

"Pakai vest saja. Kalau kau pakai jas nanti wajahmu makin tua. Kau tidak bisa memikat gadis-gadis nanti," celetuk Kris sambil melempar vest lain dari dalam lemari. Suho menatapnya sumringah, lalu segera menyambar vest abu-abu gelap itu dan memakainya dengan penuh semangat.

"Harusnya kau datang dari ta…"

"Dan pakai sedikit gel di rambutmu. Itu lebih dari berantakan," lanjut Kris sambil melempar kaleng gel rambut ke arah Suho. Remaja pendek itu tertawa kecil menanggapi Kris.

"Gomawo, Ge!" seru Suho riang.

Kris mengangguk sambil keluar dari kamar Suho. Setelahnya ia berani jamin Suho akan siap kurang dari tiga menit.

-ChaNara's story-

Yunho menarik napas panjang melihat Kris menghabiskan minuman panasnya dalam sekali teguk. Rasanya ia makin tak tega melihat Kris yang frustasi seperti ini. Yunho masih mengingat ekspresi Kris saat mendengar tugas terbaru EXO. Saat itu wajahnya terlihat cerah, namun segera suram saat mendengar kata-kata Xiumin.

"Sejauh apapun, sesulit apapun, selama ada Chen dan Kris, pasti tugas kita akan sempurna. Kris selalu mampu memimpin EXO,"

Yunho tak bisa menyalahkan Xiumin saat itu sekalipun ia ingin. Sekali lagi, tak ada satupun anggota EXO yang tahu –selain Kris, Suho, dan Chen- yang tahu siapa pemimpin EXO sebenarnya. Tapi mereka harusnya ingat, Kris tak pernah didaulat untuk itu.

Benar-benar tak pernah, titik.

"Maafkan aku, Kris," ucap Yunho tersendat. Kris yang menaruh kepalanya di meja pun mendongak.

"Untuk apa, Hyung? Kau tak pernah salah," sahut Kris.

"Aku… tentu saja kesalahanku sangat banyak. Bahkan mungkin aku manusia paling berdosa di dunia ini karena sudah membuat kalian bersebelas tak memiliki masa depan yang jelas. Demi Tuhan, Kris, aku merasa berdosa kalau aku mengingatnya!"

"Ya, aku mengerti. Memungut Chanyeol dari jalanan, menculik Lay dan Luhan dari rumah sakit, menghasut Dio dan Baekhyun kecil, membunuh orang tua Tao, menculik Kai dan Sehun, mencuci otak Xiumin, semua itu kau lakukan untuk membentuk kelompok ini. Kau gila, Hyung. Kau gila!"

"Karena itu aku minta maaf untuk semuanya. Dulu aku begitu bersemangat untuk menciptakan EXO. Aku ingin membuktikan kalau anak-anak muda lebih mampu mengatasi masalah-masalah rumit daripada petugas-petugas pemerintah yang korup itu. Kukira semua akan sempurna, tapi ternyata aku malah hanya menghancurkan masa depan kalian. Ini seperti aku menciptakan takdir untuk kalian dan kalian tak boleh menolak. Maaf, maafkan aku, Kris…"

Kris tak menunjukkan respon lain selain menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ia kembali teringat mimpi buruknya tadi.

Oh, tepatnya teringat masa lalunya yang kelam secara tak sengaja. Sungguh Kris benar-benar ingin melupakan semua itu andai ia mampu.

-ChaNara's story-

"Pestanya formal sekali, Ge," celetuk Suho sambil mengambil segelas minuman dari nampan pelayan yang melintas. Kris yang sedikit bersandar pada meja di sampingnya hanya mengangguk takzim.

"See? This is what they called entrepreneur's world," sahut Kris –sambil membalas senyuman gadis yang melewati mereka. Suho mendengus malas.

"Aku lebih suka bergumul dengan alat-alat laboratorium milik Mr. Zhou daripada dunia ini. Nanti kalau Appa bagi warisan, kau saja yang pegang perusahaan ya?" balas Suho jenaka.

Kris tak menyahut apapun. Ia hanya mengambil sepotong cake dan melahapnya tanpa mempedulikan keadaan saat ini. Kris tak begitu memikirkan kata-kata Suho tadi.

Oh, well, Kris tentu saja tak ingin memikirkannya. Selama ini ia merasa Suho terlalu berusaha untuk menjadi copycatnya. Ya, apapun yang dilakukan Kris selalu dianggap Suho sebagai sesuatu yang harus ditiru.

He is the best rolemodel, Kris understands it better than anyone else.

Padahal sebenarnya Suho hanya tak menyadari kemampuannya dan Kris juga terlalu lelah untuk menjadi 'sempurna di mata Suho. Hell yeah, and he can't deny it. Never. Ever.

"Ngomong-ngomong, kau kenal pemilik pesta ini? Sepertinya yang datang hanya teman baik Samchoon…" tanya Kris sambil menunjuk pria paruh baya yang berbadan tegap.

Pria itu pemilik pesta makan malam mewah ini. Jelas sekali ia sangat kaya. Bahkan tempat pesta ini adalah salah satu ruangan dalam rumahnya. Suho dan Kris sempat dikenalkan padanya tadi.

"Aku… tidak mengenalnya Ge. Kalau tidak salah marganya Lee. Biasanya kau cepat sekali mengingat nama orang, tumben kau kebingungan," jawab Suho. Kali ini ia mencomot sepotong cheese cake dari nampan pelayan.

"Entah, mungkin karena hari ini aku sedikit lelah. Pertandingan basket tadi sore cukup menguras tenaga, kau tahu?"

"T-I-D-A-K, tidak sama sekali. Aku gagal masuk tim inti, Ge. Yang bertanding tadi cuma tim inti dan kau adalah kapten dari para pemain terbaik itu. Phew, aku tahu kau hebat. Sulit sekali melampauimu,"

'Kau yang terlalu malas untuk berlatih, bodoh,' batin Kris sambil melirik ke arah Suho yang menikmati berbagai makanan.

"Kau itu manusia sempurna, Ge. Akademikmu selalu di atas rata-rata, non akademik malah lebih lagi. Kau ikut lomba ini, kau ikut lomba itu, kau ikut segala macam kejuaraan dan kau berhasil meraih segala macam prestasi nomor satu. Wajahmu tampan, tinggi juga andai disumbangkan untukku barang 2cm tak membuatmu terlihat kerdil. Ah… aku iri padamu!" celoteh Suho tanpa henti.

Kris kembali menghela napas panjang mendengarnya. Ia tahu, ia tahu Suho hanya berniat memuji dan bocah satu itu memang terlalu menganggapnya sebagai seorang dewa. Kris terlalu terbiasa mendengarnya.

Prang!

"Jadi kau menolak tawaran bisnisku?!"

Bunyi gelas yang pecah terjatuh dan bentakan pria paruh baya tadi membuat Kris dan Suho langsung menoleh ke sumber suara. Tampak ayah Suho berhadapan dengan pria tadi dengan wajah serius. Beberapa tamu pun mulai berbisik risih.

"Ya, aku menolaknya! Siapa yang mau berbisnis dengan cara kotor seperti itu?! Aku mengerti kenapa kau mengundang semua teman dekatku hari ini. Kau ingin membuatku kesulitan menolak kan? Tidak! Aku tetap menolak!" bentak ayah Suho balik.

Suho mulai menyikut Kris. Wajahnya terlihat sedikit marah melihat posisi ayahnya saat ini. Kris memilih tak merespon apapun dan mulai mengamati sekitarnya. Ia mengernyit melihat masih ada beberapa tamu yang justru tersenyum.

Sesaat kemudian Kris menyadari sesuatu yang hampir terlupakan tadi.

'Mana Imo? Bukankah tadi bersama Samchoon?' tanyanya pada diri sendiri.

"Kau bilang teman baik? Astaga… wahai Kim yang malang, harusnya kau mengenal baik mereka yang kau anggap 'teman dekat'mu itu!" bentak pria itu sambil membentangkan tangan ke arah beberapa tamu yang tersenyum licik.

"Suho, kau tahu di mana Imo?" bisik Kris pada Suho yang sebenarnya hanya fokus pada ayahnya.

"Entah, harusnya Umma bersama Appa setelah kita memisahkan diri," jawab Suho yang mulai panic.

"Jangan terlihat gelisah. Apa kau melihat remaja lain selain kita?" tanya Kris lagi. Suho sedikit mengernyit.

"Hanya kita, gadis yang tadi tersenyum padamu, dan anak dari manusia tua itu,"

Kris mengangguk mendengar jawaban Suho. Ia mulai menegakkan badannya dan kembali berbisik pada Suho.

"Aku akan mendekati Samchoon. Kau perhatikan orang sekitarmu dan…" Kris menyodorkan sebuah pistol dari sakunya pada Suho secara diam-diam. "gunakan ini saat terdesak. Jangan tanyakan darimana aku mendapatkan benda ini,"

Suho menatapnya horror tapi Kris tak peduli. Ia tetap melangkah mendekati ayah Suho yang masih terlihat marah.

"Err… Samchoon…"

"GE! AWAS!"

Dor!

Kris beruntung masih sempat menunduk sehingga timah panas tadi langsung melesat menabrak tembok. Seseorang berpakaian formal tampak mengacungkan pistolnya dengan senyuman licik. Suho pun turut mengacungkan pistolnya ke arah orang itu.

Sayangnya gerakan itu membuat tamu-tamu lain yang tadi tersenyum licik turut mengacungkan pistolnya ke arah Kris, Suho, dan ayahnya.

"Aku tahu kau berencana membongkar fakta kalau perusahaanku mendapatkan dana tersendiri dari pemerintah secara illegal. Tapi sayangnya kau melupakan fakta lain kalau teman-teman baikmu itu juga memanipulasi dana yang mereka miliki. Kim, kau naif," ucap pria tadi sarkastik.

"Ya, aku berencana membongkar fakta itu karena perusahaanmu memang berbahaya. Aku berniat melaporkan kalian semua dengan bukti-bukti yang telah kukumpulkan,"

"Serahkan bukti itu atau istrimu mati di depanmu!"

"Yeobo!" "Umma!" "Imo!"

Kris, Suho, dan ayahnya kompak berteriak saat mendapati gadis yang tadi tersenyum pada Kris tengah melingkarkan tangannya di leher ibu Suho dengan pisau yang siap menggores tanpa ragu. Wanita anggun itu tampak lemas dan tak mampu berbuat apa-apa. Ada darah yang mengalir di pelipisnya.

"Kau gila! Kau gila! Kembalikan istriku!" bentak ayah Suho. Pria tadi justru tertawa.

"Kau kira semudah i… argh!"

Dor! Dor! Dor!

"Lepaskan dia atau aku membunuh semua orang di sini!" ancam Kris setelah tiga peluru melesat dari pistol yang digenggamnya. Dua orang telah ambruk dan satu peluru lain menembus kaki pria yang menjerit tadi.

Kris tak pernah menyesal rela menghabiskan waktu luangnya untuk berlatih menembak kalau hasilnya seperti ini.

Dor! Dor! Dor!

"Appa! Umma!" teriak Suho saat peluru menembus kepala kedua orang tuanya. Kris hanya terpaku.

"Harusnya aku juga menyekapmu anak muda!"

"Argh!"

Dor! Dor! Brak! Buagh!

Entah siapa yang memulai, yang jelas keadaan tiba-tiba menjadi kacau. Semua tamu berhamburan, panic tak tentu arah. Suho hanya sanggup terduduk lemas melihat darah mengalir dari kepala ayah dan ibunya. Semua seperti mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan barang sekali.

"Suho! Lari sekarang! Lari sejauh mungkin!" pekik Kris yang tengah bergelut dengan beberapa orang. Suho hanya mematung, tak benar-benar mendengar kalimat Kris.

"LARI! LARI SUHO-AH! LARI!" pekik Kris sekali lagi sambil mendorong beberapa lelaki yang mengurungnya tadi.

Suho belum sepenuhnya tersadar saat tiba-tiba sebuah tangan besar menggeretnya menuju balkon. Ia tetap tak bisa terlepas sekalipun meronta. Kris membelalak melihatnya. Diambilnya pistol yang sempat terjatuh kemudian mengacungkannya pada orang yang menggeret Suho.

Tangan itu milik si pria yang sekarang langkahnya terseok-seok karena kakinya ditembak Kris tadi.

"Tidak semudah itu kau bunuh ayahku," ujar seseorang di belakang Kris.

Dan Kris merasakan ujung pistol tengah menempel di kepalanya. Napas mereka berdua terdengar terengah-engah.

"Dia hampir membunuh saudaraku,"

"Semua karena ulah pamanmu,"

"Karena ulah kotor ayahmu, lebih tepatnya,"

Grep! Buagh!

Kris berhasil mencengkram tangan anak pria tadi dan membantingnya ke lantai. Anak itu mengerang kesakitan, tapi waktu Kris terlalu singkat untuk memperhatikannya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menyelamatkan Suho dan segera lari dari tempat ini.

Beruntung Kris sempat membuat anak itu pingsan. Setidaknya itu memperlambat gerakannya.

"Suho-ah!" pekik Kris.

"Ge…" desis Suho lemah karena rupanya lengannya telah tertusuk pisau. Darah segar mengalir di balik vest abu-abunya.

"Asal kalian mati, maka rahasia perusahaanku akan selamat…" ucap pria itu sembari tersenyum licik. "dan lebih baik kumulai dengan membuang bocah ini ke bawah sana lalu membunuhmu dengan pisau yang sama…"

"SUHO!"

Bugh!

Terlambat.

Kris terlambat. Suho telah terlempar dari balkon dan mungkin telah menghantam benda di bawah.

Kris mendesis marah sementara pria tua itu menyeringai lebar.

"Oh, sebaiknya aku memberimu pilihan. Kau bukan anak kandung Kim, kau terlihat pintar, dan yang jelas kau pintar membaca keadaan. Kau jauh lebih bermanfaat daripada bocah yang kubuang tadi. Kau boleh memilih untuk bergabung denganku atau mati konyol di sini,"

"Kau gila? Itu semua terdengar seperti neraka di telingaku!" bentak Kris marah.

Tidak. Jangan lagi. Sudah cukup dulu Kris kehilangan kedua orang tuanya. Sudah cukup Kris hampir gila karena kehilangan semuanya. Orang tua Suho dan Suho sendiri adalah keluarga terakhirnya, harta satu-satunya.

Tetap hidup dalam kesendirian lebih seperti menelan seluruh isi neraka bagi Kris. Sakit, buruk, dan taka da kebahagiaan.

"Tsk! Kau terlalu banyak bicara ternyata!"

Grep!

Gawat.

Tangan pria itu mencekik leher Kris kuat. Entah sejak kapan pistol yang tadi digenggamnya telah tergeletak di kakinya. Kris hampir kehabisan tenaga dan semangat pria itu makin meluap-luap. Kakinya yang terus mengucurkan darah tak dirasa lagi. Ia seperti tenggelam dalam kebahagiaan karena hampir membasmi musuh perusahaannya.

"Kim terlalu naif, Nak! Usahanya terlalu suci! Hidup sebagai pengusaha seperti kami tak kan pernah jauh dari hal kotor!" ceramah pria itu. Kris menggeleng lemah.

"Keluargaku tak pernah hidup dengan cara kalian," ucap Kris tanpa tenaga.

"Ini dunia, bukan surga yang suci luar biasa!"

Kris membeku beberapa saat. Ia seperti mengumpulkan tenaga dalam-dalam. Sekalipun ia tak sedikitpun terluka karena tembakan, tapi tenaga Kris benar-benar terkuras habis untuk melawan orang-orang dewasa tadi. Matanya menatap mata pria itu nanar, lalu ia mendesis pelan.

"Apa salahnya untuk mengubah dunia ini menjadi surga, Tuan Lee? Apa salahnya untuk kembali menjadi suci? Kenapa kau tak pernah berhenti mengambil jalan yang salah? Kenapa kau selalu memilih untuk membunuh mereka yang kau anggap sebagai penghalang? Tak cukupkah kau membunuh keluarga Wu tujuh tahun lalu, wahai Lee?"

Pria itu membelalak lebar mendengar penuturan Kris. Cekikannya mengendur.

"Ba… bagaimana ka… kau bisa tahu ten… tentang itu semua?" Kris tersenyum tipis.

"Aku ada di sana, Lee. Aku ada dalam pesta yang kau adakan hari itu. Kau memakai cara yang sama. Aku Wu Yifan, anak tunggal sekaligus keturunan terakhir keluarga Wu," ucap Kris tenang.

"Kau?! Kau anak Wu?!"

"Terkejut? Hah… aku sendiri tak menyangka akan bertemu lagi denganmu dengan cara seperti ini. Harusnya kau ingat-ingat siapa yang selamat dalam pestamu saat itu,"

"Tak mungkin! Semua mati saat itu! tak ada satupun yang selamat saat itu!"

"Harusnya kau ingat ada anak kecil yang berhasil menyelamatkan diri. Harusnya kau ingat celah yang kau buat sendiri saat itu. Seharusnya kau juga menyembunyikan luka sayatan di tanganmu itu. Siapa sangka kau bertemu dengan si pembuat luka?"

Dalam gerakan cepat Kris berhasil memutar balikkan keadaan dan balik menyerang Lee. Pistol yang tadi terjatuh langsung diraihnya dan…

Dor!

"Maaf, aku hanya membalas semua dendam yang telah kau ciptakan,"

Kris langsung melompat ke bawah, menyusul Suho, meninggalkan Lee yang jatuh bersimbah darah sambil memegangi dada kirinya.

T.B.C