Malam itu, Akashi menggendong Kuroko pulang ke apartemennya. Di belakangnya, Midorima sibuk menelepon kaptennya dan meminta maaf karena membolos latihan hari ini. Akashi juga menolak permintaan Haru ikut ke apartemennya dan memintanya pulang ke rumahnya sendiri. Pria itu awalnya menolak, tentu saja, karena istrinya adalah orang terakhir yang ingin ia temui saat ini. Dan Seirin, yang tak mendapat informasi apapun dari Akashi dan Midorima, pulang dengan geram.
Kuroko menarik napas panjang dalam gendongan si rambut merah; tubuh mungilnya bergerak makin mendekati dada bidang Akashi yang hangat. Melihatnya, Akashi tersenyum dan menunduk, membenamkan wajahnya pada rambut Kuroko.
Mereka disambut oleh ketiga anggota Generation of Miracles lainnya dengan agak histeris. Murasakibara, Kise, dan Aomine langsung berlari menyongsong Akashi dan Kuroko tepat setelah Midorima membukakan pintu. Rentetan pertanyaan meluncur tanpa henti dari tiga bibir:
"Apa Kurokocchi baik-baik saja?"
"Aka-chin! Bagaimana Kuro-chin?"
"Sialan! Selalu saja terjadi sesuatu kalau aku hanya berduaan dengan Tetsu!"
Namun Akashi tak mengacuhkan pertanyaan mereka (dan pernyataan ambigu Aomine). Mendapat tatapan tajam, ketiganya seketika terdiam dan bergerak mundur, memberi jalan untuk mantan kapten mereka. Akashi berjalan menuju kamarnya seraya sesekali mencuri pandang pada remaja dalam pelukannya. Untunglah, Kuroko masih tertidur.
"Shintaro, tolong bukakan pintunya."
Midorima menurut, ia memutar kenop dan membuka pintu. Lampu kamar secara otomatis menyala begitu sensor mendeteksi adanya manusia dalam ruangan.
Akashi dengan lembut membaringkan Kuroko di atas ranjang. Midorima telah memberi salep khusus pada punggung pemain bayangan mereka agar tak terasa nyeri keesokan harinya. Si remaja berambut merah menarik selimut hingga bawah dagu Kuroko, tahu malam itu hawanya akan sangat dingin. Kemudian ia mengusap pelan rambut biru muda yang sedikit basah oleh keringat itu, lantas menunduk untuk mengecup dahinya.
Puas tak ada lagi yang mengganggu Kuroko (selain, mungkin, mimpi buruk), Akashi berbalik dan mengangguk pada Generation of Miracles yang berdiri mematung di depan pintu, sedikit salah tingkah melihat adegan manis barusan di depan mata.
"Malam ini kalian takkan membuat keramaian," perintahnya. "Hari ini sangat melelahkan untuk Tetsuya, dan ia akan beristirahat tanpa gangguan. Kalian berkumpullah di ruang tengah. Kita akan berdiskusi di sana."
Mematuhi perintah Akashi, semuanya berbalik dan berjalan menuju ruang tengah. Hanya Murasakibara yang berjalan mendekati mantan kaptennya.
"Aka-chin," bisik pemuda itu pada Akashi yang menutup pintu kamarnya.
"Ya, Atsushi?"
"Bisakah… bisakah kau membuatkanku sesuatu?" gumam Murasakibara. "Karena porsi latihanku ditambah, aku jadi pulang lebih larut dari biasanya. Dan aku juga baru tahu kalau Kuro-chin kabur, jadi tadi terburu-buru pulang dan tak sempat mampir untuk makan. Dan uangku habis untuk beli snack…"
Akashi tersenyum melihat anak buahnya yang satu ini –yang mirip tupai bila dilihat dari nafsu makannya. "Kau harusnya tidak makan snack kalau kau lapar, Atsushi." Dengan lembut ia memarahi remaja berambut keunguan itu selagi berjalan bersama menuju uruang tengah. Murasakibara hanya merengut, tetapi toh ia mengangguk. Akashi memutar bola matanya. "Tapi karena kau patuh padaku dan menjalani seluruh hukumanmu… Ya, aku akan memasak sesuatu."
Remaja paling tinggi itu memulas seringai tupai. "Terima kasih, Aka-chin!"
Akashi mengedarkan pandangan pada tiga remaja lainnya. "Semuanya, apa kalian lapar?" Ketiganya mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku akan memasak untuk semuanya." Akashi terdiam sesaat. "Daiki."
Aomine langsung mendongak begitu mendengar namanya disebut, sedetik kemudian tubuhnya gemetaran begitu mengetahui bahwa Akashilah yang menyebutkan namanya.
"Ikuti aku."
Akashi berusaha keras menahan diri untuk tidak tertawa setan melihat ekspresi ngeri Aomine. Ganguro satu itu tampaknya sangat ketakutan membayangkan dirinya dengan Akashi, di dapur, berdua. Ketiga rekannya hanya mampu berdoa agar Tuhan masih bersedia menunda Aomine meregang nyawa.
Sesampainya di dapur, Akashi segera mengeluarkan berbagai kantung plastik dari lemari es, menyuruh Aomine menanak nasi, dan mereka mulai memasak.
"Daiki," panggil Akashi yang tengah memotong sayuran. "Kalau nyawanya terlalu besar, matikan saja."
"N-NYAWA?!"
Akashi menelengkan kepala. "Nyawa? Tidak, aku bilang 'nyala', kok. Nyala kompor."
Tidak! Tadi dia benar-benar bilang nyawa, kok! Dan apa katanya, mematikan nyawa? Nyawa siapa? Jangan-jangan nyawaku?!
Keringat dingin meluncur dari dahi seorang Aomine yang malang dan kemungkinan besar sudah lama tak mengorek telinga.
Kemudian dapur dilanda keheningan, hanya dipecah oleh suara-suara kecil semacam bara api kompor atau bunyi pisau yang bertumbukan dengan benda keras. Bagi Akashi, keheningan ini lumayan nyaman dan menenangkan. Namun bagi Aomine, rasanya seperti sedang menunggu antrian masuk ke neraka.
Setelah menghidangkan lima mangkuk sup miso ditemani lima mangkuk kecil nasi, Akashi akhirnya bicara. "Apakah kau setuju bahwa kejadian hari ini seluruhnya murni karena kesalahanmu?"
Ia menanyakannya dengan tenang, seolah sedang mendiskusikan cuaca.
"Seluruhnya karena kesalahanku?" sudut mata Aomine berkedut, entah karena marah dituduh demikian atau malah takut karena menyadari barusan ia berseru pada Akashi. "Tidak! Tetsu juga bersalah! Harusnya ia menggunakan otaknya dan mendengarkan kita, kan?"
Akashi bergumam pelan, antara setuju dan tidak setuju. Ia lalu mematikan kompor, dan harum wangi miso menyeruak ke udara. "Tetsuya memang tidak mematuhi perintahku. Tetapi," ia memicingkan mata. "Kau juga bersalah karena telah memberinya kesempatan untuk kabur. Siapa yang dengan seenaknya tertidur di tengah tugasnya menjaga Tetsuya?"
Wajah Aomine menghangat. "A-aku."
"Dan siapa yang membiarkan Tetsuya lolos dari rumahku karena kecerobohannya, kemudian menunggu hingga nyaris satu jam untuk memberitahuku?"
Remaja yang kena marah itu wajahnya kian memerah, malu. Sial, ia baru menyadari bahwa tertidur di tengah tugas menjaga pemain bayangan mereka tentunya bukan tindakan yang cemerlang. Bagaimanapun, hawa keberadaan Tetsuya itu memang sama tipisnya dengan hantu. "Ya, ya, itu semua salahku!" ia mengakui. "Jadi, apa inti pembicaraan ini?"
Akashi selesai mengaduk sepanci sup miso dan menatapnya. "Intinya, Daiki, adalah bahwa aku telah memberitahu kaptenmu untuk mengalikan empat-"
"EMPAT?"
Sepasang gunting merah seketika melesat melewati telinganya dan menancap pada dinding di belakangnya. Siswa SMA Touou itu menahan napas.
"Diam. Ya, empat kali dari menu latihanmu yang telah digandakan sebelumnya. Jadi, totalnya adalah delapan kali menu latihan, untuk dua minggu ke depan. Dan," Akashi mengangkat tangan untuk menghentikan Aomine yang tampaknya sudah siap memprotes. "Kau akan mengurus semua keperluan apartemenku selama seminggu. Yang berarti selama tujuh hari, setelah latihan, kau akan kemari untuk melakukan beberapa aktivitas rumah tangga yang sudah kurencanakan. Juga," Akashi menekankan kata terakhir. "Ini."
Remaja berambut merah itu mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dari sakunya dan mengulurkannya. Aomine meraihnya dengan tangan gemetaran, membukanya, kemudian membacanya pelan. "Terima kasih atas kesediaan Anda menjadi relawan pengasuh taman kanak-kanak Yoshino, Aomine Daiki. Jam kerja Anda di taman kanak-kanak Yoshino adalah pukul 1-4 sore mulai besok hingga akhir pekan." Aomine menjatuhkan kertas tersebut dengan mulut menganga lebar. "Kau pasti bercanda, Akashi!"
"Aku serius. Karena aku yakin bekerja di taman kanak-kanak dan dikelilingi bocah-bocah pasti mampu menyibukkanmu hingga tak sempat memikirkan 'tidur' lagi," ia tersenyum manis pada remaja yang nyaris mati di depannya. "Dan kudengar bisik-bisik dari ibu-ibu tetangga bahwa TK Yoshino terkenal atas… berandal-berandal balitanya."
Aomine mengerjap dan menatap Akashi yang masih tersenyum memuakkan. Ini bohong, kan? Akashi tidak sekejam ini, kan? Ya, kan? Semua ini bohong, kan? INI HANYA MIMPI, KAN?
"Kau tidak bermimpi, Daiki"
Terkutuklah Akashi dan kemampuannya untuk membaca pikiran. Lebih baik tadi ia tertusuk gunting daripada seminggu terjebak dengan bocah-bocah berandalan.
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki
Original Story:
Betrayal In Its Simplest Form © Virelei
OCs © Virelei
(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)
Translation:
Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt
I own nothing but this translation
(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)
Thus, I don't make any commercial profit within this story
(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)
Translation is under permission of its original author.
(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)
Warning:
This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.
.
.
[Chapter 7]
.
.:xxx:.
"Ayolah, Akashi!" rajuk Aomine. "Akan kulakukan hukuman yang lainnya, tetapi jangan yang ini! Jangan menjadi relawan di TK!"
"Oh?" pemuda bermata merah-emas itu melirik sinis padanya seraya mengatur alat-alat makan di atas nampan. "Kau berani membantah perintahku?"
Aomine membisu.
"Aku sudah kelaparan!" seru Kise bersemangat. "Uwaaah, masakan Akashicchi kelihatannya enak! Selamat makan!" Si pirang meraih sumpitnya dan menyambar lauk terdekat.
"Selamat makan," ucap Midorima sopan dan mulai makan dengan porsi minim. Ia baru saja selesai membebat jemari kirinya dengan perban, yang kata Oha-Asa nanti akan membawa keberuntungan.
Murasakibara tak mengucapkan apa-apa, dengan gesit ia langsung melahap makanannya sekaligus, hingga pipinya mengembung seperti tupai. Akashi menghela napas dan menasihatinya untuk makan pelan-pelan.
Aomine merundung di pojok ruangan, nyaris tak menyentuh makanannya sama sekali. Ia dan Akashi membawa nampan dan memasuki ruang tengah dengan, yah, ekspresi yang berbeda: Aomine dengan tampang menderita, dan Akashi yang puas luar biasa hingga menyeringai lebar. Kise, Midorima, dan Murasakibara hanya bisa bersyukur rekan berkulit gelap mereka masih bernapas, walau semangat hidup tampaknya telah surut dari remaja bersurai biru tua tersebut.
"Neh, Mine-chin?" Murasakibara menarik kaus Aomine.
Aomine menoleh padanya dengan tatapan tajam. "Apa?" gertaknya.
"Kau mau makan itu, tidak?" ia menunjuk pada semangkuk sup miso.
Melihat tatapan ala tupai Murasakibara, Aomine pun luluh dan menghela napas. "Tidak. Ambil saja."
Mata violet si tupai berkilauan. Cepat, Murasakibara meraih mangkuk supnya dan melahap hampir separuh hidangan sekaligus. Akashi menggelengkan kepala pasrah melihat perilaku 'bayi'nya.
"Ah," Kise mendesah keenakan dan menyandarkan badan pada sofa. "Aku kenyaaang!"
"Terima kasih untuk makanannya, Akashi," ucap Midorima sopan.
"Trims, Aka-chin!" seru si tupai.
"Hm," demikian respon yang mereka terima. "Kuasumsikan kalian ingin bicara?"
"Ya!" Kise mengangguk serius. "Apa yang terjadi pada Kurokocchi? Apakah dia…" Kise menelan ludah, "… d-dia terluka lagi?"
Midorima lah yang menjawab pertanyaan tersebut. "Tidak. Hanya kondisi luka-lukanya yang makin parah karena ia memaksakan diri untuk bermain basket. Seperti yang sebelumnya Akashi katakan, harusnya ia tak banyak bergerak dahulu sebelum lukanya pulih."
"Ia tak menuruti perintahku." Akashi melanjutkan. "Kuroko Ibuki ada di sana saat aku datang."
Informasi tersebut diikuti dengan tarikan napas kaget.
"Nee… aku baru menyadari," Kise berkata setelah pulih dari keterkejutan. "Kuroko Ibuki… Bukankah Ibuki itu nama laki-laki? Dan bukannya nama 'Ibuki' biasanya adalah nama keluarga? Bukannya agak aneh bila nama 'Ibuki' digunakan sebagai nama depan?"
"Ya." Akashi menyetujui. Jemarinya menari di atas meja ruang tengah. "Aku juga menyadarinya beberapa waktu lalu, saat aku sedang mempelajari wanita-wanita paling berpengaruh di Jepang. Permasalahan mengenai namanya," Senyum dingin mengembang pada wajahnya. "Adalah bagian dari rencanaku."
.:xxx:.
Kagami dan Riko dengan hati-hati menyusup keluar ruang arsip. Di tangan gadis itu terdapat map biru tua, label Kuroko Tetsuya tercetak tebal di sampul depan. Sampai di koridor, keduanya berlari cepat menuju pintu keluar. Sebuah mobil warna perak menunggu mereka di lapangan parkir.
"Bagaimana?" tanya Hyuuga yang duduk di depan roda kemudi pada Riko.
"Dapat," Riko membuka pintu dan duduk di sebelahnya. Kagami duduk di kursi belakang. "Gampang sekali dibobol. Kagami memang berbakat."
"Kalau aku mendapat masalah karena ini," Kagami menggerutu dan melempar jepit besi yang baru ia gunakan untuk beraksi. "Aku juga akan menyebutkan nama kalian. Satu persatu."
Hyuuga menyalakan mesin mobil dan mengemudi keluar lapangan parkir SMP Teikou. "Tenang saja, Kagami. Kita takkan tertangkap. Tidak dengan Riko di pihak kita."
Kagami hanya merengut.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Kagami. Anggota tim Seirin yang lain berkerumun di teras, menunggu ketiganya kembali untuk membukakan pintu. Hyuuga telah mengirim pesan pada anggota yang lain bahwa latihan hari itu dibatalkan dan mereka harus berkumpul di rumah Kagami. Penting, begitu katanya.
"Jangan pegang apapun," Kagami memperingatkan dengan sinis seraya membuka pintu rumahnya. Diabaikan, tentu saja, karena rekan-rekan setimnya langsung berlarian masuk.
Setelah semuanya mendapat tempat duduk di ruang tamu yang cukup luas dan Kagami (dengan tak ikhlas) membuatkan teh untuk semua tamunya ("Teh ini tidak gratis! Bayar padaku sebelum pulang nanti!"), Riko meletakkan map tebal yang berhasil ia curi dari SMP Teikou di atas meja. Lalu ia sendiri duduk di antara Hyuuga dan Kiyoshi.
"Apa kita benar-benar harus ikut campur dengan masalah Kuroko?" Furihata bertanya gugup.
"Tentu saja," jawab Teppei. "Kalau Generation of Miracles tak mau memberitahu kita, kita harus mencari tahu sendiri. Kita punya hak untuk mengetahui masalah Kuroko."
Semuanya mengangguk setuju.
Tak berapa lama, lembaran-lembaran yang memuat kehidupan SMP Kuroko tersebar di antara mereka. Nilai-nilai pelajarannya semasa SMP, catatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain yang pernah ia ikuti, prestasi-prestasinya, dan kartu laporan perilakunya. Satu kartu laporan tertangkap mata Riko.
"Hei, lihat," gadis itu mengumumkan. "Ini kartu laporan saat ia kelas tiga SMP. Wali kelasnya menulis banyak komentar mengenainya…" ia membacanya. "Agak sulit menyadari keberadaannya. Nilai-nilainya memuaskan. Sangat sopan pada guru. Tetapi nyaris setiap hari masuk dengan luka-luka."
"Semua ini sudah terjadi sejak Kuroko masih SMP?" Koganei berseru kaget.
"Lihat," Kagami mengangkat lima kartu laporan lainnya. "Semuanya juga menyebutkan bahwa nyaris setiap hari Kuroko masuk sekolah dengan luka-luka!"
Riko manggut-manggut sebelum meneruskan. "Mulai berinteraksi dengan Shogo Haizaki, anggota klub basket. Mungkin luka-lukanya adalah akibat dari pengaruh buruk Haizaki? Shogo Haizaki?"
"Shogo Haizaki," Kiyoshi menyahut. "Kenapa rasanya familiar, ya?"
"Aku tak tahu," pelatih tim Seirin berkata. Ia meletakkan kartu laporan tersebut dan meraih ponselnya, mengetikkan beberapa huruf pada daftar kontaknya, kemudian mengulas seringai. "Tapi kalau kita bisa mengorek informasi dari Shogo Haizaki ini, kita akan menemuinya."
.
.
[To be continued]
A/N: Oke. Pertama-tama, saya nggak nyangka akan secepat ini update chapter 7 o.o Sungguh, ini sih namanya bukan sepuluh hari lagi! Tapi ya, memang chapter ini wordsnya cuman dikit sih /dor/
Oh iya, di chapter 5… HALOOO HEI ADA NGGAK YANG NYADAR KALAU AKASHI DAN KUROKO TIDURNYA SERANJANG BERDUA LOOH /plak/ Nee, dan saya suka sekali melaraskan Murasakicchi dengan tupai. ^^
Nggak tahu harus ngetik apa lagi, jadi ya saya akhiri saja di sini. Reviewnya, minna? Supaya chapter 8 lebih cepat lagi. :)
-Rheyna Rosevelt
