Miss Office Girl Tajir Season II
Summary : 'OMG.' Batin Naruto merana, mengingat kertas laknat yang diterimanya tadi pagi. Ia nyaris tak percaya kalo saja ia tak mengkonfirmasi pada petugas yang bersangkutan. Kaki Naruto seperti tak menapak tanah begitu mendengar jawaban 'Iya' dari petugas yang diteleponnya. Dan sekarang Itachi bilang, 'tak mau tahu?' ItafemNaru, KisafemNaru, SasufemNaru.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Romance dan Friendship
Rating : Masih T aman untuk segala usia. Seiring perkembangan akan jadi M. Tapi nanti.
WARNING : FEMNaru, OOC, Bertebaran typo, hasil SKS, tak sesuai EYD, bikin kepala pening, gaje and many mores.
Pair : ItafemNaru, SasufemNaru, KisafemNaru
Author Note :
Maaf jika lama banget updatenya soalnya yach lagi macet aja idenya. Tiba-tiba mentok nggak tahu harus ngetik apa? Padahal udah Ai bikin alurnya, cuman kalo udah depan laptop bawaannya ngeblank. Jadi, stagnan dech.
Ai ucapkan terima kasih banyak pada para reader yang udah berkenan memfollow, memfav, dan meninggalkan jejak di kotak review. Saran dan kritik dari para reader sangat Ai harapkan untuk mendukung kelanjutan kisah ini.
Langsung aja cekidot... (^_^)
Don't Like Don't Read
Jangan tanya padaku, apa aku mencintaimu?
Karena aku sendiri juga tak tahu
Satu hal yang ku tahu, tanpamu hidupku kosong
Tanpamu, aku bukan lagi aku
Chapter sebelumnya
Tepat saat itu datang sesosok laki-laki dengan aura angker di belakang mereka. Ia menyaksikan KisaNaru tengah berpelukan di sebuah taman dengan cahaya yang redup terlindung oleh batang pohon Sakura, jauh dari pandangan orang-orang awam. Posisi yang sempurna yang membuat sosok itu berfikir yang bukan-bukan akan hubungan KisaNaru.
Chapter 6
Cemburu
Itachi meremas rambutnya frustasi. Pundaknya yang biasanya tegap dan gagah, kini merosot ke bawah. Iris oniks yang biasanya memandang penuh keangkuhan pada dunia, kini tertunduk kalah. Sinar matanya pudar seperti redupnya harapannya.
Dua hari yang lalu, ia pikir kepulangannya ke Konoha akan membawa kebahagiaan padanya. Tapi, harapan tinggallah harapan. Bukan bahagia yang ia peroleh, melainkan kekecewaan demi kekecewaan yang bertumpuk hingga ia tak sanggup lagi menghitungnya.
"Lihatlah dirimu sekarang!" ujar Itachi sinis memandang fotokopi dirinya di cermin. "Kau pria yang menyedihkan." Lanjutnya mengejek nasib buruknya.
Itachi memandang jalan raya dari balik kaca jendela ruangannya. Matanya menerawang jauh. Dua hari yang lalu, hatinya diliputi oleh rasa bahagia —pakai sangat—. Naruto, sang pujaan hati sedang mengandung benihnya. Dadanya membuncah, hingga Itachi takut dadanya meledak karena ini. Tanpa pikir panjang, ia segera membeli cincin emas putih polos yang hanya dihiasi satu permata diamond untuk Naruto. Itachi sengaja memilih diamond karena ia menyukai warna biru seperti warna mata kekasihnya.
Itachi berencana melamar Naruto dan menjadikannya miliknya selamanya begitu ia tiba di tanah air. Dalam perjalanan pulang, Itachi bahkan sudah berlatih menghafal kata demi kata untuk meyakinkan Naruto. Ia sudah membuat banyak sekali daftar alasan untuk membuat Naruto bilang 'Iya,'. Namun, harapannya pupus. Naruto sudah menikah. Dan, orang itu bukan Itachi.
"6 bulan. Huh! Ia sudah menikah selama 6 bulan. Dan, kau tak tahu?" kata atau tanya Itachi sinis pada dirinya sendiri.
Oniksnya berkaca-kaca dipenuhi oleh perasaan kecewa, kalah, dan juga sarat dengan kesedihan yang mendalam. "Luar biasa! Bravo! Kau beneran genius, Itachi!" puji atau maki Itachi pada dirinya sendiri. "Kau sibuk membuat kesan yang baik di depannya, agar ia mau berkencan denganmu, tapi laki-laki lain yang mendapat hatinya. Apa saja kerjamu selama ini, Genius? Apa?" raungnya kesal.
Ia selama ini begitu bangga dengan kemampuannya dalam menakhlukkan hati wanita. Ia begitu yakin bisa membuat Naruto berpaling padanya. Namun, fakta berkata lain. Ia kecolongan untuk kedua kalinya. Naruto diam-diam, tanpa se-pengetahuannya sudah menikah dengan laki-laki lain. "Damn'it. Fuck!" sumpah serapahnya terdengar kasar di ruangannya.
"Tap..tapi aku masih ada kesempatan, kan? Ia sedang hamil. Hamil anakku. Aku yakin 100%. Tidak ada laki-laki lain yang tidur dengan Naruto selain aku. Jadi, pasti itu anakku." Ujar Itachi penuh keyakinan.
Oniksnya kini menyorot pada cincin emas mengkilat tertimpa sinar lampu yang terbuka lebar pada kotak merah beledu. Kondisinya masih sama seperti saat ia membelinya di toko dalam perjalanan pulang. Itachi menatap sedih cincin itu. "Seharusnya, cincin ini melingkar di jari manis Naruto bukannya teronggok sia-sia di sini," ujarnya sedih.
Ia menutup kotak berisi cincin itu kasar. "Huh! Persetan dengan suaminya yang sialan itu. Kau akan tetap menjadi istriku, Hime. Apapun yang terjadi, kau akan tetap jadi milikku, selalu dan forever. Akan ku pastikan itu." Ujar Itachi penuh perhitungan. Matanya berkilat licik.
"Jika Naruto tak mau bercerai dengannya, akan ku buat suaminya menceraikan Naruto. Jangan panggil namaku Itachi, jika hal semudah itu saja aku tak bisa!" Tekad Itachi bulat.
Itachi dengan segera mengetikkan beberapa angka pada iphonenya, menunggu dengan tidak sabar teleponnya diangkat baru berkata, "Segera cari tahu siapa suami Naruto Namikaze! Aku mau datanya malam ini juga," Itachi memutus teleponnya, tanpa menunggu jawaban orang yang diteleponnya.
Itachi menunggu dengan gelisah telepon Sasori —orang yang disuruhnya mencari tahu identitas suami Naruto— di kantornya di sisa jam kerjanya. Begitu gelisahnya hingga ia tak ambil perduli, ketika Naruto menolak ajakannya untuk pulang bersama. Pikirannya dipenuhi oleh teka-teki siapa suami Naruto hingga ia lupa memperhatikan keselamatan Naruto dan calon bayinya.
Itachi mondar-mandir di apartemennya gelisah. Ia menunggu-nunggu kabar baik dari Sasori, namun hingga jam 7 malam masih juga belum ada tanda-tanda si babyface-kekasihnya-Deidara itu menelepon. Kesabarannya sudah sampai pada batasnya. Yach, ia memang bukanlah pria yang dianugerahi kesabaran lebih, sih. Dengan tidak sabaran, ia memencet no kontak Sasori yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala.
"Kenapa begitu lama?" bentaknya begitu panggilannya diangkat.
"Kau pikir ini mudah? Beri aku waktu lagi dan akan ku selesaikan semuanya."
"Halah, alasan. Ini kan pekerjaan kelas teri. Kau tinggal menyusup data milik pemerintah, cari, udah selesai."
"Selesai kepalamu!" maki Sasori tak terima. "Kau pikir berapa banyak jumlah wilayah administrasi di Jepang ini, huh? 10 buah? Sudah biarkan kami bekerja! Jangan ganggu kami dengan telepon tidak pentingmu itu!" bentak Sasori marah."Kalau kau tak punya kegiatan, kenapa kau tidak membantu kami? Kau bisa mencari buku nikah Naruto. Aku yakin ia menyimpan buku nikahnya diantara barang-barang pribadinya di aparteman kalian," lanjutnya.
'Mencari buku nikah Naruto? Kenapa tidak terpikirkan olehku?' batinnya heran. Ia merasa sangat bodoh sekarang. Ada cara mudah untuk mengetahui siapa suami Naruto yang sebenarnya, tapi ia malah memilih jalan yang sulit. Betapa bodohnya dia. Rasa panik membuat kegeniusan menguap begitu saja.
"Trims untuk usulnya dan selamat bekerja. Ku harap saat kau meneleponku, kabar baik saja yang ku dengar." Ujar Itachi sambil menutup telepon.
"Hm," balas Sasori entah didengar Itachi atau tidak karena bosnya yang tak sabaran itu sudah memutus telepon.
Itachi kini sibuk membongkar barang-barang Naruto, mencari-cari buku kecil yang berisi identitas suami Naruto. Namun, usahanya berakhir sia-sia. Rupanya, gadis itu tak menyimpannya di apartemen mereka. Mungkin disimpan di kantor atau di tempat lain seperti kediaman keluarganya di USA atau apartemen salah satu kakaknya. Well, siapa yang tahu?
"Ukh, sial. Double sial. Aku hanya bisa berharap pada bantuan Sasori sekarang," rutuk Itachi kesal.
Itachi duduk sambil meremas rambut panjangnya frustasi. Matanya tanpa sengaja bertemu pada jarum jam yang terus berputar sejak tadi. 'Jam 8. Sudah malam rupanya,' batin Itachi. "Tapi, kemana Naruto? Kenapa ia belum pulang juga?" tanya Itachi sendiri.
Rasa cemas merambat naik, menguasai hati dan pikirannya. Ia mencemaskan keadaan Naruto yang tadi siang terlihat tidak baik-baik saja. Wajah Naruto tampak lebih pucat dan setengah linglung seharian. Beberapa kali ia membuat kesalahan kecil. Ia bahkan tak bisa focus mendengarkan cerita menggebu-gebu Temari tentang rencana pernikahannya dengan Shikamaru.
Mungkin, ini ada hubungan dengan Itachi yang memaksa Naruto berpisah dari suaminya. Mungkin, Naruto sangat mencintai suaminya, hingga jiwanya terpukul karena dia dipaksa mengakhiri pernikahannya yang baru seumur jagung? Yach siapa yang tahu isi hati orang.
Tapi, persetan dengan semua itu! Itachi tak perduli. Apapun alasannya, meski ia harus menyakiti hati Naruto dan membuatnya menangis darah, Itachi tak akan mundur selangkah pun. Naruto harus tetap bercerai dari suaminya apapun yang terjadi.
Itachi tak mau dan tak akan pernah mau, anaknya diasuh oleh pria lain. Terkutuklah dia kalau membiarkan anaknya memanggil pria asing itu 'Ayah,' dan sebaliknya memanggil anaknya dengan sebutan 'Nak,'. Langkahi dulu mayat Itachi sebelum itu terjadi.
Itachi yang mencemaskan Naruto, bergegas menyambar mantelnya di kaitan baju dan segera keluar dari apartemennya. Ia mengendarai mobilnya —pinjam mobil Sasuke— pelan-pelan keliling kota untuk mencari keberadaan Naruto. Rasa cemas membuat perutnya mulas. Berkali-kali kepalanya melongok ke kanan dan ke kiri, jika matanya menangkap siluet wanita pakai baju kantor warna denim berambut pirang panjang di jalan, berharap ia Naruto.
Akhirnya, setelah hampir sejam putar-putar keliling kota, oniksnya berhasil menangkap siluet seorang wanita berambut pirang yang Itachi yakini kekasihnya di taman Beika, tak jauh dari kantor mereka. Itachi dengan gerakan yang luwes dan efisien berhasil memarkirkan mobilnya di celah sempit diantara mobil-mobil yang berjajar rapi di parkiran yang tersedia, tak jauh dari taman Beika.
Ia menimang-nimang kunci mobil dengan hati puas. Sebuah senyuman nan lebar tersungging diantara belahan bibirnya. Wajahnya berseri-seri tak sabar bertemu dengan kekasih hatinya berikut calon bayinya. Itachi melangkah terburu-buru nyaris berlari ke tempat Naruto berada.
Betapa terkejutnya dia, melihat pemandangan menyakitkan di depan sana. Naruto sedang berpelukan dengan pria yang Itachi tahu mantan tunangan Naruto. Matanya melotot horror. Darahnya dengan cepat naik ke ubun-ubun, membuat wajahnya yang putih pucat merah padam. Api cemburu menyala dalam hatinya dan berkobar-kobar tak terkendali.
Samar-samar, telinganya menangkap pekikan panik Naruto. Safir kekasihnya yang biasanya bersinar teduh, kini melotot horror. Ia ketakutan memandang Itachi. Ia dengan segera melepaskan diri dari pelukan mantan tunangannya itu. Sedang, si monster ikan menatap Itachi dengan tatapan bego, campuran dari rasa bingung, terkejut, dan bersalah. Well, siapa yang perduli. Itachi terlalu marah untuk peduli.
Dalam lima langkah, Itachi sudah berdiri menjulang di depan Naruto. Tanpa banyak kata, ia menarik kasar tangan Naruto yang berdiri berdampingan dengan mantan tunangan Naruto. Telinganya sempat mendengar teriakan panik Naruto dan teriakan cemas si monster hiu itu, namun sekali lagi Itachi tak perduli. Rasa marah membuatnya menulikan semua teriakan protes dari dua orang itu. Itachi bahkan tak perduli dengan kilauan cemburu dan tak rela di mata monster hiu itu.
'Dasar pria brengsek. Berani-beraninya ia berekspresi seperti orang terluka. Kau sama sekali tak pantas berekspresi seperti itu. Kau sendiri yang memilih melepas Naruto, menyakitinya, dan menghancurkan hidupnya. Dan, sekarang kau datang layaknya orang dizalimi untuk membuat Naruto iba. Kau ingin Naruto kembali padamu? Jangan harap. Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu. Dasar tolol. Kau membuatku muak. Dasar pria pecundang! Kau sangat menyedihkan.' Batin Itachi dengan ekspresi jijik pada Kisame.
'Aku tak akan pernah melepaskan Naruto dari genggaman tanganku hanya untuk kembali pada orang sepertimu. Aku tak perduli, meski harus menyakitinya. Naruto is mine. Naruto hanya akan bersamaku. Hanya aku. Cam kan itu baik-baik!' ujar Itachi berkomunikasi dengan monster hiu yang tadi dengan kurang ajarnya memeluk Naruto lewat mata.
Kisame tertunduk. Entah mengerti entah tidak. Entah karena merasa bersalah atau ia merasa kalah oleh Itachi. Itachi tak tahu yang mana. Namun, apapun itu, ia tak akan membiarkan dua orang ini bertemu lagi. Ini terakhir kalinya mereka menghabiskan waktu berdua saja.
Setelah itu, Itachi menarik tangan Naruto dan membimbingnya masuk ke dalam mobil mereka. Meski hatinya luar biasa marah pada Naruto yang diam-diam berani menemui Kisame di belakangnya, Itachi tetap bersikap lembut padanya. Ia tak mau Naruto sampai kenapa-napa yang nantinya berpengaruh pada janin mereka.
Mobil Itachi meluncur meninggalkan taman Beika. Sepanjang perjalanan, mereka habiskan dalam diam. Naruto sebetulnya mengajak Itachi bercakap-cakap, berusaha minta maaf dan menjelaskan kejadiannya, namun Itachi enggan mendengarkannya. Ingat, ia sedang marah pada Naruto. Ia tak bisa jadi pendengar yang baik, apalagi jadi pria pengertian, setidaknya untuk saat ini. Entah nanti, saat kemarahannya sudah reda.
…..*****…
"It-Itachi!" pekik Naruto berusaha melepaskan genggaman tangan Itachi yang mencengkram erat pergelangan tangan Naruto, menimbulkan ruam kemerah-merahan pada kulitnya, dan mungkin sedikit memar. "Chi...ak-aku.." Apapun yang hendak Naruto ucapkan tertelan dalam tenggorokannya.
Lidahnya mendadak kelu, ketika Itachi lagi-lagi memandang Naruto dengan tatapan 'ITU'. Oniks Itachi memancarkan kesedihan, kecewa dan marah luar biasa pada Naruto. Itu membuat Naruto takut dan ngeri dalam waktu bersamaan. Naruto menundukkan kepalanya. Ia tak tahan di bawah tatapan mengintimidasi Itachi.
Di bawah tatapan menghakimi Itachi, Naruto merasakan sentakan perasaan bersalah. Ia paham apa yang dilakukannya hari ini salah, sangat salah dilihat dari sudut pandang manapun. Tak akan ada satu orang pun di dunia ini yang akan membenarkan tindakan terakhirnya. Meski, semua itu bukanlah sesuatu yang Naruto sengaja dan bukan pula ia rencanakan. Tapi, salah tetaplah salah.
Naruto paham apa yang saat ini tengah berkecamuk di kepala Itachi tentangnya setelah insiden di taman barusan. Naruto tak menyalahkannya jika ia berfikir seperti itu. Sumpah demi semua yang suci. Naruto sendiri jika berada di posisi Itachi, pasti juga akan berfikir demikian.
Bayangkan! Seorang wanita muda nan cantik tengah dipeluk seorang laki-laki yang masih muda dan normal pula di sebuah taman nan indah di malam hari, dengan sinar lampu yang bersinar redup dan suasana yang uhh wow romantis, hanya berdua saja. Apalagi yang akan terpikir olehmu selain dua insan itu tengah bermesraan? Hanya orang tolol yang berfikir selain itu. Naruto yakin 100% ah bukan 1000%, Itachi bukanlah bagian dari orang tolol itu. So, wajar jika ia berfikir Naruto tengah bermain api di belakangnya.
Naruto menundukkan kepalanya lebih dalam, melindungi wajahnya saat ia merasakan gerakan tangan Itachi terangkat ke atas. 'Uh, apakah Tachi akan memukulku sekarang? Sebagai hukumanku?' pikirnya dengan perasaan was-was. Tubuhnya berdiri kaku dan tegang, menunggu deraan rasa sakit yang sebentar lagi mampir pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Namun, setelah sekian lama menunggu, Naruto tak kunjung menerima rasa sakit itu.
Naruto membuka matanya perlahan, sedikit mendongak untuk mengintip apa yang tengah Itachi lakukan. Safirnya berkilat bingung, menyapu Itachi yang wajahnya masih tetap datar dan dingin sedingin salju di kutub utara seperti terakhir kalinya terlihat. Matanya turun ke bawah menatap gerakan tangan Itachi yang tidak sedang mencengkram tangan Naruto.
Kerutan di dahinya semakin dalam dan bertambah banyak, menyaksikan bagaimana tangan Itachi gemetar dan terlihat kesulitan membuka handel pintu kamar Naruto. 'Apa yang akan ia lakukan padaku?' pikir Naruto dicekam rasa takut yang amat sangat. 'Ia tak akan menyakitiku, kan?' pikirnya lagi.
Tanpa sadar, tangan Naruto yang tadi mencoba melepas genggaman tangan Itachi beralih mengelus-elus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit. Naruto secara refleks melindungi janinnya, buah cintanya dengan Itachi. Ia kini mencemaskan nasib janinnya nanti.
'Semoga saja Itachi masih bisa berfikir waras dan tidak menyakiti buah cinta kami. Tak apa ia membenciku dan menyakitiku, tapi jangan calon bayi kami,' doa Naruto penuh harap.
"It-Itachi!" panggil Naruto lirih berharap sedikit respon dari suaminya.
Itachi bergeming. Ia tak mau menoleh pada Naruto. Begitu terdengar suara 'Ceklik', ia segera membuka pintu kamarnya dan Naruto lebar-lebar. Tanpa memandang Naruto dan dengan gerakan efisien, ia mendorong tubuh Naruto masuk ke dalam kamar. Gerakannya sedikit kasar, terdorong oleh emosi yang sudah di ujung ubun-ubun dan cemburu yang menggerogoti seisi hatinya.
"Itachi!" panggil Naruto lembut masih berusaha mendapatkan sedikit saja respon dari Itachi, namun semua berakhir sia-sia. Itachi tetap enggan bicara padanya, meski hanya sepatah dua patah kata.
"Ap-apa?" Naruto meneguk ludahnya kasar, menahan sesak yang menghimpit dadanya. Ia menarik nafas panjang, menguatkan mentalnya untuk semua jawaban Itachi. "Apa kau akan menyakitiku sekarang? Chi!"
Tak ada balasan dari Itachi. Ia menatap Naruto beberapa detik sebelum melengos. "Tidak!" jawabnya singkat. Naruto nyaris sudah menghembuskan nafas lega, sebelum ia melihat bagaimana dengan gerakan yang efisien dan terkendali Itachi keluar dari kamar, lalu menutup pintu itu kembali. Naruto bahkan tak sempat mencegahnya.
Ia baru sadar setelah semuanya terlambat. Pintu sudah terlanjur tertutup sempurna. Rasa panik menggerogotinya ketika ia mendengar suara orang mengunci pintu dari luar. Refleks, Naruto menggedor-gedor pintu dan memanggil-manggil namanya "Tachi! Itachi!" dari dalam yang lagi-lagi tak dihiraukan olehnya sedikit pun. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Please, jangan seperti ini," lanjutnya.
Gedoran Naruto semakin brutal karena Itachi tak kunjung berusaha membuka pintu kamarnya. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku tak mengkhianatimu. Please, open the door! Aku janji akan menceritakan semuanya padamu. Karena itu, ku mohon buka pintunya. Buka pintunya, Chi! BUKA! BUKAA! CHI! ITACHI!" jerit Naruto yang berakhir sia-sia.
Tubuh Naruto merosot ke bawah. Ia menyandarkan tubuhnya yang lemah karena lelah pada pintu. "Hik hik hik..Chi, buka pintunya. Buka!" ujarnya kali ini dengan suara parau disertai isakan kecil lolos dari bibirnya. Deraian air mata bercampur dengan kucuran keringat membasahi gaunnya.
Naruto tak tahu berapa lama ia duduk di depan pintu. Begitu sadar, ia merasakan hawa dingin menyergap tubuhnya. Gelap! Itu reaksi pertamanya. Ia mencoba bangkit dari tempat duduknya, tak tahan dengan hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Naruto meraba-raba dinding mencari-cari saklar untuk menerangi ruangan gelap yang saat ini di tempatinya.
Byarr!
Lampu kamar menyala terang. Naruto bisa melihat isi kamarnya yang tak begitu banyak berubah. Well, atau ada. Naruto melihat sebuah koper tergeletak di lantai dekat lemarinya. Kopernya sudah terbuka. Isinya sendiri sudah berpindah tempat.
"Apakah ia menggeledah barangku, untuk mencari buku nikah kami, dan lalu.." Naruto nyaris tersedak air ludahnya sendiri. "…menceraikan aku." Lanjutnya dengan pikiran kalut.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Naruto tak bisa memejamkan matanya sekejab pun. Pikiran bahwa ia sebentar lagi akan berpisah dengan pria yang kini bertahta di hatinya membuatnya terjaga sepanjang malam. Hingga dini hari, ia masih juga terjaga, menatap pintu kamarnya dengan perasaan was-was, berharap Itachi muncul dari balik pintu itu dan tersenyum lembut padanya seperti biasanya.
Naruto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis tanpa suara, menangisi nasib malang yang seolah enggan pergi dari hidupnya. Ia bahkan menyesal kenapa tadi sore ia tak menerima uluran tangan Itachi untuk pulang ke apartemen mereka. Ia menyesal kenapa ia malah mendatangi Taman Beika dan lalu bertemu dengan Kaa. Sungguh, ia menyesal.
'Seandainya saja aku bisa memutar waktu kembali,' pikirnya sedih.
Paginya, Itachi membuka pintu kamar tempat Naruto disekap. Ia membawakan sarapan Naruto, namun ia tetap enggan bicara dengan Naruto. Ia meletakkan nampan berisi sarapan Naruto dan lalu pergi begitu saja dan kembali menutup kamar dengan meninggalkan suara engsel berderit lirih.
Naruto menatap kepergian Itachi dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sedih, sangat sedih melihat perubahan sikap Itachi padanya. Namun, Naruto tak menyalahkan Itachi. Ia tahu ia yang salah dalam hal ini. Sikap Itachi yang dingin padanya adalah wajar. Naruto hanya berharap kemarahan Itachi mereda dan mereka bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.
Hampir tiga hari lamanya Naruto terkurung dalam kamarnya. Menit demi menit ia lewati dengan hati yang gundah dan yeah frustasi. Sikap diam Itachi membuat kesedihannya bertambah dua kali lipat, hingga Naruto nyaris berfikir untuk kabur lewat jendela. Sungguh pemikiran yang konyol, mengingat apartemen Itachi berada di lantai 30. Dengan kata lain, keluar lewat jendela sama halnya mati bunuh diri.
'Aku harus berbuat sesuatu,' pikir Naruto.
Sorenya, seperti biasa Itachi mengunjungi Naruto di kamarnya begitu ia pulang ke apartemen. Ia menyediakan keperluan Naruto seperti makanan dan kebutuhan sehari-harinya dalam diam, lalu pergi dari kamar Naruto begitu urusannya sudah selesai. Tapi, hari ini sedikit berbeda. Naruto dengan cepat mencekal tangan Itachi, sebelum Itachi menghilang dari balik pintu.
"Kita harus bicara," ujarnya memberi penjelasan.
"Apa lagi yang mau dibicarakan, Hime? Semua sudah jelas."
"Tolong dengarkan penjelasanku dulu! Please?" pinta Naruto menghiba.
"Penjelasan soal apa? Soal kau mengkhianatiku, di saat aku berjuang melindungi keluarga kecil kita? Iya, begitu?" ujar Itachi dengan mata berkilat penuh kemarahan.
"Chi..!" panggil Naruto lirih.
Itachi memukul dinding di belakang Naruto untuk melampiaskan amarahnya. "Kau kejam, Naruto. Kau tega. Tell me, Please! Apa salahku padamu? Kenapa kau begitu padaku?" tanya Itachi dengan raut terluka.
"Apa kau tahu? Beberapa hari ini, aku bersusah payah membungkam mulut media agar namamu bersih, tak tercemar. Aku berusaha menahan badai yang ingin menghancurkanmu, masa depanmu, agar kau bisa berdiri tegak memandang dunia. Aku berusaha membersihkan duri-duri di jalan yang akan melukaimu agar kau bisa tenang menjalani hidupmu. Tapi, apa? Apa balasanmu padaku? Kau diam-diam bertemu dengan mantan kekasihmu dan bermesraan dengannya di belakangku."
"Aku tak bermesraan dengan Kaa!" jerit Naruto. "Aku tidak bermesraan dengannya. Kau salah sangka, Chi."
"Tidak bermesraan kau bilang? Huh! Kau pikir aku percaya? Kau pikir aku ini buta? Aku jelas-jelas melihatmu di sana sedang berpelukan dengan mantan kekasihmu di taman di tempat yang sangat romantic." Sahut Itachi. Matanya bersinar redup. "Kau bahkan masih memanggilnya dengan nama kesayangannya, 'Kaa..!' Sedang aku? Kau hanya memanggilku Itachi sama seperti yang lainnya. Lalu, bagaimana aku bisa percaya padamu?" Lanjutnya sedih.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh?" bujuk Naruto memeluk lengan Itachi, namun Itachi menghempaskan tangan Naruto kasar, seolah ia enggan tangannya disentuh oleh Naruto.
Mata Naruto memerah, berkaca-kaca, tak tahan dengan perlakuan Itachi yang dingin. 'Chi!' Naruto memanggil nama Itachi dalam hati dengan perasaan sedih. "Please, trust me! Aku tidak mengkhianatimu. Sekali pun tak pernah." Ujar Naruto lembut.
"Hari itu, kami kebetulan bertemu di taman. Ia menceritakan duduk masalahnya, rumor tentangnya, kisruh rumah tangganya yang berhubungan denganku. Sudah itu saja. Lalu, kami berpisah. Namun, saat aku mau pergi, aku terjatuh dan dia menangkapku. Terus kau datang dan yeah seperti yang kau tahu, kau menyeretku pulang." Jelas Naruto.
Itachi menatap safir Naruto. Sejujurnya, ia bisa melihat kejujuran dalam kata-katanya. Namun, rasa cemburu yang terlanjur menguasai hatinya, membuatnya enggan mengakui. "Entahlah Princes. Aku tak tahu apa aku masih bisa mempercayaimu lagi."
"Aku sungguh-sungguh, Chi. Aku jujur padamu. Demi Tuhan dan demi apapun yang suci, aku tak pernah mengkhianatimu. Please, percayalah padaku!" hiba Naruto, namun Itachi tak bergeming. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya jatuh membasahi pipinya. Safirnya kini memerah. "Ap-apa? Hik! Apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu percaya padaku, Chi?" ujar Naruto lirih sambil mengusap air matanya.
Itachi memandang Naruto dalam, melihat kesedihan di safir kekasihnya. 'Benarkah yang dikatakan Naruto? Bahwa, mereka memang hanya kebetulan bertemu. Tapi..., aku jelas-jelas melihatnya. Naruto dan monster ikan itu berdua di taman. Sedang berpelukan…' pikir Itachi dengan perasaan kalut.
Di satu sisi ia ingin percaya. Naruto yang dikenalnya selama ini memang orang yang jujur. Tapi, di sisi lain ia sulit menghapus rasa curiganya. Karena, Itachi tahu amat sangat tahu kalau Naruto sangat mencintai monster ikan itu, tak perduli wajahnya yang hancur dan tak perduli ia sudah menikah dengan wanita lain. Apalagi ditambah dengan rumor perceraian monster ikan itu dengan istrinya. Bukankan itu akan membuat hubungan Naruto dengannya akan jadi lebih mulus, semulus jalan tol?
"Buktikan padaku, Hime! Buktikan kalau kau tak memiliki perasaan apapun dengannya! Buktikan kalau kau tak pernah mengkhianatiku!"
Sinar di safir Naruto berbinar. Ada rasa lega tumbuh dalam hatinya. "Pasti. Pasti akan ku buktikan. Kau ingin aku melakukan apa, pasti akan ku lakukan. Apapun permintaanmu akan ku kabulkan." Janji Naruto. Harapannya kembali tumbuh, Ia senang Itachi masih memberinya kesempatan.
"Benarkah?" tanya Itachi yang dibalas anggukan kepala oleh Naruto. "Kau yakin?" Lagi-lagi Naruto mengangguk sebagai jawaban. "Meski itu berat?"
"Em, seberat apapun, akan tetap ku lakukan. Itu janjiku."
"Oke kalau itu maumu. Aku ada tiga permintaan. Pertama, jangan pernah menemui monster ikan itu lagi tanpa seijinku." Itachi bisa melihat kebimbangan muncul di safir Naruto, sebelum gadis itu mengangguk setuju. "Kedua, aku ingin kau memelukku minimal sekali setiap hari" Kebimbangan semakin melanda Naruto. Butuh waktu hampir 20 menit sebelum Naruto mengiyakan permintaan kedua Itachi. "Dan, ketiga aku ingin dalam waktu dekat ini kau sudah berstatus…" Itachi berbisik tepat di telinga Naruto, "JANDA!" desisnya.
Naruto tersentak tak percaya. "Ap-apa? Jan-Janda? Ak-aku? Kau tak serius kan, Chi? Katakan padaku kalau kau hanya main-main!"
"Kau ingat janjimu tadi padaku?" tanya Itachi balik menolak menjawab pertanyaan Naruto.
"Tap-tapi..Ak-aku.. ukh, tak bisakah permintaan ketigamu diganti saja? Aku..aku.."
"Apa kau mau menjilat ludahmu sendiri, Naruto?"
"Tidak, hanya saja ini.." Naruto membasahi bibirnya gelisah. Jemari tangan saling bertaut. Matanya tak lagi focus memandang lawan bicaranya, tapi jelalatan melihat apapun yang bisa dilihat selain wajah Itachi. "..berat," lanjutnya muram.
"Aku tak perduli. Itu pilihanmu sendiri." Sahut Itachi kejam menghujam hingga ke ulu hati Naruto.
Naruto bimbang. Dia tak tahu mana yang harus ia pilih. Keduanya sama beratnya dan sama sulitnya. Jika ia menolak syarat Itachi, maka selamanya ia tak akan pernah mendapatkan kepercayaan Itachi lagi. Dengan kata lain, meski kelak ia berhasil memikat Itachi, membujuknya untuk tidak bercerai dengannya, namun Itachi tak akan pernah menerima Naruto secara utuh. Namun, jika ia menerima syarat Itachi, berarti ia harus berpisah dengan laki-laki itu.
'Oh, ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Kenapa kau hadapkan aku pada dua pilihan sulit ini?' ratap Naruto dalam hati.
"Apa keputusanmu?" tanya Itachi membuyarkan lamunan Naruto.
Naruto masih ragu untuk menjawabnya. Namun, akhirnya ia berhasil menentukan pilihannya diantara dua pilihan yang sulit. "Ya, aku menerima semua syaratmu." Ujar Naruto lirih, namun mantap di telinga.
"Good. Gadis pintar." Puji Itachi yang di telinga Naruto terdengar seperti sebuah sindiran.
Ia yang seorang berpendidikan tinggi, selalu menjunjung tinggi moralitas, kini demi masa depan anaknya terpaksa menundukkan kepalanya, menurunkan standar moralnya. Ia terpaksa harus jadi budak Itachi demi mendapat serpihan cinta dari suaminya, ayah dari bayinya, dan juga kekasih hatinya.
Naruto meraih Itachi dan memeluk pria yang selama sebulan ini sangat ia rindukan. Naruto memeluknya seolah tak ingin melepaskannya lagi. Ia menghirup dan merekam aroma tubuh bercampur cologn Itachi yang khas. Naruto membiarkan dirinya larut, meninggalkan segala persoalannya di belakang. Ia ingin menikmati hari ini bersama Itachi seorang.
Ia takut. Ia cemas. Ini mungkin kali terakhir ia memeluk Itachi dengan status suami istri. Bisa saja, besok status mereka sudah berubah jadi mantan suami istri. Besok, mungkin ia hanya akan memeluk Itachi dengan status wanita simpanan, sahabat, partner dalam mengasuh anak, rekan sekantor, atau bahkan kenalan biasa.
'Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu karena memilih jalan ini. Tapi, ibu tak pilihan lain selain ini, Nak. Sekali lagi maaf.' Batin Naruto.
…..*****…
Suasana kantor Uchiha Company pagi ini diselimuti awan hitam. Pertama, karena ini hari Senin, hari paling troublesome untuk mereka. Karena itu mereka harus ektra hati-hati di hari ini, khususnya saat mereka menghadapi salah satu direktur mereka yang paling malas aka Shikamaru Nara. Shikamaru sering kali senewen, tak sabaran dan menjelma layaknya monster tiap hari Senin.
Kedua, karena direktur paling sadis mereka aka Itachi dan presdirnya sendiri Sasuke Uchiha, auranya angker betul hari ini. Duanya seolah sedang berlomba 'Siapa bos paling garang hari ini'. Keduanya membuat para karyawan yang sedang sial ketakutan dan hanya bisa berdoa 'Semoga aku masih bernafas besok'.
Dan, masalah yang terakhir adalah aura suram dari mantan direktur mereka yang paling cantik, namun paling seenaknya sendiri, Naruto Namikaze. Aura suram yang terpancar kuat darinya seolah-olah menyedot kebahagiaan para karyawan yang sedang sial karena harus satu atap dengannya. Ukh, lengkap sudah. Pantaslah jika para karyawan menasbihkan hari ini sebagai BAD MONDAY.
"Kau kenapa?" tanya Gaara.
"Apanya yang apa?"
Huff, Gaara menghela nafas. "Kau ada masalah?"
"Tidak. Kenapa kau berfikir seperti itu?"
"Karena itu!" Gaara menunjuk Naruto, lap, dan kaca jendela dengan dagunya seolah-olah itu menjelaskan pertanyaannya. "Penyakit lamamu tak akan kumat, jika kau tidak punya masalah pelik."
Naruto menatap Gaara seperti orang bodoh. Mendadak otaknya yang genius macet. Ia mencerna penjelasan Gaara lama sekali, kata demi kata lalu disusunnya hingga menjadi sebuah kalimat yang lengkap. Prosesnya sangat lemot persis seperti cara kerja kompie Pentium 3 yang baru saja terkena virus 'Trojan' atau virus 'Kangen'. "Itu mungkin hanya perasaanmu saja," elak Naruto 10 menit kemudian.
Huff, Gaara kembali menghela nafas. "Naruto cobalah jujur! Itu tak akan membunuhmu, sungguh. Jika kau keberatan bercerita padaku, kau bisa cerita pada yang lain. Temari misalnya." Usul Gaara menyeruput kopinya yang sudah dingin gara-gara tadi ia sibuk menonton tingkah ababil Naruto.
"Maaf," kata Naruto lirih. "Aku tahu kau pun punya banyak masalah. Tapi, aku malah datang dan memberimu masalah lagi. Tak seharusnya aku begini, tapi.."
"Hei, kita ini teman kan? Sudah sewajarnya seorang teman saling merepotkan." Potong Gaara.
Naruto tersenyum simpul. Gaara memang selalu tahu bagaimana caranya membuat harinya lebih baik. Gaara selalu bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menghiburnya, memberinya ilham, dan sudut pandang berbeda yang membuat ia seolah menemukan cahaya di tengah-tengah kegelapan yang mengepungnya.
"Trims,"
"Itulah gunanya teman," ujar Gaara angkat bahu tak ambil pusing. "So, apa masalahmu kali ini?"
"M-masalah per-pernikahanku," sahut Naruto lesu dan gugup. Ia memainkan cincin di jari manisnya.
"Pernikahanmu kenapa?"
"Hancur. Kami akan bercerai." Ujar Naruto lirih sangat lirih sehingga kalau Gaara tak memasang telinganya baikk-baik, ia tak akan mendengarnya.
"What? Seriously?" tanya atau teriak Gaara terkejut yang dibalas anggukan lemah Naruto. "Why? Kalian masih pengantin baru, kan, tapi kenapa kalian malah memutuskan bercerai? Apa karena rumor antara kamu dengan Kisame?" Gaara memberondong Naruto dengan banyak pertanyaan sekaligus.
"Ya. Suamiku mencurigaiku ada main dengan Kaa mengingat masa lalu diantara aku dengan Kaa. Lebih-lebih setelah ia melihatku sedang bersama dengan Kaa dalam posisi yang mencurigakan. Ia marah besar dan kami bertengkar hebat." Jelas Naruto mengingat percakapanya dengan Itachi.
"Lalu, ia ingin menceraikanmu?"
"Kurang lebih, namun secara teknis akulah yang mengajukan surat perceraian." Ujar Naruto sedih. Tangannya turun ke bawah mengelus perutnya. "Padahal, hik aku sedang hamil. Aku bingung Gaara. Aku tak mau anakku tak memiliki ayah. Aku harus jawab apa jika ia bertanya, 'Mom, mana Daddy?' Aku tak tahan lagi. Kepalaku seperti mau meledak rasanya. Sakit, bingung, dan tak berdaya. Itu yang aku rasakan."
Huff, helaan nafas Gaara semakin panjang. Ia cukup pening dengan problematika yang tengah membelit rekan kantornya ini. "Lalu, bagaimana perasaanmu dengan suamimu? Apa kau mencintainya?"
"Aku.." Naruto menggigit bibirnya ragu. "Ya, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku baru sadar betapa aku sangat mencintainya saat ia.. kami.." air mata Naruto bergulir membasahi pipi mulusnya. "…akan berpisah,"
"Apa kau sudah mengatakan padanya? Rasa cintamu padanya?"
Naruto menggeleng. "Tidak, tidak pernah. Kami jarang membicarakannya. Apa perhatianku saja tak cukup untuk menunjukkan besarnya cintaku padanya?"
"Memang ada yang mengekspresikan cinta dengan perbuatan dan perhatian, namun itu saja tak cukup, pakai sangat. Bahasa isyarat, gerak tubuh, dan perhatian bisa saja menimbulkan miss-persepsi, karena semua itu sangatlah subyetif. Tergantung bagaimana kau memandangnya. Oleh sebab itu, terkadang kita harus mengucapkan apa isi hati kita, untuk menunjukkanya."
Naruto diam untuk mencerna nasehat Gaara. "Ya, kau benar."
"Katakan pada suamimu kalau kau mencintainya! Setelah itu, biarkan ia memutuskan apakah akan mempertahankanmu atau melepasmu. Apapun keputusannya, terimalah." Nasehat Gaara. Naruto melemparkan senyum terima kasihnya pada Gaara sebelum pamitan dari ruang kerja Gaara yang baru saja dibersihkan Naruto.
"Jika ia memang jodohmu, maka ia akan tetap bersamamu selamanya. Namun, jika ia bukan jodohmu, meski kau memborgol tangannya, menjadi bayangannya, ia tak akan pernah menjadi milikmu." Ujar Gaara sebelum Naruto menghilang dari ruangan Gaara.
"Aku tahu. Sekali lagi terima kasih."
….*****….
Itachi mencari keberadaan Naruto. Ia bilang hari ini akan mengurus perceraiannya. Ia berniat mengantar Naruto ke pengadilan, namun ia tak menemukan batang hidung Naruto sejak tadi. Di kantornya, pantry, kantor Sasuke, dan tempat-tempat lain sudah ia jelajahi, namun hasilnya masih nihil.
Hanya satu ruangan yang belum ia datangi. Ruang kerja Gaara jadi tempat terakhir yang ia kunjungi karena Gaara terkenal dengan sifat anti social. Jadi, Itachi tak yakin Naruto berada di ruangan Gaara. Jika di ruang Gaara pun tak ada, berarti Naruto sudah berangkat ke pengadilan.
Itachi berniat membuka pintu ruang kerja Gaara ketika teliganya menangkap suara Naruto. Ia tengah membicarakan suaminya dengan Gaara. Tangan Itachi memutih, mencengkram erat gagang handle pintu. Hatinya panas mendengar curahan hati Naruto.
"Aku.." Naruto menggigit bibirnya ragu. "Ya, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku baru sadar betapa aku sangat mencintainya saat ia.. kami.." air mata Naruto bergulir membasahi pipi mulusnya. "…akan berpisah,"
Itachi tak tahan mendengar lanjutan percakapan mereka. Ia takut tak bisa menguasai dirinya dan lalu melakukan hal-hal buruk yang akan membuat imagenya buruk di depan Naruto. Tanpa suara, ia meninggalkan tempat ia berdiri. Ia memilih kembali ke kantornya untuk menata hatinya yang sudah hancur berkali-kali oleh Naruto.
Ia duduk di kursinya dengan pikiran kalut. Ia menutupi wajahnya, menyembunyikan ekspresi kekalahan dari Itachi-si-pria-menyedihkan dari mata dunia, dengan kedua telapak tanganya. Ia tak menurunkan kedua tangannya, meski ia mendengar suara gemerisik lemah seseorang memasuki ruangannya.
"Chi!" panggil Naruto antara ragu dan takut. "Ada yang mau aku…"
"Kau sudah menyiapkan berkas perceraianmu, bukan?" potong Itachi.
Ada keheningan kira-kira 10 menit. "Sudah. Semua sudah lengkap," jawab Naruto lirih. "Chi!"
"Kalau sudah bersiaplah ke pengadilan. Aku tak ingin kau menggunakan ini alasan untuk mengulur-ulur waktu." Tukas Itachi tak ingin mendengar apapun yang hendak Naruto katakan. Ia takut Naruto akan mengatakan padanya, betapa ia mencintainya, suaminya yang sialan dan brengsek itu.
"Chi!" panggil Naruto dengan perasaan terluka.
"Pergilah, Naruto!" usir Itachi bersikukuh tak mau dengar.
Ruangan itu kembali hening. Keduanya masih berada di tempatnya sibuk dengna pikirannya sendiri. "Sebelum aku pergi, bolehkah aku minta sesuatu darimu?" tanya Naruto ragu-ragu.
"Apa?" tanya Itachi tak sabar.
"Tolong cium aku!"
Itachi terkejut. Saking terkejutnya, ia sampai menurunkan kedua telapak tangannya yang sejak tadi menutupi wajah tampannya. "Apa maksudmu? Permainan apa lagi yang sedang kau mainkan?"
"Please, Chi!"
Itachi berdiri dari tempat duduknya. Ia meraih tubuh Naruto, ragu-ragu untuk memeluk tubuh Naruto yang rapuh. Ia mengangkat dagu Naruto dan perlahan-lahan kepalanya turun. Bibirnya mengecup bibir ranum Naruto sekilas. Ia berniat menjauhkan diri dari Naruto karena tak ingin dikuasai nafsu yang mengggelegak dalam dirinya. Sungguh, bukan ciuman yang Itachi inginkan dari Naruto, tapi lebih dari itu, ia ingin menyatukan dirinya dengan Naruto, jiwa maupun raganya.
Namun, Naruto menolaknya. Ia tak membiarkan Itachi pergi begitu saja. Ia dengan inisiatifnya sendiri mencium Itachi. Bukan hanya sapuan sekilas seperti tadi, melainkan sebuah ciuman panas, dan menggairahkan. Tangan Naruto memeluk leher Itachi untuk memperdalam ciuman mereka. Tubuh keduanya saling melekat, satu sama lain yang hanya dipisahkan oleh baju yang tengah mereka kenakan.
Naruto mendekatkan dahinya pada dahi Itachi, bertumpu pada tubuh Itachi untuk tetap berdiri tegak. "Apa semua akan baik-baik saja, Chi?" tanya Naruto lirih. Kedua tangannya memeluk tubuh Itachi, enggan menjauh dari tubuh suaminya.
"Aku tak tahu, Princes. Tapi, aku akan selalu menjagamu. Tak akan ku biarkan satu orang pun menyakitimu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Jawab Itachi sama lirihnya, berbisik tepat pada telinga Naruto. Hidung bangirnya mencium aroma tubuh Naruto yang memabukkan. Ia senang dan bahagia dengan posisi mereka saat ini. Ia ingin setiap hari Naruto memeluknya seperti ini.
Naruto semakin mengeratkan pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada Itachi. Ia tak ingin Itachi melihat air bening di sudut matanya yang terancam jebol dari bendungannya. Hatinya bahagia, Itachi berjanji akan melindunginya apapun yang terjadi. Tapi, ia juga sedih karena mereka tak akan lagi jadi suami istri.
Naruto akhirnya melepaskan pelukannya dan mengganti seragam kerjanya yang kusut karena Itachi dengan baju yang lain yang ia simpan di kantor mereka berdua. Ia dengan berat hati mengambil berkas perceraian mereka yang tergelatak sembarangan di meja kerja Itachi dan bersiap ke pengadilan agama, untuk mendaftarkan perceraian mereka. Ia mencium Itachi sekilas sebelum pergi.
…*****…..
Ayame menatap Naruto yang keluar dari gedung tempatnya bekerja tanpa berkedip. Matanya terus mengikuti kegiatan Naruto dari menyetop taksi hingga ia masuk ke dalamnya. Ia mengikuti taksi yang ditumpangi Naruto. Hatinya dilanda rasa cemas dan takut. Jangan-jangan Naruto menemui Kisame untuk balikan seperti dulu. Karena itulah, Kisame berniat menceraikan Ayame. Apalagi alasannya selain itu?
Matanya menatap heran saat melihat Naruto memasuki gedung yang Ayame yakini pengadilan agama. Dahinya berkerut dalam. 'Mau apa dia? Jangan-jangan ia mau mengurus berkas pernikahan.' Pikir Ayame dengan mata membelalak terkejut. Ayame membuka pintu mobilnya tergesa-gesa, begitu ia berhasil mendapat tempat parkir. Ia bergegas masuk ke pengadilan, takut kehilangan jejak Naruto.
Ayame menarik tangan Naruto membuat berkas di tangan Naruto berjatuhan. Ayame sekilas formulir berisi biodata Naruto. 'Brengsek!' makinya dengan perasaan marah meluap-luap. Ia belum resmi berpisah dengan Kisame, tapi gadis sialan tak tahu malu ini malah sudah mengurus berkas pernikahannya dengan Kisame.
"Brengsek! Berani-beraninya kamu datang ke tempat ini. Dasar gadis tak tahu malu. Perebut suami orang. Lagaknya saja yang seperti orang suci padahal aslinya busuk,"
"Jaga ucapanmu!" balas Naruto sengit. "Sebelum menuduhku, lebih baik kau ngaca terlebih dahulu dengan kaca yang besar. Perebut, huh. Kau membuatku ingin tertawa. Sendirinya perebut tunangan orang, sekarang malah meneriaki perebut. Maling teriak maling." Ejek Naruto.
Ayame yang tak terima ejekan Naruto jadi kalap. Ia bertindak di luar perkiraan. Ia mendorong Naruto yang berdiri membelakanginya hingga gadis itu terjatuh. Sialnya, di depan Naruto ada tangga yang membuat Naruto jatuh terguling-guling ke bawah. Naruto pingsan seketika dengan leleran darah mengucur dari tubuhnya. Ayame yang panik memilih kabur dan membiarkan Naruto terkapar di bawah tangga sana.
…*****…..
Itachi tengah minum segelas teh buatan Temari penuh nikmat. Bibirnya memberi Temari senyum terima kasihnya saat Temari minta ijin meninggalkan ruangan rapat dan dibalas anggukan sopan Temari. Itachi hampir menghabiskan tehnya untuk mengisi perutnya yang keroncongan karena hanya sempat mengganjal perutnya dengan dua lembar roti tawar untuk makan siang. Yeah, ia melupakan makan siangnya karena sibuk bermesraan dengan kekasihnya.
PRANG!
Tiba-tiba gelasnya pecah berderai tanpa sebab, ketika ia meletakkannya di atas meja. "Oh, God!" seru Itachi terkejut. Entah kenapa hatinya diliputi perasaan cemas. Ia seperti mendapat firasat buruk.
HPnya berbunyi. Itachi mendesah, bersyukur rapatnya sudah selesai, sehingga ia bisa segera mengangkat teleponnya. "Hallo!" sapanya. Wajah Itachi memucat. Tangannya bergetar. "Apa? Bagaimana bisa?" jawabnya tak sabaran.
TBC
Hayo siapa yang bisa menebak, siapa yang menelepon Itachi. Sasuke tak muncul di chap ini, tapi chap depan ia bakal muncul dan jadi sandungan untuk hubungan Itachi dan Naruto.
