Author Note : Mari langsung saja saya balas review anda semua. Cekidot!

.

Vira D Ace

Terima kasih atas pujiannya. Saya senang sekali mendengarnya, sungguh! Silahkan baca bagian ini dan beri kesannya lagi.

Gilank

Terima kasih untukmu yang selalu setia menunggu bagian ketujuh ini. Maaf kalau saya terlalu lama membuatmu menunggu, hiks hiks.

Ilogic

Hahaha! Senyuman iblis itu akan muncul kembali saat rencana nista Sabo dan Ace dilaksanakan. Tunggu saja!

Terima kasih atas kesannya sebelumnya.

Begitulah. Kisah hidup Hancock pasti akan dibahas tuntas di chapter-chapter mendatang. Mirip sinetron barangkali, ya? Yah, namanya juga cerita khayalan, gyahahahaha! Dan tentu saja Marco dan Law akan muncul untuk membantu persoalan antara Hancock dan Doflamingo. Mudah-mudahan saja adegannya bakal keren.

Omong-omong, ada bagian sedikit istimewa di bagian ketujuh ini soal ZoRobin. Baca aja, deh. Semoga suka. Terima kasih atas reviewnya, ya.

Akrisna Rengga Diningrat

Terima kasih kamu sudah bilang kalau cerita ini MANTAP! Senang sekali rasanya! Adegan LuHan tersebut akan diketahui saat mulut ember kedua saudara Luffy beraksi. Dan itu pasti bakal lucu banget, buahahahaha!

Dan ini sudah diupdate, lho. Semoga suka, ya.

AMD

Hehehe, ini sudah lanjut, saudara! Semoga suka dengan ceritanya, ya.

Aizen

Memang saya ada niat begitu dari awal membuat fanfic ini. Tapi tunggu perasaan Hancock lebih 'membara' dulu, lalu saya akan buat dia cemburu berat, hehehe. Dan kalau ingin lihat interaksi mereka setelah insiden di chapter enam, maka chapter 7 inilah jawabannya.

MUN

Memang manis banget, 'kan? Hahaha, bahkan saya sendiri senyum-senyum sendiri membacanya. Haaahh, saya sepertinya mulai memiliki otak mesum. Dan kali ini masih ada adegan manisnya, khe khe khe.

Ryo

Maaf ya kalau lama update. Ini sudah lanjut, lho. Semoga suka, ya. Terima kasih atas reviewnya, pembaca setiaku.

Chii-chan

Aduuuhh, disini ada adegan yang menurut saya sangat manis dan keren untuk Zoro. Mending langsung dibaca aja. Terima kasih atas pujiannya, ya. Saya jadi tersanjung, hehe.

.

Selesai! Untuk reviewers yang lain, saya sudah balas di PM. Sekarang mari kita langsung ke TKP!

.

Disclaimer : Oda Eiichiro

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

Chapter Seven : Don't Be So Stubborn, Zoro

By Josephine La Rose99

.

.

Note :

Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.

OOC, miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!

Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.

Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.

Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

CHAPTER SEVEN

DON'T BE SO STUBBORN, ZORO

By Josephine La Rose99

.

.

.

Jam 7 malam. Ya, Sonia yakin dia tidak ada masalah dengan matanya. Jarum pendek di jam gantung ruang makan memang menunjukkan angka itu dan diluar sudah gelap. Makan malam sudah siap ditata rapi di meja makan. Tinggal menunggu satu penghuni rumah lagi agar semua lengkap. Menunggu satu penghuni lagi? Tepat sekali. Nyonba dan Mari sudah duduk manis di kursi, siap menyantap makanan. Dan sebelum mereka mengucapkan 'Itadakimasu!' atau semacamnya, mereka menyadari ketidakhadiran satu sosok disana.

"Dimana Onee-sama?" tanya Sonia bingung melihat kursi Kakaknya tidak ada yang mengisi.

"Tidak tahu. Sejak teman-teman Luffy pergi ke kafe tadi sore, aku tidak melihatnya," jawab Mari angkat bahu.

Sonia mengusap-usap dagunya, memikirkan alasan yang logis, "Apa mungkin dia masih menangis di kamarnya?" gumamnya.

Dengusan Nyonba yang memamerkan senyum kecil membuat Boa bersaudara menoleh padanya. Nenek tua itu tidak terlihat mengkhawatirkan sang cucu sedikitpun. Yah, memang biasanya dia sedikit tidak peduli pada Hancock karena sikap keras kepalanya. Tapi kali ini terjadi insiden yang berbeda dan tidak mungkin Nyonba tidak memikirkan keadaan Kakak mereka, 'kan?

Sebuah kalimat dari Nyonba membuat mereka berdua menautkan alis bingung, "Pergilah kalian ke kamarnya kalau ingin tahu,"

Kamar? Apa maksudnya? Apa mereka disuruh untuk menenangkan Kakak mereka yang habis menangis seharian? Jiah, belum tahu aja mereka.

"Jadi, Kakak masih menangis, Nenek?" tanya Mari penasaran.

Bukannya langsung menjawab, Nenek itu malah tertawa pelan. Menertawai betapa polosnya kedua cucunya itu, "Siapa bilang dia menangis?"

"Lalu? Kenapa kami harus ke kamarnya? Apa dia tertidur karena lelah menangis, begitu?" pertanyaan dari Sonia sukses membuat Nyonba tertawa terpingkal-pingkal.

Sonia dan Mari saling menatap satu sama lain. Sepertinya mereka harus bersiaga jika sang Nenek mulai kehilangan akal sehatnya dan harus dikirim ke rumah sakit jiwa terdekat. Lagipula, apa yang lucu? Kali ini mereka menatap Nyonba lagi.

Nyonba yang terus ditatapi jadi menahan tawanya karena dia merasa lucu saja melihat ekspresi kedua cucu karena mereka memang tidak tahu apa-apa.

"Dia memang tertidur. Tapi bukan karena mulutnya lelah meraung-meraung di kamar," ucap Nyonba senyum-senyum mesum sambil mengambil sendok dan garpu disamping piringnya untuk segera makan.

"Terus apa?"

"Dia cuma terlalu nyaman dengan tidurnya karena pertama kali mendapatkan kehangatan dari orang lain," Nyonba masih bicara penuh misteri.

"Haaaahh?" Sonia melongo.

"Periksa saja sendiri, fufufu…" kemudian Nyonba memasukkan pasta ke mulutnya. Haha, entah kenapa suasana hatinya lagi membaik hari ini setelah dia masuk ke kamar Hancock satu jam lalu. Dan demi Dewa pasta dia bertaruh kedua cucunya pasti bakal berteriak begitu melihat fenomena alam(?) yang terjadi di kamar ketua OSIS HAS.

Tanpa membuang waktu dan banyak bicara, Sonia segera menarik lengan Mari yang baru saja ingin makan. Pasta yang akan masuk tadi terpaksa ditunda dulu karena Sonia sudah menyeretnya ke lantai dua.

"Oi, oi, aku mau dibawa kemana?" tanya Mari kesal. Padahal suasana makannya lagi enak-enaknya.

"Ke kamar Kakak," jawab Sonia singkat.

Mari cuma bisa menghela napas pasrah.

.

.


Krieett. Sonia membuka pintu kamar Hancock perlahan, takut membangunkan sang Kakak. Kemudian dia memberi kode tatapan pada Mari untuk masuk bersama. Mari mengerti dan melangkahkan kaki ke kamar. Dan begitu ingin memanggil Hancock atau bahasa lainnya, membangunkan…

"Eh?"

"Are?"

DOOOOONGGGGG!

Kedua saudara Hancock jawdrop dua meter saking tidak percayanya dengan apa yang mereka lihat. Yup, mereka melihat dua sosok dikenal sedang tertidur lelap di ranjang sambil berpelukan. Dan apa-apaan itu? Senyum apa itu di wajah mereka?

"O-Onee-sama…" Mari tidak bisa lagi berkata-kata. Dia sukses mematung di dekat pintu.

Lain hal dengan Sonia. Cewek itu segera mendekati Luffy dan menarik cowok itu hingga jatuh terjerembab di lantai kamar dengan tidak elit sekali. Dan karena itu juga, Hancock terbangun entah karena tidak ada objek yang ingin dipeluk atau suara keras jatuhnya Luffy.

"KORA, ERO OTOKO! APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAKAKKU!?" teriak Sonia murka dahsyat sambil menggoyang-goyangkan bahu Luffy dengan wajah setan. Luffy yang masih berusaha mengembalikan alam sadarnya jadi bingung sendiri.

Memangnya apa yang sudah kulakukan? Kalimat polos itu mampir di pikirannya, ck ck ck.

"Lu-Luffy!" ini sih Hancock yang shock melihat Luffy digampar bolak-balik oleh Sonia, "Sonia, apa yang kau lakukan!?" teriaknya panik.

Sebelum Luffy babak belur, Hancock beranjak dari tempat tidur dan menarik Sonia menjauh dari Luffy. Sementara Sonia berusaha melepaskan diri dari Kakaknya. Serius, dia sekarang sangat ingin melumat wajah Luffy, tidak peduli cowok itu rekan Hancock atau tidak.

Berani sekali dia tidur dengan saudaranya yang paling dia hormati! Huh, minta dibunuh juga cowok ini!

"Hei, Mari, bantu aku!" Hancock lama-lama tidak tahan juga menahan amarah Sonia.

Mari bukannya menjawab atau bereaksi, tapi malah melongo seperti kambing ompong melihat sebuah fenomena ajaib didepannya. Hancock cuma bisa merutuk. Bantuan terdekat tidak bisa diharapkan. Lalu dia minta tolong pada siapa? Mana Sonia masih memberontak lagi.

"AKAN KUBUNUH KAU! AKAN KUBUNUH KAU, LUFFY!"

"Sonia, tenangkan dirimu! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" seru Hancock.

"BERANINYA KAU MENYENTUH KAKAKKU!" walah, Sonia masih betah berteriak.

"RASAKAN TINJUKU I—"

PLETAK! Sebelum tinju Sonia melayang ke pipi kiri Luffy, Hancock lebih dulu memukul kepalanya sampai cewek itu jatuh ngegubrak di lantai. Akhirnya kepalanya jadi berbuah juga (benjol maksudnya).

"TENANG DULU, BODOH!" teriak Hancock kesal. Kenapa adiknya satu ini tidak mau mendengarkan penjelasannya dulu? Menyusahkan saja.

Sementara Sonia sedang meringis kesakitan sambil memegang kepalanya, Hancock mendelik seram ke Mari. Yang didelik sukses nyaris terkena serangan jantung.

"Kau juga punya pikiran kotor di kepalamu, hah?" tanya Hancock sinis.

"Hah? Aku? Punya pikiran kotor?" Mari menunjuk dirinya sendiri. Selang beberapa detik, dia terkekeh pelan, "Bukannya itu Kakak sendiri, eh?"

Hancock ingin membalas, tapi omongannya sudah ditimpal oleh Mari lagi, "Bisa-bisanya Kakak tidur satu ranjang dengan cowok yang baru Kakak kenal tidak sampai dua minggu,"

Senyum kemenangan ditunjukkan Mari begitu melihat wajah merona Kakaknya. Haha, godaannya berhasil. Jangan-jangan ini maksud Nyonba menyuruh mereka ke kamar. Khu khu, tidak sia-sia dia datang kemari. Lucky charm.

Hancock terlihat gugup. Mulut kecilnya ingin mengatakan sesuatu sebagai alasan tapi kalimat-kalimat itu justru tidak keluar. Adanya Sonia malah menyahut untuk menambahkan analisis mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi di kamar ketua OSIS HAS yang notabene membenci cowok karena menganggap makhluk itu tidak lebih dari sekedar makhluk mesum dan punya otak busuk, "Huh, pakai pelukan segala lagi!"

Sonia tersenyum genit saat Kakaknya menoleh cepat padanya. Dengan wajah merah tentunya.

"Dan apa-apaan itu tadi, Kak? Senyum di wajahmu saat dipelukan Luffy? Aku justru heran kenapa pakaian kalian berdua masih lengkap," sambung Mari menaikkan alisnya, genit.

Jantung Hancock berpacu cepat, dia benar-benar dalam situasi terpojok. Sial, dia ingin sembunyi, lari atau TERSERAH yang penting tidak terlihat oleh kedua adiknya. Dia menggenggam erat kepalannya. Lalu melirik sebentar ke Luffy yang masih duduk di lantai. Sementara Mari memberi 'kode' pada Sonia untuk melanjutkan 'misi' mereka.

"De-dengar, aku… Ukkhh, i-ini cuma salah paham! Ka-kami hanya—"

"Hanyaaaaa?" ulang Sonia dan Mari kompak, berniat menggoda Kakaknya lebih jauh. Ohohohoho, jarang-jarang mereka bisa menjebak Hancock, 'kan? Jadi ini harus dinikmati selama mungkin. Lupakan tujuan memanggil untuk makan malam. Ini jauh lebih seru.

Tolong, pembaca! Wajah Hancock sangat memanas! Sirami dia dengan air! "Ha-hanya… i-itu…"

"Kami hanya tidur, kok," walah, biang keladi masalah ini memotong kata-kata Hancock. Dan jangan lupakan ciri khasnya itu alias wajah super polos yang siapapun pasti bakal percaya apa yang dia katakan.

Luffy bangkit dari duduknya dan mendekati Sonia, "Kakakmu menangis seharian. Karena itulah aku datang kemari sore tadi. Tanya saja pada Nyonba kalau tidak percaya,"

"Eh? Nyonba?" gumam Sonia bingung.

"Hn," Luffy mengangguk cepat, "Hancock menelponku, dia menyuruhku datang kemari," jawaban sangat jujur.

Mari dan Sonia membulatkan bibir mereka. Sedangkan Hancock bernapas lega. Setidaknya dia tidak kesulitan mengarang alasan lagi. Tapi ternyata itu salah besar, saudara-saudara.

"Untuk apa Kakakku menyuruhmu datang? Untuk menemaninya tidur? Hehehe," tanya Mari cengengesan.

Hancock membatu.

"Tidak, justru aku yang memintanya tidur disampingku. Memangnya kenapa?" jiah, si bodoh Luffy malah lebih memperparah masalah.

Buat apa dia harus terus terang begitu, sih? Apa dia tidak berpikir kalau dia bilang begitu akan timbul skandal atau gosip? Haahh, sepertinya otak Luffy memang tidak bekerja untuk situasi seperti ini. Pantas saja Sanji menjadi guru cintanya walaupun itu hal-hal aneh yang diajarkan.

Eh, tapi omong-omong jika teman-teman Luffy tahu soal ini bagaimana, ya? Terutama Sanji. Cowok mesum itu pasti akan berteriak-teriak layaknya orang kurang waras karena gadis tercantik se-SMA di Tokyo malah jatuh dipelukan cowok bertampang idiot kelas babu macam Luffy. Sayangnya, justru lebih parah jika saja Luffy dan Hancock tahu Sabo mengintai mereka.

Sabo? Oh ya, Sabo! Cowok itu sudah buru-buru cabut dari kediaman Boa saat Mari dan Sonia masuk ke kamar. Hahaha, misi sukses tanpa ketahuan! Berbakat juga dia jadi pencuri (Plak!).

Kembali ke topik.

Mendengar penjelasan polos Luffy, spontan Sonia berdiri dan memajukan wajahnya tepat didepan wajah Hancock. Senyum genit tidak lepas dari wajahnya, "Arere, Onee-sama? Jadi kau langsung setuju untuk tidur bersamanya, eh?"

"Tu-tunggu, aku—"

"Hei, Kak, bagaimana rasanya? Apa sebegitu hangatnya sampai Kakak lupa kalau sekarang jam makan malam?" timpal Mari.

"Ma-Mari, Kakak bisa jelaskan—" Hancock berhasil disudutkan. Sayang sekali geng Angels tidak disini, ya.

"Jangan-jangan selain tidur kalian sempat berciuman, hmm?"

"Eh?" ucapan Sonia otomatis membuat Hancock dan Luffy terpaku.

LUHAN'S FLASHBACK ON

"Tidurlah," ucap Luffy pelan, "Aku akan tetap disini sampai kau bangun,"

Hancock terdiam beberapa waktu, "Lalu setelah itu kau akan meninggalkanku dan membiarkanku menjadi milik si brengsek Min—"

"Apa yang kau bicarakan? Itu tidak akan pernah terjadi," sergah Luffy cepat, "Kau pasti lelah menangis, 'kan? Karena itu, tidurlah. Perasaanmu akan membaik," Hancock membiarkan Luffy mengecup dahinya. Tubuhnya yang dipeluk oleh lengan cukup kekar itu benar-benar membuatnya terbuai hingga akhirnya dia tertidur pulas dengan senyum di wajah.

LUHAN'S END FLASHBACK

BLUSH. SSSHHHHHSSS. Luffy dan Hancock saling menatap satu sama lain, lalu kemudian membuang muka. Terlalu malu untuk menunjukkan wajah tomat mereka, mungkin? Bahkan kepala mereka sampai berasap begitu. Sayang sekali, hal itu tidak luput dari kedua saudaranya. Perubahan atmosfer ini bisa dikatakan sebuah petunjuk.

"Wuooo, jadi kalian benar-benar berciuman!? Hahaha, ternyata Kakakku sudah dewasa!" ucap Sonia tertawa keras.

"Bo-bodoh! Si-siapa yang berciuman!? Aku masih menjaga ciuman pertamaku, tahu!" Hancock mengelak.

"Lalu, bisa Kakak jelaskan arti wajah cabai kalian berdua?" tanya Mari santai menunjuk wajah Hancock dan Luffy bergantian.

"Kaliaaaaannn…." Desisan geram Luffy spontan membuat ketiga cewek itu menoleh padanya. Urat-urat kesabaran Luffy mulai putus karena rasa malu. Baiklah, inilah saatnya menggunakan jurus kejujuran agar mereka berhenti menggodanya!

"AKU MEMANG MENCIUMNYA SEBELUM TIDUR! LALU KENAPA, KONOYAROU!?"

Mari jawdrop.

Sonia melotot angker.

Hancock menutup wajahnya sambil merutuk dalam hati. Dia lupa kalau Luffy tidak bisa berbohong, ck ck ck.

Dan Luffy, kau benar-benar bodoh sekali, nak. Jurus kejujuranmu justru tidak membuat mereka berhenti menggodamu. Malah lebih parah, hadeh.

.

.


Kouza berkali-kali melirik jam tangannya. Telat, ini sudah benar-benar telat. Sebenarnya berapa jauh dari HAS ke Tokyo Galaxy? Ah, Kouza melupakan satu fakta penting. Geng Angels itu terdiri dari lima PEREMPUAN. Dan tentu saja perempuan identik dengan make up, kosmetik, dandanan dan hal-hal omong kosong yang membuang waktu lainnya.

Sedangkan Zoro sudah mendengkur dari tadi. Dia yang tidur bersandar pada tiang gerbang masuk sekolah Tokyo Galaxy jadi incaran maut kaki Sanji yang kesal padanya.

"Hoi, kepala lumut, bangun!" seru Sanji. Lama-lama dia bête juga dengan Zoro. Bisakah cowok ini bersikap gentle saat menunggu kedatangan sekelompok siswi terkenal se-Tokyo? Heran kenapa Luffy bisa mengangkatnya menjadi wakil ketua OSIS. Singkat kata, Zoro 'kan atasannya.

Zoro menggeram sambil mengarahkan pedang kayu Kendonya pada Sanji, tapi cowok itu berhasil mengelak. Tinggal Sanji deh yang asyik menjulurkan lidah padanya.

Sementara Zoro dan Sanji berkelahi, Usopp berjongkok disamping Luffy sambil memangku dagu. Haaahhh, ini membosankan. Mungkin dia sudah nyaris berkarat karena terpaan angin dan sinar matahari pada kulit kasarnya itu. Tapi ini benar-benar lama! Sedangkan Luffy? Cowok itu tidak usah ditanya. Dia sudah sukses tidur dengan air liur yang menetes dari mulutnya. Inikah sikap seorang ketua OSIS? Entahlah. Mungkin perlu diadakan survei kewarasan otak seluruh murid Tokyo Galaxy kenapa mereka mau memilih Luffy sebagai ketua mereka.

"Hei, ayo kalian semua berdiri! Tunjukkan sikap ramah kita pada tamu!" seru Kouza.

"Tamunya mana?" pertanyaan polos Usopp.

"Sudah berdiri saja, ayo!" Kouza langsung menarik lengan Usopp dan Luffy dan menendang bokong Sanji juga Zoro agar kedua makhluk itu diam.

Akhirnya, mereka sukses berdiri layaknya barisan anak TK yang akan digiring ke kelas. Menunggu kedatangan para tamu. Tak lupa dengan senyum unjuk gigi mereka. Entah untuk siapa senyum itu.

Krik-krik, krik-krik…

1 menit : Masih bertahan.

2 menit : Masih selamat!

10 menit : Mata Usopp meredup jadi lampu 5 watt.

15 menit : Senyum Zoro menciut. Jadi kesannya bukan tersenyum, tapi persis bocah baru belajar mengucapkan huruf 'i'.

30 menit : Gigi kelima orang itu kering. Senyum setengah jam non stop, saudara-saudara!

45 menit : Sanji menangis darah.

1 jam : Mati suri. Eh, maksudnya tepar, pembaca. Ehehehe.

"Kenapa tidak datang-datang, sih?" perjuangan Luffy sia-sia menunggu selama itu. Bahkan pipinya jadi kaku untuk bisa tersenyum lagi.

"Apa dosaku terlalu besar ya, sampai Dewa menghukumku begini?" gumam Sanji malah sok dramatis.

TIN TIN TIN!

Bunyi klakson mobil mengagetkan Five Princes yang sibuk dengan urusan masing-masing di gerbang sekolah. Sontak mereka langsung mengambil posisi siap menerima tamu. Yah, benar sekali. Kali ini rapat terakhir mereka akan diadakan di ruang OSIS Tokyo Galaxy. Itu artinya Hancock dan kawan-kawan yang gantian berkunjung kesana.

Tiga mobil limousine terparkir rapi di depan mereka sampai sosok Hancock dan Robin yang keluar pertama kali, diikuti Kaya, Vivi dan Nami. Seragam HAS yang tentu saja mencolok itu menjadi pusat perhatian murid-murid lainnya yang memang melihat mereka dari jendela-jendela kelas. Ada yang terkagum-kagum, ada yang bersikap norak nan lebay, dan ada juga yang bersikap cuek alias tidak mau tahu.

"Lama, ya?" tanya Kaya basa-basi.

"Tidak, kok. Tidak lama," ujar Usopp bête, apalagi melihat wajah Kaya tanpa dosa itu. Tambah bête saja.

"Serius?" kali ini Nami yang bertanya. Dia senang juga mendengar kelima cowok itu tidak marah karena keterlambatan mereka. Seharusnya mereka datang jam delapan pagi. Tapi ini sudah jam 9.

"Iya, kami baru menunggu satu jam, kok," jawab Luffy (tumben) kalem.

"Kalau untuk Nami-san, satu jam itu tidak lama! Bahkan aku rela menunggumu berjam-jam lamanya!" ini sih bisa ditebak omongan siapa. Siapa lagi kalau bukan SANJI?

"Kalau begitu kau tunggu saja dia sendiri berjam-jam!" celetuk Kouza benar-benar tidak habis pikir dengan Sanji. Cowok ini kenapa bisa berubah 180 derajat sikapnya didepan Nami, ya? Haaahhh, sudahlah.

"Hei, lebih baik kita bawa mereka ke ruang OSIS sekarang, 'kan? Buang-buang waktu saja," untung saja ada satu orang yang masih bisa berpikir waras diantara kelima cowok itu.

Kemudian, geng Angels mengikuti kemana Zoro dan lainnya berjalan.

Begitu mereka memasuki sekolah, Angels mendapati gedung-gedung biru berlantai empat ada di utara, barat, dan timur mereka. Singkat kata, empat gedung termasuk gedung dimana mereka berpijak membentuk persegi tapi sangat luas. Disekitarnya ada taman kecil ditambah pepohonan kecil. Di tengah bangunan-bangunan itu adalah lapangan upacara. Banyak murid cowok yang sedang bermain disana. Bener-bener sekolah terkenal. Butuh biaya berapa untuk membangun sekolah sebesar dan seluas ini?

"Ruang OSIS ada di lantai tiga gedung kelas barat. Jadi mungkin sedikit melelahkan untuk kesana," ucap Zoro terus berjalan melewati koridor-koridor sekolah.

"Heee, aku baru tahu kalau ternyata kau berbakat juga jadi pemandu wisata," sindir Vivi.

"Orang bodoh mana yang mau memandumu, perempuan tengik?"

"Apa katamu, marimo sialan!?"

"Hei, sudahlah, hentikan. Kalian ini berisik sekali," sergah Hancock sebelum dimulainya perang dunia ketiga(?).

"Hancock," panggil Luffy pelan atau lebih tepatnya berbisik. Karena Luffy memang berjalan disamping kirinya. Biar penulis jelaskan posisi mereka saat ini.

Zoro paling depan. Dibelakangnya ada Sanji dan Kouza. Dibelakangnya lagi Usopp dan Vivi. Seterusnya Luffy, Hancock, dan Kaya. Dan paling belakang adalah Robin dan Nami. Sekian penjelasannya.

Hancock sedikit terkejut Luffy memanggilnya begitu pelan. Dengan wajah sedikit merona, Hancock balas bertanya, "Ada apa, Luffy?"

"Kamu marah soal tadi malam?" tanya Luffy lagi hati-hati. Pembaca pasti tahu apa maksud Luffy ini. Apalagi kalau bukan insiden tidur bersama itu?

Wajah Hancock makin memerah. Sial, susah payah dia melupakan kejadian itu, tapi Luffy malah mengungkitnya lagi. Masih segar dipikirannya ketika kedua saudaranya mengadu pada Nyonba di ruang makan. Nenek sial itu kemudian menggoda mereka dengan mengatakan, "Nah, pasangan pengantin baru, maaf mengganggu malam pertama kalian tapi sepertinya jika kalian tidak makan sekarang, supnya keburu dingin,"

Sialan! Siapa maksudnya pengantin baru itu, hah? Nyonba sangat tidak berperasaan membuat dirinya sangat malu didepan Luffy.

"Emm…" Hancock tidak tahu menjawab apa, "Ti-tidak. Kamu tidak bermaksud buruk, 'kan? Hanya ingin menenangkanku saja,"

"Tapi aku sudah membuat keluargamu salah paham," ternyata bocah ini masih punya rasa bersalah. Salah sendiri dia terlalu polos waktu itu!

Hancock tertawa pelan, "Fufufu, sudahlah, tidak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf karena menyuruhmu datang. Kurasa jika kamu tidak datang, hal memalukan itu tidak akan terjadi,"

"Kalau soal itu, aku sama sekali tidak menyesal kamu menyuruhku datang,"

"Eh?"

"Aku senang datang untukmu, shi shi shi,"

BLUSH.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kaya penasaran karena tidak bisa menangkap isi pembicaraan Luffy dan Hancock. Terkesan seperti berbisik-bisik. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah mereka tumben tidak beradu mulut hari ini.

Aneh.

Hancock dan Luffy langsung gelagapan. Luffy pun segera mengatakan, "Ti-tidak, tidak ada apa-apa, Kaya,"

Tanda tanya menetas(?) dari kepala Kaya.

Setelah sekitar lima menit mereka berjalan, mereka akhirnya melintasi kawasan kelas para murid kelas dua. Itu juga artinya kawasan kelas Five Princes yang memang sekelas, yaitu kelas 2-B. Begitu terlihat papan nama dipintu yang bertuliskan '2-B (Aokiji)', spontan ekspresi kelima cowok kita berubah sumringah. Yah, apalagi kalau bukan karena kehadiran teman-teman mereka yang malah berkeliaran di luar kelas.

Melihat kedatangan Zoro dan yang lain, membuat mereka jadi dikerubuti.

"Yo, Zoro-san! Itu tamu sekolah kita yang di gerbang tadi, 'kan? Geng Angels itu, 'kan? Dari HAS itu, 'kan?" pertanyaan beruntun dari seorang cowok berkacamata.

"Tenanglah, Johnny. Kalau mereka memang tamunya, kenapa?"

"Waaah! Aku ingin berkenalan dengan mereka! Hey, para gadis cantik, namaku—" belum sempat Johnny memperkenalkan diri, tiba-tiba omongannya terhenti begitu seorang cowok cukup tampan melewati Zoro tanpa menyapa.

Yah, seorang cowok dengan rambut pirang yang digelung. Tatapan kerennya itu. Bunga mawar ditangannya itu. Tanpa berlama-lama, penulis akan memperkenalkannya dengan nama Cavendish.

Cowok itu terus berjalan melewati Sanji. Usopp pun begitu. Bahkan Luffy. Hingga akhirnya dia berhenti tepat dihadapan Robin.

Robin mengangkat sebelah alisnya. Mau apa cowok ini?

"Haaahhhh… Nona, kau adalah wanita tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku," ucap Cavendish sok romantis sambil meraih tangan kanan Robin dan mengecup punggung tangannya singkat. Adegan nista itu spontan membuat semua orang melotot horor.

Sejujurnya Robin sedikit terkejut dengan sikap Cavendish. Tapi dia berusaha bersikap dewasa," Emm… salam kenal.. err…"

"Cavendish," ucap Cavendish cool. Penulis ingin muntah.

"Cavendish," ulang Robin.

"Salam kenal juga," balas Cavendish masih betah menggengam tangan Robin.

Tanpa mereka sadari, Zoro sudah mengepalkan kedua tinjunya erat-erat. Dia mati-matian menahan hasrat untuk menghabisi Cavendish sialan itu. Tapi disisi lain, dia bingung. Kenapa dia kesal karena itu? Robin itu bukan siapa-siapanya, 'kan?

"Mungkin jika ada waktu, kita bisa berkencan lain waktu," lanjut Cavendish lagi menantang maut. Hah? Kenapa menantang maut? Jelas saja. Angels juga melototinya karena seenaknya saja dia menggoda Robin. Robinnya sih santai saja.

"Akan kupikirkan," jawaban Robin ini sukses membuat empat persimpangan muncul di dahi Zoro.

.

.


Ini adalah rapat tercanggung yang pernah dilalui Usopp. Di kanannya Zoro sedang menebarkan aura membunuh. Dikirinya Luffy menebarkan aura-aura gugup. Jujur, Usopp ingin kabur sekarang juga. Kalau bukan karena Kaya yang menatapnya seolah mengatakan, "Sudahlah, hiraukan saja,", dia pasti sudah lari terbirit-birit dari ruang OSIS.

"Baiklah, rapat selesai. Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Nami mewakili Hancock dan Robin yang entah kenapa tidak ada mood untuk bicara.

"Tidak ada," jawab Zoro ketus.

"Hah? Tidak ada? Jadi dari tadi aku menjelaskan sampai lebar mulutku bertambah satu cm, kau tidak ada pertanyaan?" tanya Nami lagi sangar.

"Memang tidak ada! Memangnya kenapa?" balas Zoro.

"Kau kenapa, Zoro? Kau jadi aneh sejak rapat dimulai," celetuk Sanji tumben perhatian pada temannya satu itu.

"Bukan urusanmu, pirang mesum!"

"Hei, aku mengkhawatirkanmu tapi malah itu balasanmu!"

Nami memutar bola mata bosan, "Luffy, bagaimana denganmu?"

"Eh!" Luffy nyaris terjengkang dari duduknya. Itu berhasil membuat Nami mengernyit heran. Ada apa dengan Luffy? "Mu-mungkin, kita harus bertemu lagi sehari sebelum festival untuk memeriksa semua perlengkapan,"

"Baiklah, itu bisa diatur. Kalau begitu, kami pulang du—"

GRAKK! Zoro bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan.

BLAM! Pintu ditutup dengan kasar. Otomatis semua orang di ruangan itu jadi saling menatap satu sama lain.

Zoro kenapa?

.

.


Matahari sudah mulai terbenam. Langit berubah menjadi merah. Saat itulah, Kuina berhenti menebas balok kayu dengan pedangnya. Hasil tebasan yang sangat cantik, terpotong rapi, dan tentu saja tidak ada goresan di pedangnya. Kemudian Kuina berjalan ke meja kecil dimana Zoro sedang melihatnya dari tadi.

Yah, dibawah pohon Sakura di arena latihan dojo keluarganya memang menjadi tempat biasa bagi mereka berdua untuk mengobrol. Kursi dan meja kayu itu tampak kuno, tapi cukup kuat untuk menahan berat badan Zoro yang sudah beranjak dewasa. Mungkin meja dan kursi itu jadi berkesan karena kayu yang membuatnya sendiri adalah hasil tebasan langsung dari Zoro dan Kuina.

Kuina menyeruput tehnya dengan tenang, tetapi matanya melirik Zoro yang memasang raut wajah kesal. Sebenarnya dia juga heran kenapa cowok itu tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengajaknya ke arena latihan. Setelah meletakkan cangkir teh tersebut, Kuina langsung ke intinya.

"Jadi, ada apa sampai wajahmu mengerikan begitu?"

Zoro menggeram, "Huh, kau tidak tahu?"

"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya, bodoh," jawab Kuina jelas benar.

Melihat Zoro masih duduk bersila dengan kedua tangan yang menggenggam kedua kakinya, Kuina tahu Zoro sudah masuk mode menyebalkan. Kalau begini, sepertinya acara mengobrol mereka akan butuh waktu lama.

"Kau tahu, sebelum aku menyusulmu kemari, Sanji menelponku. Dia meminta tolong padaku untuk menginterogasimu tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu," Kuina menekankan lima kata terakhir.

"Hah? Kenapa si alis pelintir brengsek itu menelponmu?"

"Apa terjadi sesuatu di sekolah? Teman-teman Robin yang tempo hari ke dojo itu datang ke sekolah kita, 'kan? Mau apa mereka?" Kuina mengalihkan pertanyaan Zoro dan ini dia topiknya. Menurut keterangan Sanji ditelepon tadi, Zoro jadi aneh setelah selesai rapat. Pasti ada hubungannya dengan Angels.

"Rapat," jawab Zoro ketus.

"Ya, aku tahu mereka datang untuk rapat festival yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Tapi apa yang terjadi di rapat itu sampai kau begini, hah? Apa mereka meminta hal aneh-aneh?" sejujurnya, Kuina ingin menebas Zoro dengan pedang kayunya karena heran melihat sikap sang teman masa kecil. Dia yang mengajak untuk mengobrol, tapi justru dia sendiri yang sulit untuk diajak mengobrol! Dasar sial!

"Mereka tidak meminta apapun yang aneh menurutku," jawaban ketus Zoro lainnya.

"Lalu? Kenapa kau jadi aneh begini?" tanya Kuina lagi, gemas.

Zoro membisu.

Kuina menghela napas pasrah.

Ck, sepertinya dia harus menebak apa yang telah mengganggu pikiran Zoro di sekolah. Tapi APA? Cowok satu ini cuek dalam soal apapun. Baik dalam hal pelajaran ataupun tugas-tugas sekolah, bahkan CEWEK. Makanya kedatangan Robin waktu itu yang berhasil menarik emosi Zoro menjadi perhatian Kuina.

Tunggu dulu.

Robin. Nico Robin, ya?

"Apa karena Robin?"

TEK! Mendengar nama itu disebut serasa waktu disekitar Zoro berhenti. Zoro langsung mendelik pada Kuina sementara cewek itu terkekeh.

"Hehehe, benar, ya?" ucap Kuina lagi.

"Cih!" Zoro mendecih sambil membuang muka.

Selama empat detik Kuina mengamati ekspresi Zoro, kemudian dia tertawa keras, "HAHAHAHAHAHAHA!"

"APA YANG LUCU!?" seru Zoro kesal kenapa Kuina malah menertawainya.

"Bodoh, seharusnya kau lihat wajahmu itu, ahahahahaha!" balas Kuina menunjuk wajah Zoro yang terlihat sangat lucu dimatanya.

Ekspresi kesalnya itu. Wah, benar-benar langka. Dia rela membayar mahal untuk melihatnya. Tapi, kalau memang karena Robin…

Apa yang dilakukan cewek itu sampai Zoro kesal padanya?

"Oi, oi, kalau benar karena dia, kenapa kau harus kesal begini? Kupikir kau tidak akan peduli padanya," Kuina kembali bingung setelah berusaha mati-matian menahan tawa. Yah, begitu-begitu Zoro kalau marah seperti cewek labil. Bahasa lainnya, mengambek.

Zoro ingin segera mengatakan yang sebenarnya, tapi kembali lagi ingatan sial itu ke kepalanya. Robin, si cewek sial itu! Bisa-bisanya dia masih tersenyum dan tertawa pada cowok-cowok satu sekolahnya yang menggodanya! Bahkan sampai memikirkan untuk menerima ajakan kencan mereka! Sukses hal itu membuat kepala Zoro mendidih.

Kuina agak heran melihat perubahan atmosfer Zoro jadi seram, "Hei, kau tidak apa-apa, 'kan?"

"Robin!" seru Zoro.

"Hah?" gawat, teman masa kecilnya memang mulai tidak waras. Diapakan dia sama Robin sampai jadi begini?

"Cewek sial itu! Berani-beraninya dia!"

"Err…Dia berani apa?"

"Teman sekolahku menggodanya dan dia masih bisa tersenyum manis padanya! Bahkan dia mencium punggung tangannya saja dia tidak marah! Cewek macam apa dia? Seharusnya dia marah, bukannya bersikap seperti itu! Lalu, apa-apaan itu jawaban 'Akan kupikirkan' pada ajakan kencan Cavendish? Cavendish juga sama! Kenapa dia harus menggoda Robin? Bukannya masih banyak cewek cantik di sekolah kita yang bisa dia goda? Tapi kenapa harus Robin!?" sebuah keajaiban bagi Zoro si cuek bisa menyerocos heboh begini layaknya cewek yang sedang ada masalah karena datang bulan. Bahkan emosinya sampai meluap begitu. Jarang sekali dia begini.

Kuina mengerjap-kerjapkan matanya. Kemudian senyum kecilnya pun muncul, "Singkatnya… kau cemburu?"

"…"

"…"

"Eh?"

Cemburu? Cemburu katanya? Kata itu bahkan tidak melintas sedikitpun di pikirannya. Tapi kenapa Kuina mengatakan—

"Kau cemburu, 'kan, Zoro?" katanya lagi masih tersenyum genit.

"Ce-cemburu?" ulang Zoro terkejut. Kuina mengangguk, "A-aku?" tanya Zoro lagi sambil menunjuk dirinya.

Baiklah, harus diakui ini membuat Kuina tertarik, "Kau suka padanya, ya?"

Secara perlahan mulut Zoro ternganga lebar seperti kuda nil dengan wajahnya yang memanas. Peluh menetes dari dahinya. Tangannya sedikit bergetar. Tidak, tidak, tidak. Yang benar saja! Ini pasti cuma salah paham! Benar, 'kan?

Dia tidak mungkin suka pada cewek menyebalkan itu, 'kan?

"Dilihat dari wajahmu, sepertinya kau tidak ingin mengakuinya," ucap Kuina sambil melipat tangan.

Zoro mendelik, "Tentu saja, 'kan? Yang benar saja aku suka pada cewek itu!"

"Oh, ya? Setelah aku melihatmu sukses merona sekarang?" goda Kuina. Zoro jadi gelagapan, sulit mengatakan alasan lagi, "Hahaha, kalau begitu akan kubuktikan padamu!"

Bukti? Apa maksud Kuina ini?

"Akan kubuktikan padamu kalau kau sudah jatuh cinta padanya. Dan saat perkataanku ini benar, maka kau harus mengabulkan satu permintaanku. Bagaimana?" ohohoho! Sebuah tantangan! Kuina tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu Zoro tidak akan mengelak dari tantangan dihadapannya. Sikap yang sangat lelaki.

Zoro tersenyum sinis, "Baik, siapa takut!"

"Hohohoho, kau akan menyesal telah berurusan denganku, nak Zoro!"

"Cih, seharusnya aku yang bilang begitu. TAPI," ucap Zoro lagi, "Jika perkataanmu terbukti salah, maka kau harus mengabulkan satu permintaanku,"

"Setuju!" Kuina tanpa basa-basi lagi mengulurkan salam tantangan alias tangan kanannya pada Zoro. Kemudian Zoro membalas jabatan tangannya dengan ekspresi remeh.

Ceh, dia tahu dia benar. Dia tidak akan pernah jatuh cinta, apalagi jatuh cinta pada cewek bernama Robin itu. Ini pasti hanya perasaan takut dimana jika 'rekan'mu terlalu sibuk dengan laki-laki lain sementara tugas ditinggalkan. Iya, pasti karena itu. Tidak lebih. Zoro sangat yakin. Sangat yakin untuk membuktikan bahwa Kuina itu SALAH BESAR.

Nico Robin!

Aku, Roronoa Zoro dengan ini menyatakan bahwa…

..

Aku sama sekali tidak mencintaimu! Tidak akan pernah!

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author Note : Ck ck ck, Zoro bersikap keras kepala banget disini, ya. Tinggal akui saja dia suka pada Robin, masalah langsung selesai. Yah, beginilah pria dan ketidak pekaan mereka. Nah, sekarang kirimkan kesan dan saran anda untuk chapter tujuh ini. Kalau bisa yang lebih detail. Yah, kalau bisa. Karena jika ada kesalahan, saya akan berusaha memperbaikinya di chapter-chapter selanjutnya. Fanfic ini tidak akan terus berlanjut kalau bukan karena saran dan kritik dari pembaca semua. Kalau begitu, sampai jumpa di chapter 8!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^