Title: Would You Marry Me?

Chapter : 7 / END

Author: Annies Kira

Pairing: Kray, slight! Lulay

Rate: T

Genre: Romance, Hurt/Confort

Warning : miss typo(s) masih bertebaran, Boys Love..

Foreword : Yixing as composer and Yifan is a workaholic.. Lalu bagaimana saat keluarga Yixing meminta Yifan untuk menikahi Yixing, apakah Yifan akan melakukannya demi restu keluarga Yixing?

Happy Reading Readers ^^

"Tidakkah cukup hanya dengan saling mencintai?Haruskah cinta kita diikat dengan pernikahan?Sedangkan pernikahan tidak selamanya berakhir bahagia.." _ Wu Yifan

Would You Marry Me?

Chapter 6

'Oh ya, satu lagi. Yixing hyung pernah menghubungi Baekhyun, dia bilang orang tuanya menjodohkan Yixing hyung dengan anak rekan bisnis keluarga Zhang yang lain. Kau tahu pasti kenapa Yixing hyung memberitahu Baekhyun tentang hal itu kan. Jadi, pikirkanlah baik-baik hyung'

'Aku akan menikah dengan siapapun pilihan orang tuaku nanti'

Kata-kata Chanyeol dan Yixing terus berputar-putar di benak Yifan. Ya. Dia tahu. Namja tampan itu tahu kenapa Yixing bercerita tentang perjodohannya pada Baekhyun. Hal itu karena Baekhyun akan memberi tahu Chanyeol dan otomatis Chanyeol akan menyampaikan hal itu pada Yifan. Dengan kata lain, Yixing ingin Yifan tahu tentang perjodohannya. Mungkin namja manis itu berharap Yifan akan melakukan sesuatu jika mengetahui hal itu.

Namun, Yifan masih berdiam di kamarnya. Masih belum tahu apa yang harus dilakukannya. Dia hanya tahu jika dia harus berbuat sesuatu untuk membuat perjodohan itu batal karena dia tidak akan rela Yixing menjadi milik orang lain. Namun, apa? Apa yang bisa membuat perjodohan itu batal? Apa yang bisa membuatnya kembali bersama Yixing?

Dalam kekalutan, Yifan bergegas keluar kamar hotel tempatnya menginap. Namja tampan itu menyetop sebuah taxi dan meminta sang sopir mengantarnya ke suatu tempat. Ke tempat dimana kekasih hatinya tinggal. Rumah keluarga Zhang.

Would You Marry Me?

Chapter 7

Di sinilah Yifan sekarang, di depan rumah keluarga Zhang. Namja tampan itu masih duduk dengan keraguan di dalam taxi yang ia tumpangi. Namja tampan itu masih ragu antara masuk ke dalam rumah Yixing atau tidak. Ia hanya tahu bahwa ia tidak bisa berdiam diri saat kekasih, ah bukan, atau lebih tepatnya mantan kekasih yang ia cintai kini sedang merencanakan pernikahan dengan orang lain. Tidak, Yifan tidak ingin itu terjadi. Yifan tidak akan pernah bisa jika Yixing menjadi milik orang lain di saat ia tahu jika Yixing juga mencintainya.

Yifan tersentak saat ada dua orang keluar dari rumah itu. Namja tampan itu mengamati mereka dari dalam taxi. Raut wajah Yifan menjadi berubah saat mendapati jika orang itu adalah Yixing dan Luhan. Yixing, betapa ia merindukan namja manis itu. Ingin rasanyan Yifan keluar dari taxi dan berlari memeluk orang yang dicintainya itu.

Beberapa saat kemudian, Luhan terlihat berpamitan dengan Yixing. Teman Yixing itu kemudian terlihat meninggalkan Yixing dengan mengendarai mobil hitam miliknya. Saat itulah Yifan memberanikan diri untuk keluar dari taxi dan menghampiri Yixing. Namja tampan itu langsung memeluk Yixing dari belakang saat namja manis itu mulai beranjak masuk ke dalam rumah.

"Yixing," lirih Yifan.

Yixing tersentak mendengar suara yang sangat ia kenal. Namja manis itu tidak menyangka jika Yifan akan berani menunjukan diri di rumahnya. Apalagi dengan posisi mereka saat ini, entah kenapa Yixing sangat merindukan dekapan hangat namja di belakangnya. Namun, Yixing tidak boleh goyah. Dia harus bisa mengendalikan dirinya agar tidak luluh pada Yifan. Oleh karena itu, ia menyentakkan dekapan Yifan dengan keras.

Namja manis itu kemudian berbalik menghadap Yifan dengan tatapan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yixing dingin dan penuh kemarahan.

"Ikutlah bersamaku," seru Yifan tanpa menjawab pertanyaan Yixing.

"Apa maksudmu?" tanya Yixing bingung.

"Aku tahu kau akan dijodohkan. Ikutlah bersamaku. Kita kembali ke Seoul dan hidup seperti dulu," ajak Yifan menjawab pertanyaan Yixing.

Yixing tercekat mendengar pernyataan Yifan. Namun, ia kemudian tertawa miris. "Mengajakku kembali ke Seoul? Atas dasar apa kau mengajakku pergi? Apa kau lupa jika kita sudah tidak punya hubungan lagi?" seru Yixing.

"Ikutlah bersamaku, Yixing. Kita tinggalkan negara ini dan hidup berdua," ajak Yifan lagi.

"Hidup berdua? Sebagai apa? Kekasih? Tidak. Aku tidak mau. Lagipula, lusa adalah hari pernikahanku. Aku tidak ingin mengecewakan calon pendampingku," balas Yixing.

Yifan semakin terkejut. Dia tahu Yixing dijodohkan, tapi ia sama sekali tidak menyangka jika pernikahan Yixing akan secepat ini. "Kau... akan menikah. A-apa.. kau setuju dengan pernikahan itu?" tanya Yifan terbata-bata.

"Ya. Aku menerimanya dengan senang hati. Kau tahu kenapa? Karena orang yang akan aku nikahi adalah orang yang sangat baik. Dia mencintaiku dengan tulus. Dia tahu aku tidak bisa membalas cintanya, tapi ia tetap mengharapkan kebahagiaanku. Apa kau tahu siapa dia? Dia adalah Luhan," jawab Yixing.

"Apa? Luhan?" untuk kesekian kalinya Yifan tercekat mendengar pernyataan Yixing. Luhan, namja yang selama ini selalu menjadi sosok pelindung bagi Yixinng adalah orang yang akan menikahi namja manis itu.

"Ya. Luhan ge adalah orang yang sangat baik. Aku tidak punya alasan untuk meninggalkannya. Dia pasti bisa membahagiakan aku," balas Yixing.

Yifan menunduk. Namja tampan tidak mampu membalas ucapan Yixing. Ia terlalu terkejut dengan semua kenyataan pahit ini. Yixing dan Luhan, bagaimana bisa hal itu terjadi. Yifan tidak pernah menyangka jika Luhan juga mencintai Yixing.

"Sekarang pulanglah. Aku tidak akan iku denganmu," tambah Yixing. Namja manis itu kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Yifan yang masih tertunduk.

Tes

Tes

Tes

Air mata yang sejak tadi dibendung akhirnya mulai menetes dari sudut-sudut mata Yixing saat meinggalkan Yifan. Tidak bisa dipungkiri jika namja manis itu masih sangat mencintai Yifan. Namun, perlakuan Yifan sebelumnya masih membuatnya kecewa. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Yifan.

Would You Marry Me?

::FLASHBACK::

Suasana yang sedikit canggung terjadi di ruang keluarga kediaman Zhang. Orang tua Yixing tampak terkejut dan nenek Yixing menggeleng lemah. Sedangkan Yixing hanya menunduk. Namja manis itu tidak tahu harus berbuat apa. Semua ini terlalu tiba-tiba untuknya.

Hari itu Luhan datang bersama keluarganya untuk melamar Yixing dengan alasan bahwa itu akan lebih mempererat hubungan dua keluarga tersebut. Selain itu, orang tua Luhan beranggapan bahwa Yixing dan Luhan sangat serasi. Lagipula, orang tua Luhan juga sudah tahu jika Yixing menyukai sesama namja sehingga tidak masalah jika Yixing menikah dengan Luhan. Mereka sendiri tidak keberatan memiliki menantu namja manis dan baik seperti Yixing. Mereka juga yakin Luhan tidak akan menolak menikah dengan Yixing.

"Maaf, apa kalain serius dengan ucapan kalian untuk menjadikan Yixing sebagai menantu kalian?" kata Mr. Zhang menanyakan kesungguhan keluarga Luhan.

"Tentu saja. Bukankah sejak awal kita berencana menjodohkan anak kita. Hanya saat ternyata anak kita sama-sama namja kita membatalkannya dan memilih agar mereka menjadi adik dan kakak. Namun, saat kami tahu Yixing menyukai sesama namja mungkin perjodohan itu dapat kita lanjutkan. Lagipula kami juga tahu Luhan seorang bi. Sebagai orang tua awalnya kami tidak bisa menerima keadaan Luhan, tetapi sekarang sepertinya itu justru akan membuat perjodohan ini berjalan lancar," jawab Mr. Lu.

"Beri kami waktu untuk memikirkan ini. Ini terlalu mendadak untuk kami," balas nenek Zhang.

"Iya. Kami tahu ini mendadak. Kami hanya sekedar ingin mengutarakan niat kami. Kami akan menunggu jawaban kalian dan apapun jawaban itu, itulah yang terbaik untuk kita semua," kata Mrs. Lu.

Setelah perbincangan itu selesai. Kedua orang tua Luhan berpamitan dan meninggalkan Luhan yang masih di rumah Yixing.

.

.

.

.

"Apa maksud semua ini Lu ge?" tanya Yixing yang sejak tadi ia pendam.

"Ini semua keinginan kedua orang tuaku," jawab Luhan jujur. Luhan tidak berbohong tentang ini. Rencana pernikahan ini memang orang tua Luhan yang merencanakan setelah mereka tahu tentang hubungan Yixing dan Yifan dari Luhan.

"Kau tidak menolaknya?" tanya Yixing.

"Aku tidak punya alasan untuk menolaknya," jawab Luhan.

"Tapi kenapa? Kau pasti punya alasan menyetujui rencana ini kan?" tanya Yixing lagi.

"Mereka ingin kau menjadi menantu mereka. Lagipula apa yang mereka katakan benar, aku bi. Juga, aku rasa ini caranya agar kau bia melupakan Yifan," jawab Luhan.

"Aku akan melupakannya tanpa menikah denganmu ge. Kau sudah aku anggap kakakku sendiri. Bagaimana aku bisa menikah denganmu?" seru Yixing.

"Ya. Aku tahu kau akan mengatakan hal itu," balas Luhan. "Jika aku katakan aku menyayangimu lebih dari seorang kakak pada adiknya, apa kau akan percaya?" tanya Luhan.

"Luhan ge..." lirih Yixing.

"Aku menyayangimu lebih dari kakak pada adiknya. Itulah kenyataannya Yixing," tambah Luhan. "Apa kau tahu saat kau mengatakan bahwa kau sudah memiliki kekasih, saat itu hatiku hancur. Namun, melihatmu dan Yifan begitu gigih memperjuangkan cinta kalian. Aku mulai luluh. Aku berpikir jika kau mungkin akan bahagia bersama Yifan. Karena itu aku membantu kalian. Namun, Yifan menghianati kepercayaanmu. Karena itu aku menyetujui rencana orang tuaku," lanjut Luhan.

"Lu ge,.. Baiklah. Aku setuju dengan pernikahan ini," balas Yixing akhirnya.

Luhan terkejut. Ia tidak menyangka jika Yixing akan setuju dengan pernikahan itu. "Kau mau menukah denganku?" tanya Luhan memastikan.

"Ya. Aku sudah berjanji pada orang tua ku jika aku akan menikah dengan siapa pun pilihan mommy dan daddy. Jika mereka setuju, aku juga akan setuju," jawab Yixing.

Luhan tahu itu bukan isi hati Yixing yang sebenarnya. Terlihat jelas jika Yixing tidak bisa menerima pernikahan itu. Namun, dibandingkan dengan melihat Yixing yang terus menerus mengharapkan Yifan, dia akan tetap menikahi Yixing. Dia akan membuat Yixing lupa dengan cintanya terhadap Yifan.

::END FLASHBACK::

Yixing duduk dengan memeluk lututnya sambil besandar pada ujung ranjang kamar tidurnya. Air matanya mengalir dari sudut-sudut matanya. Dia menangis dalam diam dengan tatapan kosong. Berat. Ini terlalu berat untuknya. Kedatangan Yifan tadi sama sekali tidak membantunya. Hal itu justru membuatnya semakin ragu dengan pernikahan yang akan ia lakukan dengan Luhan.

Yixing bimbang dan tak mampu melakukan apa-apa. Yixing tidak yakin jika ia akan ikut dengan Yifan kembali ke Korea. Namun, ia juga tidak yakin apakah dia bisa menikah dengan orang selain Yifan walaupun calon mempelainya adalah Luhan. Jika dia memilih Yifan, maka Luhan dan juga seluuruh keluarga mereka pasti akan marah padanya. Tetapi, jika ia menikah dengan Luhan itu juga akan menyakiti Luhan. Yixing hanya menyayangi Luhan sebagai kakaknya. Dia tidak bisa menikah dengan kakaknya sendiri.

Would You Marry Me?

Dua hari kemudian – hari pernikahan Yixing

"Hyung, kau yakin akan pulang ke Seoul?" tanya Chanyeol yang sedang melihat Yifan mengemasi barang-barangnya.

"Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap berada di China," jawab Yifan.

"Kau akan kembali ke Seoul sendiri?" tanya Chanyeol lagi.

"Ya. Aku akan kembali sendiri," jawab Yifan.

"Hari ini,.. emmm.. kau tahu kan hyung jika hari ini,..."

"Hari pernikahan Yixing. Aku tahu itu," kata Yifan memotong ucapan Chanyeol yang ragu-ragu. Yifan menghentikan aktivitasnya dan duduk di ranjang hotel tempatnya menginap.

"Kau tahu tentang pernikahan Yixing hyung?" tanya Chanyeol heran. Dalam benak Chanyeol, jika Yifan tahu tentang pernikahan Yixing maka namja tampan itu pasti akan melakukan sesuatu agar pernikahan itu tidak terjadi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Yifan memilih pergi dari China dan kembali ke Seoul.

"Ya. Yixing sendiri yang memberitahuku," jawab Yifan.

"Apa kau akan membiarkan pernikahan itu terjadi?" tanya Chanyeol.

"Aku tidak punya hak mengacaukan pernikahan mereka. Karena itu aku harus pergi dari China," jawab Yifan.

"Yixing hyung akan menikah di rumahnya. Mereka akan melakukan pemberkatan jam sebelas," seru Chanyeol membuatnya mendapat tatapan penuh tanya dari Yifan. "Hanya sekidar memberitahumu. Pernikahan mereka privat bahkan aku pun tidak di undang. Namun, Yixing hyung mengundang Baekhyun. Jadi, aku tahu dari Baekhyun," tambah Chanyeol.

Yifan menunduk dan mulai melanjutkan mengemas barang. "Masih ada waktu untuk berpamitan dengan Yixing hyung jika kau mau. Aku akan pergi ke sana sekarang. Baekhyun sudah menungguku di lobby. Sampai nanti, hyung," pamit Chanyeol. Namja itu kemudian meninggalkan Yifan yang masih berkemas.

Would You Marry Me?

Setelah selesai berkemas, Yifan langsung keluar dari hotel dan menuju bandara. Dia berusaha keras melawan hatinya yang menyuruh namja tampan itu untuk menemui Yixing. Hal itu karena diia merasa buruk. Dia hanya akan membuat Yixing semakin menderita jika datang ke pernikahan itu. Setidaknya, dia tahu jika Yixing akan menikah dengan namja sebaik Luhan.

Yifan mendudukan diri di bangku yang ada di bandara. Namja itu melirik jam tangannya yang menunjukan jam 8. Penerbangan ke Seoul adalah pukul 8.30 CST. Masih ada setengah jam sebelum keberangkatannya.

'Yixing hyung akan menikah di rumahnya. Mereka akan melakukan pemberkatan jam sebelas,'

Yifan terngiang ucapan Chanyeol sebelumnya. Namja itu menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang akan membuatnya menyusul Yixing. Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Setidaknya itulah yang ia coba pikirkan.

"Tolong berikan aku tiket penerbangan ke Seoul untuk jam setengah sembilan," pinta seorang namja dengan berusia kira-kira 30 tahunan.

"Maaf, pak. Tapi, penerbangan ke Seoul untuk jam itu sudah habis. Silahkan bapak membeli untuk penerbangan selanjutnya saja," saran petugas bandara.

Yifan yang tidak sengaja mendengarnya hanya menatap dua orang yang sedang berseteru itu. Karena tidak berhasil mendapatkan tiket ke Seoul, namja tadi berjalan gontai ke arah bangku tempat Yifan duduk. Ia kemudian duduk di sebelah Yifan. Namja itu menangis dan terlihat sangat berantakan.

"Maaf. Boleh aku bertanya sesuatu?" kata Yifan meminta ijin. Namja tampan itu merasa simpati dengan namja di sebelahnya itu.

"Apa yang ingin kau tanyakan," balas namja tidak dikenal itu disela tangisannya.

"Kenapa kau ingin cepat-cepat kembali ke Seoul? Bukankan jarak penerbangan selanjutnya hanya berselang dua jam," tanya Yifan.

"Anak dan istriku sedang sekarat sekarang. Mereka mengalami kecelakan tadi pagi. Aku menyesal tidak ada di Seoul saat mereka sedang berjuang di rumah sakit. Andai saja aku selalu di samping keluargaku mungkin istriku tidak harus mengendarai mobil sendiri untuk menjemput putra kami," jawab namja itu dengan tangisan yang semakin keras.

"Begitu ya," balas Yifan yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Kau pasti belum menikah," kata namja itu tiba-tiba hingga membuat Yifan terkejut. "Saat kau menikah nanti, kau akan tahu betapa berartinya keluargamu kelak. Keluarga yang akan selalu menunggumu saat kau kembali dri bekerja. Keluarga yang akan membuat hidupmu lebih berarti," tambah namja itu.

Yifan menunduk mencoba mencerna ucapan namja di sebelahnya. Keluarga. Istri. Anak. Pernikahan. Kata-kata itu berputar-putar di benak Yifan.

"Ambilah tiketku," seru Yifan akhirnya dengan menyerahkan tiket miliknya.

"huh?"

"Tiket ini adalah tiket penerbangan ke Seoul. Ambilah dan temui anak dan istrimu. Kau harus menjaga mereka dengan baik," tambah Yifan.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya namja itu.

"Ada sesuatu yang harus aku lakukan," jawab Yifan.

Yifan kemudian berlari ke luar bandara. Namja itu segera menghentikan sebuah taxi dan pergi meninggalkan bandara.

Would You Marry Me?

Suasana meriah dan juga privat terlihat di rumah keluarga Zhang. Beberapa tamu undangan tampak hadir di acara pernikahan Yixing dan Luhan. Nenek Yixing terlihat sedang menyapa tamu yang baru saja tiba. Beberapa saat kemudian ia tampak terkejut melihat siapa yang datang ke acara itu. Yifan, dialah orangnya.

"Untuk apa kau ke sini?" tanya nenek Zhang.

"Aku hanya ingin menghadiri pernikahan Yixing," jawab Yifan.

"Kau yang sudah menghancurkan hati cucuku. Sekarang kau datang untuk melihat Yixing menikah dengan orang lain? Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya nenek Zhang lagi.

"Maafkan aku soal itu. Sungguh aku hanya ingin melihat Yixing menikah. Jika aku punya tujuan lain maka aku sudah gagal. Aku sudah mencoba mengajak Yixing pergi dengan ku, tetapi dia menolaknya. Sekarang aku tidak punya alasan untuk menggagalkan pernikahan ini," jawab Yifan tegas.

"Baiklah. Aku percaya padamu. Masuklah," kata nenek Zhang mengijinkan Yifan masuk.

"Terima kasih," balas Yifan yang kemudian memasuki rumah keluarga Zhang. Yifan duduk di kursi belakang. Tempat yang agak jauh dari altar pemberkatan.

Setelah Yifan duduk, Luhan kemudian mulai memasuki ruang tersebut dan berjalan mendekati altar. Namja Lu tersebut terlihat terkejut saat matanya melihat Yifan tengah duduk di ruangan tersebut. Namun, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan terus melangkah dan berdiri di hadapan pendeta yang akan memberkati pernikahannya dan Yixing.

Di sisi lain, Yifan juga tak kalah tegang dengan Luhan. Ia harus berusaha keras untuk tidak mengacaukan acara tersebut. Jadi, diia hanya akan duduk diam di kursinya dan melihat Yixing menikah dengan orang lain.

Tibalah saatnya Yixing memasuki ruangan. Namja manis itu tampak berjalan tenang dengan menggandeng legan ayahnya. Senyuman manis ia tebarkan untuk para tamu undangan. Namun, hanya Yifan dan Luhan yang tahu jika senyum itu hanyalah senyum palsu. Senyum itu justru senyuman yang menusuk hati Yifan dan Luhan di saat bersamaan.

Raut wajah Yixing berubah tegang saat ia tidak sengaja melihat Yifan yang sedang berbalik membelakanginya. Namun, Yixing tahu betul dia adalah Yifan. 'Apa yang dilakukannya di sini?' batin Yixing. Yixing membuyarkan lamunannya saat ia sudah berada di hadapan Luhan.

Luhan meraih tanga Yixing untuk memasangkan cincin kawin mereka. Saat itu juga Yixing memberikan tatapan memohon untuk Luhan. "Lu ge," lirih Yixing seolah berkata untuk membiarkan Yixing pergi.

Di saat Luhan akan memasangkan cincin ke jari Yixing saat itulah Luhan menarik kembali tangannya dan melepaskan tangan Yixing. "Kau benar. Apa yang kita rasakan hanya sebatas kakak dan adik. Aku tidak bisa menikahimu. Aku tidak bisa menikahi adikku sendiri," kata Luhan akhirnya. Iya, itulah isi hati Luhan yang sebenarnya. Luhan hanya salah mengartikan perasaannya selama ini. Luhan hanya menyayangi Yixing sebagai adiknya. Dia hanya terlambat menyadari itu.

Mendengar ucapan Luhan, semua orang tampak terkejut begitu pula dengan Yifan. Dia memandang tidak percaya pada Luha dan Yixing.

"Pergilah. Temui Yifan," suruh Luhan pada Yixing. Tanpa berpikir panjang, Yixing langsung berlari menghampiri Yifan dan membuat suasana menjadi semakin ramai. Orang-orang semakin terkejut melihat apa yang telah terjadi.

"Bawa aku pergi dari sini, Yifan ge. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku juga tidak peduli kau menikahiku atau tidak. Asalkan beramammu itu sudah cukup," seru Yixing di hadapan Yifan dan seluruh tamu undangan.

"Kau yakin akan ikut denganku?" tanya Yifan memastikan. Yixing membalas dengan anggukan.

"Kalau begitu ikut denganku sekarang," kata Yifan sambil menggenggam tangan Yixing.

Yifan membawa Yixing kembali ke altar. Dengan tatapan bingung, Yixing hanya mengikuti langkah Yifan. Mereka akhirnya berhenti di depan pendeta. "Tolong nikahkan kami berdua," seru Yifan pada pendeta tersebut dan membuat Yixing terkejut.

Yixing menghadapakan Yixing padanya dan menggenggam tangan namja manis itu lebih erat. "Kau setuju ikut denganku. Sekarang giliranku memenuhi permintaanmu. Aku akan menikahimu seperti yang kau inginkan dan orang tua kita inginkan. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," kata Yifan tulus.

Dengan persetujuan keluarga Zhang yang melihat kesungguhan Yifan, kedua namja yang saling mencintai itu pun dinikahkan. Raut bahagia tampak jelas di wajah keduanya. Sekarang tidak akan ada lahi yang akan memisahkan mereka kecuali maut. Mulai saat itu susah senang akan mereka tanggung bersama. Mulai saat itu, Yixing dan Yifan adalah sebuah keluarga. Keluarga kecil yang suatu saat akan bertambah anggota dan akan semakin mempererat hubungan keduanya.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Epilog

Seorang namja berwajah kecil duduk di kursi ruang kerjanya. Terlihat ia sedang serius memeriksa lembaran-lembaran kertas dari sekertarisnya.

"Kau tidak perlu serius seperti itu. Kita tidak sedang dikejar deadline," kata seorang namja cute berpipi tembem mirip bakpao. Setidaknya itu menurut sang Bos, Luhan.

"Aku tahu. Namun, setidaknya jika aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Dengan begitu aku bisa segera membayar kesalahanku padamu," balas Luhan.

"Bagitu ya. Baiklah. Kalau bitu aku akan membelikanmu es americano, bagaimana?" tanya namja yang merupakan sekretaris Luhan, Kim Minseok.

"Tunggu," seru Luhan sambil menarik lengan Minseok dan membuat namja itu terjatuh di pankuan Luhan. "Setelah aku pikir-pikir, lebih baik aku ikut denganmu ke coffee shop saja. Pekerjaan itu bisa menunggu nanti," tambah Luhan sambil mendekap Minseok yang berada di pangkuannya.

"Sejak kapan kau menjadi semanis ini?" tanya Minseok dengan terkekeh.

"Sejak aku menyadari jika aku mencintaimu," jawab Luhan. "Maafkan aku baru menyadarinya," tambah Luhan.

"Aku tahu. Yixing sangat berarti bagimu," balas Minseok.

"Kau juga berarti untukku. Yixing adalah adik kesayanganku dan kau adalah kekasihku. Kalian berdua adalah bagian terpenting dalam hidupku," kata Luhan membuat Minseok tersenyum.

"Bukankah kau bilang mau ke coffe shop?" tanya Minseok mencairkan suasana.

"Iya, benar. Ayo pergi," ajak Luhan.

End Epilog

.

.

.

.

Wach, ff ku satu persatu sudah mencapai level END.. hehehe..
terima kasih pada para reader yang sudah memberikan review untuk ff ini..
salam manis dari Bunny dan Ace untuk semua KRAY SHIPPER..

-Annies yang sedang merindukan KRAY-