Hello, EX

Cast : Kaisoo (Main Pair)

Etc.

Rated : M, Genderswitch

WARNING!

typo everywhere, absurd, dirty talk gagal/?, NC garing, ini fanfic pertama jadi mohon maklum hehe.

Enjoy

.

.

.

"Apa tugasnya masih banyak?" Tanya Jongin sambil tetap memandangi wajah manis itu, baginya kegiatan paling menyenangkan adalah memandangi wajah Kyungsoo.

"Tidak sih, besok akan selesai mungkin. Jika aku menggunakan kekuatan the flash." Oh hei Jongin baru sadar bahwa Kyungsoo tidak marah-marah lagi padanya, bahkan Kyungsoo tidak mengusirnya seperti yang biasa ia lakukan. Jongin tersenyum ceria, lalu mengatakan, "Ayo lakukan bersama."

.

.

.

.

.

.

"Tidak usah sok baik." Jawab Kyungsoo ketus. Jongin tidak memperdulikan ucapan Kyungsoo, dan sepertinya Kyungsoo yang galak sudah mulai kembali. Dengan inisiatif sendiri, Jongin pindah ke dekat Kyungsoo dan mengambil alih mouse yang sedaritadi Kyungsoo pegang. Gadis itu memandang Jongin heran. Namun kemudian ia memukul lengan Jongin yang menghalanginya itu.

"Kau ini apa-apaan sih!" Kyungsoo merebut mouse itu kembali, dan Jongin juga merebutnya lagi, hingga terjadilah kegiatan tarik-menarik mouse. Kasihan sekali benda itu, ckck. /mouse aja diperebutin, masa kamu enggak?/*abaikan. Oke*

"Berhenti Kim Jongin! Aku tidak butuh bantuanmu, sebaiknya kau pergi sebelum Kwon–saem melihatmu disini, itu hanya akan menambah masalahku!" Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan menusuk, sementara Jongin hanya tersenyum like an idiot.

"Kwon–saem sedang sibuk diluar, jadi dia tidak akan tahu. Diamlah dan biarkan aku yang melakukan tugasnya, oke? Kau pasti sangat lelah dipaksa kerja hingga sore hari." Kyungsoo mengacak rambutnya frustasi, anak ini sangat keras kepala. Batin Kyungsoo.

"Itu masalahku. Kau tidak perlu ikut campur atau membantuku, aku tidak butuh itu."

"Aku khawatir padamu Kyungsoo. Menurut saja padaku kenapa sih?"

"Memangnya kau siapa sampai mengkhawatirkanku seperti ini? Berhenti bertingkah seolah-olah kau masih kekasihku. Persetan, aku tidak tahu apa tujuanmu bertingkah seperti ini. Tapi berhentilah, kau membuatku bingung Kim Jongin!" Tanpa sadar semua kata-kata itu keeluar dari bibir Kyungsoo begitu saja. Sebenarnya itu adalah semua perasaan mengganjal dihati Kyungsoo yang tak pernah sempat ia ungkapkan kepada pria dihadapannya ini. Jongin hanya menatap Kyungsoo heran karna kata-katanya barusan, ia nyaris tidak percaya bahwa seorang Do Kyungsoo akan mengatakan seperti ini, mengatakan tentang perasaannya pada Kim Jongin. Kyungsoo baru menyadari apa yang ia katakan barusan, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.

"Aku terlalu lelah marah-marah terus akhir-akhir ini, jadi dengarkan aku baik-baik." Kyungsoo mengambil posisi duduk senyaman mungkin, menghadap ke arah monitor komputer tanpa berani menatap Jongin yang masih mematung disampingnya.

"Dengar. Aku berusaha begitu keras untuk melupakanmu, membangun sebuah dinding pertahanan agar aku tidak jatuh lagi padamu. Tapi kau selalu dengan mudahnya menghancurkan itu semua. Kau datang dan pergi sesuka hatimu, send a short messages every day, trying to get closer with me, and say the sweetest thing or treat me like I'm is your girlfriend. Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan, Kim Jongin?" Kyungsoo menatap Jongin lekat. Sama halnya dengan Jongin. Keadaan sepertinya mulai serius.

Jongin duduk dengan posisi seperti ia ingin melamar seseorang. *tau kan kaya gimana posisinya? Tau lah pasti* dan membuka mulutnya untuk berkata, "Kyungsoo..aku–" Sebelum Jongin menyelesaikan perkataannya, Kyungsoo sudah mengambil alih untuk berbicara, lagi.

"Aku sudah melupakanmu hari itu, hari dimana kita pertama bertemu setelah sekian lama tidak bertemu. Aku sudah mengubur perasaan itu dalam-dalam, meyakinkan diriku untuk tidak lagi jatuh padamu. Kau benar, saat itu aku mempermainkanmu. Entahlah, aku hanya ingin membuatmu merasakan seperti apa rasanya dipermainkan seperti yang selalu kau lakukan padaku. Tapi kemudian kau malah pindah kemari, mendekatiku terus menerus dan membuatku bingung sendiri. Apa Jongin mempermainkanku atau tidak, pertanyaan itu terus menerus terngiang dikepalaku." Tatapan Kyungsoo beralih pada langit-langit ruangan yang berwarna putih terang, sebenarnya itu hanya cara Kyungsoo untuk menyembunyikan maniknya yang mulai berkaca-kaca.

"Ingat semasa kita bersama dulu, saat kita ldr? Aku selalu menganggapmu mempermainkanku karna kau terlihat tidak benar-benar mencintaiku. Kau hanya menghubungiku seperlunya, kau tidak pernah ada saat aku membutuhkanmu, kau selalu bilang bahwa kau sibuk padahal ponsel selalu ada digenggamanmu, apa sesulit itu untuk menghubungiku? Atau aku ini memang tidak penting untukmu? Lalu kau selalu muncul seperti tidak ada apa-apa, seperti kau tidak pernah membuat salah, seperti semua kesedihanku karnamu itu tidak penting. Kau mempermainkan emosiku, hatiku, seluruh jiwaku." Lanjut Kyungsoo.

"Maaf jika kau selalu merasa bahwa aku mempermainkanmu. Tapi sungguh, kali ini aku tidak mempermainkanmu. Semarah-marahnya aku kepadamu, aku tidak pernah mempunyai rencana untuk sengaja mempermainkanmu, Kyung." Jongin menatap Kyungsoo sendu, gadis itu tidak merespon dan masih saja dengan posisinya.

"Maaf jika aku membuatmu merasa bahwa kau tidak penting untukku, aku tidak menghargaimu, aku selalu tidak ada saat kau butuh, aku tidak memperlakukanmu dengan baik semasa kita bersama dulu. Maafkan aku, sungguh maafkan aku." Jongin mulai menggenggam tangan gadis yang sangat ia cintai itu, menatap tangan yang ia saja lupa kapan terakhir kali ia genggam.

"Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu, kau yang pertama untukku. Aku hanya tidak terlalu pandai untuk mengekspresikan seberapa besar rasa cintaku ini, aku fikir tidak masalah jika aku tidak pernah menghubungimu, tapi aku salah. Aku tidak peka terhadap perasaan kekasihku sendiri, maafkan aku." Kyungsoo menatap Jongin, laki-laki itu menatap Kyungsoo balik. Dalam hati mereka masing-masing tersimpan rindu yang amat besar, rindu yang belum sempat tersampaikan. Baru saja Jongin ingin mengecup punggung tangan Kyungsoo, gadis itu sudah menariknya, membuat Jongin kebingungan.

"Jangan lakukan lagi, jangan membuatku tambah terjatuh lagi." Kyungsoo terlihat berfikir sebentar, tiba-tiba saja bayang-bayang Jongin dan Soojung terlintas dikepalanya. Sebenarnya ia sudah mulai melunak tadi, tapi karna bayangan sialan itu membuat Kyungsoo tetap pada pendiriannya. Melupakan Kim Jongin.

"Kau masih mencintaiku?" Tanya Jongin serius.

"Aku bukan jalang yang akan mencintai bahkan mengejar pria yang sudah memiliki kekasih." Ujar Kyungsoo mantap, didalam kalimatnya itu sebenarnya mengandung sebuah sindiran untuk Soojung. Jongin mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu?" Tanya Jongin.

"Bodoh." Umpat Kyungsoo pelan, dia merutuki dalam hati bagaimana bisa Jongin tidak mengerti ucapannya? Apa Jongin sebegitu bodohnya?

"Astaga Kyungsoo, kau mengira aku berkencan dengan Soojung?" Jongin menepok jidatnya sendiri begitu ia menyadari maksud kalimat Kyungsoo. Kyungsoo tidak menjawab, ia hanya memainkan pena-pena lucu yang ada dihadapannya saat ini. 'Pena ini milik sekolah tapi mengapa lucu sekali, diatasnya ada boneka rilakkuma. Apa aku harus mengambilnya?' Batin Kyungsoo sesat. Jongin berdiri dan menumpu tangan kirinya pada meja, sedangkan tangan kanannya ada disenderan kursi yang Kyungsoo dudukki. Menatap gadis itu sambil tersenyum, "Kau cemburu ya?" Tanya Jongin. Spontan, Kyungsoo ingin memukul lengan Jongin namun sikunya itu malah menyenggol kajantanan Jongin. Membuat sang pemilik meringis kesakitan, Jongin memegangi benda kebanggaannya itu sambil terus meringis. Sakit sekali pasti. "Lagian kau sih malah bicara seperti itu!" Kyungsoo itu aneh, dia yang salah malah dia yang marah-marah. Orang cantik, bebas.

"I–ini sangat sa..kit sekali, dasar owl!" Ujar Jongin ditengah rasa sakitnya itu, Kyungsoo melotot tajam begitu mendengar kata 'owl' meluncur dari bibir Jongin.

"Enak saja kau menyamakanku dengan burung hantu!" Balas Kyungsoo tajam.

"Kau memang Ibunya burung hantu, sialan. Apa kau pernah dengar kalau nyawa laki-laki itu tepat berada 'disini'?" Jongin masih saja memegangi miliknya itu sambil mengaduh kesakitan, ia mendudukkan dirinya dilantai dengan wajah tertunduk. Kyungsoo pernah mendengar kata-kata itu, Chanyeol yang mengatakan. Chanyeol bahkan pernah sengaja ditendang 'anunya' oleh Baekhyun. Sadis. Kyungsoo mulai merasa bersalah, hei bagaimana jika Jongin mati mendadak? Itu yang dipikirkan Kyungsoo. Bisa-bisa repot urusannya, kan tidak lucu jika keluar sebuah skandal dengan judul 'Kim Jongin meninggal dunia karna anunya tidak sengaja disenggol oleh siku Kyungsoo' oh itu tidak lucu sama sekali. Kyungsoo ikut duduk juga, mencoba melihat wajah pria dihadapannya ini. Tapi apa yang harus dia lakukan agar rasa sakit itu hilang dan Jongin tidak jadi mati.

"Apa masih sangat sakit?" Tanya Kyungsoo pelan. Jongin hanya mengangguk lemah, lama kelamaan tubuh itu semakin menunduk hingga ambruk dilantai.

"Kim Jongin!" Refleks Kyungsoo berteeriak, persetan jika ada yang mendengar teriakannya itu. Yang ia fokuskan sekarang hanya nyawa Kim Jongin. Beberapa kali Kyungsoo goyangkan tubuh itu dan terus memanggil nama Jongin supaya ia bangun. Kyungsoo sempat berfikir untuk mencari bantuan, tapi itu tidak mungkin. Nanti malah timbul masalah lainnya. Dan jika ia tidak segera mencari bantuan Jongin bisa benar-benar mati. Oke Kyungsoo frustasi saat ini. Kyungsoo menggenggam tangan Jongin, meremasnya berkali-kali berharap pria itu bangun. Tanpa sadar bulir bening keluar dari pelupuk mata besar milik Kyungsoo, Kyungsoo merasa takut. Saking sibuknya menangis, Kyungsoo tidak sadar bahwa Jongin kini malah sedang menatapnya dengan senyuman.

Jongin menarik tangannya dari genggaman dan segera bangkit untuk menghapus bulir-bulir yang terus berjatuhan itu, mata Kyungsoo berbinar begitu melihat Jongin sudah sadar.

"Kau menangis karna mengkhawatirkanku, hm?" Jongin menangkup kedua pipi Kyungsoo, gadis itu dengan segera menyingkirkan kedua lengan hangat dipipinya itu.

"Kau menipuku?" Ujar Kyungsoo tegas, tapi yang berbeda kini adalah ia malah tambah terisak, air matanya jatuh keroyokan. Jongin dengan panik dan bingung mendekati Kyungsoo lagi, namun gadis itu malah memunggunginya. Kyungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan tangisannya yang semakin menjadi-jadi.

"Kyung, maafkan aku, aku hanya–" Ucapan Jongin terpotong karna tiba-tiba Kyungsoo memeluknya, menumpahkan seluruh tangisannya pada dada bidang Jongin, memeluknya dengan erat seolah-olah mereka akan berpisah. Jongin mengusap rambut Kyungsoo dengan lembut, mencoba menenangkan gadis yang tiba-tiba memeluknya itu, "Aku hanya bercanda, maaf jika aku membuatmu khawatir. Aku keterlaluan ya?" Tanya Jongin penuh perhatian.

KYUNGSOO POV

Ya, kau sangat keterlaluan bodoh. Kau membuatku takut, sialan Kim Jongin, aku tidak akan memaafkanmu! Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku, Oh Tuhan sungguh tadi aku sangat takut dan mengapa pula aku begitu bodoh, percaya saja pada akting si Kim ini. Aku menelusupkan jari-jariku pada rambut hitam Jongin, mengusapnya pelan dan..

"ARGGGGHHHHH.." Menjambaknya dengan kencang. Hahahahaha. Begitu dia teriak seperti itu, sebenarnya aku ingin melepaskan pelukanku, tapi pelukan Jongin malah bertambah erat.

"Kyungsoo, kau kejam sekali.. untung aku menyayangimu."

BLUSH. Sial ucapannya barusan malah membuatku blushing. Untung kini aku ada dipelukannya, jadi dia tidak bisa melihat wajahku yang semerah tomat ini.

"katakan padaku apa kau masih mencintaiku?" Tanya Jongin dengan serius. Aku tidak bisa menjawabnya,karna jawabannya bukan masih, lebih tepatnya aku jatuh cinta lagi padanya. Tapi sebagian diriku masih pada pendirian tentang melupakan Kim Jongin sepenuhnya. Aku dilema.

"Kyungsoo?" Ujarnya lagi.

Aku berdehem sebentar, "Aku mulai jatuh lagi padamu, tapi aku tetap pada pendirianku untuk melupakanmu."

"Kau hanya mempersulit keadaanmu sendiri, Kyungsoo."

"Kau yang membuatku sulit."

"Tidak bisakah kau berikan kesempatan lagi padaku?" Ucapan Jongin terdengar menarik, tapi tidak, tidak Kyungsoo. Kau tidak bisa jatuh berkali-kali pada lubang yang sama. Kau bahkan lebih bodoh dari keledai. Batinku tegas. Dari segi fisik dia itu tipikal idaman, tubuh atletis dan tinggi, kulitnya yang eksotis, rambutnya yang selalu berantakan tapi terlihat menawan, senyumnya yang bisa memabukkan siapa saja, tapi jangan bahas masalah hidung, oke. Namun dari segi kepribadian, mungkin kalian kan berfikir dua kali untuk berkencan dengan seorang Kim Jongin. Kim Jongin baik, tampan, setia. Tapi dia terlalu kaku, dia suka mendominasi. Saat bertengkar, dia bisa sangat kasar dan tidak pernah memberiku kesempatan untuk berpendapat, dia selalu memaksakan kehendaknya dan selalu mengambil keputusan sendiri. Entah aku suka atau tidak, setuju atau tidak, dia tidak pernah peduli itu. Terkadang dia sangat romantis, tapi terkadang juga sangat cuek. Kadang sangat kasar lalu kadang jadi sangat lembut. Dan hal yang paling menyakitkan untukku adalah; Terkadang dia membuatku melayang dengan perlakuannya yang sangat istimewa hingga aku merasa aku lah gadis paling beruntung didunia itu. Tapi kemudian dia menghempaskan seluruh rasa bahagiaku, membuatku merasa seperti aku ini tidak berarti apa-apa untuknya. Itu yang sering aku rasakan karna Kim Jongin.

"Sudah berapa banyak kesempatan yang aku berikan padamu? Dan seberapa banyak juga kau menghancurkan kesempatan itu?" Jawabku.

"Aku berjanji aku akan menjadi kekasih yang baik, aku berjanji Kyungsoo, aku–"

"Dan sudah seberapa banyak kau memberikanku janji palsu? Kau pembohong Jongin, and I fucking hate the liar." Eh aku lupa sekarang aku masih dipelukan Jongin, bagaimana bisa aku berkata seperti itu tapi tanganku mengalung dilehernya. Aku lepaskan pelukan itu, dan beralih menatap mata Jongin, menatap bagian tubuh Jongin yang paling ku sukai. Mata yang sendu dan juga teduh.

"Ini hanya akan menambah rasa sakitmu. Kau tidak akan bisa melupakanku, apalagi sekarang kita akan sering bertemu, kau hanya meenyakiti dirimu sendiri." Ujarnya rapuh.

"Aku akan berusaha."

"Kyungsoo mengapa kau sangat keras kepala?"

"Aku memang seperti itu."

"Dengar," Jongin meminimalisir jarak antara aku dengannya. Posisi kami masih duduk dilantai, dengan kaki bersilang. "Aku mencintaimu. Kau mengatakan akan melupakanku tapi hatimu tidak yakin. Kau masih sangat percaya padaku, walau aku sudah berkali-kali membohongimu. Kau masih mencintaiku, Kyungsoo dan kau milikku." Ujar Jongin mantap, matanya terlihat yakin sekali saat ia mengatakan kalimat 'dan kau milikku.' Jongin benar, hatiku sedang dilema antara ingin melupakannya atau kembali padanya, ini sulit. Dan tentang mempercayai Jongin, itu benar, sial. Seberapa banyak Jongin bohong, seberapa sering dia meninggalkanku dulu, aku tetap saja percaya padanya, shit. Dan sekarang pun hatiku masih memiliki rasa percaya untuknya.

"Aku memang sering membuatmu kecewa, tapi aku juga sering membuatmu bahagia. Kau tidak bisa memungkiri itu, Kyungsoo"

Benar.

"Saat kau memutuskan untuk benar-benar mengakhiri semuanya, tidak bisakah kau mengingat waktu-waktu yang kita habiskan bersama? Bagaimana perjuangan kita saat ayahmu membenciku, saat kita hampir dikeluarkan dari sekolah, bagaimana sulitnya saat kita menjalani ldr, saat kau mengatakan setiap detik yang kau lewati bersamaku merupakan suatu kebahagiaan untukmu, pernahkah kau mengenang itu semua, Kyungsoo?"

Sering, sangat sering sampai-sampai aku menderita karna semua itu membuatku merindukanmu.

"Terutama saat malam itu, dengan sangat bodohnya kau 'menyerahkan' dirimu padaku. Tapi sejak saat itu, keyakinanku untuk tetap bersamamu menjadi semakin kuat, karna aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kita lakukan bersama."

Sialan kau, aku malu sendiri jika ingat itu.

"Kyungsoo,"

Ya Jongin.

"Maaf jika perkataanku ini akan menyinggungmu, –kau selalu melihat kesalahanku ketimbang kebaikanku. Kau selalu mengatakan seolah-olah aku hanya bisa menyakitimu, ya aku memang sering menyakitimu tapi aku juga selalu berusaha untuk membahagiakanmu, aku juga pernah membuatmu tertawa bahagia."

Aku semakin menundukkan kepalaku, perkataan Jongin benar, sangat benar. Aku selalu melihat sisi buruk Jongin, padahal Jongin memiliki sisi baik lainnya.

"Aku mengatakan itu bukan untuk sebuah pembelaan, pada kenyataannya memang keburukanku lah yang paling dominan, tapi Kyungsoo, aku akan bertanya lagi padamu, apa kau benar-benar akan melupakanku? Melupakan semuanya?"

Aku berfikir keras. Itu hanyalah sebuah pertanyaan sederhana namun sialnya begitu sulit untuk dijawab.

"Biar ku fikirkan lagi. Tapi Jongin, jika jawabanku adalah ya, bersungguh-sungguhlah untuk tidak membuatku kecewa lagi. Aku lelah, kau juga pasti lelah. Mari sama-sama berubah untuk sebuah hubungan yang lebih baik, jika kau tetap seperti dulu, aku bersumpah, kau tidak akan pernah bisa melihatku lagi. " Jawabku mantap, sebenarnya tanpa difikirkan lagi pun aku ingin sekali kembali lagi pada Jongin. Tapi ku rasa aku memang harus memikirkan semuanya baik-baik, aku bukan lagi bocah seperti dulu. Aku ingin sebuah hubungan yang serius.

"Aku bersumpah. Do Kyungsoo, aku mencintaimu." Jongin memelukku erat, aku membalas pelukannya dan tersenyum.

"Bolehkah aku menciummu?"

"Tumben sekali kau minta izin, bi–"

CUP

Jongin menciumku.

Sebelum aku selesai bicara.

Sialan, aku terkejut. Ini ciuman dengan penuh perasaan, entah kapan terakhir kali Jongin menciumku seperti ini. Oh ini hanya sebuah kecupan singkat, tidak ada permainan lidah. Padahal aku mengharapkannya.

"Jadi kau maunya langsung ku cium ya?"

"Hei tidak!" Jongin menertawakan tingkahku, aku memalingkan wajahku kemana saja asal tidak ke wajah pria idiot dihadapanku. Kau tahu seperti apa rasanya? Seperti duniamu terbalik, seperti ada kupu-kupu bertebaran diperutmu, seperti ada musim semi dihatimu. Lebih dari kata senang, dan aku merasa lega sekali. Seperti semua beban yang ada pada diriku telah diangkat, benar-benar ringan. Eh tapi tunggu,

"Astaga, tugasku belum selesai!"

.

.

.

.

.

.

TBC

AN:

Di chapter ini kayaknya isinya cuma kaisoo confession ya? Wkwk. And I wanna say big thanks buat semua orang yang udah baca cerita absurd bin gaje bin garing ini, terutama yang udah review yuhuuuuuuuuu~ ay lop yu pulllll:* buat author newbie kaya aku pasti rasanya seneng banget kalo ada yang ninggalin review, apalagi isinya itu yg bikin nambah semangat buat terus nulis ff. Dan kenapa aku apdet cepet? Soalnya ini udah rampung 2 hari lalu, tapi aku tunda-tunda publishnya muehehehe, buat kedepannya kayanya aku bakal apdet lama /bodo/ lagi mau try out nic terus lanjut ujian praktek, lelah dedeq. Tapi gabakal hiatus kok, un mah un aja, nulis ff lanjut teros kalo ada waktu luang. Jadi sedih gabisa fangirlingan seleluasa dulu, nasib nak kelas 12 T^T

Maaf banget kalo masih banyak kesalahan di ff gajelas ini wkwk, kek alurnya bikin bingung, bahasanya garing, alurnya kelambatan ato kecepetan, setiap scene gajelas. Maaf yua T^T

Aku juga minta saran dan masukannya ya dari kalian see you~~~~~~~~~