Disclaimer: I don't own Kuroko no Basket and Legend of Zhen Huan. I don't make money from writing this fanfiction. The story contains spoiler for both Kuroko no Basket and Legend of Zhen Huan and other palace dramas. There are quotes from manga, anime, wiki and other sources. Please read the author's note for explanation about the setting, place, history etc.
In the Court of the Crimson King
Chapter VII
Seminggu telah berlalu sejak Mayuzumi Chihiro jatuh ke kolam. Berkat perawatan yang telaten dan seksama dari tabib, maka kesehatan Chihiro sudah pulih dan ia sudah boleh beraktitivas kembali seperti sedia kala. Untuk merayakan kabar gembira ini, maka Sakurai Ryuna dan Furihata Kouka sejak pagi sudah tiba di kediamannya dengan membawa aneka camilan untuk dinikmati.
"Aku sungguh tak menyangka kalau Yang Mulia Kaisar akan menjatuhkan hukuman yang begiu menakutkan," ucap Kouka sambil bergidik ngeri. "Aku mengira Moriyama akan dihukum mati dengan cara dipenggal."
"Aku juga mengira begitu," timpal Ryuna. "Ketika mendengar arti hukuman a metre of red itu, aku rasanya mau pingsan. Lebih baik mati daripada harus menderita seperti itu."
"Itulah tujuan hukuman itu sebenarnya," ujar Chihiro.
"Maksudmu?"
"Hukuman itu maksudnya menakuti-nakuti agar tidak ada orang lain yang berani melakukan hal jahat lagi."
Chihiro juga tidak menyangka bahwa kaisar Seijuurou akan setega itu pada selirnya sendiri. Sejujurnya ia yakin bahwa kaisar Seijuurou memiliki banyak selir hanya karena kewajiban untuk memiliki penerus. Mereka tak lebih dari alat untuk mencapai tujuan. Namun pemikiran ini tak berani ia ceritakan pada siapapun.
Ryuna manggut-manggut. "Sayang sekali Moriyama tidak mau buka mulut," keluhnya. "Aku yakin sekali kalau Haizaki yang menyuruh Moriyama mendorongmu."
"Kita tidak bisa menuduh sembarangan tanpa punya bukti," Chihiro mengingatkan.
Ryuna mendengus sebal. "Aku benci sekali dia! Lebih baik dia mati saja!"
"Shh!" Kouka mendesis, "pelan-pelan sedikit kalau bicara." Ia menoleh kekanan dan ke kiri, seakan-akan takut ada yang menguping.
"Kenapa kau sekarang ikut-ikutan Chihiro juga sih?"
"Dinding memiliki telinga. Kedudukan kita ada dibawah Haizaki. Jabatan ayahnya juga lebih tinggi dari jabatan ayahku ataupun kakakmu." Kouka menjelaskan.
"Menyebalkan sekali!"
Chihiro mengerti alasan kebencian Ryuna. Tapi entah kenapa ia merasa yakin bahwa Haizaki tidak terlibat. Chihiro memperhatikan ekspresi Haizaki ketika itu dan Haizaki benar-benar kaget bahwa Moriyama-lah pelakunya. Tapi Ryuna sudah terlanjur yakin dan gadis itu dari kecil sangat keras kepala. Kalau Ryuna sudah yakin akan sesuatu, susah sekali mengubah pemikirannya.
"Utusan Yang Mulia Kaisar tiba!" teriak kasim penjaga pintu.
Chihiro, Ryuna dan Kouka saling berpandangan heran. Ada urusan apa kasim Reo datang kesini?
Kasim Reo melangkah masuk. "Salam hormat bagi First Class Female Attendant Ryuna, salam hormat bagi First Class Female Attendant Chihiro, salam hormat bagi Second Class Female Attendant Ryuna. Hamba membawa titah dari Yang Mulia Kaisar."
Chihiro, Ryuna dan Kouka segera berlutut di lantai.
"Atas kebaikan hati Yang Mulia Permaisuri, Mayuzumi Chihiro dianugrahkan gelar Noble Lady."
"Terimakasih atas kebaikan dan kemurahan hati Yang Mulia Kaisar," mereka menjawab dengan serempak dan membungkuk hingga dahi menyentuh lantai untuk memberikan hormat. "Terimakasih atas kebaikan dan kemurahan hati Yang Mulia Permaisuri."
"Silakan." Kasim Reo lalu memberikan nampan berisikan titah dan stempel Noble Lady.
Chihiro menyambut nampan tersebut.
"Ijinkan hamba untuk memberikan selamat bagi Noble Lady Chihiro."
"Terima kasih, kasim Reo," balas Chihiro.
"Kalau begitu, hamba mohon undur diri terlebih dahulu."
Chihiro hanya bisa mengangguk.
Begitu kasim Reo menghilang dari pandangan mereka, Ryuna langsung membuka mulutnya dan berseru dengan penuh semangat. "Kau diangkat menjadi Noble Lady!" wajahnya riang sekali. "Bagus sekali! Sekarang kedudukanmu setara dengan Haizaki dan juga Hanamiya!"
"Tapi kenapa tiba-tiba saja kedudukanmu dinaikkan?" tanya Kouka bingung.
"Yang penting kedudukannya naik kan! Apa alasannya harus dipikirkan?" bantah Ryuna.
"Tapi ini aneh sekali."
"Ah...Seandainya kedudukanku dinaikkan juga..." Ryuna mulai berandai-andai.
Chihiro hanya diam saja. Ia sibuk berpikir. Perkataan Kouka benar. Kaisar Seijuurou tidak memiliki alasan untuk menaikkan kedudukannya. Satu-satunya hal yang bisa dijadikan alasan hanyalah kecelakaan yang menimpa dirinya. Apakah ini semacam kompensasi atau penghiburan dari kaisar Seijuurou? Ataukah ini adalah keinginan dari permaisuri Tetsuya? Namun satu hal yang pasti adalah dengan gelar ini musuhnya akan makin banyak di istana. Moriyama mencoba membunuhnya. Siapa yang tahu hal apa lagi yang akan terjadi? Padahal ia hanya ingin hidup tenang di istana tapi malah terseret persaingan dan intrik. Kenapa hidupnya rumit sekali sekarang?
XXXXXXXXXXXXXXX
At Palace of Earthly Tranquility:
"Yang Mulia Permaisuri."
Tetsuya mengangkat kepalanya dari angka-angka yang sedari tadi ditelusurinya. "Masuklah," perintahnya.
Pintu ruang kerja Tetsuya terbuka dan Aida RIko melangkah masuk, diikuti oleh dua pelayan yang masing-masing membawa nampan minuman dan buah-buahan.
"Hamba membawakan minuman dan camilan untuk Yang Mulia Permaisuri," ucap Riko.
Dua pelayan tadi menaruh teko berisi susu vanila, cangkir keramik serta sepiring buah-buahan di atas meja sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Terima kasih, Riko," ujar Tetsuya. Kecuali susu vanila, ia tidak terlalu suka makan makanan manis. Mungkin efek dari dibesarkan kakeknya yang seorang tabib sejak kecil sehingga Tetsuya lebih suka makan makanan sehat seperti buah-buahan untuk camilan.
"Yang Mulia Permaisuri beristirahatlah lebih dahulu," saran Riko. "Jangan sampai Anda kelelahan."
Tetsuya tersenyum tipis. Meskipun Riko sekarang adalah kepala pelayan pribadinya, Riko sebenarnya adalah teman Tetsuya sejak kecil. Mereka dulu adalah tetangga dan ayah Riko bekerja di balai pengobatan milik kakek Tetsuya. Sampai sekarang pun, Aida Kagetora masih membantu disana. Ketika ia menikah dengan Seijuurou, Riko memilih untuk ikut dengannya ke istana.
Tetsuya akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan pindah ke sofa yang menghadap jendela terbuka sehingga ia bisa melihat taman diluar. Riko dengan sigap menuangkan susu vanila ke cangkir dan menyajikannya untuk Tetsuya.
"Terima kasih," ucapnya. Ia mengangkat cangkir tersebut dan meminum isinya perlahan-lahan. Enak sekali.
Riko menunggu sampai Tetsuya selesai dengan minumannya dan menaruh kembali cangkir itu dimeja, barulah ia bicara. "Yang Mulia Permaisuri, sesuai dengan keinginan Anda, Yang Mulia Kaisar telah menaikkan gelar Attendant Chihiro. Kasim Reo juga telah menyampaikan titah kepada Attendant Mayuzumi. Berita ini juga sudah tersebar ke seluruh istana kekaisaran."
"Bagaimana situasinya sekarang?"
"Semuanya aman, Yang Mulia Permaisuri. Tampaknya mereka memilih untuk berdiam diri dulu saat ini." Riko terdiam sejenak. "Moriyama Tomomi sempat mencoba bunuh diri di Istana Dingin daripada hidup dengan keadaan cacat. Ia menolak untuk makan obat maupun makanan. Tapi Yang Mulia Kaisar mengatakan akan memenggal semua keluarganya sehingga Moriyama tidak berani lagi."
Tetsuya hanya terdiam mendengarnya. Ia sudah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi. Dan untuk saat ini, tidak ada yang bisa Tetsuya lakukan. Ia tidak bisa buru-buru dalam mengambil keputusan.
"Apakah Yang Mulia Permaisuri berniat untuk mengambil tindakan?"
Tetsuya menarik napas panjang. "Saat ini kita belum bisa berbuat apa-apa."
"Hamba mengerti, Yang Mulia Permaisuri."
"Tolong ambilkan buku laporan keuangan istana di mejaku."
Riko bergegas melakukan seperti yang diperintahkan oleh Tetsuya. "Silakan, Yang Mulia Permaisuri."
Kaisar bertugas mengurus pemerintahan dan permaisuri bertugas mengurus istana kekaisaran. Anggaran istana dan pembukuan dipegang oleh Tetsuya. Ia yang menentukan besaran gaji kasim, pelayan, hingga uang bulanan selir kaisar. Besaran alokasi untuk semua hal juga ditentukan oleh Tetsuya. Semua pengeluaran di istana mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar semuanya harus seiizin dirinya.
"Angka-angka ini tidak cocok," ucap Tetsuya. "Aku tidak pernah memberikan uang bulanan yang begitu banyak kepada selir manapun."
Setiap selir memperoleh uang bulanan yang besarnya disesuaikan dengan jabatan mereka. Selain untuk membayar gaji pelayan mereka sendiri, uang bulanan itu bisa digunakan untuk membeli apapun yang mereka inginkan. Namun karena para selir tidak diperbolehkan keluar istana, pembelian barang tetap harus melewati Biro Rumah Tangga Istana sehingga Tetsuya tahu persis berapa pengeluaran semua selir di istana.
"Mungkin uang tersebut adalah kiriman dari ayahnya," terka Riko.
Tetsuya mengangguk. "Dan gaji seorang menteri tidak akan cukup untuk semua ini," ia menghela napas. Tampaknya kecurigaan Tetsuya dan Seijuurou tidak salah. Tapi siapa yang tidak curiga bila gaya hidup Haizaki Shougo dan keluarganya sangat mewah dan mencolok.
XXXXXXXXXXXXXXX
At Hall of Mental Cultivation:
Di kekaisaran Teikou yang Agung, kekuasaan tertinggi ada di tangan kaisar. Semua perintahnya adalah absolut dan harus dijalankan. Membantah kaisar berarti hukuman mati. Di bawah kaisar ada Chancellor yang bertugas memberikan masukan dan saran. Kedudukan tersebut dipegang oleh Nijimura Shuuzou saat ini. Selain Chancellor terdapat enam kementerian. Ada juga kekuatan militer yang dibagi menjadi angkatan darat dan laut.
Laporan dari setiap kementerian setiap hari diterima oleh kaisar Seijuurou. Selain itu, setiap minggu semua menteri dan wakilnya harus berkumpul di istana untuk melaporkan perkembangan serta kinerja mereka.
Seperti hari ini misalnya. Nijimura Shuuzou adalah yang pertama kali tiba. Ia mengambil tempat duduk di ujung kanan depan yang merupakan posisi terdekat dengan tempat duduk kaisar Seijuurou. Shuuzou lebih tua beberapa tahun dari Seijuurou dan mereka sebenarnya adalah saudara sepupu karena mendiang Ibu Suri Shiori adalah kakak dari ayah Shuuzou.
Pejabat-pejabat mulai berdatangan dan akhirnya semua telah hadir.
"Yang Mulia Kaisar tiba!" teriak kasim penjaga pintu.
Akashi Seijuurou melangkah masuk. Shuuzou harus mengakui bahwa sepupunya memang terlahir untuk menjadi penguasa. Karisma, aura dan wibawa Seijuurou tak tertandingi oleh siapa pun. Ia juga sangat berbakat, baik dalam hal ilmu pengetahuan maupun bela diri. Bahkan Aomine Daiki saja tidak pernah bisa mengalahkan Seijuurou dalam pertandingan bela diri. Seakan-akan belum cukup, Seijuurou juga dianugerahi wajah yang sangat tampan. Seijuurou memang memiliki segalanya.
"Salam hormat bagi Yang Mulia Kaisar!"
"Duduklah."
Yang memberikan laporan duluan adalah Midorima Shintarou, Menteri Keuangan sekaligus sahabat terdekat Seijuurou.
"Lapor Yang Mulia Kaisar. Anggaran kekaisaran mencatatkan surplus pada bulan pertama. Total pengeluaran mencapai 1 juta koin perak sedangkan total penerimaan mencapai 2 juta koin perak. Secara keseluruhan, jumlah uang kas kekaisaran mencapai 61 juta koin perak didorong oleh perubahan kebijakan pajak yang dianut menjadi pajak progresif."
Seijuurou mengangguk puas.
Satu-persatu menteri memberikan laporan. Tak bisa disangkal bahwa Seijuurou adalah seorang kaisar yang sangat kompeten. Ia memang mewarisi kekaisaran yang kuat dan makmur, tapi dibawah kekuasaannnya hanya dalam tiga tahun keadaan maju pesat. Ia menghukum pejabat-pejabat korup, merevisi undang-undang, membangun infrastruktur dan yang paling penting adalah meningkatkan pendapatan dengan jalan reformasi pajak. Shuuzou sangat yakin bahwa masa depan kekaisaran Teikou yang Agung sangat cerah di tangan Seijuurou.
XXXXXXXXXXXXXXX
Malam harinya di Palace of Earthly Tranquility:
"Yang Mulia Kaisar tiba!" teriak kasim penjaga intu.
Seijuurou melangkah masuk.
"Salam hormat bagi Yang Mulia Kaisar," ujar Tetsuya.
Seijuurou mengulurkan tangannya dan Tetsuya menyambut uluran tangan tersebut. Bersama, mereka melangkah ke ruang makan. Beragam hidangan mewah dan lezat sudah menanti di meja makan.
"Kalian pergilah, biar aku yang melayani Yang Mulia Kaisar," perintah Tetsuya.
"Hamba mematuhi perintah Yang Mulia Permaisuri." Semua pelayan meninggalkan ruang makan sehingga hanya tersisa mereka berdua.
"Bagaimana dengan harimu?" tanya Seijuurou.
"Seperti biasanya," sahut Tetsuya. "Bagaimana dengan Seijuurou sendiri?"
"Semua menteri melaporkan hal yang bagus. Tapi aku harus mengakui bahwa mereka cakap dalam bidang masing-masing." Seijuurou terdiam sejenak. "Bahkan meskipun ada di antara mereka yang melakukan korupsi."
"Lalu apakah Seijuurou akan diam saja?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk menghabisi koruptor-koruptor itu."
"Aku menduga bahwa Seijuurou akan mulai dengan Haizaki Shougo."
Suaminya menyeringai kecil. "Kau memang paling mengenalku."
"Gaya hidupnya terlalu mencolok. Sudah banyak yang menggunjingkannya. Banyak yang tidak menyukainya. Cepat atau lambat ia pasti akan jatuh juga." Tetsuya terdiam sejenak. "Haizaki berbeda dengan Hanamiya Makoto yang dari luar begitu santun dan pandai bicara sehingga banyak orang yang terkecoh. Serigala berbulu domba adalah peribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan Hanamiya."
Seijuurou kelihatan geli sekali. "Sayang, tumben kau tertarik dengan topik ini."
"Aku tidak pernah suka hal ini," ucap Tetsuya terus terang. Demi kekuasaan dan kekayaan, orang rela melakukan apa saja termasuk memutarbalikkan fakta, memfitnah orang tak bersalah dan melenyapkan hati nurani. Tidak ada lawan dan kawan, semua bisa berubah dalam sekejab mata.
"Baiklah... kalau begitu kita mulai makan malam saja," ajak suaminya. "Pembicaraan seriusnya kita simpan untuk lain kali."
Tetsuya mengangguk setuju.
Dalam diam, mereka mulai menyendok makanan masing-masing.
"Kau harus banyak makan, Sayang," tegur suaminya ketika melihat porsi makan Tetsuya yang kecil.
"Aku mohon Seijuurou jangan mulai lagi," balasnya kesal.
"Berapa banyak susu vanila yang kau minum hari ini?"
"Susu vanila tidak ada hubungannya. Dari kecil juga makanku sudah begini."
"Mungkin aku harus melarang pengiriman vanila ke istana."
"Kalau Seijuurou melakukan itu, aku akan melarang tofu masuk ke istana." Tetsuya juga tak mau kalah. Meskipun ia seorang kaisar, makanan kesukaan Seijuurou ternyata sederhana sekali yaitu sup tofu. Seijuurou bisa makan sup tofu berhari-hari tanpa bosan.
Seijuurou tertawa kecil mendengarnya. "Kau tidak pernah berubah." Ia meraih tangan kanan Tetsuya, membawanya ke bibirnya dan mencium punggung tangan itu dengan lembut.
XXXXXXXXXXXXXXX
At Prospect Hill:
Waktu terus berlalu, tak terasa musim semi hampir berakhir yang ditandai dengan mekarnya bunga peony. Saat ini Sakurai Ryuna, Mayuzumi Chihiro dan Furihata Kouka tengah berada di taman Prospect Hill untuk menikmati pemandangan bunga-bunga peony tersebut. Permaisuri Tetsuya telah berbaik hati mengijinkan semua selir kaisar untuk keluar dari istana selama seharian penuh. Kesempatan langka ini tentu saja tidak disia-siakan.
"Indah sekali bunga-bunga ini," gumam Kouka kagum.
Seluruh taman dipenuhi puluhan ribu bunga peony yang mekar bersamaan dengan aneka warna. Sungguh indah dipandang mata.
Saat ini mereka duduk di salah satu gazebo yang ada. Hanya mereka bertiga tentu saja. Haizaki Shiina dan Fukuda Hiroko serta Hanamiya Misaki dan Kawahara Sayuri ada di bagian taman yang lain. Setelah Moriyama dihukum, tidak ada peristiwa apapun selama berminggu-minggu. Sikap Haizaki dan Fukuda cukup sopan kalau tatkala mereka berpapasan di jalan. Apalagi sekarang kedudukan Chihiro setara dengan Haizaki.
Seandainya kedudukan Ryuna juga dinaikkan, Haizaki pasti tidak akan berani mengganggunya lagi. Tapi bagaimana caranya? Ia sibuk berpikir. Tampaknya hanya ada satu jalan.
"Aku harus punya anak," ucapnya tiba-tiba.
Kouka sampai tersedak teh yang diminumnya.
Chihiro menatapnya penuh tanda tanya. "Kenapa kau tiba-tiba bicara begitu?"
Kadang Ryuna merasa kesal melihat Kouka maupun Chihiro yang tidak berminat dengan kaisar Seijuurou. Kalau Kouka memang condong ke takut tapi kalau Chihiro benar-benar tidak berminat sama sekali dengan kehidupan di istana. Pakai bertanya begitu lagi. Selir mana sepanjang sejarah yang tidak ingin punya anak coba?
"Kalau aku punya anak kedudukanku pasti akan dinaikkan. Tidak ada yang akan berani mengangguku lagi."
Kouka dan Chihiro saling berpandangan.
"Ryuna..."
"Bukankah anak adalah satu-satunya pegangan di istana? Bibi pengajar etiket yang bilang begitu. Apalagi kalau aku punya anak laki-laki..."
Ryuna sadar ia tak secerdas Chihiro, namun ia tahu bahwa di istana tidak ada yang abadi. Crimson Forbiden City adalah ibukota wanita. Semua wanita tercantik di kekaisaran Teikou berkumpul disana. Namun secantik-cantiknya wanita, pasti akan bertambah tua. Waktu adalah musuh yang tak terkalahkan. Wajah mulus dan kulit halus suatu saat akan menjadi keriput dimakan usia.
Pemilihan selir kaisar diadakan setiap tiga tahun sekali. Artinya setiap tiga tahun sekali akan ada saingan baru, wanita-wanita muda cantik yang hanya memiliki satu tujuan. Selagi kaisar Seijuurou masih paling sering datang ke tempatnya, Ryuna harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kalau ia punya anak, kedudukannya pasti akan terjamin sampai tua.
XXXXXXXXXXXXXXX
At Moon Pavillion:
Sepulangnya dari taman, Haizaki Shiina kesal sekali. "Si tak berguna Moriyama itu sudah mati. Mati sia-sia," rutuknya. "Mayuzumi Chihiro baik-baik saja. Ia juga dianugrahkan gelar Noble Lady karena Permaisuri kasihan padanya. Kedudukannya sekarang sama denganku! Kalau begini terus bisa-bisa dia akan menginjak-injak kepalaku nanti!"
"Mohon tenang, Noble Lady Shiina," pinta Fukuda Hiroko.
"Tenang?! Tenang katamu?! Bagaimana bisa aku tenang!" Shiina menggeram kesal. Ia dengan amat sangat terpaksa harus bersikap baik belakangan ini. Menyebalkan sekali! Ini semua gara-gara Moriyama yang atas inisiatif sendiri nekat mencoba membunuh Mayuzumi. Untung saja Shiina tidak terseret karena memang bukan ia yang menyuruh Moriyama. "Kalau aku ingat mereka bertiga... Mayuzumi, Sakurai dan Furihata...rasanya mau kubunuh saja mereka semua."
Hening sejenak.
"Apakah Selir Shiina mau menyingkirkan mereka bertiga sekaligus?" tanya Hiroko.
"Tentu saja!" tegas Shiina. Ia menatap Hiroko. Setidaknya bawahannya yang satu ini pintar dan lebih berguna. "Apa kau punya ide?"
"Saya tadi mendengar mereka membicarakan soal bayi dalam perjalanan pulang ke istana. Sakurai menginginkan seorang putra."
"Apa katamu?!" Shiina menggebrak meja. Dasar kurang ajar! Ia geram bukan kepalang. Sakurai hanya luarnya saja yang polos, dalamnya ternyata juga haus kekuasaan.
Hiroko mengangguk. "Justru kesempatan ini harus kita manfaatkan. Saya hanya meminta Selir Shiina bersabar menunggu saat yang tepat. Dan juga..."
"Dan juga apa?"
"Saya membutuhkan orang yang bersedia mati."
Senyum licik perlahan merekah di wajah Shiina. "Kalau begitu, aku akan meminta ayahku untuk mengatur semuanya."
XXXXXXXXXXXXXXX
At Pavillion of Joy:
Datangnya akhir musim semi berarti perpindahan dari Crimson Forbidden City menuju Mountain Resort Chiba, istana kediaman musim panas keluarga kekaisaran yang terletak di provinsi Kaijou mengingat ibukota Rakuzan berada di dataran rendah yang panas. Semua selir sangat senang dengan kesempatan keluar dari istana, tak terkecuali Furihata Kouka.
"Apa lagi yang harus dibawa ya?" Kouka menata pakaian serta barang yang hendak ia bawa. "Sepertinya sudah cukup."
"Disana sangat lengkap, Selir Kouka," Mao berkata menenangkan. "Anda tidak usah takut kekurangan apapun."
"Apa kau sudah pernah kesana?" tanya Kouka penasaran.
Mao mengangguk. "Mountain Resort Chiba sangat luas dan sangat indah, terbagi menjadi empat area utama yaitu area istana dimana kita akan tinggal, area danau, area padang rumput dan juga area gunung."
Kouka sampai ternganga kagum mendengarnya. "Hebat sekali..."
"Area istana dan area danau bebas kita masuki tapi kita perlu ijin untuk memasuki area padang rumput dan area gunung. Karena sangat luas dikhawatirkan kita bisa tersesat tanpa pemandu."
Kouka semakin tidak sabar untuk berangkat besok.
XXXXXXXXXXXXXXX
Perjalanan ke Mountain Resort Chiba memakan waktu beberapa hari yang ditempuh dengan kapal maupun kereta kuda. Karena yang bepergian seorang kaisar, maka persiapan besar-besaran dilakukan. Ada ribuan orang yang ikut serta dalam perjalanan ini. Bagi Tetsuya, ini adalah perjalanan yang kesekian kalinya.
"Kau baik-baik saja, Tetsuya?"
Tetsuya menoleh ke arah suaminya. Ia tadi menikmati pemandangan kanan kiri sungai. Sawah hijau yang membentang luas. Pegunungan di kejauhan. Matahari mulai tenggelam di ujung cakrawala dan menciptakan gradasi warna yang begitu indah. Saat ini mereka duduk di anjungan kapal. Kapal yang dikhususkan bagi mereka berdua. Semua selir ada di kapal yang lain.
"Aku baik-baik saja," sahutnya.
"Dulu kau sempat mabuk," goda Seijuurou.
"Itu hanya sekali saja dan itu karena aku memang kurang sehat waktu itu."
"Staminamu memang kurang baik, Sayang," ujar Seijuurou. "Hari semakin malam. Kita seharusnya beristirahat."
Tetsuya menunggu sampai mereka berada dalam kabin untuk bicara. "Aku yakin bukan istirahat yang ada di pikiran Seijuurou sekarang," ujarnya terus terang.
"Begitukah?"
Suaminya berjalan memutari Tetsuya dan lalu memeluknya dari belakang.
Tetsuya menyandarkan tubuhnya di tubuh suaminya.
"Kau benar," bisik Seijuurou sebelum ia mulai mencium leher Tetsuya. Untuk waktu yang lama, ia hanya mencium leher Tetsuya. Namun napas panas Seijuurou yang menerpa kulit sensitifnya membuat Tetsuya tidak tahan. Ia mendesah dan tanpa sadar mulai menggesekkan bokongnya di selangkangan suaminya.
Mendapat respon positif, satu tangan Seijuurou merayap ke dalam lipatan yukata Tetsuya dan mulai mengelus paha dalamnya.
Tetsuya mengerang.
Secepat kilat, Seijuurou memutar tubuh Tetsuya dan lalu membopongnya ke tempat tidur.
XXXXXXXXXXXXXXX
At Mountain Resort Chiba:
Setelah perjalanan beberapa hari, akhirnya mereka tiba juga. Sakurai Ryuna memandang sekelilingnya dengan terkagum-kagum. Tempat ini hebat sekali. Bangunan yang ada tidak merusak pemandangan alam yang ada, namun malah melengkapinya.
"Selamat datang di Mountain Resort Chiba." Sepasukan orang kasim sudah menanti, masing-masing bertugas menjadi pemandu jalan bagi setiap selir.
Satu kasim muda mendekati Ryuna. "Hamba kasim Jun. Mohon First Class Female Attendant Ryuna mengikuti hamba." Sama seperti Crimson Forbidden City, setiap selir memperoleh kediaman masing-masing untuk mereka tinggali selama tiga bulan ke depan. Dalam perjalanan, kasim Jun menjelaskan tempat-tempat yang ada.
"Di Palace Area terdapat empat istana utama yaitu Main Palace, East Palace yang merupakan istana kediaman Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri, Pine Crane Hall dan Pine Soughing Valley."
Ryuna merasa heran mendengar bahwa kaisar Seijuurou dan Permaisuri Tetsuya tinggal dalam satu istana yang sama. Namun ia tak berani berkomentar. Setelah melewati jalan berliku-liku, akhirnya mereka tiba juga di sebuah paviliun megah.
"Kita telah tiba, Attendant Ryuna," ujar kasim Jun. "Anda diharapkan untuk datang memberi hormat kepada Yang Mulia Permaisuri setiap awal pekan di Pine Crane Hall. Karena tugas hamba sudah selesai maka hamba mohon undur diri."
Ryuna mengangguk.
"Selamat datang di Rose Pavillion," seorang gadis pelayan yang masih muda menyambut kedatangan Ryuna. "Hamba adalah Aki. Hamba pelayan yang bertugas di paviliun ini. Hamba akan melayani Selir Ryuna selama selir Ryuna tinggal disini."
Ryuna baru tahu bahwa ternyata disediakan pelayan tambahan.
"Hamba sudah menyiapkan teh dan camilan untuk Selir Ryuna. Anda pasti lelah setelah perjalanan jauh."
Wah, telaten sekali Aki ini. Ryuna cukup senang mendapatkan pelayan seperti dirinya.
Ryuna lalu berjalan masuk. Rose Pavillion bahkan lebih luas dibandingkan dengan kediamannya di istana dengan jendela besar-besar sehingga udara segar bisa leluasa masuk. Ada juga teras belakang dengan kursi, sofa dan meja.
"Silakan Selir Ryuna."
Ryuna menatap kue berwarna biru keunguan yang tersaji di meja dengan bingung. Ia baru kali ini melihat kue berwarna aneh begini. Apa ini aman dimakan?
Seakan-akan mengetahui keraguan Ryuna, Aki lalu menjelaskan. "Hamba membuat kue ini dengan buah blueberry, Selir Ryuna. Aneka jenis buah berry sangat bagus bagi kesuburan wanita."
Mata Ryuna membesar mendengarnya. "Untuk kesuburan katamu?"
"Maafkan hamba, Selir Ryuna. Hamba tidak bermaksud lancang." Aki kelihatan cemas telah menyinggung majikannya.
"Aku justru sangat senang mendengar ini. Apa ada makanan lain juga yang bagus untuk kesuburan?" tanyanya dengan penuh semangat. Sungguh kebetulan sekali.
"Ada banyak Selir Ryuna, seperti rumput laut, salmon, sayuran hijau, tiram dan kacang-kacangan."
"Kalau begitu, kau harus memasakkan itu untukku setiap hari."
"Hamba mematuhi perintah Selir Ryuna."
Bagus sekali. Dalam hatinya, Ryuna sangat senang. Diantara semua selir yang ada, kaisar Seijuurou paling sering datang ke tempatnya. Peluang ia hamil jelas jauh lebih besar dibandingkan selir lainnya. Apalagi kalau ia tiap hari makan makanan yang bisa meningkatkan kesuburan.
XXXXXXXXXXXXXXX
Beberapa hari telah berlalu yang dihabiskan oleh Ryuna, Chihiro dan Kouka dengan berjalan-jalan di taman. Karena Mountain Resort Chiba sangat luas, setiap hari mereka selalu mengunjungi tempat baru. Hari ini misalnya, mereka bertiga mengunjungi Area Danau. Sesuai dengan namanya, di Area Danau terdapat delapan danau buatan. Saat ini mereka berada di gazebo di tepi Danau Teratai. Bunga-bunga teratai berwarna merah muda bermekaran. Sungguh indah dipandang mata.
"Apa kalian mau makan biji bunga teratai?" tanya Kouka.
"Boleh juga," sahut Chihiro.
"Biar hamba yang memetiknya, Selir Kouka," Mao, pelayan pribadi Kouka bicara. Ia lalu berjalan menuju tepi danau dan memilih beberapa tunas biji teratai yang besar dan lalu memetiknya. "Silakan, Selir Kouka, Selir Ryuna, Selir Chihiro."
"Terima kasih Mao."
Makan biji bunga teratai sambil duduk santai dengan angin sepoi-sepoi rasanya menyenangkan sekali. Mungkin karena mereka bukan di dalam istana jadi suasananya lebih santai.
"Apa kalian tahu kalau Putri Satsuki juga ada disini sekarang?" tanya Ryuna.
Kouka baru mendengarnya. "Oh ya?"
"Ia baru tiba kemarin," ujar Chihiro. "Ibukota Rakuzan sangat panas sekarang. Tidak heran kalau kita semua tinggal disini selama musim panas. Apalagi kudengar kesehatan Yang Mulia Permaisuri tidak begitu baik. Yang Mulia Permaisuri tidak tahan dengan cuaca panas makanya kita berangkat di akhir musim semi dan kembali di awal musim gugur."
Kouka hanya mengangguk mendengarnya. Karena ia berasal dari Seirin dan ayahnya hanya pejabat rendah, ia kurang tahu gosip maupun cerita mengenai anggota keluarga kaisar.
XXXXXXXXXXXXXXX
Keesokan harinya, Sakurai Ryuna terbangun dengan perut sakit. Baik Anko dan Aki sangat khawatir dengan majikan mereka.
"Hamba akan memanggil tabib," seru Aki.
"Tunggu!" panggil Ryuna mendadak. Ia baru teringat sesuatu.
"Ya, Selir Ryuna?"
"Jangan sampai ketahuan oleh Chihiro atau Kouka kalau aku sakit perut. Aku tidak mau membuat mereka cemas," pinta Ryuna.
"Hamba mengerti," ucap Aki dan ia bergegas pergi.
Alasan sebenarnya adalah ia tidak ingin diomeli oleh Chihiro. Kalau Kouka dengan sifatnya hanya akan berharap ia cepat sembuh. Tapi dengan Chihiro, ia pasti akan diceramahi habis-habisan.
"Selir Ryuna, sudah hamba katakan jangan terlalu banyak makan buah berry yang asam. Tidak baik bagi lambung Anda," keluh Anko. "Anda sudah makan aneka jenis buah berry berhari-hari."
"Tapi katanya itu bagus untuk menambah kesuburan," Ryuna mencoba membela diri.
"Segala sesuatu yang baik kalau berlebihan akan berubah menjadi buruk."
Memang ini salahnya juga. Ia makan tanpa mempedulikan aturan dengan harapan agar bisa hamil secepat mungkin. Apa iya bisa segampang itu? Mungkin ia kelewat naif. Kalau semudah itu, istana sudah dipenuhi anak kecil.
"Tabib Yamada sudah datang, Selir Ryuna," Aki sudah kembali, diikuti seorang tabib berusia paruh baya.
Setelah pemeriksaan, ia hanya sakit perut akibat kebanyakan makan buah asam. Tabib itu lalu menasihatinya agar makan dengan teratur dan juga memberinya obat dan suplemen untuk dimakan. Ryuna merasa lega sekali.
XXXXXXXXXXXXXXX
At the East Palace...
Tetsuya tengah berbincang dengan Satsuki, sahabat karib sekaligus adik ipar ketika Aida Riko melangkah masuk.
"Salam hormat bagi Yang Mulia Permaisuri. Salam hormat bagi Tuan Putri."
"Ada apa Riko?" tanya Tetsuya.
"Pelayan pribadi Attendant Ryuna memanggil tabib untuk majikannya. Obat yang diresepkan adalah obat sakit perut," lapor Riko.
Tetsuya dan Satsuki bertukar pandang.
"Siapa tabibnya?"
"Tabib Yamada, Yang Mulia Permaisuri."
Tetsuya mengernyit. "Aku baru mendengar nama Tabib Yamada sekarang." Mendiang kakeknya adalah Tabib Agung dan sempat mengabdi di istana sehingga Tetsuya mengenal semua tabib yang ada. Bahkan bisa dibilang bahwa semua tabib istana ada dibawah perintahnya.
"Tabib Yamada baru masuk ke istana. Ia juga hanya bertugas di Mountain Resort Chiba."
"Kalau begitu, tolong selidiki latar belakangnya."
"Hamba mematuhi perintah Yang Mulia Permaisuri."
XXXXXXXXXXXXXXX
Malamnya di East Palace...
Akashi Seijuurou menatap istrinya yang tengah tertidur di sofa dengan geli. Tetsuya pasti ketiduran ketika menunggunya. Ada banyak sekali dokumen yang harus ia periksa tadi sehingga hari sudah larut ketika ia kembali. Ia berjalan mendekati Tetsuya dan menggendongnya.
"Hmmm..." Tetsuya terbangun dan mengerjabkan matanya.
"Kau ketiduran. Aku akan membawamu ketempat tidur, Sayang."
Sebagai respon, Tetsuya membenamkan wajahnya ke lekukan leher Seijuurou.
Sesampainya, dengan berhati-hati ia menurunkan Tetsuya di ranjang dan melucuti yukatanya. Istrinya sudah tertidur lagi. Seijuurou hanya tersenyum dan lalu membungkuk untuk mencium kening Tetsuya. Ia melepaskan pakaiannya dan lalu bergabung dengan istrinya di ranjang, menarik selimut untuk menutup tubuh telanjang mereka berdua.
Rasanya waktu cepat sekali berlalu, dari dua anak kecil yang tak saling mengenal, menjadi sahabat lalu berubah menjadi kekasih dan akhirnya sepasang suami istri. Begitu banyak hal yang telah mereka lalui. Tak peduli berapa banyak selir yang ia miliki, bagi Seijuurou kekasih sekaligus istrinya hanya satu, yaitu Tetsuya. Namun, sebagai seorang kaisar, ia harus memiliki penerus tahta. Semakin banyak selir berarti semakin banyak anak yang bisa ia miliki. Seijuurou juga tahu bahwa banyak yang memiliki ambisi besar untuk menggantikan Tetsuya. Dan tentu saja, Seijuurou harus melindungi istrinya. Ia tak bisa membiarkan siapapun yang berpotensi mengancam kedudukan Tetsuya untuk hidup.
Author's Note:
Hi everyone!
The Mountain Resort of Chengde was built in the Qing Dynasty (1644-1911) and took about 90 years (1703-1792) to construct. It covers an area of 564 sq meters (218 sq miles) and was originally built for the royal families to spend the hot summer months. The Mountain Resort of Chengde is divided into four parts: the Palace Area, Lake Area, Plain Area and Mountain Area.
Hanamiya Makoto here is inspired by Heshen. He was an official during Qianlong emperor's reign and was considered as the most corrupt official in China history.
The structure in the government is inspired by Three Departments and Six Ministries system. It was the main central administrative structure adopted in China during its imperial period. The Ministry of Personnel or Board of Civil Appointments, The Ministry of Revenue or Board of Revenue, The Ministry of Rites or Board of Rites (礼部; 禮部; Lĭ Bù), The Ministry of Defense or Board of War, The Ministry of Justice or Board of Punishments, The Ministry of Works or Board of Works (工部; Gōng Bù).
Thank you for reading and please review.
Anyway, my laptop keyboard is broken so don't expect fast update from me.
