Berhubung di Chapter kemaren ga ada pertanyaan selaen part MinYoon kapan, langsung ke story aja ya ...
Park Jimin.
Tidak ada satupun siswa yang tak mengenalinya di YaGook High School. Mengenal sosok bantet yang selalu terpampang nyata tiap-tiap saat, mengenal mulut cerewatnya yang tanpa lelah menyuarakan teriak oktaf menjunjung keadilan, mengenal sosok yang terkadang diam sendiri meratapi nasip menjadi salah satu dari keenam siswa paling berantakan sesekolah, mengenal sosok dengan segala tindak spontan konyolnya yang kadang tak masuk di akal, mengenal sosok Park Jimin—pendiri HAM-C sekolah yang tanpa lelah setiap harinya mencari anggota baru.
Pun mengenal sosok itu dengan benar sebagai siswa yang tiap saat berkonvoi gerakan HAM-Cnya dicekal langsung oleh ketua disiplin sekolah—ketua kesiswaan; Min Yoongi. Meski seluruhnya juga tau, sosok Park Jimin tak akan beradu mulut lebih dari dua jam—coret, tiga jam dengan sang ketua OSIS. Entah di sekolah, maupun asrama. Meski begitu, setidaknya semua juga tau, Park Jimin tidak akan menghajar apa lagi meludahi wajah orang sembarangan.
Karena semuanya tau. Jelas dan pasti. Dibanding Kim Taehyung, sosok Park Jimin lebih sayang nyawa.
Meski presentase kebejatan dua orang itu hanya terhitung banding 11-12.
Ya, ya ... wajar saja, mereka teman satu tim.
Bila kalian ingin tau. Tak seperti keempat sahabatnya yang tumbuh dari keluarga berada. Park Jimin lahir dari rahim seorang ibu yang tinggal di rumah sederhana pada pinggiran kota, ayahnya bekerja tunggang langgang pada perusahaan tempat Kim Taehyung serta Kim Seokjin bermain guling-gilingan tiap bosan melanda—Yap benar, perusahaan besar keluarga Kim. ReTae group.
Walau sebenarnya kehidupan ia lebih baik ketimbang salah satu sahabatnya (dalam satu gang) ingat aku hanya menyebut 'keempat sahabatnya yang tumbuh dari keluarga berada' tadi? Ya ... karena yang satu lagi lahir dari keluarga serba kekurangan, sang ayah buruh pabrik perusahaan kecil, membiayai sekolah buah hatinya cukup menjadi kesulitan tersendiri, terlebih pada keadaan; makan susah, tak makan tapi laper. Jadi pula ibunya ikut bekerja mencari penghasilan tambahan, bekerja serabutan sejak ia kecil.
"Woy! Woy! Berhenti sampe sini. Inget kaga sih ini part MinYoon?! Kenapa nyeritain orang laen di mari?!"
Ok, maafkan saya. Itu suara cempreng Chimchim—ralat, Jimin yang sibuk nongkrong di WC.
Lah? Dia ngapain di situ? Yoonginya mana?
"Kampret, Liyeol. Balik ke cerita gue njirrr—eug-HGHH!"
.
*Brobot ...
.
Plung!
.
Oke, abaikan siswa bantet itu yang lagi sewot gegara kecipirit -_-
Mari balik ke alur.
Kita lewati pula, siapa sahabat Jimin yang hidup lebih sengsara darinya. Karena pada dasarnya siswa itu dapat masuk sekolah nan elit ini menggunakan jalur beasiswa. Beasiswa? Anggota di tengah gang absurd seperti mereka? Ya ... mari kita ceritakan itu di lain part.
Park Jimin sendiri?
Anggaplah dirinya beruntung karena sang ayah berkerja di perusahaan milik sang sahabat, dan anggaplah ia beruntung pula memiliki sahabat seperti Taehyung—walau kadang fakta itu menyakitkan, karena suatu waktu Jimin sering merasa sial bersahabat dengan si Bangsat itu.
Cebol sialan, tidak tau malu. Tidak tau diri. -Ini kata Taehyung tiap kali Jimin berkata terang-terangan bahwa ia menyesal bersahabat dengannya (ditambah sumpah serapah dari mulut si Park untuk siswa Kim itu).
Ya ... walau pada nyatanya mereka tetap menghabiskan waktu istirahat (atau kapanpun) sama-sama.
Dan Park Jimin beruntung. Karena pada saat akhir sekolah menengah pertama, orang tuanya hendak menghentikan jalur pendidikannya. Menyuruhnya bersabar untuk melanjutkan sekolah di ajaran tahun depan nanti karena keadaan moneter rumah sedang berantakan.
Taehyung mendengar fakta itu—karena Jimin menceritakannya. Menceritakan segala keluh kesahnya seperti biasa (sebelumnya siswa Park itu meyakinkan bahwa yang diajaknya bicara adalah Taehyung dalam mode normal -karena bicara pada Kim Taehyung dalam mode idiot hanya akan menggenjot tekanan darah tinggi. Dan yang ada bukannya plong sehabis curhat, dirinya malah mati kejang—atau apa itu namanya? Oh! Ayan?)
Meski memiliki sahabat seperti Taehyung, Jimin tak pernah berharap banyak. Karena sesuai pengalaman, Kim Taehyung hanya akan menganggapi sekedarnya—itu pun kalau-kalau ia ingin bicara. Begitu pula saat ia cerita masalah kelit pendidikannya yang akan menganggur satu tahun, Taehyung hanya menanggapi: "Yasudah ... jadi gigolo saja sana, dari pada nganggur? Hitung-hitung cari uang." -entah berucap sadar atau tidak, yang pasti kala itu Taehyung sibuk dengan tali kolornya.
Tapi tanpa sepengetahuan Jimin, usai pulang dari tempat karaoke (tempat mereka curhat) Taehyung berlari menuju kamar orang tuanya, berkata dirinya mau melanjutkan sekolah ke SMU (karena sebelumnya Taehyung sudah dengan keras kepala menolak permohonan sang ibu untuk melanjutkan sekolah, pula perintah tegas sang ayah—hingga membuat kedua orang itu lelah dan menyerah menangani putra bungsu mereka), memohon dengan sangat pada sang ayah untuk memasukkan dirinya di mana pun sekolah keinginan ayahnya bermodal syarat; asalkan itu bersama Jimin.
Mulanya sang ayah sempat tertegun. Sang ibu yang berada di kamar itu pun tak dapat menahan turunnya setitik air mata manakala melihat sang buah hati untuk kali perta memohon amat sopan. Sempat keduanya berpikir bahwan anak bungsu mereka memendam rasa pada sang sahabat yang keduanya pun tau pasti siapa orangnya. Tapi kala Taehyung mendengus kemudian kembali menjadi bar-bar, keduanya hanya menampakkan senyum polos lalu mengiyakan keinginan Taehyung.
Mengelus sayang puncak kepala buah hatinya, kemudian berkata bahwa ia dan Jimin akan di masukkan ke YaGook kala lulus SMP nanti.
Sengaja memasukan putra bungsunya di sekolah itu, karena sistem pendidikan di sana yang menganut cangkup sebuah asrama untuk tempat berpulang siswa-siswinya. Berharap, agar Taehyung berhenti mencari masalah dan betah menetap (karena anak itu sama sekali tidak suka berlama-lama di satu tempat—bahkan pada mansion megahnya) -ya, meski harapan itu ternyata sia-sia adanya. Namun tidakkah mereka mengharap agar Kim Tae mandiri? Tentu saja tidak, karena pada dasarnya si Bangsat itu memang anak mandiri yang tidak suka bermanja-manja di bawah naungan harta kedua orang tua. Kelakuan bar-barnya yang suka mencari prahara pun bukan untuk menarik perhatian, namun untuk mencapai kepuasan.
Toh, di sekolah elit itu Kim Seokjin —hyungnya, telah memiliki nama tersendiri. Ya ... benar-benar namanya tersendiri, karena tak ada campur tangan nama kedua orang tuanya.
Singkat cerita, keesokkan hari Taehyung memasuki kelas Jimin (di sekolah menengah pertama) dengan aura suram nan mencekamnya. Membuat siapapun yang ia lewati menunduk, pun mundur. Pada saat itu juga semua temannya tau; bahwa Kim Taehyung dalam mood buruk di mode normalnya—itu berbahaya, sungguh.
Namun kala siswa Kim itu berhenti di sisi meja Jimin yang sedang ditiduri pemiliknya (sebenarnya Jimin duduk di kursi, hanya saja badannya menelungkup di meja), Taehyung menendang dua kali satu dari empat tiang meja Jimin. Hingga sang pemilik terbangun dan mendongak, menatap keberadaan Taehyung tanpa takut lalu bertanya,"Kenapa?"
Taehyung terdiam sesaat, menyadarkan Jimin kala itu wajah sang sahabat yang penuh lebam juga darah mengental yang kentara luka baru, "Kau habis berhelahi?"
Taehyung tak menjawab, namun mengatakan hal lain, "Jangan menganggur satu tahun," wajahnya kaku, serius bercampur tegang terlebih darah di tulang pipinya mulai mengalir.
Ucapan Taehyung membuat Jimin memutar bola mata malas, 'Dia main-main lagi' -pikirnya, "Kenapa? Kau sudah mendapat tante girang yang siap menyewaku?"
Taehyung menggeleng sambil mengusap santai darah yang sudah sampai pipi bawah menggunakan lengan almamater seragamnya.
Jimin mengernyit, dalam batin ia berkata: "Sayang seragamnya, Bodoh." -namun cukup malas untuk menyuarakan langsung. Karena ia tau Taehyung pasti akan membalas: "Suka-suka, ini seragamku."
"Ayo sekolah bersamaku," lontaran datar sang sahabat membuat yang dilontari berjengat heboh.
'Gila, otaknya korslet apa? Ciri-ciri akan ganti mode, nih,' Jimin kembali membatin, 'Mau mengajakku sekolah bersamanya? Yang benar saja, yang ada ayah ibuku menggembel dulu baru bisa,' batinnya melanjutkan.
"Kenapa?" Taehyung bertanya bingung karena Jimin tak kunjung menanggapi.
"Heh, Stres. Kalau mau bercanda yang benar-benar saja," entah kenapa, rasanya Jimin sewot sang sahabat mengajaknya demikian. Serasa direndahkan mungkin?
Iya, iya ... dirinya tau ia tak kaya seperti Taehyung. Tapi ya tidak begini, mereka sahabat 'kan? Atau Taehyung hanya menganggapnya babu selama ini? Bisa jadi, ayahnya hanya pekerja di perusahaan besar ayah Taehyung. Wajar bukan kalau anaknya congkak?
Kan, Jimin jadi negative thinking.
"Aku tidak bercanda Jim, sekolah bersamaku. Di YaGook," Taehyung membalas santai sambil menekang-nekan luka di tulang pipinya menggunakan ibu jari.
"YaGook?! YaGook High School?!" seketika Jimin histeris, dan Taehyung hanya mengangguk sebagai jawaban, "Sudah kubilang jangan terlalu banyak menonton video bokep, Tae. Otakmu jadi kecil 'kan! Mau bayar pakai apa aku-"
Omelan Jimin tercela dengan tepakan kencang di puncak kepalanya—tidak usah ditanya, tersangkanya pasti Taehyung. Saat siswa Park itu meringis sambil mengusak puncak kepalanya; Taehyung berkata, "Aku sudah bilang orang tuaku kalau aku mau melanjutkan sekolah—seperti saranmu. Dan sebagai timbal baliknya aku minta pada mereka untuk ikut menyekolahkanmu di tempatku bersekolah juga. Hitung-hitung, kau mengambil timbal balik dariku," Jimin mendelik menatap sang sahabat dari tempatnya duduk. Perkataan anak itu tak masuk akal, namun dalam hati ada rasa bahagia tersendiri, "Toh, di sana ada Seokjin hyung juga," Taehyung melanjuti.
"S-serius, Tae?" aju Jimin masih tak percaya.
"Ya," dan tanggapan singkat penuh keseriusan itu yang Taehyung berikan—Anak ini tidak main-main.
Namun tanggapan singkat itu mampu membuat sosok bantet Park Jimin bangkit dari duduknya, menarik sang sahabat, memeluk kencang lehernya, pun berteriak histeris mengalahkan kehebohan satu kelas.
Dan untuk kali pertama, Jimin melihat senyum tulus seorang Kim Taehyung tanpa adanya cela—meremehkan, penuh cibir, pula sarkasme. Senyum anggun nan tampan yang Jimin sendiri akui kebenarannya sebagai sahabat. Membuatnya kala itu merasa jadi seorang paling beruntung memiliki sahabat seperti Kim Taehyung.
.
.
.
.
Jo Liyeol's present
©2016
.
.
WCT Our Hostel
[ MinYoon-MinGa ]
— Chapter 5 : I Need You (Remix)—
.
.
"Welcome To Our Hostel. YaGook High School adalah sekolah menengah atas (megah nan elit) bersistem asrama yang memelihara enam anak pembuat masalah."
.
PROHIBITED COPAS, DON'T BE PLAGIAT, DON'T BE SILENT!
BTS - SEVENTEEN FF! DLDR! RnR!
.
.
.
.
Summary
Indah. Ya, Jimin akui memang indah. Akan ia akui keberadaannya—kalau saja itu bukan dia.
Tolong garis bawahi kalimat kala itu di teks sebelumnya.
Karena mulai entah sejak kapan perasaan sesudah kalimat yang di garis bawahi tadi membumbung dan hilang entah kemana.
Terlebih sekarang.
Entah pula sudah kali keberapa dirinya mengutuk sang sahabat dengan sumpah serapah pula puluhan cela kubro. Karena berkat ke Bangsatannya, ia terkurung berdua dengan sosok cebol -ayolah Jim, sadar diri- Min Yoongi.
Sejak tragedi ludah, tinju, serta amukan Taehyung-Yoongi di ruang konseling petugas kesiswaan tadi siang. Dirinya tak kunjung meregang dengan sang ketua OSIS, keduanya terus bersisian bahkan waktu tak lagi disadarinya. Hampir maghrib—ralat, hampir jam enam sore waktu menunjukkan di pergelangan tangannya. Mereka yakini sekolah kini sudah kosong, para siswa-siswi telah kembali ke asrama. Dan keduanya masih diam, setelah kira-kira menghabiskan waktu lima jam lebih (beberapa menit).
Sibuk akan pikiran masing-masing, meski tak satu pun dari mereka yang keberatan duduk bersebelahan, keduanya terlihat kentara saling menjaga jarak. Walau tanpa mereka sadari lima jam lebih berlalu tanpa suara.
Jimin merutuk. Yoongi memainkan ponsel.
Sang ketua OSIS bingung sendiri, sedari tadi ia menatap layar benda pipih itu sama sekali tak ada panggilan atau pesan masuk padanya untuk menangani kembali kasus sang hobae—Wonwoo. Pula kabar dari hobae lainnya di ruang rapat tadi, Hansol? Jihoon? Jeongguk? Bahkan para anggota kesiswaan lainnya pun tak memberi kabar. Membuat rasa kuatir membumbung tinggi di dadanya, takut-takut si Sinting Kim Taehyung beserta para kawan gilanya; Kim Mingyu, Kwon Soonyoung, Jung Hoseok, pula Boo Seungkwan, menghajar para anggota kesiswaannya.
Namun apa daya? Tiap kali ia hendak bangkit untuk kembali, pasti saja siswa bantet -Min, kurasa kau juga harus sadar diri- di sebelahnya ini mencekal pergelangan tangannya kuat dan sama sekali tak membiarkannya beranjak sedikitpun dari tempat ini.
Tempat apa hayoooo ...?
Markas mereka—gudang terbengkalai di belakang gedung olah raga. Tempat yang bahkan Yoongi selaku ketua kesiswaan (yang mencakup seluruh sudut sekolah) baru kali pertama menjejakinya, awalnya saat ia ditarik paksa Jimin ke mari Yoongi kira dirinya akan dicabuli di tempat ini.
Namun prasangkan negatif Yoongi salah. Jimin mau menyelamatkannya—menyembunyikannya sementara waktu dari Taehyung yang Jimin tau pasti kegilaan siswa itu kala di puncak emosi.
Meski sebal dengan siswa di sebelahnya, Jimin juga masih punya hati nurani. Kan kasihan kalau sampai Yoongi kena hajar Taehyung, lagi pula ... walaupun kadang Jimin merutuki nasip, sungguh ia tidak ikhlas bila sang sahabat dikeluarkan dari sekolah karena lagi-lagi terlibat kasus menghajar anak orang—terlebih kali ini ketua kesiswaan. Mati saja. Tidak ada alasan untuknya juga masih sekolah di sini bila Taehyung keluar, jelas, ia akan mengikuti jejak Taehyung.
Dan kesunyian terpecah kala ponsel digenggaman Yoongi mati. Lowbat, batrainya lemah, handphonenya mati, "Y-ya!" dan seruan siswa itu terdengar.
Jimin menoleh, "Wae?" tanyanya pelan, antara niat tak niat.
Tak menjawab—tak peduli, Yoongi malah memejam mata kuat sambil merutuk dalam gumam, "Aish ... kenapa harus sekarang?"
Kenapa harus sekarang apanya? Kau memakai ponsel itu lima jam non stop. Sadarlah. Terlebih batrai ponselmu dari awal memang tak terisi penuh.
Malas meladeni, Jimin kembali menghadap depan; entah apa yang dilakukannya, sekarang ia sudah tak lagi merutuki Taehyung. Namun diamnya dia malah membuat ngeri, pasalnya, tak ada benda berarti yang dapat dipandang lekat nan dalam di ruangan ini. Hanya ada sofa panjang—yang dibawa (dicuri) mereka dari ruang klub drama, beberapa lukisan abstrak Taehyung (saat mode normal), foto-foto para sunbae tampan milik Seungkwan yang tertempel pada gambus yang dialih fungsikan menjadi mading khusus koleksi foto siswa Boo itu, pula ada foto-foto tragedi—bahkan fenomena mencengangkan para siswa YaGook di sekolah maupun asrama milik Hoseok yang berjejer (dijepit menggunakan binder clip warna-warni) pada untaian tali rapia putih, sebuah DVD player serta radio curian yang Soonyoung ambil dari ruang club dance, puluhan majalah dewasa milik Mingyu yang menumpuk rapih di atas meja kecil buatan Taehyung (dalam mode idiot), beberapa bola di sudut ruangan; bola tendang, basket, volley, pula bola takraw, yang entah punya siapa dan dicuri dari mana, serta gambus-gambus (sama merk dengan mading Seungkwan) bergagang kayu juga bambu yang tergeletak di sudut lain ruangan bertulis kata-kata mutiara serta tuntutan adil bagi para kaum cebol; HAM-C, dan entah apalah itu selebihnya—jelas, yang ini milik Jimin, buatan Jimin.
Saat kali pertama satu langkah Yoongi masuk ruangan ini sesungguhnya ia cukup tercengang. Tak seperti dugaan serta buah bibir para siswa selama ini. Keadaan gudang yang katanya sarang hantu benar-benar bersih dan tak terjamah debu. Pula beberapa perkakas seperti sofa, DVD player dan radio yang ia bingung datang dari mana pun membuatnya membatu singkat, terlebih jajaran foto insiden dari Hoseok, foto para sunbae tampan milik Seungkwan, serta yang paling membuatnya bergidik adalah puluhan majalah dewasa Mingyu. Dan sempat terkagum kala melihat lukisan abstrak Taehyung, "Jika Jihoon lihat, pasti ia akan senang. Bocah itu suka seni rupa," -batinnya. Pula kernyit tak terpukau tertulis di dahinya kala melihat tumpukan gabus yang amat ia kenali tergeletak begitu saja di sudut ruangan.
(Sebenarnya ia tak tau itu semua milik siapa -kecuali untuk gambus bergagang- tapi supaya jelas, jadi biarlah diberi nama pemiliknya)
"Heh, kau punya charger?" suara datar Yoongi terdengar sambil menatap kecil sang lawan bicara.
Jimin membalas pandang, "Punya."
"Pinjam," balas Yoongi.
"Percuma," perkataan Jimin beriring dengan sang pemilik suara kembali menghadap depan.
Mambuat yang diujari bingung, "Eung?"
"Percuma," ulang Jimin.
"Percuma kenapa?"
Jimin kembali membalas pandang sang ketua OSIS, "Di sini tak ada aliran listrik. Kau 'kan yang mencabutnya bulan lalu?"
Pernyataan diakhiri tanda tanya Jimin membuat Yoongi mengernyit samar. Benar, ia yang mengusulkan pada Dewan sekolah untuk mencabut aliran listrik di gudang belakang gedung olah raga bulan lalu, dengan pikiran bahwa tak ada gunanya mengalirkan listrik di sana, buang-buang dana—walaupun (setaunya) gudang itu tak terpakai.
"Bukan aku, Dewan yang mencabutnya," kilah Yoongi.
Min Yoongi berkilah, lucu sekali. Sambil kembali menghadap depan Jimin mendecih, "Iya Dewan yang mencabutnya, tapi kau yang mengusulkannya 'kan? Kau kira kami tolol ... Sunbae?"
Jujur, Yoongi terperenjat mendengar kata-kata siswa di sebelahnya, namun Min Yoongi tetaplah Min Yoongi. Egonya tinggi. Jadi ia membalas, "Mana kutau kalau kalian lah penghuni yang dibuah bibirkan para siswa menghuni tempat ini. Kalau kutau dari awal juga, mungkin sudah kuusulkan pada Dewan untuk menghancurkan tempat ini sekalian," suaranya tenang— namun tak main-main, sarkas, pun tak terelakkan. Senandung bencinya membawa ia luput akan toleransi pada para penghuni tempat ini. Memendam rasa sebal teramat tinggi, rasa lelah akan menghadapi mereka pun turut andil membawanya terbang pada puncak kebencian.
"Sunbae, sadarkah kau bicara pada siapa?" intonasi Jimin merendah, tatapannya berubah kosong menatap dinding bercat tua di sebrangnya.
Yoongi kembali mengernyit. Menatap kesal Jimin yang tak membalas pandang padanya, "Bukankah saharusnya aku yang bilang begitu? Salah-salah kata keluar dari mulutmu, kupastikan tempat ini digusur."
Alih-alih merasa cemas, Jimin mengangguk pelan dihiasi senyum miring meremehkannya, "Terserah kau, percuma pula bicara pada orang ber-ego tinggi sepertimu," kemudian menoleh, membalas pandang Yoongi penuh ketajaman mutlak, "Tapi kau perlu tau, Sunbae," jeda. Jimin menggeser duduknya (semakin merapat pada Yoongi), mengundang reflek yang didekati beringsut menjauh. Namun tidak, Jimin terus mendekat sampai pada titik sang sunbae terhimpit pada posisi duduknya. Hingga lima senti Jimin membentang jarak antar muka mereka, barulah ia melanjutkan, nadanya kembali merendah; bisikan penuh cibir ia suarakan lantang dalam oktaf terendahnya, mendesahkan kalimat laknat yang mengundang kernyit emosi dari penerima ujaran, tak luput membuat keduanya merenggang Jimin semakin mengunci pergerakan siswa di hadapannya, "Salah-salah kata keluar dari mulutmu, kupastikan tempat ini menjadi saksi bisu tindak pemerkosaan sang ketua OSIS."
Hendak saja Yoongi menghajar siswa di depan mukanya kalau-kalau sekelebat memori akan siapa siswa yang mendorong orang di atasnya kala kesempatan terkecil menyata, menggeretnya penuh kuatir di tengah ombang-ambing ombak kecambuk batin, pula menggenggam erat sebelah tanganya hati-hati bagai membawa permata seindah dunia. Larian tertatih itu, peluh menetes deras di kening itu, pula senyum mengembang saat keduanya sampai di tempat ini, membuat tangan mengepalnya mengurung niat terangkat dan mendarat kencang di permukaan pipi seseorang.
Kedua tangan Jimin menggantikan terangkat, sang pemilik meletakan yang kanan pada pegangan sofa di belakang Yoongi, pula tangan lainnya yang mendarat pada sandaran sofa di sebelah sang ketua kesiswaan. Sesungguhnya mereka masih pada posisi duduk yang benar, namun posisi ini membuat keduanya seakan-akan berhadap langsung.
"Sunbae ...," pangilan Jimin terdengar, konsisten pada nadanya, "Bisa kau—dan seluruh anggota kesiswaan sialmu berhenti memancing amarah orang lain?" jeda. Yoongi mendelik tak suka, kenapa jadi ia? Bukankah perkataan itu seharusnya dilontarkan pada dirinya sendiri beserta anggota berantakan gang absurdnya? Hendak Yoongi protes, namun Jimin lebih dulu melanjutkan, "Tak taukah kau seberapa banyak siswa yang membenci kalian?" mengesampingkan benar atau tidaknya perkataan Jimin, dapat Yoongi rasakan detak jantungnya berdegup puluhan kali lebih cepat—rasanya sakit, "Tak kupungkiri. Iya memang mereka menurut pada peraturan, menjalankan perintah tanpa ditegaskan, pula tak banyak protes yang tersalur dari masing-masing celah bibir ratusan di sana. Tapi taukah kau, seberapa banyak benci yang ditumpahkan siswa sekolah ini untuk komite disiplin? Sangat banyak—tak akan kau cerna pun lewat rangkaian kata. Ya ... memang bukan semuanya juga, tapi kau sendiri tau berapa banyak siswa yang terus berdiri di lapangan tiap kamis pagi 'kan? (Jimin makin mendekatkan wajah mereka) Sekarang coba bayangkan kebencian mereka semua—termasuk kami, terkumpul dan menggumpal dalam satu bola gelembung? Sebesar apa yang bisa kau bayangkan volume dalam bola itu? Dan sekarang coba kau bayangkan pula kebencian dalam bola itu menganak pada puncak punggung kalian, sudah kubilang sebelumnya bola itu gelembung bukan? Mereka rentan—sensitif, lalu tanpa diduga, bahkan kalian tak pernah membayangkannya- Boom! Bola gelembung itu pecah. Meledak bagai atom yang menuluhlantahkan Hiroshima-Nagasaki, radiasi yang menguliti kalian serta pupuhan panas api yang perlahan demi perlahan membakar pula meratakan anggota kesiswaan bagai pupuk kandang." Jeda, tatapan Jimin menajam di kedua obsidian bergetar penuh benci Yoongi, "Bisa membayangkannya ... Sunbae? Kuyakin kau pintar," lalu mendecih, dan tersenyum miring penuh sarkasme.
Kesal? Sudah jelas. Teramat kesal iya, Yoongi menahan napas sesaat kala dengan kurang ajar Jimin mendengus di depan wajahnya. Sampai tak kuasa siswa Min itu untuk menarik kencang kerah seragam Jimin—semakim memangkas jarak antar muka keduanya, "Jangan main-main denganku, Park. Persetan akan ucapanmu. Aku. Ketua. Kesiswaan. Siapapun yang berani mengganggu kinerjaku tak akan segan-segan Dewan mengeluarkannya dari sekolah ini—tak terkecuali kau, dan kelima bajingan yang kausebut sahabat itu," Yoongi berada pada puncak emosinya, beberapa penggalan kata ia tekan sedemikian tajam, hingga tak lagi membendung kobar amarah dalam jantung hatinya.
Dari awal memang tak ada sebersit rasa takut dalam diri Jimin pada siswa di hadapannya kini. Sedetik pacu jantung mencepatpun tak ada. Jadi tidak perlu kaget lagi jika kini Jimin menarik belakang kepala Yoongi—membenturkan kening mereka hingga menimbulkan denyut sakit -pula pusing akut di kedua kepala. Menghiraukan rasa sakit itu Jimin membalas dengan smirknya yang terukir kembali, "Tak kusangka kau bisa congkak juga."
Jujur, ada gemuruh asing di dada Yoongi kala embusan napas berbau mint itu menerpa separuh wajahnya. Menyelimutinya akan rasa kehangatan alami, menjunjungnya pada awang-awang kenyamanan, serta membawanya hangus bersama kenyataan benci yang menggebu di selubung hatinya.
Dan gemuruh samapun merutuki nasip Jimin, kala dengan tak kentara ia mengagumi wajah manis sosok di hadapannya. Keindahan samudra yang Jimin akui tak terelakkan adaannya, kulit sepucat susu yang halus Jimin rasa teksturnya dari tengkuk siswa itu yang sekarang dalam tautan lengan kanannya, sepasang obsidian tajam yang bagai mengoyak dalam otak serta seluruh indranya, kedua pipi nan halus yang bersemu padam menahan puncak amarah sesungguhnya, serta bibir merahnya yang memucat—bergetar akan kebencian murni. Semuanya—ugh sial, harus Jimin akui (meski telah mati-matian ditamfiknya) ada keberadaan seindah permata laut dalam diri rival yang paling memuakkan ini.
Yoongi mendengus singkat, "Berkatmu, Bajingan Park."
"Berkatku? Oh! Betapa tersanjungnya aku," ujaran itu tanpa niat, tanpa fokus berarti, pula tanpa artian sesungguhnya. Masih dengan senyum miring Jimin melanjutkan, "Bagaimana jika ke-egoan bangsat, Min Yoongi juga hilang berkatku?"
Yoongi tau—dirinya tau Jimin sedang mempermainkannya.
Dan jika Jimin senang bermain-main, Yoongi akan masuk kepermainannya. Membuktikan di antara mereka siapa yang pantas keluar menjadi pemenang. Dirinya, atau Park Jimin? Peduli setan akan jarak yang semakin dipangkas si Park, Yoongi berkata yakin, "Benarkah? Bisa kau lakukan itu?" jeda, suara tajamnya menghilang, kini intonasi ketua OSIS itu tak berbeda jauh dengan siswa di hadapan wajahnya. Sesaat setelah Jimin mangengguk kecil Yoongi mematri seringai di sudut bibirnya—berbahaya pun penuh arti, menghentak sekali kerah seragam siswa itu ia melanjuti, "Kalau begitu lakukan, kuingin tau caramu mendominasi ketua kesiswaan."
Jimin terkekeh kecil, mengembuskan tinggi rasa pongahnya pada sang ketua OSIS.
Masih pada posisi Yoongi menarik kerah seragam Jimin, dan Jimin menarik tengkuk Yoongi. Siswa Park itu membenturkan bibir mereka tanpa aba-aba berarti, menyesapnya kasar serta melumatnya ganas pada tekstur berbahaya.
Tak menghiraukan erangan Yoongi yang berjengit kaget, Jimin terus mengintenskan pangutan mereka, menarik tengkuk sang ketua OSIS begitu gemas, memperdalam lumatannya yang tak sedetikpun mendapat penolakan.
Seringai terpatri di bibir Jimin—tatapannya membuas, gigitan kencangya ia salurkan cepat membuat Yoongi lagi-lagi berjengit kaget. Lesakkan benda tak bertulang itu pun berperan andil dalam erangan Yoongi yang selanjutnya. Jimin kalap—bibirnya mengulum tanpa ampun bibir plum siswa Min itu, lidahnya di dalam sana menelusuri tiap jengkal goa hangat Yoongi, sensasi geli kembali Yoongi rasakan kala lidah Jimin mengusap atap mulutnya, pun mempertemukan antar lidah keduanya.
Tak ingin didominasi. Yoongi membalas—menghentak kembali kerah seragam Jimin, memajukan tubuh siswa itu hingga ciuman keduanya semakin dalam. Lalu dengan bengis Yoongi turut andil mentautkan satu sama lain lidah di dalam sana—tak ingin membiarkan Jimin yang terus menggodanya, Yoongi menekan lidah siswa itu hingga keduanya berganti wilayah perang di mulut si park.
Suhu panas ruang berperan besar bagi libido keduanya membuncah. Tak main-main, Jimin menekan kuat tengkuk Yoongi- pula si Min yang kini mencengkram kuat kerah kemeja YaGook Jimin. Mengulum satu sama lain dalam tempo cepat, memangut dengan lumatan gemas pada satu pemikiran yang sama; sekasar apapun yang mereka bisa—asal berpedoman pada didihan nafsu masing-masing yang bergejolak tak terelakkan.
Tidak, coret kata nafsu dan libido di narasi itu.
Karena pada dasarnya kedua siswa sinting ini berciuman tanpa tujuan berarti. Tak ada nafsu—pula perasaan. Mereka melakukannya hanya karena kehormatan, harga diri, perfeksi tinggi, pula ego masing-masing. Menyelamatkan kubu sendiri dengan menghancurkan kubu lainnya, merendahkan kubu itu hingga titik terendah, menginjaknya tanpa belas kasih, kemudian meninggalkannya pada jurang terdalam pelecehan harga diri. Membuangnya—membinasakannya dengan sadis dan tanpa ampun.
Hingga aliran saliva di kedua dagu mereka menyadarkan diri masing-masing akan butuhnya pasokan oksigen—tapi tidak, menjunjung tinggi ego dan harga diri, keduanya menghiraukan akan dua pasang paru-paru kering di dalam sana. Terus melumat satu sama lain hingga kekasaran tak terelakkan, mereka sadar—bibir keduanya lecet, perih namun menjadi sensasi tersendiri dibuatnya,
Yoongi mendengus, tak tahan akan paru-tarunya yang terus mengaung meminta pasokan penuh udara segar. Tapi ia tidak mau kalah—tidak, ego Min Yoongi bahkan lebih besar dari Jimin, jauh lebih besar. Dirinya tidak akan rela direndahkan, dipermalukan, pula diinjak begitu sarkas oleh siswa di hadapannya kini. Terlebih tidak pula pada kenyataan siswa itu adalah hobaenya.
Hingga sebagai pelampiasan sesak paru-parunya, dengan gemas pun penuh kebengisan Yoongi menjlat, mengigit, serta melumat kasar apapun yang terjamah di mulutnya, kepalanya sibuk mencari tempat ternyaman dari posisinya sekarang, menyerong kekanan pun kekiri membuat hidung mereka terus beradu silang. Netra Yoongi menajam, sesak di paru-parunya membuat dirinya gila, lepas kendali. Ingin rasanya ia menyudahi ciuman ini untuk sekilas mengambil napas, namun ego setinggi angkaranya tak memperbolehkan hal itu terjadi.
Sampai pada titik Park Jimin hampir kehilangan kewarasan pula—pintu gudang ini terbuka, menampakkan siluet seseorang di ambang pintu.
Menyadari hal itu keduanya mengalah, terhenti dari lumatan masing masing dan dengan reflek mendorang kencang pundak satu sama lain. Mereka menoleh serentak bersama pacu jantung serta tarikan napas berantakkan, dan betapa terkejutnya Jimin kala mendapati sosok Jung Hoseok tertegun di sana. Masih di ambang pintu, sosok itu menganga lebar, sepasang alis tebalnya hampir terpaut tak percaya, kaki-kakinya lemas; hendak tersungkur dramatis bagai sosok protagonis di sinetron hidayah -kalau saja ia tak sadar diri itu terlalu lebay.
Yoongi sendiri masih berusaha tenang, ia tak peduli pada sosok itu -pun pada mulut sosok itu yang ia tau pasti seberbahaya belati. Dirinya memilih bangkit, membenarkan posisi pakaian yang sempat naik serta menyibak bagian yang terlihat kusut. Ia menoleh sebentar pada Jimin, tatapan berbahaya kembali menyertai obsidian indahnya, "Kita belum selesai, Park," ujaran penuh cemooh serta nada menantang itu ia lontarkan sebelum sosoknya beranjak menjauh. Tak peduli pada Hoseok yang terus menatap tak percaya kepadanya, Yoongi melewati siswa itu tanpa melirik sedikitpun, namun saat hendak melewati pintu kecil gudang; sengaja ditubruknya ujung bahu siswa Jung itu dengan bahunya. Kemudian, sosok mungilnya hilang.
Menyisakan Hoseok yang kini setengah berlari ke arah Jimin.
"Wow, Bung! Apa barusan yang kalian lakukan? Pengelihatanku tidak salah 'kan? Astagaa ... !" ujarnya heboh setiba di hadapan Jimin.
Jimin diam, pandangannya menerawang pada jejak kepergian Yoongi.
"Jim, aku bicara padamu- Hey!" Hoseok kembali bersuara, sedikit kesal juga pada ekspresi kosong sang sahabat. Namun apalah daya? Ia terlalu sibuk pada gemuruh hatinya kini dari pada mempedulikan kenapa siswa itu terbengong.
Butuh beberapa detik hingga akhirnya Jimin mendongak menatap sahabatnya, "Berjanjilah, Jung. Jangan katakan ini pada siapapun, aku tidak mau diamuk Taehyung."
"Hey! Memang apa saja yang telah kalian lakukan lima jam kebelakang, eung?" Hoseok bertanya, suaranya penuh canda mutlak yang terbersit rasa penasaran -pula cemooh akan tindakan 'WOW' sahabat bantetnya.
Mendengar pertanyaan Hoseok, Jimin mendecih sarkas, ia tau apa yang ada di dalam pikiran siswa Jung ini, "Not any, ciuman itu kecelakaan—reflek, insiden yang terjadi kala kau berhadapan pada rival memuakkanmu yang menantang untuk didominasi."
Hoseok terkekeh ringkas, menatap penuh cela sang sahabat yang kini terlihat berantakan dengan kerah kemeja sekolahnya yang mengkerut lecak, "Heeey ... tidak ada seorang dominan yang sehancur dirimu sehabis bercinta- ups! Kalian bahkan hanya berciuman. Dan sadarlah, Jim, hanya dengan ciuman saja bibirmu turut lecet."
Jimin mendengus, reflek menjilat bibir bawahnya yang terasa kebas. "Dianya saja yang tidak konsisten. Ingin lihat caraku mendominasi, tapi tidak mau didominasi."
Seketika gelak Hoseok terdengar, heboh dan kencang, membuat Jimin mengkerut tak suka.
"Wow, beruntung sekali kau Park Jimin," masih dalam gelaknya Hoseok melanjuti, "Diminta mendominasi secara ekslusif oleh ketua kesiswaan —Bajingan sialan, Min Yoongi?" lalu kembali tergelak heboh hingga suaranya serak.
Jimin mendengus, "Berhenti tertawa, Sialan."
"Kenapa? Ini lucu. Terlebih untukmu yang selalu dicekal olehnya setiap konvoi HAM-C," jeda, "Ayolah ... seorang Min Yoongi ingin melihat caramu mendominasi? Ini hebat, Jim. Berita besar! Pasti akan jadi headline utama satu yayasan besok."
"Kubilang jangan ceritakan ini pada siapapun, Bangsat!"
"Aku tidak akan menceritakannya. Aku hanya akan mengetiknya, menyensor namamu menjadi Park Chimchim, kemudian- Bingo! Hancur sudah Min Yoongi beserta antek-antek OSISnya."
"Itu sama saja, Tolol. Kalau kau mau ketua kesiswaan beserta antek-antek OSISnya itu tamat, katakan saja pada Taehyung. Kuyakin sekarang emosinya masih sama seperti lima setengah jam lalu," Jimin menyahut sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
Hoseok mendecih sesaat, pandangannya menerawang, "Aku tidak yakin emosinya masih sama seperti lima setengah jam lalu."
Membuat kernyitan di kening Jimin terpatri, "Apa—kenapa?"
Entah di pengelihatan Jimin saja atau Hoseok tiba-tiba bertingkah aneh, terbukti sosoknya yang kini malah tertawa canggung kemudian membalas, "He, he ... tidak, bukan apa-apa."
"Kurasa idiot Tae menular padamu," Jimin mencibir.
"Ya, ya, ya ... terserah kau, setidaknya aku pintar bernegoisasi."
"Pantat."
Hoseok mendengus mendengar penuturan sang sahabat, "Pantat-pantat, mau kubuat pantatmu famous lagi seperti dua bulan lalu?"
Jimin mendelik, "Akan kujagal kepalamu jika itu terjadi lagi."
"Oh ... menyeramkan sekali si Bantet satu ini," agaknya Hoseok berlagak ketakutan dengan gaya absurdnya.
"Terserah kau. Jangan banyak bicara, aku sedang malas meladenimu. Aku ingatkan sekali lagi, kalau kau memang sahabatku, jangan berani-beraninya kau menceritakan insidenku tadi pada orang lain—Mingyu, Soonyoung, Seungkwan- siapa pun. Jangan. Pernah, terlebih Taehyung, apalagi menulisnya di artikel sekolah."
Dengan senyum penuh arti Hoseok mendengung sesaat sebelum mengangguk, "Tidak gratis, Park."
Seakan sudah tau kebiasaan sahabatnya, Jimin hanya memutar bola mata tak terpukau, "Nomor Irene noona—tingkat akhir, Daegu 29 Maret, asrama perempuan lantai tiga kamar 199, dijamin cantik, info selanjutnya akan kucari tau dulu."
Mendengar sederet penjelasan Jimin, Hoseok mengembangkan senyum lebar, "Deal, kutunggu info lanjutannya. Senang bernego denganmu, Tuan Park."
Jimin sendiri hanya memutar bola mata jengah mendengar penuturan sang sahabat. Malas, jujur saja.
Hingga ketika Hoseok memilih berjalan ke arah deretan foto yang tergantung di untaian tali rapia, "Harusnya kufoto tadi," (ujar Hoseok sembari memegang salah satu hasil jepretannya) dirinya memilih merebahkan tubuh pada sofa.
"Terserah kau-" perkataan Jimin terhenti kala ia rasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah tindihan kepalanya. Namun tak cukup untuk membuat Hoseok penasaran dan berjalan mendekatinya -siswa itu masih sibuk dengan hasil jepretan yang terjepit di tali.
Masih dalam posisi hampir berbaring menyamping, jimin menoleh pada arah ganjalan itu bersembunyi.
Ponsel?
Seketika siswa Park ini kembali mendudukkan diri. Menatap ponsel yang hampir masuk ke sela pegangan sofa beberapa saat sebelum memiliki inisiatif mengambilnya.
Dicobanya menyalakan ponsel itu, namun yang dimaksud tak kunjung menyala.
Setaunya ponselnya masih ada di saku celana, lalu ponsel siapa in-
.
"Y-ya!" "
.
"Aish ... kenapa harus sekarang?"
.
"Heh, kau punya charger?"
.
OH. MY. GOSH.
Detik di mana keterkejutan mengundang seringai nakal terpatri di sudut bibir Jimin, memandang ponsel itu dengan pandangan menerawang—pula penuh arti, "Ya, benar katamu; kita belum selesai ... Sunbae."
.
.
.
.
.
.
.
.
Indah. Ya, Jimin akui memang indah. Akan ia akui keberadaannya—kalau saja itu bukan dia. Bukan Min Yoongi—ketua OSIS sialan yang merenggut segenap kewarasannya.
.
.
.
.
.
.
YaGook High School.
.
Siapa yang tidak mengenal sekolah bersistem asrama nan elit itu? Sebuah sekolah dengan gedung megah beratitektur kelas tinggi dengan ukiran motif zaman romawi.
Agaknya gedung bersejarah, sekolah ini selalu melahirkan anak didik berkelas dari keluaraga terpandang. Tak ayal ada siswanya bernotabene tak kaya. Namun hal itu bukanlah penghalang bagi penghuni sekolah untuk saling mengejar prestasi.
.
.
Namun bukan seluruh penghuninya memiliki rata-rata otak cerdas juga. Tidak percaya?
Mari ikut aku untuk berkenalan dengan beberapanya dari ratusan di sini.
.
.
.
.
Park Jimin, 11-E; pencetus adanya HAM-C (Hak Asasi Manusia-Cebol) di sekolah.
Kim Mingyu, 10-D; idol sekolah yang isi otaknya hanya pikiran mesum.
Boo Seungkwan, 10-D; pembela kebenaran bagi para siswa tampan.
.
Dan ...
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
Jo Liyeol Curhat Timing!
Baaaa! :v #HappyWonwooDay #HappyWonuDay #HappyPacarnyaGyutemDay—eh?
Wkwkwk Harusnya Up tanggal 19 nanti. Tapi dipercepet sengaja buat ngeryain B'Day a'a Wonu, berhubung ane kaga punya projek Meanie buat ultahnya :v :v
Makin absurd kaga? Garing kaga? Oooh ... diriku ini kenapa semakin alay aja ya hari-harinya.
Itu lagi scene cipokan kenapa bisa nyelip di situ? =w= Kumalu pemirsaaah ...
Oh iya, maafkan saya (ini ga konsisten sebenernya mau manggil diri sendiri itu apa? -_-) untuk Colour Our School yang dihapus. Kenapa?
Karena diriku ini masih bingung itu ff mau dibawa kemana hubungan kitaaa/?-_- Ya pokonya gitu deh, ntar kalo udah dapet ide baru Liyeol re-post. Mungkin bakal sedikit ganti ide juga =w=
Jadi maafkan segede-gedenya ke-PHPan dirikuh ini pemirsaaah ... *bow bareng TaeSoon*
Dan Emak YM424. Ku tetap cinta kau emaaaak! Nikmati jaringan lemot di kampung~ :v
.
.
Special thanks for: Follows, Favorite, and Reviews in Chapter 4.
Review Juseyooo!
.
.
Kunjungi personal blog Liyeol juga yaa ... ketik aja; joliyeol27 (wp .com)
Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v
