Aku baru membaca ulang Twilight sagaku. Dan apakah kalian menyadari bahwa aku mengambil salah satu dialog Luna di chapter 5 dari sana, mungkin juga itu kata-kata umum, tapi aku mengambilnya dari New Moon.
This is the next chapter. I always hope you like it. Please review. Because it's like my fuel. Please. Please. Please.
Bad or good, let me know it.
Sorry for EYD and typos. R&R.
And...
Disclaimer : it's all belong to J.K Rowling (sad). I hope it's all belong to me.
Jadi, setelah penjelasan panjang lebar tentang apa yang telah ia lewatkan selama sembilan belas tahun. Ginny menghabiskan hampir sepanjang waktunya dirumah Hermione. Hermione, tentu saja, telah menendang si kembar dari perpustakaannya. Tapi, tetap memaksa mereka membaca buku tebal berdebu di depan perapian.
Sebenarnya, Ginny merasa kasihan dan ingin sekali menyelamatkan mereka. Dua anak lelaki manis yang tampangnya persis seperti Ron ketika kecil. Tapi, Luna langsung mencegahnya. Ginny belum cukup mengenal kedua setan kecil itu.
Sehari itu Ginny dan Luna hanya duduk di beranda. Menonton Sebastian, James, Lily, Ara dan Al bermain quidditch. Tampaknya, Harry telah memasang semacam mantra pelindung. Salju-salju menghilang dan lenyap diangkasa. Setiap kali salju tersebut menyentuh perisai tak kasat mata itu, muncul kilauan cahaya.
Ketiga anak yang lebih besar berkelompok sendiri, memperebutkan sebuah quaffle. Lily terus menerus mengeluh karena ia adalah seorang seeker bukan chaser. Tapi, kedua anak lelaki yang lain hanya tertawa. Sementara Ara dan Al hanya terbang membumbung tinggi diangkasa dengan dua sapu yang lebih kecil di sisi lain.
"Sebastian itu chaser yang hebat," komentar Luna sambil melihat Sebastian yang berputar-putar ditegak lurus terbang keudara diatasnya,"persis seperti kau. Tapi, kalau Ara kulihat dia bakal bisa mengalahkan Harry. anak itu benar-benar punya bakat alam," matanya kini menatap Ara yang tengah tertawa bersama Al.
Ginny memutuskan menerima ajakan Hermione untuk makan malam dirumahnya. Harry pulang tepat sebelum makan malam dimulai. Selama makan malam, semua orang seperti punya kelompok sendiri-sendiri. Hermione berbicara dengan Sebastian tentang Gerakan Pembebasan Elf terbaru di Semenanjung Balkan, dan topik itu benar-benar tidak menarik minat Ginny. James dan Lily tengah bertengkar tentang sesuatu yang menyangkut baju, Ginny benar-benar tak bisa mengikutinya. Harry dan Luna membicarakan tema yang akan digunakan Luna pada majalah The Quibbler minggu depan, berharap bisa menampilkan kehidupan seorang Auror, Ginny makin tidak tertarik. Ara dan Al tertawa tentang sesuatu, Ginny bahkan tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dan Nigel serta Noah berbisik-bisik, Ginny menduga itu untuk trik baru mereka. Ginny hanya bisa menghela nafas sambil terus makan makanannya tanpa berkata apapun.
Setelah makan malam selesai. Ginny langsung ber-floo ke Kediaman Malfoy dengan Winky yang sudah menunggu didepannya.
"Dad sudah pulang, Winky?" tanya Sebastian.
"Belum, Master Sebastian,"
Sebastian menatap adiknya,"Dad pasti besok pulang. Dia kan sudah janji. Kita akan berbelanja di London besok," ia menguap,"kurasa aku lelah. Aku akan langsung ke kamar. Selamat malam Mom, Ara, Winky," Sebastian tidak menatap Ginny lagi ketika ia melangkah menuju tangga. Suara langkah kakinya hilang setelah beberapa lama.
"Aku juga capek, Mommy. Aku mau tidur," ujar Ara.
"Kau mau Mommy tidur denganmu atau membacakanmu buku cerita?" tanya Ginny.
Ara menggeleng."Mommy kesini," ujarnya sambil memberi isyarat supaya Ginny menunduk dengan kedua tangannya. Ginny menaikkan alisnya, tapi ia tetap menurut.
"Ada apa, sayang?" Ginny membungkuk. Dan Ara mencium pipinya.
"Aku sayang Mommy. Selamat malam," Ara terlihat malu-malu ketika ia menghampiri Winky dan mencium pipi Winky,"Aku juga sayang padamu, Winky. Selamat Malam," ujar gadis kecil itu sebelum berlari ke arah tangga.
"Jangan lupa ganti pakaianmu sebelum tidur," seru Ginny sambil tersenyum lebar. Ia kemudian beralih ke arah Winky, senyum lebarnya masih terpasang diwajahnya,"Istirahatlah, Winky," ujar Ginny,"Kau terlihat lelah,"
"Baik, Mistress Ginny," ujar Winky,"Selamat malam, Mistress Ginny," dengan itu Winky berjalan melewati Ginny. Ginny berpikir sendiri dimana kamar Winky. Sepertinya Winky berjalan menuju dapur. Ginny tidak suka dengan bayangan mungkin saja Winky tidur didalam lemari.
Ginny berjalan mengikuti Winky. Dan melihat dari balik dinding dapur ketika sebuah pintu tak kasat mata tiba-tiba terlihat. Winky membuka pintu itu dan masuk kedalam. Sedetik kemudian pintu itu tak ada lagi. Ginny mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar yakin akan apa yang ia lihat. Ia benar-benar penasaran dengan kamar tersembunyi itu. tapi, ia takut bertanya pada Winky bisa membuatnya curiga. Ia harus menemui Luna atau Hermione jika ingin mengetahuinya.
Akhirnya Ginny berjalan ke lantai dua, menuju kamarnya. Ginny langsung masuk ke kamar mandi. Mengambil satu sesi mandi panjang yang menyenangkan. Ia baru saja akan membuka pintu kamar mandi ketika ia mendengar suara langkah kaki di luar. Apakah itu Sebastian atau Ara? Sepertinya bukan, ini adalah langkah kaki seorang lelaki, tapi jelas bukan langkah kaki Sebastian. Langkah kaki ini lebih dalam. Jangan-jangan ada perampok atau semacamnya. Tapi, ini kan rumah penyihir. Tidak mungkin ada perampok. Kecuali jika perampoknya juga penyihir. Bagaimana caranya perampok bisa masuk? Seingatnya Luna pernah bilang jika rumahnya dilindungi mantra pelindung.
Ginny langsung mengenyahkan pikiran itu dan memutuskan, setelah segala macam pengalamannya, bahwa rumah penyihir paling hebat pun bisa dibobol. Dia bersyukur sekali ketika teringat bahwa tongkatnya masih berada disaku belakang celana jeansnya. Dengan segera Ginny mengambilnya dan membuka pintu secara tiba-tiba. Tak perlu perlahan-lahan atau hati-hati. Satu jeblakan pintu keras untuk mengejutkan akan lebih baik.
"Suspendo Aeres," teriak Ginny. Dan perampok itu terangkat ke udara dengan satu kaki tergantung seperti ada yang memegangi. Rambut pirangnya jatuh ke bawah. Mata kelabunya menatap Ginny bingung plus kesal.
"Ginny, apa yang kau pikir kau lakukan?" teriak si perampok,"Turunkan aku sekarang juga,"
Sialan! Tentu saja, kenapa Ginny tidak memikirkannya? Tentu saja itu Malfoy.
Ginny menurunkan tongkatnya dan menghentikan sihirnya bekerja. Malfoy langsung jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk keras. Ginny menahan keinginan untuk tertawa. Setidaknya karena ia tidak boleh membiarkan Malfoy curiga dengan satu tindakan bodohnya lagi.
Ginny berlari ke arah Malfoy, memasang tampang cemas dan bersalah."Maaf, Mal-Draco. Kau tidak apa-apa kan?"
"Kau hampir membuat leherku patah, Gin" keluh Malfoy sambil mengelus-elus lehernya,"untungnya kepalaku tidak jatuh duluan,"
"Aku benar-benar minta maaf. Kukira kau perampok," Ginny membantu Malfoy berdiri dan menuntunnya ke ranjang. Dia benci sekali melakukan hal ini.
"Yang benar saja, Gin," ujar Malfoy,"Rumah ini dilindungi mantera perlindungan paling hebat, bukan maksudku menyombongkan, tapi kau tahu bahwa mantera perlindungan di rumah ini paling hebat didunia. Lebih hebat dari perlindungan dirumah Potter. Tak ada satu orang asing pun yang dapat masuk kemari tanpa izin kita,"
"Aku lupa, oke?" seru Ginny sambil bersedekap diatas dada, tanpa alasan yang jelas ia menjadi kesal,"Omong-omong, Ara kangen padamu,"
"Yah, aku sudah mencoba meluangkan waktuku sebanyak mungkin. Tapi, akhir-akhir ini permintaan kementrian jadi semakin tidak terkendali. Seharusnya aku membicarakan ini dengan Hermione, setidaknya ia bisa meminta para Petinggi Kementrian untuk mengurangi jumlah pesanan mereka ketika natal atau meminta Potter untuk meliburkan Departemennya sekalian," wajah Malfoy berubah sedih, ekspresi ini baru bagi Ginny dan ia merasa kekesalannya hilang digantikan dengan emosi lembut yang asing.
"Ara pasti mengerti. Mereka pasti mengerti," ujar Ginny, mencoba menghibur Malfoy.
Malfoy berdiri sambil meringis, ia mengetuk kepala Ginny,"Sesuatu harus diperbaiki didalam sana. Jadi, kau tidak lupa terus,"
Ginny membelalakkan matanya ketika Malfoy tertawa. Sekali saja si brengsek itu jadi manis, detik berikutnya ia sudah jadi 'si brengsek' lagi. Ginny masih membelalakkan matanya dan menatap tepat ke arah Malfoy seperti seorang pemburu menatap mangsanya. Malfoy mengambil setelan baju dari lemari, sepertinya dia akan mandi. Kemudian Ginny menatapnya membuka bajunya satu lapis demi satu lapis dengan senyuman menyeringai. Ginny harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah rahangnya jatuh terbuka ketika melihat apa yang ada didepannya. Tubuh sempurna itu. Tubuh Malfoy yang pucat seperti batu granit disinari cahaya lampu. Batu granit yang dipahat dengan sempurna.
Malfoy berjalan ke arah pintu kamar mandi dan berbalik masih dengan senyuman menyeringai diwajahnya."Kau mau ikut, sayang?" tanyanya sambil mengedipkan matanya.
"Yang benar saja," seru Ginny dengan nada jijik, langsung memalingkan dan mengubur wajahnya dibantal. Ginny bisa mendengar tawa Malfoy ketika ia menutup pintu kamar mandi. Kenapa juga ia harus terpana melihat tubuh Malfoy? Apa bagusnya, sih? Semua otot itu, perutnya yang six pack...
Uurgh! Rasanya Ginny ingin mengutuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba ia jadi memikirkan ajakan Malfoy tadi dan bertanya-tanya apa yang terjadi jika ia menerimanya, ia tahu itu cuma bercanda. Tapi tetap saja. Kesadaran lain menghantamnya, bukankah Malfoy akan tidur disini? Bagaimana ia bisa tahan?
Ginny berusaha untuk tidur. Tapi, otaknya tak mau beristirahat juga. Ia bisa mendengar pintu kamar mandi dibuka. Ia sudah siap dengan segala kemungkinannya. Tapi, langkah kaki Malfoy tidak menuju ke arahnya, ke arah ranjang. Melainkan ia melangkah menuju pintu. Ginny bisa mendengar suara pintu dibuka dan ditutup perlahan. Apa yang Malfoy lakukan diluar? Tentu saja bisa banyak hal. Ini rumahnya juga. Tapi, apa sebenarnya?
Beberapa menit kemudian pintu kembali dibuka dan ditutup. Langkah-langkah kaki sekarang menuju ke ranjang. Tempat tidur berderit pelan ketika mendapatkan beban tambahan. Jantung Ginny bergedup kencang. Udara hangat tiba-tiba menggelitik lehernya.
Ginny berbalik, seperti reflek, luar biasa cepat. Malfoy tampak tidak terkejut. Ia menutup matanya. Dan bibirnya merahnya yang kontras dengan kulit pucatnya mendekat ke arah Ginny. Sekali lagi, refleks mengambil alih.
PLAK
Sekali lagi, Malfoy mengelus pipinya yang sekarang hampir semerah bibirnya. Sekali lagi, pandangan bingung dan kesal terlintas di matanya yang kelabu. Sekali lagi, ia bertanya,"Untuk apa itu, Gin?"
"Tak ada," Ginny menggeleng-gelengkan kepala, diam-diam mengutuk dirinya sendiri karena telah melakukan satu hal bodoh lagi."Tidurlah. kau lelah. Aku juga lelah. Aku...mmm...sedang didatangi tamu bulananku, kau tahu?"
"Oh, jadi itu sebabnya kau bertingkah aneh?" ujar Malfoy, terdengar tidak percaya,"Lagipula, itu bukan berarti aku akan melakukan sesuatu padamu. Aku hanya ingin menciummu, ya tuhan!"
"Itu sudah bagian dari peraturannya,"
"Sejak kapan ada peraturan?" tanya Malfoy, menyipitkan matanya.
Tamat sudah, Malfoy curiga.
"Sejak sekarang. aku mau tidur," seru Ginny kemudian langsung berbalik memunggungi Malfoy. Ginny bisa mendengar Malfoy mendesah dan berbaring. Ginny berusaha untuk tidur. Tapi, tidak bisa juga. Pikirannya benar-benar terganggu dengan kenyataan bahwa Malfoy tidur disampingnya. Kenapa itu begitu menganggunya?
Akhirnya Ginny menyerah. Ia berbalik, mengubah posisinya sehingga ia bisa melihat Malfoy dengan jelas. Wajah Malfoy terlihat damai dalam tidurnya. Suara nafasnya yang teratur mengalun lembut. Tiba-tiba Ginny bisa melupakan segala kekesalannya, segala macam perbuatan Malfoy yang telah ia lakukan pada keluarga Ginny, segala penghinaan itu. Lenyap. Ginny bisa melihat kemiripan wajah Malfoy dengan wajah Sebastian sekarang. Garis-garis wajah tampan yang sama. Ginny merasa ia bisa melihat wajah itu selama berjam-jam. Ia merasa tenggelam didalamnya...
Apa?
Tidak! Tidak! Ini tidak boleh terjadi!
Ginny menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia pasti sudah gila atau semacamnya. Ginny berbalik lagi, kembali memunggungi Malfoy. Ia takut untuk berubah posisi. Ia takut ia akan berbalik lagi dan tidak tahan untuk menatap wajah itu. ginny berusaha sekuat tenaga untuk memejamkan matanya dan tidak membukanya kembali, setidaknya sampai besok pagi. Dan akhirnya ia berhasil. Tidur menjemputnya.
Ketika Ginny terbangun esok paginya. Ia menyadari Malfoy sudah tidak ada disampingnya, juga tidak ada di kamar mandi. Ginny memutuskan untuk segera mandi. Setelah mandi, ia turun kebawah.
Ditangga ia bisa mendengar suara-suara tawa. Malfoy pasti sudah bertemu Ara dan Sebastian. Benar saja dugaannya. Malfoy, Ara dan Sebastian sudah ada di meja makan. Malfoy menduduki meja yang biasanya digunakan Ginny dengan Ara dipangkuannya, menceritakan kegiatan di rumah Harry dan Hermione kemarin. Sementara Sebastian duduk disebelah kirinya, mendengarkan, sesekali menambahi atau hanya sekedar menggoda adiknya.
"Selamat pagi," sapa Ginny sambil duduk disebelah kanan Malfoy.
"Selamat pagi," sapa Malfoy, Ara dan Sebastian bersama-sama. Setelah Ginny datang, perhatian Sebastian teralih kepada Winky. Dan segera, seperti biasa, memaksa Winky saparan bersama mereka. Ara berlari ke samping Ginny dan duduk dikursi disebelahnya.
"Mommy, hari ini kita jadi kan?" tanya Ara penuh semangat.
Ginny mengerutkan keningnya,"Jadi apa, sayang?"
"Jangan bilang Mommy lupa," semangat Ara langsung lenyap,"kita kan mau belanja untuk natal hari ini,"
Oh, tentu saja.
"Mommy tidak lupa, kok. Mommy cuma bercanda," Ginny memaksakan sebuah tawa garing,"Tentu saja kita pergi,"
Ara langsung tersenyum mendengarnya. Sepanjang sarapan ia bercerita tentang apa saja yang akan ia beli untuk natal. Sebastian menimpali dengan komentar-komentar untuk menggoda adiknya. Setiap kali komentarnya berhasil ia tertawa. Ginny hanya bisa ikut tersenyum melihat ini.
Dua jam kemudian, mereka sudah berada di London. Ginny terkejut sekali ketika tahu mereka menuju salah satu Mall muggle di London, bukannya berbelanja di Diagon Alley, seperti yang biasa Ginny dan keluarganya lakukan sejak dulu. Dan parahnya, ia sama sekali belum pernah ke mall.
Mereka menggunakan jaringan floo ke Diagon Alley. Dan Malfoy memanggil sebuah taksi untuk mengantar mereka ke mall.
Mall itu berada ditengah kota, sebuah bangunan super besar yang penuh orang. Berbagai macam orang dan barang disana benar-benar memukau Ginny, memukau tapi disisi lain juga menakutkan. Karena Ginny sama sekali asing dengan ini.
Mereka memasuki konter-konter besar, membeli berbagai macam hadiah. Hampir semua barangnya dipilih oleh Sebastian dan Ara, terkadang Malfoy memberi komentar, sedang Ginny hanya bisa menatap mereka bertiga.
"Mommy, bisakah Mommy membayar ini dikasir?" tanya Ara, menunjukkan sebuah boneka pink besar ke arah Ginny,"Aku suka ini,"
Kasir?
"Ya, um...tentu saja, sayang," Ginny mengiyakan karena jika ia menolak kemungkinan besar Malfoy jadi semakin curiga. Ginny melihat perempuan berseragam yang melayani beberapa orang yang membawa belanjaan. Ginny segera antri.
Orang terakhir didepannya sudah pergi. Ginny melangkah maju dan menyerahkan boneka tersebut sementara matanya menatap kotak bercahaya didepan pelayan. Angka-angka didalamnya bertambah. Jadi itu yang disebut-sebut ayahnya dulu, kampater.
"Maaf, Nyonya, apa anda mendengar saya?" tanya petugas kasir.
Ginny mengedipkan matanya, masih belum sadar jika ia menatap benda kotak itu terlalu lama."Ada apa?"
"Harganya 20 pound, Nyonya,"
"20 apa?"
"20 pound, Nyonya," petugas kasir mengulangi.
Sialnya, tidak hanya Ginny tidak tahu berapa 20 pound itu tapi ia juga tidak mempunyai uang muggle sesen pun.
"Hei, Mom,"
Ginny bersyukur sekali ketika melihat Sebastian berjalan menuju dirinya. Sebastian memotong antrian. Beberapa orang terlihat kesal dan marah-marah. Tapi beberapa anak gadis yang mengantri malah menyingkir dengan senang hati yang memekik pelan. Dasar remaja.
"Mom, kau melupakan dompetmu,"
"Kau seorang malaikat, Sebastian," seru Ginny, berterima kasih.
"Aku harap juga begitu, Mom," Sebastian tersenyum dan menyerahkan dompetnya.
"Tidak! Tidak!," tiba-tiba Ginny berseru keras sekali, orang-orang menatapnya heran,"Mmm...maksudku akan lebih praktis jika kau yang membayarnya sekalian, Sebastian," Ginny menurunkan suaranya.
Sebastian menatap Ginny sesaat, cokelat bertemu coklat. Kemudian Sebastian menunduk dan membuka dompetnya,"Well, berapa, Nona?" tanyanya pada Petugas Kasir.
"20 pound," jawab Petugas Kasir,
Sebastian menyerahkan lembaran uang dan Petugas Kasir menerimanya, kemudian ia memberi Ginny bungkusan berisi boneka tersebut."Terima kasih," ujar petugas itu.
"Sama-sama," ujar Ginny sambil tersenyum kemudian keluar dari antrian. Ginny dan Sebastian berjalan, mencari Ara dan Malfoy. Ginny memperhatikan Sebastian yang berjalan dengan santai, memasukkan tangannya kesaku celana jeansnya sambil bersiul pelan. Tentunya ia sudah cukup besar untuk menyadari ada yang salah dengan ibunya."Kau tidak berpikir ada yang salah denganku, iya kan Sebastian?" tanya Ginny, hati-hati dan pelan-pelan.
"Kenapa aku harus berpikir begitu, Mom?" tanya Sebastian sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Well, aku tidak tahu. Tapi, kukira Mal-ayahmu pasti berpikiran seperti itu, kau tahu?"
"Aku tahu. Tapi, kukira kau memang sudah aneh sejak lahir, Mom. Aku sudah tanya Nenek Molly, lho"
Ginny membelalakkan matanya kearah Sebastian yang meringis lebar,"Kau memang benar-benar mirip dengan ayahmu, Sebastian,"
"Aku tahu. Aku memiliki wajah tampannya,"
"Tidak. Kau sama brengseknya seperti dia,"
"Mom," seru Sebastian, pura-pura terkejut dan sakit hati,"Aku masih dibawah umur, Mom. Lagipula, walaupun aku sama brengseknya dengan Dad setidaknya aku masih tampan,"
Ginny hanya bisa tertawa mendengar perkataan anak lelaki itu.
"Mommy!" Ara berseru. Ia berlari ke arah Ginny dengan dua bungkusan besar dikedua tangannya. Dibelakangnya Malfoy membawa setumpuk besar belanjaan. Ginny benar-benar ingin tertawa sekarang. Tak pernah dalam hidupnya, Ginny akan melihat Malfoy seperti ini. Berlari-lari dengan tangan penuh belanjaan. Dan dia memang benar-benar tertrawa.
"Jangan tertawa terus, Gin" ujar Malfoy kesal,"Bantu aku ini,"
"Tenang, Draco," Ginny seketika terkesiap dengan seberapa mudahnya ia menyebutkan nama Malfoy sekarang, Draco. Draco.
"Mom, kau baik-baik saja?" tanya Sebastian sambil mengambil beberapa belanjaan dari tangan Dra-Malfoy. Malfoy. Namanya Malfoy. Bukan Draco.
"Aku baik-baik saja," Ginny mengambil bagiannya, ketika tangannya menyentuh tangan Malfoy, ia merasakan bagian itu terasa lebih panas dari bagian yang lain. Dengan gerakan reflek Ginny langsung menarik tangannya. Berharap rasa panas itu tidak menyebar ke pipinya, itu pasti akan sangat terlihat. Kenapa ia merasakan hal seperti itu?
"Mommy, ayo kita makan siang," seru Ara.
"Ayo, sayang," jawab Ginny. Mereka makan di restoran cepat saji. Ginny tidak tahu kenapa Dra-Malfoy. Ia harus mengingat itu. Malfoy. Malfoy. Serta Ara dan Sebastian menyukai makanan seperti ini.
Ginny senang sekali ketika akhirnya mereka keluar dari Mall. Keluar dari peradaban asing itu. Malfoy, untung dia tidak salah lagi, memanggil taksi yang mengantar mereka ke Leaky Couldron.
Dan lebih senang lagi ketika ia sampai di Diagon Alley. Toko-toko dihiasi hiasan natal, bintang-bintang bersinar, santa klaus yang terbang dan pohon cemara tinggi.
"Ciara," ujar Malfoy sambil menjulurkan tangannya seakan meminta sesuatu.
Ara tersenyum dan memberi Malfoy sebuah tas kecil."Kumpulkan disini," Malfoy menunjuk area dibawahnya. Ara dan Sebastian menurut, menaruh belanjaan mereka disana. Ginny terpaksa menurut walaupun ia ragu-ragu. Semua barang belanjaan sudah dikumpulkan menjadi satu. Malfoy menarik tongkatnya dari balik jasnya dan mengarahkannya ke arah belanjaan itu.
"Reducio," ujarnya pelan. Dan barang belanjaan itu mengecil. Malfoy tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Kemudian mengarahkan tongkatnya ke arah tas kecilnya. Belanjaan yang sudah diperkecil itu mengikuti arah tongkat tersebut. Melayang di udara sebelum masuk ke tas.
"Ayo," ujar Malfoy. Mereka berjalan mengikuti Malfoy. Ginny benar-benar terkejut ketika mereka berjalan menyimpang dari arah ke perapian.
"Kita mau kemana?" tanya Ginny tanpa berpikir.
"Kita mau ke Sihir Sakti Weasley, tentu saja, Mommy" jawab Ara.
Sihir Sakti Weasley masih berdiri dengan kokoh ditengah-tengah Diagon Alley. Ginny menyadari tak banyak hal yang berubah. Masih persis seperti terakhir kali ia datang ke tempat itu. Ginny segera masuk kedalam, ia disambut dengan serombongan burung warna warni. Tempat itu tampak lebih besar dan lebih banyak orang yang datang. Benar-benar ramai. Kembang api menyala di langit-langit. Disana-sini terdengar suara ledakan kecil. Burung-burung yang Ginny tak tahu ada menari-nari di udara.
"Hello, siapa yang datang?" seru salah satu dari si kembar, memeluk Ara dan memutarnya diudara. Ara memekik senang. Ginny cukup mengenal kedua kakak laki-lakinya itu, sehingga ia dengan mudah bisa membedakannya. Ia tahu itu adalah George. Ketika George berputar, membawa Ara bersamanya, Ginny membekap mulutnya sendiri, mencoba menahan teriakan ngeri dari mulutnya. Disisi tubuh George, yang seharusnya ada telinga, yang ada hanya lubang hitam. Seperti telinganya dipotong dari tubuh George.
"Hei, Gin, kau tak pernah terbiasa dengan ini ya?" tanya George tertawa, sambil menunjukkan sebelah telinganya yang hilang. Ia menurunkan Ara pelan-pelan. Ginny melompat ke arah kakaknya. Memeluknya. Apa pun yang terjadi pada kakaknya, itu pasti berat baginya."Hei, Gin, ada apa ini?" tanya George terkejut.
Ginny menarik diri perlahan. George tertawa, tapi Ginny menyadari ada yang hilang dari kakaknya. Ginny tidak tahu apa. Tapi, ia tahu sesuatu telah hilang.
"Ginny, kau yakin yang didalam sana tidak apa-apa?" tanya George sambil mengetuk-ngetuk kepala Ginny.
"Hentikan, George," seru Ginny kesal sambil menjauhkan tangan kakaknya.
"Dengan senang hati, Adik Kecil," ujar George sambil meringis. Ia beralih ke arah Sebastian."Aku tahu kau ingin bertanya padaku tentang sesuatu, katakanlah," ujar George sambil menepuk-nepuk pundak Sebastian.
Sebastian langsung tersenyum,"Oh, banyak,"
"George," seru Draco,"Aku sudah bilang padamu,"
"Oh, sorry, Sebastian," ujar George,"Ayahmu mengancam akan membunuhku," tapi Ginny bisa melihat George mengedipkan matanya.
Ginny dan Ara berkeliling Sihir Sakti Weasley sementara George, Sebastian dan Malfoy berbicara tentang sesuatu. Sepertinya Malfoy tengah mengawasi George dan Sebastian, jika dilihat dari sorot matanya. Ginny senang-senang saja, ia menikmati setiap saat ketika Malfoy jauh darinya.
Mata Ginny berkeliling mencari-cari Fred, kedua kakaknya itu tak terpisahkan, tapi ia tidak melihat Fred dimana-mana."Dimana Fred?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Ara menatapnya bingung,"Mommy, apa yang kau cari?" tanya Ara.
"Aku tengah mencari Pamanmu, Fred,"
"Tapi, Paman Fred kan sudah meninggal,"
Ginny terkesiap. Fred meninggal. Ini tidak mungkin."Tidak, dia tidak mungkin meninggal," ujar Ginny, masih tidak percaya.
"Tapi, Mommy kau yang bilang sendiri. Paman Fred meninggal dalam perang,"
Ginny merasa matanya memanas. Dan bayangan kehilangan salah satu dari kakaknya benar-benar tak tertahankan. Dia harus memastikannya. Dia harus tahu faktanya."Sayang, kembalilah ke ayahmu, oke?"
"Mommy mau kemana?"
"Mommy, mau pergi sebentar. Bilang juga pada ayahmu kalau Mommy akan pulang nanti. Jangan cari Mommy,"
Ara mengangguk. Ginny langsung berlari keluar Sihir Sakti Weasley. Berlari melewati jalan-jalan Diagon Alley, menuju perapian.
"Kediaman Luna Weasley," seru Ginny diperapian, dan seperti biasa, api kehijauan melahapnya. Ginny bahkan tidak merasakan akibat dari transportasi itu. ia tidak merasakan pusing dan mual lagi. rasanya indra perasanya sudah mati rasa. Sementara hatinya takut jika yang dikatakan Ara benar adanya. Ginny belum pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintainya untuk selama-lamanya, tapi ia hampir bisa merasakannya sekarang. Dan rasanya benar-benar tak tertahankan.
"Bibi Ginny, aku tidak tahu kau akan datang?" seru seorang anak perempuan, Aurora, sambil melompat dari sofa. Ketika gadis itu melihat wajah Ginny, senyumnya menghilang,"Bibi kau tidak apa-apa?"
"Dimana ibumu?" tanya Ginny.
"Kurasa dia didapur,"
Dia tidak tahu dimana dapurnya."Aurora, bisakah kau memanggilkan ibumu," pinta Ginny.
"Baiklah," Aurora segera berjalan pergi. Ginny duduk disofa. Mengubur mukanya ditangannya.
"Ginny," seru Luna beberapa saat kemudian,"Astaga kau tak apa-apa?" tanya Luna khawatir. Ginny langsung memeluk Luna.
"Fred," bisik Ginny,"Fred meninggal,"
Tubuh Luna menjadi kaku dibawah tubuh Ginny. Kemudian Luna menghembuskan nafas panjang. Ginny menarik dirinya perlahan-lahan."Itu benar?" tanya Ginny ketakutan.
Mata biru Luna terlihat penuh kesedihan sebelum dia mengangguk,"Itu benar,"
"Ya, Tuhan," air mata Ginny tak terbendung lagi. Mengalir perlahan menuruni pipinya.
"Ayo, Ginny," ujar Luna lembut,"Kita bicarakan ini dikamarku," Luna menarik Ginny berdiri. Ginny mengikutinya menaiki tangga berputar menuju lantai atas. Luna menuntunnya kesebuah kamar tidur."Duduklah, Gin," ujar Luna sementara ia duduk diranjang. Ginny menurut dan duduk disebelahnya.
"Bagaimana dia meninggal?" tanya Ginny lemah.
"Fred meninggal sebagai seorang Pahlawan, Gin. Kita tak seharusnya bersedih atas kematiannya. Seharusnya kita bangga kepadanya. Fred meninggal dalam Perang Terakhir, Ginny," Luna berhenti sesaat, ia menunduk. Ginny tidak menyadari Luna menangis hingga ia mendengar isakan. Bukan isakannya. Tapi, Luna."Dia meninggal ketika melindungiku," ujar Luna, sementara ia berusaha menghentikan tangisannya sendiri,"terkadang aku masih merasa bersalah. Karena aku berpikir akulah yang telah membunuh Fred. Ron yang membuka mataku dan ia berkata bahwa kalaupun Fred tewas karena melindungiku. Fred tidak akan pernah menyesal karena menyelamatkanku. Aku kenal Fred sejak kami masih kecil. Kau tahu kita bertetangga jauh. Dia datang kerumahku ketika aku sembilan tahun, ibuku baru saja meninggal. Dan dia selalu datang, setiap hari selama musim panas sampai aku masuk Hogwarts. Fred adalah teman pertamaku. Dia sudah seperti kakak bagiku,"
"Oh, Luna," Ginny memeluk sahabatnya itu,"Aku benar-benar tidak tahu," dan dua sahabat itu menangis bersama-sama, berduka atas kematian Fred Weasley, sosok yang sudah menjadi kakak bagi mereka berdua. Setelah beberapa saat yang terasa berjam-jam, Ginny menarik dirinya."Luna?" tanya Ginny.
"Ya?"
"Aku ingin ke makam Fred,"
Luna tersenyum,"Aku tahu kau akan mengatakannya," ujar Luna sambil mengusap air matanya sendiri,"Ayo,"
To be continue...
