PERSONA: The Locked Soul
Cast : All member Super Junior and other group...
Rating : T
Genre : Fantasy, romance, supernatural, adventure, action
Warning : Genderswitch! Death Chara! Typo masih ada di mana-mana..
Disclaimer : Fanfiction ini milik saya yang terinspirasi game PS1 Persona, anime Fullmetal alchemist, dan Shakugan No Shana. Agak mirip sihh, karena aku emang suka menggabung sebuah cerita satu dengan cerita lain sesuai dengan versiku sendiri. Jadi aku hanya mabil bagian yang penting. Mian, kalau ceritanya agak aneh, aku masih baru di FFN ^_^
Don't Like, Don't Read! Don't Bash!
Happy Reading –
Leeteuk yang tadinya berkutat dengan peralatan dapur, segera menoleh ketika melihat Kyuhyun datang dan langsung merebahkan diri di atas sofa. Sepertinya namja itu sedang kesal, pikirnya. Sebenarnya ia ingin bertanya, tapi urusan memasak menjadi yang terpenting kali ini. Lebih baik tidak membuat teman-temannya kelaparan saat mereka terbangun nanti.
"Oh? Ini sudah hampir pukul enam. Bahkan mereka telah melewati tidur lebih dari empat jam."
Yeoja berdimple itu dengan cepat menyelesaikan kegiatannya – yang memang hanya tinggal sedikit – lalu bersiap untuk membangunkan anak-anak itu.
Leeteuk menarik napas – super – panjang, dalam hati ia mulai berhitung. 1… 2….. 3!
"BAAANGUUUUUNNNN!"
Suara yang melebihi tujuh oktaf bergema di setiap sudut rumah tersebut. Bahkan burung-burung yang tadinya damai bertengger di pepohonan, segera mengepakkan sayap mereka bersamaan dan pergi. Kerumunan serangga seperti kecoak, jangkrik, dan lainnya juga ikut beterbangan, mungkin mereka mengira ada gempa mendadak yang tidak bisa terdeteksi. Cicak yang selalu menempel di dinding malah terjatuh dengan tidak elitnya. Sungguh luar biasa teriakannya itu.
Empat orang lainnya masih tidak bisa berhenti untuk membuka mata lebar-lebar, disertai dengan napas yang menderu – layaknya orang yang habis bermimpi buruk-. Kira-kira seperti itulah, cara yang akan selalu digunakan Leeteuk untuk membangunkan mereka yang tidur bagaikan orang mati. Apalagi jika sudah berteriak tepat di sebelah telinganya, mungkin pihak rumah sakit yang akan membangunkannya. Okey, itu berlebihan.
"Akhhk! Oh, kepalaku… pusing sekali,.." keluh Sungmin dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Aigoo! Eonni itu benar-benar… gendang telingaku hampir berlubang." Begitu juga dengan Heechul yang mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya.
"Leeteuk noona…. Akhhh! Bahkan sewaktu di asrama dulu dia hanya berteriak jika kehilangan sesuatu. Kali ini, dia kehilangan apa lagi?" Hankyung mengucek kedua matanya dan duduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan nyawanya yang masih hilang sebagian.
"Bahkan aku beberapa menit tertidur…" Kyuhyun menghembuskan napas beratnya. Setidaknya kenapa Leeteuk noona tidak membiarkannya tidur sebentar? Aisshh! Mungkin ini karena ia yang masih berkeliaran di luar saat yang lain tidur, batinnya nelangsa.
Satu persatu mulai berdatangan dengan kedua mata yang masih terbuka sebagian. Leeteuk menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Ia melihat Kyuhyun yang bahkan masih menutup mata sepenuhnya. Ia tahu jika anak itu baru datang, mungkin sedikit mengerjainya tidak apa, kan?
"Mianhae, yedeura. Aku pasti sangat mengganggu tidur kalian. Tapi, ya sudahlah. Kalian mandilah terlebih dahulu. Setelah itu kita makan bersama."
Mereka hanya menjawab dengan deheman lalu pergi mandi seperti yang Leeteuk katakan. Kali ini yeoja itu menggunakan nada yang lebih lembut, sangat berbalik dari teriakan supernya tadi. Ia pun melanjutkan aktivitasnya mencuci peralatan dapur. Namun, ditengah kegiatannya itu, tanpa sengaja Leeteuk melihat siluet orang yang melintas di belakang rumahnya. Ia mematikan kran air dan segera menutup tirai jendela tanpa memikirkannya lebih lanjut.
**PERSONA**
Hoammmm….
Kyuhyun menguap sambil meregangkan otot-ototnya. Dengan kedua mata yang setengah terpejam ia menengok ke arah jam dinding. Pukul sembilan malam. Ia memperhatikan jendela yang berada di kamar yang sedang ia tempati bersama Hankyung ini. Entah kenapa ia menjadi sangat mengantuk. Biasanya ia kuat begadang hingga dini hari. Tapi kali ini, ia harus rela terjatuh di tempat tidur pukul setengah delapan malam, dan kesalnya ia terbangun karena ada tuntutan kandung kemihnya yang sudah penuh.
Bisa namja itu dengar Hankyung yang sedang bersenandung ria sambil memainkan ponsel di sampingnya. Entah apa yang tengah dilakukan namja itu, Kyuhyun mengedikkan bahu tak peduli. Dengan langkah gontai namja itu beranjak dari tempatnya.
"Kau mau kemana, Kyu?" tanya Hankyung tanpa mengalihkan pandangannya.
"Toilet," sahut Kyuhyun singkat.
Namun setelah sampai di depan pintu kamar mandi, namja itu agak mengernyit. Yang ia tahu pintu kamar mandi Leeteuk noona berwarna coklat tua, tapi kenapa sekarang berubah menjadi warna ungu terang? Sudahlah, mungkin karena dalam kondisi mengantuk ia jadi aga mengigau.
Cklek..
Dan tidak ia sangka jika itu memang bukan kamar mandi di rumah Leeteuk noona. Tapi sebuah ruangan yang pernah ia masuki dan keseluruhannya berwarna ungu, Violet Room. Bisa ia lihat seorang yeoja yang tengah duduk di belakang meja sambil memainkan beberapa kartu. Victoria – yeoja itu – menatapnya sambil tersenyum.
"Selamat datang di Violet Room. Kebetulan aku juga sudah menunggumu."
Kyuhyun yang masih mengumpulkan nyawanya hanya melongo menatap Victoria hingga membuat yeoja itu mendegus kesal. Dengan kasar ia menggebrak meja. Tentu saja Kyuhyun langsung tersadar dan membuka matanya selebar mungkin.
"Oh, kau… ada apa?"
"Ini tentang Windy, personamu yang baru."
**PERSONA**
Wuuusssshhhh~
Angin musim gugur dan cuaca nan dingin tak membuat yeoja imut itu berhenti melangkah keluar rumah. Ia merapatkan jaket pink tebalnya dan segera memasang sarung tangan yang juga berwarna pink. Yeoja – yang kita ketahui bernama Sungmin – itu meraih ponsel di saku jaketnya untuk sekedar melihat waktu.
"Kukira pukul sepuluh itu tidak terlalu malam," gumamnya asal. Ia sangat tahu jika Leeteuk sampai mengetahui jika ada yang keluar pada jam-jam seperti ini, tidak akan selamat dari ocehannya. "Kalau diam-diam, tidak akan ketahuan," lanjutnya sambil terkekeh kecil.
Sungmin kembali melangkah, entah kemana, ia hanya mengikuti kakinya. Lagipula ia belum mengenal daerah ini sama sekali.
"Eh?"
Sungmin menghentikan langkahnya ketika melihat cahaya merah vertikal, hingga menembus langit dari kejauhan. Sangat aneh.. apalagi ada petir yang menyambar di sekitarnya, meskipun hanya satu atau dua. Haruskah ia mendekati cahaya tersebut? Yeoja itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat. Pada dasarnya ia bukanlah yeoja yang penakut, lebih tepatnya ia adalah tipe yang ingin tahu banyak hal.
Dengan penuh keyakinan Sungmin menghampiri cahaya tersebut, tanpa menyadari ada sepasang kaki yang sejak tadi mengikutinya. Dengan tatapan waspada, yeoja itu terus melangkah. Setiap kali ada sesuatu yang sepertinya tengah melintas, Sungmin secara reflek bersembunyi di balik dinding sebuah rumah ataupun di belakang pohon besar. Sosok di belakang Sungmin juga masih setia dengan kegiatan menguntitnya itu.
Setelah berjalan sekitar lima menit, akhirnya ia tahu darimana asal cahaya merah itu. Sungmin mengintip dari balik pohon. Tampak dua orang aneh yang sepertinya dalang dari terbentuknya cahaya tersebut.
'Mereka siapa?' batin Sungmin bertanya.
"Greed, aku harus melanjutkan tugasku yang menyusahkan ini. Bukankah kau juga sudah menemukan mereka? Sana pergi!" usir orang satu yang lalu masuk ke dalam sebuah sumur.
Greed menghela napasnya. "Tanpa kau suruh pun, aku juga akan pergi."
"HEN-.."
Sungmin sontak menutup mulutnya rapat. Ia langsung menyembunyikan dirinya ketika Greed menyadari suaranya yang lumayan keras.
'Mulut bodoh! Kenapa kau harus berteriak?' rutuknya dalam hati sambil memukul pelan bibirnya beberapa kali.
"Hello… apa di balik pohon itu ada penguntit, huh?" Greed menyeringai. Ia melihat ujung sebuah sepatu kets di belakang sebuah pohon.
Sementara Sungmin memejamkan matanya. Tak dapat dipungkiri jika sebenarnya ia lumayan takut. Dirinya sama sekali belum ada persiapan, astaga! Makhluk itu semakin mendekat. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Persona-users? Ahh, kau ingin mengajakku bertarung malam-malam seperti ini?"
Tak ada sautan, tentu saja. Bahkan untuk bergerak saja Sungmin terlalu takut. Wajah Greed benar-benar menyeramkan dengan kedua mata yang berwarna merah menyala itu. Yeoja itu menyesali dirinya, bagaimana seseorang yang mempunyai kekuatan melebihi manusia biasa ini tak bisa melakukan apapun terhadap musuh? Sungguh tak pantas disebut penyelamat.
"Baiklah, jika kau memaksa." Greed memejamkan matanya. "Reigekon Active!" Kini kedua mata merah itu semakin menyala terang. Begitu juga dengan warna langit.
Sosok di belakang Sungmin telah keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan secara perlahan menghampiri Sungmin yang telah berkeringat dingin. Yeoja itu nampak memegang pedang esnya, mungkin sebentar lagi demon akan segera muncul.
"Wahh, kau masih belum keluar rupanya. Huufftt, haruskah aku memanggil yang berlevel extreme? Ah tidak, kau pastilah seorang pemula. Kalau begitu, level hard satu saja."
Puk!
Sungmin merasakan sebuah tepukan di bahunya. Sontak ia berbalik dan mengacungkan pedangnya tepat di leher orang tersebut.
"Oh? Kyuhyun-ah…" Sungmin sengaja menggunakan suara yang teramat pelan agar Greed tak bisa mendengarnya.
'Sedang apa kau di sini?' Kyuhyun berbicara namun tidak mengeluarkan suaranya, ia hanya menggerakkan bibirnya.
'Aku hanya ingin jalan-jalan.' Sungmin kini melakukan hal yang sama.
'Ya! Seharusnya kau tidak berjalan-jalan sendirian!'
'Maaf.' Yeoja itu menundukkan kepalanya menyesal.
'A-…'
Kyuhyun terbelalak. Ia sekilas melihat sebuah demon bertipe rock yang kini akan mengarahkan sebuah batu besar ke arah pohon yang menjadi tempat persembunyian mereka. Ia pun memejamkan kedua matanya.
"Persona!"
Sungmin terkejut melihat tindakan Kyuhyun yang tiba-tiba memanggil personanya. Ia pun mengalihkan pandangan ke tempat di mana Greed berada. Tanpa disangka makhluk itu juga tengah menatap dirinya sambil menyeringai, di sampingnya terdapat satu demon, namun sangat besar. Tubuhnya terbentuk dari bebatuan yang ditumpuk hingga membentuk tangan, kaki, kepala, dan anggota tubuh lain yang tentunya tidak sempurna.
Meskipun begitu, Sungmin tidak segera memanggil personanya. Ia lebih menyukai menggunakan pedang esnya.
Duarrr!
Batu besar itu berbenturan dengan bola api biru yang diciptakan Lector, persona miliknya, hingga menyebabkan sebuah ledakan yang lumayan besar. Namun penduduk sekitar tidak akan terganggu oleh hal tersebut.
Efek dari reigekon yang menjadi penyebabnya. Manusia yang masuk dalam jangkauan reigekon akan membatu, tak bergerak. Sedangkan manusia yang berada di luar itu tidak akan menyadari apapun yang terjadi. Mereka juga tidak mungkin mendekatinya karena reigekon mempunyai daya tolak yang tinggi terhadap manusia biasa, kecuali manusia biasa yang diberi perisai diri hingga bisa bertahan di dalam jangkauan reigekon.
"Kalian hanya bisa menggunakan demon-demon itu untuk melawan kami. Aku ingin tahu, mungkinkah kalian itu lemah?"
Greed mengepalkan tangannya kuat. Ia sungguh kesal dengan ucapan Kyuhyun. Namja itu tak tahu saja bagaimana kuatnya Seven Deadly Sins jika sudah memiliki niat melawan yang kuat tanpa demon.
"Kau hanya bocah kecil yang tidak tahu apa-apa. Lebih baik kau diam!"
"Memang, tapi aku cukup tahu jika tempat kalian sudah di tetapkan, di Neraka Lucifer!"
Greed tersenyum miring. "Sayangnya itu tak akan terjadi. Kami ini makhluk sempurna! Kesempurnaan abadi telah terikat dengan kami. Kau sendiri bahkan hanya mengandalkan persona bodoh itu untuk melawan."
Kyuhyun menghela napasnya, mencoba itu mengontrol emosi. "Change! Voodoo!"
Lector kembali masuk ke dalam tubuh Kyuhyun dan digantikan oleh persona lain yang memiliki rupa wanita tua dan memegang sebuah boneka voodoo.
Suara geraman demon di samping Greed terdengar begitu keras. Greed menggertakkan giginya kesal. Bisa dilihatnya jika persona itu menusukkan sebuah jarum pada salah satu bagian pada bonekanya. Greed menolehkan pandangannya di area dekat Kyuhyun. Ia menyeringai ketika mendapati sesosok yeoja yang tengah menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Yeoja itu.." gumamnya pelan.
Sementara Kyuhyun sibuk berurusan dengan demon, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan yeoja itu. Telapak tangannya pun telah dikelilingi oleh sengatan listrik berwarna merah menyala.
Sungmin menyadari hal itu. Ia menatap Greed dengan pandangan terkejutnya. Ia memundurkan langkahnya dan segera menjauh tanpa sepengetahuan Kyuhyun. Greed menyeringai. Ini akan akan sangat memudahkannya.
"Change! Starrion!"
Sama seperti Lector tadi, Voodoo kembali masuk dan digantikan oleh Starrion, persona yang mirip seperti manusia biasa namun seluruh tubuhnya berwarna biru.
"Tackle!"
Duakkk!
Demon itu terjungkal ke belakang setelah merasakan tendangan Starrion yang sangat kuat. Setelah itu lagi, dan lagi. Persona milik Kyuhyun menendang demon tersebut tanpa ampun. Tanpa perlu waktu yang lama, Kyuhyun bisa merasakan debu-debu halus yang terbang tertiup angin dan melewatinya. Debu yang menjadi tanda hancurnya makhluk batu itu.
"Sekarang sudah -…"
Napas Kyuhyun tercekat kala tak mendapati Greed dimanapun. Jika hanya Greed yang menghilang tidak akan menjadi masalah, tapi Sungmin… dia juga tidak ada! Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi suatu hal yang buruk terhadap yeoja itu.
"Noona! Sungmin noona!"
Kyuhyun terus berlari sambil menyerukan nama Sungmin. Ia yakin jika Sungmin dan Greed tidak akan keluar dari jangkauan reigekon.
"Sungmin noo-…"
Kyuhyun membulatkan kedua matanya ketika petir milik Greed menyerang Sungmin, namun yeoja itu berhasil menahannya dengan pedang. Ia menggeram kesal. Kenapa bisa ia lepas perhatian seperti ini.
"Change! Windy!"
Tampak makhluk berbentuk awan namun memiliki tangan dan kaki muncul menggantikan Starrion. Greed menyadari kedatangan Kyuhyun. Kedua mata namja itu berkilat kesal. Windy… Windy… Windy. Sial! Itu adalah persona yang kekuatannya paling ditakuti oleh ketujuh dosa mematikan, termasuk dirinya.
Greed menghembuskan napasnya kesal. "Reigekon Non-Active!" Setelah itu, ia segera pergi dari sana.
Selepas kepergian Greed, Kyuhyun kembali memasukkan personanya. Namun ia langsung terjatuh di tanah dengan napas terengah-engah dan pandangan yang buram. Sungmin yang melihatnya segera menghampiri Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah, gwaenchana?"
"Aku.. aku tidak tahu. Aku merasa… aku merasa begitu lemah."
Sungmin mengerutkan keningnya. Sejak tadi ia cukup dibuat penasaran dengan banyaknya persona milik Kyuhyun. Bahkan Fussion card yang mereka dapat waktu itu hanya cukup untuk mendapatkan satu persona. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut.
"Kita harus segera kembali, Kyu."
"Tidak. Ini mungkin hanya sementara, Noona. Bukankah kau ingin berjalan-jalan? Ayo aku temani." Kyuhyun teringat dengan penjelasan Victoria tadi. Beruntung ia nyasar di ruangan ungu itu. Setidaknya ia bisa mendapatkan sesuatu yang tidak membuatnya mengantuk lagi, kopi.
"Tapi, bagaimana jika ada makhluk itu atau yang lainnya muncul kembali?"
"Tidak akan. Kau percayalah padaku."
Kyuhyun meringis pelan ketika ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Masih sedikit sakit ditubuhnya yang ia rasakan. Mungkin jika berjalan-jalan sebentar dapat menghilangkan rasa sakitnya, menurutnya.
"Baiklah, jika itu maumu." Sungmin menghela napas beratnya.
**PERSONA**
Dengan langkah tergesa-gesa, Greed menuju Mr. Kim. Namun sepertinya ada yang aneh… gedung yang memang menjadi tempat Mr. Kim bersembunyi ini.. kosong?
"Greed? Sedang apa kau di sini?"
Greed menoleh dan mendapati Pride yang menatapnya aneh. "Dimana Mr. Kim?"
Pride memutar bola matanya malas. "Henry hampir menyelesaikan tugasnya. Jadi Mr. Kim pindah ke daerah inti. Kenapa? Kau terlihat panik." Pride mengangkat sebelas alisnya.
"Kau tahu persona yang memiliki nama Windy? Sesuai namanya, persona itu memiliki kekuatan angin."
"Semua juga sudah mengetahuinya, Bodoh! Lagipula anak itu tidak akan bisa mengendalikannya. Kekuatan dasarnya adalah petir, sama dengan kita, dan petir tidak akan bisa bertahan jika ada angin. Anak itu hanya akan bisa mengeluarkannya, tanpa bisa menggunakannya. Lalu, jika ia telah mengeluarkannya, tubuhnya akan melemah untuk beberapa saat."
Greed mengalihkan pandangannya ke samping. Bagaimana bisa ia dibodohi oleh bocah ingusan seperti anak itu? Tapi yang pasti ia telah mengetahui kelemahannya. Greed menyeringai.
**PERSONA**
Zap! Zrrtt!
"Arrggghhtt!"
Kangin segera berlari menuju Eunhyuk yang memekik kesakitan. Ia lalu memandang tajam makhluk yang tengah menyeringai di depannya namun tak bisa dipungkiri jika badannya saat ini juga sangat lemah. Sementara Donghae hanya terdiam di barisan paling belakang. Ia merutuki diri sendiri karena tak bisa melakukan apapun di saat seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi?
"Hahaha! Bagaimana? Serangan petirku lumayan kan? Kalian boleh saja menang melawan tiga demon level extreme, meskipun untuk itu menyebabkan kalian menjadi sangat lemah, tapi tidak akan ada yang mampu melawan petirku."
"Ck! Krystal, ani! Envy, jangan lupakan kekuatan udara milik Airie. Kau tahu kan jika udara yang bergerak disebut angin?" Yesung menatap Envy dengan wajah datarnya.
"Jangan membodohiku, Yesung-ssi. Persona yang bisa mengeluakan angin hanyalah Windy. Kalaupun kau bisa, pasti aka sangat lama."
"Jika aku mau, aku bisa membuatkan topan untukmu, Envy."
Envy mengeraskan rahangnya. Dengan kekuatan penuh ia mengarahkan serangan petirnya untuk yang kesekian kalinya, namun kali ini diarahkan pada Yesung. "Buat saja topanmu itu, Bodoh!"
Yesung membulatkan kedua matanya. Jujur saja namja itu sangat panik saat ini. Personanya memang mampu untuk membuat angin, tapi… tapi sayangnya kekuatan itu masih belum bangkit. Harus banyak berlatih agar bisa membangkitkannya.
"Wae? Kau tampak takut. Ahh, seharusnya aku tahu… jika Tuan Kim yang terhormat ini hanya menggertak saja. Menggertak seorang Envy? Haha! Dalam mimpimu saja!"
Ryeowook berjalan mendekati Yesung. "Oppa, ini tidak baik. Kangin oppa dan Eunhyuk eonni telah kehilangan banyak energi, sementara Donghae oppa tidak bisa melakukan apa-apa. Jika ia memaksa untuk melawan, maka nyawanya bisa melayang karena petir akan bertambah kuat jika ada air," bisiknya.
"Kau sembuhkan saja Kangin hyung dan Eunhyuk, Ryeowook-ah," sahut Yesung tak kalah pelan.
Ryeowook menganggukkan kepalanya. "CURE ALL!"
Kangin dan Eunhyuk berasa seperti seseorang yang kehabisan napas lalu diberi pasokan oksigen. Rasanya sangat menyegarkan. Energi baru telah berkumpul di dalam tubuh mereka. Dua orang itu pun berdiri dengan tegaknya.
"Ini sungguh membosankan. Reigekon Deactivated!"
Setelah mengatakan itu Envy dengan kecepatan penuh pergi dari tempat tersebut, atau lebih tepatnya atap dari gedung apartemen yang dihuni lima persona-users itu.
"Maafkan aku teman-teman. Satu-satunya yang bisa aku buat hanya Windy Power Slasher. Itupun bukan udara yang bergerak, melainkan kumpulan jarum transparan yang terbuat dari udara," ujar Yesung lirih.
Kangin menepuk pendak Yesung sambil menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa. Mulai besok kita akan berlatih bersama-sama untuk bisa membangkitkan kekuatan anginmu yang sebenarnya."
**PERSONA**
"Hufftt… Aku baru sadar jika ternyata rumah Leeteuk noona lumayan jauh dari jalan raya."
Kyuhyun memperhatikan jalan raya tersebut. Tak banyak kendaraan yang melintas. Hanya beberapa mobil dan truk yang memang selalu berkeliaran di jalan selama malam hari.
"Dan sekarang kita akan kemana? Aku baru pertama kali ini ke Pohang." Sungmin mendengus. Untung saja ada Kyuhyun yang mengikutinya. Eh? Tunggu dulu… benarkah namja itu memang mengikutinya?
"Kyuhyun-ah, tadi kau mengikutiku?" tanya Sungmin.
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. "Ahh itu… aku sebenarnya ingin ke toilet, kau tahulah di rumah Leeteuk noona toiletnya ada di luar. Tapi setelah itu aku melihatmu keluar, jadi aku ikuti saja. Sekarang aku baru sadar saat kau bertanya, Noona." Kyuhyun menatap Sungmin dalam.
Yeoja itu menelan salivanya ketika menyadari tatapan Kyuhyun padanya. "M-m-mwo?"
"Jika sebenarnya aku… aku… aku benar-benar… butuh ke toilet sekarang juga!" Kyuhyun memegangi area selangkangannya sambil meringis. "Argh! Aku sudah tidak tahan! Ini sudah di ujung, Noona!"
Sungmin jadi ikut kelabakan sendiri melihat Kyuhyun yang berusaha menahan sesuatu yang akan keluar dari 'junior'nya itu. Ia mengalihkan pandangan ke setiap sudut di jalan raya itu. Bagai mendapat seebuah hadiah, Sungmin tersenyum lega saat melihat sebuah restauran junk food di ujung jalan yang masih buka.
Tanpa membuang banyak waktu lagi Sungmin segera menarik lengan Kyuhyun ke seberang jalan agar namja tersebut cepat-cepat menuntaskan masalahnya dengan toilet. Para pegawai restauran menatap Kyuhyun aneh karena Kyuhyun terus memegangi 'itu'nya.
Agar tak terlalu dicurigai, Sungmin memesan burger dua porsi dan dua coklat panas. Sementara Kyuhyun meminta ijin untuk pergi ke toilet. Tak lama kemudian, namja itu akhirnya muncul dengan wajah segarnya. Ia mendesah lega.
"Ini pesanannya, Nona. Terima kasih dan silahkan datang kembali."
Sungmin mengambil satu burger dan coklat panasnya lalu memberikannya pada Kyuhyun. Namja itu mengernyit. Kebetulan juga dirinya merasa lapar setelah melawan demon tadi.
"Oh? Terima kasih."
Sungmin mengangguk. "Kita makan di sini dulu, ya."
Kyuhyun mengiyakan. Mereka berdua pun mengambil tempat yang berhadapan dengan jendela. Makan sambil menikmati jalan raya di malam hari, tidak terlalu buruk juga. Beberapa saat namja itu terdiam. Entah kenapa ia teringat dengan ucapan Victoria mengenai 'mate'. Kyuhyun melirik yeoja di sebelahnya yang sibuk menyantap makanannya.
"Noona.."
"Hmm?"
"Kau pernah jatuh cinta?"
"Uhuk… uhuk…"
Sungmin segera meraih coklat panasnya. Namun ia sadar jika itu panas. Aisshh! Kenapa namja ini tiba-tiba bertanya seperti itu? Sementara Kyuhyun segera beranjak dari duduknya dan membeli minuman dingin dari mesin minuman.
"Ini… minumlah, Noona."
Sungmin dengan cepat mengambilnya. Ia merasa segar ketika air dingin itu mengalir di kerongkongannya.
"Hahhh… kau kenapa bertanya seperti itu?"
"Hmm, aku hanya bertanya."
Sungmin mendengus. "Tentu saja pernah."
"Benarkah? Dari dulu hingga sekarang aku belum pernah merasakan apa yang disebut 'Cinta' itu, Noona." Kyuhyun menundukkan kepalanya.
Sungmin mengerutkan keningnya heran. "Aku jatuh cinta, dan sampai sekarang aku tidak bisa menghilangkan rasa cinta itu. Rasa cinta pada keluargaku, teman-temanku, Tuhanku, dan pada diriku sendiri. Kau bohong jika kau tidak pernah merasakan cinta, Kyu. Apakah kau mencintai keluargamu? Teman-temanmu? Tuhanmu? Bahkan dirimu sendiri?"
"Tentu saja aku mencintai mereka, tapi bukan cinta yang seperti itu yang aku maksud, Noona. Maksudku, apa kau pernah memiliki seorang kekasih?"
"Kekasih? Tidak. Aku jarang memiliki teman namja."
"Kekasih tidak harus teman, kan?"
"Iya, tapi kau butuh berteman dengan seseorang agar kau bisa mencintainya, entah itu mencintai sebagai seorang sahabat atau pasangan hidupmu. Kau tahu pasangan kekasih yang sebelumnya melakukan pendekatan? Tentu saja mereka berteman juga, kan?"
Kyuhyun terdiam. Ucapan Sungmin memang benar. "Tapi, bagaimana dengan jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Aku tidak percaya dengan hal yang seperti itu. Menurutku itu hanya rasa kagum, entah karena kebaikan hati, cantik atau tampan, pintar, dan sebagainya. Setelah itu mereka yang mengalaminya akan terus memikirkan seseorang yang dikira telah mencuri hati mereka pada pandangan pertama. Itulah sebabnya! Karena terlalu sering berkeliaran di dalam pikiran, akhirnya perasaan yang benar-benar disebut sebagai cinta itu muncul."
"Kau tahu banyak juga ya, Noona."
"Tidak juga. Itupun aku dapat dari menonton film dan drama."
Kyuhyun menghela napas beratnya. "Ya sudah. Ayo cepat kita kembali sebelum ada yang menyadari jika kita keluar rumah malam-malam seperti ini."
Sungmin mengangguk. Mereka berdua pun meninggalkan restauran itu. Saat akan menyebrangi jalan, Sungmin berjalan mendahului Kyuhyun. Namun ketika masih berada di tengah, tiba-tiba ada sebuah mobil melaju ke arah yeoja tersebut dengan kecepatan penuh. Kyuhyun membulatkan kedua matanya terkejut.
Srett..
Tanpa pikir panjang Kyuhyun segera berlari ke tengah jalan dan menarik lengan Sungmin.
"Hey! Apa kau ingin mati?"
Teriakan sang pengemudi tak mereka dengarkan. Dua insan itu sibuk saling menatap satu sama lain. Sungmin terdiam. Dua tangannya yang berada di dada Kyuhyun, perlahan ia arahkan pada kedua pundaknya. Sementara Kyuhyun sendiri tengah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sungmin.
Tanpa berkedip, seolah tak ingin melepaskan pandangan satu sama lain. Entah jantung siapa yang berdetak lebih kencang saat ini. Tidak ada yang berniat meninggalkan suasana ini. Mereka berdua tenggelam dalam perasaan masing-masing.
Mungkin karena telah terbawa oleh suasana, Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya. Dengan susah payah Sungmin mengontrol detak jantungnya ketika deru napas namja itu menerpa wajahnya. Seolah tersadar sesuatu, Sungmin tiba-tiba mendorong pundak Kyuhyun hingga namja itu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Oh! Maaf. Aku terlalu terbawa suasana." Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia jadi malu sendiri dengan tingkahnya tadi. Apa yang akan terjadi seandainya Sungmin tidak mendorongnya?
"Tidak apa-apa. Seharusnya aku berterima kasih padamu, Kyu. Kau sudah menyelamatkanku. Gomawo." Sungmin menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang sudah seperti tomat itu.
Kyuhyun tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. "Tadi itu bahaya sekali, Noona. Kau harus berhati-hati. Di jalan yang sepi ini banyak pengemudi tak bertanggungjawab yang mengendari kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata."
Jujur saja, namja berusaha untuk memalingkan wajahnya agar Sungmin tidak melihat wajah gugupnya itu. Dan bagian terpentingnya jantung keduanya masih belum normal. Berulang kali Kyuhyun membuang pikirannya yang tidak-tidak dengan kejadian tadi.
"Sebaiknya kita pulang, Kyu."
**PERSONA**
"Airie? Kalian bilang Airie? KENAPA AKU BARU MENGETAHUINYA SEKARANG?"
Seorang namja paruh baya – yang kita panggil Mr. Kim - melempar kursi kayu ke arah Envy. Makhluk itu dengan cepat menghindar. Ia tahu jika Mr. Kim bukan marah padanya.
"Tapi sepertinya butuh waktu lama agar manusia itu bisa membangkitkan elemen anginnya," ujar Pride. Memang yeija itu tidak ikut dalam pertarungan envy, atau lebih tepatnya dia hanya menyaksikan.
Mr. Kim menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Awasi dia terus. Jika ia telah mempelajari elemennya dengan sungguh dan mencapai batasnya, kita akan segera melakukan sesuatu padanya. Untuk sementara jangan muncul di hadapan mereka. Kalian hanya perlu mengirimkan demon saja."
Envy dan Pride mengangguk.
'Mungkin orang tua ini akan melakukannya lagi,' batin Pride seolah bisa menebak apa yang akan dilakukan Mr. Kim.
**PERSONA**
Pagi telah menyapa. Leeteuk meregangkan otot-ototnya yang pegal karena habis tidur semalam, sedikit salah posisi yang menyebabkannya. Ia melihat Hankyung yang duduk di depan rumah, namun tatapannya tertuju pada sesuatu. Ia tidak tahu apa yang tengah namja itu perhatikan. Seperti tak merasakan hal lain lagi.
"Hankyung?"
Sontak Hankyung menoleh. "Eh? Leeteuk noona…"
Leeteuk mengikuti arah pandang Hankyung. Yeoja berdimple itu tersenyum tipis ketika melihat heechul yang sedang berbincang-bincang dengan Sungmin di dekat pagar. Leeteuk tahu yang mana yang sedang namja Cina itu perhatikan.
"Aku lihat akhir-akhir ini kau jarang besama Heechul. Biasanya kalian lengket. Apakah ada masalah?"
"Ahh itu… tidak ada, Noona."
Leeteuk mendengus. Ia tahu jika namja itu berbohong. "Sejak dulu aku sering memperhatikan kalian. Jadi, kapan kau akan mengatakannya?"
"Tentang apa?"
"Tsk… kau menyukainya."
"A.."
"Jangan bohong! Jangan mengatakan jika kau hanya menganggapnya saudara!"
Hankyung menghela napasnya. "Heechul hanya menganggapku saudara. Ia tidak menyukaiku, Noona."
"Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu?"
"Karena ia menyukai orang lain."
Leeteuk mengernyitkan dahinya. Heechul… dia menyukai orang lain? Siapa? Setahunya Heechul jarang dekat dengan laki-laki lain, kecuali namja dalam grup mereka. Apakah itu artinya yang disukai Heechul masih orang terdekat?
"Siapa? Siapa yang disukai Heechul?"
"Dia…"
"Noona, apakah kita akan pindah lagi?"
Ucapan Hankyung terpotong ketika muncul seseorang yang mengenakan kaos biru polos dan celana pendek juga rambut yang basah. Di lehernya masih ada haneduk yang pastinya digunakan untuk mengeringkan rambut.
"Kyuhyun? Ahh, iya. Sekitar pukul…" Leeteuk memperhatikan jam tangannya, "dua siang nanti. Masih tersisa lima jam lagi. Kenapa? Kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"Sebenarnya ada satu tempat yang ingin aku datangi sebentar lagi."
"Kalau kau ingin jalan-jalan, pergi saja. Tapi hati-hati dan perhatikan keadaan sekelilingmu!"
Kyuhyun mengangguk lalu masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.
**PERSONA**
Kyuhyun memperhatika sumur di depannya dengan intens. Kemarin malam ia dikejutkan dengan cahaya merah yang berasal dari sumur yang beberapa waktu lalu ia jumpai ini. Tapi anehnya, bukankah sumur ini telah buntu? Lalu bagaimana Henry bisa masuk ke dalamnya.
"Apakah sumur ini menunjukkan sesuatu?"
Daripada memikirkannya, lebih baik ia segera membuka penutup sumur tersebut dan melihat apa yang ada di dalamnya. Kyuhyun tersentak ketika menyadari betapa dalamnya sumur itu. Lalu, apa yang dilakukan Henry di dalam sana? Tidak mungkin salah satu anggota SDS itu memiliki otak yang bodoh dengan menceburkan diri di dalam sumur yang entah bisa dipakai lagi atau tidak ini/
"Tidak ada ember ataupun tali. Sudah pasti tidak ada lagi yang memakainya. Lagipula tidak ada rumah di dalam jarak seratus meter dari sumur ini. Hanya ada pepohonan."
'Sepertinya anak ini menyadari sesuatu,' batin seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat Kyuhyun.
Sosok itu berjalan mendekat. Ia memegang pundak Kyuhyun lembut. Sontak namja tersebut tersentak dan segera berbalik. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang yeoja yang begit cantik dan… sangat sexy. Bayangkan saja ada yeoja yang memakai pakaian super mini hingga memperlihatkan belahan dadanya di pagi hari, lalu ia datang dan membelai lenganmu dengan tatapan penuh nafsu. Anehnya, Kyuhyun merasa pernah melihat yeoja ini sebelumnya, tapi dimana?
"Ahh, Tuan… tolong aku…"
Tiba-tiba yeoja itu memeluk Kyuhyun dengan erat dan sengaja meletakkan kepalanya di dada namja itu. Tak ada yang bisa dilakukan Kyuhyun selain mendelik selebar mungkin. Namja itu menelan salivanya dengan susah payah. Tidak bisa dipungkiri jika ia adalah namja normal yang masih memiliki nafsu. Apalagi lirihan yeoja ini yang terdengar seperti… desahan.
Kyuhyun menarik napas panjang lalu mengeluarkannya bersamaan dengan kedua tangannya yang mendorong pelan pundak yeoja itu.
"Nona, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku…"
'Astaga, kenapa dia sangat tampan,' batinnya.
Yeoja tersebut menggerakkan tangannya menyentuh pipi Kyuhyun dan membelainya pelan. Kyuhyun memejamkan matanya saat merasakan keringat dingin mulai mengalir. Tidak ingin membahayakan dirinya sendiri, Kyuhyun menjauhkan yeoja itu darinya. Tentunya dengan pelan, karena ia tidak suka menyakiti seorang yeoja.
"Ma-maaf, Nona. Sepertinya kau harus mencari bantuan orang lain. Aku… aku ada urusan dengan teman. Ya, begitulah. Bye.."
Yeoja itu menyeringai sambil memainkan rambutnya dengan memutar-mutarnya. Ia melihat kepergian namja itu dengan agak kecewa.
"Kau sangat tampan. Aku harus mendapatkanmu. Bodohnya aku karena tidak menyadarinya dari dulu."
**PERSONA**
"Hosh… hosh… hosh…"
Leeteuk mengangkat sebelah alisnya heran. Tadi Kyuhyun mengatakan jika dirinya ingin pergi ke suatu tempat, tapi sekarang namja itu kembali dengan napas terengah-engah. Ia tampak seperti seseorang yang tengah dikejar-kejar sesuatu yang mengerikan – bahkan lebih mengerikan dari demon sekalipun.
"Ada apa denganmu?"
Kyuhyun mendongak. Ia mendapati Leeteuk yang berdiri di depan pintu dan menatapnya aneh. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ahh… tadi ada orang aneh. Tapi itu tak usah dipikirkan."
Merasa ada yang aneh sebenarnya, tapi Leeteuk tidak terlalu mempedulikannya. Selama namja di depannya ini tampak baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Mungkin saja itu hanya orang gila atau apalah.
"Tinggal satu jam lagi. Semua telah menunggumu. Ayo segera berkemas, dan…" Leeteuk mendekatkan bibirnya ke telinga Kyuhyun, ".. lain kali jika ingin pergi malam-malam, bawalah tasmu, Bodoh!"
Kyuhyun hanya memasang wajah datar. Ia menatap yeoja yang berusia 27 tahun, lebih tua sebelas tahun darinya itu. "Kau tahu darimana, Noona?"
Leeteuk berdecak. "Jangan kira aku tidak tahu kalau kau dan Sungmin menghilang dari kamar kemarin malam. Tidak! Mungkin tengah malam. Dasar bocah!"
Namja itu mendengus. "Maaf, Noona. Kemarin kami hanya berjalan-jalan."
"Terserah. Cepatlah masuk dan segera bersiap," titah Leeteuk. Kyuhyun mengangguk dan langsung mengikuti ucapan pemimpinnya itu daripada harus diam dan mendengar ocehan panjangnya.
**PERSONA**
"KANGIN HYUNG!"
Yesung yang kebetulan berdiri di samping namja ikan itu segera melayangkan jitakan manisnya. Bahkan Kangin yang tengah duduk di depan tv sedikit terbentur tepi sofa yang terbuat dari kayu karena terkejut dengan teriakan Donghae.
"YA! Dasar bocah! Jangan mengikuti langkah Leeteuk yang suka berteriak-teriak di dalam rumah, Bodoh!"
Donghae tak terlalu memperhatikan omelan Kangin karena masih sibuk dengan kepalanya yang masih sakit akibat jitakan Yesung.
"Yesung oppa, sebenarnya ada apa?" tanya Ryeowook yang muncul dari balik pintu kamarnya. Tentu ia terkejut dengan keributan yang terjadi.
"Astaga, kalian berisik sekali!" Begitu juga dengan Eunhyuk yang baru saja menikmati tidur cantiknya, namun ia harus rela merasakan pening di kepalanya karena terbangun dengan cara ini.
Donghae mendengus. Padahal ia hanya ingin memberi kabar penting yang baru saja ia dapatkan bersama Yesung. "Hyung, Noona, kami berdua hanya ingin menyampaikan sesuatu yang kami temukan di taman kota tadi."
"Taman kota?"
.
.
.
"Jadi lambang ini yang kalian maksud?" tanya Kangin ketika mereka sampai di sebuah tempat di taman yang letaknya di wilayah yang jarang dikunjungi orang-orang.
Donghae dan Yesung mengangguk. Sebenarnya di gazebo yang mereka datangi memiliki hawa udara yang sangat sejuk, namun karena tempatnya yang sangat kotor dan sama sekali tak terawat, tanaman tidak disiram, rumput liar yang dibiarkan begitu saja, dan debu di dalam gazebo yang membuat orang tak berselara, bahkan untuk meliriknya.
"Ugh! Bagaimana ada tempat seperti di taman? Apakah petugas taman tidak mengurusnya?" Eunhyuk memasang wajah jijiknya.
"Bukankah ini reigekon?"
Sontak semua mengarahkan pandangan kepada Ryeowook. Lalu secara serentak mereka lalu memperhatikan keadaan sekitar.
"Kalian baru sadar? Itulah yang membuat lambang ini menjadi aneh. Bukankah reigekon hanya bisa dibuat oleh kelompok SDS? Lagipula, untuk apa mereka susah-susah membuat reigekon dengan jangkauan yang sangat dekat ini, jika lambang ini tidak terlalu penting untuk mereka?" Yesung menunjuk sebuah lambang berbentuk segi tujuh di bawah gazebo.
Donghae mengangguk. "Dari luar memang tidak terlihat ada yang aneh di tempat ini, tapi jika sudah memasukinya, semua akan terlihat jelas."
Kangin mengelus dagunya. "Jadi, apakah kita harus melaporkannya pada Leeteuk?"
"Tentu saja. Tapi mungkin lambang ini tidak hanya satu, dan bisa jadi Leeteuk noona dan yang lain telah melihat lambang yang serupa namun mereka tidak menyadarinya." Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkiraan Yesung.
Titt!
Kangin mengerutkan kening. Bisa ia lihat warna di layar sentuh jam tangannya yang berubah warna dari hitam menjadi merah. Tanpa pikir panjang, ia segera mengklik layar tersebut di sembarang bagian. Setelah itu muncul sebuah hologram di depannya. Tuan Lee. Itulah yang pertama kali ia lihat pada layar sentuh hologram tersebut.
"Ada apa hyung?" tanya Donghae sambil berjalan mendekat.
"Tuan Lee mengirimi kita pesan."
**PERSONA**
"Jadi, tujuan kita Seoul?" Heechul mengangkat sebelah alisnya. "Bagaimana jika Tuan Lee dan Shindong ahjussi tahu jika kita meninggalkan apartemen tanpa seijin mereka?"
"Aku sudah menghubungi mereka kemarin dan menjelaskan semuanya. Awalnya mereka marah, tapi mengingat ada yang harus disampaikan pada kita semua, jadi mereka menyuruh mereka untuk segera pergi ke Seoul dan segera menyelesaikan semuanya, sebelum gerhana matahari dimulai," jelas Leeteuk. Yeoja itu mempercepat langkahnya menuju halte bus terdekat, begitu juga dengan yang lain.
Kyuhyun mengerutkan keningnya. "Gerhana matahari? Bukankah itu dua minggu lagi? Lagipula, apa yang akan terjadi saat itu tiba?"
Leeteuk menghela napasnya. "Aku juga tidak mengerti."
"Kira-kira, apa yang akan disampaikan mereka pada kita ya?" Hankyung mengelus dagunya seolah sedang berpikir layaknya seorang detektif dan dijawab dengan gelengan kepala oleh yang lain.
Tak lama, terdengar pekikan Sungmin. "Hey, busnya sudah datang!"
.
.
.
Leeteuk mendengus, Heechul mengerucutkan bibirnya, Hankyung menghela napas ketika melihat ekspresi lucu Leeteuk dan Heechul, Kyuhyun mengedikkan bahunya tak peduli, dan Sungmin hanya terdiam sambil memuji indahnya bangunan di depan mereka ini dalam hati.
"Tuan Lee tidak adil! Dia dan Shindong ahjussi bisa menempati mansion semegah ini, sementara kita hanya diberikan apartemen biasa," keluh Heechul sedikit kesal.
"Untung saja kita bisa menikmati tinggal di sini untuk sementara." Sontak Heechul mengalihkan pandangannya pada Leeteuk. Ia menatap yeoja itu tak percaya.
"Jangan bilang kita akan pindah lagi, Eonni!"
Leeteuk mengedikkan bahunya. "Bukankah itu rencana kita untuk tidak berdiam di satu tempat yang sama selama jangka waktu yang panjang. Mengerti, Heechul-ssi?" Heechul hanya mendengus.
Beberapa detik setelahnya tampak pintu utama mansion yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Kelima orang itu memandang pintu, menanti siapa yang akan mereka lihat selanjutnya. Seseorang yang memakai kemeja putih dan celana kain hitam panjang disertai dengan jas putih, tengah tersenyum pada mereka.
"Masuklah. Sebentar lagi lima orang lainnya akan sampai."
**PERSONA**
Di sebuah tempat dengan cahaya yang amat minim, Mr. Kim memandang lima makhluk di depannya dengan tatapan serius. Pride, Envy, Lust, Gluttony, dan Greed.
"Dengar! Sampai puncak kekuatan itu tiba, jangan ada yang menampakkan diri pada persona-users itu, kecuali kalian yang ingin membunuh dua orang diantaranya seperti yang telah aku perintahkan. Selain itu, beritahu aku jika orang dengan persona bernama Airie itu telah mencapai kekuatan maksimalnya."
Lust tersenyum, namun tampak mengerikan. Ia berjalan satu langkah ke depan. Mr. Kim mengerutkan keningnya melihat hal tersebut. "Mr., bisakah aku mendekati Sang pemilik Takdir? Tenang saja, dia tak akan mengenaliku."
"Kau menyukainya, Lust?"
Gluttony yang berdiri di sampingnya mengerucutkan bibir sebal. "Kau pasti akan lebih dekat dengan orang itu daripada aku, Lust."
Lust tersenyum dan mengelus puncak kepala Gluttony. "Tenang saja, Glu. Nantinya kau juga akan dapat makanan," bisiknya.
"Biarkan saja Lust melakukan itu. Sementara aku, Greed, dan Pride yang akan mencabut nyawa dua orang di antara mereka." Envy menunjuk dirinya sendiri dan dua orang yang memang berdiri di sebelahnya.
Mr. Kim nampak berpikir, ia melirik ke arah Lust yang tengah menatapnya dengan senyuman yang meyakinkan. "Baiklah. Tapi jangan kecewakan aku!"
'Tsk… Memangnya apa yang akan dia lakukan? Kekuatan saja tidak punya. Aku akui, kau menang dalam hal usia, tapi tidak yang lainnya,' batin Pride.
-FLASHBACK—
Sesosok yeoja secara perlahan membuka matanya. Ia mengerjap sejenak untuk menyesuaikan diri dengan pemandangan yang ia lihat. Ditolehkannya kepala ke samping kiri dan kanan. Yeoja itu memejamkan matanya sebelum beranjak dari tempat tersebut. Tubuhnya yang masih terbalut sebuah kain merah yang hanya menutupi bagian dadanya hingga bagian tengah paha mencoba untuk menegakkan diri.
"Selamat datang, Lucifer!"
Yeoja yang baru saja berdiri itu sontak menggerakkan kepalanya mencari sumber suara yang baru saja memanggil namanya itu. Dapat ia lihat sesosok bayangan dalam kegelapan. "Siapa di sana?"
"Aku adalah seseorang yang telah membangkitkan jiwa Lucifer dalam tubuh ini."
Yeoja itu mengerutkan keningnya. Ia menyipitkan pandangan agar dapat melihat jelas sosok di hadapannya ini. Bisa ia dengar suara langkah kaki mulai mendekat. Setelah itu muncul seorang namja paruh baya dengan jas, kemeja, dan celana panjang putihnya. Ia menatap yeoja itu dengan senyuman selamat datang.
"Siapa kau?"
Tak segera menjawab, tapi ia malah memberikan kalimat lain yang lebih panjang. "Bertahun-tahun aku menantikan hari ini, hari di mana jiwa Lucifer bangkit dan berada di bawah pengaruhku. Jutaan makhluk di bawah sini.." namja itu menghentakkan kakinya sekali di lantai penuh debu itu. Yeoja itu mau tak mau ikut memandang ke bawah, "Produk gagal yang kuberi nama 'Demon'. Calon Pride yang gagal. Tapi kali ini, akhirnya aku berhasil!"
Sosok yang masih terbalut kain merah itu kian mengernyit bingung. Ia hanya ingat dengan penghinaan Tuhan yang diberikannya, setelah itu semuanya gelap dan tiba-tiba saja ia terbaring di tempat kotor nan gelap ini. Bau obat-obatan dan segala jenis bahan-bahan yang ia tak tahu namanya tercium hingga menyulitkannya bernapas.
"Hei, kau manusia! Berani sekali kau mengatakan jika aku, Sang Lucifer berada di bawah pengaruhmu!"
"Tuan Lucifer yang terhormat, jika jiwamu tidak berhasil aku bangkitkan, mungkin saat ini kau telah berada di tempat penuh api super panas melebihi matahari yang disebut Neraka."
Lucifer memandang sosok itu tajam. Ia sangat kesal, seolah dirinya adalah makhluk yang mudah dipermainkan. "Siapa sebenarnya dirimu?"
Namja paruh baya itu tersenyum misterius. "Namaku adalah Kim Young Min. Cukup panggil aku Mr. Kim." Setelahnya, ia berjalan mendekati Lucifer dan menarik lengan yeoja tersebut.
"Kau akan membawaku ke mana?" tanyanya kesal. Ia sungguh tidak terima dengan perlakuan manusia tak tahu diri ini terhadap malaikat sempurna sepertinya.
"Diam dan ikuti saja aku!"
Lucifer menggertakkan giginya. Ia menatap Mr. Kim dengan tatapan membunuh. Jika saja ia masih memiliki kekuatan seorang malaikat, maka ia tak perlu segan untuk menghancurkan tubuh di depannya ini hingga menjadi debu yang sangat halus.
"Bisa kau lihat sendiri, Lucifer. Di depanmu ini telah terbaring jutaan manusia yang diawetkan. Mereka dimasukkan ke dalam suatu cairan di dalam sebuah tabung. Hanya tinggal menunggu waktu hingga percobaan yang aku buat selesai."
Tidak dapat dipungkiri jika yeoja itu hanya bisa menganga melihat pemandangan mengerikan di depannya. Para manusia yang diawetkan, cairan merah yang berada di dalam sebuah tabung kecil seukuran jari kelingking, dan satu tabung besar yang dibiarkan kosong. Sebenarnya apa yang sedang orang tua ini rencanakan?
"Kenapa ada tabung yang kosong?"
"Kau tidak tahu? Itu adalah bekas tempatmu. Seluruh raga yang ada di tempat ini akan disuntikkan cairan merah yang ada di tabung kecil itu. Jika raga tersebut tidak kuat, maka akan terbentuk jiwa yang gagal dan buruk rupa pula. Nah, jiwa yang gagal itu akan bertahan sebagai monster yang nantinya akan sangat membantu."
"Dan jika berhasil?"
"Ya, kau inilah yang berhasil. Nanti aku akan membuang semua cairan merah tersebut dan menggantinya dengan sampel darahmu, dengan tujuan mereka yang berhasil akan memiliki sifat yang berasal dari dirimu."
Lucifer menghela napas. "Sebenarnya apa tujuanmu Pak Tua?"
Mr. Kim tersenyum misterius. "Menciptakan kebenaran dan mendapatkan kekuatan Tuhan."
-FLASHBACK END—
.
.
.
To Be Continue
Chapter 7 Updateeeeeeeeeeeeee! ^^
Sebenernya aku punya niat buat ngerubah rate dari T ke M. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi kayaknya itu bakalan nggak cocok buat chapter awal-awal ini. Dan sepertinya harus menunggu hingga waktu yang tepat.
SPECIAL THANKS buat yang udah review yahh ^^ abilhikmah, ELFRyeonggyu, dewi. , ratu kyuhae, PumpkinEvil13, Guest, lydiasimatupang2301, gyu1315, PaboGirl, leleekyumin Jangan bosen-bosen buat review jika ada kekurangan atau apa aja, saran juga boleh ^^
Kamsahamnida ^^
