Chalice : Huahahaha! Setelah sekian lama kaga update akhirnya baaack! Entah kenapa mood mengetikku sedang tidak ada cuman mood menjadi Reader sedang ada *lempar bunga tujuh rupa* #digampar reader. HUAAA! Jangan bunuh saya! Chalice minta maaf karena kaga update-update kan Fic-ficku! Apa boleh buat lagi kaga mood jadi gomenansai (_ _)

Disclaimer : Vocaloid bukan milik Chalice, yang punya hanya Yamaha dan CFM , Chalice hanya yang punya alur gaje cerita ini :D

Warning : Gaje, Aneh, Abal, TYPO, Miss Typo jika ada, Semakin susah di mengerti, Lebay, EYD salah mengeja, dan lain-lain terdapat di dalam fic ini.

~Happy Reading~


Buku itu menjadi seorang gadis berambut blonde, diikat kuda, memakai baju warna putih berjubah, mata azure mirip Len dan Rin, Roknya sejenis rok sailor cuman bedanya berwarna putih dan terdapat garis-garis berwarna hitam di bagian tepi bawah roknya , gadis itu memegang staff besar yang diatasnya terdapat Kristal berwarna biru terang.

"Boku wa Lenka!" ucap gadis itu dengan wajah senang.

Rin dan Len hanya bisa bengong melihat gadis di depannya.

"Umm… Kau…" ucap Rin.

"Lenka! Penyihir yang sama kuatnya dengan Bunny-chan~ Cuman sayangnya karena dulu saya sangat suka dengan buku sihir dan mencari buku sihir kuno untuk memperluas ilmu pengetahuanku, dan tanpa sengaja menemukan buku sihir kuno , saat hendak memegang buku itu secara tiba-tiba jiwaku tersedot kedalam buku itu…. Walau nambah satu sihir yang di nomor 445 yang berguna untuk mengembalikanku walau sementara tapi ini sangat menyedihkan…" Curhat Lenka dengan wajah sedih.

Rin merasa iba mendengarnya, sedangkan Len…

"Terus kenapa? Kenapa kau curhat, Buku jejadian? Memangnya ada yang mau mendengar curhatanmu?" Tanya Len dengan nada ketus.

"FUWEEEH! Aku sudah selama 2,5 abad terkurung di dalam altar masa kaga boleh curhat?! Dasar Kucing jejadian!" protes Lenka,

"A, APA?!AKU BUKAN KUCING JEJADIAN, DASAR BUKU JEJADIAN!"

"A, APA?! AKU BUKAN BUKU JEJADIAN, AKU THE GREAT MAGICIAN! LENKA KAGARINE! DASAR KUCING JEJADIAN!"

"HEI! SUDAH KUKATAKAN AKU BUKAN KUCING JEJADIAN! AKU THE GREAT PRINCE, DASAR BUKU JEJADIAN!"

"SUDAH KUKATAKAN AKU THE GREAT MAGICIAN! DASAR NEKO!"

Dan terjadilah adu mulut antar Lenka dan Len yang sama-sama memanggil diri mereka 'the great'

'Nambah satu deh…' batin Rin sambil sweatdropped dan menghela nafas pasrah.

"Baiklah, sebagai tanda terimakasih, aku akan membuatkan kalian sarapan! Dan mulai saat ini aku akan membantu bersih-bersihkan rumah~" ucap Lenka dengan wajah sumringah "Kalian mau makan apa?" Tanya Lenka.

"Aku, Pancake dengan sirup Jeruk" ucap Rin dengan senang.

"Pancake jeruk? Memang ada? Oh well, nanti saya cari di resep makanan" ucap Lenka sambil nulis di sebuah kertas dan pakaiannya adalah pakaian maid.

'Memangnya ini di café ya? Pakai baju maid dan nulis segala…' batin Rin dan Len bersamaan.

"Nah, Kalau Len-kun?" Tanya Lenka.

"Hmm… aku mau Ba-"

"Ah, Baiklah, makanan kucing ya? Oke, saya akan membawakannya segera" ucap Lenka memotong perkataan Len dan langsung melesat pergi ke dapur.

"HEI!AKU BELUM NGOMONG APA-APA! DAN SEENAKNYA KAU MEMILIH MAKANANKU MENJADI MAKANAN KUCING!" Pekik Len kesal.

Rin hanya bisa sweatdropped.


-Paginya-

"Muuuh! Rinny, aku mau juga ikut kesekolah! Aku mau melihat sekolah manusia seperti apa!" pekik Lenka saat melihat Rin dan Len memakai seragam sekolah, pakaian Lenka sekarang berbaju maid dan dia sedang menyapu.

"Gomene, Lenka-chan, cuman kau kaga bisa ke sekolah" ucap Rin minta maaf.

"Kenapa?!" Protes Lenka.

"karena kau buku jejadian, ntar tiba-tiba jadi buku gimana?" Tanya Len dengan ketus.

"Wha—heh, tenang saja, batas waktuku menjadi buku sesuai keinginanku atau 3 hari kalau kekuatan magic Rin masih rendah, dan butuh sehari penuh untuk memakai mantranya lagi, bukannya Neko juga sama? Bagaimana kalau kau jadi kucing jejadian tiba-tiba?" ucap Lenka dengan sombongnya.

"Asal aku tahu saja, the great prince ini bisa menggunakan kekuatan magicnya untuk menyembunyikan telinga dan ekor ini, lihat ini" ucap Len dan ekor dan telinganya menghilang.

"Oh ya?" Tanya Lenka dengan nada menantang, Lenka berjalan ke arah Len

"Ma, mau apa kau?'' Tanya Len punya firasat buruk.

"Mengetes ketahanan, magicmuuu!" ucap Lenka dan langsung mengklitikin pinggang Len.

"FUWAAH!" pekik Len dan spontan telinga dan ekornya keluar.

"Lihat~ Magic ini akan lepas kalau kau kaget, sesuai keinginanmu, dan tenagamu habis" ucap Lenka dengan wajah senang "Makanya jangan remehkan penyihir yang jenius ini~" lanjutnya.

Len menatap Lenka dengan aura pembunuh cuman sayang tidak di tanggap Lenka.

"Rinny~ Bolehkan saya ikut ke sekolah? Bolehkan? Bolehkan?" Tanya Lenka dengan penuh harap.

"Maaf, Lenka-chan, tetapi aku takut kau menjadi buku di sekolah tiba-tiba" ucap Rin minta maaf.

"Baiklah…aku mengerti…" ucap Lenka sambil menghela nafas.

"Maaf ya, Lenka, tapi kau bisa jaga rumah kan?' Tanya Rin kepada Lenka sambil menaruh dua tangannya seperti memohon maaf.

Lenka mengangguk, Rin dan Len pada akhirnya pergi ke sekolah meninggalkan Lenka di rumah sendirian.

"Hehehehe…" Lenka tersenyum dan terlihat terdapat sinar di samping kanan mata kanannya.


"Ohayou, Rin, Len-sama~" ucap Gumi memberi salam kepada Rin dan Len yang baru masuk ke kelas.

"Ohayou" ucap Luka dan Mayu bersamaan dengan wajah tersenyum.

"Ohayou, Gumi~ Mayu~ Luka~" sapa Rin dengan senang.

"Ohayou" sapa Len dengan datarnya.

"Oh ya, Lenka tidak bersama kalian pergi ke sekolah?" Tanya Gumi membuat Len dan Rin bingung.

'Lenka? Kenapa mereka tahu Lenka?' batin Rin bingung.

GREEEK!

"O-H-A-Y-O-U~~~" sapa Lenka saat memasukin ruang kelas.

"Ohayou, Lenka-chan~" sapa semuanya dengan senang.

Rin hanya bisa mengangakan mulut, sedangkan Len hanya menampilkan wajah blank.

"Lenka, sini kau" ucap Rin dan menarik Lenka.

'Lenka! Apa yang kau lakukan pada mereka? Kenapa mereka langsung mengenalimu?!' bisik Rin ke Lenka.

"Hihihi…." Lenka mengeluarkan seringai yang membuat Rin punya firasat buruk.

"Aku memanipulasi ingatan mereka dan membuat ingatan mereka ku tambah sedikit dan menjadikanku sebagai teman, para guru juga saya manipulasi dan menganggap saya sebagai murid~ satu sekolah ini juga, menganggap saya satu dari sekolah ini~ bagaimana? Hebatkan?" Tanya Lenka sambil mengedipkan matanya.

Rin hanya bisa menggelengkan kepala 'Kenapa aku punya dua mahluk yang seperti ini sih?' batinnya sambil menghela nafas.

Sedangkan Len hanya berpikir 'Mustinya aku pakai sihir itu ya lebih simple dan tidak kelihatan ribet, kaga musti ribet mengisi registrasi,' batin Len setuju dengan cara 'Licik' Lenka.


TENG! TONG! TENG!

"Akhirnya waktunya pulang," ucap Rin menghela nafas lega, Dia khawatir kalau nanti 2 mahluk jejadian itu kembali ke wujud aslinya dan membuatnya repot.

"Hei, Hei, Rinny~ Kau mau main kerumah Luka tidak? Kemarin aku melihat ada lelaki berambut ungu yang supeeeeer tampan sekaliii~~! Kau mau lihat tidak?" Tanya Gumi ke Rin.

"Lelaki tampan?" Tanya Rin.

"Lelaki tampan? Kenapa kau memanggilnya lelaki tampan?! Dia itu mahluk aneh yang jatuh dari langit dan membuat atap rumahku rusak gara-garanya!" omel Luka penuh kekesalan.

"Iya~ oh rambutnya yang unguuu~ wangi bunga lavender~," gumam Gumi sambil menghayal entah kemana hayalannya.

Rin hanya menampilkan wajah bingung, begitu juga Lenka,

"Anoo… Luka-chan, Ada apa? Kok Gumi seperti itu?" Tanya Rin kepada Luka.

"*sigh* Aku punya 'Butler' baru berambut ungu, Gumi waktu itu ke rumahku dan melihat butler itu, sejak saat itu dia menghayal tentang Butler ku itu…" ucap Luka sambil menghela nafas pasrah.

TWICH!

Telinga kucing Len keluar dan beruntungnya Luka, dan Gumi kaga melihatnya, murid-murid lainnya sudah pada pulang, jadi hanya tertinggal mereka saja, Len sudah berada di luar kelas karena hendak pulang, dan percakapan soal 'lelaki ungu' membuatnya berhenti bergerak.

'Lelaki berambut ungu? Jangan-jangan…' batin Len lalu dia segera masuk ke ruangan untuk bisa mendengar lebih jelas.

Luka dan Gumi masih berbicara sedangkan Rin yang melihat Len dalam mode Neko hanya terkejut

'Ba, Baka Len! Dia dalam keadaan Neko lagi disaat Luka dan Gumi masih ada disini!' batin Rin panik.

Len terus berjalan mendekat sedangkan Luka dan Gumi pada untungnya sedang sibuk sendiri jadi tidak merasakan Rin yang sedang panic dan Len yang berjalan ke arah mereka.

''O, Oh ya! Aku minta maaf, aku kelihatannya kaga bisa ke rumah Luka-chan deh, aku ada urusan, permisi!" ucap Rin dan langsung pergi sambil menarik Len.

Luka dan Gumi hanya bengong melihat Rin sambil menarik Len yang dalam keadaan Neko.

"Tadi Len…" ucap Gumi dengan suara parau melihat Len.

"Mempunyai telinga kucing dan ekor kucing?" Tanya Luka dengan wajah bengong.

"Ah! Bag, Bagaimana kalau aku menggantikan Rin-chan? Aku mau lihat pemuda yang ka, kau kasih tahu itu, Gumi-chan!" ucap Lenka dengan panik

"Oh, baiklah, ayo kita kesana!" pekik Gumi.

Luka hanya menghela nafas pasrah dan mereka segera keluar kelas dan berjalan menuju rumah Luka.


Terlihat Rin menyeret Len ke belakang sekolah.

"Hei! Manusia rendah! Kau mau apa menarikku ke sini?!" bentak Len.

Rin segera melepaskan pegangan Len.

"Hei! Manusia rendah! Aku ingin bertanya, kenapa kau membawaku kesini?!" bentak Len.

Rin segera membalikkan badannya dan menatap Len.

TAK!

Kepala Len di jitak Rin

"AUCH! HEI!MANUSIA RENDAH, KENAPA KAU MENJITAK KEPALAKU! THE GREAT PRINCE INI!" bentak Len dengan kekesalan.

"APAKAH KAU TIDAK TAKUT KETAHUAN KALAU KAU ITU KUCING JEJADIAN, BAKA NEKO!"

"HEI! AKU BUKAN KUCING JEJADIAN! AKU INI PANGERAN YANG DI KUTUK PENYIHIR MANIAK KUCING ITU! DAN AKU BIASA-BIASA AJA KALAU KETAHUAN JUGA!"

"KAU SIH BIASA-BIASA SAJA! TAPI AKU BISA REPOT, BAKA NEKO!"

"AKU TIDAK PEDULI KAU MAU REPOT KEK ATAU APA, ASAL KAU TAHU SAJA! AKU HAMPIR MENGETAHUI LETAK SALAH SATU TEMANKU, BAKA HUMAN!"

Dan adu mulut terus terjadi antara Rin dan Len, tanpa menyadari ada sesuatu jatuh ke arah mereka.

DUAAR!

"!" Len dan Rin kaget apa yang terjadi, di tengah-tengah mereka jatuh sesuatu dan berasap akibat debu, tanah tempat benda itu jatuh membuat tanah itu hancur.

"Oh my, aku gagal membunuh kalian sekaligus" ucap seseorang bangun dari tempat itu.

Pemuda itu berambut putih dan rambut atasnya ada yang berdiri jadi mirip antenna, pemuda itu memakai sebuah jubah perak sambil memegang pedang besarnya yang nyangkut di tanah akibat serangan tadi.

"Oh well, serangan selanjutnya pasti akan kena dengan fatal, karena ini perintah dari Nekomura-sama" ucap pemuda itu dan menatap Len dan Rin dengan aura membunuh dan senyum psikopat.

"Heh, kau siapa? Dan apa kau yakin bisa mengalahkan the great prince ini?' Tanya Len dengan sombongnya

"Heh" entah kenapa aura pemuda itu mengeluarkan aura pembunuh.

Dan kedua mahluk insane itu bersiap bertarung sambil mengeluarkan aura pembunuh sedangkan Rin hanya bisa panic atas aura disana.

'Awawawa… bagaimana ini?! Kenapa kami musti bertarung mulu sih!' batin Rin panic.

~ch 7 : Lenka and strange boy~ -end-


Chalice : Hahahaha! Bertarung lagi, bertarung lagi XD entah kenapa chalice suka dengan pertarungan dan Fic ini kelihatannya termasuk genre action X3 #plak. Oh ya, kelihatannya chalice belum bisa update beberapa fic, lagi terkena writer block QAQ, gomenansai (_ _) #plak dan maaf jika cerita makin gaje QAQ Chalice mengalami ide buntu jadi maafkan chaliceee kalau GAJEEE! TTATT #ditendang.

Yuna : Review, please~

Mind To Review?