Aku bahagia

Naruto © Masashi Kishimoto

A fanfiction presented by Azalea Xafier

Fem!Uzumaki Naruto

Uchiha Itachi ^ Senju Kurama

Uchiha Sasuke ^ Namikaze Naruko

Yang lain menyusul seiring jalan cerita

Pair akan menjadi kejutan serasa main tebak-tebakan

Rate : T+

Warning : Gender Switch, typo(s), AU, OOC, bikin mual dsb

Isi cerita sangat pasaran dan dijamin membosankan.

Apabila terjadi kesamaan dan hal-hal lain dalam cerita saya, saya tidak bermaksud seperti itu karena ide cerita ini murni dari saya.

Kritik dan saran akan diterima, Mohon bimbingannya.

Don't like don't read

Please enjoys

.

.


.

Chapter 7

.

.

Waktu masih menunjukkan jam 08.00 lewat sedikit, namun udara malam saat ini lumayan dingin. Naruto mengeratkan jaket kuning pupus yang kini melekat erat ditubuhnya. Dirinya sedang duduk sendiri di beranda belakang rumahnya ditemani teh hangat dan juga setoples ukuran sedang cookies rasa lemon buatan paman Iruka.

Termenung. Tangan kanannya nampak mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang tengah ia kenakan. Kotak beludru warna hitam. Pemberian Itachi. Jari-jari panjangnya membuka dengan pelan kotak tersebut. Sebuah cincin emas putih dengan berlian-berlian kecil menghias memenuhi lingkaran cincin. Desain yang sederhana namun sangat indah menurutnya.

Matanya fokus mengamati benda yang sedang dipegangnya. Dalam diam memikirkan keputusan yang harus dia ambil. Bahkan tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya ketika dirinya merasakan kehadiran Menma yang kini mengambil duduk tepat di samping kirinya. Hanya terpisah oleh meja kecil tempat menaruh cemilan.

Setelah dari taman bermain, mereka memutuskan untuk pulang. Membersihkan diri dan makan malam di rumah Naruto, Menma berniat menginap sekalian. Terlalu malas untuk pulang ke rumahnya sendiri.

Hening.

Tidak ada pembicaraan antara keduanya untuk memecahkan keheningan. Hanya ada suara kunyahan pelan Menma yang sedang menikmati cookies lemon. Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.

Naruto menutup kotak beludru pelan dan meletakkannya di atas meja. Menghembuskan nafasnya sedikit kasar, tangannya menuang teh hijau dalam gelas porcelain. Mengangkatnya pelan dan meminumnya dengan perlahan. Kehangatan langsung menyapa tubuhnya begitu seduhan teh hijau melewati kerongkongannya. Rasa khas dari teh hijau juga tercecap oleh lidahnya.

"Menma, bagaimana menurutmu?" pertanyaan terlontar disela-sela kegiatannya menatap air teh hijau dalam gelas yang digenggam kedua tangannya.

"Hm?" gumaman sebagai jawaban. Mulut Menma masih terlalu asyik dengan cookies lemon. Tapi masih sempat melirik kotak beludru yang Naruto letakkan di atas meja dari sudut matanya. Dirinya mengerti maksud pertanyaan Naruto yang dilontarkan untuknya, namun Menma ingin mendengarkan penjelasan Naruto terlebih dahulu.

"Kau masih ingat dengan kelakuan bodohku dulu,"

Naruto berujar dengan sesekali menyesap tehnya. Pandangannya kini terpaku kearah air dalam kolam renang di depannya. Tenang, menampilkan bayangan cahaya lampu.

"Terlalu banyak, aku sampai lupa mana yang sedang kau bicarakan," timpal Menma dengan nada bercanda.

"Ugh…!" menggeram tak terima. "Dasar!" jeda sejenak, "Malu mengakui tapi kok memang benar ya," terkekeh pelan.

"Jadi?"

"Ya seperti yang kubilang tadi, kelakuan bodoh dengan mengejar-ngejar kekasih orang," ujaran Naruto memelan diakhir kalimat.

"Oh!" kini Menma gantian yang menuang teh hijau dalam gelas porcelain.

"Reaksimu menyebalkan," gerutu Naruto.

"Aku harus bagaimana? Itu memang benar kan. Apa sekarang kau akan melakukan hal itu lagi?"

Menma menyeruput tehnya dengan nikmat.

"Tentu saja tidak…bodoh," meletakkan gelas dengan buru-buru, ingin sekali memberi bogeman penuh cinta pada Menma. Namun keburu menjauhkan badannya, menghindar.

"Haah… aku malah ingin sekali kalau itu tidak pernah kulakukan dimasa lalu," ujaran Naruto penuh sesal. Malu rasanya mengingat hal itu. Kenapa dirinya dulu sangat-sangat egois dan bertingkah memalukan dengan mengejar cinta lelaki yang dia suka.

"Sebenarnya itu wajar," kata Menma. Menyamankan duduknya pada kursi.

Naruto menoleh, menunggu kelanjutan ucapan Menma.

—wajar kalau setiap orang bertingkah egois untuk ingin bersama dengan orang yang dia sayang. Tapi disisi lain juga harus memperhatikan apakah orang itu juga menginginkan kita untuk bersamanya," lanjut Menma. "Meminta maaflah saat kau bertemu nanti."

Menolehkan kepala ketika tidak ada respon. Namun malah menemukan wajah Naruto yang menatap padanya penuh perhitungan. Memunculkan keringat besar imajiner di kepalanya.

"Kenapa menatapku begitu?" tanyanya heran.

"Kau sakit Menma? Perkataanmu sungguh bijak. Itu dirimukan? Hiii… entah kenapa aku malah merinding," Naruto memeluk tubuhnya sendiri. "Kembalilah…kembalilah ke Menma yang super tengil. Itu lebih manusiawi," makin mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri.

"Sialan!" umpat Menma pelan, tak terima juga dibilang begitu oleh Naruto. Begini-begini dirinya juga sudah dewasa. Walau tahu apa yang dikatakan Naruto hanya bercanda.

—lalu? Aku tahu kalau masih ada yang ingin kau katakan padaku," lanjutnya.

"Kau sebenarnya tahu apa yang aku maksud kan? haah… kau lihat kotak itu,"

"Cincin yang bagus, terlihat mahal,"

Menma mengatakan yang sejujurnya. Tadi matanya sempat melihat isi kotak beludru yang kini ada di atas meja. Dirinya laki-laki yang tidak mengerti tentang perhiasan, tapi ia sangat yakin kalau cincin dengan model klasik tersebut dipastikan mahal.

Jeda sejenak. Naruto tidak langsung menjawab. "… itu dari lelaki Uchiha." katanya kemudian.

Pelan, namun masih tertangkap jelas oleh pendengaran Menma.

"Ha?"

Tidak tahu harus merespon apa. Dirinya yakin kalau ada beberapa pemuda keturunan Uchiha di luar sana.

"…"

Melihat keterdiaman Naruto, Menma menghela nafas.

"Aku yakin kalau itu bukan dari orang yang sama," ujarnya kemudian. Matanya menatap Naruto yang menatap lurus ke depan.

Menganggukkan kepala. "Iya, tapi… itu dari keturunan yang sama—

Ada keheningan diantara mereka. Naruto berusaha untuk tenang ketika ingin mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Menma masih terus menatap Naruto.

—kau tahu… kalau teman dekat Kuu-nii seorang Uchiha dan itu kakak dari laki-laki yang kau sebut anak ayam itu. Dia yang memberi cincin itu padaku,"

"…"

"…"

"Kau masih mencintai anak ayam itu?" tanya Menma pelan.

Ketika dirinya bertanya hal ini berarti juga mengungkit semua kisah dibaliknya.

"Jujur aku tidak tahu. Tapi kurasa tidak. Kau tahu sendiri kalau aku tidak bertemu lagi dengannya sudah lama sekali, sekitar 7 tahun. Ketika mendengar namanya disebutkan aku tidak lagi merasakan kalau aku berdebar," jawab panjang lebar Naruto.

"Lalu? Apa masalahnya?"

"…"

"Kau ragu?"

"…mungkin."

"…"

"Selama ini aku berpikir dimasa depan untuk tidak berurusan lagi dengan seorang Uchiha. Walau dulu aku yang bertingkah seperti itu, tapi ketika mengingat penolakan yang dia ucapkan tetap saja rasa sakit itu ada. Masih jelas ucapan demi ucapan kasarnya." Jelas Naruto ketika tidak mendengar respon Menma.

"Kau takut?"

"…takut? Aku tidak tahu. Tapi kenapa kau berpikir kalau aku takut?"

"Mereka seorang Uchiha. Mereka bersaudara. Dia kakak si anak ayam. Kau takut mendengar penolakannya ketika bahkan kau dekat dengan kakaknya," jelas Menma.

"Eh?"

"Bukan malah eh!"

"Itu… sebenarnya aku tidak takut mendengar penolakannya. Aku hanya berpikir kalau bila aku dekat dengan kakaknya hanya sebagai pelampiasan akibat penolakan adiknya,"

"Benar kau berpikir kalau dekat kakaknya hanya karena penolakan adiknya? Pelampiasan," Menma terlihat sanksi dengan ucapan Naruto.

"Tidak! " seru Naruto cepat, "Tentu saja aku tidak berpikir dekat hanya karena sebagai pelampiasan, tapi bagaimana kalau tanggapan yang lain seperti itu,"

"Kenapa kau memikirkan tanggapan dari yang lain?"

"Kenapa? Apa kau bodoh, tentu karena mereka adik kakak, dan dulu aku begitu berusaha tanpa tahu malu mendekati adiknya, lalu dekat dengan kakaknya, itu sedikit… aneh."

"Kau tidak membutuhkan tanggapan dari yang lain kalau kau yakin dengan pilihanmu. Jadi… bagaimana keputusanmu?"

"Aku belum tahu,"

"Jawaban apa pula itu. Haah…" menghembuskan nafas pelan, Menma kembali menuangkan teh hijau dalam gelasnya. Meminumnya pelan. Haus.

"Aku sudah bertanya pada Nenek dan Kuu-nii. Mereka setuju. Tidak ada yang salah dengan Itachi. Banyak kelebihan yang mereka jejalkan padaku malah. Yah… walau mereka bersahabat, Kuu-nii akan tetap memberikan tes khusus pada Itachi-nii. Tapi mereka tidak tahu kelakuanku yang memalukan mengejar-ngejar adiknya dulu."

Penjelasan panjang lebar Naruto membuatnya haus juga, gantian dirinya yang kini mengambil gelas sisa teh miliknya. Sudah dingin ketika meminumnya.

"Bagaimana dengan pendapatmu sendiri?" sembari bertanya kepala Menma mendongak ke atas, melihat langit yang sedikit sekali dihiasi bintang. Tangannya mengeratkan jaket hitamnya. Lama-lama dingin juga.

"Aku…tidak terlalu tahu karena belum lama dekat dengannya. Menurutku ya Itachi itu terlihat sangat dewasa. Dia baik. Tidak banyak bicara. Kelebihan lain sangat jelas. Tampan, mapan, kaya, jenius, berkharisma, tumbuh besar dalam lingkungan yang baik. Untuk kepribadiannya dia terlihat sangat hangat. Hanya itu yang aku tahu,"

Naruto ikut mendongakkan kepala. Matanya menatap bintang yang berkela-kelip di atas sana.

"Itu sudah cukupkan. Dia melamarmu berarti dia menginginkan hubungan yang serius dengan mu, kau bisa belajar untuk mencintainya nanti," lugas ucapan Menma untuknya, namun entah kenapa itu terdengar berat untuk Naruto. Karena itu menyangkut kebahagiaannya dan kehidupan masa depannya.

.

.


.

.

.

Naruto berguling malas-malasan di ranjang empuknya. Hari sudah mendekati jam makan siang. Dirinya baru menyiapkan semua keperluannya untuk besok, hari pertamanya kerja di tempat baru. Ia sudah melakukan komunikasi dengan Shizune, untuk selanjutnya tinggal menunggu kabar. Ini hari terakhir dirinya libur, tapi sungguh malas untuk melakukan kegiatan di luar. Sedang Menma pasti berada di Restaurant miliknya. Tidak ada hari libur bahkan untuk hari minggu seperti ini.

Dirinya kembali ingat akan percakapan dengan Menma tadi malam. Bangkit dari baring malasnya, Naruto berjalan mendekati meja nakasnya. Membuka salah satu laci paling atas dan tangannya mengambil sebuah buku agenda dengan motif yellow polka. Jemarinya menarik kertas yang sengaja ia selipkan pada ruang kecil pada sampul bagian dalam binder.

Kau tahu, tidak perlu pasangan yang sempurna untuk melengkapi kesempurnaan.

Cukup dengan seseorang yang mengisi kekuranganmu, sedang kamu menutupi apa yang tidak ada pada orang itu.

Dengan begitu kamu akan merasakan betapa dibutuhkanya dirimu…

Naruto, aku selalu ingin menjadi tempatmu bergantung, menjadi tempatmu untuk mengisi setiap kekuranganku.

Karena itu, bolehkah aku mencintaimu dan menjagamu, untuk seumur hidupku…

.

Itachi

Mata Naruto meneliti tiap kata yang tertulis disebuah kertas note berwarna kuning lembut. Tulisan tangan yang Naruto yakini sebagai tulisan Itachi. Tulisan tangan yang sangat rapi. Dan lagi-lagi enggan mengakui kalau tulisan tangan manusia kenapa bisa seindah ini. Mungkin berlebihan dengan pujian tersebut, namun sunggung itulah kenyataan.

Setiap kali membaca apa yang tertulis di note kecil yang ia temukan tergulung dilingkaran cincin ketika pertama kali membukanya, ada perasaan aneh yang melingkupi dirinya. Hatinya menghangat ketika memaknai maksud tulisan tersebut. Hanya kalimat sederhana, tapi entah kenapa maknanya begitu dalam. Naruto akui kalau dirinya tersipu.

Benar kata Menma kalau dirinya tidak memerlukan pandangan orang lain asalkan dirinya yakin akan pilihannya.

Tangannya segera menutup buku agenda di tangannya, tak lupa menyelipkan lagi note kecil dengan tulisan Itachi kembali pada tempatnya. Naruto lantas berdiri untuk mengambil kotak beludru yang semalam dia letakkan di atas meja nakas. Ketika tangannya sudah menyentuh kotak beludru tersebut, matanya tanpa sengaja melihat Luxury Watch Box warna hitam. Ahh… dirinya ingat kalau dulu pernah membeli jam tangan yang sekarang ada digenggamannya ini. Pertama kali melihat langsung suka dengan modelnya dan tanpa pikir panjang langsung membelinya.

Selama ini hanya terpikirkan untuk menyimpannya saja, namun sekarang dia tahu akan diapakan barang tersebut.

Matanya dengan cepat mencari sebuah tas kertas begitu dirinya masuk pada walk-in closet miliknya. Buru-buru membuka salah satu pintu lemari yang menyimpan kotak-kotak kosong dan sejenisnya. Tangannya mengambil satu buah tas kertas ukuran sedang. Naruto kemudian menghampiri sebuah gantungan baju dan menyambar coat panjang warna hijau pupus.

Begitu menutup pintu walk-in closet, kakinya melangkah mendekati ranjang. Memasukkan Luxury Watch Box warna hitam kedalam tas kertas. Setelah selesai, dirinya mengingat tujuan awalnya adalah untuk mengambil kotak beludru berisi cincin dari Itachi.

Membukanya, sembari jari-jari tangan kanannya mengambil cincin dari tempatnya, mata Naruto terpejam. Dalam hati menggumam "semoga ini yang terbaik".

Melangkah turun ke lantai bawah. Terus melangkah ke dapur, menemukan Iruka yang sedang sibuk memasak menu makan siang.

"Paman, aku akan keluar sebentar," pamitnya. Tangannya membuka pintu mesin pendingin dan mengambil sebuah botol air mineral. Meminumnya.

"Tapi makan siang nona…"

"Aku akan segera kembali sebelum jam makan siang,"

Melangkah meninggalkan dapur. Tangan kanannya memainkan gantungan kunci mobil. Ada urusan yang harus dia selesaikan.

.

.


.

.

.

Suasana yang bisa dibilang sibuk terjadi saat jam makan siang tengah berlangsung di sebuah Mansion megah bergaya Eropa. Ada beberapa pria dan wanita dewasa berkumpul dengan perlengkapan barbeque party. Terlihat beberapa pelayan yang sibuk untuk menyiapkan segala keperluan yang diperlukan. Menyediakan bahan-bahan makanan untuk barbeque dan juga bumbu yang diinginkan.

Beberapa dari mereka menusuk daging maupun potongan sayur dengan tusuk satai. Selebihnya menyusun bahan makan di meja dan juga menyiapkan kursi untuk duduk yang nyaman.

.

.

.

"Nyonya, teman-teman Sasuke-sama sudah datang,"

Seorang pelayan wanita memberi laporan pada wanita yang kini sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, ditangannya terdapat sebuah buku resep memasak yang baru saja dibelinya. Mengangguk ringan tanpa mengalihkan tatapannya dari lembaran kertas yang menampilkan resep-resep membuat kue-kue kering.

"Biarkan mereka masuk, dan beri tahu Sasuke kalau temannya sudah datang," ujarnya pelan.

"Baik nyonya,"

Setelahnya sang pelayan segera undur diri untuk melaksanakan apa yang diperintahkan padanya.

Tidak berapa lama kembali datang dengan beberapa orang pria dan juga wanita yang diduga sebagai teman Sasuke. Sang pelayan kembali undur diri untuk segera memberitahu kedatangan temannya kepada sang tuan muda.

"Selamat siang Mikoto-san,"

Sapaan dari mereka terdengar hampir bersamaan. Membungkukkan kepala sopan.

"Ah… selamat siang," menutup buku resep yang sedang dibacanya, meletakkan dipangkuan, "Sudah lama kalian tidak main kesini," senyum ramah diberikan. "duduklah dulu, Sasuke sedang membersihkan diri."

"Terima kasih."

"Bagaimana kabar mikoto-san dan yang lain," pemuda dengan rambut panjang terikat longgar bertanya pada Mikoto, tangannya menyelami sang nyonya rumah.

Masing-masing dari mereka mendudukkan diri dengan tenang.

"Baik, kami baik-baik saja Neji-kun. Jadi…kenapa kalian tidak pernah berkunjung ke sini lagi,"

"Kami… kami lumayan sibuk Mikoto-san," seorang gadis berambut merah berkacamata menjawab sambil terkekeh ringan. Uzumaki Karin.

"Kalian anak muda terlalu sibuk, bahkan Sasuke juga, jarang berkunjung kesini. Bibi kesepian semenjak kalian mulai bekerja," curhat dadakan meluncur ringan.

Mereka yang ada disana hanya mampu tersenyum canggung. Memang benar setelah lulus kulian sebagian mereka langsung masuk dunia kerja walau ada yang melanjutkan lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Sibuk dengan segala urusan menjadikan mereka jarang berkumpul. Mereka pernah bertemu di luar namun hanya sekedar minum coffee atau say hello saja. sekedarnya. Lalu hari ini mereka mengosongkan jadwal untuk berkumpul mengadakan acara barbeque party di rumah Sasuke. Dengan desakan tentu saja.

—jadi bagaimana pekerjaan kalian, lancar?"

"Lancar Mikoto-san, yaa ada sedikit masalah tapi bisa diatasi," gadis yang biasa dipanggil Ino menyahut. Hari ini tampak mengenakan pakaian kasual yang nyaman.

"Capek Mikoto-san, tidak ada libur, aku ingin meliburkan diri," Kiba ikut menyahut.

"Hoam… merepotkan. Aku mengantuk," pemuda berambut model Nanas menyahut malas-malasan.

"Dasar Shikamaru, sopanlah sedikit,"

Ino mencubit pinggang pemuda yang dipanggil Shikamaru cukup kuat.

"Auch… sakit Ino," tangan kanan Shikamaru berusaha untuk mengelus bekas cubitan pedas Ino, berniat mengurangi rasa sakitnya.

"kalian akrab sekali ya," Mikoto tersenyum melihat keakraban teman-teman anaknya.

"Ahahaha… begitulah Mikoto-san."

"Kalian sudah datang," sebuah suara bernada berat menginterupsi percakapan mereka. Sasuke, dengan pakaian kasual santainya. Celana jeans biru pudar dan kaos oblong putih longgar. Sangat berbeda sekali ketika hari-hari kerja yang mengharuskannya memakai pakaian formal. Terlihat lebih segar dan bertambah kadar ketampanannya. Wajah dengan kesan remaja sudah tidak ada lagi padanya.

"Ah… sudah turun Sasuke," Mikoto menoleh ke arah kedatangan anak bungsunya, "kalian boleh langsung ke belakang, para pelayan pasti sudah menyiapkan semua keperluan. Bersenang-senanglah dengan temanmu Sasuke," berdiri dari duduknya untuk menepuk ringan pundak Sasuke, menatapnya penuh pengertian.

"Hn."

"Maaf kami membuat Mikoto-san kerepotan,"

"Tidak… tidak… tidak… tidak sama sekali. Bibi malah senang dengan kedatangan kalian. Nah… bersenang-senanglah kalian mumpung berkumpul bersama,"

"Mikoto-san tidak ikut?" Sakura bertanya, dirinya dan teman-teman yang lain mulai membangkitkan diri dari duduk santai di sofa.

"Tidak, ini waktunya untuk anak muda," Mikoto tersenyum, matanya menatap arah kedatangan, "Apa Naruko-chan tidak datang?" tanyanya kemudian, menatap Sasuke.

Sasuke menatap balik ibunya. Ada keheningan sejenak diantara mereka.

"Tidak, dia mengirim pesan kalau ada urusan dengan keluarganya," jawabnya kemudian. "Kami akan ke belakang Okaa-san," pamitnya, "Ayo…!" ajaknya kemudian keada teman-temannya, mengintruksikan mereka untuk mengikutinya.

"Kami permisi Mikoto-san,"

"Ah iya, bersenang-senanglah kalian."

Tersenyum kepada mereka, matanya menatap punggung anak bungsunya sampai Sasuke hilang di belokan lorong rumahnya. Menghela nafas pelan, dirinya mendudukan dirinya kembali pada sofa. Tangannya kembali majalah memasak yang sempat teranggurkan.

.

.

.

.

"ahh… memang sudah lumayan lama aku tidak ke sini, terakhir waktu pesta ulang tahun pernikahan uchiha-san. Itu sudah hampir satu tahun yang lalu," Gadis dengan rambut pirang pudar membuka percakapan diantara mereka.

Menyusuri lorong mansion mewah yang lumayan jauh untuk sampai ke halaman belakang.

"Iya, aku juga. Tapi walau beberapa kali aku kesini tetap saja aku tidak terbiasa dengan rumahmu Sasuke," gerutu Kiba.

"Itu tandanya kau tidak cocok jadi orang kaya Kiba," celetuk Karin dari arah sampingnya.

Yang disana terkekeh pelan mendengar celetukan Karin.

"Apa maksudmu haa Karin? Kau mengejekku," balas Kiba tak terima. Dia bukan dari keluarga kurang mampu, berlebih malah, cuma kekayaan keluarga Uchiha memang tidak tertandingi olehnya. Bukan berlebih lagi, tapi tumpah ruah.

"Jangan merajuk seperti anak-anak Kiba, Karin hanya bercanda," kali ini pemuda beramput merah ikut menyahut. Dia berjalan tenang di bagian paling belakang.

"Aku tahu, aku juga tidak serius Gaara. Dan apa maksudmu anak-anak ha? Kau menantangku!" seru Kiba jengkel.

"Berisik Kiba, diamlah," Shikamaru berujar malas.

"Cih…kalian selalu begitu padaku. Oh Neji, Hinata tidak ikut," tanya Kiba pada Neji yang berjalan di depannya. Mencari ppembicaraan lain.

"Oh iya Hinata-chan tidak terlihat, kemana dia Neji," Sakura ikut bertanya. Dirinya lumayan lama tidak berkomunikasi dengan Hinata.

"Hinata tidak bisa ikut. Dia ada janji bertemu dengan klien yang memesan gaun pernikahan rancangannya," jawab Neji, "Dia titip salam dan meminta maaf karena tidak bisa ikut berkumpul," lanjutnya kemudian.

"Sangat Hinata sekali. Merasa tidak enak pada kita."

Perkataan Ino barusan di angguki oleh mereka. Sangat hafal seperti apa seorang Hinata.

"Wooaaahh… ini barbeque party yang sempurna," Kiba berseru riang.

Mereka sudah sampai di halaman belakang tempat dimana mereka mengadakan barbeque party siang ini. Tidak hanya Kiba yang senang, tapi anak-anak yang lain juga.

"Waahh… ini lengkap sekali," ujar Karin. Dirinya berjalan untuk melihat bahan-bahan makanan yang akan digunakan untuk barbeque party. Sangat lengkap. Peralatannya pun juga lengkap.

Yang lain juga berpikiran yang sama. Seperti yang diharapkan dari Uchiha.

"Kalian boleh pergi, kami akan melakukan sendiri," perkataan tegas Sasuke ucapkan untuk para pelayan yang ada di sana.

"Baik Sasuke-sama," kemudian para pelayanpun undur diri. Membiarkan sang tuan muda dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama.

"Apa kita tepat waktu?" ada suara menginterupsi kegiatan mengagumi mereka.

"Chouji?" Ino bersuara.

"Yo minna," sapa pemuda dengan tubuh berisi menyapa mereka. Tanganya meletakkan bungkusan plastik putih berlogo sebuah supermarket di atas meja. "Aku membawa tambahan kalau kurang… hehehe," lanjutnya sambil tertawa pelan.

"Oii Lee… pelan-pelan saja,"

Kembali terdengar suara dari arah lorong. Mereka memalingkan muka ke arah sumber suara.

"Yosh minna… Lee sudah datang. Belum mulaikan?"

Lee, masih dengan perilaku energiknya yang berlebih menyapa mereka. Disusul oleh Ten Ten dibelakangnya yang hampir berbarengan dengan dua pemuda berambut pucat dan orange, Suigetsu dan Jugo. Ditangan Jugo ada membawa kantong plastik besar yang diyakini berisi cemilan ringan dari mini market.

"Yo Sasuke," sapa Suigetsu pada tuan rumah.

"Hn."

"Hah… masih sama ya Sasuke. Yo minna, oh Karin kau makin cantik," gombal Suigetsu ketika matanya menangkap keberadaan Karin.

"Diamlah Sui!" balas Karin geram.

Musuh bebuyutan kembali bertemu.

"Hahaha… galak sekali."

Beralih ke Jugo yang kini meletakkan bawaannya pada meja yang masih kosong.

"Yoshhh… mari berpesta!" seru mereka berbarengan. Suara Kiba, Lee dan Chouji yang paling mendominasi.

Masing-masing dari mereka mulai melakukan kegiatan. Ada Chouji dan Kiba yang mulai memanggang daging di atas bara api yang sudah disiapkan sebelumnya. Laki-laki yang lain menyiapkan bahan pelengkap yang lain. Sedang para perempuan menyiapkan buah, mengupas dan juga memotong menjadi beberapa potong siap santap.

Mereka saling mengobrol ringan menanyakan kabar dan juga kegiatan yang mereka lakukan selama tidak bertemu. Diselingi oleh tawa ringan ketika mendengar cerita yang lucu.

Kegiatan saling berebut daging yang sudah dimatang terjadi di sela-sela kegiatan, saling melontarka ejekan menjadi selingan, menggoda lawan bicara tak juga ketinggalan. Tawa kencang turut hadir.

"Oh iya, aku ingin mengatakan sesuatu," kata Sakura tiba-tiba, sedikit keras. Meraih perhatian dari yang lain.

Ketika merasa tatapan mata tertuju padanya, "hahaha…" sakura tertawa garing, kemudian melanjutkan, "Aku tidak tahu ini penting atau tidak, karena kita juga tidak terlalu dekat dengannya. Sebagian yang disini juga ada yang belum pernah bertemu dengannya," Menghela nafas pelan, menghentikan ucapannya. Matanya menatap teman sekolah ketika masa Senior High School dulu.

"Kau ingin mengatakan apa Sakura-chan," Ten Ten bertanya kemudian, penasaran dengan apa yang ingin Sakura katakana.

"Hahaha… bukan hal yang penting. Hanya saja belum lama ini bertemu dengan Naruto," lanjut Sakura kemudian.

"Naruto…!" seru beberapa orang yang ada di sana. Terutama yang pernah satu sekolah dengan nama yang baru saja di sebutkan.

"Kapan Sakura? Kapan kau bertemu dengannya," tanya Kiba heboh.

Kiba adalah orang yang dulu lumayan dekat dengan Naruto. Mereka lumayan akrab.

"Iya, kapan Sakura-chan, dimana kau bertemu?" kali ini Ten Ten yang bertanya. Mereka berada dalam satu klub karate sejak kelas satu. Dan dirinya penasaran akan kabar mantan kaptennya.

"Ah itu, belum lama. Baru satu hari yang lalu," jawab Sakura.

"Dimana kau bertemu Sakura-chan," Chouji yang kali ini bertanya. Namun mulutnya tak berhenti mengunyah daging.

"Di taman, aku sempat mengobrol sebentar dengannya."

"Apa kau tahu dimana dia tinggal atau pekerjaannya Sakura-chan," kali ini Lee yang bertanya.

"Tidak, lagipula kami hanya mengobrol sebentar, dia terlihat buru-buru," jelas Sakura lagi.

"Ne Sakura, siapa Naruto yang kalian bicarakan," Ino bertanya, menyela pembicaraan temannya. Dirinya penasaran dengan sosok Naruto yang menjadi bahan pembicaraan.

"Oh Ino, dia teman sekolah kami dulu," jelas Ten Ten. Wajar kalau Ino tidak tahu. Mereka baru bertemu ketika kuliah.

"Kau tahu tunangan Sasuke?" Kiba bertanya pada Ino, yang ditanggapi anggukan oleh gadis bersurai pirang pucat tersebut, "Mereka kembar, wajahnya sangat mirip," kata Kiba kemudian.

"Hee… aku baru tahu kalau Naruko-chan punya kembaran," respon Ino tak percaya, "benarkah Sasuke-kun?" tanya Ino pada Sasuke yang duduk tak jauh darinya.

"Hn." Hanya gumaman singkat.

"Kalian mempunyai fotonya, aku penasaran," ujaran Ino lagi.

"Sayangnya tidak." Ujar Neji yang dari tadi diam mendengarkannya.

"Ohh…!" seru Suigetsu lumayan keras, mengagetkan yang di sana. "Hehehe sorry… kalian mengatakan kalau Naruto Naruto itu mirip tunangan Sasuke kan," dan mendapat anggukan dari yang lain. "Apakah itu orang yang sama dengan yang kami temui kemaren?" lanjut pemuda bergigi runcing itu, "aku dan Jugo kemaren bertemu dengan perempuan yang mirip Naruko di taman bermain, aku sempat mengira itu Naruko, benarkan Jugo,"

Pemuda yang dipanggi Jugo mengganggukan kepala mengiyakan.

Hening.

"Baiklah, kita pasti bertemu dengan Naruto lagi nanti. Sekarang kita lanjutkan pestanya," seru Sakura riang.

Dan itu disetujui yang lain. Mereka kembali sibuk dengan kegiatan mereka yang sempat tertunda.

Kabar yang ringan, namun ada dari mereka yang merasakan hal aneh pada dirinya.

"..."

"Mendokusai," Shikamaru berujar pelan melihatnya.

"Kau mengatakan sesuatu Shika," tanya Kiba yang mendengarkan gumaman Shikamaru, namun tidak jelas.

"Tidak."

.

.

.

.

T ^ B ^ C


Part 7 update.

Terimakasih untuk yang mau menunggu lanjutan cerita hancur nan abal saya,

Untuk part ini dan sebelumnya memang sengaja menggunakan alur lambat.

Selamat membaca…

.

.

Salam…

.

Azalea Xafier