Auction
.
Present by Indukcupang
.
Original Fanfic by Hanny WYF-HZT
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Other
.
Enjoy
.
...
Mingyu's Room
Wonwoo kini tengah duduk termenung sendirian didalam kamar Mingyu, tepatnya diatas kasur. Pemuda assasin itu terlihat beberapa kali menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Peristiwa atau kejadian saat dia bermimpi tentang Mingyu dan dirinya yang tengah melakukan seks selalu membayang-bayangi dirinya. Entah kenapa Wonwoo bisa bermimpi seperti itu, mimpi basah tentang Mingyu yang tidak pernah Wonwoo bayangkan akan terjadi padanya.
Mungkinkah karena dia benar-benar memiliki perasaan pada Mingyu? Atau karena kerinduannya yang ingin sekali bertemu dengan namja berambut pirang itu? Atau juga karena kedua-duanya? Wonwoo sendiri bingung memikirkan kedua pemikirannya tersebut.
Wonwoo kembali menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Wonwoo mulai menggerakkan kakinya untuk turun dari kasur. Celana Wonwoo sudah berganti, karena celana sebelumnya basah akibat you-know-what. Wonwoo langsung mencuci bersih celana tersebut dengan wajah memerah dan mulutnya yang menggumamkan makian-makian entah apa bunyinya.
Mata Wonwoo kini melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Mingyu masih belum kembali juga. Wonwoo mengerang kesal sembari duduk disudut kanan kasur. Wonwoo tidak munafik bahwa kini dia benar-benar sangat merindukan Mingyu dan ingin mendapatkan kembali perhatian Mingyu seperti sebelum-sebelumnya. Dan satu hal yang membuat dada Wonwoo membuncah bahagia adalah saat dia tahu Mingyu menyukai dirinya dan kini perlahan dia juga mulai menyukai Mingyu.
Mereka berdua saling menyukai dan ingin saling memiliki. Hanya saja, Wonwoo belum berani atau belum bisa mengatakan perasaannya. Gugup, canggung, malu dan lain sebagainyalah yang membuat Wonwoo tidak berani berbicara pada Mingyu bahwa dia menyukai pria pirang tersebut. Demi apapun didunia ini, Wonwoo adalah seorang assasin dan bertingkah gugup seperti seorang wanita yang ingin mengatakan perasaannya pada sang pujaan hati bukanlah gayanya.
Tapi ternyata Wonwoo malah bersikap seperti itu, hal itu sangat memalukan dirinya. Jujur saja, sangat memalukan.
Wonwoo tidak tahu apakah Mingyu sengaja meninggalkannya sendirian disini atau tidak. Karena sekarang Wonwoo benar-benar merasa sangat kesepian dan sedikit sedih. Dia ingin Mingyu sekarang, benar-benar menginginkan kehadiran pria bertubuh tinggi tersebut.
Wonwoo mulai merindukan saat Mingyu menatap dirinya dengan pandangan lembut. Wonwoo merindukan saat Mingyu menunjukkan perhatiannya pada dirinya dan Wonwoo juga merindukan saat Mingyu bersentuhan dengan dirinya. Dan Wonwoo sangat benci merasakan perasaan cinta atau mungkin rindu yang menyesakkan seperti ini.
Ceklek
Pintu kamar Mingyu terbuka, membuat Wonwoo yang tengah termenung akan pikirannya langsung terlonjak kaget. Mata Wonwoo langsung menatap pria yang dia tunggu-tunggu kehadirannya kini juga tengah menatapnya. Ternyata yang baru saja masuk kedalam kamar Mingyu tersebut adalah Mingyu sendiri. Sebuah senyum hangat yang membuat sang assasin merona tertampang diwajah tampan Mingyu.
"Kau belum tidur Wonwoo?" tanya Mingyu dengan nada khawatir sembari berjalan pelan mendekati Wonwoo. Pintu kamarnya kembali tertutup dari luar.
"Kau dari mana saja?" tanya balik Wonwoo yang membuat Wonwoo langsung memaki mulutnya karena seenaknya mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Mingyu kini sudah berdiri dihadapan Wonwoo dan kemudian mengelus pelan rambut hitam bak langit malam miliknya.
"Aku ada urusan penting. Maaf meninggalkanmu begitu lama." jawab Mingyu yang membuat Wonwoo mendengus sebal.
Urusan penting yang lebih penting dariku yah? Aku penasaran apa itu? batin Wonwoo sinis dan memalingkan wajahnya dari Mingyu. Mingyu tertawa pelan melihat reaksi Wonwoo.
"Kenapa wajahmu begitu? Apa kau marah karena aku meninggalkanmu?" tanya Mingyu. Wonwoo melirik Mingyu yang masih tersenyum padanya. Sekuat tenaga Wonwoo tidak memunculkan rona pink dipipinya saat melihatnya.
"Sejujurnya aku sejak tadi ingin pulang dan menemuimu. Aku benar-benar merindukanmu Wonwoo." lanjut Mingyu.
"Aku tidak marah. Aku justru lebih senang saat kau tidak ada disini." kata Wonwoo dingin yang langsung menyesal dalam hati karena berkata seperti itu pada Mingyu. Terlebih saat Wonwoo melihat pancaran kesedihan di bola mata Mingyu setelah dia mengucapkan kata-kata barusan. Wonwoo langsung menggigit bibir bawahnya karena dia amat menyesal berkata seperti itu.
Mingyu menghela napasnya dan senyumnya pun lenyap begitu saja.
"Baiklah, jika itu maumu Wonwoo. Aku tidak akan tidur dikamar ini, kau bisa tidur disini jika kau mau dan aku tidak akan mengganggumu lagi." kata Mingyu dengan nada pelan dan kecewa. Mingyu mulai membalikkan badan dan kembali berjalan menuju pintu utama yang membuat Wonwoo gelagapan.
Wonwoo bangun dan berlari.
Grep
Tepat sebelum Mingyu menyentuh gagang pintu kamar utama, Wonwoo sudah memeluk Mingyu dari belakang dan sedikit menariknya dari pintu. Mingyu terlonjak kaget untuk sesaat karena Wonwoo tiba-tiba memeluknya dan Mingyu heran, bukankah Wonwoo tadi bilang dia tidak suka jika dia ada disini.
"Ma-maafkan aku.." Mingyu membulatkan matanya saat mendengar ucapan maaf dari Wonwoo. Terlebih saat Mingyu tahu nada suara Wonwoo tersebut terdapat isakkan kecil.
"Jangan pergi lagi... Kumohon Mingyu... Jangan tinggalkan aku, yang aku katakan tadi adalah bohong." aku Wonwoo yang membuat Mingyu membalikkan badan dan menatap namja yang sudah membuat dirinya jatuh hati tersebut.
"Aku juga merindukanmu... Itu yang aku rasakan Mingyu." Mingyu tersenyum lembut mendengarnya dan menangkup wajah Wonwoo dengan kedua tangannya. Ibu jarinya menghapus beberapa bulir air mata yang meluncur begitu saja dari mata Wonwoo.
"Jangan menangis... Aku memaafkanmu Wonwoo, jadi kumohon jangan menangis." ucap Mingyu dengan nada pelan. Wonwoo mengangguk dan sekuat tenaga menghentikan isakkan tangisnya.
Mingyu tidak bisa menahan debaran jantungnya saat Wonwoo mengatakan dia merindukannya. Mingyu juga tidak bisa menahan diri saat melihat Wonwoo kini terlihat sangat manis dan indah dihadapannya. Mingyu mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Wonwoo dan mulai mencium bibir merah nan lembut milik sang assasin.
Wonwoo membulatkan matanya dengan apa yang dilakukan oleh Mingyu saat ini. Tubuhnya bergetar karena sensasi saat bibirnya bertemu dengan bibir Mingyu dan kaki Wonwoo mulai lemas saat Mingyu menjilat pelan bibirnya. Hal itu membuat erangan halus keluar dari dalam mulut Wonwoo, yang justru membuat Mingyu sadar akan apa yang dia lakukan pada Wonwoo.
Mingyu langsung melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Wonwoo dengan wajah menyesal.
"Maaf Wonwoo, a-aku tidak bermaksud untuk. A-a-aku hanya –emmphh-" Dan kali ini Mingyu lah yang membulatkan matanya saat Wonwoo memajukan wajahnya dan mencium bibirnya. Mingyu membeku, tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Namun yang pasti, Mingyu mulai membalas ciuman Wonwoo dan berusaha sekuat mungkin melakukannya dengan lembut.
Wonwoo melepaskan tautan bibirnya hanya untuk mendapatkan oksigen. Namun dalam beberapa saat Wonwoo kembali menempelkan bibirnya pada bibir Mingyu. Mingyu yang sadar jika hal ini terus berlanjut maka Wonwoo akan dalam bahaya, sekuat mungkin menghentikan aktifitas mereka. Wonwoo menatap kecewa pada Mingyu karena menolaknya ciuman darinya.
"Wonwoo maafkan aku... A-aku tidak bisa melakukan ini." Mingyu kembali menangkup wajah Wonwoo dan menatapnya dalam.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita melakukannya lebih jauh. Aku takut... aku akan melukaimu, karena seperti yang kau tahu Wonwoo. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku jika aku menyentuhmu lebih jauh." jelas Mingyu pada Wonwoo.
"Aku yang memintanya..." gumam Wonwoo. Mingyu terkejut mendengar ucapan Wonwoo.
"Ma-maksudmu?" tanya Mingyu tidak mengerti.
"Se-sentuh aku... aku memintamu menyentuhku." Wajah Wonwoo memerah sempurna saat mengatakan hal tersebut. Bahkan Wonwoo membuang mukanya, tidak berani menatap wajah Mingyu.
"Kenapa? Bukankah kau tidak menyukainya Wonwoo?" tanya Mingyu lagi. Sekuat tenaga Mingyu menahan hasrat dan nafsunya untuk menyerang Wonwoo. Tubuhnya sudah terasa sangat haus akan kenikmatan duniawi karena melihat pemuda manis dihadapannya. Terlebih saat Wonwoo meminta dirinya untuk menyentuhnya.
"Karena kau adalah masterku dan aku adalah budakmu. Sudah sepantasnya aku melayanimu." jawab Wonwoo. Jawaban yang amat sangat jauh dengan yang ingin ia katakan pada Mingyu.
"Jika itu alasannya maka tidak. Aku tidak menganggapmu sebagai budak, kau tahu itu. Kau adalah seseorang yang spesial dan berharga untukku dan kau bukan budak, Wonwoo." Mingyu membuang napasnya dan kembali berbalik untuk pergi dari kamarnya. Namun langkah Mingyu kembali berhenti kembali saat mendengar ucapan Wonwoo.
"Aku menyukaimu.."
Mingyu membeku mendengar ucapan Wonwoo. Mingyu tidak tuli dan dia mendengar dengan jelas ucapan sang assasin karena nada suaranya yang cukup keras. Mingyu kembali berbalik dan menatap Wonwoo yang kepalanya tengah menunduk dan tubuhnya bergetar entah karena apa. Mingyu berjalan menuju Wonwoo dan memeluknya erat.
"Aku menyukaimu Mingyu... Dan aku tidak tahu kenapa? Aku merasa ini terlalu cepat tapi disisi lain terasa benar." jelas Wonwoo. Kedua tangannya dia lingkarkan pada tubuh tinggi Mingyu.
"Sejak pertama aku bertemu dirimu, aku benar-benar benci padamu. Terlebih saat kau memaksa mencoba menyentuhku, tapi saat kau berubah. Aku tidak bisa berbohong bahwa sekarang aku mulai menyukaimu dan sialnya rasa ini terlalu dalam. Aku menyukai bahkan mungkin mencintaimu Mingyu, sangat... Sama halnya dengan rasa cintamu padaku." lanjut Wonwoo.
"Terima kasih, Wonwoo.." ucap Mingyu sembari tersenyum hangat mendengar pengakuan dari Wonwoo. Mingyu tidak sampai mengira bahwa Wonwoo akan membalas cintanya, sesuatu yang Mingyu anggap sangatlah mustahil.
"Mingyu..." panggil Wonwoo.
"Hm?" jawab Mingyu masih dengan memeluk sang assasin erat.
"Sentuh aku... Aku menginginkanmu... Sekarang.." gumam Wonwoo.
.
"Mmmpphhh~"
Wonwoo mengerang nikmat diatas kasur milik Mingyu. Tubuhnya kini berada dibawah sang namja berambut pirang dan mereka berdua kini tengah larut dalam sebuah ciuman. Wonwoo melingkarkan kedua tangannya pada leher jenjang Mingyu dengan jemarinya yang bermain-main dengan rambut pirang Mingyu.
Disisi lain, Mingyu tengah menciumi bibir lembut milik Wonwoo dan menjilatinya perlahan-lahan. Mingyu kemudian menggigit bibir bawah Wonwoo, meminta akses dari sang assasin untuk membuka mulutnya. Dengan senang hati Wonwoo membukakan mulutnya, membuat lidah Mingyu langsung masuk kedalam goa hangat miliknya.
Lidah Mingyu mulai bermain atau mungkin beradu dengan lidah milik Wonwoo. Membuat kedua daging tanpa tulang itu saling melilit dan saling mendorong satu sama lain. Dan sang dominan sudah jelas dimenangkan oleh sang namja pirang. Lidah hangat Mingyu mulai menjamah yang ada didalam mulut Wonwoo, mulai dari rongga mulut hingga deretan gigi putih nan bersih milik Wonwoo.
"Eennngggg~" Wonwoo mulai mengerang nikmat saat Mingyu makin intens menjamah mulutnya. Bisa Mingyu rasakan rasa obat yang baru saja Wonwoo minum, agak pahit namun ada sedikit rasa manis ketika lidahnya menyapu mulut Wonwoo dan menghisap pelan mulutnya.
Mingyu sekuat tenaga berusaha untuk menyentuh sang assasin yang kini sudah sah menjadi kekasihnya dengan lembut. Dia tidak ingin nafsu dan hasratnya yang sangat tinggi membuat pemuda yang ditindihnya nanti akan terluka dan trauma terhadap dirinya.
Mingyu mulai melepaskan tautan bibir mereka saat Wonwoo mendorong dadanya dengan kedua tangan miliknya. Untuk pertama kalinya, Mingyu merasa kesal manusia harus bernapas dengan oksigen. Hal itu karena membuat ciumannya barusan terhenti akibat Wonwoo yang memerlukan oksigen.
Mingyu mulai merasakan celananya terasa menyempit dan hasrat buasnya mulai tidak terkendali begitu melihat wajah Wonwoo saat ini. Matanya yang terlihat sendu, pipinya yang memerah hingga ketelinga, saliva yang merembes keluar dari sudut bibirnya, bibirnya yang makin memerah dan sedikit membengkak dan keringat yang membanjiri wajah manisnya. Dan jangan lupakan bagaimana mata Mingyu menangkap saat Wonwoo tengah menggigit bibirnya dengan begitu erotis.
Tanpa aba-aba, Mingyu langsung memberi kecupan disekitar wajah Wonwoo dan kembali memagut bibir sang assasin dalam ciuman yang lebih panas dan liar. Mingyu tidak bosan dan tidak henti-hentinya menikmati bibir manis sang pemuda yang kini hanya bisa mengerang nikmat karena kegiatan mereka.
"Aannghhh~~ Mingyu mmhhhh," Wonwoo mendesah pelan saat bibir Mingyu mulai turun menuju lehernya. Dan Mingyu hampir kehilangan kendali sepenuhnya saat mendengar desahan Wonwoo yang memanggil namanya. Terlebih saat jari-jemari Wonwoo mulai menjambak rambut pirang Mingyu hingga sedikit berantakan.
Mingyu mulai menjilati leher Wonwoo, sebelum akhirnya di gigit pelan dan menghisapnya hingga menimbulkan tanda kemerahan. Tanda yang menyatakan bahwa Jeon Wonwoo sudah sepenuhnya menjadi milik seorang Kim Mingyu.
"AKH Mingyu!" Wonwoo menjerit kecil saat Mingyu memberikan beberapa gigitan lain disekitar lehernya. Wonwoo benar-benar tidak menyangka mimpinya yang tengah bercumbu dengan Mingyu benar-benar terjadi saat ini.
Mingyu mengangkat tubuhnya dan langsung membuka kemeja miliknya dan membuangnya kesembarang arah. Menampilkan sosok Mingyu yang bertelanjang dada dihadapan Wonwoo. Wonwoo menelan ludahnya melihat begitu indahnya bentuk tubuh Mingyu yang terpahat dengan sempurna. Dan Mingyu juga membantu Wonwoo membuka piyama tidurnya hingga mereka berdua sama-sama bertelanjang dada. Dan Wonwoo maupun Mingyu bisa melihat pancaran nafsu dan juga cinta saat kedua pandangan mereka bertemu.
Bibir Mingyu mulai turun menuju dada seputih susu dan bidang sang assasin. Tanpa ragu, Mingyu mulai memberi kecupan-kecupan dan gigitan kecil didaerah dada Wonwoo. beberapa tanda kemerahan yang cukup banyak mulai tercetak didada sang assasin yang hanya bisa mendesah nikmat menerima sentuhan dari namja pirang tersebut.
"Ammmhhhh Ming-Mingyu aahhhhmmm," desahan yang begitu erotis terdengar saat ibu jari Mingyu menekan salah satu nipple Wonwoo. Dimana kini mulut Mingyu tengah mengulum nipple Wonwoo yang lainnya. Mingyu memainkan lidahnya menggoda nipple milik sang pemuda berambut hitam itu didalam mulutnya. Sedangkan nipple yang satunya kini tengah dicubit-cubit pelan oleh satu tangannya.
"AAHHH Mingyu AAAHHH!"
Kedua tangan Wonwoo langsung meremas selimut dan kepalanya mendongkak keatas. Rasa nikmat akan sentuhan Mingyu pada kedua nipplenya membuatnya melayang dan pandangannya mulai sedikit mengabur. Wajah Wonwoo makin memerah dan makin banyak keringat yang membanjiri wajahnya. Dan kini satu tangan Mingyu mulai perlahan membuka celana milik Wonwoo berserta boksernya hingga Wonwoo naked total.
Mingyu melirik kejantanan Wonwoo yang sudah tegak dan sedikit basah pada ujungnya. Mingyu tersenyum puas melihat hal itu, masih dalam kegiatannya mengulum nipple kanan Wonwoo. Dan tanpa Wonwoo sadari, Mingyu langsung menggenggam erat kesejatiannya hingga Wonwoo menjerit kecil karenanya. Mingyu mulai mengocoknya perlahan dan mulai cepat, membuat desahan sang kekasih yang berada dibawahnya makin tidak terkontrol dan pandangannya langsung memutih.
"Mingyu ssttopp aakkhhh aku mau aannggg keluar aaahhhhh~" cairan Wonwoo keluar dan mengotori kasur juga tangan Mingyu. Mingyu menghentikan kegiatan mereka sejenak hanya untuk menjilati cairan Wonwoo yang menempel ditangannya. Disisi lain, Wonwoo tengah menstabilkan deru napasnya yang mulai memburu.
"Manis sekali." ucap Mingyu yang mulai habis menjilat sisa cairan Wonwoo ditangannya.
Wonwoo mulai bangkit dan langsung mencium bibir Mingyu, membuat sang pria pirang kaget untuk sesaat. Mingyu membalas ciuman Wonwoo dan membiarkan sang pemuda berambut hitam itu menjamah mulutnya.
"Ahhh! Wonwoo-oohhh," Mingyu mendesah pelan saat Wonwoo memberi kecupan pada leher Mingyu dan memberikan gigitan disana. Membuat tanda merah keunguan yang sama dengan yang dimiliki oleh Wonwoo.
Wonwoo mendorong pelan tubuh Mingyu hingga terbaring dikasur. Mingyu kembali mengerang saat Wonwoo menciumi dada bidang dan perut absnya berkali-kali sebelum akhirnya wajah Wonwoo berhadapan dengan kejantanan Mingyu yang masih terbungkus oleh celana itu.
Wonwoo menggoda Mingyu dengan mengelus-elus pelan kejantanannya tersebut hingga Wonwoo bisa melihat gundukkan celana Mingyu makin membesar. Kedua tangan Wonwoo mulai melepaskan sabuk celana Mingyu dan melepaskan celananya.
Mingyu tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada Wonwoo yang mulai membuka boksernya dengan menggunakan mulutnya. Hell! Wonwoo benar-benar sangat merangsang saat dia membuka boksernya, dia benar-benar tahu cara menggoda dirinya.
Wonwoo sedikit berdecak kagum melihat ukuran kejantanan milik Mingyu.
"Wonwoo hisap milikku sekarang!" Titah Mingyu yang sudah tidak sabaran. Wonwoo menuruti permintaan Mingyu dan mulai memasukkan semua kejantanan Mingyu yang besar kedalam mulutnya. Wonwoo sedikit tersedak karena ukurannya yang besar itu tidak semuanya bisa masuk.
"Aahhhh fuck! Terusss Wonwoo aaahhhh," desah Mingyu saat Wonwoo mulai mengulum kejantanannya bagai mengulum sebuah permen lollipop. Kepalanya naik turun secara teratur dan beritme dari lambat menuju cepat. Wonwoo bahkan menjilat dan menggigit pelan batang kejantanan Mingyu didalam mulutnya, membuat sang pria pirang mendesah makin keras.
Wonwoo mulai mempercepat hisapannya saat mulai merasakan kejantanan Mingyu mulai makin hangat dan membesar.
"AAHHHH WONWOO," Mingyu mengeluarkan cairan putihnya didalam mulut Wonwoo dan Wonwoo langsung menelannya tanpa rasa jijik. Cairan itu banyak yang keluar dari dalam mulut Wonwoo dan mengotori area bibir Wonwoo. Mingyu langsung mencium dan memasukkan lidahnya dalam mulut kekasihnya untuk menikmati juga cairan miliknya.
Mingyu mulai membaringkan tubuh Wonwoo dan menindih tubuhnya dengan menahan berat tubuh Mingyu dengan satu tangannya. Matanya menatap dalam mata sang assasin.
"Apa kau benar-benar menginginkan ini Wonwoo?" tanya Mingyu sembari mengelus pipi halus Wonwoo dengan satu tangannya. Wonwoo mengangguk pelan.
"Lakukanlah Mingyu... Buat aku menjadi milikmu," balas Wonwoo yang menangkup wajah Mingyu dengan kedua tangannya. Wonwoo terlihat pasrah saat ini dan Mingyu memberikan ciuman lembut untuk menenangkannya.
Tanpa Wonwoo sadari, satu jari Mingyu mulai masuk kedalam lubang sempitnya. Wonwoo tersentak kaget namun tidak terlalu mempedulikannya, dia masih sibuk menerima ciuman dari Mingyu. Saat Mingyu memasukkan jari kedua, Wonwoo menjerit kecil namun tertahan oleh ciuman mereka berdua. Dan saat Mingyu mulai memasukkan jari ketiga, Wonwoo melepaskan tautan bibir mereka lalu mengerang kesakitan.
"Aarrgghhh Mingyu sa-sakit akh keluarkann aakkhh." pinta Wonwoo, namun Mingyu hanya memberinya kecupan diwajahnya. Tidak lupa Mingyu membisikkan kata-kata manis ditelinga Wonwoo sebagai penenang bagi namja bersurai hitam tersebut.
Mingyu masih mendiamkan ketiga jarinya yang berada didalam lubang Wonwoo. Dan saat Wonwoo menganggukkan kepalanya, Mingyu mulai menggerakkan ketiga jarinya keluar masuk dengan perlahan. Wonwoo kembali mengerang kesakitan dan langsung menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Mingyu yang melihatnya langsung menjilati darah Wonwoo dan kembali memagut bibir Wonwoo dalam ciuman yang begitu dalam.
Mingyu mulai melebarkan lubang Wonwoo dengan gerakkan zig zag agar Wonwoo siap menerima ukuran kejantanan Mingyu yang besar saat masuk kedalamnya. Agar Wonwoo makin merasa nyaman, tangan Mingyu kembali menggenggam kejantanan Wonwoo yang sudah tegang kembali dan mengocoknya perlahan. Erangan kesakitan Wonwoo perlahan mulai menghilang dan berganti dengan erangan nikmat. Apalagi saat jari Mingyu tidak sengaja menyentuh titik terdalam sang assasin.
"AAHHHH~ MINGYUHHH DISANA NNGGAAAHHH," desah Wonwoo begitu merasakan jari Mingyu yang menyentuh sweet spotnya dan hal itu membuat Wonwoo merasakan kenikmatan yang lebih dari sentuhan Mingyu yang sebelum-sebelumnya.
Mingyu dengan sengaja kembali menyentuh titik tersebut dengan dirinya yang kini menggigit nipple Wonwoo satu persatu.
"Yaaaahhh~ eemmhhh Mingyu teruussshhhh aahhnnn," Wonwoo kembali memegang kepala Mingyu saat dirinya dilanda kenimatan entah untuk yang keberapa kalinya.
"Mingyuh-ahhnnn... Aku mau kaauu aahhh, didalam diriku..." pinta Wonwoo disela desahannya, dirinya kini benar-benar sangat menginginkan namja pirang itu. Mingyu mengecup pelan bibir Wonwoo.
"Tentu my princess." jawab Mingyu.
Mingyu mengambil sebuah bantal dan menyimpannya dibawah pantat Wonwoo. Mingyu kemudian mempersiapkan kejantanannya didepan lubang Wonwoo. Mingyu menatap Wonwoo yang menatap dirinya dengan hasrat dan nafsu juga cinta.
"Apa kau sudah siap Wonwoo?" tanya Mingyu.
Wonwoo mengangguk dan mulai melingkarkan kedua tangannya pada leher Mingyu dan memberikan kecupan pada bibir sang pria pirang. Mingyu tersenyum dan mulai melebarkan kedua kaki Wonwoo agar akses masuknya lebih mudah. Mingyu kembali mendekatkan wajahnya pada Wonwoo dan mulai melumat bibir sang assasin bersamaan dengan ujung kejantanannya yang mulai masuk dalam lubang sempit Wonwoo.
Mingyu merasakan sensasi yang tidak bisa dia jelaskan saat dirinya mulai memasuki lubang sang assasin. Sensasi yang membuatnya begitu kehilangan tempat dia berpijak dan pikirannya untuk sesaat. Wonwoo melepaskan tautan bibirnya secara paksa dan langsung menggigit bibir bawahnya menahan jeritan kesakitan saat milik Mingyu mulai perlahan masuk kedalam tubuhnya. Sungguh, Wonwoo tidak tahu rasanya akan sesakit ini.
"Ahhh shit! Sempitt sekali Wonwoo, oohhh fuckkk!" maki Mingyu tidak karuan saat dia mulai mendorong pinggulnya perlahan. Membuat kejantanannya masuk makin dalam pada lubang pemuda yang berada dibawahnya.
Air mata mulai meluncur tidak terkendali saat setengah dari kejantanan Mingyu masuk kedalam lubang Wonwoo. Rasanya begitu sakit, perih dan juga panas yang kini dialami oleh Wonwoo di area bawah tubuhnya. Wonwoo merasa dirinya seperti akan terbagi menjadi dua saat hampir semua kejantanan Mingyu masuk sepenuhnya.
"Sssshhh... Wonwoo jangan menangis, maaf aku membuatmu terluka. Apa kita hentikan saja sampai disini?" tanya Mingyu saat melihat wajah sang kekasih yang menangis dan tengah menahan rasa sakit tersebut. Ibu jari Mingyu langsung menghapus beberapa bulir air mata Wonwoo. Mingyu merasa menyesal telah membuat Wonwoo menangis dan merasakan kesakitan karena dirinya. Dan dia benar-benar harus menghentikan ini.
Wonwoo menggelengkan kepalanya.
"Ja-jangan berhenti... Aku tidak apa-apa. Cukup... diam sebentar saja," kata Wonwoo membalas ucapan Mingyu masih dengan raut wajahnya yang menjelaskan bahwa dia benar-benar menahan rasa sakit pada lubangnya. Mingyu mengangguk ragu dan mereka diam untuk beberapa saat, membiarkan Wonwoo merasa rileks.
"Mingyu bergeraklah..." ucap Wonwoo sembari tersenyum hangat saat dia sudah siap. Mingyu membalas senyum Wonwoo dengan mencium puncak kepalanya. Mata Wonwoo tertutup saat Mingyu mengecup dahinya dan sebuncah rasa hangat menyusup masuk didada sang assasin.
Mingyu mulai menarik perlahan kejantanannya hingga hanya ujungnya saja yang berada didalam lubang Wonwoo. Sekuat tenaga Mingyu tidak langsung menghentakkan kejantanannya saat dinding rektum Wonwoo memanjakan kejantanannya didalam sana. Mingyu mulai mendorong pinggulnya perlahan, membuat Wonwoo sedikit mengerang kesakitan. Mata Mingyu tidak pernah lepas dari wajah sang kekasih assasinnya.
Kedua mata Wonwoo tertutup dan bibir bawahnya tengah dia gigit menahan rasa sakit pada lubangnya. Mingyu tentu berhati-hati dan sangat pelan saat dirinya memasuki Wonwoo, dia tidak ingin menyakiti sang kekasih dengan terlalu keras menghentakkan kejantanannya. Karena bagaimanapun saat ini saja Mingyu sudah merasakan nikmatnya dinding rektum Wonwoo menggenggam erat kejantannya.
"Mingyu lebih aannhhh dalam lagihhh uuaaahhh.." pinta Wonwoo sambil memindahkan kedua tangannya yang kini dia simpan pada kedua bahu tegas milik Mingyu.
Mingyu mengangguk dan mulai mengeluarkan kejantanannya dan memasukkannya kembali dengan cukup keras dan dalam.
"AAAHHHH MMHHHHH.." Wonwoo mendesah keras saat ujung kejantanan Mingyu langsung menyentuh titiknya. Rasa sakit yang seharusnya dia dapat karena kerasnya hentakan Mingyu langsung berubah dengan desahan dan erangan nikmat saat titiknya ditusuk berulang kali.
"Aaakkkhhh Mingyu aahhh ooohhh lebih cepatthhh sshhh," ucap Wonwoo tidak terlalu jelas karena desahannya. Kepalanya dia dongkakkan keatas, meresapi nikmatnya saat titik terdalamnya disentuh berulang kali. Wajah Wonwoo sudah amat sangat merah saat ini.
"Ohhh fuck! Sempit sekali aaahhh Wonwoo yyeaahh sempit aaahhh," Mingyu makin mempercepat dan memperdalam sodokannya pada lubang sempit kekasihnya. Dimana kini kedua kaki Wonwoo juga langsung melingkar dipinggangnya dan membantu menariknya hingga membuat kejantanan Mingyu masuk makin dalam. Mingyu merasa melayang saat merasakan dinding Wonwoo yang mulai berkontraksi yang membuat kejantanannya bagai tengah dipijat.
"Akkhhh~! Terus Mingyu aahhh disana yyyaahhh," desah Wonwoo, mulutnya tidak henti-hentinya mengatakan rasa nikmat yang mendera tubuhnya.
"Mingyu uuaahhh lebih keras lagi~ AHH AAHH," Wonwoo langsung mengerang keras saat Mingyu benar-benar mempercepat dan memperkuat tempo in outnya pada lubang Wonwoo.
"Ooaaahh Wonwoo aaahhh," erang Mingyu saat dia sudah mulai mencapai klimaks.
"AAAAHHHH Mingyu!" Wonwoo yang merasakan titik terdalamnya terus disentuh habis-habisan langsung mencapai klimaksnya dan cairan mengotori dada dan perut abs milik Mingyu.
"WONWOO-AAAHHHH!" Mingyu menyusul Wonwoo dan memuntahkan laharnya didalam lubang Wonwoo. Wonwoo bisa merasakan hangatnya cairan Mingyu yang kini mulai merembes keluar dari lubangnya karena Mingyu sudah mengeluarkan kejantanannya.
Keduanya mulai menetralkan napas mereka yang tidak beraturan. Mingyu terlonjak kaget saat melihat cairan putihnya dinoda oleh cairan merah. Mingyu menatap Wonwoo dengan raut wajah menyesal.
"Maaf aku menyakitimu Wonwoo.." ucap Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya, dia mulai duduk dihadapan Mingyu dengan sedikit rintihan yang keluar dari mulutnya dan menciumi bibir kekasihnya.
"Tadi itu... luar biasa Mingyu~" kata Wonwoo dengan nada menggoda dan wajahnya memerah sempurna mengucapkan kata-kata tersebut. Mingyu menyeringai mendengar ucapan Wonwoo.
"Ronde kedua bagaimana?" tanya Mingyu masih dengan seringainya.
Wajah Wonwoo memanas, terlebih saat melihat seringai Mingyu yang begitu sexy di mata Wonwoo. Wonwoo mengangguk pelan menjawab pertanyaan Mingyu. Mingyu tersenyum dan membuka kedua tangannya, bermaksud memeluk Wonwoo.
"Come here, my baby." Wonwoo mendekati Mingyu dan duduk dalam pangkuan sang pria pirang. Mingyu mendongak menatap wajah kekasihnya yang kini ada dalam pelukannya.
"Kau benar-benar indah... sangat indah Wonwoo.." puji Mingyu. Wonwoo menggigit bibir bawahnya karena malu mendengar pujian dari Mingyu.
"AKH!" Wonwoo menjerit saat Mingyu kembali memasukkan kejantanannya kedalam lubang Wonwoo. Karena cairan Mingyu masih tersisa didalam, membuat kejantanannya meluncur dengan mudah dan langsung menyentuh kembali titik terdalam sang pemuda berambut hitam yang tengah dipeluk oleh Mingyu.
Kedua tangan Mingyu kini memegang kedua pinggang Wonwoo, menaik turunkannya sesuai dengan ritme. Dimana kini Wonwoo tengah melingkarkan kedua tangannya dileher Mingyu dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher jenjang Mingyu. Desahan nikmat kini kembali meluncur dengan indah dari kedua insan yang tengah bercumbu tersebut.
BRAK
"BROTHER! MANA JANJIMU MEMBELIKANKU PU-" ucapan Seokmin yang baru saja masuk dengan menendang pintu kamar Mingyu terhenti saat melihat kakaknya kini tengah melakukan seks dengan namja yang tidak dia kenal.
"OMG! ASDFGHJKL KYAAAAAA~" histeris Seokmin melihat scene didepannya selayaknya fangirls-eh-fanboy.
Bahkan para maid yang berada dibelakang Seokmin yang penasaran mencuri-curi pandang dan berakhir dengan wajah merah. Jinah dan Yebin yang terkenal dingin bahkan wajahnya memanas saat melihat scene dihadapan mereka. Tidak menyangka tuan mereka kini tengah melakukan seks dengan Wonwoo.
"Cih! Pengganggu!" gumam Mingyu dingin. Dimana Wonwoo hanya bisa mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada Mingyu. Dia benar-benar sangat malu karena tertangkap basah tengah sedang bercumbu panas dengan Mingyu.
"Mi-Mingyu~ aku malu sekali~" ucap Wonwoo dengan nada imut nan menggemaskan, jangan lupa raut wajahnya yang kelewat manis itu. Mingyu menelan ludahnya melihat pose dan nada suara Wonwoo. Bukannya berhenti, Mingyu malah kembali menyerang sang assasin diranjang dengan menutupi kegiatan mereka dengan selimut. Tidak mempedulikan teriakkan Seokmin yang meminta sang kakak untuk membuka selimutnya.
.
..
End chapter of MEANIE...
..
.
HEHE. Seneng yeh akhirnya mereka naena:g gue yang baca ulang aja bahagia:g
Lama tidak bertemu, mareaders! Gue sibuk:" yaah, you know what lah. Sibuk sekolah diakhir sekolah:"
Terima kasih sudah mengikuti fanfic ini sampai Mingyu dan Wonwoo bahagia:* seperti yang kalian baca, MEANIE di fiksi ini sudah end. Tinggal couple lain yah.
Semoga kita sama-sama bahagia.
See you next chapter!
Bye!
