Sasuke memacu mobilnya. Mesin otomotif beroda empat itu melaju di jalan tol dengan kecepatan di atas ratusan kilometer per jam. Deru mesinnya yang halus, serta tarikannya yang ringan, benar-benar mampu memacu emosi Sasuke yang makin ke sini makin panas.

Plang-plang jalan penunjuk arah menunjukkan bahwa sebentar lagi Sasuke keluar dari kota tempatnya tinggal, menuju ke arah dermaga yang berada di kota lain. Titik-titik air hujan mulai turun dari langit. Lampu-lampu jalan menyala terang kekuningan setiap berapa ratus meter.

Jam digital di mobilnya menunjukkan pukul sembilan lewat. Langit yang sudah gelap itu semakin menggelap akibat awan kelabu penghasil hujan.

Ini sudah hampir tiga jam ia berkendara dan ia masih belum sampai ke tempat yang ia tuju.

"Berengsek!" Sasuke memukul stir mobilnya keras ketika melihat barisan mobil di depannya berhenti mendadak. Mobilnya tidak bisa maju apalagi mundur untuk putar arah. Ia benar-benar terjebak macet di jalan yang katanya bebas hambatan. Konyol sekali.

Sasuke menghembuskan napas beratnya mencoba untuk rileks. Ia tidak bisa begini. Ia harus menghadapi keparat sialan itu dengan kepala dingin. Semakin ia emosi, maka semakin mudah ia dikalahkan. Sasuke jelas tidak mau hal itu terjadi.

Namun, Seberapa keras Sasuke menenangkan pikirannya—ia tetap saja tidak bisa, semua pikiran buruk itu menghantuinya, mendistraksi pikirannya sampai mampu membuat dirinya bertindak kasar dan gegabah.

Awalnya Sasuke hanya mendapati panggilan voicemail dari nomor tak dikenal. Setelah itu, ia menerima kiriman lokasi dari sebuah surel anonim.

Sasuke tahu. Semua yang dikirimkan padanya adalah jebakan. Tidak ada orang yang memberitahu lokasinya terang-terangan seperti ini. Terlalu jelas, dan terlalu mudah.

Tapi ia tidak bisa untuk tetap tenang dan berdiam diri di rumah sekarang. Ada hal yang harus ia pastikan. Terutama arti dari kiriman lokasi itu—dan juga voicemail sampah yang sempat ia dengar.

"Akulah yang membayarmu, jadi laksanakan saja dengan cepat atau perjanjian kita batal."

Sasuke jelas tidak lupa suara milik siapa itu. Danzou. Pria itu benar-benar bajingan sampah yang tidak akan melepaskan apa yang ia inginkan. Ia bahkan masih mengejar Hinata walaupun di rumahnya menumpuk puluhan lebih pelacur. Keparat.

Pantas saja dua hari lalu Sasuke bertemu dengan Sai. Bocah sinting yang doyan senyum itu adalah tangan kanan Danzou. Pastinya dia akan mengikuti apapun yang Danzou minta seperti anjing Pavlov.

Terlebih dengan kedatangan Naruto pagi ini. Semakin memperjelas bahwa masalah yang ia hadapi sekarang adalah masalah yang besar dan serius.

Sasuke bukan orang yang tidak peka. Tidak mungkin Naruto datang ke rumahnya dengan raut kusut seperti itu jika niatannya hanya ingin berkunjung. Pria kuning jabrik itu terlalu mudah ditebak pikirannya. Sasuke jelas sudah memperkirakan peran Naruto dalam drama ini.

Menipu pria itu dengan mengatakan Hinata adalah istrinya benar-benar rencana yang sempurna—namun beresiko tinggi. Naruto mungkin orang yang bodoh dan tidak peka terhadap cinta—atau apalah itu namanya, tapi dia tetaplah orang yang jenius dan memperhatikan detail.

Jelas sangat aneh jika dia yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menikah begitu saja. Sasuke sendiri sadar kalau rencananya ini konyol. Terdengar sangat konyol—yang benar saja dirinya menikah, Naruto jelas tidak akan percaya mengingat dia bukan orang yang mengenal Sasuke kemarin sore.

Namun, bukan berarti rencananya tidak akan bekerja. Maka, ketika ia memiliki kesempatan—ketika ia mencumbu dalam bibir Hinata—Sasuke memasangkan cincin emas itu ke jari manis perempuan itu tanpa diketahui siapapun. Kecuali dirinya sendiri.

Sasuke menyeringai tipis. Tangannya yang kekar meraih perseneling mobil, mengubahnya ke arah yang lebih rendah untuk menjalankan kembali mobilnya yang sempat terhenti.

Ia telah melibatkan Hinata ke dalam masalah ini. Pintar sekali.

Kemacetan yang sempat terjadi di depannya mulai terurai satu per satu. Sasuke kembali melajukan mobilnya dengan cepat untuk mengejar waktunya yang semakin menipis.

Semua ini bukan kebetulan semata dan Sasuke sendiri juga bukanlah orang yang percaya pada kebetulan. Bertemu Hinata mungkin adalah kebetulan terhebat yang paling ia akui. Tapi membuat Naruto melihat semuanya, bukanlah kebetulan semata. Ia memang merencanakan itu.

Sasuke sudah melacak traffic ponsel Naruto semalam, dan ia sadar betul apa yang sedang Naruto rencanakan.

Menangkapnya dan menjebloskannya ke sel penjara. Tentu saja. Apalagi?

Sasuke sama sekali tidak terkejut; ia malah sudah menduga. Ia akui ia memanglah seorang kriminal yang pantas untuk ditangkap. Track record-nya sudah terlalu jauh dari kata 'baik' dan ia sendiri sadar kalau namanya—Mad Hatter—sudah sangat terkenal di kalangan polisi.

Terlebih, sahabatnya tersayang itu adalah polisi satuan khusus yang menangani kasus-kasus berat seperti perdagangan senjata ilegal, peredaran narkoba, bahkan mafia. Naruto pastinya sudah mengenal luar dalam Mad Hatter—mengingat Mad Hatter yang ia cari adalah temannya sendiri.

Suara kekehan terdengar dari mulut Sasuke. Seorang mafia besar sedang mengejarnya dan sahabatnya sendiri berusaha untuk menangkapnya. Lucu sekali. Mirip seperti opera sabun yang pernah ia tonton saat kecil.

Sasuke mendesah pelan, memikirkan rencana yang bakal ia gunakan untuk menghadapi dua sisi yang berbeda namun sama-sama menjepitnya di pojok. Ia tidak mungkin datang tanpa persiapan apapun. Itu sama saja bunuh diri. Sasuke tidak ingin mati konyol, yang benar saja.

Hujan turun semakin lama semakin menderas. Tetes-tetes air yang terkumpul di langit itu tumpah ruah membasahi setiap sudut jalanan. Bunyi ritmis pembersih kaca depan mobil terdengar berdetik. Sasuke mengetuk-ketukkan jemarinya di stir bundar yang ada dalam genggamannya. Sekali tersenyum tipis lalu menyeringai.

Sasuke jelas akan membuang Danzou ke kepolisian. Pria bangsat bau tanah itu memang sudah waktunya membusuk di penjara, dan untuk Sai, Sasuke akan merekayasa keadaan agar memojokkan manusia sinting itu sebagai Mad Hatter.

Rencana yang sempurna. Sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampaui.

Namun sebelum semua itu terjadi, ia harus melakukan satu hal, menyembunyikan Hinata di tempat yang tepat. Gadisnya itu harus jauh dari tempat ini. Ia tidak akan aman selama ia berada di sini, di tempat yang sama dengan Danzou dan kroni-kroninya itu.

Hinata membutuhkan seorang penjaga, dan hanya satu orang yang bisa Sasuke percayai untuk saat ini. Seseorang yang telah lama bekerja sama dengannya.

Seseorang yang ia anggap sekutu ternyata bukan.

'Oh, Sasuke … ada apa? Kau membutuhkan informasi lagi—'

"—Suigetsu, kau bisa membantuku?"

'Bantu?—tentu, Kawan. Kau tak perlu meminta—apa yang bisa kubantu?'

Sasuke tersenyum merasakan kemenangan. Sai berada di cengkramannya, sedangkan pak tua bangsat itu sebentar lagi akan terjun bebas ke dalam jurang.

"Bisa kau bawa Hinata sekarang? Ke tempat yang aman."

Sayangnya Sasuke tidak tahu, kalau ada musuh di dalam selimutnya.

'Tentu Sasuke, tidak masalah. Hinata akan aman denganku.'

Kau salah langkah, Sasuke.


.

.

.

Catastrophs

|Rate M| Romance, drama|
Kana2017 MasashiKishimoto

.

.

.

[Warning. Because of sexual content, mature, and profanity]

[Take your own risk]

.

.

.

I have already warned you. Please, be considered!

.

.

.


[7]


Hinata tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengannya sekarang. Ia bahkan tidak benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

Pria itu selalu datang dan pergi sesuka hatinya. Dengan seenak jidatnya menyentuh bahkan mencium bibir Hinata—oh dan lagi, jangan lupakan gerayangan tangan kasar pria itu dalam bajunya, Hinata tidak akan mungkin lupa.

Sebuah cincin emas polos melingkar di jari manis Hinata. Sesekali jemarinya mengusap pelan cincin mengkilap itu sambil mengingat-ingat kembali apa yang Sasuke katakan padanya—juga pada teman jabrik kuningnya itu.

Istrinya? Yang benar saja, mereka bahkan baru mengenal kurang dari sebulan. Sejak kapan pria itu melamarnya? Tidak pernah!

Hinata ingin marah. Ia marah ketika pria itu dengan seenaknya menciumnya panas seakan-akan dirinya adalah milik pria itu seorang. Ia juga marah dengan penuturan sepihak yang pria itu lontarkan pada teman jabrik kuningnya itu. Ia bahkan benar-benar marah dan kesal ketika pria itu pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun kepadanya.

Pria itu, Sasuke, selalu saja sukses mengombang-ambingkan perasaannya. Hinata benci itu.

Tetes air hujan mulai terdengar sayup-sayup. Bunyi kelotak lembut air hujan yang beradu dengan kaca jendela terdengar vokal di telinga Hinata. Detik jarum jam menggema pelan. Pukul tiga sore. Sudah tiga jam lamanya Sasuke pergi meninggalkannya sendirian.

Kedua netra pucatnya menatap taman di samping rumah yang basah karena air hujan. Beberapa bunga beraneka macam tumbuh di sana, layu dan tak terurus. Rumput-rumput liar tumbuh menutupi sebagian bunga itu. Berantakan sekali.

Hinata mendesah pelan, menyadarkan kepalanya ke bahu sofa yang ia duduki. Kedua tangannya memeluk erat kedua kakinya, merapatkan diri karena udara dingin yang tiba-tiba merayap ke ruangan.

Sasuke mungkin jarang berekspresi—atau mungkin tidak pernah. Pria itu jarang terlihat tersenyum, mukanya selalu datar dan stoic. Tapi, sedikit saja perubahan dari wajah itu, Hinata selalu bisa merasakannya.

Saat itu Naruto—sahabat jabriknya—baru saja pulang, Sasuke masuk kamar dengan tampang datarnya. Hinata yang awalnya duduk di sofa itu terkesiap langsung berdiri menghampiri Sasuke. Ia hendak membuka mulut. Ingin memprotes setiap kelakuan yang pria itu lakukan tadi padanya.

Namun, sebelum ia membuka mulutnya, lagi-lagi Sasuke memeluknya dengan erat. Kedua tangan pria itu meraih pinggangnya, sedangkan dagunya menyusup ke perpotongan leher Hinata yang jauh lebih rendah.

"Ada apa, Sasuke? Kenapa—"

"—Tidak, tidak ada. Sebentar … sebentar saja."

Deru napasnya terengar berat dan rendah. Tubuhnya yang tinggi tegap itu mungkin memang terlihat sedang memeluk Hinata. Namun yang Hinata rasakan adalah pria itu—Sasuke—sedang bersandar padanya.

Hinata tidak mengerti. Entah keberapa kalinya ia merasa demikian, namun kali ini ia benar-benar tidak mengerti.

Sasuke yang dingin. Sasuke yang aneh. Sasuke yang tidak bisa ditembus. Tapi sekarang, yang Hinata lihat hanyalah Sasuke terlihat rapuh dan lemah.

"Apa paman kuning jabrik itu jahat padamu?"

Pria itu tidak menjawab, ia hanya memperdalam wajahnya ke leher Hinata, menyesap lebih banyak wewangian di sana.

"Sasuke, jika kau tak—"

"—aku lelah … lelah sekali."

Untuk beberapa detik Hinata masih tertegun dengan sikap baru yang Sasuke tampilkan sekarang. Kedua tangannya terangkat pelan. Terlalu banyak keraguan untuk meraih tubuh yang jauh lebih besar darinya itu.

Namun ketika Hinata merasakan tubuh pria itu bergetar pelan, kedua tangannya tak lagi meragu. Hinata balas memeluk pria itu sama eratnya seperti pria itu memeluknya.

Dan selanjutnya Hinata tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia malah mencium Sasuke sebelum pria itu mencium bibirnya.

Tidak ada pagutan; tidak ada lumatan. Bibir itu diam tak bergerak. Hinata bisa merasakan bahwa Sasuke sama sekali tidak membalas ciumannya. Pria itu seakan tidak tertarik untuk mencumbu panas dirinya seperti yang sudah-sudah.

Gamang. Ada hal yang salah di sini; ada hal aneh yang sedang terjadi pada pria itu sekarang. Hatinya terasa sakit ketika melihat Sasuke yang seakan-akan hancur dan terpuruk.

Kedua telapak tangan Hinata yang semula berada di dada Sasuke bergerak naik ke bahu lebar pria itu. Meraih tengkuk yang terpaut puluhan senti dengannya itu, memperdalam ciuman sepihaknya. Sekalipun itu terasa payah dan amatir, Hinata tidak peduli.

Ia hanya ingin Sasuke-nya kembali. Sasuke-nya yang aneh. Sasuke-nya yang dingin. Sasuke-nya yang kasar. Rasanya sakit melihat Sasuke seperti ini.

Hinata berjinjit. Semakin menarik bibir Sasuke untuk menciumnya. Ia menelusupkan lidahnya mencumbu prianya itu.

Rasanya asin. Hinata tidak tahu air mata siapa yang ikut tertelan oleh mulutnya. Namun, Hinata bisa merasakan aliran air menuruni tulang pipi pria itu.

Hinata melengguh pelan. Ia menggigit pelan bagian bawah bibir Sasuke, memaksa pria itu untuk menerima ciumannya.

Namun Sasuke masih tetap diam. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, Sasuke seakan tidak berminat.

Hinata menghentikan ciumannya. Kedua matanya yang pucat itu mulai meradang. Tetesan air mata keluar dari pelupuknya.

Hinata menangis. Seluruh wajahnya basah. Entah itu karena air mata ataupun karena keringat dingin yang dari tadi keluar, Hinata sendiri tidak tahu. Bahkan alasan kenapa ia menangis—ia sama sekali tidak mengerti.

"Cium aku, Sasuke."

Sasuke bergeming. Pria itu masih saja diam seakan tidak mengaggap Hinata ada.

Kedua telapak tangan Hinata terangkat meraih rahang Sasuke. Semakin mendekatkan kedua dahi mereka hingga saling bersentuhan. Saling berbagi oksigen yang makin lama makin menipis.

"Cium aku." Hinata mengecup bibirnya singkat, "Cium aku, Sasuke," desahnya pelan.

Tanpa menunggu menit terbuang, Sasuke kembali menabrakkan kedua bibir mereka, membalas setiap ciuman yang Hinata berikan padanya, bahkan memagut dalam bibir gadisnya itu.

Hinata merasa dirinya melemah. Seluruh tenaganya mendadak hilang ketika Sasuke mengambil alih permainan. Namun, sebelum tubuhnya jatuh menghantam kerasnya lantai kamar, kedua tangan Sasuke mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.

Tidak ada hal yang Hinata pikirkan sekarang. Baik itu tentang dirinya, tentang Danzou, ataupun tentang pernyataan yang membuatnya kesal setengah mati. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah pria itu—Sasuke—pria yang sedang berada di atasnya sambil menciumnya dalam.

Decapan demi decapan terdengar keras. Hinata melengguh bahkan mendesah, sedangkan Sasuke yang berada di atas gadis itu mengeram rendah merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.

Sebelah tangannya merayap pelan ke dalam sweater longgar yang Hinata kenakan. Kelima jemarinya menyusuri lekuk perut rata milik gadisnya itu. Telunjuknya terkadang menyusup pelan ke celah karet rok, mengikuti garis pinggul Hinata, lalu bergerak naik menuju dadanya.

"Sasu—tunggu …—" Hinata mendesah pelan, merasakan sebelah tangan Sasuke mengusap bagian tubuhnya yang sensitif.

Ia tidak tahu sejak kapan pakaiannya tersingkap, mengekspos dada polosnya yang tak tertutupi oleh apapun—juga rok pleated yang ia kenakan kini sudah turun hingga pertengahan pahanya. Satu-satunya yang ia tahu adalah gerakan tangan Sasuke yang menyentuh dirinya sampai ke titik yang terdalam.

"Nggh—Sasuke—aku …"

Kedua netra Sasuke menggelap. Gerakannya yang semula lembut dan perlahan mulai terasa kasar. Yang awalnya hanya mengusap-usap pelan dada Hinata kini berani meremasnya. Ia bahkan berani menggesek-gesekkan selangkangannya yang mengeras ke tubuh bagian bawah Hinata.

Hinata merasakan kepalanya pusing. Tubuhnya melayang. Bagian tubuh Sasuke yang mengeras itu menusuk-nusuk pusatnya sekalipun kain penghalang masih menutupi keduanya.

Rasanya aneh. Ia meremas rambut Sasuke setiap kali merasakan miliknya menyentuh milik Sasuke. Namun, belum sampai lima menit, Sasuke mendadak menghentikan gerakannya pada tubuh Hinata.

Pria itu seakan-akan sadar dari mimpinya. Tangannya bergerak cepat menutup kembali pakaian Hinata yang sempat ia berantakan itu. Mulutnya merapal belasan kata maaf pada Hinata. Seakan-akan ia merasa sangat bersalah.

Hinata tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan pria itu. Sedetik pria itu terlihat depresi, di detik kemudian pria itu terbakar nafsu, namun di akhir pria itu malah merapal maaf.

Gadis bersurai indigo itu sesungguhnya tidak mempermasalahkan apapun—bahkan sentuhan Sasuke yang sudah mulai berani—ini bukan yang pertama kalinya, Hinata hanya mengikuti alur. Ia sama sekali tidak menolak. Namun, semuanya terasa kembali rumit ketika Sasuke menunjukkan sikap defensifnya.

"Kenapa? Kau tidak suka?"

Sasuke menggeleng pelan. Sebelah tangan pria itu mengusap pipi Hinata; kedua netranya menatap intens kedua perak gadisnya. "Aku minta maaf … aku—"

"—kenapa? Kenapa kau bicara begitu?" potong Hinata cepat.

"Aku … harus pergi sekarang."

Empat kata itu terucap dengan mudahnya. Membuat atmosfer aneh tercipta di antara mereka.

Sasuke bangkit dari kasur, menyambar jaket kulit dari dalam lemarinya, juga kunci mobil yang terletak di meja.

Hinata hanya diam menatap gerak pria itu yang gusar. Ia duduk di tepian menunggu Sasuke kembali bicara, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Namun pria itu hanya diam. Kedua bola matanya yang hitam pekat itu hanya menatap Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan. Kedua tangannya kembali terangkat meraih rahang kecil Hinata, mengarahkannya ke wajahnya yang jauh lebih tinggi itu, lalu mengecupnya—tepat di dahi.

Setelah itu, Sasuke keluar kamar tanpa mengatakan apapun.

Tidak banyak yang bisa Hinata jelaskan sekarang. Perlakuan Sasuke yang seperti itu membuat hatinya semakin bimbang. Apakah ia memang harus mempercayai pria ini?

Sasuke tidak pernah mengungkapkan kata cinta. Ia tidak pernah. Yang pria itu lakukan hanyalah mencium Hinata, menyentuhnya dengan nafsu. Namun, tak sekali pria itu mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan Hinata.

Ia selalu berpikir bahwa ia tidak bisa tinggal selamanya di sini—di sisi Sasuke. Cepat atau lambat ia harus pergi karena Danzou masih mengejarnya.

Hinata tahu bahwa tidak seharusnya ia percaya pada Sasuke. Kemungkinan bahwa pria itu bisa memanfaatkannya masih terbuka lebar. Tapi, mengingat apa yang sudah Sasuke lakukan untuknya, dan apa yang sudah ia janjikan padanya, membuat Hinata berpikir bahwa ia bisa menaruh harapan kecil pada pria itu.

Dari dulu Hinata selalu sendiri, dan ketika Sasuke datang dengan seluruh afeksinya, membuat Hinata bimbang dan kalut.

Ia ingin percaya tapi ia takut jika pada akhirnya ditinggal sendirian.

Semenjak ayahnya meninggal, kekayaan ayahnya yang melimpah itu disabotase oleh keluarga besar ayahnya. Paman dan bibinya menggunakan kekayaan ayahnya untuk berjudi, minum-minuman keras, lalu menghamburkannya seakan-akan uang itu tidak mungkin habis.

Hinata hanya diam. Ia tidak bisa bersuara. Saat itu umurnya masih lima belas. Ia terlalu polos untuk memperjuangkan apa yang menjadi miliknya. Namun tidak terlalu suci untuk tidak menaruh dendam pada paman dan bibinya itu.

Ia membenci paman dan bibinya. Sangat.

Hingga apa yang ia harapkan selama ini terjadi. Uang itu benar-benar habis. Habis tak bersisa. Paman dan bibinya yang awalnya hidup bergelimang harta itu langsung jatuh miskin. Rumah ayahnya yang besar dan megah itu disita bank karena kedua orang itu tidak sanggup membayar hutang.

Mereka pun pindah. Ke rumah yang lebih kecil, yang lebih sempit, di pinggir kota.

Hinata tidak masalah dengan itu. Ia justru bahagia. Tidak ada judi, tidak ada minuman keras, tidak ada uang yang bisa dihamburkan. Hidupnya tenang. Ia bisa bersekolah dengan santai tanpa ada hambatan.

Sayangnya, tidak—hidupnya terlalu drama untuk diceritakan. Pamannya pecandu judi dan bibinya kecanduan belanja. Mereka berdua mungkin sudah tidak bisa berhutang ke bank. Namun mereka masih punya alternatif lain. Mereka berhutang ke yakuza dengan jaminan Hinata—keponakan mereka sendiri.

Tidak ada yang bisa Hinata lakukan. Tiba-tiba saja Hinata sudah dikurung di sebuah sel bawah tanah yang lembab dan kotor. Danzou tidak pernah mengunjunginya. Sebaliknya, Sai selalu mengunjunginya seminggu sekali sambil membawa alat-alat aneh yang Hinata tidak tahu apa itu namanya.

Alat-alat yang selalu membuat Hinata menangis ketakutan.

Kedua mata Hinata terpejam. Tubuhnya bergetar pelan. Mengingat kilasan-kilasan buruk itu membuatnya ingin menangis.

—DING DONG!

Bunyi bel terdengar keras memekakkan indera pendengaran Hinata. Suaranya yang terdiri atas dua buah melodi itu menggema memenuhi setiap ruang yang ada di rumah. Hinata terhenyak dalam pikirannya, bunyi bel singkat itu benar-benar sukses mengembalikannya ke dunia.

DING DONG!

Lagi. Bel terdengar kedua kalinya. Hinata beranjak dari tempatnya tergesa-gesa menuju pintu rumah. Sambil menarik napas, ia mengembangkan senyumannya. Berusaha mengenyahkan kilasan buruk yang sempat mempengaruhinya.

Sasuke sudah pulang. Pria itu sudah pulang. Hinata tidak perlu takut lagi akan datangnya Sai ataupun Danzou. Hinata percaya bahwa pria itu akan menepati janjinya.

Hinata percaya. Karena ia … mempercayai pria itu.

Langkah kakinya semakin berpacu ketika ia hampir mencapai ambang pintu. Tanpa pikir panjang, Hinata meraih gagang untuk membukakan pintu untuk pria yang ia tunggu-tunggu selama ini. Pintu pun terbuka lebar, menampilkan sosok pria jangkung berdiri di hadapannya sambil memasang segaris senyuman.

Senyuman yang mirip seringaian.

Hinata membeku. Orang itu bukan Sasuke. Hinata tidak mengenalnya.

"Ada apa, Hinata? Kau kecewa kalau aku bukan Sasuke?"

Hinata mundur selangkah. Ia benar-benar lupa bahwa tidak ada orang yang akan memencet bel ketika masuk rumahnya sendiri.

"Kau tahu? Aku tidak menyangka akan semudah ini menangkapmu. Kau pasti juga tidak menyangka 'kan?"

Tidak ada yang tahu dan bakal mengira bahwa seseorang yang bahkan paling dekat denganmu adalah musuh terbesarmu.

Sasuke termakan umpan. Suigetsu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

Hinata. Dan uangnya, tentu saja.


.

.

.


Sasuke membanting pintu mobilnya dengan kasar ketika kedua kakinya telah menapaki tempat yang selama ini ia tuju. Sebuah gedung tua bekas pabrik pengeringan ikan yang berjarak lima kota dari rumahnya.

Langit sudah gelap. Titik-titik redup bintang dan bulatan besar bulan sudah menghiasi langit malam. Sasuke mengumpat keras. Kenyataan bahwa ia menghabiskan hampir seluruh siang dan sorenya berkendara untuk sampai ke tempat ini benar-benar membuat amarahnya semakin menjadi.

Kedua kakinya yang bersepatu boots kulit tebal itu melangkah ke bagian belakang mobil, membuka bagasinya, lalu mengambil sebuah senapan panjang yang sering ia gunakan setiap kali melaksanakan misi. Tak lupa juga Sasuke juga membawa peluru cadangan yang cukup banyak dalam saku bajunya.

Sasuke tidak mau kehabisan amunisi. Ia benci pertarungan jarak dekat.

Sasuke memasuki gedung itu setelah yakin persediaan senjatanya lengkap. Suara pelan ketukan sepatunya serta derik pintu karatan itu sempat memecah suara hening yang memenuhi pabrik. Sasuke tetap mempertahankan sikap tenangnya. Ia mulai mempersiapkan senapannya tepat di depan dada, berjaga-jaga apabila menemukan hal yang mampu mengancam keselamatannya.

Orang yang mengarahkannya ke tempat ini tidak mungkin membunuhnya begitu saja. Sasuke yakin itu, dia—orang itu—hanya berniat menunjukkan eksistensi—identitasnya—atau bisa dikatakan, hanya ingin memberikan salam pembuka yang sopan.

Kalaupun seandainya, orang itu memang ingin membunuh Sasuke—tidak … Sasuke yakin ia tidak akan mati konyol. Ia akan membunuh orang itu sebelum ia membunuh dirinya.

Gedung ini terdiri dari tiga lantai. Lantai paling dasarnya mirip seperti aula besar tanpa plafon. Lantai dua dan tiga hanya dibatasi pagar besi reyot yang karatan. Tidak memiliki sekat alas antara masing-masing lantai. Dari sini, Sasuke bisa melihat bagaimana keadaan tiap-tiap lantai, bahkan kerangka asbes yang menjadi atap pabrik pun terlihat jelas tanpa penghalang.

Kardus-kardus tua serta mesin-mesin berat untuk mengeringkan ikan berserakan di tiap-tiap lantai pabrik. Beberapa ada yang bisa dilihat wujudnya, namun tidak memungkiri banyak yang tidak terlihat bagaimana bentuk dan jenisnya apa. Entah karena tertutup bayangan gelap ruangan, ataupun memang sudah rusak karena umur.

Wangi lembab yang bercampur besi berkarat menyeruak memenuhi indera penciuman Sasuke. Sesekali bau anyir darah juga muncul seakan menakut-takuti Sasuke untuk mundur. Sasuke masih melangkahkan kedua kakinya dengan mantap. Bebauan kotor seperti ini jelas tidak akan membuatnya pulang ke rumah begitu saja.

Derik asbes yang menjadi atap serta cicitan kecil hewan-hewan pengerat sesekali terdengar oleh telinga. Selain langkah pelan Sasuke, tidak ada lagi suara yang sejenis.

Sekilas ia tampak sendirian di bangunan tua ini tapi Sasuke tidak sebodoh itu. Ia sadar akan keberadaan lima orang yang bersembunyi di balik mesin-mesin tua di belakang ruang sana, dekat dengan pintu keluar gedung. Tak ingin menghilangkan kesempatan, Sasuke menarik pelatuk senapannya, melepaskan peluru yang ada dalam longsongannya untuk membunuh lima ekor pengganggu itu.

Peluru dilepaskan. Wangi mesiu serta ledakan lepas ke udara, bercampur dengan bau kotor milik gedung. Sasuke mendecih. Lima dari tujuh peluru yang ia buang berhasil membunuh mereka semua.

Namun di sisi lain, hujaman peluru milik lawan mulai menjatuhi dirinya. Berbekal refleksnya yang cepat, Sasuke menarik diri, bersembunyi di belakang mesin tua yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

Sebuah celah yang cukup besar ada di beberapa sisi dari mesin tua tempat Sasuke bersembunyi. Sasuke jelas mengetahui keberadaan celah-celah itu, dan dia tidak cukup bodoh untuk menyia-nyiakannya. Tanpa pikir panjang serta perhitungan rumit, Sasuke memasukkan ujung senapannya ke dalam celah itu, lalu menembakkan peluru yang masih tersisa.

Bunyi aduan peluru serta kecipak organ tubuh yang pecah saling sahut menyahut. Sasuke masih berdiam di tempatnya. Sesekali ia berhenti menembak, menarik senapannya ke dalam dekapan, lalu melirikkan matanya ke celah-celah kecil untuk memeriksa keadaan.

Tembakan berhenti beberapa detik kemudian. Sasuke juga menarik dirinya—senapannya—lagi, tapi ia masih enggan untuk keluar dari tempat persembunyiaannya selama ini. Ia tidak cukup bodoh untuk menunjukkan dirinya. Yang benar saja.

Ketukan panofel jelas terdengar setelahnya. Tembakan benar-benar berhenti. Decit tikus ataupun derik asbes yang sempat menjadi latar suara itu benar-benar menghilang seakan ketakutan akan ketukan pantofel itu.

Sasuke berusaha menormalkan deru napasnya; acara tembak menembak tadi jelas sangat menguras tenaga dan emosinya saat ini. Masih tidak mau mengambil resiko, Sasuke mengambil sebuah cermin kecil dari dalam saku jaket kulitnya, meletakkan beda segi empat itu ke lantai, untuk melihat siapa dalang di balik ini semua.

Orang itu masih berjalan. Sasuke bisa melihat refleksi bayangan kakinya yang terpantul di cermin. Dalam langkahnya yang ke berapa, orang itu berjongkok, menundukkan kepalanya, memperlihatkan wajah polosnya yang tanpa kedok.

Sai. Tangan kanan Danzou. Benar sekali.

"Menikmati bayanganku, Sas—"

—PRANG!

Cermin dalam tangan Sasuke pecah seketika. Sai menembakkan pelurunya menuju benda datar itu dalam sekali tembakan cepat. Serpihan-serpihan tajam yang menyusunnya tersebar kemana-mana. Sasuke mendecih pelan ketika menyadari telapak tangannya tergores cukup dalam.

"Keluarlah, aku tidak akan membunuhmu … kuyakin kau tahu akan hal ini, bukan?"

Sasuke tetap berada di tempatnya. Ia bukanlah orang naif yang langsung mempercayai kata-kata dari mulut ular itu.

Sai dibesarkan oleh bajingan sejak kecil. Jelas, dia memiliki perangai licik mirip seperti induknya. Bahkan dalam bertarung satu lawan satu pun dia tidak segan mengotori harga dirinya hanya untuk sebuah kemenangan.

"Oh ayolah, jangan merajuk seperti perawan, Sas. Itu tidak lucu … " Sai menjedah sambil mengisi amunisi dalam senapannya. Bunyi aduan logam yang menjadi badan senjata api milik Sai itu menggema memenuhi ruang. Sai terkekeh pelan, ia mengangkat revolvernya mengarah ke tempat persembunyian Sasuke. "Kau tahu? Aku sangat merindukanmu, Man."

Sasuke menahan napasnya sebentar, dadanya naik turun tidak karuan karena menahan perih yang menjalar di tangannya. Beberapa serpihan kaca masih menancap di telapaknya. Cairan kental darah mulai mengalir dari sana. Sasuke semakin merapatkan tubuhnya ke mesin tua yang selama ini menjadi tempat persembunyian. Sesekali ia melirik ke celah untuk mencuri-curi pandang keberadaan Sai. Namun nihil, ia tidak melihat apapun kecuali bayangan gelapnya yang tertangkap lantai.

Sai menarik pelatuknya lagi. Timah panas itu menyasar ke lantai secara acak. Beberapa dari mereka ada yang terpental dari lantai sampai nyaris mengenai Sasuke. Sai benar-benar menggodanya sekarang.

"Keluarlah, aku tahu kau pembicara yang baik. Kita bicarakan sekarang juga mengenai dirimu …"

"… juga perempuan itu—Hinata—mungkin? Aku tahu kau menyukainya."

Sasuke tercekat ketika enam huruf itu terucap. Caranya dalam mengucapkan nama Hinata itu benar-benar membuat amarah Sasuke semakin memanas sampai ke ubun-ubun.

Sasuke mengeratkan senapannya, bersiap untuk menembakkan minimal satu peluru ke otak bajingan itu. Namun sebelum ia bereaksi lebih banyak, sebuah peluru menyasar duluan di lengan kirinya yang saat itu berada di pinggir mesin.

"Keluarlah sekarang, aku bosan jika harus menunggumu sampai pagi tiba."

Bunyi kelontang revolver yang jatuh pun terdengar di telinga Sasuke. Aduan logam dengan lantai itupun diikuti oleh aduan-aduan lain yang sejenis. Senjata sudah ditanggalkan. Sai terkekeh pelan ketika berhasil menarik musuhnya keluar dari balik tempurungnya.

"Kau masih tidak mempercayaiku? Ayolah, Sas, sejak kapan pencabut nyawa sepertimu jadi seperti ini?—"

"—diam, bajingan! Apa aku harus melubangi mulut berisikmu itu dengan pacarku ini?" potong Sasuke cepat. Senapan laras panjang yang dari tadi berada di dekapannya kini sudah mengacung tepat ke hidung Sai, bersiap untuk memuntahkan pelurunya. "Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu kali ini? Pak tua itu lagi? Aku sudah menyelesaikan misinya—apalagi yang dia minta, huh?"

"Pak tua itu? Oh astaga, Sas, kau bahkan tidak tahu dia sekarang sedang apa—bercinta seharian tanpa sadar salah satu pelacurnya kabur—dan lagi, turunkan senjatamu itu, kau menakut-nakutiku."

"Menurunkan senjata? Yang benar saja, kau pasti berniat untuk melubangi kepalaku sekarang, bukan?" Sasuke terkekeh sejenak sambil meregangkan lehernya yang mulai kaku, "Kau pikir aku tidak tahu, apa yang tikus-tikusmu lakukan di belakangku? Arah jam tujuh, lantai dua, dia memakai senjata keluaran terbaru, huh? Aku iri sekali."

"Kau tahu? Sikapmu yang seperti anak kecil itu selalu membuatku jatuh cinta … jika kau wanita, aku pasti memilih untuk menyetubuhimu sekarang dibanding harus menghabisimu—lagipula, bukan Pak Tua itu yang harusnya kau khawatirkan sekarang—"

"—siapa? Kau? Sebaiknya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri … sebentar lagi peluruku ini akan menyasar otak bodohmu itu."

Sai terbahak keras mendengar ucapan Sasuke yang mirip sekali dengan rengekan anak kecil di telinganya. Ia membungkukkan tubuhnya, menahan sakit di perut akibat tawa kerasnya itu. Sambil menyeka setitik air mata di pelupuknya, Sai mendesah pelan. "Aku? Mengkhawatirkan nyawaku sendiri? Lucu sekali, seharusnya kau pertanyakan lagi otak jeniusmu itu … bukan aku yang seharusnya merasa khawatir di sini. Justru kau …"

Sasuke terdiam. Ucapan Sai barusan benar-benar menampar seluruh retorikanya barusan.

Napasnya tercekat. Gelenyar perasaan aneh mulai merebak memenuhi perasaannya. Sasuke berusaha mengendalikan perasaannya sekarang.

"Katakan padaku … apa yang sedang terjadi berengsek?!"

"Kau masih bertanya? Aku jadi mempertanyakan kejeniusanmu itu … kau ini berpura-pura bodoh atau apa—"

"—katakan saja sekarang! Atau aku akan—"

"—Hinata, perempuanmu—ah salah, dia milikku dari awal—"

DORR!

Sasuke menembakkan pelurunya. Timah panas itu melesat ke lantai nyaris mengenai kaki Sai.

Sai sempat terperanjat akan serangan mendadak itu. Bunyi senapan yang diangkat untuk membidik mulai terdengar serentak. Tikus-tikusnya mulai menyasar Sasuke sekarang. Namun sebelum hujan peluru itu jatuh, Sai menghentikan mereka semua hanya dengan mengangkat sebelah tangannya.

"Dengar … daripada mengkhawatirkanku, sebaiknya kau pulang dan memeriksa rumahmu …" Sai mendecih ketika melihat pinggiran sol sepatunya rusak akibat ditembak Sasuke tadi, "Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku, dan musuhmu yang sebenarnya adalah temanmu sendiri. Danzou tidak ada hubungannya dalam kasus ini—atau lebih tepatnya, belum saatnya."

"Tunggu … apa yang kau maksud—teman? Musuh? Kau—"

Satu kabel syaraf yang ada dalam otak Sasuke seakan tersambung menjawab seluruh pertanyaannya selama ini. Suigetsu, orang yang selama ini ia percayai masalah kehidupannya, benar-benar menjelma menjadi musuh dalam selimutnya.

"Suigetsu … dia—"

"Benar sekali, sepertinya kau belum menyadari ini, bukan? Hinata sekarang sudah berada di tanganku."

DORR!

Sebuah peluru melesat ke kaki kanan Sai. Sai terjatuh seketika. Sasuke langsung menengok bagian belakangnya karena sadar peluru itu bukan miliknya.

Ya. Bukan miliknya sama sekali.

Puluhan orang menyeruak memasuki pabrik tua yang mereka tempati saat ini. Seorang pria jangkung berumur paruh baya berjalan pelan memasuki gedung tua itu. Rambut platinanya terlihat mengkilap ditempa sinar redup lampu pabrik. Masker serta penutup mata trademark-nya terlihat sempurna melekat ketat di wajahnya yang proporsional itu.

Sasuke mengumpat keras dalam hatinya. Ia tahu siapa pria tua yang baru saja memasuki gedung ini.

Hatake kakashi, salah satu agen FBI yang mengincarnya selama ini.

"Turunkan seluruh senjata kalian. Gedung ini sudah dikepung, kalian tidak—"

DOR! DOR! DOR!

Hujan peluru turun dari lantai dua dan tiga. Massa yang Sai bawa bergerak lebih cepat daripada massa yang Kakashi bawa.

Bunyi riuh pun mulai terdengar memenuhi seisi gedung. Baku tembak antara pihak FBI yang bergabung dengan kepolisian dan massa yang Sai bawa tidak bisa dihindari lagi. Sasuke mengeraskan rahangnya, ia benar-benar kesal dengan keadaan yang membelitnya sekarang.

Sai sudah menghilang entah sejak kapan. Pasti salah satu tikusnya membawa pria congkak itu untuk kabur duluan mengingat kakinya tadi menjadi sasaran tembak. Sasuke tidak mau ambil pusing akan keberadaan pria itu. Ia lebih memilih memanfaatkan keadaan yang ada untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Beruntung ia memarkirkan mobilnya beberapa puluh meter jauhnya dari gedung ini. Jadi, ia tidak perlu pusing-pusing memikirkan keberadaan kendaraannya yang bakal diderek oleh kepolisian.

Tak ingin membuang waktu lebih lama, Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang ada di belakang gedung. Namun sebelum ia benar-benar berhasil pergi, Kakashi keburu menangkap presensinya yang berusaha untuk kabur. Alhasil, pria paruh baya itu meninggalkan medan dan beralih mengejar Sasuke.

Sasuke terus memacu kakinya. Ia mengabaikan seluruh rasa sakit yang menyebar di lengan kirinya yang sempat kena tembak—hasil kerja Sai tadi. Namun kenyataan bahwa Kakashi telah menangkap basah dirinya tidak bisa ia pungkiri. Mau tidak mau ia harus main kejar-kejaran seperti Tom dan Jerry bersama bajingan tua itu.

Sebuah lorong panjang berada di depannya. Cahayanya redup karea lampu neon yang berada di plafon berkedip-kedip tanda mau mati. Beberapa kardus lapuk serta barang-barang tidak jelas berdiri kanan kiri lorong tersebut. Sasuke pun menjatuhkan secara acak benda yang memenuhi jalan lorong itu. Setidaknya langkah panjang pria itu sedikit terhambat. Begitu pikir Sasuke.

Tapi pria itu …. Tidak sama sekali. Pria tua itu … semangat sekali mengejar Sasuke. Benar-benar tidak tahu umur.

Kakashi mendecih keras ketika menyadari pintu keluar berada tak jauh dari hadapannya sekarang. Sasuke semakin meningkatkan kecepatan larinya dan dirinya yang tua ini semakin tertingal. Ia pun memilih mengambil pistolnya yang berada dalam saku mantelnya, membidik bocah tengik yang selama ini menjadi buronannya selama sepuluh tahun terakhir, dan melepaskan timahnya ke punggung Sasuke. Tepat di bagian belakang jantungnya.

Peluru itu meleset. Timah panas yang seharusnya menyarang ke jantung Sasuke justru mengoyak bagian bawah abdomennya.

Sasuke agak terhuyung ketika mendapati serangan itu. Namun ia tidak memiliki waktu untuk berhenti. Sambil berusaha mengenyahkan rasa sakit di dalam tubuhnya, ia terus memacu kakinya pergi melarikan diri.


.

.

.

.

.


Kamis, 10 Mei 2018, written by KanaLKentangky


An/

It has been a long time. Maaf aku baru bisa update walaupun aku ngga begitu sibuk—ngga juga sih, aku bolak-balik kesana-kemari ngurusin daftar ulang univ. juga ngajarin temen-temenku yang sbm. Rasanya susah untuk fokus ketika suasana lg hectic

Untuk the falling flower maaf ya kalau aku blm bisa ngasih berita baik. Cerita itu too damn hard to be written. Aku mulai lupa alur juga feel untuk nulis. Tapi aku usahain untuk nyelesein cerita itu sampai end. Cuma ga tau kapan. Doain aja ngga ada angin ngga ada ujan aku up. Haha

Thanks udah mau baca. Aku senang sekali.

Pertanyaan hari ini

Apa hubungan Kakashi sama Sasuke

a. Bapak-anak

b. stranger

c. polisi-buron

kirim jawabannya di review! siapa tau bener terus aku update cepet. hehe

Ada bagian yang kalian suka?