Danzo menyerngit saat melihat Genma mendatanginya sambil terengah-engah. Lalu ia baru teringat, sudah tidak ada lagi polisi resmi di Desa Konoha, tapi Genma yang sering membantu kepolisian masih ada disini. Berarti dengan tidak adanya Uchiha, Si Genma ini yang secara tidak langsung dipikuli tanggungjawab, kan?
"Ada apa?" tanya Kades dingin.
Pemuda yang umurnya tidak jauh lebih tua dari Itachi itu tampak berusaha mengatur nafas sebelum menjawab. "I-itu! Pak Ibiki! Di Pak Ibiki ada tiga bekas gigitan!"
Rahang Danzo mengeras. Ia tahu bahwa vampir masih berkeliaran di Konoha, tahu bahwa orang-orang yang ia penggal bukanlah pelaku. Tapi, tiga? Kemarin-kemarin hanya ada dua bekas gigitan, kenapa sekarang tiga? Berarti pelakunya benar bertiga? Atau sebenarnya mereka hanya berdua tapi membuat tanda gigitan ketiga untuk membuatnya bingung?
Tapi, lagi, Ibiki? Dua malam lalu ia hanya punya tanda gigitan sebanyak dua, dan orang itu masih hidup. Berarti malam kemarin ia dapat gigitan tambahan?
"Baiklah, panggil Ibiki, aku mau dengar kesaksiannya," ujar Danzo.
"Mau panggil bagaimana?!" dengus Genma. "Pak Ibiki sudah tewas, tuh!"
.
.
Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto, fanfiksi ini terinspirasi dari permainan 'Werewolf' (atau 'Mafia') yang diperkenalkan oleh Dmitry Davidoff pada tahun 1986. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: AU, OOC, typo(s).
.
The Vampire Game
Penemuan Besar
by Fei Mei
.
.
Sudah tidak ada dokter maupun polisi resmi, dan warga Konoha yang masih bertahan dalam desa mungkin tidak sampai lima belas orang. Entah masih ada yang berniat untuk mengungsi di Suna seperti kebanyakan atau tidak. Udon tahu, orang-orang yang masih ingin tetap tinggal disini kemungkinan adalah orang-orang yang ingin mempertahankan kedudukannya di desa, menyatakan bahwa mereka memang orang penting di Konoha.
Seperti, yang terutama, Tuan Danzo. Jelaslah, dia sebegitunya ingin jadi Kepala Desa. Tanpa tahu apa yang menjadi dalang dari kasus yang menimpa desa, ia ingin mempertahankan jabatan yang akhirnya ia idamkan.
Untuk Nyonya Tsunade, mungkin bukan karena ingin mempertahankan kedudukan, melainkan karena tidak ingin menyerahkan sepenuhnya desa kecil yang dirintis sang kakek ini pada Tuan Danzo.
Kak Neji adalah satu-satunya orang Hyuuga yang masih tinggal. Orang keluarga Hyuuga lainnya sudah minggat ke Suna, ikut kloter kedua, sejak Kak Hinata memutuskan untuk menyusul Kak Kiba ke alam baka. Tapi Kak Neji tetap tinggal di Konoha, sepertinya karena ingin memastikan rumah besar Hyuuga masih bisa dihuni lagi setelah kasus selesai.
Udon paling bersyukur pada fakta Paman Teuchi tidak ikut mengungsi keluar Konoha. Sepertinya pemilik kedai terbesar di Konoha itu juga tidak rela meninggalkan usahanya disini, dan kalau buka usaha di luar Konoha pasti akan sulit. Dan bagi Udon yang orangtuanya telah ikut mengungsi saat kloter kedua, keberadaan Paman Teuchi itu baik, karena ia bisa beli makanan disana kalau-kalau Bibi Kurenai sedang tidak masak.
Udon sendiri tidak mau keluar dari Konoha, tidak ketika satu-satunya sahabat yang tersisa sedang kehilangan. Konohamaru itu, sudah kehilangan orangtuanya saat kecil, lalu kakeknya, kemudian pamannya. Anak-anak Kades Ketiga lainnya tidak ada di Konoha, dan entah mereka tahu tentang kasus vampir atau tidak. Yang pasti, kalau sudah tidak ada Bibi Kurenai, sahabat Udon itu tertinggal seorang diri. Dan sebagai sahabat yang baik, Udon ingin tetap di sisi Konohamaru—toh, mereka telah sama-sama kehilangan sahabat yang lain yakni Moegi. Hitung-hitung mungkin mereka bisa saling menghibur satu sama lain.
Keluarga yang masih utuh yang tetap tinggal di Desa Konoha adalah Keluarga Akimichi, yang terdiri dari tiga orang: Kak Chouji, Paman Chouza, dan ibunya Kak Chouji yang Udon tidak pernah ingat siapa namanya. Ketiga Akimichi itu saat ini sedang diinterogasi Tuan Danzo. Dan jika tebakan Udon benar, ketiganya akan dipenggal sore ini.
"Salah mereka apa, sih?" dengus Konohamaru di sampingnya.
Udon mengangkat bahu. "Tahu, tuh. Tiba-tiba aku melihat Paman Genma mengiring mereka bertiga ke Tuan Danzo."
"Kemarin, kupikir Paman Ibiki bakal jadi vampir, kan, sudah kena gigit," ujar Konohamaru serius.
"Aku sempat kepikiran begitu juga," gumam Udon. "Oh, aku pernah baca. Katanya kalau tubuhnya menolak, maka daripada berubah jadi vampir, orang itu akan mati!"
"Udon, Paman Ibiki mati setelah ada tiga gigitan, jadi dia bukan mati karena tubuhnya menolak perubahan itu!" sanggah sobatnya.
Lalu ada suara dehaman. Bukan dari kedua anak laki-laki ini, melainkan dari Nyonya Tsunade. "Kalian ini, kata 'mati' itu untuk hewan, sedangkan untuk manusia lebih tepat pakai 'meninggal', paham?"
"E—eh, iya, paham," kedua anak itu jawab bersamaan.
"Nenek Tsunade, kenapa Paman Chouza dicurigai?" tanya Konohamaru.
"Oh, itu, alasan yang tidak masuk akal, seperti biasa," jawab Nyonya Tsunade enteng sambil menghela. "Keluarga Akimichi itu hobi makan semua. Aku tidak tahu apa yang mereka makan semalam, tapi yang pasti Danzo tidak sengaja dengar bahwa ketiganya melenguh dan berkata mereka kenyang. Aku tidak paham juga bagaimana ceritanya, tapi sepertinya Danzo berpikir mereka bertiga kenyang karena minum darah Ibiki semalam."
"Oh, jadi Tuan Danzo mengait-ngaitkan saja, ya?" tanya Udon.
Nyonya Tsunade mengangguk. "Biasalah. Kalau dikaitkan begitu ya bisa saja, tapi tidak pernah ada bukti pasti, kan? Bisa-bisa ada pemenggalan orang tak bersalah lagi."
Perkataan wanita itu bagaikan ramalan yang tepat. Memang, di sore itu, Tuan Danzo memenggal kepala ketiga orang dari keluarga Akimichi. Udon tidak menyaksikan benar-benar dari awal sampai akhir, sih, tapi ia sempat lihat bagaimana ketiga sekeluarga itu bergandengan tangan sambil berlutut dan menunduk, seakan siap menghadapi maut bersama-sama. Keluarga Akimichi memang terkenal sebagai keluarga harmonis sih, jadi walau tidak dekat dengan Kak Chouji atau orangtuanya, Udon merasa sayang kalau harus kehilangan mereka gara-gara Tuan Danzo.
Masalahnya, Pak Kades salah penggal orang lagi. Korban terparah, jika Kades Sarutobi tidak dihitung, adalah malam itu.
Bukan ingin bilang bahwa berharap Keluarga Akimichi adalah vampir sehingga harusnya desa aman setelah ketiganya dipenggal, tapi hati Udon mencelos saat melihat wajah pucat Konohamaru yang datang menjemputnya pagi itu. Kuharap bukan Bibi Kurenai, pikir Udon, Kasihan Konohamaru kalau Bibi Kurenai jadi korban juga.
"Siapa?" tanya Udon tanpa basa-basi. Yah, setidaknya ia tahu tidak mungkin orangtuanya yang jadi korban, karena mereka sudah aman di Desa Suna.
"Nenek Tsunade!" jawab Konohamaru dengan suara agak tersendat.
Hati Udon mencelos. Ia tidak dekat sama sekali dengan Nyonya Tsunade, tapi kehilangan beliau akan memberi dampak besar untuk Desa Konoha. Jika seluruh warga desa yang masih hidup tetap ada disini, acara perkabungan pasti dihadiri semua warga. Jelaslah, Nyonya Tsunade bukan hanya cucu Kades Pertama, tapi juga dokter terbaik yang pernah dimiliki Desa Konoha. Dokter Shizune, Dokter Sakura, dan Dokter Ino adalah murid langsung Nyonya Tsunade. Setelah Dokter Sakura dan Dokter Ino, sudah tidak ada lagi dokter atau ahli medis di desa ini. Yang tersisa, yah, orang yang mau tidak mau harus paham tentang pertolongan pertama, seperti Paman Genma yang walau tidak resmi tapi tetap bagian dari petugas keamanan desa.
"Kita tinggal bertujuh sekarang," keluh Kak Neji. "Di Suna atau desa tetangga lain memang masih ada banyak warga Konoha. Tapi kita tinggal bertujuh."
Tuan Danzo menggeleng. "Tiga dari kalian berenam," ujarnya, sambil menunjuk Kak Neji, Bibi Kurenai, Konohamaru, Udon, Pak Teuchi, dan Paman Genma, "adalah pelaku."
"Begini, ya," ucap Bibi Kurenai. "Iya, paham, ada pelaku di antara kita. Tapi, begini. Dari awal Anda begitu yakin bahwa pelakunya adalah salah satu dari kami. Dengan seenak jidat Anda memenggal kepala orang-orang tak bersalah. Sekarang, mana buktinya kalau bukan Anda yang menyedot habis darah para korban, hah?"
"Kalau aku adalah vampir, dari awal aku tidak akan memperbolehkan warga mengungsi keluar dari desa," dengus Kades.
"Ah, Anda memang tidak memperbolehkan, kok," Paman Genma mendengus balik, "Pak Kizashi dan Pak Hiashi masing-masing membawa rombongan mereka tanpa mempedulikan izin dari Anda. Pak Kizashi hanya perlu izin dari Itachi, Pak Hiashi dari Sasuke. Soalnya, kalau benar tunggu izin dari Anda, mungkin ketika semua sudah tewas, barulah Anda izinkan."
Udon mengangguk-angguk.
"Saya bosan kalau harus terima pasrah keputusan Anda terus-menerus," ujar Kak Neji. "Hinata mungkin meninggal karena bunuh diri, tapi itu juga gara-gara Anda memenggal kepala kekasihnya. Jadi kalau saya, saat ini saya akan menunjuk Anda saja, Tuan Danzo."
Tuan Danzo meludah. "Sembarangan, kau!"
"Saya juga menunjuk Anda, Pak Tua," kata Konohamaru. "Bukan karena yakin Anda pelaku, tapi karena sepertinya Anda tampak senang saat kakek saya tewas."
Udon mengangguk. "Hari ini pun, setelah Nyonya Tsunade tewas, Anda tampak ceria."
"Yah, itu pasti karena jika desa kembali pulih, maka Anda bisa jadi penguasa nomor satu disini," kata Paman Genma.
"Kita bertujuh," ulang Kak Neji. "Sekarang sudah empat orang menunjuk Anda. Siapa pun yang akan ditunjuk Bu Kurenai dan Pak Teuchi, jari yang menunjuk Anda tetap yang terbanyak."
"Siapa—siapa, yang berani memenggal kepalaku, hah?!" tantang Kades.
"Bareng-bareng saja," gumam Bibi Kurenai. "Tapi aku hanya akan bantu sediakan alatnya saja, tidak mau ikut memenggalnya atau menontonnya."
Sempat Udon menyerngit, tapi kemudian ia paham ketika bibi sahabatnya mengelus lembut perutnya yang mulai membuncit. Astaga, agak lupa bahwa Bibi Kurenai sedang hamil!
"Kalian, kalau aku tidak ada, siapa yang nanti memimpin desa, hah?!"
Paman Genma mengangkat bahu. "Yang pasti yang lebih bijak dari Anda. Kalau mau bicara soal umur, Pak Hyuuga Hiashi pun boleh."
"Oke, jadi setuju, ya, hari ini Kades saja yang dihukum?" tanya Kak Neji mengonfirmasi. Toh, memang dari mereka berenam, tampaknya yang paling ingin mengenyahkan Tuan Danzo karena pemenggalan yang ia lakukan adalah Kak Neji.
.
.
Malam itu, Teuchi menghembus nafas berat, entah sudah yang keberapa kali. Ia tidak membenci Tuan Danzo. Memang benar Kades Keempat adalah orang yang menyebalkan, benar bahwa Teuchi agak lega karena Tuan Danzo tidak akan memenggal kepala orang sembarangan lagi, tapi ia pun tahu bahwa beliau bukanlah pelaku. Dengan kata lain, pelaku ada di antara Neji dan Genma, kan?
Teuchi pikir, Udon dan Konohamaru tidak mungkin vampir. Mereka masih kecil. Tuan Danzo berlebihan, ia mencurigai semua orang termasuk anak kecil. Kurenai pun, walau orang dewasa, juga tidak mungkin jadi pelaku—masa iya ia dia membunuh suaminya sendiri?
Panjang umur.
Pemilik kedai terbesar di Konoha itu melihat Kurenai berjalan seorang diri. Tidak tahu mau kemana, tapi tampak ia akan menepi ke kedainya. Iya, Teuchi tetap ngotot untuk tetap membuka kedai di malam hari.
"Lho, Pak Teuchi buka kedai?" ucap Kurenai dengan terkejut.
"Yah, habisnya kalau tidak, bingung juga malam-malam mau apa, hahahah," jawab Teuchi. "Kau sendiri, jalan malam-malam, sendirian, tidak takut kena serang?"
Kurenai terkekeh. "Jelas takut. Makanya daritadi saya sambil melihat sekeliling, biar kalau melihat orang yang matanya menyala merah, saya bisa langsung kabur."
Teuchi mengangguk. "Kau mau masuk dan minum? Sejak kasus vampir ini, setidaknya aku punya dua resep minuman baru. Yang sudah coba baru Itachi dan Sasuke. Kau mau coba? Ini tidak pakai alkohol, jadi harusnya ibu hamil pun aman."
"Boleh, lah."
Jadi Teuchi meramu minuman sesuai resepnya, dituangnya ke dua gelas, salah satu disodorkan pada wanita itu. "Ayo bersulang dulu, untuk mereka yang tak bersalah tapi menjadi korban."
Kurenai mengangguk dan mengangkat gelasnya. "Terutama untuk suamiku," gumamnya. Wanita itu mulai menyeruput minumannya, lalu menyerngit. "Ini, ada daun-daun biru apa?"
"Ah, itu, kelopak teratai biru. Bunga yang cantik sekali, aku menemukannya bulan lalu di Desa Ame. Kujadikan kelopaknya hiasan di minumanku ini."
Wanita itu mengangguk lagi dan minum lebih banyak, bahkan minta tambah. Dengan senang hati Teuchi mengabulkannya.
Ketika sudah tambahan gelas keenam, Teuchi baru menyadari sesuatu. Perut Kurenai. Tunggu, kabar wanita ini hamil memang bukan rahasia lagi, ia pun tahu. Tapi, bukankah belum sampai sebulan? Kenapa perutnya sudah sebuncit itu? Buncitnya bukan seperti sudah mau lahiran, sih, tapi tetap saja, aneh. Tidak mungkin karena minumannya, kan? Saat ia datang untuk minum, perutnya memang sudah seperti itu, kan?
"Anu, Kurenai, kau hamil berapa minggu?" tanya Teuchi.
"Hm? Waaah, aku tidak ingat, mungkin sudah dua minggu?" tanya Kurenai enteng.
Itu jelas bukan reaksi yang Teuchi harapkan. Wanita yang sedang minum bersamanya ini tampak ... sedang mabuk. Tunggu, tunggu, bulan lalu Teuchi mengambil bunga teratai biru itu, seingatnya penduduk setempat benar bilang bahwa bunga ini tidak beracun atau pun mengandung alkohol. Jadi Kurenai ini kenapa?
"Kau yakin baru dua minggu? Itu tampak seperti tiga bulan."
"Eh, iya?" Kurenai mengerjap-ngerjap. "Mungkin karena ayahnya bukan manusia."
"Maaf?"
Kurenai meneguk minumannya lagi. "Sasori itu vampir, bukan manusia, jadi mungkin mengandung anak vampir itu beda dengan mengandung anak manusia."
"Kurenai, apa yang kau katakan?!"
Wanita itu tetap berwajah tenang sambil tersenyum kecil. "Aku tidak salah, kan? Kita semua tahu Sasori vampir, kenapa kau kaget?"
"Bukan itu—tentang kandunganmu, Kurenai! Kau bilang kau mengandung anak vampir?!"
"Ah, ya, anak Sasori, heh," Kurenai minum lagi, kemudian mengeluarkan sendawa kecil, "Malam itu, Sasori datang dan menginap di rumah kami. Aku masuk kamar tamu, mengantar selimut tambahan, dan ia mengajak tidur disana. Aku tidak kuasa menolak pesonanya. Sambil kami di ranjang, dia menggigitku. Sakit sekali, tapi aku merasa lahir kembali. Heh—"
"K-kau—"
.
.
"Lama sekali," dengus Sasori sambil bersandar di pinggir jembatan.
"Kau gigit berapa orang di Konoha?"tanya Konan.
"Tiga," jawab Sasori, disambut serngitan Konan. "Yang satu memang ada di ruangan. Yang kedua tidak sengaja masuk. Yang ketiga entah jenius atau apa bisa tahu aku apa dalam sekilas pandang lalu datang sendiri padaku."
"Enak sekali mereka bertiga," dengus Konan. "Di Ame, aku harus berjuang sendiri."
Sasori menyengir. "Sendiri, dan berhasil menghabisi desa itu tidak sampai seminggu." Lalu Sang Alpha mendengus. "Mereka bertiga, dan ini sudah mau dua minggu."
"Mau tetap tunggu disini atau jalan duluan?"
"Kau ke Suna saja duluan, aku sudah bilang ketiga Beta-ku yang baru itu bahwa aku akan tunggu disini," ujar Sasori. "Sampai di Suna, saat tengah malam, kau akan tahu siapa-siapa saja yang anggota Pack-ku."
Konan mengangguk dan pergi.
...
...
.
.
Tough Guy: Tetap hidup di walau sudah jadi target. Kedua kali menjadi target barulah tewas.
.
.
Bersambung
.
.
A/N: Danzo yang dipenggal itu agak di luar rencana, harusnya dia dipenggal di chapter terakhir alias chapter depan, bukannya sekarang. Tapi kayaknya dia enak banget, orang-orang udah sedikit dan dia masih dibiarkan penggal kepala orang. Yasudahlah, begini aja.
Tentang teratai biru, di salah satu situs yang Fei baca katanya memang punya efek mirip ganja. Dia bisa untuk mengatasi kecanduan alkohol dan kasih efek penenang, dan sering dicampur dalam minuman anggur dan martini. Fei belom pernah coba sih, tapi waktu lihat gambarnya memang beneran cantik.
Review?
