Disclaimer : BLEACH by TITE KUBO

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Family

Please, enjoy... ^_^

Re:pray

A fic by Aqua'Sora

Chapter 7

~Understand You~

.

.

.

"Maaf, Ashido-kun." Ashido memalingkan wajahnya dari gadis yang duduk di sebelahnya. Ia tahu maksud dari ucapan gadis berambut karamel itu. Ia mulai tersenyum miris, "Jangan berwajah seperti itu," matanya menatap ke arah sungai di depan sana, "Kau seharusnya tidak meminta maaf, Orihime."

"Tapi,"

"Aku akan tunggu," dengan cepat Ashido memotong, ia kembali memandang gadis yang duduk di sebelahnya. "Sampai hari itu datang, saat sudah tidak ada lagi Ichigo dalam hatimu." ia hanya berharap tatapannya saat ini bisa meyakinkan Orihime tentang perasaannya.

Ia melihat Orihime hanya tersenyum, hal itu semakin membuat hatinya terasa perih.

.

.

.

"Ashido-kun?" Orihime berdiri tepat di sebelah Ashido yang masih belum menyadari kehadirannya. Sejak tadi ia berdiri di sana, namun pria berambut merah itu masih terus diam tanpa mengalihkan pandangannya dari awan langit senja yang bergerak di luar sana.

"Ashi-" Orihime menghentikan tangannya yang akan bergerak menyentuh pipi Ashido ketika Ashido menoleh padanya. Memandangnya dengan pandangan yang tidak dapat dibaca olehnya.

"Ada apa?" Ashido kembali tersenyum seperti biasa. Orihime tersenyum kaku, tatapan tadi sedikit membuatnya merasa bersalah, entah karena apa. "A... Aku ingin mengajakmu pulang bersama.."

"Oh, kelas sudah usai?" tanya Ashido heran, ia melempar pandangannya pada sekeliling kelas. Hanya ada mereka berdua di sana.

"Hu uh, baru saja. Aku ingin mengajak Kurosaki-kun, tapi begitu sensei mengakhiri kelas tambahan kita, dia langsung keluar. Aku tidak bisa mengejarnya." Orihime memasang wajah cemberut. "Karena itu, ayo, pulang bersama!" lanjutnya mengganti wajah ceria sambil bergerak menarik tangan Ashido hingga berdiri dari bangkunya dan mendorong tubuh tegap itu dari belakang.

Ashido tersenyum melihat tingkah Orihime, "Baiklah, baiklah... Ayo pulang." ia mengikuti Orihime yang sudah kembali ke depan dan berlari kecil. Namun matanya berhenti pada bangku Ichigo, ia kembali teringat kejadian saat istirahat tadi di atap dan juga ingatannya tentang penolakan Orihime beberapa tahun lalu. Dan tanpa ia sadari tangannya mengepal keras. "Jangan lagi. Untuk kali ini, aku tidak akan begitu saja menyerah."

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

"Seharusnya kau pulang dulu ke apartemen, kau masih punya waktu untuk istirahat." tegur Ishida begitu Ichigo masuk ke dalam ruang ganti.

Ichigo melempar tasnya ke atas sofa, bergerak cepat mengambil satu set pakaian yang telah disiapkan untuk pembuatan iklan kali ini. Ia membuka jas sekolahnya, kemudian terdiam sebentar lalu tersenyum saat jas yang dipegangnya mengingatkan wajah dengan iris violet yang juga tersenyum padanya.

"Ichigo-" Ishida sudah siap menegur. Namun dengan cepat ichigo memotong, "Aku sedang buru-buru. Jadwal selanjutnya tolong dipercepat."

Ishida memperhatikan Ichigo yang melakukan segalanya dengan cepat, kemudian ia menghela nafas. "Yah, terserah padamu. Kau bosnya." ia sudah melangkah menuju pintu. "Tapi setidaknya ganti dulu seragam sekolahmu baru ke sini." lanjutnya sebelum menutup pintu.

Ichigo tidak terlalu mendengarkan celotehan Ishida, yang ia pikirkan saat ini semuanya harus selesai lebih cepat. Ada yang harus ia lakukan malam ini, dan besok ia harap semua sudah beres. "Yah, setidaknya aku akan lebih dekat denganmu."

Saat Ichigo melepas sweaternya, sesuatu tersangkut di kainnya dan akhirnya terlepas dari lehernya jatuh di lantai. Ambernya mencari sesuatu itu dan menemukannya di bawah meja rias. Ia terdiam, memandangi sesuatu yang berkilau. Tangannya menggenggam kuat kalung itu, rasa bersalah mulai merasuki dadanya.

Tidak seharusnya ia seperti ini, kenapa ia begitu mudah melupakan sesuatu yang selama bertahun-tahun menjadi hal yang berharga. Sesuatu yang selalu dimimpikannya. Sesuatu yang dirindukannya. Bukan hanya sesuatu, itu adalah seseorang. Seseorang yang membuatnya bisa mendapatkan cita-citanya, membuat ia tidak pernah menyerah untuk meraihnya.

"Maaf," satu kata itu keluar bersamaan dengan helaan nafasnya. Ia mulai berpikir, "Aku tidak boleh melupakanmu begitu saja." ia memakai kembali kalung dengan liontin berhuruf K itu. "Maaf, aku tidak akan berhenti mencarimu." ucapnya tegas sambil memandang dirinya di dalam cermin.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Angin di pagi hari yang dingin namun sejuk membuat Rukia bisa sedikit lebih tenang sejak pikirannya yang terus melayang mengingat ucapan-ucapan teman sekelasnya mengenai Ibunya. Ia kemudian tersenyum melihat Tatsuki di sebelahnya yang juga berlari kecil, kalau saja Tatsuki tidak memaksanya semalam untuk ditemani jogging, Rukia tidak akan mau berlari diudara yang dingin seperti ini.

Tatsuki menoleh dan mendapati Rukia yang tersenyum, "Bagaimana, tidak sedingin yang dibayangkan, kan?"

"Hn," Rukia mengangguk, ia melempar pandangannya pada dahan-dahan pohon yang mengering akibat musim dingin. "Arigatou."

"Arigatou? Untuk apa itu?" tanya Tatsuki tanpa menghentikan langkahnya untuk berlari kecil.

Rukia tersenyum, "Rasanya kepalaku lebih ringan, aku punya beberapa hal yang terus kupikirkan dari kemarin."

"Yah, sama-sama. Kalau kau melakukan ini setiap pagi walau di musim dingin sekalipun, selain sehat stresmu juga akan hilang. Moodmu akan bagus sepanjang hari." ujar Tatsuki sambil menggerak-gerakkan tangannya, melakukan senam kecil.

"Hmm, akan aku coba setiap hari." ucap Rukia, langkahnya sedikit lebih pelan begitu melihat apartemen yang semakin dekat.

"Oh, kita hampir sampai." seru Tatsuki, namun matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang apartemen, "Hn? Mobil siapa ini?" Tatsuki terlihat bingung, ia mulai memelankan langkahnya dan memperhatikan mobil Ferrari yang pastinya pemiliknya bukanlah orang biasa berhubung mewahnya mobil itu.

Rukia tidak terlihat tertarik ia masih terus berjalan memasuki halaman apartemen, "Mungkin itu milik tamu Mr. Urahara." sanggahnya cuek.

Tatsuki memiringkan kepalanya, bingung. "Benarkah? Aku rasa bukan seperti itu. Sepertinya aku pernah lihat mobil ini sebelumnya." ia masih terus memandangi mobil itu, ragu Mr. Urahara punya kenalan orang berada. "Tapi di mana ya pernah lihat?" Namun, setelah beberapa detik memandangi mobil itu dan bosan, ia pun segera menyusul Rukia yang lebih dulu menaiki tangga.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Rukia memutar kunci kamarnya dua kali, baru saja ia hendak membuka pintunya tiba-tiba pintu kamar di sebelahnya terbuka. Seseorang keluar dari kamar di sebelahnya, orang itu terdiam sebentar kemudian tersenyum melihat Rukia yang hanya bisa mematung menatapnya.

"Ohayou, Rukia..." sapa orang itu, sangat terlihat santai seakan-akan sapaanya itu hal yang setiap hari ia lakukan untuk Rukia. Rukia begitu terkejut sampai tidak bisa membalas sapaan orang itu.

Orang itu tersenyum, memperhatikan Rukia yang hanya berjarak beberapa meter darinya dengan tatapan lembut. "Jangat berwajah datar seperti itu, mulai hari ini kau akan bosan melihat wajahku, 'Tetangga'..." lanjutnya kali ini dengan senyum jahilnya.

"Ichi... go?" Rukia sedikit terbata, efek dari keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan. "Kau... Sedang apa di sini?" tanyanya pada Ichigo yang bersandar di depan pintu kamar apartemen.

"Kau masih belum sadar?" Ichigo menunjuk pintu di belakangnya dengan ibu jarinya, "Ini kamarku," ibu jarinya berganti dengan jari telunjuknya yang mengarah pada Rukia, "Dan kau sekarang adalah tetangga sebelah kamarku."

"Tetangga sebelah ka-" Rukia tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba suara seseorang menginterupsi.

"O, Kurosaki-senpai?" suara itu tepat dari belakang Rukia, manik ungunya tampak bingung. Rukia berbalik untuk melihat sumber suara.

Di belakangnya berdiri gadis berproporsi tubuh hampir sama dengannya, tersenyum pada Ichigo yang masih setia di depan pintu kamarnya. "Apa kabar?" ucapnya sambil sedikit membungkuk. Lalu melirik Rukia, "Dan kau pasti..." lanjutnya lagi namun seseorang yang baru naik dari lantai bawah menyambungnya. "Shirayuki Rukia, kau penghuni baru yang diceritakan itu."

Kini manik Rukia berpindah pada pria bertubuh mungil di samping gadis tadi, rambut silvernya menyala diterpa cahaya dari belakangnya. Tanpa sadar Rukia mengangguk, "Salam kenal."

"Yo, Hitsugaya... Hinamori. Lama tidak bertemu." sapa Ichigo ceria dan berdiri di samping Rukia yang memandangnya bingung. "Oh ya, mulai hari ini, aku jadi teman seapartemen kalian."

"Wah, itu bagus sekali. Kalau begitu senpai, mohon bantuannya!" Hinamori kembali membungkuk sedikit. Hitsugaya menyenggol tubuh gadis itu dengan sikunya, "Kenapa jadi kau yang mengucapkannya, seharusnya dia yang baru datang!" tegur Hitsugaya sambil memandang Ichigo sinis. Hinamori baru akan membalas namun Hitsugaya kembali menyambung, "Lalu, kenapa seorang Kurosaki Ichigo mau pindah ke apartemen murahan seperti ini? Bukannya sebelumnya apartemenmu lebih bagus dan mewah?" sindir pria berambut silver itu.

Ichigo tertawa, lalu memandang Rukia dengan ujung matanya. "Aku punya alasan tersendiri, kau tahu? Alasan yang tidak untuk diketahui banyak orang." lanjutnya lagi, kini ia sudah memandang Rukia intens dari samping namun gadis di sampingnya tidak merasakan apapun.

"Alasan yang tidak mau kau bilang? Apa kau sudah tidak laku, karena itu kau pindah ke apartemen yang lebih murah? Heh..." sindir Hitsugaya. Namun Ichigo tidak terlalu mendengarnya karena handphonenya baru saja bergetar. Ada email dari Ishida, mengingatkannya pada jadwal shootingnya pagi ini. "Oh, aku harus pergi dulu. Sampai jumpa!" ucapnya sambil memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jaketnya.

Sebelum ia menuruni tangga, ia berbalik dan menatap Rukia, "Sampai jumpa di Heaven, Rukia!" Ichigo melambai sambil tersenyum cerah. Membuat Rukia terdiam memandang pemandangan barusan, senyum Ichigo dengan latar matahari pagi. Rukia terpesona? Siapa yang tahu.

"Huh, sombong sekali dia!" decih Hitsugaya membuat Hinamori menyentuh bahunya, "Hitsu-kun, ayo!" ajak Hinamori setelah pamit dan tersenyum pada Rukia.

Rukia memperhatikan dua insan itu, mereka memasuki dua pintu kamar apartemen yang berbeda dan saling melambai sebelum akhirnya menghilang di balik pintu masing-masing, "Merekakah sepasang kekasih yang diceritakan Tatsuki waktu itu? Sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan?"

Rukia menoleh dan melihat pintu kamar di sebelahnya, kembali teringat kata-kata Ichigo tadi, "Jangan berwajah datar seperti itu, mulai hari ini kau akan bosan melihat wajahku, 'Tetangga'..."

"Tetangga?" Rukia mulai mengerutkan dahinya, masih tidak mengerti kenapa Ichigo-teman barunya-bisa berada di apartemen yang sama. "Sampai jumpa di Heaven, Rukia!" tanpa ia sadari wajahnya terasa hangat, rona merah tipis muncul di pipinya saat mengingat wajah Ichigo saat itu. Tapi, dengan cepat ia menggeleng. Lalu melangkah memasuki kamarnya. Sebelum pintu di belakangnya menutup, alisnya kembali bertemu, "Heaven? Apa maksudnya?"

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Rukia tersenyum, ia baru saja menyelesaikan permainan pianonya sore itu. Karena hari minggu, Rukia memilih menghabiskan waktunya di cafe Heaven sejak pagi tadi. Entah itu bermain piano atau membantu melayani para pelanggan yang mulai ramai sejak Rukia menjadi pianis di cafe itu. Gadis bermata amethys itu berdiri dari kursi pianisnya dan mendekati meja counter, di sana Mr. Urahara sedang membuat beberapa gelas jus.

Rukia duduk di sana, dan Mr. Urahara menyodorkan segelas jus jeruk padanya. "Arigato, Mr..."

Mr. Urahara memandang Rukia teliti, lalu memiringkan kepalanya dengan mimik bingung, wajahnya penuh tanda tanya, "Ano, Rukia-san... Kau mengenal Kurosaki Ichigo?"

Rukia yang sedang meneguk jus jeruknya terlihat santai sambil memandang Mr. Urahara, ia mengangguk menjawab pertanyaan Pria berambut pirang itu.

"Lalu... Apa hubungan Rukia-san dengan artis terkenal itu?" Mr. Urahara tambah curiga dengan sikap Rukia yang santai seperti itu. Jelas saja dia curiga, Ichigo itu artis paling terkenal saat ini, sedangkan Rukia baru saja beberapa minggu lalu datang ke Tokyo.

Sejak Kurosaki Ichigo datang menemuinya tadi pagi sekali dan menyewa salah satu kamar apartemennya tepat di sebelah kamar Rukia ia semakin yakin, pria dengan kaca mata, topi dan syal waktu itu di cafenya dan menanyakan tentang Rukia adalah artis terkenal yang kini menjadi salah satu penyewa kamarnya. Yakin, setelah melihat rambut orange yang sama dengan rambut orange pria berpakaian aneh waktu itu.

"Kami teman," Rukia menaruh gelas jusnya. Tidak sadar dengan mimik Mr. Urahara yang terkejut. "Kau... Kau... Berteman dengan Kurosaki Ichigo? Teman?" tanyanya sambil saling menempelkan kedua jari telunjuknya. Rukia tidak terlalu mengerti hal itu, ia hanya mengangguk saja.

Mr. Urahara tercengang, menatap Rukia kagum. Lihat, baru beberapa minggu saja Rukia sudah mempunyai hubungan dengan Kurosaki Ichigo, idola seluruh gadis Tokyo. Gadis yang sungguh luar biasa. Mr. Urahara masih menatap Rukia kagum dan tidak menyadari seorang pelanggan baru saja masuk.

"Mr. Ada pelanggan baru..." tidak ditanggapi, Rukia kembali bersuara. "Hello, Mr?" Rukia melambaikan tangannya pada Mr. Urahara tepat di depan wajah pria itu, namun ia tidak bergerak sedikitpun. Rukia mengedikkan bahunya, dan bergerak hendak menyapa pelanggan itu yang kini berjalan mendekatinya.

Seorang pria tinggi dan tegap, syal di lehernya dan kaca mata hitam serta topi hampir menutupi sebagian wajahnya. Ia berjalan ke arah Rukia di dekat meja counter, Rukia langsung membungkuk dan menyapa, "Selamat datang, apa yang ingin anda pesan?" tanya Rukia tanpa senyum di wajahnya.

Pria itu tetap diam berdiri di depannya, Rukia ikut terdiam. Mulai mundur selangkah, jangan-jangan orang ini adalah suruhan Ayahnya. Namun, suara orang itu membuat Rukia tenang. "Kau jangan menyambut pelanggan dengan wajah datar seperti itu, mereka akan segera kabur mengira kau hantu." pria itu melepas topinya, memperlihatkan surai jingganya yang senada dengan sinar matahari sore yang menerpa separuh wajahnya.

Rukia tersenyum kecil mendengar candaan barusan, "Aku rasa kau salah, lihat pelanggan yang datang tidak ada yang kabur melihat wajahku." pria itu memandang sekeliling, kursi-kursi kayu berkualitas itu terisi oleh sebagian besar pria. Hal itu membuat ia mendengus. "Aku benarkan, Tuan Ichigo?"

Orang yang disebut tuan Ichigo itu menurunkan syalnya, "Oh, kau mengenaliku?" tanyanya, ada nada ceria di dalamnya. Membuat Rukia terkekeh geli, "Rambutmu," tunjuk Rukia pada kepala Ichigo. "Tidak banyak orang punya warna rambut seperti ini." lanjutnya lagi membuat Ichigo memegang rambutnya, lalu berikutnya tertawa.

"Aku terlahir spesial, karena itu rambut seperti emas ini hanya milikku." canda Ichigo membuat Rukia lagi-lagi tertawa geli. "Kau terlalu percaya diri!" ejek Rukia sambil menyipitkan mata namun ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Itu keahlianku," balas Ichigo tersenyum bangga.

Rukia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Ichigo, mata mereka bertemu, "Keahlian yang aneh, narsis itu penyaki-" Rukia tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena terkejut ketika Ichigo menjauhkan wajahnya dan memakaikan kaca mata hitam yang tadinya ia pakai pada Rukia.

"Jangan memandangku seperti itu..." entah Rukia yang salah lihat atau apa, wajah Ichigo terlihat memerah tadi sebelum tertutupi oleh kaca mata hitam Ichigo yang membuat pendangannya menjadi malam.

Ichigo segera berjalan dan meninggalkan Rukia, ia terlihat menyibukkan diri menyapa Mr. Urahara yang baru sadar setelah ditepuk pundaknya oleh Ichigo. Pria pirang itu walau terkejut ia terlihat senang dengan kehadiran Ichigo. Rukia melepas kaca mata hitam yang dipakaikan Ichigo tadi, memperhatikan sosoknya dari tempatnya berdiri. "Ichigo, tersipu?" Rukia menoleh memandang sinar matahari yang mengenai wajahnya, menyilaukan pandangannya sehingga ia menyembunyikan amethysnya dengan sebelah telapak tangannya. "Ah, benar. Sinar matahari sore." akhirnya Rukia tersenyum kecil. Ia benarkan?

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Setelah kehadiran Ichigo di cafe Heaven, seluruh pelanggan menjadi heboh, dan tidak tahu bagaimana caranya sekarang cafe dipenuhi oleh pelanggan perempuan. Mr. Urahara jelas senang, cafenya kini menjadi ramai, tidak hanya itu sekarang cafe Heaven menjadi terkenal.

Ichigo terlihat sibuk, ia dikerubungi beberapa remaja perempuan. Rukia hanya menggeleng, tidak tahu harus mengakui ketenaran Ichigo sebagai artis atau mengakui kebodohan pria itu yang memunculkan dirinya di tempat umum seperti ini. Jelas saja dia langsung diserang.

Bahkan Rukia bisa melihat keramaian di luar cafe, benar-benar celebrity effect. Rukia hendak pergi melayani beberapa pelanggan yang semakin ramai walau mendekati jam tutup ketika tiba-tiba keributan lain terdengar saat seseorang memasuki cafe.

Rambut merahnya terlihat mencolok di tengah-tengah keramaian, sosoknya semakin terlihat jelas. Sosok itu muncul dengan kerut di dahinya. Menatap Ichigo yang sepertinya belum menyadari kehadirannya.

"Wah tampannya! siapa itu?"

"Itu Kano Ashido, photografer terkenal itu!"

"Iya benar, semua model yang difotonya pasti akan terkenal!"

"Kyaaa! Kano Ashido!"

Keributan-keributan seperti itulah yang terdengar saat Ashido muncul di tengah-tengah cafe. Ichigo yang tadinya tidak memperhatikan kini matanya beralih ketengah ruangan setelah mendengar nama Ashido disebut. Ia terkejut Ashido muncul di cafe ini. Dan apalagi saat ia menatap punggung Rukia yang membatu ketika melihat sosok itu.

Ashido menghampiri Ichigo, ia tersenyum namun senyum yang mengisyaratkan perang di dalamnya. "Kurosaki, sedang apa kau di sini?"

Ichigo tanpa sadar menoleh melihat Rukia yang jauh di dekat para fansnya berdiri. Tidak mendapat jawaban, membuat Ashido ikut menoleh mencari objek tatapan Ichigo, setelah mendapati titik tatapan Ichigo jatuh pada tubuh mungil yang menatap mereka berdua dengan alis menyatu ia baru sadar. "Benar, aku tahu kenapa kau di sini."

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Cafe sekarang telah sepi, setelah Mr. Urahara dengan susah payah memberitahu para pelanggan dadakannya untuk datang lagi esok hari dengan memastikan dua orang yang jadi objek perhatian hari ini akan ada lagi esok hari.

Kini dua orang itu sedang sibuk merapikan kursi-kursi dan meja yang sedikit berantakan akibat meledaknya pengunjung cafe hari ini. Rukia di balik meja counter memandang dua orang itu bergantian, Tatsuki kini berada di sampingnya. Setelah latihan karatenya ia menyempatkan diri mampir ke cafe dan mendapati suasana dingin dalam cafe. Dan entah kenapa ia merasa aura dingin itu berasal dari dua pria yang sedang sibuk beres-beres di depan sana.

"Sekarang aku tahu, pantas rasanya pernah lihat mobil ferrari merah yang terparkir di depan ruangan Mr. Urahara. Ternyata milik Kurosaki Ichigo, dan tadi kau bilang dia menyewa kamar tepat di sebelah kamarmu?" celoteh Tatsuki dan Rukia hanya mengangguk menjawabnya.

"Wah, benar-benar. Sebenarnya apa yang terjadi dengan artis terkenal itu?" tanya Tatsuki entah pada siapa. Rukia juga tidak tahu. Bahkan maksud dari pertanyaan Tatsuki sendiri ia tidak mengerti.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

"Sampai jumpa, Rukia." ucap Ashido setelah selama perjalanan menuju apartemen tadi hanya bungkam.

"Ah, iya. Sampai jumpa, Ashido." Rukia sedikit membungkuk. Ichigo di belakang tubuh mungil itu memperhatikan tingkah mereka berdua sejak tadi, menatap Ashido yang sempat memandangnya tajam lalu menaiki tangga menuju lantai empat. "Huh," decih Ichigo tidak mengerti tatapan Ashido tadi.

Rukia hendak memasuki kamarnya, saat Ichigo berdehem di belakangnya. "Kau tidak berniat mengucapkan selamat malam padaku?" singgung Ichigo. Kesal karena sepertinya Rukia akan mencuekinya terus sampai menghilang di balik pintu kamarnya.

"Oh, ada kau Ichigo?" tanya Rukia, tidak, tepatnya menyindir Ichigo.

"Aku sedari tadi di belakangmu. Kau saja yang asik dengan Arisawa dan..." Ichigo berhenti, karena tidak ingin dicap kekanakan dengan kata-kata yang akan dikeluarkannya, "dan kau terus memperhatikan punggung Ashido!"

"Dan?" tanya Rukia, menunggu jawaban pria di depannya yang lebih memilih menggaruk belakang kepalanya.

Ichigo melempar pandangannya ke sembarang arah, "Lupakan, selamat malam!" Ichigo lalu bergerak dan memasuki kamarnya tanpa mendengar balasan Rukia.

Dahi Rukia mengerut, merasa heran dengan sikap Ichigo yang aneh. Tetapi, ada hal yang penting yang ia ingin tanyakan pada Ichigo, namun Ichigo sudah lebih dulu menghilang di balik pintu kamarnya. Bahkan lampu kamarnya tidak dinyalakan.

"Ada apa dengannya?" Rukia terus berdiri menatap pintu yang baru saja tertutup itu, "Dan lagi... Ichigo dan Ashido... Rupanya mereka saling kenal?" Rukia menggeleng. Wajar mereka saling kenal, mereka satu sekolah. Dan juga mereka sama-sama terkenalkan?

Rukia menggerakkan tangannya, menyentuh permukaan pintu yang terasa kasar di telapak tangannya. Lama manik ungunya menatap daun pintu itu, lalu ia tersenyum. "Selamat malam, Ichigo."

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Ichigo tidak habis fikir, dia saja yang seorang pria yang masih muda bisa kelelahan seperti ini, tapi kenapa gadis-gadis itu sama sekali tidak terlihat lelah mengejarnya? Ichigo dari balik tembok mengintip segerombolan siswi-siswi yang terlihat kebingungan mencari sosoknya sambil sesekali memanggil atau bahkan meneriakkan namanya. Ia segera menghela nafas lega begitu para fansnya itu mulai kembali memasuki gedung dengan wajah lesu.

"Gomen..." bisik Ichigo, sedikit merasa bersalah karena menghindari fansnya. Bukannya apa, Ichigo hanya tidak mau kejadian yang dulu pernah terjadi kembali terulang. Saat ia dengan berbaik hatinya meladeni fansnya tanpa ada guard sama sekali. Alhasil, selain ia sendiri penuh luka cakar, salah seorang fansnya ada yang patah tulang karena jatuh saat berdesak-desakan dan akhirnya terinjak-injak. Kalau saja waktu itu ia tidak bergerak cepat menyelamatkan salah seorang fansnya itu, entahlah bagaimana nasib gadis itu sekarang.

Puk!

Ichigo lompat dan refleks siap berlari saat ia merasa pundaknya disentuh seseorang. Gawat, kalau ini fansnya...

"Ichigo, kau sedang ap-"

"Hahhh... Rukia, kau mengangetkanku!" potong Ichigo terkejut lalu mengelus dadanya begitu mendapati seseorang yang menepuk pundaknya barusan adalah Rukia.

Rukia malah mengerutkan alisnya, "Kau sedang apa? Dari tadi kuperhatikan kau seperti sedang bersembunyi dari seseorang."

"Bukan seseorang, tapi banyak orang. Aku sedang menghindari fans yang mengejarku." Ichigo berjalan menuju pohon di dekat mereka. "Lalu kau sendiri sedang apa di sini?"

"Aku?" Rukia menunjuk dirinya sendiri, hal itu membuat Ichigo tertawa geli, "Lalu siapa lagi?"

Rukia berjalan menuju kandang kelinci yang berukuran lumayan besar di sebelah pohon tempat Ichigo bersandar, menatap dua ekor kelinci yang saling menghangatkan di sudut kandang. "Tadinya aku ingin mengajak mereka bermain, tapi lebih baik mereka di dalam kandang saja. Udara terlalu dingin bila di luar kandang."

Pandangan Ichigo mengikuti Rukia dan berhenti pada dua kelinci di sudut kandang. Dua kelinci yang waktu itu sempat dilihatnya tertidur di pangkuan Rukia yang juga sedang tertidur di bawah pohon tempat kini dia bersandar. Pohon yang menjadi saksi bahwa seorang Kurosaki Ichigo pernah bersemu hanya karena memandang wajah tidur seorang gadis biasa.

Ia memandang tangannya sendiri dan kembali teringat saat ia dulu gagal menyibak rambut hitam Rukia agar dapat lebih jelas memandang wajah tidurnya. Ichigo mengingat kembali saat dulu ia dan Rukia tidak sedekat sekarang. Tanpa sadar Ichigo kembali merasakan wajahnya menghangat.

"Ichigo, apa kau baik-baik saja?" Ichigo bisa merasakan kehangatan telapak tangan di dahinya dan mendapati sepasang amethys sedang menatapnya khawatir. Ichigo memilih diam, merasakan sensasi hangat dari telapak tangan Rukia. Menikmati sepasang amethys yang bersinar khawatir padanya.

Rukia kembali mengerutkan alisnya, "Wajahmu merah tapi kau tidak sedang demam, ini aneh..." Rukia menjauhkan tangannya dari dahi Ichigo, namun tiba-tiba Ichigo menahan pergerakan tangan Rukia.

"Ichigo..." Rukia terlihat bingung.

"Kurosaki-kun..." Ichigo dan Rukia menoleh dan mendapati Orihime berdiri tidak jauh dari mereka. "Kalian..." gadis berambut karamel itu memandang Ichigo dan Rukia dengan tajam.

"Sudahlah Orihime, mungkin sekarang Kurosaki sudah kembali ke ke...las..." dari belakang muncul Ashido yang kemudian berhenti tepat di sebelah Orihime, alisnya langsung berkerut mendapati dua orang yang berdiri di hadapannya. Matanya lurus menatap tangan Ichigo yang masih menggenggam tangan Rukia.

"Ashido..." Rukia mengikuti arah tatapan Ashido dan spontan langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Ichigo, hal itu membuat Ichigo sedikit terkejut. Ia menatap penuh tanya pada Rukia, namun Rukia sama sekali tidak menyadarinya. Yang ia dapati hanya Rukia terus terpaku menatap Ashido. Hal itu membuatnya entah kenapa menjadi kesal.

"Kenapa kalian ke sini?" tanya Ichigo, ada nada kesal dalam nada bertanyanya walau ia berusaha tenang. Ia memandang Orihime dan Ashido malas. Di dalam kepalanya kini penuh dengan kata pengganggu saat melihat kedua orang itu.

Orihime menggeleng tidak percaya dan melangkah semakin mendekati Ichigo dan Rukia, "Kurosaki-kun, kau kenapa bisa bersama dia?" Orihime menatap Rukia sinis. "Oh... Apakah dia ingin meminta tanda tanganmu?" tanya Orihime, masih menatap Rukia. Tatapannya masih sama, ingin mengintimidasi Rukia. Namun Rukia sama sekali tidak terpengaruh.

"What? Tanda tangan?" Rukia memandang Ichigo yang menaikkan bahunya tanda malas tahu dengan sikap Orihime, lalu tanpa sadar pemilik amethys itu ingin tertawa. Tanda tangan? Rukia bahkan bukan fans Ichigo, ia hanyalah mantan dari Kurosaki Ichigo's ANTI.

Orihime sedikit kesal dengan Rukia yang malah balik bertanya, tapi ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan amarahnya dan berakting ramah. "Umm, apa dia memaksamu untuk berfoto dengannya Kurosaki-kun?" walau pertanyaan itu ia tujukan untuk Ichigo, namun mantanya masih terus menatap Rukia.

Ichigo yang bosan akhirnya angkat bicara, "Sudahlah Inoue, sebenarnya ada apa kau mencariku?"

Orihime yang dari tadi berusaha terlihat innocent kini mulai tersenyum malu-malu, "Aku ingin mengajakmu pergi bersama ke acara Kyoraku-san..." ia berdiri di depan Ichigo sambil menatapnya penuh harap.

Ichigo kembali mengingat semalam Ishida memberitahukannya bahwa malam ini adalah acara VIP yang dibuat oleh Kyoraku-san dan ia diwajibkan datang oleh Ishida, mengingat ia sudah sering bekerjasama dengan Kyoraku dan agar ke depannya hubungan saling menguntungkan itu terus berlanjut. Ichigo hampir saja lupa dengan acara itu kalau saja Orihime tidak menyinggungnya. Tapi kalau pergi dengan Orihime...

Ichigo melihat Orihime malas, "Aku-"

"Kurosaki-kun, kamu bisa kan?" tanya Orihime semakin mendekati Ichigo. Karena risih refleks Ichigo menghindar dan akhirnya tubuhnya menabrak tubuh Rukia di sampingnya. Rukia melotot menatap Ichigo, bersiap protes. "Ichi-"

"Maaf Inoue, tapi aku sudah mengajak Rukia." Ichigo menatap Rukia sambil nyengir, Rukia yang tadi melotot semakin membelalakkan matanya. "What?"

"Tapi, Kurosaki-kun... Kenapa kamu mengajak dia? Dia ini bukan artis, dia tidak pernah sebelumnya bekerjasama dengan Kyoraku-san. Lagi pula asal kamu tahu Kurosaki-kun, dia ini..." Orihime menunjuk wajah Rukia. "dia ini tidak kenal sopan santun, dia pernah menabrakku dan sama sekali tidak minta maaf!"

Rukia memutar bola matanya malas, gadis di depannya ini mulai menyinggung masalah waktu pertama kali mereka bertemu. Dan juga, sama sekali tidak minta maaf? Apa orang ini lupa ingatan?

Ichigo menghela nafas, "Mau bagaimana lagi, aku tidak akan mencabut kata-kataku. Aku tidak akan membatalkan mengajak Rukia." Ichigo merangkul Rukia, dan menariknya mendekat. "Eh? Tapi Ichigo-" Rukia baru akan angkat bicara, namun Ichigo mulai menatapnya.

Ichigo menatap Rukia dalam, hanya menatap balik tatapan itu Rukia tahu kalau Ichigo saat ini sedang memohon pada Rukia untuk tidak mengatakan apa pun. Setelah lama saling tatap, akhirnya Rukia menghela nafas. Menyerah pada Ichigo yang masih terus merangkulnya itu.

Ashido mengepalkan kedua tangannya, dari tadi dia berusaha menahan kekesalannya melihat Ichigo dan Rukia, "Seberapa dekat Rukia dengan Ichigo?" Ashido tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba merasa kesal, sambil mendengus dia pun membalikkan badannya dan mulai melangkah.

Orihime yang menyadari Ashido akan pergi segera memanggilnya, "Ashido-kun, tunggu! Kau mau kemana? Aku belum berhasil mengajak Kuro-"

"Sudahlah Orihime, jangan terlalu memaksakan diri." tanpa berbalik Ashido menjawab dengan suara berat.

Orihime sedikit terkejut, merasa terpukul dengan perkataan Ashido barusan. Benar, Kurosaki Ichigo orang yang keras kepala, sekali mengatakan ia akan mengajak Rukia, siapa pun tidak ada yang bisa menghalangi itu. Orihime menatap Ichigo dan berhenti pada Rukia, memandang benci pada gadis bertubuh mungil yang menurutnya sama sekali tidak sebanding dengan dirinya untuk dijadikan rival. Namun petempuan yang dipandangi olehnya itu sama sekali tidak balik menatapnya, iris violetnya itu malah jatuh pada punggung Ashido yang semakin menjauh.

Orihime tersenyum kecut menyadari sesuatu dari tatapan Rukia, "Jadi begitu..." ia menatap punggung Ashido lalu sekali lagi menatap Rukia sebelum akhirnya berlari menjauh mengikuti Ashido tanpa meninggalkan sepatah katapun pada Ichigo dan Rukia yang masih terdiam.

Selang beberapa detik setelah sosok dua orang itu tidak terlihat, Ichigo menghela nafas panjang. "Haaaahhh... Akhirnya mereka pergi juga."

"Ichigo..."

Ichigo segera menoleh dan mendapati Rukia menunduk menatap tanah, "Hn?"

"Aku tidak akan pergi denganmu." Rukia melepas tangan Ichigo yang masih merangkulnya, itu tidak kasar, Rukia melakukannya dengan sangat pelan. Namun Ichigo merasa sakit di dadanya.

"Aku juga tidak berniat mengajakmu tadi." Ichigo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi... Berhubung mereka sudah terlanjur mengira seperti itu, yah... Bagaimana kalau kau temani aku ke acara itu?"

"Aku tidak akan pergi denganmu." jawab Rukia cepat dan mulai melangkah.

Ichigo mengerutkan alisnya, melihat tingkah Rukia seperti itu, cuma satu pertanyaan di kepalanya... "Rukia, kau marah?"

Rukia tidak menjawab, ia berhenti sebentar lalu kembali melangkah. Hal itu membuat Ichigo semakin bingung, "Oke, aku minta maaf Rukia karena sudah membawamu ke dalam urusanku tanpa minta izin padamu terlebih dahulu. Tapi, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya-" Ichigo spontan berhenti mengikuti Rukia yang tiba-tiba berhenti di depannya.

"Sudahlah, bukan itu masalahnya Ichigo." Itu jawaban Rukia sebelum gadis itu juga menghilang dari pandangan Ichigo. Ia sedikit bingung, kenapa Rukia jadi bersikap aneh padanya. Ia kembali mengingat yang terjadi baru saja, pembicaraan mengenai acara Kyoraku, menolak ajakan Inoue, dan lalu Ashido yang pergi. Ichigo terdiam, "Apa karena orang itu? Rukia... Apa kau..."

Ichigo tersenyum kecut, matanya memandang tanah dengan tatapan kosong, "Maaf... Maafkan aku, Rukia." kedua tangannya mengepal sehingga menjadi pucat. "Aku hanya... Tidak tahu."

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Rukia menggosok telapak tangannya, udara dingin ini berhasil membuat hidungnya memerah. Ia masih terus bersandar pada tembok di sebelah pintu masuk gedung sekolahnya, ia sedang menunggu seseorang. Seseorang yang mungkin sudah salah paham, karena Ichigo. "Ichigo, baka..." bisiknya pelan.

Rukia menghela nafas, membuat udara hangat mengepul keluar dari mulutnya. Tidak mungkin ia tidak melihat orang itu, karena sejak awal anak kelas tiga keluar ia sudah menunggu. Tapi sama sekali Ashido tidak tampak. Kalau hanya menunggu dan diam seperti ini, ia tidak akan tahu Ashido sudah pulang atau belum. Ia segera menahan seorang anak kelas tiga yang melewatinya, "Ano, Ashido senpai sudah pulang?"

pria yang ditahan Rukia barusan memandangnya dari bawah ke atas dan atas ke bawah, Rukia menjadi risih. Tapi ia harus sabar kalau ingin mendengar jawaban. Dengan nada malas pria itu menjawab, "Dia ada jam tambahan setelah kelas berakhir."

"Terima kasih!" Rukia menunduk dan cowok itu berlalu begitu saja. Dengan wajah cerah dan senyum di wajahnya ia segera berjalan memasuki gedung sekolahnya kembali. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah menjelaskan bahwa ia tidak akan pergi bersama Ichigo, Rukia bahkan tidak tahu kenapa ia harus menjelaskan hal itu pada Ashido yang bukan siapa-siapa. Apa mungkin itu karena Ashido sangat mirip dengan anak pria sepuluh tahun lalu? ya mungkin saja. Dan sebaiknya sekalian saja ia menanyakan apa Ashido adalah anak pria itu, apa Ashido anak yang menghiburnya saat ia sangat bersedih, apa Ashido anak yang terekam dalam ingatannya bersama taman di Karakura, dan apa Ashido memiliki kalung pemberiannya?

Sedikit lagi. Sedikit lagi Rukia akan segera mengetahuinya. Tanpa sadar ia sudah mulai berlari.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

"Ya, aku sudah pulang." Orihime menyibakkan rambutnya sambil menjawab telepon dari menejernya. "Hn, sedikit lagi aku ke sana." beberapa pasang mata terus menatapnya kagum dan ia melewatinya begitu saja, ia sudah bosan melempar senyum pada fansnya setiap pulang. Apalagi sekarang dia sedang bad mood, itu semua karena Rukia. Anak kelas dua itu benar-benar pembawa masalah.

Ia kembali mengingat kejadian tadi siang di samping sekolah. Kejadian penolakan Ichigo atas ajakannya karena Rukia. "Anak itu... Kenapa dia bisa sedekat itu dengan Kurosaki-kun?" Orihime memakai kaca mata hitamnya. Lalu kembali teringat tatapan Rukia pada punggung Ashido, Ia sedikit mengerti arti tatapan Rukia tadi pada Ashido, bagaimanapun ia punya tatapan yang sama dengan tatapan Rukia itu saat menatap Ichigo. "Dia sepertinya menyukai Ashido-kun." kemudian ia tersenyum sinis.

"Tapi sayang," ia berbisik, hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar dan mulai tersenyum bangga. "Ashido-kun menyukaiku!"

Rambut coklat mudanya bergerak tertiup angin, ia sudah hampir mendekati pintu keluar gedung sekolahnya ketika matanya menangkap sosok yang membuatnya kesal sepanjang hari ini. "Anak itu seperti sedang menunggu seseorang." ia berjalan semakin mendekati Rukia, ia sempat melihat Rukia menahan seseorang dan mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.

Senyum di wajahnya mengembang, sebuah rencana pun tertanam di benaknya saat itu juga. "Jadi begitu... Aku akan membuatmu menyesal mencari Ashido-kun. Kalau aku merasakan sakit melihatmu dan Kurosaki-kun, setidaknya kau juga harus merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan!" Orihime mulai melangkah mundur dan berlari secepat mungkin untuk bertemu seseorang.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Ashido menghela nafas, merasa sedih melihat langit yang berwarna kelabu di luar jendela. Ia tidak mengerti, kenapa dia merasa kesal sepanjang hari. Tidak, tepatnya sejak ia melihat kedekatan Rukia dengan Ichigo. Ashido mengepalkan kedua tangannya, "Lagi-lagi..."

"Ashido-kun..."

Ashido segera berbalik mendengar suara yang dikenalnya, tidak jauh darinya berdiri seseorang yang menatap lurus padanya. "Orihime? Kau belum pulang? Hari ini kau kan tidak ada jam tambahan," Ashido bersandar pada jendela.

Orihime tersenyum, mengatur nafasnya setelah berlari. Ia berjalan mendekati Ashido, "Aku mencari Kurosaki-kun, apa dia ada di kelas?"

Ashido menghela nafas, "Dia tidak di kelas," ia hendak berbalik kembali memandangi langit tepat ketika sosok di sebelahnya bersuara.

"Aduh!"

"Orihime, kau kenapa?" tanya Ashido begitu mendapati Orihime menutup matanya dengan telapak tangannya.

"Debu masuk dalam mataku," keluh Orihime, kedua telapak tangannya masih menutupi matanya. Ashido menghela nafasnya, bersyukur ternyata gadis di depannya itu hanya kemasukan debu di matanya. pria tinggi itu mendekat dan melepas kedua tangan Orihime yang masih menutupi matanya sendiri.

"Kemari..." Ashido menarik pelan bahu Orihime, dengan sangat lembut Ashido meniup mata Orihime. Orihime tersenyum sangat kecil, hanya dia sendiri yang mengetahui apa yang akan terjadi sebentar lagi.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Rukia menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan cepat, berhenti sejenak sekedar untuk memulihkan sedikit tenaganya. Matanya menatap beberapa anak tangga di depannya. "Anak-anak tangga terakhir..." ia tersenyum dan mulai melanjutkan langkahnya. Seakan rasa lelah yang dirasanya akibat menaiki tangga dengan berlari barusan hanyalah hembusan angin.

Senyumnya semakin cerah ketika melewati anak tangga terakhir dan menginjak koridor kelas tiga, namun apa yang dilihatnya membuat semua itu seketika menghilang dari wajahnya. "Apa..." ia mundur beberapa langkah, kedua telapak tangannya spontan menutup mulutnya. Berusaha agar ia tidak mengeluarkan suara.

Matanya terbuka lebar, terkejut melihat dua orang jauh di depan sana. "Ashido dan..." Rukia menggelengkan kepalanya pelan, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tanpa sadar kakinya sudah menginjak anak tangga di belakangnya. "Ber...ciuman?"

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Ichigo mengeringkan wajahnya dengan sapu tangan, ia baru saja dari toilet. Membasuh wajah, bukan, tepatnya menyiram kepala dengan air agar kantuk yang ia rasa segera menghilang. Titik-titik air masih menetes dari rambutnya yang basah, "Sial, kalau bukan begini aku pasti kembali tertidur di kelas sebentar." Ia merutuki jadwal padatnya hingga dini hari, hingga hanya punya waktu tidur selama dua jam sehari.

pria dengan surai jingga itu menghela, "Hah, sebaiknya aku harus menghentikan jadwal gila ini." ia tiba-tiba kembali mengingat kejadian tadi siang, wajah dan tatapan Rukia. Ia tersenyum miris, menggaruk belakang kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja terlintas di pikirannya. Bahkan saat memikirkan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan gadis mungil itu, wajahnya terus saja terlintas dipikirannya. Ichigo merenggangkan tangannya, mencoba mengusir lelah dan Rukia dari pikirannya tepat ketika ia merasa kehadiran seseorang.

Ichigo menyipitkan matanya, beberapa anak tangga di atasnya berdiri seseorang yang baru saja muncul di pikirannya, "Itu..." tanpa sadar ia tersenyum dan melangkah cepat menaiki anak tangga satu persatu.

Ia tidak perlu berusaha mengusir pikiran tentang Rukia, percuma, karena kalau ia berhasil pun, Rukia tetap muncul bahkan sekarang tepat di depannya. Tangannya bergerak, ingin menyapanya. Namun tepat saat itu juga, Rukia berbalik dan menabrak tubuhnya.

Mata keduanya terbelalak, saling menatap dalam jarak beberapa senti. Saling sadar dengan apa yang terjadi pada mereka berdua, sadar bahwa mereka sangat dekat dengan bibir yang hanya berjarak beberapa senti juga.

Ichigo yang terkejut kehilangan keseimbangan, membuat mereka berdua terjatuh dan menimbulkan keributan. Tanpa sadar Rukia menarik sesuatu seperti rantai dari leher Ichigo, setidaknya karena hal itulah ia menjadi seimbang dan tetap berada di atas tubuh Ichigo sampai mereka mendarat beberapa anak tangga di bawah sana.

"Ugh..." itu suara Ichigo, ia masih terdiam sampai matanya terbuka dan mendapati Rukia sangat dekat di depan wajahnya. Sadar bahwa kali ini belakangnya benar-benar terasa sakit. Namun itu sekarang tidak lebih penting dari pada sesuatu yang sangat lembut dan basah dan juga dingin menempel pada bibirnya. Dan itu berhasil membuatnya beku sampai violet menampakkan diri tepat di depan ambernya.

Hening beberapa saat, sampai si violet terbelalak-mungkin tersadar dengan apa yang terjadi-dan segera bergerak turun dari perut dan dada bidang di bawahnya. Ichigo bisa melihat beberapa detik sebelum Rukia berbalik dan berlari menuruni tangga, violetnya berkaca.

Dan Ichigo-menghiraukan rasa sakit pada punggungnya-bergerak liar mengejar tubuh mungil yang baru beberapa detik lalu berada di atas tubuhnya dan sekarang telah hilang di balik anak-anak tangga di bawah sana. Ia dengan keras memanggil nama itu, "Rukia!"

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

BRAAK! BUUK!

"Apa itu?" Ashido berhenti meniupi mata Orihime dan mulai bergerak menuju tangga. Suara yang ia dengar barusan seperti sesuatu yang berat terjatuh menggelinding di tangga.

Orihime tersenyum senang, mungkin saja itu suara gadis yang membuatnya kesal yang terjatuh di tangga karena begitu terkejut. Tadi ia sempat melihat sosok itu di dekat tangga dari balik pundak Ashido yang sedang meniupi matanya, dan kemudian menghilang. Rencananya berhasil, mungkin Rukia-si gadis yang membuatnya kesal-melihat ia dan Ashido seperti sedang berciuman. Sesuai dengan rencananya, posisi mereka tadi memang jika di lihat dari sudut di dekat tangga akan terlihat seperti itu.

Sesuai perhitungannya, dan mungkin dewi keberuntungan juga sedang dipihaknya, Ichigo bahkan tidak ada di kelas untuk melihat-rencana-kedekatannya dengan Ashido. Dan-pikirnya-hal itu tidak akan membuat Ichigo salah paham. "Heh, Rukia... Kau pikir, kau bisa menang? Selama kau membuatku sakit hati, kau juga akan merasakan hal yang sama!" batin Orihime sambil mengejar belakang Ashido dengan wajah kemenangan, berharap ia bisa mendapati Rukia dengan wajah penuh kecewanya.

Ashido terdiam, barusan ia mendengar suara seseorang. Lebih mirip suara Ichigo yang memanggil, "Rukia?" ia menggeleng pelan, berpikir mungkin saja dia salah dengar. Namun sesuatu di beberapa anak tangga di bawah sana menarik perhatiannya. Ia mengambil benda itu dan melihatnya dengan teliti. Sebuah kalung dengan liontin cantik berhuruf K di tangan kanannya, "Inikan, milik Ichigo."

"Ashido-kun, ada apa di bawah sana?" suara Orihime terdengar dari belakang punggungnya, Ashido dengan cepat memasukkan kalung yang ia temukan tadi ke saku celananya. "Tidak ada apa-apa." jawabnya sambil menaiki kembali anak tangga satu persatu.

.

.

~Aqua'Sora~Aqua'Sora~Aqua'Sora~

.

.

Ichigo bisa melihat sosok yang berlari di depan sana, ia berusaha agar gerakan kakinya lebih cepat lagi. Dan semakin ia berlari, semakin jelas dan dekat sosok di depan sana. Halaman sekolah sudah sepi, hanya angin dan debu yg bertiup. Langit terlihat lebih mendung daripada sebelumnya.

Greb!

Ichigo menahan pergelangan tangan Rukia, sehingga pemilik iris violet itu berhenti mendadak dan terpaksa berbalik menabrak udara antara dia dan Ichigo. Nafas Ichigo keluar dengan kasar, kepulan asap dingin di depan wajahnya menyembunyikan sedikit wajah Rukia dari ambernya. Menyatakan fakta bahwa udara semakin dingin, dingin yang mematikan. Hampir menyembunyikan fakta wajah Rukia yang berurai air mata.

Ichigo benar-benar tertusuk melihatnya, ia tidak percaya, ia telah membuat Rukia menangis. "Rukia, aku-"

"Ichigo, aku menyukai..." potong Rukia cepat, membuat ia hampir sedikit terbatuk oleh udara dingin yang ia hirup melalui mulutnya. Sedang Ichigo tercekat, membatu ditempatnya dengan wajah tak percaya dengan yang ia dengar barusan.

"Apa-" suara Ichigo keluar, tapi itu sangat kecil.

"Ya, sepertinya aku menyukai..." air mata masih mengalir di pipinya, gadis itu sendiri memasang wajah tidak percaya, mungkin dengan perasaannya sendiri. Ichigo hampir tersenyum, ujung bibirnya sudah akan berkedut tepat ketika sebuah benda putih yang dingin jatuh di ujung hidungnya, tepat pada detik saat Rukia melanjutkan mengeluarkan suaranya yang bergetar, "...Ashido. Aku menyukainya."

Ichigo tidak percaya yang baru saja ia dengar. Rukia menyukai Ashido, itu kata-kata yang paling menyakitkan yang pernah ia dengar dari siapapun. Salju mulai turun satu persatu di sekitar mereka, salju pertama yang jatuh akan membawa hal baik apabila dilihat bersama seseorang, setidaknya itu yang Ichigo pikirkan selama ini. Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Setelah lama terdiam, Ichigo mulai menarik senyum, senyum yang bahkan lebih menyakitkan dibandingkan bila teriris pisau. "Begitu," perlahan ia melepaskan tangannya dari pergelangan Rukia, mencoba menyadari bahwa Rukia bahkan tidak marah padanya karena kejadian di tangga tadi. Bahkan sampai detik saat Ichigo berbalik dan membiarkan punggungnya menatap Rukia, setidaknya sebuah tamparan dari gadis itu akan lebih baik dari kenyataan yang baru ia dengar tadi.

Rukia masih terdiam, matanya tidak lepas dari punggung Ichigo di depannya. "Maaf, Rukia." itu kata terakhir yang terdengar sebelum punggung itu semakin menjauh tenggelam di tengah jatuhnya salju. Entah kenapa, amethysnya berhenti mengeluarkan air mata sejak Ichigo menatapnya tadi. "Maaf? Untuk apa?" Rukia menatap tanah di dekat kakinya yang mulai tertutupi salju. Segala ingatan yang berputar hanyalah Ashido bersama Orihime di lantai tiga. Hanya itu saja, tidak ada lagi selain itu.

Asap-asap kecil mulai semakin menghalangi pandangannya, rasanya ada sesuatu yang membuat dadanya lebih sakit dibanding melihat Ashido dan Orihime tadi, tapi Rukia pun tidak tahu apa itu tepatnya. Setiap langkahnya yang meninggalkan halaman sekolah yang hening membuat rasa sakit itu semakin terasa.

Rukia menghela sebentar, kepulan asap dari mulutnya semakin tebal dan lalu menghilang. Rukia ingin rasa sakit di dadanya sama dengan asap itu, tapi itu tidak terjadi. "Rukia..." tepat saat langkahnya melewati gerbang sekolah, sebuah suara yang sangat familiar terdengar memanggilnya dari dalam halaman sekolah, Rukia menoleh ke belakang dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya.

"Mom?" dengan lirih, Rukia berbisik. Mencari namun yang ia dapat hanya butiran-butiran salju yang jatuh dengan lambat menuju tanah. Salah dengar? Tapi suara yang ia rindukan itu sangat jelas terdengar. Dan rasanya, tanpa ia sadari kristal-kristal bening yang tadi sudah terhenti kembali membasahi pipinya.

"Mom..."

.

.

.

To be Continued...

.

.

~Sora's Zone~

Setelah beberapa bulan berlalu baru bisa update fic ini lagi~ rasanya beban Sora sedikit berkurang. Buat yang menunggu update-an fic ini dengan sabar, maafkan atas keterlambatan ini... Sora sudah berusaha supaya bisa kelar secepat mungkin, tapi yah beginilah. Terima kasih ya yang masih nunggu ini fic.

Sora akan hiatus lagi, karena Sora sudah mulai sibuk dengan penulisan skripsi. Sora bakal melanjutkan menulis fic ini juga disela-sela pengerjaan skripsi, tapi Sora belum tau updatenya kapan. Mungkin, Sora akan mulai update secara teratur setelah semua kegilaan dalam menulis skripsi ini selesai. Dan sepertinya itu membutuhkan waktu yang lama. Sora benar-benar berterimakasih pada teman-teman yang masih menunggu kelanjutan fic ini dan buat teman-teman yang sudah mengirim story alert buat fic ini. Kalian yang membuat Sora sadar dan semangat bahwa harus melanjutkan fic ini.

Sora janji bakal update fic ini lagi, Sora tidak akan menelantarkan fic ini. Tapi harap bersabar yah, setelah Sora tidak sibuk lagi. Dan kali ini Sora belum bisa membalas review kalian satu-persatu. Hanya berterima kasih pada nama-nama ini saja:

Naruzhea AiChi

darries

Deshe Lusi

aeni hibiki

Chiyo

KeyKeiko

Sai

NaMIKAze Nara

Account Options

Kuro Tenma

Purple and Blue

KittyLuvBunny

kazusa kirihika

AzuraCantlye

MR. KRabs

Ichikawa soma

Hina chan

Guest

And all silent readers...

Terima kasih dukungan kalian semua, bersabarlah menunggu update fic ini selanjutnya.

Sampai jumpa... 3