Setelah beberapa hari berlalu, inilah hari pengumuman 10 orang yang terpilih. 10 orang yang terpilih akan diseleksi ketat menjadi 5 orang. Dan 5 orang yang gagal di seleksi 5 besar akan dijadikan cadangan. Mereka akan mengikuti latihan setiap hari jumat yang dilatih oleh 5 besar. Alfred terburu-buru pergi ke sanggar karena dia bangun kesiangan. Tentu saja sanggar sudah penuh sesak dengan manusia-manusia yang ingin melihat pengumuman. Alfred pun nekat menerobos untuk mendapat tempat paling depan. Ia melihat lembaran kertas, mengecek setiap nama dengan detail.
"A...A..." gumam Alfred dalam hatinya. Jantungnya berdebar cepat mencari-cari namanya yang tak kunjung terlihat. Alfred kembali mencari, namanya didahului huruf A. Alfred mengangkat kepalanya melihat ke atas. Dan...
"YES! ADA!" teriak Alfred girang namanya tertulis di lembaran kertas. Ia pun berlari menuju kelasnya tanpa sadar kalau anak-anak lain hampir saja jantungan mendengar teriakannya.
Di kelas Alfred memulai rutinitasnya senyam-senyum sendiri. Tentu saja satu kelas keheranan melihat tingkahnya. Ludwig yang sedari tadi duduk di bangku sebelah Alfred mulai merinding melihat 'sesuatu' yang sangat menyilaukan mata.
"Kau senang sekali?" tanya Ludwig tanpa melihat Alfred –saking silaunya-
"Tentu saja! Aku telah berhasil masuk 10 besar!" jawab Alfred dengan semangat membara.
"Vee~ jadi kau masuk 10 besar vee~" Feliciano yang baru datang tiba-tiba langsung nyambung.
"Tentu saja, hero pasti masuk!" Alfred mulai mengunyah hamburger yang dibawanya dari rumah.
"Vee~ Fratello juga masuk 10 besar lho~ saingan berat deh." Alfred hampir saja memuntahkan hamburgernya mendengar perkataan Feli.
"Apa! Lovino juga ikut!" kejut Alfred tidak percaya.
"Iya vee~ Fratello kan suka dengan dance vee~ sama dengan kak Antonio..." Alfred yang awalnya terkejut berubah menjadi biasa.
"Ya tapi dia tidak akan bisa mengalahkanku." Alfred 'sedikit' menyombongkan diri.
Tiba-tiba saja pintu kelas terbuka dengan keras. Sosok Lovino nampak di ambang pintu dengan wajah kesal. Feliciano melambai pada kembarannya itu. Alfred melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Lovino sedikit jengkel.
"Apa tadi kau bilang, bastard?" tanya Lovino menahan amarahnya.
"Tidak ada." Alfred mengalihkan pandangannya.
"Dengar ya. Jangan mentang-mentang kau diajarkan langsung oleh Arthur kau bisa sombong seperti itu, bastard!" Alfred memutar kedua bola matanya lalu kembali menatap Lovino.
"Ya ya ya. Aku tahu." Kata Alfred dengan nada tidak peduli. Lovino membanting pintu kelas dan pergi. Feliciano mengejarnya. Alfred hanya diam di tempatnya, mengambil headset dan memasangnya di telinga.
Pulang sekolah seleksi pun dimulai kembali. Disini Arthur ikut dalam menyeleksi -meski dia hanya melihat saja-. Seleksinya adalah mereka diharuskan untuk tes tertulis. Yaitu, tes untuk mengukur pengetahuan para breaker tentang dance. Yang kedua adalah tes fisik. Tes ini menentukan tingkat kekuatan para breaker. Yang terakhir tentunya dance. Mereka harus bisa mengikuti tehnik-tehnik dasar yang di peragakan seseorang dengan sempurna.
Pertama tes tertulis yang diadakan di kelas IPS lantai 2. Pengawasnya adalah Ivan dan Yao. Mereka terus berkeliling memeriksa apakah ada yang mencontek. Alfred mulai kesal dengan lembaran soal di hadapannya. Ia lupa menghafalkan sejarah dance. Ia pun sadar kalau ia salah bersikap sombong pada Lovino. Alfred melirik pada Lovino yang berada dua bangku di depannya. Lovino dapat mengerjakannya dengan mulus, Alfred pun terpacu untuk menyelesaikan soal. 1 jam berlalu, saatnya menyadahi tes tertulis. Setelah mengumpulkan lembaran soal, para peserta di suruh untuk berlari dari lantai 2 ke lapangan yang berjarak 1 kilometer. Awalnya mereka masih mengobrol dan protes sampai Ivan memukul meja. Para peserta langsung berlarian keluar.
Dilapangan, Antonio dan Gilbert tengah menunggu. Masing-masung memegang stopwatch di tangan. Saat para peserta sampai Antonioa dan Gilbert bergantian menekan tombol pada stopwatch. Di pinggir lapangan nampak Arthur sedang asik duduk di bawah pohon, mendengarkan lagu dari ipod-nya. Melihat sang pujaan hati semangat Alfred yang awalnya luntur serasa bangkit kembali.
"Baiklah, kalian akan kami tes lari semampunya. Setelah itu kalian harus lakukan handstand." Antonio menjelaskan.
"Tapi kami sudah punya batasan sendiri. Kesesese~" lanjut Gilbert dengan tawa khasnya. Bukanlah hal yang mudah lari di tengah lapangan yang ukurannya 500x400 meter, juga cuaca yang panas seperti ini. Di tambah mereka tidak dibiarkan istirahat setelah lari dari lantai, lagi karena tangga terdekat di tutup para peserta harus naik-turun tangga karena salah tangga. Tangga yang dibuka hanyalah tangga paling ujung yang berarti untuk kelapangan mereka harus memutar ke gedung 1 tempat kelas IPA
Para peserta mulai berlari setelah suara peluit dibunyikan oleh Gilbert. Alfred berlari kecil dulu dan ia mulai curi-curi pandang. Alfred sedari tadi melihat ke arah Arthur. Bagi Alfred, ia bagaikan melihat seorang malaikat. Entah kenapa ia bisa berhalusinasi Arthur mengenakan baju yang biasa di gunakan para angel, sebuah tongkat, sayap, dan lingkaran kecil di atasanya. Karena terlalu terbuai dengan khayalan tingkat tinggi, ia sampai tidak menyadari kalau ia salah arah dan menabrak Antonio.
"Alfred! Kau ini apa-apaan sih!" marah Antonio.
"Ma-maaf aku tidak sengaja!" Alfred pun kembali berlari meninggalkan Antonio yang masih terduduk di tanah. Ivan dan Yao datang memberikan lembaran jawaban pada Arthur. Segera Arthur pun menilai lembaran-lembaran tersebut dibantu Yao.
Kini para peserta telah melakukan lari dengan yang tersedikit 5 putaran dan yang terbanyak 15 putaran. Para peserta langsung di suruh melakuan handstand di semen yang panas tanpa ada jeda. Jadi yang awal 5 putaran telah melakukan handstand duluan. Alfred berusaha menahan panas aspal tapi ia tidak tahan. Alfred pun menjadi orang ke-7 yang jatuh. Sementara Lovino masih bisa bertahan.
"Awesome, boy!" Gilbert melemparkan botol air mineral saat semuanya telah selesai melakukan handstand. Alfred langsung menghabiskan seluruh isi botol tersebut. Ia kembali melihat ke tempat Arthur, tapi ia sudah tidak ada.
"Kalian sekarang pergilah ke sanggar," perintah Antonio mencatat sesuatu di sebuah notes. Para peserta pun pergi menuju sanggar.
Di sanggar Francis dan Arthur tengah berada di sana. Francis membukakan pintu sanggar dan menyuruh para peserta untuk berbaris. Ruang sanggar tari memang luas. Bisa menampung hingga 40 siswa dan 20 orang guru.
"Baik. Disini akan di tes kemampuan dasar kalian dalam dance. Kita tidak peduli kalian mau dilatih siapa atau dari benua mana. Sekali kalian jelek, akan langsung gugur. Jadi bersungguh-sungguh lah," jelas Francis membuat para peserta menelan ludah. Francis mengambil tape recorder sementara Arthur duduk di pinggir. Ia memegang sebuah papan dada dan pensil. Francis pun memutar lagu dan mulai memperagakan gerakan dan tarian dasar. Arthur memperhatikan dengan seksama dan mulai menulis sesuatu.
Pukul 5 sore seluruh tes baru selesai. Para peserta dipulangkan sementara Arthur, Antonio, Francis, Gilbert, dan Ivan masih harus berunding. Dari hasil keseluruhan ada yang sangat bagus, ada juga yang jelek tapi memiliki potensi.
"Ngomong-ngomong kenapa pacar kalian pada ikutan?" tanya Arthur menatap Antonio dan Gilbert dari balik lembaran kertas.
"Ah! Lovino-chan suka sekali dance jadi dia ikutan deh," jawab Antonio dengan wajah menggemaskan.
"Kalau Mattie sebenarnya suka dance, tapi dia terlalu malu untuk menunjukkan ke-awesome-annya," jawab Gilbert penuh semangat padahal jawabannya tidak nyambung.
"Hm." Arthur hanya bergumam sebagai balasan. Ivan melihat nilai masing-masing peserta yang rata-rata dibawah 8. Hanya ada 3 orang peserta yang bagus dimasing-masing tes. Antonio melihat kertas Lovino yang ternyata bagus dalam teori dan ketahanan tubuh, tapi kurang baik dalam dance-nya. Gilbert membaca punya Matthew, disana menyatakan kalau Matthew sangat bagus dalam teori, tapi buruk dalam ketahanan tubuh dan kurang baik dalam dance. Antonio dan Gilbert pun sedikit ragu.
Arthur masih terus menyeleksi, sesekali ia berunding dengan Ivan sebagai saja yang berunding hanya Arthur dan Ivan berhubung pacar Antonio dan Gilbert masuk. Yao tidak ikut berunding karena itu bukan tanggung jawabnya. Sementara Francis, ia hanya mengacau.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Arthur menunjukkan lembaran kertas yang telah diseleksi olehnya.
"Jangan, da. Dia lebih baik dari pada ini, da." Ivan mengubah susunan.
"Tapi kalau dia buruk teori. Mana bisa dia jadi breaker tanpa tahu teorinya," Arthur kembali merubah susunan.
"Begini saja, da." Ivan kembali merombak susunan. Mereka mulai kebingungan. Arthur kembali memilah-milah para nama peserta. Ia menghitung-hitung pasangan yang akan menghasilkan sebuah crew dengan kualitas tinggi. Ivan pun ikut menghitung.
Antonio dan Gilbert sedang asik bermain di pojokan, entah apa yang mereka mainkan. Sementara Francis sedikit membantu dengan menghitung juga. Karena merasa terganggu dengan Antonio dan Gilbert yang mulai tertawa nista. Arthur dan Ivan melempar sepatu Gilbert yang tepat mengenai kepala mereka berdua. Mereka pun bermain dalam diam. Setelah kurang lebih satu jam mereka berfikir, nampak sebuah senyuman di wajah mereka.
"Begini saja," Arthur meletakkan nama-nama peserta di lantai.
"Tidak, da. Kita ganti dia," Ivan mengganti seorang peserta.
"Bagaimana begini saja?" Francis mengganti salah seorang peserta. Ivan dan Arthur kembali berpikir.
"Setuju (da)!" seru mereka bersamaan. Akhirnya kesepakatan pun dicapai.
~To Be Continue~
Karena merasa bersalah Usa menambahkan 1 chapter lagi~
Semoga para reader puas...
Terutama KurehaAlpha yang sudah memintanya sejak bulan septermber ==
Akhir kata
RnR please...
