Holaaaaa minna!
akhirnya Dii bisa update lagi.
Mau balas ripiuw dulu nih
Guest : hahaha iya yah si Sasuke jadi terkesan player banget, waduuh.. Oke boleh tuh nanti author jadiin bahan pertimbangan buat jalan cerita kedepannya :D
Mako-chan : wah apa Sai sekejam itu sama sahabatnya, tapi author udah mikirin nasib Sai kedepannya kok, nanti ada 'sesuatu' yang buat dia ngelakuin 'sesuatu' ahahaha
Ocha chan : ahaha masasih? tapi kalo Ocha chan maunya begitu, hmmm, nanti author pertimbangkan :D
ok let's start!
.
Masashi Kishimoto, owner of all chara
Mademoiselledi, owner of this Fic
.
.
.
Warning!
.
OOC, Alternate Reality, Typos, Lime
.
.
.
.
.
.
.
FOOD OF LOVE
.
.
Chapter 7th
.
.
.
.
.
Ketika berjalan ke ruang kuliah mereka yang pertama hari ini, Temari menceritakan sikap aneh Sai di pantai pada Sakura.
''Jadi pada dasarnya dia bilang terlalu mencintai gadis misterius itu hingga ia tidak bisa main-main denganku,'' kata Temari.
''Ahh. Romantis sekali.''
''Dasar nasibku. Kukira semua lelaki Konoha tidak tetap hatinya, tukang serong, ternyata aku dapat yang tidak mau main-main.''
''Aku tidak mengira kau sangat menyukainya.''
''Ayolah Sakura, kuakui memang Sasuke-mu lah yang lebih tampan. Tapi jika diperhatikan mereka itu sebelas duabelas, mereka mirip Sakura!'' kata Temari penuh perasaan.
Tawa mereka menggema membangunkan seekor kucing yang sedang tidur di teras sebuah lorong saat mereka berdua melangkah semakin cepat menuju kelas.
.
.
Sai sedang membuat rumah-rumahan dari kartu atau setidaknya sama sulitnya. Kenyataannya, ia sedang memasak millefeuille buah-lapisan pastry (kue) tipis, buah tumbuk, dan krim. Tapi karena ia di Templi, hidangan itu disulap menjadi pameran yang luar biasa. Pertama-tama lapisan pastry dimasak sambil ditindih pemberat agar renyah dan garing. Lalu dilapisi karamel. Di antara lapisan itu ada souffle buah yang amat lembut. Karena souffle itu adonan kue yang tampak mirip dengan krim, orang baru akan menyadari itu souffle kalau sudah menggigitnya. Namun dibutuhkan keahlian khusus untuk hidangan rumit yang satu ini, setiap lapisan souffle harus mengembang dengan halus bagaikan genangan air, mengangkat atap pastry berkaramel yang tipis tanpa membuatnya miring, sehingga lapisan di atasnya memiliki lantai datar. Miring sedikit saja akan membuat seluruh bangunan itu roboh seperti menara Pisa. Dan setiap souflle harus lebih tipis daripada souflle di bawahnya, sehingga bagian atas tidak meremukkan bagian bawah.
Sai biasanya membuat cadangan kalau-kalau terjadi yang tidak diinginkan. Namun kali ini yang berkecamuk dipikirannya bukan pastry. Sebagian otaknya berpikir keras tentang kemungkinan makanan berikutnya yang akan dia masak untuk Sakura. Kini pengaturan waktunya menjadi kacau. Dua souffle yang ia buat gagal, ia harus memulai lagi dari awal, sementara gerak-geriknya saat ini telah menarik perhatian sang chef de cuisine-Jiraya.
Akhirnya millefeuille penggantinya selesai. Itu bukan millefeuille terbaik yang pernah ia buat, semoga masih bisa diterima, pikirnya.
Ketika Sai membawa karyanya, dengan tangan gemetar, untuk diperiksa Kakashi-sang sous chef. Sai harus menahan malu karena Kakashi memeriksa masakannya dengan pandangan yang tajam, seakan Sai baru pertama kali mengerjakan pekerjaannya. Dan lebih buruk lagi, Tuan Jiraya sendiri datang untuk memeriksa. Beberapa saat penuh penderitaan bagi Sai. Lalu Jiraya menengok ke jam dinding, dan kulit pucat Sai memerah di bagian pipi karena rasa malu. Sai sudah terlalu banyak membuang waktu, tak mungkin membiarkan tamu menunggu lebih lama, pikir Jiraya. Akhirnya Jiraya mengangguk engan, dan pelayan cepat-cepat menaruh hidangan di bawah standar itu di baki.
Awalnya Sai tidak peduli apakah dirinya chef favorit Tuan Jiraya atau tidak, namun kali ini ia merasa berbeda karena sudah biasa menjadi favorit. Hanya ada satu orang yang hasil kerjanya disukai Jiraya secara konsisten, Aburame Shino. Sai melihat seberapa kerasnya pemuda itu berusaha menyenangkan Tuan Jiraya, seperti memuji setinggi langit tentang resep ciptaan Tuan Jiraya.
''Hei! Sai, bagaimana hari ini?'' tanya Sasuke yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
''Kacau,'' gumam Sai. Sasuke mengikuti pandangan mata Sai ke arah Shino yang sedang mencicipi dengan penuh kekaguman salah satu masakan khusus Tuan Jiraya.
''Dia sudah terlalu banyak mencicipi, kurasa suatu saat nanti dia akan kesulitan membedakan mana makanan mana kotoran,'' komentar Sasuke. Sai tertawa. Betapa pun buruknya situasi, Sasuke selalu bisa menyemangatinya, yaa secara tidak langsung.
.
.
Akhirnya tibalah giliran Sai libur, dan ia pergi mencari bahan-bahan untuk pesta masaknya yang selanjutnya. Sai berjalan ke arah toko penjagalan, ia menghabiskan waktu dua puluh menit berbicara pada sang pemilik toko untuk menunjukkan-secara tidak langsung-kalau ia seorang chef. Kemudian sang pemilik pergi ke belakang dan kembali dengan tangan berlumuran darah penuh dengan; usus anak domba, otak domba, lidah babi, dan buntut kambing yang belum dikuliti. ''Masaklah dengan resep-resep sederhana ala Italia, jangan kau mencoba merekayasanya atau citarasa nya akan berbeda,'' jelas sang pemilik yang sepertinya mengerti tentang masakan Italia. Sai telah memutuskan, ia akan membuat masakan khas kota Roma. Ia ingin membangunkan bakat dalam diri Sakura, atau setidaknya ia ingin membuatkan masakan sesungguhnya.
Untuk penutup, ia berhasil memperoleh sedikit kopi luwak, biji kopi langka dari Indonesia. Tapi walaupun Sai telah dinasehati sang pemilik toko tadi, ia tidak tahan untuk tidak membuat eksperimen, mengganti sedikit bumbu asli dan menambahkannya dengan bumbu khas Konoha.
Di hatinya, perasaan bahagia dan sedih bercampur jadi satu, bagaikan putih dan kuning telur yang dikocok untuk membuat omelet. Rasa sedih karena tidak mendapatkan Sakura untuk dirinya sendiri, diimbangi rasa gembira karena bisa memasak untuk Sakura, ia tidak tahu di mana rasa sedih ini berakhir dan rasa bahagia bermula.
.
.
Bahkan sebelum Sakura sampai di apartemen Sasuke, ia sudah bisa mencium bau masakan yang terbawa angin. Dia berhenti sejenak untuk menghirup bau masakan itu, sesuatu yang rumit, yang belum pernah kurasakan, pikirnya.
Pintu apartemen dibuka teman sekamar Sasuke. ''Hai,'' kata Sakura. ''Sasuke ada?'' Sakura tersenyum pada Sai.
''Dia sedang menyelesaikan masakan untuk makan malam,'' kata Sai. ''Masuklah.''
Pintu dapur tertutup dan dari baliknya terdengar suara sumpah serapah. ''Aku tak akan masuk ke sana kalau aku jadi kau,'' kata Sai malu-malu. ''Dia seperti kesurupan kalau sedang masak.''
''Kurasa sulit untuk mengikuti resep.''
''Ya kadang-kadang, tapi jadi chef lebih dari sekedar mengikuti resep.''
''O ya? Seperti apa?''
Sai ragu-ragu. ''Untuk jadi koki, cukup jadi pelaksana ide orang lain. Tapi untuk menjadi chef, kau harus menciptakan resep juga. Contohnya masakan khas kota Roma yang akan kaumakan nanti, para chef zaman dulu telah bereksperimen menciptakan resep yang bisa kita nikmati di zaman ini. Jadi kita berhutang pada mereka untuk menyempurnakan resep tersebut mengikuti perkembangan zaman.''
Sakura mengangguk, terpesona, dan Sai meneruskan, ''Fritto misto-cincangan jeroan campur, termasuk potongan; rebusan otak dan hati, dengan siput, artichoke, apel, pir, dan roti dicelup susu, semua digoreng garing berlapis adonan telur dan remah roti. Itu akan disusul dengan makanan utama berupa pasta yang disajikan dengan usus anak sapi yang masih begitu muda sehingga masih berisi susu induknya, dimasak dengan bawang, white wine, tomat, cengkeh, dan bawang putih-yang akan kau makan nanti, sang pemilik toko bersikeras agar bahan-bahan itu dimasak dengan cara...'' Ia berhenti, mendadak sadar terlalu semangat bicata, ia juga lupa bahwa Sasuke yang harusnya ditonjolkan sebagai chef. Ia mengingat-ingat kembali, apakah ada sesuatu yang terlanjur ia ucapkan yang bisa membongkar rahasia?
''Sasuke memasakkan otak untukku?'' Wajah Sakura mengernyit.
''Juga berbagai makanan lain, hati, usus. Percaya saja padak''-hampir ia mengatakan 'ku'-tapi untungnya ia cepat meneruskan ''Percayalah pada Sasuke. Dia tahu apa yang dilakukannya.'' kata Sai. ''Tak mungkin kau bilang tidak enak setelah mencobanya.''
''Aku tidak sabar mencobanya,'' Sakura agak merasa tidak enak, pembicaraan ini terasa canggung, sementara Sai bergantian menatap dirinya dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Tapi Sakura sadar, kalau bicara tentang masakan, Sai sama sekali tidak gugup, ia bisa melihat lurus ke matanya, mata Sai memancarkan sinar antusias. Sakura berkata, ''Jadi kau yang berbelanja bukan Sasuke?''
''Apa?''
''Kau bilang tadi sang pemilik toko.''
''Aku bilang begitu?''
Sakura mengangkat bahu. Satu menit kemudian Sai bergumam kalau ia akan pergi keluar.
.
.
Terdengar seruan dari dapur, ''Sai siapa bilang ini sulit?'' Pintu terbuka dan Sasuke muncul, sambil membawa semangkuk salad ditangannya. Ia berhenti mendadak, ''Oh, Sakura aku tidak dengar kau datang.''
''Sai yang membukakan pintu.''
''Dia masih di sini?''
'''Tidak dia sudah pergi.''
''Oh oke.'' Sasuke langsung menunjukkan apa yang ada ditangannya. ''Ini salad yang sangat sulit, bahan-bahannya harus di iris tipis juga garam, merica, minyak harus pas komposisinya.''
''Kedengarannya tidak terlalu sulit dibandingkan masakanmu yang sebelumnya.''
Wajah Sasuke berubah menjadi serius, ''Ah, tapi dalam urusan memasak, yang paling sederhana justru yang paling sulit.''
''Bicaramu jadi seperti Sai.''
''Sai? Aku juluki dia filsuf makanan. Dia cukup tau banyak soal masakan.''
''Apakah Master akan memberiku ciuman?'' tanya Sakura manis.
Sasuke menaruh mangkuk salad dan mencium Sakura yang menengadah. ''Hei kita tidak usah makan malam, yuk?'' ia berbisik pada Sakura sambil mencium leher Sakura. ''Kita langsung saja ketempat tidur, hmmm?''
''Kau bercanda,'' desah Sakura. ''Wangi masakannya luar biasa.''
''Kita makan nanti saja.''
''Tapi aku ingin tahu apa yang kau masakkan untukku.''
''Nanti juga bisa.''
Tangan-tangan Sasuke dengan cekatan melepas kancing-kancing baju Sakura. Sakura merasakan celana panjangnya melonggar ketika kancingnya dibuka. Dan hampir bersamaan, bra-nya mulai dilepas. Sesaat dia bimbang, ''Aku juga bisa nanti kan, Sasuke?''
Sasuke tak mau berdebat. ''Oke, makan dulu, baru kita ketempat tidur.''
Sakura agak kesal. Bukannya ia tidak ingin ke tempat tidur dengan Sasuke, tapi dia tidak ingin Sasuke mengangganp dirinya pasti mau dengan ajakan makan malam sebagai pembuka jalan ke tempat tidur. Sakura ingin membuka mulut untuk protes, tapi menutupnya lagi.
Tapi ketika mereka mulai makan, Sakura mengubah pendapatnya. Siapa pun yang memasak Fritto misto-yang bisa bekerja berjam-jam untuk membuat makanan seenak itu, garing, potongan kulit renyah, potongan daging, dan potongan buah-pasti punya perasaan yang dalam, walaupun disembunyikan dengan baik.
''Aku tidak tahu apa yang kumasukkan ke dalam mulut.'' Sakura menghela napas dengan riang
''Akan kuberitahu nanti.''
Sakura mencibir, ''Kata Sai ada otak juga.''
''Kau pernah makan otak?''
''Tak pernah yang seenak ini.'' Sakura menusuk sepotong Fritto misto lagi dengan garpu. ''Yang ini apa?''
''Itu, kalau tidak salah, anu, eh, testikel domba.''
''Testikel?'' Dimasukkannya potongan itu ke mulut. ''Mmm, lebih renyah dari yang kuduga.''
''Ya,'' kata Sasuke samar. ''Tadinya kukira kau tidak suka.''
''Oh, ini rasanya enak,'' kata Sakura menenangkan. ''Ada lagi yang seperti ini?'' Sakura menusuk-nusuk mangkuk Fritto misto dengan garpu.
Sasuke meletakkan garpu, mendadak rasa laparnya hilang. ''Pasti masih ada, coba cari saja, aku mau ambil pasta.''
Sasuke memang sering memakan jeroan binatang. Sebelumnya ia tidak pernah memikirkan asal-usul berbagai jenis jeroan itu, tapi sekarang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Sakura ia terpaksa membayangkan benda-benda tersebut, sehingga merasa agak mual.
''Benar-benar tidak masuk akal,'' kata Sakura. ''Kenapa orang lebih senang memakan daging domba, tetapi tidak suka testikel atau ginjalnya? Si domba pasti lebih suka kita makan testikel atau ginjalnya jadi dia tidak perlu mati seperti ketika kita mengambil dagingnya.'' Sakura menaruh lagi pasta ke piringnya. ''Kau tidak makan pastanya? Ini betul-betul gurih.''
''Tidak, itu khusus buatmu.''
''Oh ini nikmat sekali.''
Sasuke tersenyum kecil dan mengangkat bahu. Sakura belum pernah berseru seperti itu karena aku, pikirnya agak cemburu. Baru karena masakan Sai. Lalu ia ingat. Dia-lah yang akan tidur dengan Sakura. Apa salahnya kalau Sakura lebih dulu memasukkan masakan Sai ke mulutnya?
''Akan ku buatkan kopi,'' kata Sasuke.
Ketika ia kembali, Sakura sudah mematikan lampu dan duduk santai di lantai dan tersenyum manis pada Sasuke.
Sasuke menuang kopi ke cangkir Sakura. Sakura mencium kopinya. ''Baunya menarik. Kopi apa ini?''
''Kopi luwak,'' kata Sasuke mengingat-ngingat apa yang dikatakan Sai tadi. ''Dari Indonesia.''
''Kopi luwak? Wow!'' Sakura menyeruput kopinya.
''Kenapa?''
Sakura menatap wajah Sasuke dan mencoba menjelaskan pada kekasihnya itu.
Diam-diam Sasuke meletakkan cangkirnya. Ia tidak menyangka Sai memberi mereka kopi yang dibuat dari tahi tikus.
Sasuke merangkul Sakura. Sakura menoleh ke arahnya dan bersandar, matanya terpejam ketika bibirnya menyentuh bibir Sasuke.
Kopi brengsek itu, Sasuke bisa merasakannya di mulut Sakura dan dibaliknya, samar-samar, terasa semua makanan yang mereka santap tadi. Ia memejamkan mata mencoba mengusir pikiran yang membuatnya mual.
Sasuke merasakan tangan Sakura menyelinap ke balik celananya dan ia menahan napas. Nah, ini lebih nikmat. Sakura melakukan sesuatu yang tak diduga Sasuke dengan jari-jari lentiknya.
Sasuke menyelipkan tangannya sendiri ke balik t-shirt Sakura, jari-jarinya dengan penuh pengalaman membuka kaitan bra sang gadis. Sakura menyingkirkan tangan Sasuke sebentar, lalu membuka t-shirt nya untuk memudahkan Sasuke, kemudian melanjutkan apa yang tadi dilakukannya.
Sasuke melepas pakaian Sakura satu persatu, mencium kulit yang terbuka. Sasuke mengambil sebutir stroberi dari kulkas dan mengusapkannya ke payudara Sakura, lalu menggunakan lidahnya menjilati jejak yang tertinggal di kulit.
Beberapa menit kemudian Sasuke mengerang, ''Hmmm, ohhh...''
''Kau suka?''
''Ehm aku baru tahu kau bisa melakukannya.''
Sakura bergumam tak jelas, ia sedang asik dengan apa yang ada di mulutnya sekarang.
''Ssssh ahhh,'' kata Sasuke menegang.
Sakura merasa aneh dan liar. Ia menikmati Sasuke dengan lahap dan ketika sudah puas ia menaiki tubuh Sasuke seperti joki naik ke pelana, dan mulai berderap.
Dia telanjang bulat menunggangi kuda besar, ia memacu lari kudanya, mendorong kudanya supaya lebih cepat dengan jeritan-jeritan kecil dan himpitan kedua pahanya. Mereka semakin dekat dengan buruan. Sakura mencengkram erat ketika akhirnya terbang melayang, dia mendongak dan berteriak cukup nyaring.
''Kau baik-baik saja?'' tanya Sasuke.
''Uh,'' kata Sakura terengah-engah
''Bisakah kau...'' kata Sasuke sambil memegang tangan Sakura yang masih mencengkram erat dadanya
''Ah maaf, aku terbawa suasana.'' Sakura ingin menceritakan apa yang ia rasakan barusan namun Sasuke sudah terlalu letih dan tertidur.
TBC
.
.
.
.
..
...
Mind to review?
