Disclaimer : Detective Conan belong to Aoyama Gosho.
Sisi Gelap
Hitam Putih
By Enji86
"Selamat datang, Shiho. Oh, Shinichi dan Ran juga ikut ya. Ayo silahkan masuk" ucap ibu Heiji ketika Heiji, Shinichi, Shiho, Ran dan Kazuha sampai di rumah Heiji.
"Maaf kalau kami merepotkan" ucap Ran.
"Ah, tidak repot kok. Aku sudah menyiapkan kamar. Hmm, Ran bisa tidur dengan Shiho dan Shinichi dengan Heiji" ucap ibu Heiji.
"Ibu, kami sudah bersepakat kalau para gadis akan tidur di rumah Kazuha" ucap Heiji.
"Eh, kenapa begitu? Padahal ibu sudah menyiapkan kamar" ucap ibu Heiji.
"Kalau begitu aku menginap di sini saja karena tante sudah repot-repot menyiapkan kamar. Bagaimana denganmu, Mouri?" ucap Shiho.
"Uhm, aku sudah janjian dengan Kazuha..." ucap Ran.
"Kalau begitu, sudah diputuskan. Shiho akan menginap di sini dan Ran akan menginap di rumah Kazuha. Ngomong-ngomong aku sedang menyiapkan makanan untuk kalian jadi tunggu sebentar ya" ucap ibu Heiji kemudian berjalan ke dapur.
"Ya sudah. Sekarang kita taruh barang-barang kita kemudian kita pergi ke TKP" ucap Heiji kepada Shinichi dan Shiho. "Sedangkan para gadis bisa tinggal di rumah"
"Eh, mana bisa begitu, bodoh. Tentu saja kami ikut" ucap Kazuha.
Ran mengangguk, tanda menyetujui pendapat Kazuha.
"Tapi kemungkinan besar ini berbahaya" ucap Heiji.
"Makanya kami harus ikut. Kami tidak mau hanya menunggu di rumah dengan khawatir" ucap Kazuha.
"Bagaimana menurutmu, Kudo?" tanya Heiji.
"Sepertinya tidak apa-apa" jawab Shinichi. "Tapi kalau nanti situasinya semakin berbahaya, kalian harus pulang"
Ran dan Kazuha langsung tersenyum senang.
"Sebenarnya Heiji, aku ini juga gadis dan aku tidak mau ikut" ucap Shiho tiba-tiba.
Mereka berempat menatap Shiho.
"Apa?" tanya Shiho bingung dengan tatapan mereka berempat.
"Eh, benar juga. Tapi para gadis boleh ikut kan? Kenapa kau tidak ikut?" tanya Heiji.
"Katamu, kemungkinan besar kasusnya berbahaya kan. Lagipula aku tidak mau menghabiskan waktu liburanku di Osaka untuk mengejar pembunuh dan menonton pertunjukan analisis dua detektif yang kepalanya semakin bertambah besar ketika menyampaikan analisisnya" jawab Shiho.
"Hei!" seru Shinichi dan Heiji. Sementara Kazuha dan Ran menahan tawa.
"Huh, ya sudah kalau kau tidak mau ikut. Kau pasti menyesal. Ayo kita berangkat" ucap Heiji kesal.
Shinichi, Ran dan Kazuha beranjak keluar rumah mengikuti Heiji. Setelah mereka menghilang, Shiho membuka-buka majalah yang dibawanya.
"Lho, kemana mereka semua?" ucap ibu Heiji yang baru dari dapur.
"Oh, mereka pergi menyelidiki kasus" jawab Shiho.
"Kau tidak ikut?" tanya ibu Heiji.
"Eh, tidak. Sebenarnya aku melihat artikel tentang tempat spa yang bagus di Osaka dari majalah, jadi aku berencana pergi ke sana" jawab Shiho.
"Tempat spa? Kedengarannya menyenangkan. Bagaimana kalau kita pergi bersama?" ucap ibu Heiji.
"Tentu" ucap Shiho tersenyum.
XXX
"Apa itu kalung yang diberikan Hattori padamu?" tanya Ran sambil menunjuk kalung yang dipakai Kazuha. Mereka berdua sedang menunggu Shinichi dan Heiji yang melakukan penyelidikan di TKP.
"Ya, bagus kan?" ucap Kazuha ceria.
"Ya, indah sekali. Aku tidak menyangka ternyata Heiji pandai memilih" ucap Ran.
"Kau benar. Aku juga kaget waktu melihat kalung ini. Tapi... aku masih merasa gelisah. Aku tidak mengerti kenapa orang tua Heiji mengunjungi gadis itu" ucap Kazuha.
"Jangan begitu, Kazuha. Hattori sudah bilang kalau orang tuanya hanya salah paham. Lagipula Hattori dan Miyano sudah menegaskan bahwa mereka hanya berteman" ucap Ran.
"Tapi..." ucap Kazuha.
"Dengar! Hattori tidak memberikan kalung pada Miyano tapi padamu. Itu suatu pertanda bagus. Shinichi saja belum pernah membelikanku kalung atau perhiasan lainnya. Jadi kau sangat beruntung, Kazuha" ucap Ran.
"Begitu ya? Aku rasa kau benar. Terima kasih Ran" ucap Kazuha.
"Tidak masalah" ucap Ran.
"Aku pasti akan mendoakan hubunganmu dengan Kudo" ucap Kazuha.
"Terima kasih" ucap Ran.
XXX
"Wah, sudah lama tidak spa, rasanya sangat segar. Tempat spa tadi benar-benar bagus. Mereka menggunakan bahan-bahan alami" ucap ibu Heiji.
"Ya, benar" ucap Shiho.
"Kau kenapa, sepertinya hari ini jadi pendiam?" tanya ibu Heiji.
"Tidak apa-apa. Aku hanya... hanya merasa senang bisa pergi dengan tante. Mungkin seperti ini rasanya menghabiskan waktu dengan ibu yang tidak pernah kumiliki..." ucap Shiho.
"Sudah, sudah. Aku tidak punya anak perempuan jadi aku juga senang pergi denganmu seperti ini" ucap ibu Heiji.
"Terima kasih" ucap Shiho.
"Tidak masalah. Lebih baik kita jalan-jalan dulu sebelum pulang" ucap ibu Heiji sambil menggandeng tangan Shiho.
"Baik" ucap Shiho sambil tersenyum.
"Apa kau tidak tertarik pada kasus kriminal?" tanya ibu Heiji sambil berjalan.
"Biasa saja tante" jawab Shiho. "Memang kenapa tante bertanya begitu?"
"Yah, soalnya kau lebih memilih spa daripada kasus padahal kau pacarnya Heiji. Kazuha saja selalu menemani Heiji kemanapun" ucap ibu Heiji.
"Ah, begitu. Sebenarnya aku hanya sedang bosan. Setiap saat selalu ada kasus karena ada magnet mayat di sekitarku. Dan sekali lagi kukatakan tante, aku dan Heiji tidak pacaran. Kami hanya berteman" ucap Shiho.
"Haah, lagi-lagi menyangkal" keluh ibu Heiji. "Tapi, apa maksudnya magnet mayat?"
"Itu julukanku untuk Kudo. Dia selalu mengundang kasus dimanapun dia berada" ucap Shiho.
"Kudo, huh? Apa kalian dekat?" tanya ibu Heiji.
"Ya, kami berteman baik. Aku mengenal Kudo lebih dulu daripada Heiji dan kami sekarang bertetangga" ucap Shiho.
"Hmm, ternyata Heiji punya saingan berat" gumam ibu Heiji.
"Apa tante?" tanya Shiho.
"Oh, tidak ada apa-apa kok" ucap ibu Heiji.
Shiho hanya mengangkat bahu.
XXX
"Lho, ayah sudah pulang?" tanya ibu Heiji ketika sampai di rumah.
"Ya, baru saja" jawab ayah Heiji. "Kau dari mana?"
"Aku habis jalan-jalan dengan Shiho. Rasanya seperti punya anak perempuan. Kami pergi ke spa terus ke mall. Aku senang sekali" ucap ibu Heiji.
Shiho pun mengangguk dan tersenyum tapi ayah Heiji masih memasang tampang galaknya pada Shiho dan berlalu ke kamarnya. Shiho pun mengangkat bahu.
"Maaf ya Shiho. Suamiku memang begitu" ucap ibu Heiji.
"Tidak apa. Oh ya, Heiji pernah bilang padaku kalau om sangat mahir main catur" ucap Shiho.
"Ya, begitulah. Kenapa?" tanya ibu Heiji.
"Kalau begitu, aku ingin minta tolong pada tante" ucap Shiho.
XXX
"3 babak?" tanya ayah Heiji.
"Ya. Pemenangnya adalah yang memenangi 2 babak. Jika aku menang, om harus bersikap baik padaku" jawab Shiho.
"Hmph. Kenapa aku harus mengikuti permainan ini?" ucap ayah Heiji.
"Ho-oh. Jadi komisaris polisi Osaka takut pada tantangan seorang anak SMA" ucap Shiho dingin.
"Aku tidak takut. Aku hanya tidak ingin terlibat dalam hal tidak penting seperti ini" ucap ayah Heiji tidak kalah dinginnya.
"Aduh kalian berdua. Jangan seperti ini" ucap ibu Heiji.
"Terserah. Kalau memang tidak takut, om harus membuktikannya" ucap Shiho.
"Sepertinya kau benar-benar ingin mendapat pelajaran. Baiklah kalau begitu. Kalau kau kalah, jangan pernah menginjakkan kaki di rumahku lagi" ucap ayah Heiji.
"Sayang, jangan begitu" ucap ibu Heiji.
"Deal. Ayo kita mulai" ucap Shiho kemudian mengedipkan mata ke ibu Heiji.
"Aduh, kacau deh" ucap ibu Heiji.
XXX
"Sepertinya pertandingan ini berakhir dengan seri" ucap Shiho.
Ayah Heiji dan Shiho main catur di ruang keluarga sementara ibu Heiji sudah menghilang ke dapur. Babak pertama dimenangi oleh Shiho, babak kedua oleh ayah Heiji dan sekarang mereka sudah ada di akhir babak ketiga.
"Benarkah? Bukankah seharusnya kau bisa menang?" ucap ayah Heiji.
"Aku tidak mengerti" ucap Shiho bingung.
"Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kaulakukan. Apa maksudmu sebenarnya?" ucap ayah Heiji.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang om bicarakan" ucap Shiho sambil tersenyum.
"Huh, ternyata kau memang bukan wanita sembarangan" ucap ayah Heiji.
"Ooo, jadi itu sebabnya om bersikap begitu padaku. Ternyata insting komisaris polisi Osaka tidak bisa dianggap remeh" ucap Shiho.
"Jadi kau hitam atau putih?" tanya ayah Heiji.
"Abu-abu" jawab Shiho.
"Kalau begitu berjanjilah kau akan menjadi putih" ucap ayah Heiji.
"Maaf aku tidak bisa. Diriku sudah bukan milikku lagi" ucap Shiho.
"Bagaimana bisa begitu?" seru ayah Heiji.
"Karena aku tidak akan pernah bisa meninggalkan orang itu" ucap Shiho sambil tersenyum.
"Hmm, golongan putih pasti akan kesulitan kalau kau bergabung ke golongan hitam" ucap ayah Heiji.
"Aku hanya bisa bilang, kalau orang itu yang bergabung ke golongan hitam maka dunia akan diliputi kegelapan" ucap Shiho.
"Dan tentu saja kau tidak akan memberitahuku siapa orang itu" ucap ayah Heiji.
"Berdoalah agar orang itu tidak bergabung ke golongan hitam. Aku sendiri selalu berharap agar orang itu tidak bergabung" ucap Shiho.
"Huh, kau benar-benar membingungkan. Tapi aku terkesan. Aku rasa aku bisa bersikap baik padamu karena sekarang kau masih abu-abu" ucap ayah Heiji.
"Terima kasih. Dan kalau bisa, Heiji juga" ucap Shiho.
"Dia akan mendapatkannya jika dia sudah bisa mengalahkanku bermain catur" ucap ayah Heiji.
"Heiji yang malang" ucap Shiho sambil geleng-geleng kepala.
Mereka berdua tertawa sampai ibu Heiji memanggil mereka berdua untuk makan malam.
XXX
"Kalian baru pulang? Apa kalian sudah makan malam?" tanya ibu Heiji.
"Kami sudah makan" jawab Heiji. "Ngomong-ngomong Shiho mana?"
"Di ruang makan, sedang ngobrol dengan ayahmu" ucap ibu Heiji.
"Err. Mengobrol dengan ayah?" ucap Heiji bingung.
"Iya. Lihat saja sendiri" ucap ibu Heiji sambil menarik Heiji ke ruang makan.
Heiji membeku di tempat melihat ayahnya bicara kepada Shiho sambil tersenyum lembut.
"Apa aku sedang bermimpi? Apa itu benar-benar ayah?" tanya Heiji.
"Tentu saja. Shiho benar-benar hebat, bisa menjinakkan ayahmu. Oww, aku benar-benar ingin dia menjadi anak perempuanku" ucap ibu Heiji.
Mendengar hal ini, Shinichi langsung dilanda rasa gelisah dan berdoa semoga hal itu tidak terjadi sementara Heiji terus memperhatikan ayahnya dan Shiho yang sedang mengobrol.
XXX
Heiji terbangun dari tidurnya dan merasa tenggorokannya kering. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke dapur. Dalam perjalanan, dia melihat pintu yang menuju ke halaman belakang terbuka. Dia segera ke sana untuk memeriksa dan menemukan Shiho duduk tertidur di beranda sambil bersandar pada dinding. Heiji tersenyum melihatnya, kemudian dia duduk di sebelah Shiho. Gerakan Heiji yang bersandar pada dinding kayu membuat badan Shiho selip sehingga kepala Shiho jatuh ke bahu Heiji dan membuat Shiho terbangun.
"Maaf, kau jadi terbangun" ucap Heiji.
"Mmm, Heiji? Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Shiho.
"Aku melihat pintu ke halaman belakang terbuka dan menemukanmu tidur di sini... Hei, seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidur di sini?" ucap Heiji.
"Oh, sepertinya aku ketiduran. Aku tadi sedang berpikir" ucap Shiho.
"Mikir apa?" tanya Heiji.
"Ra-ha-si-a" ucap Shiho.
"Lagi-lagi begitu. Oh ya, apa yang kaulakukan pada ayahku sehingga dia jadi seperti itu?" tanya Heiji.
"Sederhana. Aku menantangnya main catur dan aku memenangkan taruhannya" ucap Shiho sambil tersenyum.
"Kau... menang main catur dengan ayahku?" tanya Heiji.
"Lebih tepatnya seri, tapi aku tetap memenangkan taruhannya" ucap Shiho.
"Bagaimana bisa..." ucap Heiji.
"Heiji, tentu saja aku bisa. Aku jenius" ucap Shiho.
"Oh, benar juga" ucap Heiji mengeluh.
"Lalu bagaimana dengan kasusnya?" tanya Shiho.
"Aku akan cerita tapi kau harus menebak pelakunya" ucap Heiji.
"Ha-ah. Kenapa aku harus melakukan hal yang merepotkan begitu?" ucap Shiho malas.
"Sudahlah, coba saja. Kau jenius kan" ucap Heiji.
"Ya sudah, cepat ceritakan" ucap Shiho.
Heiji lalu bercerita tentang kasus yang tadi telah diselesaikannya bersama Shinichi. Sementara itu ibu Heiji yang juga terbangun karena tenggorokannya kering tersenyum mendengar Heiji dan Shiho mengobrol di halaman belakang.
"Mereka bahkan mengendap-ngendap di malam hari supaya bisa berduaan. Sampai kapan mereka berdua akan tetap menyangkal" gumam ibu Heiji pada dirinya sendiri.
XXX
"Kau ngantuk ya? Lebih baik kita kembali ke kamar" ucap Heiji.
"Ide bagus" ucap Shiho.
Heiji bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Shiho berdiri. Mereka berjalan bersama menuju kamar mereka yang bersebelahan. Ketika saling mengucapkan selamat malam di depan pintu, mereka mendengar suara-suara dari kamar Heiji.
"Suara apa itu?" tanya Shiho.
"Kudo" ucap Heiji membuka pintu dan masuk ke kamarnya diikuti Shiho.
Heiji mengguncang-guncang Shinichi yang mengigau agar terbangun. Shinichi bangun dengan nafas terengah-engah. Keringat membasahi wajahnya.
"Kudo, apa yang terjadi?" jawab Heiji.
"Aku rasa dia mimpi buruk. Heiji, bisa kau ambilkan air?" ucap Shiho.
"Oke" ucap Heiji beranjak keluar kamar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Shiho sambil menggengam tangan Shinichi sehingga Shinichi menatap wajahnya.
"Aku... aku..." ucap Shinichi.
"Hei, itu cuma mimpi. Kau berani mengejar pembunuh tapi kau takut dikejar mimpi? Bukankah kau sangat unik, detektif?" ucap Shiho tersenyum.
Shinichi tertegun sejenak sebelum menyadari bahwa Shiho menggodanya.
"Lihat siapa yang bicara. Bukankah kau juga selalu ketakutan dengan mimpi" ucap Shinichi.
"Memang, tapi aku sudah bisa mengatasinya" ucap Shiho sambil melepaskan tangannya dari tangan Shinichi dan bangkit berdiri.
"Apa kau bisa?" ucap Shiho.
"Huh, aku pasti bisa" ucap Shinichi.
"Selamat malam, detektif" ucap Shiho lalu berjalan keluar kamar dan hampir menabrak Heiji yang membawa air.
"Mau kemana?" tanya Heiji.
"Mau tidur" jawab Shiho.
"Lho kok tidur? Kudo bagaimana?" ucap Heiji.
"Heiji, Kudo hanya mimpi buruk" ucap Shiho.
"Err, yah, kau benar. Mungkin karena aku tidak pernah melihatnya seperti itu makanya aku jadi khawatir" ucap Heiji.
"Tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja. Selamat malam" ucap Shiho.
"Selamat malam" ucap Heiji.
Setelah Shiho menghilang ke kamarnya, Heiji juga masuk ke kamarnya dan menutup pintu kemudian menghampiri Shinichi.
"Mimpi buruk, eh?" ucap Heiji sambil memberikan air yang dibawanya. Mulutnya membentuk senyuman nakal.
"Sudahlah, jangan menggodaku" ucap Shinichi kesal kemudian minum air yang dibawa Heiji.
"Kau dan mimpi buruk? Aku tidak bisa percaya. Bukankah kau orang paling optimis yang pernah kutemui? Sebenarnya apa yang kau impikan?" ucap Heiji.
"Aku tidak mau membicarakannya sekarang, Hattori" ucap Shinichi serius. Dan mungkin tidak akan pernah, ucap Shinichi dalam hati.
"Oke, oke. Lebih baik kita tidur sekarang. Selamat malam" ucap Heiji.
"Selamat malam" ucap Shinichi.
Shinichi tidak tidur lagi setelah itu. Dia sibuk berpikir tentang mimpi buruk yang terus menghantuinya. Sama seperti Heiji, dia juga bingung kenapa dia mendapatkan mimpi-mimpi itu. Kalau begini terus, dia bisa gila. Kalau dia mencoba tidak tidur lagi, dia bisa sakit lagi. Tiba-tiba dia ingat, ketika dia sakit, Shiho memegang tangannya dan mimpi buruk itu tidak datang. Mungkin dia harus memegang tangan seseorang waktu tidur agar dia tidak mimpi buruk. Tapi dia cepat-cepat menepis hal itu dari pikirannya. Bagaimana mungkin dia meminta seseorang untuk memegang tangannya ketika dia tidur. Dan dia terus berpikir sampai pagi.
XXX
"Hei, kenapa kau masih berpakaian lengkap?" tanya Heiji. Saat ini mereka sedang berada di pantai.
"Mesum. Kalian masih saja belum puas padahal kalian sudah melihat Mouri dan Toyama dengan bikininya" ucap Shiho.
"Kami tidak mesum. Lagian ini kan pantai. Sudah sepantasnya memakai baju renang" ucap Shinichi.
"Miyano, kau tidak ganti baju?" tanya Ran yang muncul bersama Kazuha. Mereka berdua memakai bikini.
"Tidak. Orang tua Heiji mengajakku jalan-jalan" jawab Shiho.
Kemudian dari kejauhan terlihat ibu Heiji melambai ke arah mereka.
"Aku harus pergi. Sampai nanti" ucap Shiho kemudian bergegas ke arah ibu Heiji.
Melihat hal ini Kazuha menjadi murung.
"Hei Heiji. Kenapa orang tuamu sepertinya dekat sekali dengan Miyano?" tanya Kazuha.
"Mana kutahu. Malah sekarang aku merasa seperti anak tiri. Mereka bahkan tidak mengajakku" ucap Heiji kesal.
"Ha ha" ucap Shinichi. "Tapi kelihatannya dia sangat menikmati waktu bersama orang tuamu. Kau tahu kan, dia kehilangan orang tuanya sejak kecil"
"Kau benar. Aku rasa tidak masalah meminjamkan orang tuaku padanya" ucap Heiji.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menandakan terjadinya kasus.
XXX
"Wah, kalian kok buru-buru pulang" ucap ibu Heiji ketika Shinichi, Ran dan Shiho pamit.
"Aku harus kerja, tante" ucap Shiho.
"Oh, begitu. Lain kali main ke sini lagi ya" ucap ibu Heiji.
Shiho hanya tersenyum. Aku rasa tidak akan ada lain kali, ucap Shiho dalam hati.
"Apa keputusanmu benar-benar sudah bulat?" tanya ayah Heiji sambil memegang kepala Shiho.
"Ya" jawab Shiho.
"Kalau begitu sampai jumpa di medan perang" ucap ayah Heiji.
Shiho tersenyum lagi.
Semua orang menatap mereka dengan bingung tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Oh ya, Shiho, ini hadiah untukmu sebagai balasan atas hadiahmu yang dulu" ucap ibu Heiji.
"Terima kasih banyak" ucap Shiho.
Setelah pamitan, mereka bertiga pulang ke Tokyo.
Catatan penulis :
Semoga ceritanya nggak gaje2 amat.
