侍 : Cloud of Sparrows
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Samurai: Kastel Awan Burung Gereja / Cloud of Sparrows: An Epic Novel from Japan © Takashi Matsuoka
We don't have the plot and the characters
Kami tidak mengambil keuntungan material dari fiksi ini
Warning: OOC!|| Edo AU!|| Oreshi!Akashi|| Genderbend for some chara
Para Dewa dan Buddha, leluhur dan hantu, setan dan malaikat, tak satu pun dari mereka dapat menjalani hidupmu atau mengalami kematianmu. Tak juga kemampuan meramal atau kemampuan mengetahui pikiran orang lain akan menunjukkan jalan yang benar-benar jalanmu.
Ini yang telah kuketahui
Sisanya harus kautemukan sendiri.
(Suzume-no-Kumo
1860)
Rumah
Teppei menaiki lereng gunung.
Ada sebuah gundukan salju yang aneh. Ranting-ranting pohon yang ada di situ terlalu rapi. Seperti sudah ditata oleh seseorang.
Teppei turun dari kudanya. Dia menghunus pedangnya dan mendekati gundukan salju yang mencurigakan itu. Seorang penembak jitu mungkin mendirikan persembunyian seperti itu. Tetapi, mengapa di sini?
Daripada terus mengira-ngira apa isi gundukan tersebut, Teppei mengorek gundukan salju dengan ranting untuk mengetahui isi dari gundukan itu.
Sebongkah salju jatuh ke dalam. Teppei merasa gundukan yang ia korek semakin aneh saja. Ia mengeratkan pegangannya pada gagang pedang. Jaga-jaga jika sesuatu di dalam lubang menyerangnya. Teppei terus mengorek gundukan hingga salju yang jatuh semakin banyak. Muncul sebuah lubang yang berisi tubuh manusia.
"Astaga."
Gundukan itu tidak berisikan penembak jitu atau pun musuh yang bersembunyi. Hanya ada dua tubuh lemah yang sempat terkubur di bawah lapisan salju.
Dan, itu adalah tubuh tuannya yang berada di bawah tubuh geisha yang paling terkenal di Edo.
.
Kotaro menyiapkan jebakan dengan baik. Dia menemukan sebelas titik yang ideal untuk dipasangi perangkap di perbukitan yang mengelilingi jalanan bercabang tempat mereka berpisah empat hari yang lalu. Dia menggendong senapannya, sementara senapan Teppei ̶ Teppei menolak untuk memakai senapan dan lebih memilih mengambil busur dan panah Kotaro ̶ tergantung di punggungnya. Kotaro akan menembakkan senapannya jika perangkap-perangkap yang ia siapkan tidak mempan. Kalau perlu sampai dua puluh peluru di masing-masing senapan habis.
Sejauh ini belum ada yang datang. Kotaro berjongkok di atas dahan pohon yang tebal dan kokoh. Menunggu kedatangan musuh dengan bosan.
Suara kaki kuda terdengar dari arah belakang Kotaro. Refleks, Kotaro mengangkat senapannya. Dia belum bisa menembak sebelum memastikan siapa yang datang, mungkin saja itu Teppei yang sudah berhasil melaksanakan tugasnya. Teppei bilang dia akan menemui Kotaro jika dia berhasil membunuh para pengkhianat.
Semakin keras suara kaki kuda yang terdengar, semakin jelas siluet sosok yang datang. Kotaro tidak mengubah posisinya. Tetap seperti semula.
Yang datang hanya satu orang. Dia menuntun, bukan menaiki kudanya yang justru menarik sebuah tandu. Ada dua bungkusan di tandu itu. Kotaro tidak bisa memastikan apa isi bungkusan itu.
"Kotaro, aku sudah datang!"
Kotaro menurunkan senapannya. Orang itu adalah Teppei, bukan musuh. Oleh karena itu, Kotaro melompat turun dari dahan.
Bungkusan itu membentuk lekuk tubuh manusia. Kelihatannya seperti mayat yang terbungkus selimut. Sejumput helai merah terlihat dari bawah lapisan kain tersebut. Kelopak Kotaro melebar melihatnya.
Rasa takut mulai membekukan darah Kotaro lebih dari musim dingin. Rasa takutnya membuat pijakannya saat melompat turun menjadi tidak kuat. Saat menyentuh permukaan tanah yang tertutup salju, Kotaro oleng. Dia terpeleset. Entah karena memang dia terlalu lemah atau memang lapisan salju yang terlalu licin.
Kotaro bertanya-tanya dalam benaknya, siapa mayat yang ditandu itu?
.
Meski sempat terkejut, Kotaro telah berhasil menenangkan kembali dirinya. Lord Seijuuro masih hidup. Kotaro merasa lega saat mengetahui bahwa junjungannya masih belum diizinkan untuk sampai di Akaoka dalam keadaan sudah tewas.
Mereka berhasil sampai di pesisir pantai di barat Kobe. Tidak ada halangan yang mereka jumpai di sana. Tidak ada pasukan Aomine yang menyergap. Pasukan Kazunari sudah musnah, Junpei juga mungkin masih berada di pegunungan.
Kapal berukuran sedang yang mereka tumpangi sudah berlayar sejak dua jam yang lalu. Luka Seijuuro sudah ditangani. Setidaknya cukup untuk menghentikan pendarahannya. Kotaro yang kurang tidur selama berhari-hari, memilih untuk tidur di pojokan. Hanya Teppei dan Tetsuna yang masih terjaga.
"Terlambat sedikit saja, kami pasti sudah mati," kata Tetsuna. "Saya membuat lubang angin di tempat bernaung kami, tetapi lubang angin itu tertutup salju. Hampir saja kami mati kehabisan udara."
"Terima kasih sudah datang, Tuan," lanjut Tetsuna. Ia membungkuk rendah untuk berterima kasih kepada Teppei.
"Ya. Tidak mungkin aku akan membiarkan kalian tewas di sana," Teppei tersenyum kecil. "Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Kau sudah menolong junjunganku. Bukannya malah meninggalkannya kemudian melapor kepada Aomine bahwa Lord Seijuuro sudah mati membeku di bawah salju."
"Ah, omongan anda menyakiti perasaan saya."
Tetsuna kembali dihantui oleh pemikiran-pemikirannya saat dia berada di kediaman Seijuuro di Edo. Teppei saja sudah tahu, Seijuuro mungkin sudah tahu tentang identitas dirinya yang sebenarnya. Tetapi, kenapa mereka semua masih terlalu baik padanya?
"Maaf, aku tidak bermaksud," ucap Teppei. Sungguh, dia tidak bermaksud untuk membuat wanita mungil itu tersinggung.
"Tidak apa-apa. Toh, saya tidak sanggup membunuh Lord Seijuuro yang sudah terlalu baik kepada saya yang notabenenya adalah seorang pembunuh."
Tetsuna melirik ke arah Seijuuro. Syukurlah, pria itu masih bernapas. Jika tidak, Tetsuna akan melompat keluar dan membiarkan dirinya tenggelam di Laut Dalam. "Ngomong-ngomong. Anda sudah tahu sejak kapan saya adalah mata-mata Lord Daiki?"
"Sejak istana Lord Seijuuro dihancurkan oleh bom. Shintaro memberitahukannya kepadaku," Teppei menjawab dengan santai. Seolah-olah topik pembicaraan mereka bukan hal yang serius. "Dia dan Kazunari sering mengirimkan seorang samurai untuk membuntutimu."
"Saya pernah memergoki Kazunari membuntuti saya saat Lord Seijuuro pergi untuk menjemput tamunya di pelabuhan."
"Dan dua anak buah Shintaro pernah mendapatimu memasuki kediaman Daiki di dua waktu yang berbeda."
"Wah, saya tidak pernah melihat mereka."
Siapa sangka jika seorang geisha yang tahu lebih daripada apa yang orang kira dan salah satu Komandan Divisi Kavaleri yang sempat menyandang predikat tidak waras bisa bercengkrama seperti orang yang akrab di tengah situasi genting seperti ini?
.
"Ternyata, aku bukan samurai sejati serta pemimpin yang baik," kata Seijuuro. Ia berada di kamar utama bangsawan agung di Kastel Awan Burung Gereja. Seijuuro merasa asing dengan kamar ini. Keberadaan ayahnya masih terasa kuat di sini.
"Bagaimana anda bisa berkata seperti itu, Tuanku?" ucap Shintaro. "Anda berhasil bertahan hidup setelah melalui kondisi yang sangat berbahaya. Itu adalah perwujudan dari seorang samurai sejati."
Shintaro berlutut di depan pintu geser. Seijuuro duduk di kasur, sementara tabib merawat lukanya.
"Kalian bertiga berlayar dengan perahu kecil di tengah badai, diserang paus yang terluka, dan ditawan oleh para pengkhianat," Seijuuro mengeratkan kepalan tangannya untuk meredam emosi. "Itu semua karena keputusanku yang tergesa-gesa. Dengan begitu, apa aku masih layak disebut pemimpin yang baik?"
"Ugh," Seijuuro meringis pelan, darah kering luka di punggungnya terbawa saat perban dilepas. Ia menarik napas dengan keras. Mencoba agar tetap terihat kuat, meski dirinya sangat ingin berteriak kesakitan.
"Maafkan hamba, Tuanku," kata tabib. "Hamba terlalu keras menariknya."
Seijuuro melambaikan tangan sebagai pertanda dia tidak apa-apa. "Sedangkan aku, dikejutkan oleh sekelompok bandit kelaparan yang mengambil kuda milikku, Tetsuna melindungiku dari dingin, dan diselamatkan Teppei. Bukan pengalaman yang pantas diceritakan kepada anak atau cucuku nanti."
"Apa yang Kotaro perbuat sampai-sampai membiarkan anda hanya berdua dengan Nona Tetsuna?" tanya Shintaro.
"Dia berjaga di tempat rombongan kami berpisah, membuat perangkap."
"Ini semua salahnya," kata Shintaro. "Anda hampir saja terbunuh karena keteledorannya."
Kening Seijuuro mengerut. "Kau bahkan tidak melihat kerjanya. Kau terpisah dari rombongan kami. Bagaimana kau menuduh Kotaro teledor?"
"Karena seharusnya dia bersama anda. Kotaro adalah kepala pengawal anda. Membiarkan anda menghadapi maut tanpa didampingi olehnya adalah hal yang tidak terampuni."
"Kotaro sudah berusaha untuk ikut denganku. Aku yang bersikeras tetap pergi hanya berdua dengan Tetsuna," ucap Seijuuro. "Dia harus berjaga di tempatnya. Siapa tahu ada anak buah Kazunari yang mendekat."
"Tetapi, Teppei sudah membunuh mereka semua. Termasuk si belah tengah berisik itu," balas Shintaro. "Seharusnya Kotaro tidak usah berjaga di sana."
Tabib istana tidak berani berkomentar apa pun. Salah ucap sedikit saja, kepalanya bisa-bisa sudah menggelinding di lantai kamar. Seijuuro dan Shintaro sudah mulai berdebat. Tabib tersebut tidak tahu bahwa Bangsawan Agung Akaoka dan penasihatnya yang sama-sama masih muda ini suka berdebat satu sama lain. Baik si kepala lumut maupun sang tuan muda, mereka sama-sama tidak mau mengalah.
"Ah, hati-hati, Tuanku," ucap tabib itu, takut luka Seijuuro terbuka lagi karena terlalu banyak bicara.
"Saat itu 'kan kita belum tahu," kilah Seijuuro. "Dan, siapa yang bisa memastikan kalau Teppei berhasil mengalahkan Kazunari saat kami berpencar? Bagaimana kalau dia gagal dan Kotaro malah membuntutiku dan tidak menyiapkan perangkap? Bisa-bisa sekarang kau ada di upacara pemakamanku alih-alih mengajakku untuk adu pendapat tentang tingkah Kotaro."
Shintaro duduk terdiam.
Tabib istana menyela, "Luka anda sudah bersih, Tuanku. Tidak ada tanda-tanda infeksi. Ajaibnya, anda tidak terkena serangan dingin. Hamba tidak bisa menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Kapten Teppei mengatakan anda terkubur di bawah gundukan salju."
"Aku tidak sendiri," kata Seijuuro. "Nona Tetsuna yang menyelamatkanku. Jika dia tidak bersamaku saat itu, pasti aku sudah mati."
"Itu berarti anda harus berterima kasih kepadanya."
"Tentu saja. Terima kasih juga atas bantuanmu."
Tabib itu membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan kamar.
Seijuuro bangun dari kasur. Jika dia ingin, dia akan berdiri saja di atas kasur, sementara pelayan memakaikan bajunya. Namun, karena kecewa akan ketidakmampuannya menghadapi gerombolan bandit waktu itu, dia memaksa untuk berpakaian sendiri.
"Tuanku," suara Tetsuna terdengar ke dalam kamar. Bayangan tubuhnya terlihat jelas di lapisan kertas pintu geser.
"Masuk saja," sahut Seijuuro. Tetsuna menggeser pintu dengan pelan sehingga suara gesekan itu tidak mengganggu orang yang berada di dalam.
"Ah, apakah saya mengganggu pembicaraan penting anda dengan Tuan Shintaro?" Tetsuna duduk di samping Shintaro. Dia memakai kimono berwarna merah dengan corak bunga sakura. Rambutnya digerai, tatanan ala geisha sudah tidak bisa diterapkan ke rambut pendeknya.
"Tidak, sama sekali tidak. Memangnya ada apa?" Seijuuro kembali duduk di ranjangnya. Berdiri terlalu lama membuat punggungnya nyeri. "Ngomong-ngomong kau pantas memakai kimono milik mendang ibuku. Kau terlihat seperti istri bangsawan agung."
"L-lord Seijuuro, anda bisa saja," Tetsuna tersenyum malu-malu. Pipinya bersemu sedikit.
Melihat respon Tetsuna atas godaan yang ia lontarkan, Seijuuro berpikir bahwa ia akan memasukkan kegiatan menggoda Tetsuna ke dalam rutinitas sehari-hari. "Memang begitu kenyataanya. Kau sangat cantik."
Setelah dia tenang kembali, Tetsuna mengatakan maksud kedatangannya. "Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda. Secara privat," kata Tetsuna. Dia memberi sedikit penekanan dalam kata-kata terakhir ucapannya. Dan, Tetsuna bisa melihat Shintaro meliriknya dengan menggunakan ekor mata.
Shintaro sontak menggenggam gagang pedangnya. Dia sudah masuk dalam mode waspada. Seijuuro tahu itu. "Baiklah Shintaro," dua manik rubi Seijuuro memerhatikan Shintaro dengan saksama, mengamati setiap perubahan ekspresi atau gerak badan samurai tersebut. "Bisakah kau tinggalkan ruangan ini dan memberikan kebebasan kepada kami berdua untuk berbicara? Aku terlalu malu jika interaksi terlalu intens kami dilihat olehmu."
Shintaro mendengus. Dalam hati ia mengumpat seribu sumpah serapah kepada Tetsuna. Ya, Tetsuna, bukan tuannya. Dia membungkuk hormat sebelum pergi. Suara Seijuuro kembali terdengar begitu jemari Shintaro menyentuh permukaan pintu geser. "Tolong beritahukan kepada mereka yang berjaga di sekitar kamar ini untuk segera pergi. Nona Tetsuna ingin bicara empat mata empat telinga dengan ku. Jadi mohon, jangan ada mata atau telinga lainnya."
"Siap," ucap Shintaro dengan pasrah sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah merasa suasananya benar-benar privat, Tetsuna menghela napasnya, sudah siap mengatakan semuanya. "Ini tentang diri saya sendiri. Bisa dibilang ini adalah pengakuan saya."
.
Saat itu Tetsuna berumur sepuluh tahun.
Dia duduk di ruangan ketua klan dengan diam, tidak tahu untuk apa ia dipanggil kemari. Tetsuna ingin bertanya, namun Chihiro sudah berpesan agar tidak bersuara jika tidak di suruh. Jadi, dia hanya duduk diam sambil menunggu perintah.
"Tuanku,"
Semua orang ada di dalam ruangan membungkuk hormat begitu pintu ruangan terbuka. Seorang pria setengah baya masuk ke dalam ruangan. Dia memakai setelan rapi yang mempertegas bahwa dia adalah orang yang terhormat. Dia adalah keluarga bangsawan. Bangsawan Agung Hino sebelum Daiki, Aomine Daichi.
"Apakah dia yang kau maksud?" Pria tua itu menunjuk Tetsuna. Ketua klan mengangguk. Daichi berlutut di depan Tetsuna, mengelus pucuk kepalanya lembut dan tersenyum licik. "Anak ini akan menghancur banyak pria, termasuk pria di klan Akashi suatu hari nanti."
"Siapa namamu, nak?" tanya Daichi.
"Tetsuna."
"Baiklah, Tetsu, tumbuhlah menjadi gadis yang cantik. Jatuhkan klan Akashi dan musnahkan mereka."
.
"Saya adalah ninja kiriman Aomine Daiki untuk membunuh anda."
Selama mengaku, Tetsuna menundukkan kepalanya. Dia tidak berani memandang wajah Seijuuro. Seijuuro juga tidak bilang apa-apa sejak tadi. Kesunyian yang mengikuti setelah dia mengucapkan kata terakhir pengakuannya hampir tak tertahankan bagi Tetsuna. Dia hampir menangis, tetapi demi harga dirinya dia menahan air matanya.
Seijuuro akan membunuhnya, atau sesuai dengan kebaikan hatinya selama ini, Seijuuro hanya akan mengasingkan Tetsuna. Apa pun tindakan Seijuuro, hari ini tetap menjadi hari terakhirnya melihat wajah pria itu. Jika dia dibiarkan meninggalkan istana ini dalam keadaan hidup, Tetsuna tahu apa yang akan dilakukannya. Dia akan pergi ke Tanjung Muroto untuk menebus semua kesalahannya.
Di sana ada kuil Buddha kecil milik sebuah sekte Zen yang tidak terkenal. Berdiri kokoh di atas karang terjal tepat di atas laut. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga dibangun dari pantai hingga ke kuil di puncak karang. Tetsuna akan menaiki anak-anak tangga dan berhenti di setiap anak tangga untuk mengakui cintanya kepada Seijuuro. Dia akan memohon kepada Amaterasu-no-mikami, sang Dewi Matahari, agar menyinari Seijuuro dengan cahaya abadinya selama hidup Seijuuro.
Sesampainya di atas, Tetsuna akan berterima kasih kepada semua dewa dan Buddha yang telah memberinya hidup selama ini, kepada mendiang kedua orangtuanya karena telah menghadirkan dirinya ke dunia ini, kepada Chihiro yang selama ini telah menjadi kakak yang selalu melindunginya, dan kepada Seijuuro yang telah memberinya cinta yang tak pantas ia terima. Lalu, Tetsuna akan terjun ke samudra, tanpa takut, tanpa sesal.
"Bagaimana caramu melakukannya?" Seijuuro tiba-tiba memecah keheningan yang ada.
"Tuanku?" Tetsuna masih tak berani mengangkat kepalanya.
"Pembunuhanku. Teknik apa yang kau gunakan?" Seijuuro masih belum menerima jawaban dari Tetsuna meski sudah mengulangi pertanyaannya. "Apakah kau akan melakukannya di malam hari saat aku tidur? Setahuku itu adalah cara yang paling baik."
Tetsuna tak mampu menjawab. Jika dia mengatakan satu patah kata saja, dia pasti tidak dapat menahan emosi lagi. Diam dan gemetar, Tetsuna tetap menunduk.
Seijuuro menghela napas pelan, tangannya terulur kepada Tetsuna. Seijuuro menyentuh dagu wanita itu dan mengangkat kepalanya pelan. Memaksa agar Tetsuna mau menatapnya. "Tu-tuanku." Kata Tetsuna. Dia mencoba melepaskan dua jari Seijuuro yang berada di dagunya.
"Ya?"
"Anda tidak boleh menyentuh saya." Tetsuna membebaskan kepalanya dari jemari Seijuuro. Tetsuna kembali menunduk. "Anda tidak boleh menyentuh saya. Sang terhukum tidak diperbolehkan sama sekali untuk disentuh oleh junjungannya. Kecuali untuk dibunuh. Apa anda berniat untuk mengeksekusi saya sekarang juga?"
"Sang terhukum? Kau ini bicara apa?" Seijuuro menangkup wajah Tetsuna dengan kedua telapak tangannya.
"Tuanku," ucap Tetsuna. "Anda tidak boleh. Kejahatan hamba akan semakin besar."
"Kejahatan apa?" tanya Seijuuro. "Apa aku mati? Apa aku cacat? Apakah rahasiaku yang terdalam sudah kau-bocorkan ke musuhku?"
"Hamba tidak mengakui identitas hamba yang sebenarnya kepada anda, Tuanku. Hamba juga telah menjadi mata-mata Lord Daiki yang melaporkan semua rencana klan Akashi. Hamba adalah seorang kriminal, Tuanku."
Seijuuro mengeluh, "Apa kau pikir aku begitu bodoh?"
"Eh?"
"Kuroko Tetsuna, geisha yang terkenal di Edo memilih salah satu bangsawan agung yang paling tidak berguna seperti Akashi Seijuuro sebagai kekasihnya. Menurutmu, aku begitu bodoh sehingga tidak pernah berpikir kalau ada permainan di balik semua ini?"
Seijuuro melepaskan tangkupannya. "Aku tahu kau bekerja untuk Aomine," ucap Seijuuro. "Tidak mungkin ada alasan yang lain. Mereka memang dendam pada klan Akashi tanpa alasan yang jelas. Lagi pula, kita ini bukan anak-anak atau orang asing. Kepalsuan dan penipuan semacam ini sudah menjadi salah satu budaya kita. Sudah seperti menyapa apa kabar. Kita tidak mungkin memulai percakapan tanpanya, bukan?"
"Tetapi, anda tetap harus menghukum saya."
"Benarkah?" Kedua alis Seijuuro terangkat. Wanita ini memang keras kepala. "Baik. Coba berikan saran."
"Bukan hak saya untuk menentukan hukuman."
"Aku perintahkan kau untuk mengajukan saran."
Tetsuna membungkuk, "Hukuman penggal kepala atau pengusiran adalah yang paling pantas, Tuan."
"Tidak, tidak. Aku tidak melihat kesalahan pada dirimu. Karena itu, kau diampuni."
"Tuanku, anda tidak boleh mengampuni hamba begitu saja."
Seijuuro menggenggam kedua tangan Tetsuna dan tidak mau melepasnya. "Tetsuna, jangan terus menghindariku seperti ini. Tatap aku." Biru muda menatap rubi dengan takut-takut. "Hukuman yang kau usulkan menyebabkan penderitaan yang tak terhankan bagiku. Apa itu adil?" Tetsuna mengangguk. "Bagimu. Namun, sangat tidak adil untukku."
"Rupanya cintamu padaku sangat lemah, kaupilih mati," kata Seijuuro.
"Bukan seperti itu, Tuanku. Hanya saja, saya tidak pantas untuk hidup lagi setelah semua kejahatan yang telah saya perbuat."
"Jika kau mati, aku tak punya kehidupan lagi, semua hanyalah kepalsuan. Apakah aku harus menghukum dirimu sekejam itu? Itu sama saja menghukum diriku sendiri karena sudah terlanjur mencintai mata-mata kiriman musuh."
"Lalu, apa yang harus hamba lakukan?"
"Banyak sekali yang bisa kaulakukan," ucap Seijuuro. "Satu, berhenti memanggilku tuan. Aku ingin kau memanggilku dengan namaku. Seperti yang waktu di lereng dulu. Dua, jangan pernah menghindari atau menolakku. Tiga, jadilah istriku."
Tetsuna terkejut mendengar ucapan Seijuuro barusan. "Ge-geisha dilarang untuk menikah."
"Bukannya kau sudah berhenti menjadi geisha semenjak kau memotong rambutmu? Itu artinya kau sudah diperbolehkan untuk menikah."
"Se-seijuuro," kata Tetsuna. Dan selanjutnya ia tidak bisa berkata-kata lagi. Terlampau bahagia.
.
Dua minggu tinggal di Kastel Awan Burung Gereja, Tetsuna belum sempat pergi keluar kastel. Seijuuro yang terluka tidak ingin bepergian. Dia memilih menetap di kamar atau pergi ke ruang latihan untuk berlatih ringan, dan Shintaro selalu ada untuk mengomeli tuannya ketika mendapati Seijuuro berlatih. Tetsuna sendiri beranggapan bahwa Seijuuro masih kecewa dengan kejadian di lereng.
Saking seriusnya berlatih, Seijuuro sampai lupa menepati janjinya untuk pergi ke kebun mawar. Oleh karena itu, Tetsuna meminta kepada salah satu pelayan untuk menemaninya ke sana.
"Mawar-mawar di sana sangat indah, nona pasti akan sangat menyukai tempat itu," kata Satsuki. Satsuki adalah anak Kepala Pelayan Wanita di Kastel Awan Burung Gereja. Satsuki memiliki helaian yang berwarna seperti kelopak sakura yang baru mekar. Parasnya ayu, begitu pula dengan lekuk tubuhnya. Menurut Tetsuna, Satsuki terlalu menawan sebagai pelayan.
"Tetsuna saja. Kita bahkan seumuran."
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Tetsu-chan," ujar Satsuki. "Ah, kita sudah sampai."
"Astaga, aku hampir tidak memercayai mataku," ucap Tetsuna.
Dia dan Satsuki berdiri di depan lautan mawar musim dingin. Mawar-mawar ini berwarna-warni mulai dari putih yang seputih salju hingga merah darah, dan juga ada berbagai warna perpaduan merah jambu, mulai dari yang paling terang hingga gelap. Tetsuna serasa dimanjakan dengan lingkungan sekitarnya.
Satsuki berkata, "Taman ini memang pantas mendapatkan namanya yang terkenal."
Tetsuna memandang Satsuki dengan tatapan bingung.
"Nama lain dari kastel ini adalah Kastel Lautan Mawar. Hamparan mawar di sini mungkin salah satu yang terindah."
"Kastel Awan Burung Gereja dan Kastel Lautan Mawar," kata Tetsuna. "Nama-nama puitis yang digunakan untuk mendeskripsikan benteng yang sayangnya dibangun untuk perang."
"Perang adalah puisi bagi para samurai," ucap Satsuki.
"Wah, rupanya Satsuki punya banyak pemahaman tentang samurai," puji Tetsuna.
Satsuki tersenyum. "Aku sudah menjadi pelayan di kastel ini sejak kecil," katanya. "Tiap hari aku mendengar dan melihat semua kegiatan samurai. Dari bincang-bincang biasa sampai duel ringan. Mereka punya banyak hal yang menarik untuk diketahui."
"Tetsu-chan juga pasti tahu banyak tentang kehidupan samurai. Pasti di Edo banyak sekali samurai meracau tentang hidup mereka saat mabuk," lanjut Satsuki. "Kudengar Tetsu-chan juga menghadapi perjalanan yang menegangkan bersama Lord Seijuuro. Kalau kabar burung itu benar, Lord Seijuuro adalah orang yang paling beruntung karena diselamatkan olehmu. Mungkin jumlah klan Akashi akan bertambah jika kalian melakukan perjalan bersama lagi."
Tetsuna melenggos dan memfokuskan pandangannya pada kuntum-kuntum mawar. Dia berharap Satsuki tidak melihat wajahnya yang memerah. Kenapa kabar yang memalukan seperti itu harus terus meluas?
"Begitulah kabar burung. Kautahu bagaimana. Seseorang yang tak tahu secara rinci kejadiannya akan mengatakan sesuatu yang tidak benar. Pasti terus dibumbui hingga berkembang dan melenceng jauh dari yang sebenarnya."
"Para samurai klan kami kelihatannya bukan orang yang suka bergosip. Mereka berkata Kapten Teppei menemukan kalian di rumah salju yang Tetsu-chan bangun. Apa kau benar-benar membangun rumah salju? Bagaimana caranya? Apakah susah? Berapa banyak salju yang digunakan?" Satsuki terus mencecar Tetsuna setelah puas menggodanya.
"Itu hanya tempat bernaung yang aku buat dari cabang pohon yang ditutupi salju yang turun."
"Letnan Reo menceritakanku semuanya. Dan, Letnan mendengarnya dari Kotaro. Katanya kau menjaga Lord Seijuuro agar tetap hangat dengan memeluknya telanjang. Apakah kalian selalu seintim itu setiap kali bertemu?"
Tetsuna menghela napas. Pembicaraan mereka sudah keluar topik terlau jauh. Entah Kotaro atau Letnan Reo yang harus ia kutuk. Pikiran mereka terlalu macam-macam. Sungguh, Tetsuna tidak berniat macam-macam saat itu. Tindakannya murni karena ingin menyelamatkan Seijuuro, bukan curi kesempatan. "Aku hanya menghangatkan Lord Seijuuro. Dan, kami tidak melakukannya setiap saat bertemu."
"Aku tidak tahu siapa yang salah paham di sini. Aku atau Letnan Reo? Atau Kotaro? Salah satu dari kami mungkin memang salah paham. Jadi, bagaimana kau melakukannya?"
"Melakukan apa?" Tetsuna salah tingkah. Wajahnya mulai berubah warna menjadi merah padam.
"Tidak jadi. Tolong maafkan aku atas pembicaraan tidak senonoh barusan," ucap Satsuki. Dia kasihan dengan Tetsuna yang mulai bertingkah aneh-aneh. Mungkin Tetsuna merasa malu.
"Ya, Satsuki termaafkan," kata Tetsuna. "Lagi pula kau sudah berbaik hati mau menemaniku. Lord Seijuuro berjanji mengajakku kemari, namun tidak pernah ditepati. Tega sekali." Tangannya mengelus sekuntum mawar.
Tiba-tiba terdengar suara Seijuuro, "Maaf."
Tetsuna berpaling dan melihat Seijuuro berdiri tak jauh dari tempat mereka. Senyum Seijuuro menunjukkan kepada Tetsuna kalau Seijuuro sudah berdiri di situ cukup lama untuk mendengar setidaknya beberapa patah kata percakapannya dengan Satsuki tadi. "Aku tidak pernah tahu jika Tetsuna yang terkenal berekspresi hambar akan sangat ekspresif kalau diajak bicara tentang diriku."
Melihat ketidaksukaan di wajah Tetsuna, Seijuuro mengubah ekspresinya menjadi lebih serius. Seijuuro mendekati kuntum mawar yang baru saja dibelai Tetsuna, pedang pendek miliknya dihunus, dan Seijuuro menyabetkan pedang itu dengan ringan ke tangkai mawar. Kuntum mawar itu terpisah dari batangnya dan jatuh ke tangan Seijuuro. Dengan lincah, Seijuuro menghilangkan duri-duri di tangkai mawar dengan pedangnya.
Seijuuro lalu membungkuk sedikit dan mengulurkan mawar itu kepada Tetsuna.
"Terima kasih."
"Karena anda sudah datang, maka keberadaan saya di sini menjadi tidak berguna. Saya pamit, Tuanku. Ada banyak pekerjaan yang perlu dikerjakan sekarang juga." Satsuki membungkuk hormat sebelum pergi. Diam-diam dia terkikik saat posisinya sudah lumayan jauh dari Seijuuro dan Tetsuna.
"Jenis mawar apa ini?" tanya Tetsuna.
Seijuuro menjawab, "American Beauty."
"Nama yang aneh untuk bunga Jepang," kata Tetsuna.
"Itu hanya nama di istana ini saja," ucap Seijuuro. "Salah satu nenek moyangku mengalami sebuah mimpi. Keesokan paginya, dia memerintahkan agar sekuntum mawar yang paling indah yang mekar di kastel ini dinamai American Beauty."
Tetsuna merasa penjelasan Seijuuro terdengar seperti cerita tentang sebuah ramalan atau pertanda. "Apa yang diimpikan oleh beliau?"
"Aku tidak tau cerita secara pasti. Hari itu, dia dan pasukannya bergabung dengan pasukan dari klan Takeda. Dia bersama mereka ketika pasukan gabungan itu menyerang pagar barikade di Nagashino, mungkin itu menjadi salah satu serangan kavaleri paling paling terkenal di Jepang. Dia meninggal dalam badai panah yang ditembakkan musuh, bersama ribuan prajurit berkuda lainnya. Sejak itu, tidak ada lagi orang yang mencoba melakukan serangan yang sama."
"Mimpinya membuat dia memihak pada pihak yang berlawanan dengan Tokugawa?"
"Ya. Sebelum menyerang dia mengatakan kepada para pengikutnya agar tidak takut. Mereka pasti akan mengalahkan Tokugawa. Dia menjamin kemenangan itu. Namun sayangnya, mereka gagal total."
Sebelum bisa menahan diri, Tetsuna sudah terlanjur berkata, "Itu sinting." Tetsuna langsung menutup mulutnya begitu kata-kata itu terucap. "Maafkan aku, Seijuuro. Aku salah bicara."
Seijuuro tertawa. "Nenek moyangku terlalu memaksakan realitas agar sesuai dengan mimpinya. Orang sinting seperti kami memang sering begitu. Kebiasaan buruk klanku adalah salah menginterprestasikan mimpi yang kami alami. Karena itu, penerusnya menceritakan peristiwa itu sebagai peringatan."
"Itu sangat bijak," puji Tetsuna. Dia mencoba memperbaiki kesalahannya dengan pujian.
"Akan lebih bijaksana kalau saja nenek moyangku mengingatnya sendiri," kata Seijuuro. "Saat dia terbunuh, klan Akashi hampir hancur, dan beginilah kami sekarang, menjadi klan yang paling banyak musuhnya. Terancam terbunuh kapan saja."
"Mungkin memang betul jika ramalan itu diperuntukkan bagi mereka yang percaya saja."
"Mungkin. Itu tidak menggangguku. Aku tidak bermimpi sesering para pendahuluku."
Saat lidahnya, bibir, paru-paru, dan laringnya membentuk kalimat itu, dunia sekitarnya mengabur dan gelap menghampiri Seijuuro. Lalu, Seijuuro menemukan dirinya ada di tempat lain yang asing.
.
Angin sepoi-sepoi menyejukkan kulit Seijuuro yang terasa panas.
Rasa aneh menyeruak dalam dadanya. Emosi campur aduk seperti apa yang Seijuuro rasakan sekarang? Seperti pengalaman pertama yang dia alami saat masih di Edo, Seijuuro merasa dia berada di masa depan.
Terlihat dari kejauhan, Shintaro sedang menunggangi kudanya dengan sangat lambat. Meski begitu, ekspresi di wajahnya menunjukkan bahwa dia merasa tidak sabar. Jika ini adalah masa depan, pasti hari ini tak begitu jauh, karena Shintaro belum terlihat tua. Helai hijau miliknya masih terlihat seperti warna sayuran segar, belum beruban. Shintaro tidak terlihat aneh, yang aneh adalah Seijuuro sendiri. Seijuuro melihat dirinya menjadi tembus pandang.
Kuda yang Shintaro pacu melewati gerbang sederhana yang nyaris runtuh. Seperti gerbang kastel yang sudah diserang. Seijuuro melangkahkan kakinya melewati gerbang itu. Sekali lagi, jika ini masa depan, apa yang sudah terjadi pada kastelnya hingga bangunan megah khas istana berubah menjadi gubuk-gubuk kecil?
Para pelayan dan prajurit berkumpul di depan sebuah bangunan yang ukurannya lebih besar daripada yang lainnya. Mereka menatap Shintaro. Hanya menatap, tidak menghormatinya. Seijuuro semakin heran. Shintaro adalah salah satu dari empat komandan klan Akashi, kenapa ia tidak dihormati?
Langkah Shintaro sangat tergesa-gesa. Tidak ada kesabaran sama sekali. Seijuuro mengikuti Shintaro, dari pengamatannya sendiri, Seijuuro memang sama sekali tidak terlihat. Terbukti dari tingkah orang-orang yang seperti tidak menyadarinya.
Suara tangisan bayi baru lahir menyambutnya begitu ia dan Shintaro datang. Suara itu berasal dari kamar diujung koridor. Dia segera mengarahkan pandangannya ke sana.
Seorang wanita muncul dari dalam ruangan sambil menggendong bayi tersebut. Tetapi, yang menjadi perhatian Seijuuro adalah ibunya. Siapa ibu dari bayi itu? Dia hanya memandang sekilas pada anaknya. Seijuuro tidak mungkin salah mengira. Rambut bayi itu berwarna merah, sama seperti miliknya. Tidak mungkin itu bukan anaknya. Pintu kamar kembali tergeser, kali ini yang muncul adalah Satsuki. Dia langsung menutup pintu yang berada di belakangnya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Shintaro.
"Kelahiran yang sangat sulit," jawab Satsuki. Wajahnya murung.
"Apakah dia selamat?" Shintaro kembali bertanya. Pertanyaan yang ini mewakili perasaan tidak enak Seijuuro. Apa terjadi hal yang buruk pada ibu dari anaknya?
Satsuki menggeleng. Dia membungkuk rendah sebagai permintaan maaf. "Maafkan aku, ibunya terlalu lemah dan usahaku tidak membantu."
Satsuki membuka kembali pintu itu, mempersilahkan Shintaro untuk masuk. Seseorang yang wajahnya tertutupi kain di dalam sana pasti adalah ibu dari bayi itu. Seijuuro mendadak dikuasai kesedihan begitu sadar siapa yang baru saja melahirkan. "Jadi, anak ini sama sekali tidak punya orangtua?"
Perkataan Shintaro kembali menyadarkan Seijuuro. Apakah dia sudah mati sebelum anaknya terlahir?
.
Tabib berkata tegas, "Hamba sudah memperingatkan anda agar tidak terlalu lelah, Tuanku."
Seijuuro terbaring di kasur. Dia ada di kamarnya, diomeli habis-habisan. Kepalanya jadi tambah sakit mendengar omelan-omelan itu. Omelan yang tidak jauh-jauh dari kata-kata yang menyuruhnya untuk banyak istirahat. "Aku hanya bicara dengan beberapa prajurit kemudian pergi berdua dengan Nona Tetsuna," elak Seijuuro.
"Kalau begitu, anda bicara terlalu banyak. Tolong dikurangi."
Seijuuro duduk, "Aku sehat sekarang. Kau boleh pergi. Aku butuh sendiri."
Tabib itu mencibir, "Orang sehat tak akan pingsan tanpa alasan."
"Pertanda," kata Seijuuro. "Aku mengalaminya. Tolong tinggalkan ruangan ini sebelum aku berubah menjadi galak seperti mendiang ayahku."
Tabib itu tidak berkata apa-apa. Dia hanya membungkuk hormat kemudian meninggalkan kamar.
"Shh," desis Seijuuro. Denyutan dikepalanya sungguh menyiksa. Kepalanya pening bukan main. Seijuuro kembali berbaring. Pertanda barusan memiliki efek yang lebih hebat dari yang pertama kali. Pertanda yang ini juga memaksanya berpikir lebih keras.
Dua kali Seijuuro mengalami mimpi tentang masa depannya. Dua kali juga dia dibuat bingung oleh buah tidurnya sendiri. Tetapi, hanya satu pertanyaan yang dihasilkan oleh kedua mimpi tersebut. Pertanyaan yang Seijuuro sendiri belum tahu jawabannya. Apakah dua mimpinya tersebut memang pertanda dia bisa meramal masa depan?
.
To Be Continued
A/N:
Duh, chapter ini kerasa garing ya?
Maaf kalo romensnya kelewatan kek gini. Serius, kita berdua gak terlalu mahir menggarap romens. Kemarin, ada salah satu penulis yang sepertinya sudah lama di ffn mengkritik kalau fanfic ini terlalu berat.
Dari awal memang kita gak berniat untuk buat fanfic ini full romance (kecuali chap ini), makanya romance yang muncul cuman seuprit. Itu pun garing. Tapi, kita pertimbangkan kembali krititk itu, dan hasilnya adalah chapter ini.
Soal update, setelah chapter yang ini update bakal lebih lama dari yang biasanya. Karena mulai chapter depan konfliknya makin runyem, butuh mikir ekstra. Kita berdua juga mulai dibombardir sama kumpulan tugas.
Terakhir, mohon tinggalkan jejak. Karena bikin fanfic jenis begini butuh mutar otak. Apalagi kita berdua masih penulis baru, masih hijau lah istilahnya, butuh banget apa yang namanya respon. Terserah mau kritik atau saran, tapi jangan ngeflame.
Megan & Scizzi
