Jingga dan Senja
Main Cast : Sehun, Baekhyun, Kai, Luhan, Chanyeol, Lay, Chen
Pairing: Kaihun?or Hanhun?
Genre : Drama, romance, slice of life
Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.
ChanBaek ya?hmmm liat aja deh nanti terusannya bakal gimana, sebenernya ini novel udah gantung hampir 5 tahun loh, dari pihak Esti Kinasih sendiri katanya masih proses pembuatan, sementara novel ini mau dibuat 5 trilogy. Keep sabar guys! Dan ini sudah dipanjangin wordnya^^ ini mau nanya, mau dibuat bahasanya santai atau sedikit formal aja?
Part 7
"Biar aku sendiri yang ke Busan."
"Kau Gila!" Chanyeol melotot. "Jangan! Jangan! Tunggu bentar deh. Anak-anak lagi nyetop taksi."
"Bodoh! Mana ada taksi yang mau ngangkut anak-anak yang mau tawuran? Usul siapa sih?"
"Hehe, Aku." Chanyeol meringis malu.
"Tsk! Duduk di sebelahku tak ada gunanya ya?" sesaat Kai menatap Chanyeol dengan lirikan tajam. Kemudian pria itu menggas motornya dan langsung melesat pergi.
"WOI, KAIIIIII!" teriak Chanyeol, melengking keras. Jelas sia-sia
Kai memacu motornya, membelah kepadatan lalu lintas Seoul dengan kecepatan tinggi. Berbagai macam dugaan buruk berkelebat di kepalanya. Untuknya, tawuran itu mutlak urusan pria. Dari dulu dia pantang melibatkan wanita. Sepertinya Luhan juga mempunyai prinsip yang sama. Karena itu Kai heran melihat Luhan sampai melakukan ini. Karena kejadian ini baru yang pertama kali ini.
Luhan memang bukan nama baru untuk Kai. Pria itu satu SMP dengannya, tapi tidak pernah satu kelas. Kai mulai merasakan kebencian Luhan kira-kira dua atau tiga bulan menjelang lulus-lulusan.
Sayangnya, kesibukan PM —pendalaman materi—dan seabrek kegiatan tambahan untuk menghadapi ujian akhir yang dipaksakan pihak sekolah membuat Kai tidak sempat lagi memikirkan keanehan Luhan itu. Tahu-tahu mereka sudah merayakan acara lulus-lulusan kemudian berpencar ke sekolah lanjutan tujuan masing-masing. Masalah itu pun terlupakan.
Sampai pada suatu hari Kai menemukan Luhan di antara anak-anak Busan High School yang menyerang sekolahnya. Masih dengan tatap kebencian yang sama. Dan sama seperti dirinya, masih berstatus junior yang tentu saja harus mematuhi setiap perintah para senior. Ketika Kai telah menjadi pentolan di sekolahnya, Luhan ternyata juga berdiri diposisi yang sama. Sudah tidak mungkin lagi untuk bertanya baik-baik.
Karena itu sejak dulu Kai selalu merasa serangan-serangan anak-anak Busan High School yang dipimpin Luhan secara pribadi ditujukan untuk dirinya.
.
.
.
Sementara itu di salah satu ruang kelas di Busan High School, Sehun dan Baekhyun duduk saling merapat. Satu tangan mereka saling menggenggam kuat. Tak lama pintu terbuka. Luhan berjalan masuk dan langsung menghampiri keduanya.
"Hai," sapanya ramah. Tidak ada sahutan. Luhan menatap keduanya. Pria itu kemudian berjalan ke pintu dan berseru keluar dari sana.
"Tao, ambilkan air mineral gelas, dua!"
Tak lama seorang pria muncul. Dia mengulurkan dua air mineral kemasan gelas pada Luhan sambil melirik ke arah Sehun dan Baekhyun.
"Enggak kau apa-apain kan tadi?" tanya Luhan pada Tao, pria yang membawakan air mineral itu.
"Enggak. Cuma diliatin doang. Abis cakep-cakep sih."
"Itu udah termasuk diapa-apain, lagi. Kan udah dibilang, tampang preman terminalmu itu bikin wanita ketakutan."
"Hehe…" Tao meringis. "Yang penting kan nggak dicolek-colek."
"Ya udah, sana!" Luhan menggerakkan dagu, menyuruh Tao keluar. Sekali lagi Tao menatap Sehun dan Baekhyun, kemudian menghilang di ambang pintu. Kembali Luhan menghampiri kedua gadis itu.
"Minum dulu deh. Biar kalian agak tenang," ucapnya lembut. Diulurkannya kedua air mineral gelas itu dengan sedotan yang sudah dia tusukkan hingga
menembus penutup kemasan. Ragu-ragu Sehun dan Baekhyun menerima uluran air mineral itu.
"Sori caraku tadi ya," Luhan meminta maaf. "Tapi tadi posisi kalian berdua tuh bahaya banget. Aku udah minta temen-temenku untuk hati-hati supaya nggak salah timpuk. Tapi tetep dalam situasi kayak gitu kemungkinan salah timpuk gede banget. Entah dari temen-temenku, atau bisa juga dari temen-temennya Kai. Jadi mendingan kalian diselamatkan untuk mencegah hal-hal yang nggak diinginkan."
Luhan menjelaskan panjang-lebar. Sebagian dari penjelasan itu jelas tidak benar. Dia memang sengaja menculik kedua gadis itu, terutama Sehun, untuk memancing kedatangan Kai.
"Udah pernah ngerasain ketimpuk batu, belum? Apalagi kalo pas kena kepala." Dia tersenyum dengan gaya lucu.
Cara Luhan menjelaskan, nada ramah dalam suaranya dan sorot kedua matanya yang hangat, membuat rona ketakutan mengendur dari wajah Sehun dan Baekhyun. Keduanya tersenyum meskipun masih terlihat ragu dan takut-takut.
"Gitu dong!" Luhan mengacungkan jempol kanannya.
"Tampang kalian berdua tuh kayak aku mau apain aja. Oh, iya. Siapa nama temanmu, Hun?"
"Oh, ini Baekhyun." Sehun menoleh ke Baekhyun. "Kenalin, Baekkie, ini…" ganti Sehun menoleh ke Luhan. "Namamu siapa sih?"
Seketika kedua alis Luhan terangkat.
"Kan udah dikasih tau? Di kertas kecil yang aku selipkan di dalem kamus ."
"Eh, itu… kertasnya diambil Kai," jawab Sehun dengan perasaan tidak enak.
"Oh, ya?" Luhan berlagak kaget. Tapi dalam hati dia bersiul puas. Ini lebih dari yang dia harapkan. "Ya udah. Nggak apa. Aku Luhan. Xi Luhan." Dia mengulurkan tangan kanannya pada Baekhyun. "Salam kenal ya."
Baekhyun menyambut uluran tangan itu.
"Salam kenal juga. Baekhyun, Temen semeja Sehun," katanya sambil menyunggingkan senyum.
"Oke." Luhan balas tersenyum. Kemudian pria itu duduk di meja sebelah Sehun.
Tak lama dua orang laki-laki pengendara motor yang menculik Sehun dan Baekhyun muncul di pintu dan langsung menghampiri mereka. Salah seorang menenteng tas kresek hitam. Muka Sehun dan Baekhyun langsung tegang kembali. Luhan yang bisa melihat itu jadi menahan senyum.
"Ini Kim Suho, panggilannya Suho. Dan ini Kim Chen, panggilannya Chen," Luhan memperkenalkan keduanya. "Yang tadi bawain air mineral namanya Taeyong."
"Sori tadi kami terpaksa ngebut. Soalnya takut kalian loncat," ucap Suho dengan senyum lebar. Dia letakkan tas kresek yang ternyata berisi minuman kaleng dingin ke tengah meja. Kemudian pria itu duduk di bangku depan Baekhyun, sementara Chen duduk di bangku depan Sehun.
"Baru kelas sepuluh, ya?" Chen bertanya sambil mengeluarkan minuman kaleng itu dari dalam plastik lalu membaginya satu orang satu.
"Kok tau?" Sehun balik bertanya dengan nada terdengar masih malu-malu.
"Mukanya masih kayak anak SMP sih," jawaban Chen membuat Luhan dan Suho tertawa. "Selain itu masih bodoh pula," lanjut Suho. "Udah tau lagi ada tawuran, bukannya menghindar, kabur ke mana kek gitu, malah diem di tempat."
"Mau kabur ke mana?" kali ini Baekhyun yang bicara. "Orang jalannya lurus gitu. Nggak bercabang. Udah gitu tawurannya kan dari dua arah. Mau lari ke mana?"
"Bercanda. Bercanda." Suho menyeringai.
Ketiga laki-laki itu ternyata asyik banget diajak ngobrol. Sekejap kemudian Sehun dan Baekhyun larut dalam pembicaraan seru, tanpa menyadari bahwa Luhan memang sengaja menciptakan situasi itu.
Musik, film, anime berikut soundtrack-nya, komik jepang, dan topik-topik lain, membuat kedua wanita itu lupa bahwa mereka berada di tempat yang paling diharamkan.
Selama obrolan itu diam-diam Luhan mengamati Sehun. Mencoba menemukan apa yang membuat Kai tertarik pada gadis satu ini. Manis, sudah pasti. Tidak perlu harus menatapnya lekat-lekat dan dari jarak dekat untuk menyadari fakta itu.
Senyum membuat gadis ini jadi semakin manis lagi. Bulu matanya panjang. Lurus dan hitam. Yang membuat Sehun eyes-catching adalah pernak-perniknya yang serba oranye.
"Kau suka warna oranye ya? Fanatik malah, menurutku," tanya Luhan.
Sehun meringis. Terlihat jadi semakin manis, juga jadi bikin gemas. Luhan jadi ingin mengulurkan tangannya untuk mencubit satu saja pipi di depannya.
"Soalnya itu warna matahari terbenam. Aku kan lahirnya sore, pas matahari mau tenggelam. Kata Eomma, waktu aku lahir pantulan matahari yang mau tenggelam itu bikin ruangan jadi berwarna oranye, jingga," Sehun menerangkan dengan nada riang. Dia memang bangga dengan nama dan latar historis momen kelahirannya. Jadi setiap kali ada yang bertanya tentang namanya yang unik, gadis itu akan bercerita panjang-lebar.
"Oh, gitu." Luhan mengangguk-angguk, juga kedua temannya. "Jangan-jangan nama lengkapmu ada kata jingganya?"
"Memang," Sehun mengangguk. "Sehun Jingga Matahari."
Jingga Matahari!
Luhan tersentak, tapi cepat-cepat menutupinya. Akhirnya dia temukan alasan utama kenapa Kai menyukai gadis ini. Persamaan nama.
Sepertinya ini bukan soal hati. Hanya soal sepele. Persamaan nama. Tapi masa iya Kai semelankolis itu? Pasti ada hal lain. Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu saat ini. Yang jelas, dari reaksi Kai tadi, berlomba dengannya untuk mencapai tempat Sehun berdiri, Luhan yakin ada apa-apa di antara mereka berdua.
Berarti harus benar-benar direbutnya gadis ini dari Kai. Soal hati, itu urusan nanti. Pasti mudah untuk jatuh hati pada gadis manis seperti Matahari di depannya ini.
Di tengah-tengah obrolan ramai itu, Luhan meninggalkan teman-temannya dan berjalan ke depan deretan jendela. Lima belas menit yang lalu dia menerima SMS yang melaporkan kedatangan Kai. Sekaran dia ingin melihat sampai di mana kemajuan yang dicapai teman-temannya.
Dan apa yang dilihatnya membuat bibir Luhan seketika menyunggingkan senyum lebar. Segera dia kirimkan satu SMS singkat. Setelah menunggu beberapa saat, pria itu kembali ke tempat Sehun, Baekhyun, dan kedua temannya duduk. Keempatnya masih terlibat pembicaraan seru.
Kali ini tentang Naruto. Baekhyun ngotot bahwa si Samurai X, Kenshin Himura, lebih keren ke mana-mana daripada si Naruto njegrik itu. Padahal rambut Kenshin juga sama njegriknya. Di sebelahnya, Sehun mengangguk-angguk mengiyakan.
Dengan bertelekan kedua telapak tangan, Luhan mengangkat kedua tubuhnya ke meja yang tadi didudukinya dan kembali bersila di atasnya. Dia sudah mengatur posisi mereka berlima sedemikian rupa, sehingga ketika nanti Kai datang dan melihat dari luar jendela, pria itu hanya berhadapan tubuh dengannya.
.
.
.
.
Ketika Kai sampai di depan Seoul High School, suasana terlihat sepi. Hanya beberapa anak yang masih tersisa. Dan mereka bukan dari jenis yang doyan tawuran. Tapi di pintu gerbang, beberapa teman Luhan yang sudah dikenalnya terlihat berjaga-jaga. Begtu melihat kemunculan Kai, mereka langsung bersikap siaga.
Kai menepikan motornya lalu melangkah menghampiri mereka. Dua orang segera menyambutnya dengan tatapan yang benar-benar terfokus padanya, sementara sisanya menatap ke are sekitar dengan kewaspadaan yang sama tingginya.
"Aku dateng sendiri!" tegas Kai, menatap pria di depannya yang kayaknya orang kepercayaan Luhan, tepat di manik mata.
"Bersikap kayak tamu dong. Mana sopan santun mu?" laki-laki itu membalas tatapan Kai sama tajamnya.
"Apa?!"
"Jangan angkat dagumu tinggi-tinggi gitu. kau membuatku marah, tau? Tundukin kepalamu!"
Dengan kedua rahang terkatup erat, Kai menuruti perintah itu.
"Buka jaketmu. Kan sudah kubilang tadi, kalo bertamu yang sopan!" bentak pria Busan High School itu. Sekali lagi sambil merapatkan kedua rahangnya, Kai menuruti perintah itu. Dia lepaskan jaket hitamnya. Sepasang mata laki-laki di depannya langsung bergerak ke sisi kanannya. Dia mendesis tajam.
"Ini lepas!" tiba-tiba laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya. Dan dengan sekali entakan, badge nama sekolah yang terjahit di lengan kanan baju Kai terlepas. Pria itu kemudian maju selangkah dan mengacungkan badge itu tepat di depan muka Kai.
"Kau menantang?" tanyanya. Kedua matanya menusuk tajam. Kai membalas tatapan itu tapi pilih tidak menjawab. Pria itu kemudian membanting badge di
tangannya ke tanah. Mati-matian Kai menahan gelegak kemarahannya saat badge itu kemudian diinjak kuat-kuat.
Anak Busan High School itu kemudian mundur selangkah menjauhi Kai. Untuk pertama kalinya dia mengalihkan tatapanntya ke tempat lain.
"Kau tau, aku paling seneng nonton film yang setting-nya zaman kerajaan. Tau adegan favoritku?" pria itu menoleh dan menatap Kai dengan kedua alis terangkat.
"Adegan berlutut!"
Penghinaan kali ini benar-benar sudah menyentuh harga diri Kai. Tapi dengan adanya dua orang sandera di tangan mereka, Kai tahu tidak ada jalan lain baginya selain bersikap kooperatif. Di samping itu, saat ini dia berada di kandang lawan, sendirian pula. Jadi lebih baik sadar diri dan menghentikan niat untuk berlagak ala superhero. Karena selain akan berakhir konyol, itu sia-sia pula.
Melihat keterdiaman Kai, pria Busan High School itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"kau perlu info soal dua gadis itu, kan?"
"Gimana mereka?" tanya Kai dengan desisan dan gigi-gigi terkatup.
"Eeem…" pria itu berlagak berpikir. Kemudian dia geleng kepala. "Nggak tau. Waktu mereka dibawa ke dalem, aku nggak ikut. Soalnya aku kebagian jadi satpam sih, jadi kudu standby di gerbang."
Dia menerangkan seolah-olah itu percakapan biasa. Dan dinikmatinya raut muka cemas yang muncul di muka Kai, terang-terangan.
"Cepet bayar harganya supaya bisa cepet aku cari informasinya."
Penghinaan itu sudah tidak bisa lagi dihindari. Dengan mengatupkan kedua rahangnya kuat-kuat, dengan mengepalkan kesepuluh jarinya erat-erat, Kai berusaha menahan agar katup kemarahannya tidak sampai terbuka.
Dengan sepasang mata terarah lurus-lurus pada laki-laki di depannya, perlahan Kai menekuk lutut kirinya. Dan seiring dengan itu, tubuhnya merendah. Dan sempurnalah kerendahan pria itu saat kemudian Kai menekuk lutut kanannya.
Pria Busan High School itu menatap teman-temannya lalu bersiul keras. Seketika sorak kemenangan bercampur tawa cemooh untuk Kai berkumandang di gerbang Busan High School.
Fakta bahwa Kai berlutut bukan di depan Luhan, tapi di depan salah satu anak buahnya, adalah kekalahan yang benar-benar telak. Karena berlututnya Kai adalah juga berlututnya Seoul High School!
Berdiri di depan jendela di salah satu ruang kelas, Luhan menyaksikan peristiwa itu dengan senyum puas yang tersungging lebar-lebar. Dia memang sudah meminta teman-temannya untuk jangan menghajar Kai, karena penghinaan lebih tepat… dan lebih menyenangkan untuk dilakukan!
Senyum Luhan mengembang semakin lebar. Berarti dia harus mendapatkan kehormatan yang lebih besar daripada apa yang didapatkan anak buahnya. Pria itu lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik satu SMS singkat.
Diabadikan dong. Kejadian langka tuh!
Pria Busan High School yang sedang menghadapi Kai kembali bersiul keras saat membaca SMS itu. Kemudian dia memanggil salah satu temannya dengan jentikan jari dan menyerahkan ponsel itu padanya.
"Rekam!"
Dan terabadikanlah kekalahan itu!
"Terima kasih banyak untuk kerendahan hatimu." pria itu menyeringai, lalu balik badan dan berjalan ke arah deretan ruang-ruang kelas.
Kai menatap kepergian pria Busan High School itu sambil bangkit berdiri. Dan terciptalah satu dendam baru. Luhan dan pria itu kan jadi target utamanya. Tak lama pria itu kembali.
"Ayo ikut" katanya sambil menggerakkan dagu. Kai berjalan mengikutinya menuju deretan ruang kelas dan berhenti di luar salah satunya.
Apa yang dilihatnya membuat Kai diam-diam menarik napas lega. Sehun dan temannya itu baik-baik saja. Malah lebih dari baik-baik saja. Keduanya sepertinya lupa bahwa ini markas besar musuh bebuyutan sekolah mereka. Mereka lupa bahwa ada begitu banyak orang yang mengkhawatirkan kondisi mereka saat ini. Dirinya bahkan telah berlutut demi terjaminnya keselamatan mereka.
Tapi Kai tidak menyesal telah melakukan itu, karena dia tidak tahu perlakuan apa yang akan diterima kedua gadis itu seandainya perintah itu tidak dia patuhi. Dan dia tidak mau gambling untuk sesuatu yang sangat serius seperti kehormatan, karena dia tidak mau menanggung rasa bersalah seumur hidup.
Setelah kecemasannya akan keselamatan kedua gadis itu mereda, baru Kai menyadari ada sepasang mata yang lekat mengawasinya sejak dia muncul di depan jendela. Mata milik Luhan.
Menembus bening kaca jendela, kedua bola mata hitam itu menusuk tepat di kedua matanya. Sarat dengan kebencian yang bagi Kai selalu jadi tanda tanya.
Kedua cowok itu saling tatap. Tepat di manik mata lawan masing-masing. Kai yakin Luhan tahu perlakuan apa yang telah dia terima di gerbang sekolah tadi, bahkan bisa jadi semua itu atas perintahnya. Dan sebagai ganti, Kai minta kepastian atas keselamatan kedua sandera.
Sementara itu empat orang di dekat Luhan tetap asyik dengan obrolan seru mereka. Sehun dan Baekhyun memang tidak menyadari posisi duduk mereka membuat kedatangan Kai tidak mereka ketahui.
Sementara kedua teman Luhan jelas menyadari kehadiran sosok menjulang yang berdiri di luar ruangan itu. Tapi sesuai perintah Luhan, keduanya tidak mengacuhkan sama sekali. Kemudian Luhan menggerakkan dagunya, memerintahkan temannya untuk membawa Kai pergi.
"Time is up!" kata pria yang berdiri di sebelah Kai.
Kai bergeming. Sekali lagi lewat sorot mata yang menembus bening kaca jendela, Kai meminta kepastian pada Luhan atas keselamatan Sehun dan Baekhyun.
Namun pria di sebelahnya memetahkan pandangan Kai dengan berdiri tepat di depan jendela. Tatapan mata yang tadi ditujukan Kai untuk Luham otomatis kini jadi tertuju pada pria di depannya. Terhalang punggung temannya, Luhan menahan senyum kemenangan agar tidak tercetak di bibir, karena diapastikan itu akan berkembang jadi tawa.
"Kalo kau mau kedua wanita itu tetap cuma diajak ngobrol doang, lebih baik kau pergi sekarang!" pria yang berdiri di depan Kai memberi perintah dengan nada tegas.
"bisa kasih jaminan?" ada nada ancaman dalam suara Kai.
"gadis yang namanya Sehun, nanti Luhan yang nganter pulang."
"Satunya?"
"Aku yang nganter."
"Bisa ngasih jaminan kedua gadis itu selamet sampe rumah masing-masing?"
"Atas nama Luhan… iya!" pria itu menjawab, lagi-lagi dengan nada tegas.
Atas nama Luhan. Satu kalimat pendek itu akhirnya meyakinkan Kai, ini memang urusan pribadi antara dirinya dan pria itu. Sayangnya, dia tidak tahu akar permasalahannya.
Akhirnya tidak ada lagi yang bisa dilakukan Kai selain sepenuhnya bergantung pada janji itu. Dia mengangguk meskipun kecemasan masih menggantung di dada dan kepalanya. pria di depannya menggerakkan dagu ke arah gerbang, kemudian berjalan pergi. Kai kembali bisa melihat ke dalam ruangan.
Luhan masih duduk bersila di atas meja yang sama. Kali ini dengan sebatang rokok terselip di bibir. Amat sangat sadar dengan kemenangannya. Lagi-lagi Kai hanya mampu menatapnya dengan menekan seluruh kemarahannya kuat-kuat. Kai kemudian mengarahkan pandangannya pada Sehun dan Baekhyun, yang masih belum juga menyadari kehadiran pentolan sekolah mereka.
Dengan perasaan berat Kai terpaksa memalingkan muka dan menyusul pria tadi, berjalan ke arah pintu gerbang Busan High School. Ditinggalkannya sekolah itu dengan perasaan yang semakin berat lagi, karena sepenuhnya dia hanya bisa menggantungkan pada janji lawan.
Kai tidak tahu pasti apa motivasi Luhan terhadap Sehun. Mungkin soal hati. Kalau dilihat dari kenekatannya mendatangi sekolahnya seorang diri, bahkan sampai benar-benar sampai ke depan sekolah. Hanya untuk mengembalikan kamus milik Sehun.
Kalau memang ini murni soal hati, dirinya tidak pernah peduli. Tapi belum tentu teman-temannya. Kalau mereka menganggap Sehun pengkhianat karena pacaran dengan pria dari sekolah yang jadi musuh bebuyutan, kemungkinan gadis itu bisa dipermak. Bukan oleh teman-temannya yang laki-laki, tapi yang wanita. Dan perseteruan sesama wanita sama sadisnya dengan perseteruan sesama pria. Apalagi kalau senioritas ikut bicara. Sebab dan alasan tidak lagi penting. Kalau sudah begitu, dirinya tidak bisa menolong.
Di balik helmnya, Kai menarik napas panjang dan mengembuskannya melalui mulut dengan keras. Untuk sementara yang harus dia lakukan pertama kali adalah memastikan keselamatan Sehun. Selanjutnya, kalau ini ternyata memang cuma soal hati, dia akan menyarankan pada gadis itu untuk menjaganya agar jangan sampai tercium di sekolah. Itu saja. Masalah selesai.
.
.
.
.
Nah loh Luhan suka beneran ngga tuh sama Sehun?Yuk tunggu dichapter selanjutnya. Keep review guys!^^
