Scene 7
"ASLAAAN? KRUGEEEER?" Galatea berteriak panik, mencari kedua anaknya. Kemarin malam mereka terjebak badai dan berakhir menginap di restoran china milik teman Gal. Dan saat pagi hari mereka pulang, kedua anak laki-laki tertuanya menghilang. Ia sudah berkeliling rumah, dan kalau setengah jam lagi mereka tetap tidak ditemukan, Gal akan menelpon polisi.
Di dalam gudang Kruger mendengar sayup-sayup suara Gal, mendorong pelan tubuh Ash yang masih memeluknya dalam tidur, menaiki tangga dan menggedor pintu di atas kepalanya. "MOM! AKU DI SINI!" teriaknya, membuat suara gaduh agar sang ibu mendengar.
"ah!" Gal mendekati pintu dari arah suara Kruger terdengar, menarik kenop pintunya yang berat itu dengan sekali tarikan keras. "Kruger? Ash? Ash mana?"
"Aku di sini Mom.." Ash menggaruk belakang kepalanya setelah menguap lebar , muncul setelah Kruger keluar lebih dulu. Mata Ash memicing ketika cahaya matahari menyilaukan matanya.
"Aslan? Kau gak apa nak?" Gal buru-buru mendekat, mengusap pipinya dan dahi Ash, mengecek kesehatannya. "Kau bawa obat kemarin? Kami terjebak macet Ash.. oh, Tuhan.. kau pasti kesusahan.." nada Gal makin lama makin terdengar miris.
Ash terkena claustrophobia sejak umurnya delapan tahun. Ia terjebak di dalam kloset saat rumahnya terbakar sampai sang ayah menyelamatkannya. Hal itu menjadi trauma besar ketika ternyata nyawa Edgar tidak tertolong dan anjing keluarga mereka yang mengantarnya ke luar juga tidak selamat.
Ia masih selalu terkenang perasaan tertekan ketika terjebak di lemari pakaian itu, dengan bunyi keretak api yang mendekat dan hawa yang semakin panas. Sejak saat itu Ash tidak pernah tahan berada di ruang sempit tertutup sendirian. Tubuhnya akan menggigil dan nafasnya tersengal. Biasanya Ash akan merasa sedikit tenang dengan sebutir Xanax atau Lexapro, tapi tetap saja obat-obat itu tidak menyembuhkannya.
"Kruger membantuku mom, jadi aku gak apa." Ash menjawab santai, tapi cukup untuk mengurangi kekhawatiran ibunya.
"Kruger!" Gal memekik, buru-buru memeluk Kruger, "Syukurlah dia bersamamu… terima kasih nak, kau pasti kerepotan sekali semalam" Gal berbisik perlahan, mengusap punggung Kruger menyampaikan rasa terima kasihnya.
"eh? Sama sekali gak apa kok Momma," jawab Kruger, Ash memang merepotkan, tapi tidak serepot yang dibayangkan Gal sepertinya. Ia melihat langit di luar sudah kekuningan. "sudah pagi ternyata.." gumamnya tidak menyangka.
"Kita panggil tukang reparasi, kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi." Val melongok ke dalam gudang. Gelap dan lembab, bersyukur keda bocah itu bisa bertahan.
"Kau yakin kan kau oke Ash?" Gal kembali memeriksa kesehatan anaknya, masih takut ada yang salah dengan miniatur mendiang suaminya itu. "Sial, aku takut sekali saat tadi pagi kalian gak ada."
"aku tidak apa Mom, jangan membuatku seolah serapuh itu." Ash setengah mengomel, Gal memang berlebihan. Tapi hal itu wajar mengingat kejadian seperti ini sebelumnya sudah membuat banyak masalah untuk Gal.
Ibu bertubuh seksi itu menusuk-nusuk jidat anaknya kesal, "aku mengkhawatirkanmu dasar bocah sok." Omelnya juga, "Kau sudah berterima kasih pada Kuru? Kau pasti membuatnya susah kan kemarin malam?"
Ash menghela nafas meremehkan, lalu mengangkat bahu. "sepertinya gak juga kok Mom, Kruger tampaknya suka berperan jadi objek hidup yang kupeluk.."
"Jangan perlakukan aku seperti barang!" marah Kruger memukul bahu Ash, tidak serius tapi tidak pelan juga.
"baiklah, baiklah.. kalau begitu sang penghangat tubuku, terdengar lebih manusiawi.." Ash merangkul bahu Kruger, seperti tidak terjadi apapun, "aah,, aku lapar sekali. Sarapan-sarapan… Eiii.." Ash memanggil adiknya sambil menggiring Kruger ke dapur.
"Jangan sentuh aku, dasar mesum!" Kruger mendorong Ash jauh-jauh, tapi tetap mengikuti Ash. Perut mereka memang sudah sangat keroncongan.
Val dan Gal saling bertatapan lalu tersenyum, "sepertinya kejadian semalam membuat mereka makin dekat.." Val tersenyum senang.
Mulai hari ini, sepertinya kisah keluarga mereka akan lebih menyenangkan.
