.
Fairy Tail by Hiro Mashima
Meltdown
By
Minako-chan Namikaze and Sakurajima no Yama
Warning: OOC, Typo(s), Seiyuu!Natsu and Yandere!Lucy, etc.
Keterangan: huruf italic berarti karakter tengah berbicara dengan bahasa asing.
.
.
Lucy Heartfilia berjalan dengan langkah berat. Wajahnya menampakan ekspresi bersalah yang begitu nyata. Tentu saja dia merasa tidak enak karena lagi-lagi bertindak sesukanya dan mencium Natsu Dragneel seenaknya! MENCIUM! Oh tidak, rasanya Lucy ingin sekali melempar dirinya ke jendela restoran saking malunya dia akan perbuatannya tadi. Setelah ini Natsu pasti akan membencinya, atau yang lebih parah, meninggalkannya! Tidaaaak! Dia tak mau! Ini semua gara-gara pelayan itu! Lihat saja! Kalau ketemu lagi, Lucy berjanji akan mengacak-acak wajah menyebalkannya itu.
Lucy mendengus, lalu menghampiri Natsu yang duduk di meja makan sambil memasang ekspresi ketakutan. Lucy menaikan sebelah alisnya. Seburuk itukah berciuman dengannya hingga Natsu jadi paranoid begitu?
Oh tidak, Natsu sudah mulai gila dengan berbicara sendiri! Lucy tidak menyangka dia bisa sehebat itu. Eh, tidak! Ternyata Natsu sedang berteleponan, saudara-saudara. Hampir saja Lucy menyeret Natsu ke psikiater.
Lucy menarik kursi di hadapan Natsu dan menatap hidangan yang sudah terhampar dengan rapi di hadapannya. Kemudian karamelnya melirik Natsu yang masih asyik berteleponan dengan wajah dipenuhi keringat. Pria itu menggunakan bahasa Jepang, membuat Lucy hanya bisa menebak-nebak artinya. Dia hanya bisa menangkap Natsu mengatakan "Sialan.", "Aku tahu!", dan "Gray." Apa?! Kenapa Natsu menyebut-nyebut nama Gray? Natsu bilang dia tidak memiliki hubungan yang semesra itu dengan Gray. Lalu sekarang apa? Jangan-jangan Natsu memang tidak menyukai Gray, tapi Gray memaksa Natsu untuk menyukainya? Yah, bisa jadi begitu. iya, iya, pasti begitu. memang apa lagi alasannya?
Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya. Kasihan Gray. Ganteng-ganteng tapi orientasi seksualnya melenceng. Awas saja kalau dia mendapati pria itu mengajak Natsu-nya main pedang-pedangan! Dia berjanji akan membawakan pedang sesungguhnya kepada pria itu. Dan mereka bisa main pedang-pedang dengan seru bersama dengan pedangnya Gray.
Lucy terkekeh pelan memikirkan hal itu. Oh Lucy, kamu sudah terlalu jauh salah paham...
Natsu mengakhiri sambungan telepon dan menatap Lucy yang tengah cekikikan dengan kening berkerut.
"Kau kenapa, Luce?" tanya Natsu sambil menaruh ponselnya di atas meja.
Lucy tersentak, lalu menggeleng. "Tidak. Tadi siapa yang meneleponmu? Gray?" tanya Lucy.
Natsu berjengit jijik mendengarnya. "Untuk apa aku mau berteleponan lama-lama dengan siluman es itu?"
"Tapi, tadi wajahmu begitu ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin. Siapa lagi selain Gray yang bisa membuatmu begitu?" tanya Lucy, bersikeras.
"Tentu saja ada! Contohnya saja..." Natsu berhenti berbicara, wajahnya kembali menampakan raut ketakutan. Membuat Lucy semakin penasaran.
"Contohnya...?" ulang Lucy.
"Erza." Jawab Natsu cepat.
Lucy berkedip, kemudian mulutnya membentuk huruf 'O'. "Jadi yang menelepon tadi itu Erza-san, ya? Syukurlah." Gumam Lucy.
"Apanya yang syukurlah?" tanya Natsu.
Syukurlah karena aku tidak perlu menantang Gray untuk main-main pedang-pedanganberdarah. Batin Lucy. Namun dia segera menggeleng dan tersenyum kecil ke arah Natsu. "Tidak. Sudahlah, ayo kita makan sekarang." Jawab Lucy.
Natsu hanya mengangkat bahu kemudian mulai menyantap makanannya. Makan malam mereka tampak sunyi. Hanya ditemani suara dentingan alat makan dan suara musik klasik restoran. Entahlah, mungkin karena Natsu yang merasa canggung terhadap Lucy mengingat apa yang baru saja terjadi beberapa menit lalu dan Lucy yang mati kutu di depan Natsu mengingat kebodohannya tadi.
"Umm... Natsu." Panggil Lucy.
Natsu mendongak dan bergumam. "Hm?"
"Itu... Anu... Maafkan aku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa menahan diri untuk menc-ci-ciummu..." ucap Lucy dengan sepenuh hati. Wajahnya memerah malu dan penuh penyesalan.
Natsu terdiam mendengarnya. Kemudian dia tersenyum lebar, membuat Lucy menatapnya dengan bingung. "It's okay, Luce. Jangan merasa bersalah begitu. Lagipula, aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Jadi jangan terlalu dipikirkan." Ucap Natsu, kemudian memasukan kembali makanan ke mulutnya.
Lucy mengangguk dengan tidak yakin. Tentu saja dia akan kepikiran. Mana mungkin dia bisa melupakan sensasi lembut dan hangat yang hanya bisa dia rasakan dari bibir Natsu Dragneel? Mana dari gelagatnya, sepertinya pria itu belum pernah berciuman sebelumnya. Ohoho! Dia yang pertama bagi Natsu! Meskipun dia mengambilnya dengan cara kurang ajar dan tidak tahu malu...
"Oh iya, Luce. Kau tahu? Anime Honto Yajuu sebentar lagi akan selesai..." cerita Natsu. Terdengar hembusan kecewa dari Lucy. Oh god! Jangan bilang kalau Lucy benar-benar menyukai anime nista itu? Tapi kalau nista, kenapa dia mau memainkan pemeran utama di sana? Hanya Natsu, Gildarts, dan Tuhan yang tahu.
"Karena besok adalah hari terakhir aku mengisi suara Aki di studio, jadi aku bermaksud mengajakmu ke sana untuk melihat-lihat proses dubbing."
Lucy membulatkan matanya. "Aku ke studio? Sungguh?!"
Natsu mengangguk. "Besok juga aku harus mengisi suara di trailer The Movie. Ah, Honto Yajuu akan dibuat Movie, jadi kurasa anime itu tidak benar-benar akan berakhir. Mungkin akan dibuat season duanya atau bagaimana."
"Tapi, bukankah kau bilang aku tidak boleh menampakan diri di depan teman-temanmu?" tanya Lucy.
"Ah, sekarang kau boleh. Jangan pikirkan masa lalu." Natsu menjawab dengan gugup, membuat Lucy menatapnya curiga.
"Jadi, kau mau tidak?" tanya Natsu.
Lucy langsung mengangguk. Tentu saja dia mau! Ke mana pun, asal bersama Natsu, dia ayo saja! Bahkan diajak ke hotel pun dia mau! Hehehe! Hus! Jangan berpikiran aneh-aneh Lucy! Tapi kalau memang Natsu mau mengajaknya ke hotel, ya mau bagaimana lagi? Mau bagaimana lagi menolaknya, maksudnya. Hehehe. Astaga! Lucy sadarlah!
"Kau kenapa Luce? Wajahmu kok aneh gitu?" tanya Natsu menatap wajah Lucy dengan horror. Pasalnya, wajah gadis itu terus menunjukan ekspresi berbeda sejak tadi. Tidak usah disebutkan seperti apa saja ekspresinya.
"Hehehe... Tidak kok." Sambil menyendokan makanan ke mulutnya.
XXX
Sementara itu, di suatu ruangan yang remang-remang. Seorang wanita mendelik tajam kepada bawahannya yang tengah berlutut di hadapannya.
"Dia mengatakan hal itu? Si Heartfilia itu?!" desisnya, marah
"I-Iya! Dia benar-benar mengatakan itu dan bahkan mengancamku!"
Sang wanita menghentakkan kakinya dengan kesal. Tidak dia sangka ternyata musuhnya kali ini tangguh juga. Tapi jangan pikir dia akan ketakutan dengan ancaman si Heartfilia perebut Natsu-nya itu. Dia pasti bisa menyingkirkan wanita tidak tahu malu itu.
Wanita itu berdecak kemudian mengeluarkan ponselnya.
XXX
Lucy POV
Aku menatap pantulan diriku di cermin.
Wajah cantik dan berseri, check.
Make up yang memukau, check.
Dress kece nan modis, check.
Perfect! Semuanya sudah lengkap tanpa ada satu pun yang kurang. Ah, mungkin sedikit parfum bisa membuat satu studio mabuk akan kecantikanku. Tapi sayang, aku hanya akan jatuh ke pelukan Natsu saja. Hehehe, PD sekali diriku. Seolah Putri saja, eh tapi aku 'kan memang Putri! Gawat! Bagaimana kalau mereka menegenaliku? Mereka pasti akan melapor pada Ayahku! Bagaimana ini? Bagaimana ini? Duh, kenapa baru kepikiran sekarang?!
Aku menepuk jidat tiga kali, dan tepat saat itu Natsu masuk ke dalam kamar.
"Luce, kau sudah selesai?"
Aku tersentak dan segera menoleh ke arah Natsu. "Sudah." Jawabku, cepat.
Natsu terperangah di tempatnya sambil menatapku dengan tidak percaya. Kemudian dia berjalan pelan menghampiriku. "Lucy..." panggilnya. Wah! Apakah dia akan memuji penampilanku? Asiiik! Aku tidak sabar mendengarnya mengatakan kalau aku cantik! Hehe
"Lucy, umae..." kata Natsu dengan bahasa Jepang.
"Ha'i, Natsu. Nandesu ka?" dengan bahasa Jepang juga sambil senyam-senyum tidak jelas.
"Jidatmu merah sekali. Apa kau sakit?" tanyanya, yang langsung menghempaskan jiwaku ke lantai bahkan sebelum melayang ke udara.
"Hiks... sadis." Lirihku. Dasar, hati ini terkoyak-koyak karena komennya yang tidak berperasaan itu. Aku tahu jidatku lebar dan merah, tapi jangan dikomen juga kali! Mau jidatmu kubuat gepeng?!
"Loh? Loh? Luce, kenapa kau menangis? Katakan, siapa yang membuatmu menangis! Gray, ya? Biar kuhajar dia!" Natsu hendak berjalan ke luar kamar, namun aku segera menariknya kembali.
"Kamu ini! Aku belum juga ngomong tapi kamu sudah nyelonong duluan! Sudah ah! Aku malas bicara dengan pria yang tidak peka! Huh!" dengusku seraya meninggalkannya yang hanya bisa melihatku dengan alis yang bertautan sejak tadi. Untung saja ganteng, kalau tidak, sudah daritadi kuinjak-injak mukanya. Huh, sabar Lucy, sabar. Yang namanya cinta itu butuh pengorbanan...
Natsu membukakan pintu mobilnya untukku. Wah, dia baik sekali. Setidaknya dia adalah laki-laki yang perhatian. Aku memasuki mobilnya dan duduk manis di sana. Sementara Natsu sudah duduk di sampingku dan mulai menghidupkan mesin.
Duh, jadi gugup begini. Aku harus tampil cantik dan kece di studio nanti. Kan tidak enak masa wajah cantik doang tapi kelakuannya gak cantik. Yah, setidaknya Natsu belum tahu kelakuanku yang suka main banting orang jika aku sudah tidak nyaman melihatnya. Setidaknya, jangan sampai aku kelepasan membanting Lisanna yang SUDAH PASTI bakal berusaha menempel-nempel bagai upil dengan Natsu di sana. Heh! Kau tidak akan bisa mendekati Natsu selagi aku di sana, girl! Mari kita kibarkan bendera perang kita di sana secara resmi!
Aku mengepalkan tanganku tanpa sadar, membuat Natsu lagi-lagi menaikkan sebelah alisnya menatapku. Ah, peduli amat! Amat saja tidak peduli denganku!
XXX
Begitu sampai di studio, Natsu langsung membukakan pintu untukku. Namun karena saking gugupnya, kakiku jadi terkilir saat menuruni mobil. The hell! Masa tumbang sebelum bertempur sih! Kan gak keren!
"Lucy, kau bisa berjalan?" tanya Natsu.
Aku mengangguk kemudian berusaha melangkahkan kakiku, namun didetik itu juga pinggangku nyaris ikutan terkilir akibat kakiku yang bahkan tidak mampu menapakkan diri di lantai. Aku lalu menatap Natsu dengan raut menyedihkan kemudian menggelengkan kepala.
Natsu menghela nafas. "Baiklah. Naiklah ke punggungku." Titahnya.
Apa? Naik ke punggung Natsu? Maksudnya, dia akan menggendongku? MENGGENDONGKU? Ohoho! Tentu saja aku mau, Pangeran! Dengan segera, aku meloncat ke punggungnya saat dia sudah berjongkok di hadapanku. Kupeluk lehernya sekuat mungkin lalu aroma rambut Natsu langsung menghampiri hidungku dan kuhirup dalam-dalam.
Natsu terkekeh menyadari tingkah norakku di belakangnya. Kemudian dia berdiri dengan mudah. Oh my! Dia benar-benar gentleman!
"Kau seperti anak kecil saja, Luce. Haruskah sesenang itu karena berhasil menaiki punggungku?" tanyanya dengan masih terkekeh pelan. Ah! Lama-lama gue khilaf terus nyipok lu dari belakang! (eh, kok bahasanya jadi nyasar gini sih? Ah, bomat dah)
"Tentu saja! Punggungmu adalah yang terbaik di dunia dan tiada duanya! Apalagi dari sini aku bisa bebas memeluk dan mencium aroma rambutmu sepuasnya!" jawabku blak-blakan seraya mengendus rambut Natsu seperti anjing kelaparan.
Natsu kali ini tertawa. "Kau ini memang seperti anak kecil." Komentarnya, lagi. Seperti dia bertingkah dewasa saja selama ini...
"Aku begini 'kan karenamu. Memangnya kedewasaan apa yang kau harapkan dari gadis cantik yang sedang dimabuk cinta?" gumamku sambil menyandar kepalaku di kepalanya.
Natsu terdiam, tapi aku tahu pasti saat ini dia sedang memerah malu. Rasakan saja suhu di telinganya yang semakin memanas. Ah, sayangnya kalian tidak bisa dan tidak boleh merasakannya! Hanya aku yang bisa! Huahaha! (ini kok malah ngelantur. Gapapalah, authornya lagi sarap.)
Natsu tiba-tiba berhenti di sebuah pintu. "Luce, turunlah. Kita sudah sampai." Katanya.
Aku cemberut mendengarnya. Cih, padahal aku mau menunjukkan pada Lisanna kemesraanku dan Natsu. Ah iya! Aku punya ide!
Langsung saja kutendang pintu di hadapan Natsu yang ternyata sudah terbuka sedikit. Natsu terkejut dengan aksiku, begitu juga dengan serenteran orang di dalam. Kenapa aku bilang serentetan? Karena lima orang anak manusia tengah duduk rapi di atas sebuah sofa panjang. Aku memicingkan mata dan mendapati seorang gadis berambut platina pendek yang berdiri di dekat sofa sambil memegangi sebuah kertas. Dia memandangiku dan Natsu dengan mulut menganga.
Yeah! Bullseye! Kena kau, Lisanna! Lihatlah bagaimana mesranya aku dan Natsu saat ini! Huahahahaha!
Lisanna langsung mengubah eskpresi terkejutnya menjadi cemberut dan menatapku dengan penuh kekesalan yang kubalas dengan lirikan tajam dan senyuman puas dariku. Baru saja aku ingin berkedip ke arahnya, namun Natsu dengan tiba-tiba melepaskan pegangannya di kakiku hingga menyebabkanku terjerambat ke lantai dengan tidak anggunnya.
Aku memekik kesal kepada Natsu, sementara Lisanna cekikikan tepat di hadapanku.
"Natsu! What the hell are you doing, hah?!" sungutku sambil mengusap-usap pantat seksiku. Duh, kasihan sekali diriku. Niatnya mau bikin kesal saingan cinta, tapi malah berakhir ditertawakan gara-gara si cinta itu sendiri!
"Ah! Maaf! Aku tidak sengaja melepaskanmu gara-gara kaget!" Natsu mengulurkan tangannya padaku dan langsung kusambut dengan bibir yang membentuk kerucut.
"Wah, Natsu. Sudah berhasil mendapatkan gebetan baru?" tanya seorang Om-om tua berambut cokelat.
"Tidak, dia temanku." Jawab Natsu, dengan santai. Dia membimbingku ke arah sofa hitam yang ternyata ada dua dan sangat panjang di ruangan ini.
Aku membungkukkan diri dan menatap semua orang di ruangan ini dengan gugup. "Hajimemashite. Lucy desu. Yoroshiku onegai shimasu!" aku memperkenalkan diri dan sengaja tidak menyebutkan nama keluargaku. Bisa gawat kalau salah satu dari mereka tiba-tiba berteriak lalu mengirimku pada Raja Iblis alias Ayahku.
"Wuah! Kau sangat cantik! Orang luar negeri?" tanya seorang pria berambut kuning di hadapanku.
Aku mengerutkan kening. Tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Dengan segera aku membuka kamus yang berada di dalam tasku. Namun Natsu menghentikan tanganku.
"Dia bilang kau sangat cantik." Kata Natsu, sambil tersenyum lebar. Kemudian dia menatap orang tadi lalu berkata, "Ya, dia dari Inggris." Aku bisa mendengar dia menyebut Inggris. Oh, jadi pria itu menanyakan asalku? Dan syukurlah Natsu melindungiku. Kemudian Natsu menatapku lagi. "Pria itu namanya Jackal." Natsu memperkenalkan teman-temannya satu persatu.
"Nah, dua orang ini adalah Sound Editor, om-om tua mesum ini namanya Gildartz Clive, lalu gadis manis ini bernama Lisanna Strauss."
Aku memutar bola mataku mendengar pujian Natsu kepada gadis sok cantik di depanku ini. Kenapa aku begitu membencinya? Ohoho! Selain saingan cinta, dia juga memiliki alasan besar kenapa aku bisa jengkel dari semalam.
Aku menyalami Gildarts yang terus-terusan tersenyum mesum ke arahku, yang langsung dipukul Natsu dengan majalah yang asdfghjkl.
Kemudian aku menyalami tangan Lisanna. Ih, sok senyum cantik pula! Najis tralala banget!
Aku pasang senyum malaikatku. "Yoroshiku onegai shimasu, Lisanna-san." Ucapku.
"Kochira kosho, Lucy-chan!" sambutnya. Kemudian dia berbisik dengan bahasa inggris. "Maksudku, Lucy Heartfilia-sama."
Aku tersenyum miring mendengarnya. Oh, aku sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Aku pun ikut berbisik ke arahnya. "Kuharap, Natsu Dragneel tidak tahu akan kenakalanmu semalam, Nona Strauss."
Wajah menjengkelkannya tiba-tiba berubah menjadi semakin menjengkelkan. Kemudian menghentakkan tanganku sambil mendengus.
Aku hanya mendengus puas melihat reaksinya lalu menolehkan kepalaku mencari-cari Natsu. Mengabaikan komentar-komentar ajaib yang sama sekali tidak kumengerti dari para teman-teman Natsu. Kulihat Natsu menghampiri Gray kemudian memukul kepala pria itu sepenuh hati dan jiwanya. Gray memekik kesakitan, membuat semua mata di ruangan ini menoleh ke arah pasangan itu. Uhh, apa perlu kusebut pasangan? Tidak, kutarik kata-kataku kembali. Hanya Gray yang menyukai Natsu, Natsu tidak menyukai Gray dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku masih kasihan pada Gray. Ganteng-ganteng, tapi kok suka terong? Ckckck...
"Sakiiiiit! Kau cari mati hah flame head?!" sungut Gray sambil melancarkan serangan balasan ke arah Natsu.
"Kau yang cari mati! Kau 'kan yang membongkar rahasiaku tentang Lucy kepada Erza!" Natsu membalas serangan Gray.
"Apa?! Aku tidak!"
"Jangan bohong! Erza sendiri yang bilang padaku! Gara-gara kau, aku terpaksa membawa Lucy kabur ke sini karena Erza akan datang ke apartemenku nanti siang!"
Gray tiba-tiba terdiam. Kemudian menepuk kedua tangannya dengan bunyi PING PONG.
"Ah, iya. Mungkin ketika aku mabuk-mabukan bersama Gajeel semalam, jadi semua rahasiamu keluar tanpa bisa ditahan. Hehehe... sudahlah. Yang terjadi biarlah terjadi." Gray cengengesan, membuat kaki Natsu berhasil mendarat dengan indah di wajah tampannya.
"Err..." gumamku. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi kenapa Natsu menyebut-nyebut namaku dan Erza dengan ekspresi seolah dia akan mati besok?
Bersambung...
AN: hehehehehe... chapter sarap. Dan adakah yang tau siapa orang sarap yang bikin chapter sarap kayak gini? Hayooo! Siapa yang bisa nebak nanti saya kasih ciuman spesial pake telor dari sendal jepit saya! #dilemparsendal
Oke, oke... maaf kali ini juga kami tidak bisa menjawab review para readers sekalian. Tapi, setidaknya kalian tetap mereview sebagai bentuk penghargaan kami yang masih betah aja nongkrong di depan lappy sambil garuk-garuk kepala dan pantat demi ngelanjutin cerita ini... XD
Oke, see you for next time!
Salam manis,
Minako & Yama
