REMAKE NOVEL By : Shanty Agatha
You've Got Me From Hello
Cast : Oh Sehun, Park Chanyeol, Kris Wu, Byun Baekhyun, and others.
Warn : GS, typo
-ooOoo-
.
.
-oOo-
"Janji yang tidak sepenuh hati diucapkan, sebaiknya langsung dibatalkan."
Chapter 6
Kyungsoo menunggu dengan cemas, Chanyeol memang selalu terlambat datang tetapi dia tidak pernah mengingkari janjinya. Kedua orang tuanya baru datang dari Paris, dan ini adalah kali pertama mereka akan berkumpul untuk membicarakan persiapan pernikahan mewah dan besar mereka yang rencananya akan dilaksanakan delapan bulan lagi.
Dia sudah berdandan secantik mungkin dan mulai gelisah karena ini sudah terlambat hampir satu jam dari waktu yang dijanjikan, tetapi tidak ada kabar dari Chanyeol. Kyungsoo duduk di dekat jendela, menanti dengan cemas.
Lalu ketika mobil warna merah menyala itu memasuki gerbang rumah, hampir saja Kyungsoo terlonjak bahagia dari duduknya, lupa kalau dia sedang berpura-pura lumpuh. Tidak ada yang tahu selain keluarganya, pelayan kepercayaan mereka di rumah ini, dan dokter pribadi mereka bahwa Kyungsoo sebenarnya sudah sembuh jauh di waktu lalu. Dia sudah bisa berjalan normal seperti biasanya. Diagnosa dokter waktu itu ternyata salah, dan kaki Kyungsoo tidak apa-apa.
Tetapi kemudian dia memohon kepada kedua orangtuanya dan dokter mereka untuk merahasiakannya dan membiarkan Chanyeol tidak tahu. Kepada mereka diceritakannya betapa takutnya dia kehilangan Chanyeol kalau sampai Chanyeol tahu bahwa dia baik-baik saja. Yang dimilikinya dari Chanyeol hanyalah rasa tanggung jawab lelaki itu kepadanya, dan itu semua karena kakinya yang lumpuh.
Kalau kakinya sudah tidak lumpuh lagi, maka tidak akan ada sesuatupun yang bisa mengikatkan Chanyeol kepadanya. Lelaki itu sudah pasti akan meninggalkannya. Kyungsoo rela duduk di kursi roda terus sampai dia bisa mengikat Chanyeol di pernikahan. Setelah mereka terikat secara resmi dan dia sah memiliki Chanyeol, dia sudah merencanakan untuk berpura-pura sembuh secara bertahap dan kemudian kembali normal. Chanyeol tidak akan pernah curiga. Dia sudah begitu lama berpura-pura lumpuh sehingga tampak sangat meyakinkan.
Diliriknya Chanyeol yang baru turun dari mobil dan hatinya berbunga-bunga melihat ketampanan lelaki itu. Lelaki itu akan menjadi suaminya, akan dimilikinya sebentar lagi. Dia hanya harus bersabar.
Chanyeol melangkah mendekati tangga rumah itu dengan ekspresi lelah. Hari ini banyak sekali yang harus dikerjakannya, dan yang dia inginkan hanya datang ke Garden Café. Menanti kedatangan Sehun, yang tak kunjung datang lagi setelah peristiwa ciuman itu.
Chanyeol tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menahan dirinya untuk mencium Sehun. Dialah yang membuat Sehun menghindarinya seperti sekarang ini. Dan sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu, dan ternyata menunggu itu tidak enak, sama sekali tidak enak. Kemudian karena sibuk dengan pekerjaan dan pikirannya tentang Sehun, Chanyeol hampir saja melupakan janji temunya dengan kedua orang tua Kyungsoo yang baru pulang dari Paris. Dia mungkin saja benar-benar lupa dan tidak akan datang kalau dia tadi tidak melirik tanpa sengaja ke arah ponselnya yang tergeletak begitu saja di kursi penumpang di sebelahnya, dan menyadari bahwa ponselnya itu berkedip-kedip oleh karena puluhan pesan dari Kyungsoo.
Kursi roda Kyungsoo muncul di pintu dan perempuan itu menyambutnya dalam senyum bahagia dan khawatir.
"Kau tidak membalas pesanku." Gumam Kyungsoo cemas, memeluk Chanyeol ketika lelaki itu mendekat dan setengah menunduk mengecup dahinya, "Aku takut kau kenapa-kenapa."
"Maaf aku terlambat, urusan pekerjaan." Gumam Chanyeol datar, "Di mana orang tuamu?"
Chanyeol menyiapkan hatinya untuk malam itu, karena dia harus membicarakan persiapan pernikahan. Persiapan pernikahan yang bahkan tidak setitikpun ingin dilakukannya.
-oOo-
Ketika Sehun memasuki cafe itu kembali, pandangannya langsung memutar ke sekeliling, bahkan Jongdae yang biasanya menyapanya dengan ramah tidak ada. Kemana pelayan setengah baya yang sangat ramah itu?
Yang lebih membuatnya kecewa, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Chanyeol di sana. Sehun melangkah gontai ketika melangkah ke tempatnya yang biasanya. Seorang pelayan mendekatinya dan memberikan menunya.
"Di mana Jongdae?" Sehun bertanya sambil lalu kepada pelayan itu.
Pelayan itu melirik ke atas lantai dua, "Tuan Jongdae sedang tidak enak badan. Beliau beristirahat di kamar atas. Tetapi beliau bilang akan turun sebentar lagi." Pelayan itu melirik jam tanganya.
"Tuan?" Sehun tidak bisa menahan diri untuk berkomentar mengenai cara pelayan itu memanggil Jongdae , bukankah mereka sama-sama pelayan? Tetapi kenapa cara pelayan itu memanggil Jongdae dengan kata 'tuan' dan 'beliau' tampak begitu hormat.
Pelayan itu menatap Sehun dan tersenyum, "Anda tidak tahu? Tuan Jongdae bukanlah pelayan di cafe ini, setidaknya bukan itu jabatannya. Dia bisa dibilang adalah penanggung jawab cafe ini, Tuan Chanyeol memberikan cafe ini kepadanya, sebagai orang kepercayaan tuan Chanyeol. Tetapi beliau memilih berperan sebagai pelayan."
Setelah pelayan itu pergi, Sehun masih mengerutkan keningnya, pelayan itu bilang kalau Chanyeol memberikan cafe ini kepada Jongdae?
Selama ini Sehun berpikir bahwa cafe ini adalah warisan paling besar dari ayah Chanyeol. Chanyeol sendiri bilang bahwa dia mengelola cafe ini dan lain-lain yang Sehun kira adalah bisnis sampingan yang tidak sebesar cafe ini.
Tetapi pelayan tadi mengatakan bahwa Chanyeol memberikan cafe ini kepada Jongdae seolah itu sesuatu yang tidak penting? Apakah yang dimaksud dengan 'dan lain-lain' oleh Chanyeol adalah sesuatu yang lebih besar?
"Kali ini tidak pakai anggur?"
Sehun terlompat dengan kaget dari kursinya, jantungnya berdebar dan dia menoleh ke belakang, tampak Jongdae di sana. Lelaki itu tampak pucat dan lelah tidak seceria biasanya.
"Aku belum memesan anggur." Sehun tersenyum lembut kepada lelaki setengah baya itu, "Tetapi sepertinya itu menarik."
Jongdae menganggukkan kepalanya ramah, lalu memberikan isyarat kepada pelayan di bar untuk membawakan minuman pesanan Sehun yang biasa.
Anggur itupun datang, dalam gelas bening yang berkilauan, menguarkan aroma harum yang manis dan menyenangkan.
"Tahukah anda kalau anggur ini seperti laki-laki?" gumam Jongdae setengah tersenyum.
Sehun mendongakkan kepalanya dan menatap Jongdae bingung, "Seperti laki-laki?"
"Ya. Mereka berwarna merah dan pekat diluar, menguarkan aroma khas yang mengancam. Seakan memperingatkan siapapun yang berani mendekat. Ketika anda meminumnya asal-asalan anda tidak akan bisa memahami cita rasanya, yang terasa hanya alkohol dan rasa pahit. Tetapi kalau anda bisa menyesuaikan antara aroma dan cara mencicipi yang nikmat, anda akan bisa menemukan intisari yang berpadu, rasa yang manis dan aroma yang menggoda. Itu sama dengan laki-laki, di luar begitu mengancam tetapi ketika anda bisa menanganinya dengan benar, dia akan memberikan yang terbaik untuk anda."
Sehun meresapi kata-kata Jongdae dan menemukan kebenaran di dalamnya. Filosofi lelaki dan anggur merah. Sungguh menarik.
"Kurasa aku bisa menggunakannya untuk novelku." Gumamnya ceria, membuat Jongdae terkekeh,
"Saya akan sangat tersanjung." Lelaki itu berdiri dan berpamitan, membuat Sehun menyesal karena dia tidak punya keberanian untuk menanyakan keberadaan Chanyeol.
-oOo-
"Terima kasih Chanyeol." Kyunsoo menggenggam kedua jemari Chanyeol dengan penuh sayang, lelaki itu duduk di depannya dan tampak kaku. Kyungsoo berusaha mencairkan suasana dengan kelembutannya. Biasanya Chanyeol akan melembut juga kalau dia sudah bersikap rapuh. Tetapi entah kenapa malam ini benak kekasihnya ini seolah-olah tidak ada di sana, menerawang entah kemana.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo lagi mencoba memecah keheningan ketika Chanyeol hanya diam saja, "Kau tampak tidak bahagia.."
Chanyeol memandang Kyungsoo dengan tatapan tidak terbaca, "Kau bicara apa, tentu saja aku bahagia." Bibirnya tersenyum, tetapi senyum itu jelas-jelas tidak sampai ke matanya.
"Aku memang tahu betapa beruntungnya aku bisa memilikimu." Kyungsoo menundukkan kepalanya sedih, "Dengan kondisiku yang sekarang, sebenarnya aku tidak pantas untukmu. Apalagi kejadian di masa lalu itu, aku sungguh malu kalau mengingatnya." Jemari lentik Kyungsoo yang indah menutup wajahnya, airmatanya mengalir deras, "Mungkin seharusnya aku mati saja di kecelakaan itu."
"Sttt." Chanyeol menyentuh jemari Kyungsoo yang sedang menutup mukanya, dan menariknya dengan lembut ke dalam genggamannya, "Jangan berkata seperti itu, aku sudah berjanji akan bertanggung jawab atas dirimu bukan? Aku akan menjagamu, Kyungsoo seperti janjiku."
Kyungsoo menatap Chanyeol dengan matanya yang basah, "Apakah kau mencintaiku, Chanyeol? Sedalam aku mencintaimu?"
Kalimat itu tak sampai untuk keluar dari bibir Chanyeol, dia hanya menganggukkan kepalanya dan berucap, "Ya Kyungsoo." Dan menyadari betapa beratnya mengatakan 'aku cinta kepadamu' kepada seseorang yang tidak kau cintai.
-oOo-
Sehun berhasil menyelesaikan bab klimaks itu dengan gemilang, tokoh utamanya akhirnya menyadari kesalahannya dan mengejar pasangannya. Mereka pada akhirnya berhasil menyelesaikan kesalahpahaman mereka...
Dia memundurkan tubuhnya di kursi yang nyaman itu dan membaca ulang tulisannya lembar demi lembar sambil lalu. Yixing pasti akan sangat senang kalau mengetahui dia berhasil menyelesaikan bab klimaks ini. Semula sangat sulit menulis bab klimaks ini, karena setelah pertengkaran, sesuai draft akan ada permaafan, sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukan Sehun terhadap Kris.
"Dan akhirnya kau muncul di sini." Suara maskulin yang dalam itu menyapanya. Suara yang membuat jantung Sehun langsung berpacu dengan kencang, dia menoleh dan sosok yang dibayangkannya berdiri di sana.
Lelaki itu tampak lelah, dengan jas resmi yang sudah dilepas dan disampirkan di pundaknya. Dasi yang sudah terlepas sepenuhnya dan kancing kemeja atasnya yang dibuka.
"Hai." Gumam Sehun, tiba-tiba merasa malu ketika ingatan akan ciuman mereka malam itu menyeruak di benaknya.
Chanyeol tampaknya memahami, lelaki itu mengangkat sebelah alisnya lembut,
"Dari kejauhan kau tampaknya senang. Apakah kau berhasil menyelesaikan tulisanmu?"
Sehun mengangguk, "Bab yang paling sulit sudah kulalui, besok tinggal membereskan semuanya."
"Kita harus merayakannya." Chanyeol terkekeh, penampilannya yang formal dan sedikit berbeda dengan biasaya tampak melembut ketika dia tertawa, "Tunggu sebentar ya aku mandi dulu, aku akan segera menyusulmu kembali."
Ketika Chanyeol pergi, Sehun membaca ulang kisah yang baru saja ditulisnya. Sudah jelas tokoh wanita dalam novel buatannya tergila-gila kepada sang tokoh lelaki, dia digambarkan selalu berbunga-bunga ketika tokoh lelaki itu ada di benaknya. Berbunga-bunga?
Sehun tiba-tiba menyadari sesuatu, selama ini dia selalu menuliskan deskripsi perasaan dalam bentuk tulisan dengan lancar. Tetapi ketika menelaah perasaannya sendiri dia benar-benar kebingungan.
Apakah dia sedang merasakan berbunga-bunga ketika bersama Chanyeol? Sehun menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin sebuah perasaan begitu kuat muncul kepada seseorang yang tidak begitu kita kenal?
Chanyeol turun lagi hampir dua puluh menit kemudian. Rambutnya basah dan dia mengenakan baju santai, celana jeans, dan kaos berkerah yang semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang bagus,
Seolah sudah biasa, lelaki itu langsung mengambil tempat duduk di seberang Sehun. Dia memberi isyarat kepada pelayan untuk membawakannya minuman.
Dalam waktu singkat, pelayan itu meletakkan secangkir kopi hitam pekat di depan mereka berdua,
"Di mana Jongdae?" Chanyeol mengernyit, biasanya dia melihat Jongdae dimana-mana, lelaki itu sangat bahagia jika bisa berada di lingkungan operasional cafe dan berhubungan dengan para pelanggan. Sangat bertolak belakang dengan dirinya yang memilih menggerakkan segala sesuatunya di balik layar, melindungi dirinya dengan menampilkan kesan misterius.
"Tuan Jongdae beristirahat di atas, tuan. Tadi beliau sempat turun sebentar, tetapi kemudian mengeluh pusing lagi dan ingin beristirahat."
Jongdae? Pusing? Chanyeol mengernyitkan keningnya. Meskipun sudah setengah baya, Jongdae selalu penuh vitalitas dan Chanyeol lah yang paling tahu betapa jarangnya Jongdae sakit.
Mungkin kali ini Jongdae benar-benar sakit, Chanyeol mendesah dalam hati, memberi isyarat kepada pelayan itu untuk menjauh.
Suasana cafe cukup ramai ketika itu, padahal waktu sudah hampir beranjak tengah malam. Sekelompok pemuda tampaknya memilih menikmati malam sambil mengobrol di tempat yang paling ujung sebelah sana, dan beberapa yang lain memilih untuk mencicipi hidangan,
"Mau makan sesuatu?" Chanyeol melirik ke arah buku menu dan tersenyum kepada Sehun
"Aku sudah makan tadi sore." Sehun tersenyum, "Tetapi secangkir kopi tidak akan kutolak, " gumamnya dalam senyum.
"Aku lapar." Chanyeol menekuri buku menu dan merenung, dia sudah makan di rumah Kyungsoo tadi, tapi dia hampir tidak bisa menelan makanannya, "Mungkin aku akan meminta sup ini." Chanyeol memanggil pelayan lagi dan menyebutkan pesanannya.
Setelah pelayan pergi, Chanyeol memajukan tubuhnya dan menopang dagunya dengan kedua siku di meja, tatapannya tajam dan intens,
"Kau tidak kemari lama sekali."
Apakah Chanyeol setiap hari menunggunya? Sehun melirik gelisah ke arah Chanyeol, bingung harus bersikap bagaimana.
"Apakah karena kejadian waktu itu? Ciuman waktu itu?" sambung Chanyeol lagi, dengan tatapan penuh tanya.
Sehun membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kalimat yang keluar. Suaranya seakan tertelan di tenggorokannya.
Chanyeol mengamati Sehun, lalu tertawa, "Untuk seseorang yang penghidupannya berasal dari rangkaian kata-kata, kau tampak sulit sekali mengeluarkan sepatah kata sekalipun."
Pipi Sehun memerah, dan dia memalingkan muka, tidak tahan ditatap setajam itu. Tetapi kemudian pertanyaan di hatinya mendesaknya,
"Kenapa waktu itu kau menciumku?"
Chanyeol langsung tersenyum lembut, "Karena aku merasakan sesuatu yang lebih kepadamu." Gumamnya, "Aku tidak pernah bermaksud merendahkanmu dengan menciummu, itu terjadi begitu saja." mendesah, "Setelah itu kau bahkan tidak mau muncul di cafe, aku panik... dan berpikir kau mungkin marah kepadaku." Tatapan Chanyeol melembut, "Sehun, mungkin ini memang terlalu cepat, kita baru bertemu beberapa kali, belum mengenal satu sama lain. Tetapi ada perasaan nyaman yang kurasakan ketika bersamamu, bahkan ketika pertama kali kau menyapaku. Perasaan nyaman yang membuatku meyakini bahwa aku harus mencoba untuk lebih dekat bersamamu."
"Oh." Sehun bergumam pelan membuat Chanyeol tergelak,
"Oh?" Lelaki itu mengulangi gumaman Sehun, "Aku berusaha setengah mati menjelaskan perasaanku ini kepadamu dan tanggapanmu hanya 'Oh' ?" Lalu jemari lelaki itu meraih jemari Sehun dari seberang meja dan menggenggamnya lembut, "Sehun, aku tahu ini terlalu cepat, kau masih sakit karena perbuatan Kris dan berusaha menyembuhkan dirimu, tapi aku hanya ingin bersamamu, ada di dekatmu, dan berusaha lebih mengenalmu. Aku berharap kau juga bisa mengenalku lebih dekat dan mungkin kita bisa melihat bersama-sama akan di bawa kemana perasaan ini."
Semua ini terlalu cepat, Sehun membatin dalam hati, dia bahkan tidak tahu apapun tentang Chanyeol dan begitu juga sebaliknya. Tetapi ajakan Chanyeol untuk berjalan bersama dan menelaah arti dari kebersamaan mereka terasa begitu menggoda.
"Sehun?" Chanyeol memanggil lagi, mulai tidak sabar dengan kediaman Sehun, dia butuh jawaban, segera. Setelah itu dia bisa bertindak cepat, meluruskan semua rencananya.
Sehun menatap Chanyeol, melihat kesungguhannya di situ, Chanyeol memang luar biasa tampan, tetapi lelaki itu tampaknya tidak pernah sadar menebarkan pesonanya ke orang-orang, tidak seperti Kris. Dan Chanyeol juga baik, lembut, serta menghormatinya, mungkin Sani bisa mencobanya.
Dengan lebih sering bersama Chanyeol, mencoba mengenalnya lebih dekat dan kemudian memutuskan apakah akan membuka hatinya ke dalam hubungan yang lebih serius dengan Chanyeol atau tidak.
Sehun menganggukkan kepalanya, "Aku bersedia mencobanya, Chanyeol. Tetapi hanya itu, kita bersama-sama berusaha untuk lebih saling mengenal. Dan mengenai hasil akhirnya mungkin bisa kita lihat nanti."
Sinar kemenangan muncul di mata Chanyeol, tetapi lelaki itu dengan cepat menutupinya, membuat wajahnya tampak lembut, "Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan ini Sehun."
-oOo-
Pagi harinya, Chanyeol yang sedang duduk di ruangannya di kantor pusat kedatangan tamu. Tamu yang sudah sangat di tunggunya. Seorang lelaki yang sangat tampan, dan juga sahabatnya.
"Jadi kau meminta bantuanku?" Suho menatap Chanyeol sambil tersenyum manis.
"Kaulah satu-satunya orang yang kupercaya bisa melakukannya"
Suho tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mungkin di dunia ini, hanya kaulah satu-satunya orang yang meminta sahabatnya untuk merayu tunangannya," Tatapannya berubah serius, "Apakah kau yakin ini akan berhasil? Kyungsoo kelihatannya sangat mencintaimu dan dia sudah akan menikah denganmu. Mungkin saja dia sangat setia kepadamu dan susah dirayu?"
Mata Chanyeol bersinar dingin dan kejam, "Dia sudah pernah mengkhianatiku sekali karena aku kurang memberinya perhatian. Aku yakin dia akan melakukannya lagi kalau ada kesempatan."
-oOo-
"Hai." Chanyeol sudah menunggu di depan lobi apartemen Sehun, mereka berjanji untuk menghabiskan hari sabtu ini bersama-sama. Memberi kesempatan kepada diri mereka untuk saling mengenal lebih dekat.
"Hai juga." Sehun berdiri gugup di depan Chanyeol, menyadari penampilannya yang sederhana jika dibandingkan dengan penampilan Chanyeol yang begitu gaya. Oh, lelaki itu tidak berpakaian macam-macam, dia hanya memakai celana jeans warna hitam pekat dan T-shirt polo bergaris, tetapi entah kenapa keseluruhan penampilannya begitu luar biasa. Bahkan beberapa orang yang berlalu lalang di lobi apartemen pasti menoleh dua kali untuk meliriknya.
Tetapi bukan hanya penampilan fisik sebenarnya yang membuat Sehun tertarik kepada Chanyeol. Aura lelaki itu yang misterius di balik sikap lembutnya, membuat Sehun ingin mendekat dan ingin tahu.
Apakah dia akan seperti ngengat yang menjadi korban karena tidak bisa menahan ketertarikannya terhadap api yang menyala? Sehun mendesah dalam hati. Setidaknya dia sudah mempersiapkan diri, memasang pagar di hatinya agar dia tidak terjun bebas, jatuh ke dalam pesona Chanyeol dan kemudian terluka parah.
"Kita akan kemana?" Sehun melangkah bersama Chanyeol keluar. Mobil Chanyeol sudah disiapkan, diparkir di depan apartemennya.
Chanyeol mengangkat bahunya, "Terserah, kemana saja, mungkin nonton, jalan-jalan, bersantai, apapun itu asal bersamamu."
Chanyeol mengucapkan kata-katanya dengan santai, tidak menyadari bahwa dia membuat pipi Sehun memerah.
-oOo-
Mereka melakukan apapun yang dilakukan orang-orang untuk bersantai di akhir pekan, nonton, makan, jalan-jalan. Setiap detiknya terasa menyenangkan, mereka mengobrol tanpa henti, sangat cocok dalam pembicaraan apapun dan menyadari bahwa mereka punya banyak sekali kesamaan minat.
Bersama Chanyeol seharian pun terasa begitu sekejap saking menyenangkannya. Tanpa sadar hari sudah beranjak malam. Ketika mereka mengendarai mobil hendak pulang, Sehun menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi penumpang, menatap Chanyeol dalam senyuman.
"Terima kasih atas hari yang sangat menyenangkan ini."
Chanyeol menoleh sedikit dan tersenyum simpul, "Sama-sama Sani, aku juga bahagia bisa menghabiskan waktu denganmu, itu sangat menyenangkan." Lelaki itu meremas jemari Sehun dengan sebelah tangannya, lembut. "Minggu depan kita lakukan lagi ya."
"Iya." Dada Sehun membuncah dipenuhi oleh perasaan berbunga-bunga yang pekat. Oh ya, gawat! Seharian ini dia sudah berusaha memasang pagar di hatinya, tetapi Chanyeol sudah menerobos pagar itu, membuatnya tidak bisa menahan lelaki itu. Sehun sepertinya sudah jatuh cinta kepada Chanyeol.
-oOo-
Kyungsoo sedang duduk di dalam mobil, dalam perjalanan menuju butik langganan keluarga, dan merenung. Ini semakin lama semakin menakutkan, hari pernikahannya dengan Chanyeol sudah menjelang. Keluarganya sudah mempersiapkan semuanya terutama menyangkut gaun pengantinnya. Karena selain hal itu, untuk masalah persiapan pesta seperti dekorasi, gedung, catering, dan lain-lain mereka tidak akan perlu mencemaskannya. Chanyeol memiliki jaringan perusahaan di bidang resor, perhotelan, dan restoran. Lelaki itu tinggal menjentikkan jarinya dan sebuah pesta yang megah pasti akan disiapkan dengan mudah.
Tetapi perasaan Kyungsoo terasa semakin tidak nyaman. Hari demi hari hubungan mereka merenggang, dan semakin dekat ke hari pernikahan mereka, Chanyeol semakin jarang muncul. Lelaki itu kadang hanya membalas pesan singkatnya sekenanya, tidak pernah mengangkat telepon ketika dia mencoba meneleponnya. Dan lelaki itu tidak pernah datang ke rumahnya lagi.
Sudah sebulan berlalu, bahkan kedua orangtuanya mulai menanyakan kenapa Chanyeol tidak pernah muncul dan dengan senyum palsunya Kyungsoo menjelaskan bahwa semua baik-baik saja, hanya saja Chanyeol memang sedang sangat sibuk. Tetapi Chanyeol tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu meskipun sibuk, lelaki itu selalu menyempatkan menemuinya meskipun sebentar di akhir pekan.
Kyungsoo tahu bahwa Chanyeol mungkin tidak mencintainya lagi. Sejak dia mengaku pengkhianatannya yang dilakukannya dengan Jongin karena begitu haus perhatian dari Chanyeol, yang membuatnya terjerumus terlalu jauh lalu hamil, cinta itu sudah musnah di mata Chanyeol. Tatapan Chanyeol kepanya sudah berbeda, datar dan tanpa perasaan meskipun laki-laki itu selalu bersikap lembut kepadanya.
Tetapi Kyungsoo bisa dibilang sangat mensyukuri kecelakaan itu, kecelakaan yang membuatnya didiagnosa tidak akan bisa berjalan lagi. Yang membuat Chanyeol sangat menyesal dan pada akhirnya memutuskan untuk bertanggungjawab kepada Kyungsoo.
Ya, Kyungsoo tahu dia memanfaatkan rasa bersalah Chanyeol, tetapi dia mencintai Chanyeol dan tidak bisa membayangkan kalau harus ditinggalkan oleh lelaki itu. Pengkhianatan yang dilakukannya dengan Jongin semata-mata karena pelarian, dia membutuhkan kekasih yang hangat dan penuh kasih sayang, yang selalu ada di dekatnya. Tetapi Chanyeol tidak bisa melakukannya, lelaki itu waktu itu sedang sibuk membangun bisnisnya, sehingga hanya punya waktu sedikit bersamanya. Dan dalam kondisi emosi yang labil, Jongin datang dan semua hal buruk itupun terjadi. Semua yang Kyungsoo lakukan adalah untuk mengikat Chanyeol supaya bersamanya. Dia bahkan rela bertingkah seperti orang invalid, hanya agar Chanyeol bertahan bersamanya. Kelumpuhan ini adalah satu-satunya pengikatnya dengan Chanyeol, dan Kyungsoo rela kesulitan seperti ini, hanya bisa berjalan ketika dia berada di dalam rumah dan hanya di depan orang-orang yang dipercayanya, semua demi memiliki Chanyeol.
Dia meremas kedua jemarinya kuat-kuat, Sebentar lagi... desahnya dalam hati. Dia hanya perlu bersabar sebentar lagi dan Chanyeol akan menjadi miliknya sepenuhnya. Dia akan menjadi istri Chanyeol dan lelaki itu tidak akan punya alasan untuk tidak memperhatikannya.
-oOo-
Butik itu cukup ramai, milik seorang desainer baju pernikahan yang sangat terkenal. Pegawai Kyungsoo mendorong kursi rodanya memasuki butik itu. Kyungsoo sudah membuat janji dengan Luhan, sang perancang sekaligus pemilik butik itu.
"Hai cantik." Luhan langsung menyapanya ketika pegawainya mendorong kursi rodanya memasuki ruangan Luhan. Kyungsoo memberikan isyarat kepada pegawainya untuk menunggunya di luar.
"Hai Luhan, kau sudah menerima pesanku untuk deskripsi gaun pengantinku?"
"Sudah sayang, Luhan mengedipkan sebelah matanya. "Sungguh deskripsi yang sangat spesfik, kau ingin gaunmu bertaburan dengan kristal yang mahal dan berkilauan ya? Untung saja tunanganmu kaya. Jadi kau bisa meminta gaun apapapun yang kau inginkan, aku akan mengukur dulu badanmu ya, baru aku terapkan ke beberapa desain dan nanti kau tinggal memilih yang mana" Luhan melirik ke arah pintu, "Ngomong-ngomong, tunanganmu yang tampan itu tidak mengantarmu?"
"Dia sibuk." Gumam Kyungsoo sambil lalu, "Aku ingin gaun ini yang terbaik, Luhan, harus yang paling indah dan paling cantik... Ini akan menjadi pernikahan yang pertama dan satu-satunya untukku."
"Tentu saja sayang." Luhan terkekeh, lalu menyuruh pegawainya untuk mengukur badan Kyungsoo.
Tentu saja mereka kesulitan karena Kyungsoo berada di kursi roda dan tidak bisa berdiri. Kyungsoo sendiri merasa gemas karena sebenarnya dia bisa berdiri, tetapi dia tidak bisa melakukannya, karena semua sandiwaranya bisa ketahuan.
"Mungkin kita harus mengukur tubuhmu kalau Chanyeol sudah bisa datang bersamamu, sayang." Luhan menatap Kyungsoo dengan menyesal, dia juga laki-laki tapi tubuhnya ramping dan gemulai jadi dia tidak bisa membantu Kyungsoo supaya punya tumpuan untuk berdiri. Sementara itu kebanyakan pegawainya adalah perempuan, "Jadi Chanyeol bisa membantumu untuk berdiri."
"Mungkin aku bisa membantu." Sebuah suara yang maskulin dan begitu dalam muncul dari pintu, membuat Kyungsoo dan Luhan menoleh bersamaan. Di pintu itu berdiri seorang lelaki yang amat sangat tampan. Darah asing sudah jelas mendominasi penampilannya, lelaki itu tinggi, sempurna dengan rambut cokelat muda keemasan, dan setelan tiga potong yang dijahit sempurna, menempel ketat dan seksi ke tubuhnya,
Luhan lah yang kemudian memecah suasana, dia berteriak kegirangan dan hampir melompat mendekati lelaki itu."Oh Ya Ampun! Suho, kau sudah pulang dari Paris?"
.
.
.
TBC
Hmm makin seru ga nihh? Maaf yaa kalo kalian masih nemu typo typo :"
Yang masih mau lanjut jangan lupa review yahh
RnR
